Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
4


__ADS_3

Di sebuah kamar yang di dominasi warna putih seorang pria duduk sambil menyesap sebatang rokok. Asap nikotin menyembur keluar dari bibir seksinya. Alis tebalnya mengerut. Terlihat dia berpikir keras.


“Apa yang Mommy pikirkan saat menjodohkanku dengan Zeza?” gumamnya. Dia tahu Aeri menginginkan cucu, tetapi bagimana bisa dia memberikan Aeri cucu saat dia dan Zeza bagai dua kutub yang berbeda. Zeza dengan sikap arogan dan sinisnya sedangkan Levin dengan sikap emosionalnya dan memiliki ego yang tinggi.


“Pernikahan terburuk yang ada,” ujarnya sambil memembuang batang rokoknya yang tinggal sedikit. Dia beranjak dan mengambil pistol miliknya. Jika Zeza bermain-main dengannya, dia akan menembak gadis itu.


Bayangan menyiksa Zeza membuat bibirnya menyeringai. Zeza harus membayar semua perlakuannya selama ini. Cihm gadis itu sangat murahan, bahkan disaat dia ingin menikah malah berciuman di kantor.


Tapi Levin tidak peduli, toh dia tidak mencintai Zeza. Baginya Zeza hanya gadis yang mencari masalah dengannya. Jika Levin berpikir bagaimana nanti dia akan membuat Zeza menyesal justru Zeza berpikir beda dengannya.


Di ruang ganti Zeza dan mangernya Teri duduk. Sejak tadi wajah dingin Zeza menmanik kehengan mereka. Zeza baru saja melakukan pemotretan dan dia sebenarnya diincar awak media untuk melakukan konfpress mengenai pernikahannya.


“Dia membuatku malu,” ujar Zeza geram. Bagimana bisa dia melakukan konfpress sendirian, bisa-bisa awak media mencium bau tak sedap mengenai pernikahannya dengan Levin.


“Seharusnya kita mengajaknya juga,” ujar Teri hati-hati.


“Untuk apa aku memanggilnya, dia tahu jelas aku siapa,” ujarnya marah. Ingin rasanya dia mengcekik Levin. Reputasinya sedang dipertaruhakan dan laki-laki itu hanya angka bahu cuek. Ingatkan Zeza untuk menampar Levin kembali. Dia dan levin akan menikah besok dan hari terburuknya akan dimulai.


***


Keesokannya Levin dan Zeza berada di Altar. Heseok membawa Zeza yang cantik dan anggung mengenakan sebuah gaun putih yang dijuntai dengan bordir motif bunga yang cantik. Sementra di atas Altar dekat pendeka, seorang pria berdiri dengan gagah. Jangan lupakan raut wajahnya tanpa sebuah senyuman.


Pria itu mengenakan jas hitam dengan dasi kupu-kupu hitam, dengan kemeja putih. Di sakunya terdapat bunga kecil sebagai motifnya.


Dia meraih tangan Zeza yang kini menatapnya datar. Mereka berdua saling menatap tanpa sebuah kata dan senyuman seperti pengantin lainnya. Zeza menoleh dan menatap bundanya yang tersenyum bahagia, itu membuat Zeza harus menghela napas berat.


Mereka mulai mengucapkan janji sakral di atas Altar, janji yang akan mereka ingkari atau pertahankan. Janji saling mencintai tapi berniat saling menyakiti. Entahlah, mereka sedang mencoba melawan takdir.


“Jung Levin Aldrick, bersediakah engkau menikah dengan Jung Park Zeza, menjadikannya sebagai istrimu baik dikala senang, sedih, duka dan suka. Hanya maut yang memisahkan kalian?”


Levin menatap Zeza datar dan seraya berkata,”Ya, saya bersedia.”

__ADS_1


“Jung Park Zeza, bersediakah engkau menikah dengan Jung Levin Aldrick, menjadikannya sebagai suamimu baik dikala senang, sedih, duka dan suka. Hanya maut yang memisahkan kalian?”


“Ya, saya bersedia.”


“Levin kamu bisa mencium Zeza agar sah sebagai suami-istri,” ujar Pendeta.


Levin membuka kain putih yang menutup wajah Zeza. Tatapannya begitu dingin bertumpu tatap dengan dengan tatapan tak terbaca Zeza.


