
Seorang pria dan gadis remaja duduk di bangku kuno. Mereka sama-sama diam cukup lama. Hembusan angin membuat keduanya merasa tenang dan damai.
“Aku pikir aku sedang egois, Oppa. Aku bahkan tak pernah berpikir, Oppa akan menikah. Aku hanya tahu Oppa akan selalu ada untukku,” ujar Sasa.
“Aku memang tak pernah memikirkan komitmen, Sa. Pernikahanku dengan Zeza bukan atas dasar cinta,” ujar levin membuat Sasa menatapnya senduh.
“Cinta datang karena terbiasa, Oppa,” ujar Sasa. Sekali lagi Levin harus mendengar kata-kata yang sama dari bibir yang berbeda. Jika Avy yang mengatakannya, Levin selalu menganggap karena gadis itu memang pemuja aksara, tetapi Sasa? Dia gadis sederhana yang membuat Levin berubah jadi sosok hangat di dekatnya.
“Aku tidak tahu bagaimana dahsyatnya sebuah cinta, aku pernah merasakannya. Namun, itu dulu ... menurutmu apakah aku dan Zeza akan ada yang jatuh cinta?” Sasa mengangguk sedih.
“Tidak, Sa. Itu tidak benar. Aku dan Zeza bagaikan langit dan bumi. Akan sulit menyatu, jika menyatu itu pasti saat dunia sudah berakhir.” Sasa tersenyum mendengar ucapan Levin.
“Oppa apa Oppa tahu, jika bulan dan matahari tidak pernah bisa bersama?” Levin mengangguk.
“Tetapi coba Oppa lihat ke langit saat ini. Bukankah bulan harusnya sudah hilang?” Memang benar, di atas langit yang biru, bulan masih ada walau cahayanya disamarkan oleh matahari. Levin menatap Sasa yang menatapnya penuh arti.
“Matahari tidak selamanya selalu mengalahkan cahaya bulan Oppa, dia yang membantu bulan sehingga bersinar. Bagaimana jika itu terjadi dengan Oppa?” tanya Sasa sedih. Levin mengenggam tangan Sasa.
“Jika aku harus jatuh cinta, gadis itu bukan Zeza. Kami sangat berbeda, berhenti memikirkan hal yang tak berguna,” ujar Levin dengan tatapan lekatnya.
“Oppa ... bagaimana jika pemikiran tak bergunaku akan terjadi suatu hari nanti? Maafkan aku yang lancang mencintaimu,” batin Sasa.
“Daripada memikirkan hal terbeguna itu, maukah kamu jalan-jalan bersamaku?” tanya Levin membuat Sasa mengangguk semangat. Senyuman Sasa menular kepada Levin. Sekilas pria itu terlihat manusiawi jika bersama Sasa.
“Aku sangat merindukan naik sepeda bersama Oppa,” ujar Sasa semangat. Sasa hanya anak panti asuhan. Dia mengenal Levin saat pria itu terluka dan saat itulah Sasa menjadi dekat dengan Levin.
Panti asuhan tempat Sasa juga mengenal Levin dengan baik. Pria itu bahkan menjadi donatur tetap di Panti ini. Semua perlukan Levin membuat Sasa melewati batasnya hingga ia jatuh cinta.
“Ayo naik,” ujar Levin membuat Sasa naik. Sasa memeluk Levin dari belakang. Levin hanya tersenyum simpul. Sangat berbeda ketika bersama Zeza, dia akan menampilkan wajah datarnya.
Sepoi-sepoi angin menerpa wajah keduanya. Sasa berceloteh ria di belakang Levin dan Levin tidak pernah bosan mendengar celotehan Sasa. Bahkan dia ingin melihat eskpresi gadis itu ketika bercerita.
__ADS_1
“Aku menyukai saat-saat seperti ini, Oppa. Hanya ada Oppa dan aku,” ujar Sasa sambil menyandarkan kepalanya di punggung Levin.
“Aku juga menyukai saat kita bersama,” ujar Levin membuat harapan Sasa semakin melambung tinggi.
***
Dilain tempat seorang gadis duduk dengan bosan di sofa tempat ia tidur semalam. Wajahnya memberenggut kesal. Dia ingin bekerja tentu mengundang banyak pertanyaan dari bundanya. Belum lagi dia harus menyiapkan beribu-ribu alasan, jaga-jaga jika sewaktu-waktu dia mendapat pertanyaan dari keluarganya.
Tiba-tiba rahang Zeza mengeras melihat sosok pria yang ada di layar TV. Matanya menatap tajam pria itu bersama wanita di sampingnya.
“Aku sangat membenci kalian.”
