Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
10


__ADS_3

5 kali up 😁 Author mau puasin pembaca 😁 part 11 menyusul soalnya tadi mati lampu saat menulis :( mau up barengan tapi listrik :!


Up again, jangan bosen ya hahaha.


Mereka turun ke bawah dan ikut makan malam bersama keluarganya. Masing-masing orang memiliki meja sendiri.  Zeza dan Levin duduk berdua dengan hidangan di depannya. Levin dan Zeza sama sekali tidak mengobrol berbeda dengan the Tripleks, mereka makan bersama istri dan anak-anak mereka.


Zeza merasa seseorang memandangnya. Dia menoleh dan melihat Guar menatapnya. Tatapan mereka terkunci satu sama lain. Levin menatap Zeza dengan tatapan mengejek.


“Drama Queen.” Zeza menoleh mendengar ucapan Levin. Dahinya mengerut dan dia menggerutu kesal. Levin menahan ringisannya saat Zeza tidak sengaja meginjak kakinya.


“Shit!” umpatnya. Matanya menatap tajam Zeza seolah zeza adalah makanan lezat yang siap ia habiskan. Matanya melotot tajam. Zeza meringgis bersalah tetapi dia memasang wajah datarnya. Dia tahu macan tutul di depannya akan marah.


“Ekhm, aku sudah selesai.” Zeza bangkit dan meninggalkan Levin. Mereka berpisah-pisah untuk mengunjungi tempat wisata lainnya. Besok mereka akan mengunjungi pantai.


Zeza berjalan sendiri sampai Guar menghampirinya. Zeza kaget saat Guar menyampirkan jaketnya di bahunya.


“Terima kasih,” ujar zeza.


“Kamu tak perlu berterimakasih,” ujar Gua membuat Zeza menepuk bahu Guar. Mereka duduk di bangku dan menatap indahnya resort ini pada malam hari. Lampu-lampu berkelap-kelip sangat cantik ditambah hamburan bintang di atas langit.


“Aku harap hatimu baik-baik saja saat kembali,” ujar Guar dengan napas beratnya.


“Aku akan terlihat menyedihkan,” ujar Zeza kepada Guar. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Guar. Bahkan sikap lemah Zeza yang tak pernah ia perlihatkan kepada orang lain, Guar tahu. Tangan Guar merengkul pundak Zeza.


“Seperti apa sosok Levin?” tanya Guar.


“Dia seperti es, keras dan dingin.” Zeza membayangkan wajah marah pria itu. Tak pernah dia melihat Levin tersenyum kepadanya walau sedetik pun. Minus soal pesta pernikahan mereka.


”Apakah kamu mencintainya?” tanya Guar membuat Zeza tertawa. Dia menggelengkan kepalanya.


“Cinta terlalu dini untuk dipertanyakan dalam hubunganku dengannya. Aku pada akhirnya tetap jatuh cinta padanya, kuharap aku bisa mencintainya,” ujar Zeza. Dia tidak akan menyakiti keluarganya dan ada hal yang membuatnya ingin mencintai Levin. Bukan karena pria itu tetapi karena dirinya sendiri.


“Levin itu mantan mafia,” ujar Guar membuat  Zeza manarik dirinya dan menatap Guar terkejut. Dia baru tahu pria itu seorang mafia. Pantas saja pria itu terlihat menyeramkan. Apakah dia akan bernasib sama dengan pemeran novel, karena suaminya mafia, maka musuh-musuh dari suaminya akan mengejarnya? Zeza termenung membuat Guar tergelak.


“Hey, Baby. Hentikan pemikiranmu, Levin mafia terbesar, asal kamu tahu. Tidak akan ada yang berani mengusiknya,” ujar Guar membuat kening Zeza hampir menyatu.

__ADS_1


“Levin itu terkenal di bisnis gelap. Namanya tidak asing lagi, bahkan polisi mengenalinya tetapi mereka bisa berbuat apa?” Zeza mengangguk mengerti. Zeza bangkit membuat Guar menatapnya.


“Ayo kita masuk, cuaca sangat dingin,” ujar Zeza. Langit juga mulai mendung dan sebenatr lagi memuntahkan isinya. Guar mengangguk dan tidak sadar bintang-bintang tadi menghilang.


***


Levin POV


Aku mengerjakan urusan kantorku dan memantau masalah yang dilaporkan anak buahku. Hujan deras tengah mengguyur di luar. Aku menutup laptopku meski masih ada yang harus kukerjakan. Aku menoeh dan melihat Zeza masuk.


Aku mengabaikannya dan berjalan ke lemari mengambil jaketku. Aku menyuruh anak buahku mampir ke sini dan aku akan ikut dengan mereka. Tentunya aku pergi secara diam-diam. Aku tidak ingin ditanya macam-macam dengan mommy.


