
Suara kicauang burung mulai terdengar. Sang Fajar telah datang, membuat matahari mulai muncul dengan wajah malu-malunya. Dalam balutan selimut berwarna putih, sepasang suami-istri masih terlalap.
Aktivitas pun berjalan seperti biasanya, hanya kali ini, terselip bumbu yang meracik kisah perjodohan mereka. Mereka yang biasanya saling melontarkan sebuah kalimat sinis, kini saling melontar kata manis yang terselintir di lidah mereka.
“Enghhhh.” Lengguhan disertai kelopak mata lentik gadis itu perlahan memekar. Wajah bak Dewa Yunani suaminya menjadi pandangan pertamanya ketika membuka mata. Potongan-potongan kejadian semalam masuk ke dalam tempurung kepalanya.
“Ini bukanlah mimpi,” batinnya meyakinkan dirinya. Tangannya menyentuh wajah suaminya, dan ada getaran listrik yang menyengatnya kala kulit mereka bersentuhan. Tak mau kalah jantungnya bahkan sudah lari maraton.
“Morning,” sapa pemilik bibir tipis itu.
“Ka-kamu—“ Kedua mata pria itu terbuka sempurna. Tak ada tatapan tajam seperti biasa, dia hanya berdehem kecil.
“Aku akan ke kantor hari ini,” gumam Levin.
“Aku juga akan ke kantor,” ujar Zeza.
Mereka kembali canggung, suasana beda di menikam bibirnya untuk bukam. Mereka kehilangan kata untuk saling mengejek dan bersembunyi pada segumpal rasa yang bermain di dada mereka.
“Kamu akan melakukan pemotretan hari ini ‘kan?” tanya Levin.
“Iya, aku akan datang ke gedung pemotretan. Aku harus menghubungi Yumi—Manangerku.” Zeza bangkit disusul oleh Levin. Zeza membiarkan Levin lebih dulu mandi, sementara itu dia akan menelepon terlebih dahulu sekertarinya, untuk menanyakan jadwalnya di kantor.
Setelah selesai menelepon Yeri barulah dia menelepon Yumi—Manangernya—untuk membicarakan prihal pemotretannya. Mereka cukup lama mengeborol. Sesekali wajah Zeza mengeras dan terlihat memijat keningnya.
Levin bahkan sudah selesai mandi tetapi dia masih sibuk bertelepon ria dengan Yumi. Levin dibuat heran dengan ekspresi istrinya. Saat gadis itu menutup teleponnya, Zeza berlalu ke kamar mandi dengan wajah tak bersahabat.
“Ada apa dengannya?” gumam Levin, sepertinya dia sudah mulai peduli. Pria itu menyemprotkan parfum itali ke tubuhnya. Dia meraih kemeja putih miliknya dan memakai celana kain berwarna hitam. Levin mengambil jas hitamnya serta dasi miliknya, lalu di letakkan di atas kasur.
Pria beralis tebal ini berjalan ke meja rias dan menyisir rambutnya. Dia terlihat rapi dengan tatanan rambutnya. Bibirnya tersenyum tipis, dan dia berjalan kembali ke kasur setelah merasa semua siap. Dia memasang jasnya dan juga dasinya.
Zeza keluar dengan kimono miliknya, matanya menatap Levin tidak berkedip. Gadis ini berdehem gugup, dia berjalan ke lemari mengambil pakaiannya dan ke kamar mandi kembali. Saat Zeza berganti pakaian, suaminya turun ke bawah.
Zeza dibalut dress ketat berwarna coklat kemerahan. Bahu kanannya mulusnya terkespos, panyudaranya yang sintal terlihat menggoda. Bokong seksinya yang bulat menggoda mata untuk memandangnya. Kalung putih seharga 25 juta itu melilit indah di leher putihnya.
Zeza memakai make up natural di wajahnya hingga memberi kesan feminim dan terlihat fresh. Dia berjalan santai menurungi satu per satu anak tangga. Sebenarnya debaran jantungnya tak terkontrol. Dia sampai di dapur dan melihat Levin duduk menunggunya.
Mereka saling memandang, menilai satu sama lain dan memuji satu sama lain dalam hati. Siapapun yang melihat mereka akan tahu jika keduanya memiliki rasa tertarik yang sama. Levin berdehem membuat Zeza salah tingkah.