Zeza merasa berkeringat dingin saat napas Levin menerpa wajahnya. Aroma parfum levin mnyeruak indra penciumnya. Sampai bibir Levin menyentuh bibirnya, Zeza *** gaunnya kuat. Levin menggerakkan bibirnya membuat Zeza terpaksa memajamkan mata. Tidak ada kelembutan dalam ciumannya, hanya ciuman yang begitu dingin.


“prok ... prok  ....”


Suara tepuk tangan menggema, Levin menarik dirinya dan Zeza membuka matanya. Mereka sama-sama tenang dan selanjutnya, mereka melakukan sesi melempar bunga dan mendapat banyak yang antri siap menangkap bunganya. Jena mendorong gata dan Gita agar keduanya ikutan.


“Aunty aku tidak mau,” tolak Gata dan Gita.


“Lakukan saja,” paksa Jena. Tentu gata dan Gita uslit melawan Jena yang tidak mudah mengalah. Ray tertawa saat istrinya terlihat keras mendorong keduanya.


Betapa teriakan hebohnya saat bunga jatuh kepada Gata. Gata mematung di tempatnya dan menatap Eunbi yang tersenyum menatapnya. Ryung menggoda putrinya itu membuat Gata memberenggut tidak suka.


Mereka semua kembali setelah ke rumah karena akan memulai resepsinya nanti malam.


***


Gedung HYY


Gedung mewah dan dekorasi yang indah, keduanya bagai raja dan ratu yang bersanding di plaminan. Levin dan Zeza memasang senyum palsu untuk menutupi pernikahan mereka. Semua tahu mengira jika Levin berhasil mencairkan hati beku Zeza dan sebaliknya zeza dikira wanita yang mampu mengalahkan ego pria itu.


Zeza sebenarnya sudah lelah sejak tadi menyalamai tamu. Rahangnya terasa kaku menyunggingkan senyumnya. Dia duduk di samping Levin sambil menekan kedua tangannya.


“Hey, maafkan aku telat,” ujar seorang pria yang tak lain adalah Guar. Zeza tersenyum manis, kali ini tidak berpura-pura. Dia mengangguk.

__ADS_1


“Bahkan aku pikir kamu tidak datang,” ujarnya.


“Aku tidak akan melewatkan saat dirimu disulap semakin cantik begini,” ujar Guar bercanda.


“Hm, nikmatilah pestaku,” ujar Zeza.


“Dengan senang hati tuan Putri,” ujar Guar membuat Zeza tegelak. Levin menatp keduanya datar. Pria itu ingin pergi sekarang juga, jangan pikir dia cemburu, dia bosan berada di sini.


Setelah kepergian Guar datang seorang gadis yang membuat Levin mematung. Dia berdehem pelan dan menatap gadis itu datar.


“Oppa,” ujarnya sambil memamerkan deret giginya yang rapi. Levin tersenyum tipis. Gadis itu hendak memeluk Levin tapi Zeza menghalanginya. Levin menatap menyerit Zeza.


“Jangan salah paham, aku tidak ingin reputasiku hancur. Bahkan menyia-nyiakan senyum palsuku,” bisik Zeza dengan santai.


“Mengapa kamu menghalangiku memeluknya?” tanya gadis itu protes.


“Sudahlah Sa,” ujar Levin dan menerima jabat tangan Sasa.


“Aku menunggu Oppa selama ini,” lirih Sasa. Levin menganggap Sasa sebagai adiknya, Sasa adalah anak yatim yang Levin tolong tanpa sengaja.


“Aku akan mengunjungimu,” ujar Levin membuat wajah murung Sasa berubah menjadi ceria. Zeza menatp Sasa datar.


“Oppa, aku akan pergi,” ujar Sasa yang diangguki Levin. Levin menatap punggung Sasa yang menjauh dan hilnag di kerumuan orang. Dia menoleh dan melihat Zeza yang ikut menatap kepergia Sasa.


Tidak terasa jam hampir menunjukkan jam sepuluh malam dan tamu mulai berkurang. Zeza dan Levin berserta keluarganya memutuskan kembali ke rumah. Levin dan Zeza menuju ke rumah Levin. Di dalam mobil keduanya hanya diam saja.


Zeza memikirkan apa yang akan ia lakukan di rumah pria tua ini. Dia tidak akan mengizinkan Levin mengendalikan dirinya.


TBC


Jejak

__ADS_1


Next part hahahha hayo ngapin mereka .... terimakasih jejaknya dan next part bakal kehidupan pernikahan mereka berdua


__ADS_2