“Lo ikut gua,” ujarku pada Zeza yang ingin berbaring. Dia menatapku dengan pandangan bertanya.


“Setidaknya katakan mau ke mana?!” teriaknya kesal. Aku mengeluarkan pistol dam jaketku dan menyodorkan ke arahnya. Matanya membulat sempurna.


DOR!


Prang!


“Jangan banyak tanya sebelum kepala lo pecah seperti vas bunga itu,” ujarku membuat dia menurut. Dia berjalan ke arahku. Kalau aku tahu dia tkut pistol sudah sejak dulu aku memabawanya, namun selalu gagal, pistolku pasti tidak ada.


Kami berjalan keluar dan menemukan mommy yang menatap kami.”Kalian mau ke mana?” tanya.


“Kami mau keluar sebentar, Mom,” ujarku membuat kening mommy mengerut.


“Di luar hujan deras,” ujarnya.


“Hanya sebentar, Mom. Lagian aku juga keluarnya sama Zeza,” ujarku menjadikan Zeza sebagai senjata. Untung mommy mengizinkan dan kami berdua keluar.


“Levin, ini hujan deras,” ujar Zeza saat terkena hujan. Kami masuk ke dalam mobilku. Aku mengabaikan ucapannya. Hujan semakin deras dan aku baru menyadari Zeza hanya memakai dress piayama selutut tanpa lengan.


Pantas saja mommy mengizinkan, dia mungkin berpikir kami hanya jalan-jalan sekitar resort saja. Aku menurunkan AC dalam mobilku. Dia masih menggigil.


Sampai aku cukup jauh dari resort dan melihat mobil hitam di depanku terparkir. Aku memarkir mobilku cukup jauh dari sana. Zeza menatapku bingung. Aku melepas jaketku dan melemparkan ke arahnya.

__ADS_1


“Pake,” ujarku sekenanya. Dia tetap diam dan aku tidak peduli dia memakainya atau tidak.


Aku keluar dari mobilku dengan kaus putih melekat di tubuhku. Mobil hitam itu aku ketuk dan masuk ke dalamnya.


“Bagimana bisa ini terjadi?” tanyaku kepada Gerald. Dia menghela napas dan menyodorkan foto serta berkas-berkas.


“Dia Ric Argas,” ujar Gerald dengan nada bertanya. Rahangku mengeras membaca bio data Ric. Aku menatap sahabat sekaligua orang kepercayaanku.


“Dia kekasih Park Amel,” ujarku yang diangguki Gerald.


“Pria itu sudah lama berpacaran dengan Amel, kau tahu  ... sulit menebaknya, dia memacari Amel karena cinta atau karena marga yang disandang anak itu,” ujar Gerald. Aku tahu Amel anak dari Jimin berarti keponakannya Zeza.


“Apa saja yang dia lakukan?” tanyaku datar.


“Dia mencoba menyingkirkan kita di LA dan mengambil client dengan cara licik,” ujar Gerald.


“Tidak ada yang lebih licik dari Jung Levin Aldrick.” Aku merasa seperti dulu, saat pertama kali menjadi mafia. Aku ingin menghabisi Ric Argas.


“Aku akan membunuh keparat itu jika berani-berani bermain dengan keluarga Jung,” desisku *** foto Ric. Ric seoarang mafia juga yang hanya menampilkan cover perusahan bersih.


“Untuk sementara aku akan berada di LA, nikmati saja dulu perniakahnmu. Aku akan mengurusnya tetapi saat kembali aku akan pulang ke Korea. Ric saat ini berada di Korea,” ujarnya membuatku mengangguk mengerti.


“Aku tidak menikmati perniakahnku,” ujarku saat melihatnya tersenyum lebar.


“Istrimu terkenal cantik dan seksi.” Sial. Aku keluar dan untuk kedua kalinya hujan kembali mengguyurku. Aku sudah basah kuyup. Aku membuka pintu mobil dan ternyata Zeza memaki jaketku.


Dia menatapku yang basah kuyup. Dia hendak melepas jaketku. “Tidak usah,” ujarku.


Dia mengangguk dan menatap ke depan. Sial badanku sangat dingin dan menggigil. Aku melajukan mobil tetap pelan karena jalanan licin dan hujan menghalangi penglihatan, apalagi ini malam hari.


“Hacimmm!” Aku bersin-bersin. Aku merasa kepalaku akan pecah memikirkan banyak hal. Belum lagi masalah kantor, masalah yang disebabkan Ric dan juga jangan lupakan gadis yang diam di sampingku selalu menguji kesabaranku. Sepertinya aku juga masuk angin.


TBC


Jejaknya :D

__ADS_1


__ADS_2