Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
29-Ending


__ADS_3

Hari ini tepat seminggu Levin sudah pulang ke Korea. Dia masih tiduran membuat istrinya yang memengan perut buncitnya menatapnya tatapan sulit diartikan. Sudah pasti istrinya tidak berani menyibbakkan selimut tebal yang menutupi tubuh suaminya. Mengingat semalam apa yang telah mereka lakukan.


“Levin,” panggilnya lembut, berbeda dengan hatinya yang tadi ingin marah. Dia duduk mengusap rambut suaminya yang terlihat acak-acakan. Levin masih memejamkan matanya. Dia bukan turusik malah semakin terlelap.


“Vin, kamu lupa harus ke kantor. Aku ada meeting pagi ini loh,” ujar Zeza menggucang pelan lengannya. Dia mengerang karena Zeza menekan hidungnya.


“Bangun, Vin. Kamu gak usah minta jatah kalau besoknya malas bangung,” ujar Zeza. Langsung saja Levin bangun dan menatap Zeza kesal.


“Jangan harap tidak memberiku jatah,” ujarnya kesal. Zeza memutar bola mata malas, suaminya semakin mesum. Dia bahkan membuang DVD yang entah kenapa suaminya mengoleksi DVD porno. Awalnya Zeza merasa bosan dan ingin menonton, ternyata di layar monitor, film blue itu tayang membuat tubuhnya panas dingin.


Dia mencari tahu sumbernya ternyata tiga laki-laki itulah penyebabnya yang sedang berenang tanpa wajah bersalah. Dia Ryung, Ryuka dan suaminya-Levin. Kejadian itu tidak bisa dilupakan Zeza. Dia merajuk ke pada Levin dan berakhir di atas ranjang karena rayuan laki-laki itu membuatnya terlena.


“Mandi dan sarapan,” uja Zeza membuat dia beranjak dari kasur. Aku memekik melihatnya tanpa busana berjalan santai.


“LEVIN!” Dia malah tertawa. Dasar suaminya bisa membuat dia kesal di pagi hari. Zeza menurungi tangga dengan hati-hati. Dia tidak mau di kamar dan berakhir di ejek oleh suaminya. Tentu Zeza sudah menyiapkan pakaian di atas kausur mereka dan merapikan kekcauan tadi malam.


“Morning, Sayang,” sapa Levin dan memeluk Zeza dari belakang. Zeza mematikan kompornya dan berbalik. Suaminya seperti biasa menyambar bibirnya. Zeza merenggut dan membalasnya.


“Kamu lihat hampir saja kamu telat,” omel Zeza dihadiai kekehan pria itu. Levin menunduk dan menyapa anaknya yang masih ada di kandungan istrinya.


“Hallo Boy, kamu sudah bangun, Nak? Cepatlah keluar dan Daddy akan membawamu ke kantor,” celoteh Levin. Zeza menyeritkan kening.


“Kenapa kamu memanggilnya ‘boy’? Apakah anak kita cowok, huh?” tukas Zeza.


Cup. Levin mencium perut Zeza membuat hati istrinya terharu. Ini rutinitas Levin di pagi hari sebelum berangkat kerja atau sebelum dia tidur. Zeza menatap Levin yang menatapnya dengan senyum lebarnya.


“Dia cowok,” ujarnya mantap tanpa ada keraguan.


“Jadi kalau dia bukan cowok kamu gak mau?” tanya Zeza sedih. Levin menggelengkan kepalanya.


“Apa pun jenis kelamin anak kita, aku tetap mencintainya. Maksudku memanggilnya boy bukan karena aku ingin anak laki-laki saja, tetapi feelingku mengatakan bahwa anak kita cowok,” ujarnya panjang lebar.


“Hufghhh  ... baiklah, ayo sarapan,” ajak Zeza. Dia bernapas lega ternyata maksud suaminya lain dari pemikirannya.


“Huekkkk hueeekkk  ....” Zeza baru saja menalan makanannya tetapi dia lari karena muntah. Levin jadi panik dan memijat tengkuk istrinya.


“Vin,” lirih Zeza lemas. Levin membawa istrinya ke dalam pelukannya dan menyeka keringat istrinya. Dia ingin bertukar posisi dengan Zeza. Biarkan dia mengalami morning sick.


“Aku ingin mangga mudah,” ujar Zeza mengigit bibir bawahnya. Levin mengerjab melihat istrinya.


