
Halo guys ketemu lagi sama Open Your Eyes, jangan lupa klik tombol bintang dan berikan komentar. Jangan lupa klik tombol follow supaya dapat membaca cerita baru dari aku lagi :)
Warning 🔞⚠️
***
Tidak ada yang tahu kapan dan siapa yang memulainya. Bibir keduanya terpangut. Tidak ada penolakan dari wanita itu, dia membalasnya walau dia kakuku. Pria itu tersenyum tipis melihat ini yang pertama untuk istrinya.
“Ahhhh ....” Desahan indah itu lolos dari bibirnya. Matanya terpejam merasakan sentuhan lembut di bagian privasinya. Zeza membuka matanya menatap Levin yang menatapnya penuh hasrat. Zeza tidak polos untuk mengerti tatapan suaminya.
Zeza mundur ke belakang dengan pipi merah, Levin berdehem pelan. Dia masuk ke dalam kamar mandi membuat Zeza bernapas lega. Dia berjalan ke lemari dan mengambil bajunya.
Zeza duduk di tepi kasur dengan gadge miliknya. Gadis itu nampak sibuk atau pura-pura sibuk. Levin yang mencoba ia hindari malah jadi pusat perhatiannya. Pria itu hanya mengenakan handuk saja. Perut kotaknya terlihat indah dan menggoda.
Kali ini pria itu mengenakan pakaian santai saja, kaus putih polos dengan celana kain selut. Dia ikut berbaring di samping Zeza. Tangannya sibuk mengotak-atik ponselnya.
“Za,” panggil Levin sambil meletakkan ponselnya. Pria itu memiringkan tubuhnya dan menatap Zeza yang bersandar di kepala ranjang. Levin menyenggah kepalanya dengan tumpuan tangannya supaya leluasa memandang Zeza. Tentu pandangan Levin membuat istrinya malu.
“Ada apa?” tanya Zeza tenang.
“Kita buat anak yuk,” ajak Levin to the point. Rasa panas menjalar hingga ke pipi gadis itu. Matanya membulat melihat suaminya dengan blakblakan memintanya melakukan ‘itu’.
“Ak—“ Levin bangkit dan duduk memposisikan menghadap istrinya. Dia merebut gadget milik Zeza dan meletakkannya di atas nakas. Tangannya meraih tangan Zeza. Zeza yang diperlukan lemah lembut menjadi melting sendiri.
“Aku suami kamu, penuhi kewajiban kamu sebagai seorang istri untukku, Sayang,” ujar Levin membuat Zeza malu karena panggilan sayangnya. Zeza mengangguk malu-malu. Levin menarik istrinya mendekat dan mencium kening Zeza.
Ciuman Levin mendebarkan hati Zeza, bahkan Zeza berharap Levin tidak akan mendengar dentuman jantungnya. Ciuman Levin begitu lembut, mulai dari kening, mata pipi, hifung dan berakhir di bibirnya.
Ciuman Levin begitu memabukkan Zeza. Mata Zeza terpejam karena sentuhan lembut suaminya menghangatkan hatinya. Levin begitu hati-hati dalam menyentuhnya, seolah dia barang yang mudah pecah.
Zeza berbaring di atas kasur dan Levin menindihnya. Ciuman Levin turun di leher istrinya. Dia menjilat, mengigit kecil hingga meninggalkan kiss mark. Zeza mengcengkram rambut suaminya lembut. Dia mengadahakan kepala memberi akses suaminya lebih leluasa mencumbunya.
Sengatan listrik mendebarkan perasaan Zeza, pria itu terlihat begitu mendambakan dirinya. Hingga tangan suaminya menyelusup masuk ke dalam bajunya. Setelah menemukan gudukan putih nan lembut itu, Levin meremasnya.
“Ahhhhhh,” desah Zeza.
Mendengar desahan Zeza membuat Levin menyingkap baju istrinya. Tidak tahan Levin melepas baju Zeza hingga menyisahkan bra merah menyala istrinya. Napsu Levin semakin tinggi. Dia ikut meloloskan celana istrinya. Kini tubuh Zeza hanya dibalut bra dan cd merah.
__ADS_1
Tentu pembungkus itu membuat hasrat Levin ingin melihat isinya, ah melihat saja tidak cukup, dia ingin mulutnya merasakan setiap jengkal inci kulit istrinya. Mata Zeza sayu menatap suaminya.
“Vin,” lirihnya serak. Levin mengelus peluh istrinya dan mengecup singkat bibir Zeza.
“Ini yang pertama untukku,” lirih Zeza.
“Aku akan melakukannya hati-hati dan awalnya sakit tetapi akan nikmat juga,” ujar Levin diangguki istrinya. Levin mencari pengait bra Zeza dan membukanya. Daging kenyal putih dengan niple merah mudah itu membuat sesuatu di balik celana Levin makin mengeras.
Levin melahap panyudara istrinya, Zeza dibuat menggelinjang bak cacing kepanasa. Lidah Levin membelai dan memainkannya. Sesekali diberinya gigitan kecil. Levin menyusu bak bayi baru lahir. Tangan Kanannya menekan niple istrinya dan memelinnya. Zeza mendesah tak karuan.
“Ahhh Vinhhh,” desahnya. Dia mengcengkram seprai. Bibir bawahnya dia gigit menhan desahannya.
Levin meninggalkan kiss mark banyak di dada istrinya. Lidahnya turun hingga kepusar istrinya. Seolah Levin memang ingin membuat istrinya dipenuhi hasrat, tangannya masuk ke dalam Cd Zeza. Menekan **** istrinya, jerit penuh kenikmatan membuat Zeza memejamkan mata erat.
