Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
8


__ADS_3

Zeza dan Levin masuk ke dalam rumah Aeri dan Jungkook. Mereka mengedearkan pandangan tidak mendapati Jena ataupun Ray. Melihta wajah celangak-celinguk Zeza, Aeri menanyakannya.


“Kamu sedang mencari siapa, Nak?” tanya Aeri.


“Mom, ke mana Jena dan Ray?” tanya Zeza  bingung.


“Mereka sudah pulang tadi. Mommy pikir Jena datang ke rumahmu untuk memberitahumu,” ujar Aeri.


“Memberitahu apa Mom?” tanya Zeza.


“Dia pergi berbulan madu bersama Ray,” ujar Aeri membuat Zeza mengutuk Jena dalam hati.


Aeri membawa Jena ke ruang makan. Levin mengekor dari belakang dan di sana sudah ada Jungkook yang duduk menatapnya lembut. Mereka ikut bergabung dan menikmati makan malam buatan Aeri.


“Kalian tidak berencana bulan madu?” tanya Aeri membuat Levin tersedak. Dia hendak mengambil air putih tetapi Zeza lebih dulu memberinya.


“Mommy  ... aku dan Zeza sama-sama sibuk,” ujar Levin setelah minum. Aeri berhenti menguyah dan menatap senduh keduanya. Zeza mengepalkan tangannya di atas paha. Aeri sosok penyayang dan dia tidak akan mampu menyakiti wanita bak malaikat itu.


“Oh Tuhan haruskah aku menciati pria kasar ini,” batin Zeza.


“Mommy mungkin kami akan memikirkannya. Bagaimana jika liburan bersama saja?’’ tanya Zeza.


“Baiklah,” ujar Aeri setuju. Dia juga merindukan berkumpul dengan keluarga besarnya.


“Kita hanya bisa menginap 1 atau 2 malam saja, aku benar-benar punya pekerjaan mendesak, Mom,” ujar Levin jujur. Dia memang memiliki pekerjaan mendesak.


“Levin Mom—“


“Sayang, biarkan saja. Mereka akan melakukan bulan madu saat mereka punya waktu luang,” ujar Jungkook membuat Levin menghela napas lega.


“Baiklah, Mommy harap kalian memberi Mommy cucu secepatnya.” Lidah levin dan Zeza sama-sama kelu jika membiacarakan soal anak. Bagimana mereka memberikannya, prosesnya saja belum pernah.


“Kalian sudah melakukan itu kan?” tanya Aeri membuat pipi Zeza memerah malu. Dia juga wanita yang akan malu jika membahas soal seks.

__ADS_1


“Te—tentu Mom,” ujar Zeza terbata-bata.


“Kami juga baru menikah Mom, tidak mungkin hasilnya begitu cepat,” ujar Levin membantu Zeza menutupi kebohonga mereka.


“Iya, kalian jangan berbohong kepada Mommy karena Mommy tidak akan memaafkan kalian.” Levin menenguk ludahnya kasar. Dia benci Aeri adalah hal terburuk dalam hidupnya dan memiliki Zeza adalah pilihan terburuk untuk masa depannya.


“Sudahlah, kita nikmati makan malam ini saja.” Lagi-lagi Jungkook menyelamatkan mereka berdua. Mereka akhirnya makan malam tanpa ada pembahasan mengenai cucu.


“Mommy biar kubantu,” ujar Zeza sambil membantu Aeri membersihkan piring kotor. Jungkook sendiri berada di ruang kerjanya. Tiba-tiba saat Aeri mencuci piring dan Zeza melap meja, Levin datang dana memeluk Aeri erat.


Aeri tersenyum melihat perlakuan putranya.”Kenapa denganmu?” tanya Aeri membuat Levin semakin mengeratkan pelukannya. Aeri tahu saat levin seperti ini berarti anaknya memiliki kesalahan atau membohonginya.


Aeri bukan tidak tahu hubungan keduanya, dia bahkan tahu seperti ucapan Jena. Semua keluarganya tahu.


“Maafkan aku Mom,” lirih Levin membuat Aeri menghela napas. Dia tidak akan medesak putranya untuk berkata jujur, dia mengangguk.


“Sebaiknya kamu ke kamarmu, Nak. Ajaklah istrimu,” ujar Aeri.


“Tidak Mom, Momlah yang ke kamar dan biarkan Zeza membersihkannya sendiri,” ujar Levin membuat Zeza di belakangnya mendegus kesal.


“Aku—“


“Kalau begitu biar Mommy, Nak,” ujar Aeri.


“Baiklah, Mom. Aku akan mengerjakannya,” ujar Levin pasrah. Aeri tertawa dan meninggalkan keduanya. Dia akan membuat Zeza dan Levin memiliki waktu berdua.


“Cepat bawa piringnya ke sini,” sentak Levin. Zeza memandangnya datar dan memberikannya piring. Ingatkan Zeza untuk tidak memukul kepala Levin dengan piring.


“Bersihkan,” perintah levin membuat mulut Zeza menganga tidak percaya.


“Ini tugas untuk lo,” ujar Zeza marah. Dia mengutuk dalam hati saat dia ingat perkataan Jena. Dia menghela napas dan menatap Levin lembut.


“Mommy kan minta bantuan sama kamu, Vin.” Levin acuh terhadap perkataan Zeza. Dia meninggalkan Zeza di dapur dan berjalan ke kamarnya sendiri.

__ADS_1


Zeza membersihkannya dan mengumpati Levin. Tiba-tiba ponselnya berdering. Dia melihat nama Guar di sana. Zeza berhenti cuci piring dan menggeser warna hijau.


“Halo,” sapanya.


“ ....”


“Aku akan liburan besok bersama keluarga besarku.”


“ ....”


“Ikutlah.”


“ ....”


“Hahaha tidak, ini akan menyenangkan jika kamu hadir. Mommy tidak akan keberatan sama sekali,” ujar Zeza.


“ ....”


“Hm.”


Zeza menyimpan ponselnya dan menyelesaikan pekerjaannya. Dia mencari kamar Levin dengan susah payah. Di sini memang banyak kamar tetapi jika dia ketahuan beda kamar dengan Levin, Aeri akan semakin terluka.


Jung Levin Aldrick.


Nama yang terukir indah di pintu coklat itu. Zeza membukanya dan mendapati Levin tidur di atas kasur. Dia menghela napas dan melihat di sini tidak ada sofa. Dia harus tidur di mana? Pria itu akan marah kepadanya jika dia tidur di kasur.


Zeza melangkah ke meja belajar pria itu dan duduk di sana. Dia menyilangkan tangannya di atas meja. Menjadikannya sebagai bantalan. Zeza tahu, punggungnya akan sakit jika dia bangung paginya.


Dia kelelahan akhirnya jatuh pada mimpi indahnya. Levin yang tidak tidur membuka matanya menatap Zeza datar. Sejujurnya Levin tadi turun ke dapur dan mendengar percakapan Zeza.


“Jangan beri aku alasan untuk semakin membencimu,” ujar Levin dinging. Dia sama sekali tidak kasihan melihat Zeza tidur di sana. Dia memejamkan matanya dan terlelap. Bibir Zeza tersenyum kecut, dia terbangun dan mendengar ucapan Levin.


“Aku dan kamu seperti Api, jika disatukan akan semakin berkoar. Aku pikir hubunganku tak akan serumit ini,” lirihnya.

__ADS_1


TBC


Jejak yey double up :D


__ADS_2