“Ayo, nanti aku belikan,” ujar Levin dan Zeza menggeleng kuat. Dia tidak mau mangga yang dibeli, dia ingin mangga yang dipetik langsung dari pohonya.


“Aku tidak mau jika dibeli, tolong ambilkan saja di depan rumah Ryung,” pintanya sambil mengeluarkan jurus andalannya. Dia memasang wajah memelasnya.  Levin menghela napas, dia sudah berjanji akan jadi suami SIAGA untuk istrinya.


“Baiklah, ayo kita ke sana.” Zeza memekik bahagia, dia mencium bibir Levin. Pria itu langsung tersenyum. Padahal istrinyalah yang menyuruhnya bangung pagi-pagi untuk ke kantor tetapi dia juga yang akan membuat Levin tertunda keberangkatannya ke kantor.

__ADS_1


Levin dan Zeza berjalan ke rumah Ryung. Mereka melihat pohon mangga di depan rumah Ryung. Ada banyak buahnya. Mana tinggi-tinggi lagi.


“Aku akan mengambilnya untukmu,” ujar Levin membuat istrinya mengangguk semangat. Levin dengan lihai naik di atas pohon mangga. Ryung yang hendak berangkat ke kantor melihat Zeza dan Levin. Seketika dia jahil dan menoleh melihat ketiga anaknya. Mereka bertos ria membuat Eunbi menggelengkan kepala melihat keempatnya.


“MALING OI MALING MANGGA!” teriak Ryung sambil melempar batu kecil ke pohon.


“RYUNG ANJIR KEPALA GUA!” teriak Levin kesal. Gata, Gita, Ryuka tertawa melihat daddynya berhasil mengenai kepala Levin. Mereka mendekat ke sana.


“Maling woi turun kagak lo. Ngambil mangga gak bilang-bilang,” omel Ryung.


“Ck, bahkan gua bisa membuat rumah gua dipenuhi pohon mangga,” ujar Levin kesal.


Eunbi mendekat dan tertawa bersama Zeza. Levin memetik mangga dan melempar ke Ryung. Ryug dengan sengit menerimanya. Sampai Levin selesai memetik lima mangga.


“Akhhhh!” teriak Levin saat semut merah menggigitnya. Ryung terbahak bersama ank-anaknya. Zeza menatap khawatir suaminya.


“Akhhh anjir semut sialan!” teriak Levin berusaha turun.


Brak!


Mata Zeza terbalalak kaget melihat suaminya terjatuh. Pakaian kantor suaminya sudah acak-acakan. Melihat suaminya meringgis sakit dan menggaruk tangannya, membuat Zeza mendekatinya.


“Akhhh!” Levin membuka dasinya dan membuka jas serta kemejanya. Semut-semut itu masuk ke dalam bajunya dan megigit punggungnya. Zeza membantu suaminya, dia perihatin menatap punggung suaminya bentol-bentol warna merah.


“Akhh,” ringis Levin saat kakinya terasa sakit.


Bug!


“LEVIN!” teriak Ryung kesal.


“APA?!” teriak levin galak.


Beginilah Levin dan Ryung akan bertengkar tiap bertemu dan akur saat otak mereka sama-sama lagi memikirkan hal kotor. Zeza membantu suaminya berdiri.


“Sebentar dulu, aku ambilkan kantong,” ujar Eunbi dan berlari masuk.


Zeza membantu menepuk debu yang menempel di celana suaminya. Dia memungut jas, dasi dan kemeja suaminya. Sebenarnya melihat Levin bertelanjang dada membuat Zeza gugup. Meski berapa kalipun dia melakukannya tetap saja dia malu.


“Kamu masih sakit?” tanya Zeza.


“Sudah gak,” ujar Levin. Dia menggaruk badannya yang gatal.


“Kita pulang dan obati, jangan garuk terus nanti berdarah,” ujar Zeza.


Mereka pulang saat Eunbi kembali. Zeza melihat suaminya duduk bersadar di sofa dengan mata terpejam. Kasihan sekali suaminya, Zeza merasa bersalah. Dia mendekat dan mengobati tangan suminya yang terkena gigitan semut.

__ADS_1


“Kamu berbalik dulu biar punggung kamu aku obati,” ujar Zeza. Levin tak banyak bicara langsung berbalik. Zeza merasa matanya berkaca-kaca. Apakah Levin marah? Dia menangis dan setelah mengobati Levin Zeza memeluk suaminya dari belakang.


Levin tersentak saat punggungnya terasa basah.”Za, kamu nangis?” tanya kaget. Dia berbalik badan dan melihat istrinya sudah menangis.