“Cepatlah ke mari,” ujar Levin. Zeza berjalan anggung ke sana, bukan Zeza menjaga image tetapi inilah dia.
__ADS_1
“Kamu yang memasak sendiri?” tanya Zeza. Bahkan mereka sudah tidak menggunakan lo-gue. Perubahan yang bagus untuk hubungan pasutri ini.
“Aku hanya mambakar roti saja,” ujar Levin sekenahnya. Zeza mengangguk dan memasukkan potongan roti ke dalam mulutnya. Mata Levin tak lepas memandang Zeza.
“Kamu ikut ke gedung nanti?” tanya Zeza. Levin mengangguk. Jika bisa bersama mereka akan bersama ke gedung, tetapi sayangnya, mereka harus ke kantor masing-masing. Kantor Levin dan Zeza berlawanan arah.
Setelah sarapan mereka berdua berangkat ke kantor masing-masing. Zeza menuju kantornya dan memeriksa berkas yang diberikan Yeri kepadanya.
“Yeri, ingat kosongkan jadwal saya,” ujarnya. Yeri mengangguk dan mengiyakan. Melihat penampilan atasannya, sudah ia tahu jika gadis itu sedang ada pemotretan. Zeza sudah terkenal sejak dulu, namanya bahkan sangat berpangaruh pada publik dan dunia modeling. Mengingat dia adik ipar dari model bernama Jung Hana dan jangan lupakan keponakannya yang tenar itu dan sikap blakblakannya Jung Jena, tentu mereka mengenalnya dengan baik.
Zeza mengenderai mobilnya menuju gedung Werz, tempat pemotreannya. Mangernya sudah menunggunya di dalam sana. Zeza berjalan dengan wajah datarnya, membuat beberapa orang menunduk saat dilewati oleh gadis cantik ini.
Zeza dengan keangkuhannya dan segala kesadisannya dalam memberi hukuman orang. Meski begitu tak ada yang berani membuka suara itu kepada publik. Di dalam sana, Zeza melihat Yumi sedang duduk bersama beberpa staf.
“Oh ... kamu sudah sampai. Ganti bajulah,” ujar Yumi sambil berdiri. Zeza menyerahkan tasnya kepada Yumi. Dia mengikuti tata rias menuju ruang ganti. Zeza menatap gaung indah yang tergantung di sana. Ada delapan gaun, kelima gaun itu tentu sudah ia lihat dari proposal yang diperlihatkan Ryung, tetapi, ketiga gaun sisanya itu dia tahu dari suaminya dan belum melihat gaun apa.
Zeza berjalan dan menganti pakiannya menggunakan gaun hitam, kulit putih semakin terpancar. Dia memakai make up yang lebih seksi, bibir merah menyala. Matanya bahkan terlihat menggerling nakal menatap lengsa kemera.
Dia menatap Zeza intes, istrinya berkali-kali lipat cantik. Matanya tak bisa teralihkan, bahkan saat Ryung mengajaknya berbicara. Hingga Zeza harus ganti baju. Gadis itu keluar dengan wajah memerah marah di ruang ganti. Dia menghampiri Ryung hendak protes.
“Ryung! In—“
“Model prianya sudah datang,” ujar salah satu staf. Ryung menoleh bersama dengan masuknya seorang pria tampan ditemani kekasihnya. Mata Zeza menyorot dingin. Bahkan auranya terlihat lebih hitam. Dia bersikap tenang dan santai.
“Bagaimana?” tanya pria itu sambil menyeringai ke arah Zeza. Gadis di dekatnya memasang wajah acuh saat melihat Zeza.
“Senang melihatmu kembali Zeza,” ujar pria itu tanpa raut wajah bersalah. Zeza memandangnya tajam, bibir gadis itu balik menyeringai. Levin menatap istrinya dengan tatapan sulit diartikan.
“Aku tidak tahu jika model prianya adalah Ric Argas. Aku merasa rugi untuk pemotretan ini, tak seharusnya model kelas atas sepertiku mendapat pasangan model sepertimu,” ujar Zeza tenang tetapi nadanya penuh mengcemoh. Rahang Ric mengeras, bahkan gadis di dekatnya memandang Zeza tajam.
