Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
14


__ADS_3

Mereka tiba di rumah malam harinya, Levin dan Zeza sama-sama  kelelahan. Untung saja Levin yang mengangkat koper masuk ke dalam rumah mereka. Bisa dibayangkan betapa sulitnya Zeza menyeret koper itu dengan kaki pincangnya.


Levin naik di atas rumah sedangkan Zeza duduk di atas sofa. Dia terlalu lelah, apalagi kakinya masih terasa sakit. Zeza berbaring dengan hati-hati. Biar saja nanti dia membersihkan dirinya, dia butuh istirahat dulu.


Levin di atas kamarnya membersihkan dirinya dan turun untuk makan. Dia menyerit melihat Zeza di atas sofa tiduran. Levin akhirnya memesan makanan dari restoran. Dia tidak bisa memasak dan Zeza sedang tiduran.


Levin menunggu pesanannya, hingga 15 menit kemudian sampai. Dia ke dapur dan memindahkannya di atas piring, baru kemudian dia menghampiri Zeza.


“Za,” panggilnya. Zeza membuka matanya yang terlihat sayu. Dia berjalan gontai mengikuti Levin, matanya sangat berat.


Dia makan cepat karena hidangan di depannya membuat matanya terbuka sempurna. Makanan kesukaannnya tersaji di depan matanya. Levin menggelengkan kepala melihat Zeza yang makan maraton.


“Aku cuci piringnya besok aja ya, Vin,” ujar Zeza kepada Levin. Levin mengangguk dan memandang Zeza yang kini pergi. Sepertinya gadis itu dalam keadaan badmood. Levin tidak tahu saja jika dialah penyababnya.


“Besok aja gua temui Sasa,” ujar Levin yang melihat Zeza. Levin membiarkan piring bekas mereka di atas meja. Dia melihat Zeza tiduran di sofa. Levin menghela napas dan melangkah ke arah Zeza.


Wajah Zeza terlihat damai saat dia tiduran. Dia berjongkok di dekat Zeza. Zeza membuka matanya dan terkejut melihat Levin.


“Mandi dulu, lo mabok jalanan?” tanya Levin digelengi gadis itu. Matanya kali ini memilih memandang Levin lama.


“Lo kenapa, Za? Sakit?” tanya Levin sambil menempelkan tangannya di dahi Zeza. Badan Zeza tidak panas membuat Levin kebingunan.


“Hati aku yang sesak, vin,” batin Zeza. Dia sama sekali tidak mengalami luka fisik tetapi luka batin.


“Lo mandi dulu biar badan lo juga enakan,” ujar Levin. Tiba-tiba pintu rumah mereka diketuk. Levin menyerit dan bangung, dia tetap menyuruh Zeza mandi.


“Mandi,Za. Bau tau,” ejeknya. Zeza menatap kesal Levin dan menyeret kaki pincangnya ke atas. Dia memutuskan untuk berendam dan akan turun melihat tamunya.


Di ruang tamu, Levin dengan seorang pria berjas hitam. Matanya menatap levin dengan tenang. Levin tentu tidak tahu maksud kedatangan pria ini. Dia sangat jarang muncul, paling sibuk bersama keluarga kecilnya.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Levin saat dia ditatap sedemkian rupa.


“Kapan kamu memberi Mommy cucu? Vin, aku harap kamu cukup dewasa untuk masalah ini. Aku tahu kamu dan Zeza menikah atas dasar perjodohan, tetapi pernikahan bukan suatu permainan,” ujar Ryeong.


Levin membuang napas kasar, cucu ... cucu lagi. Dia menatap hyungnya sambil memijit pangkal hidungnya.”Hyung, membuat cucu bukan muda—“


“Sangat mudah, tinggal masuk,” ujar Ryeong ambigu dan tentu akan cepat jadi jika kalian rutin melakukannya. Levin berdehem, selama ini dia tidak bermain seks kepada wanita manapun lagi.  Tentu hasratnya sebagai lelaki normal menumpuk dan satu rumah dengan seorang gadis cantik, tentunya ujian berat.


“Aku sama Zeza bai—“


“Berhenti berbhong, semua keluarga kita tahu. Tidak bisakah kamu berjuang, Vin?” tanya ryeong tenang. Dia memotong ucapan adiknya.


“Hyung  ... aku sama Zeza seperti batu kerang, sama-sama keras,” ujar Levin pasrah. Toh kata ryeong semua keluarganya tahu. Dia tidak perlu menutupi apa-apa.