“Kenapa sayang, hem? Kamu kok nangis?” tanya Levin lembut.


“Hikss ini semua salah aku,” isaknya. Levin mengusap air mata Zeza dan mencium kepolak mata istrinya.


“Gak, Sayang. Justru aku senang kalau kamu ngidam, aku merasa sangat dibutuhkan. Aku aik-baik saja benjol-benjol juga bakal hilang. Kamu sudah obati saja sudah cukup, Sayang. Jangan menangis lagi,” ujar Levin.


Zeza mengangguk.”Jangan sungkan meminta apapun padaku. Aku tidak bisa merangaki kata seperti penyair yang memuja kekasihnya. Aku hanya Levin seorang mantan Mafia yanh hidup di dunia gelap. Aku tidak tahu kata terlembut apa yang diagungkan sang Pujangga, yang aku tahu hanya bentakan, teriakan dan amarah, tetapi, aku hanya punya satu kalimat yang bisa kurangkai untukmu  ... I  Love You,” ujar Levin tulus. Zeza tersenyum dan melingkarkan tangannya dileher suaminya.


“Terima kasih telah membuka mata ini untuk melihat dunia, Sayang. Terima kasih membuat hatiku yang keras mejadi lunak, tak banyak yang bisa mengalahkan egoku, tak banyak yang bisa menembus dinding pertahananku. Aku tidak butuh kalimat pujangga, yang kubutuhkan tetap buka matamu dan terus menatapku. Tetap bersamaku karena aku bagaikan hidup di lautan tanpa teman untukku.”


“Aku ingin mengarungi samudra pernikahan bersamamu.”


“Tentu, Sayang. Jangan pernah meragukanku maka akan kuperlihatkan cinta yang tak bisa orang berikan kepadamu. Akan keberitahu pada lautan bahwa kerangku telah menjadi sebuah mutiara yang indah,” bisik Levin lembut.


Dia menyatukan bibirnya dengan Zeza. Menyecap satu sama lain. Menyalurkan perasaan cinta. Tak ada yang bisa mengambil Levin dari Zeza dan tak ada yang bisa mengambil Zeza dari Levin.


Levin menyatukan dahinya dengan wanita yang akan mengahabiskan sisa hidupnya bersamanya. Napas mereka saling menerpa. Membeirkan sensai menggeliti. Zeza berharap waktu berhenti saat ini saja.


“Hehehe aku bahagia.” Zeza tertawa membuat Levin ikut tertawa.


“Akh,” ringis Zeza saat merasa bayi dalma perutnya menendang. Levin jadi kahwatir saat istrinya memengang perutnya.


“Ada apa?” tanya Levin khawatir.


“Sepertinya dia cemburu melihat kita mengabikannya. Dia menendang perutku,” ujar Zeza membuat Levin gemas. Dia mengelus perut istrinya dan mengajak calon anaknya berintraksi.


“Kamu cemburu, Boy?” tanya Levin.”Daddy sama Mommy tidak akan mengabikanmu, lahirlah cepat, Nak dan tumbuh besar dan selalu sehat, kami menantikanmu,” ujar Levin membuat Zeza tersenyum haru. Suaminya selalu bertanya usia kandungan Zeza. Mereka sengaja tidak mau tahu jenis kelamin anak mereka. Usia kandungan lima bulan sudah bisa diketahui jenis kelamin kandungan.


Levin dan Zeza akhirnya berintraksi kepada anak mereka. Levin semakin antusiasi saat calon akanya menendang tangannya yang diletakkan di atas purut Zeza.  Zeza tidak akan sungkan kepada Levin, dan hari-hari yang mereka lalui dengan keinginan debay yang kadang tidak masuk akal.


Sepertinya anak mereka sangat nakal selalu mengerjai Levin. Zeza ingin melihat Levin bernyanyi potong bebek angsa sambil memakai daster. Levin menurut saja dan tidak protes. Kebahagian Zeza terasa lengkap.


“Lahirlah cepat, Nak. Lihat daddymu sangat lucu,” batin Zeza.


“Lov you my wife,” bisik Levin. Zeza berdiri dan berhambur memeluk suaminya erat.


“Love you more, my husband.”


Cup.


END

__ADS_1


*


Thanks banget jejak dan antusiasi kalian untuk ceritaku. Levin lepboy sudah tamat dan seperti aku bilang kita berakhir di part 30, part 30 adalah bunos alias extra part.


__ADS_2