Bel rumah Zeza mengalihkan tatapannya dari TV. Dia berjalan keluar dan melihat tamu tak diundangnya. Wanita itu berjalan masuk tanpa kata-kata dan duduk di depan TV.
“Kamu masih mencintainya, Zeza?” tanya wanita itu dengan alis terangkat. Zeza menghempaskan kasar bokongnya dan menggelengkan kepalanya.
“Lalu kamu mencintai suamimu?” tanya wanita itu dengan menyilangkan kakinya anggung. Siapa lagi dia, wanita modis yang membuat Zeza terlihat sama dengannya, dia adalah Jung Jena—istri dari Jung Aerhie Ray.
“Kamu mengabaikan ucapanku di telepon? Sungguh hentikan pemikiran bodohmu,” ujar Jena sakras.
“Aku tidak mungkin bisa mencintai Levin. Kau tahu, pria itu bahkan sangat kasar. Dia membiarkanku tidur di sofa dengan kedinginan. Pagi ini dia mengambil nasi gorengku dan lihat, sekarang hampir malam dia belum kembali,” ujar Zeza.
“Pria itu memang kasar dan cuek dalam hal berbicara. Haruskah aku menanyakannya pada ryung Oppa?” tanya Jena membuat Zeza mendelik ke arahnya.
“Aku tidak ingin orang tahu,” ujar Zeza dengan rahang mengeras.
“Semua tahu jika pernikahanmu dan Levin tidak baik-baik saja.” Zeza menyeringai dan menatap Jena penuh minat.
“Kalau begitu aku tidak perlu bersikap pura-pura di depan keluarga kita. Aku akan menunjukkan rasa ketidak sukaanku padanya,” ujar Zeza.
“Lakukan semua keinginanmu. Setelahnya kamu akan membuat Grandama (Jeneni) meninggal karena syok. Kamu tahu Grandma (Jeneni) sudah sangat tua, dia sakit-sakitan dan berharap cucunya Levin memberinya cicit,” ujar Jena membuat bibir Zeza bukam. Dia sangat menyayangi Jeneni.
__ADS_1
“Apa aku harus menyerah? Aku sangat kesal dengan Levin. Apakah aku harus mencintainya?” tanya Zeza frustrasi.
“Tidak ada yang salah mencintai duluan. Kau tahu Ray juga dingin dan keras dulu, ucapan pedasnya bahkan bagai racun mematikan untukku. Aku tidak peduli dan terus mengejarnya, dan see bahkan kami memiliki dua anak,” ujar Jena.
“Apa aku harus bersikap murahan?” tanya Zeza dingin. Jena menggelengkan kepalanya. Zeza tidak akan pernah mau harga dirinya terluka.
“Buat Levin mencintaimu. Kamu juga mau buktikan kepadanya bukan, jika kamu bahagia meski bukan dengannya.” Zeza menatap tajam pria di TV itu. Dia tersenyum lebar bersama kekasihnya—Amel.
“Buat seorang Miliyader Ric Argas menyesal telah melukai dan menyia-nyiakan seorang Jung Park Zeza.” Jena tersenyum lembut kepada Zeza. Dia mengingat gadis itu menangis dan sangat terpuruk di masa remajanya dulu. Hingga sekarang gadis itu bahkan mendapat luka tak kasat mata.
“Apa yang harus aku lakukan pada Levin?” tanya Zeza.
“Perlakukan dia seperti seorang suami.”
“Aku tidak berjanji, jika dia membuatku kesal, aku akan memperlakukannya seperti orang asing,” ujar Zeza.
Jena berdehem saat Levin lewat, Levin menoleh dan menyerit bingung melihat Jena berada di rumahnya. Dia dan Jena memang sudah baikan tetapi tetap canggung.
“Rupanya kedua wanita bar-bar itu berkumpul,” batin Levin. Levin tahu jika Jena dan Zeza berkumpul maka sangat ccok karena mereka sama-sama satu spesies.
“Apa kamu bersama Ray?” tanya Levin duduk di dekat Zeza.
“Ya dan dia di rumah Mommy. Mampirlah ke sana, kita makan malam bersama,” ujar Jena membuat Zeza menatapnya datar. Dia tidak tahu rencana licik Jena. Levin mengangguk dan berdiri. Dia pamit untuk mandi.
Setelah Levin hilang, Zeza menatap Jena memicing. Dia ikut berdiri.
“Setidaknya ini menyelamatkanmu dari hawa dingin dan nyamuk,” ujar Jena dan melonggos pergi. Zeza bercaka pinggang menatap Jena. Dia selamat dari hawa dingin dan nyamu, tetapi dia sekadang dengan macan tutul itu sungguh menyebalkannya.
TBC
Jejaknya guys (
__ADS_1