“Ahhhhh enghhh,” desahnya menggelinjang hebat. Levin memasukkan tangannya di liang kewanitaan istrinya. Teramat sempit dan membuat Zeza merasa perih karena tangannya.
“Sakitt shhh Vin,” lirihnya.
“Sedikit saja, pelumas ini masih kurang,” ujar Levin. Dia harus membuat di bawah Zeza benar-benar basah agar istrinya tidak terlalu merasa sakit saat dia memasukinya.
Merasa tubuh Zeza bergetar hebat, Levin mempercapt tempo gerakan tangannya. Cairan putih hangat menyembur di tangannya. Levin meliahat Zeza lemas setelah mencapai klimaksnya. Wajah Levin turun dan meraup bibir ** istrinya.
Zeza menenguk ludah melihat junior Levin, besar dan mengeras. Dia merasakan sesanasi geli saat kepa junior Levin menyentuh bibir vaginanya. Zeza semakin mendesah, hingga ¾ kepala junior Levin masuk.
“Aughhh,” desah Zeza.
“Akhhh sakitttt Vin,” ujar Zeza, matanya bercaka-kaca. Levin mencium bibir Zeza dan menghentakkan keras juniornya sampia menembus selaput darah milik istrinya. Zeza *** kuat lengan suaminya yang berotot. Dadanya dan dada suaminya bersentuhan membuat niplenya semakin terangsang.
“Auhhh ahhhh,” desah Zeza. Levin membiarkan miliknya diam di dalam milik Zeza. Setelah dirasa cukup lama, Levin menggerkkan juniornya. Desahan serta rintihan sakit Zeza perlahan berubah menjadi irntihan kenikmatan.
Suara desahan keduanya memenuhi kamar mereka. Peluh mereka bercucuran melakukan aktivitas suami-istri. Zeza mengalungkan tangannya di leher suaminya. Walau pun malu Zeza tidak mau membiarkan malam berharga ini lewat begitu saja.
Ekspresi kepuasan di wajah suaminya sudah kebahagian tersendiri untuk Zeza. Walau dia harus dibuat merasakan kenikmatan yang menyiksa oleh suaminya. Dadanya tidak absen dijama tangan kekar suaminya, entah sekadar diremas atau ditekannya.
Gesekan junior dan ** mereka menghantarkan rasa panas. Bahkan bad cover mereka sudah berantakan. Bajunya berserakah di lantai. Goyangan pinggul Levin makin dipercepatnya. Tubuh Zeza ikut tersentak-sentak mengikuti gerakan suaminya.
“Ahhh,” desah Levin. Dia merasa jepitan ** istrinya membuat adiknya makin betah di dalam.
__ADS_1
“Kamu sempit banget,” ujar Levin.
“Ahhhh emhhh,” desah Zeza.
“Vinhhh akuhh mau pipis,” racau Zeza.
“Keluarkan, Sayang,” ujar Levin. Tubuh Zeza menggelinjang bersamaan dengan cairan putih hangat merebes keluar di bibir vaginanya.
Crorttttt ....
Meski begitu, Levin tetap menghentakkan kejantannannya. Dia hampir mencapai puncaknya juga. ** istrinya makin menjepit adiknya. Levin memejamkan mata saat dia mencapai pelapasannya. Dia ambruk di atas tubuh istrinya. Levin menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zeza.
“Vin berat,” ujar Zeza. Levin menggulingkan badannya ke sebelah Zeza, membuat gadis ah wania itu mendesah saat junior suaminya lepas. Levin tersenyum lebar seolah memenangkan tender, Zeza ikut tersenyum tipis.
“Terima kasih menjadikanku yang pertama,” ujar Levin. Zeza mengangguk dan bersinggut memeluk suaminya. Levin menyambut pelukan istrinya dengan suka cita.
“I love you my wife,” bisik Levin membuat dada Zeza menghangat. Sete;ah bercinta mendapat pernyatan cinta dari orang yang dicintai itu sangat luar biasa. Dia kira Levin melakukannya atas dasar napsu, ternyata pria itu mencintainya.
“I love you to,” balas Zeza malu-malu. Tidak akan ada yang menyangka jika gadis arogant ini malu-malu. Mereka tertawa lepas.
“Kita harus sering-sering melakukannya, agar mommy tidak meneror kita untuk meminta cucu,” ujar Levin penuh wajah mesum.
“Dasar ... kamu mesum banget,” gerutu Zeza.
“Kalau aku gak mesum itu gak normal,” bela Levin. Zeza mengadahkan kepala membuat Levin menatapnya dengan tatapan intes.
“Kok aku baru sadar kalau kamu cantik,” gumam Levin yang didengar Zeza. Zeza tertawa kecil dan menarik hidung Levin.
“Gombal,” ujar Zeza.
“Haahha kau gak gombal, serius, Sayang.” Levin memiringkan tubuhnya dan menatap intes istrinya. Makin Levin menatap Zeza, makin Levin sadar jika istrinya cantik tiada duanya. Hanya saja kecantikan istrinya tertutupi dengan sikap arogannya.
“Vin ... jangan natap aku gitu, aku malu,” ujar Zeza membuat Levin menunduk dan mengcup bibirnya singkat.
“Olaraga lagi yuk, Sayang,” ajak Levin dan tanpa menunggu jawaban istrinya dia menciumnya. Kembalilah mereka bela duren hingga subuh menjelan pagi baru berhenti.
TBC
__ADS_1
Jejaknya :) kalau mau double up tinggalkan jejak :)