“Maka ketika Zeza jadi kerang dalam lautan,  aku harap jadilah ombak yang mengikis kerang itu hingga hancur. Rumah tangga itu bukan ibarat hanya tentang lautan bersama kerangnya, tetapi rumah tangga itu seperti samudra yang harus diarungi bersama.” Double kill, tepat di hati Levin. Ucapan Ryeong bagaikan sebuah AWM yang membuat dia lemas sekatika.


“Belajar mencintainya, buka hatimu untuknya. Dia bukan orang lain tetapi dia istrimu sendiri. Aku dan Keyra sama-sama dijodohkan, aku tahu Zeza dan Keyra sangat berbeda, tetapi Zeza tetaplah seorang wanita,” ujar Ryeong memberi nasihat adiknya.


“Jikapun pada akhirnya aku dan Zeza harus berpisah, aku harap kalian mengerti. Aku akan memulai berjuang,” ujar Levin yang membuat Ryeong menepuk pundaknya.


“Berjuang sendiri tidak akan pernah menghasilkan apa-apa, berjuang bersamalah istrimu,” ujar Ryeong kemudian pamit pulang. Levin termenung sampai dia tidak menyadari Zeza sudah duduk di sofa.


“Vin,” panggil Zeza. Levin  tersadar dari lamunannya. Dia menoleh dan melihat Zeza yang menatapnya dengan raut wajah aneh.


“Kenapa?” tanya Levin.


“Lo jangan melamun nanti kesambet setan,” ujar Zeza membuat Levin mendengus. Zeza memakai piayama tipis berwarna hitam sebatas lutut. Kali ini dia mambawa selimut yang diambilnya di lemari Levin.


“Ngapain bawa selimut?” tanya Levin. Zeza salah paham jadinya, dia pikir Levin tidak mengizinkannya memakai selimut. Dengan kesal dia menyingkap selimutnya sampai jatuh ke bawah. Dia membelakangi Levin.

__ADS_1


“PMS kali,” batin Levin. Dia memungut selimut Zeza dan duduk di dekat Zeza. Zeza berbalik dan menatap Levin datar.


“Ambekan banget jadi cewek,” ejek levin dengan wajah songongnya.


“Terserah gue,” ucap Zeza sinis. Dia terlanjur kesal, ditambah juga oleh-oleh yang ia lihat di atas kasur Levin. Dia tahu itu untuk gadis bernama Sasa. Di mana dia tahu, dia melihat ponsel pria itu di kamar sejak tadi dihubungi oleh gadis bernama Sasa.


“Tahu gak Za, lo sudah tua,” ujar Levin membuat Zeza bangun dan menatapnya berang. Dikata tua membuat moodnya sudah hancur berkeping-keping.


“Hello Tuan Levin, lo itu lebih tua dari gue! dasar om-om gak laku,” ujar Zeza membuat Levin merogoh kantungnya. Dia menempelkan pistol di dahi Zeza, wajah Zeza pucat pasi. Bibir Levin menyeringai puas. Dia membuat Zeza tidak mampu berkutik sama sekali.


“Vin,” lirih Zeza ketakutan. Dia tahu sekali melepas pelatuknya, maka tima panas itu akan menembus kepalanya. Levin menikmati wajah ketakutan Zeza.


“Gua paling menunggu saat ini, saat bibir lo tidak akan berucap kasar sama gua,” ujar Levin penuh penekanan. Air mata zeza merebes keluar, dia tidak menyangka Levin setega ini kepadanya.


“Jangan bercanda, Vin. Ini gak lucu,” lirih Zeza dengan parau. Dia kira Levin sudah baik dengannya, dia pikir pria itu sudah melunak padanya walau dia masih ketus dan berkata kasar, ternyata pria itu hanya pura-pura saja.


“Apa pernah gua bercanda?” tanya Levin sinis. Zeza memejamkan mata pasrah.


“Hiks lo bajingan,” ujar Zeza tersedak karena tangisnya. Tubuhnya sudah dingin karena ketakutan. Itu membuat Levin semakin senang. Dia akan membuat gadis ini ketakutan. Rasanya balas dendamnya sebentar lagi akan tercapai.


“Selamat tinggal, Zeza.”


DOR!


TBC


Jejaknya guys :D


Hiya-hiya ketemu Author lagi :D

__ADS_1


__ADS_2