“Kau pikir kau sesempurna apa Zeza? Patah hati bodohmu itu yang tak bisa melepas Ric bersamaku terlihat menyedihkan,” ujar Amel sakras. Zeza tertawa pelan, gadis itu mengcengkram baju yang membuat dia ingin protes. Ini bukan gaung seperti tadi, tetapi ini dress piayama tidur yang sangat seksi, mirip bekini. Tipis dan memperlihatkan dalamannya. Sungguh mengundang shawat laki-laki.
“Jangan berkata terlalu manis padaku, sebelum kupatahkan rahangmu,” ujar Zeza santai.
__ADS_1
“Ekhm, jadi ada apa Zeza?” tanya Ryung mengalihkan topik.
“Aku pikir tidak tahu jika aku mendapat endors berupa piyama seksi,” ujar Zeza sambil mengacungkan kepada Ryung. Ryung menggaruk tengkuknya tidak gatal. Rahang Levin mengeras menatap piayama merah itu.
“Kau ternyata belum berkelas, profesionallah,” ejek Ric. Dia hendak menyentuh pundak Zeza, tetapi ditepis gadis itu.
“Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu,” ujarnya dingin. Ric tergelak dan merangkul kekasihnya, Amel. Dia berjalan ke ruang ganti meninggalkan Zeza dengan hati yang mendidih.
Levin sadari siapa pria itu, dia adalah musuhnya. Namun, Levin tidak mengerti Zeza dan pria itu ada hubungan apa?
“Batalkan saja,” ujar ryung pasrah. Zeza menggeleng keras menolak. Dia tidak akan membiarkan pria itu merendahkannya dan akan membukam bibir Amel, bahwa pria itu tidak berpangaruh sama sekali. Tidak ada cinta untuk mantan kekasihnya hanya ada kebencian.
“Lakukan saja, ini kontrak,” ujar Zeza.
“Aku tidak akan rugi Zeza, kita tidak akan miskin jika mengalami kerugian 10 milyar,” ujar Ryung. Memang itu tidak berpangaruh tetapi harga diri Zeza terluka. Dia akan membalas pria itu.
“Tidak, aku akan tetap melakukannya,” tolak Zeza tegas.
“Apa kamu begitu ingin memakai pakaian sialan itu dengannya?” tanya Levin tajam. Merasa siatuasi memanas, ryung memberi ruang untuk mereka berdua.
Zeza menghela napas dan menatap Levin lembut. Dia mengenggam tangan Levin saat melihat kilat marah di mata suaminya. Zeza melakukannya karena dorongan dalam hati kecilnya. Terbukti perlahan wajah Levin melunak.
“Vin, aku hanya ingin melenyamatkan harga diriku,” ujar Zeza lembut.
“Dan membirkan pria itu melihatmu yang hampir telanjang?” tanya Levin memohok. Zeza tidak tahu kenapa Levin terlihat lucu di matanya. Dia tersenyum membuat Levin menatapnya tajam.
“Aku bisa menganti rugi, persetan dengan uang, aku tidak akan membiarkannya melihatmu dalam keadaan hampir telanjang,” ujar Levin marah. Tawa Zeza pecah, bisakah dia menganggap Levin cemburu? Jika benar pria ini cemburu, maka dia akan bahagia.
“Berhenti teratawa, ini tidak lucu,” ketus Levin.
“Kalau begitu biarkan aku membalasnya, hum? Ayolah Vin hanya 3 kali pemotretan, maka semua beres,” bujuk Zeza. Levin mengembuskan napas berat dan mengangguk tidak rela. Zeza menghabur memeluknya, Levin menengan sebelum dia membalas pelukan istrinya.
“Kalau sampai dia menyentuhmu, akan kutembak dia saat ini juga,” geurut Levin membuat zeza mengigit bibir bawahnya gemas.
“Ternyata mafia kalau cemburu, beda banget rasanya, hehehe,” batin Zeza. Mereka pergi ke ruang ganti dan betapa tidak relanya Levin melihat Zeza harus memamerkan tubuhnya di depan pria lain.
“Ayo,” ajak Zeza, dan Levin mengekorinya dengan hati dongkol. Dia semakin ingin membunuh Ric, dia hanya perlu menunggu Gerald kembali.
TBC
Jejak
__ADS_1