
Aku tak tahu masih bisa on besok atau tidak đ setelah aku punya kouta aku akan aktif dan crazy up seperti biasa :)
.
.
.
Dalam perjalanan cukup panjang yang diiringi isak tangis wanita itu. Dia menangis meraung sejak tadi. Siapa yang tidak sedih mendengar kabar duka kematian suaminya? Dia hanya bisa memeluk ibunya tanpa bisa meluapkan rasa sakit di hatinya.
Saat dia tiba di bandara American Airlines. Terlihat supir yang disedikan keluarga Jungkook melambaikan tangan melihat kedatangan majikannya. Zeza tergesa-gesa menghampirinya. Yang dia lakukan saat ini adalah berada di dekat suaminya dan memastikan ini hanya mimpi belaka.
Pria itu membungkuk hormat dan membuka pintu mobil.âPlease enter, Miss, and Sir ... i will take you to the Jacson Memorial Hospital.â *Silakan masuk Nyonya dan tuan ... saya akan mengantar kalian ke Rumah Sakit Jacson Memorial Hospital.
Mereka masuk dan butuh waktu satu jam sampai tiba di Jacson Memorial Hospital. Zeza membuka pintu mobil dan berlari masuk. Dia tidak peduli tatapan orang kepadanya. Dia berhenti di repsionis.
âPlease i want to chek the patientâs room in the name of Jung Levin Aldrick.â *Tolong saya ingin cek kamar pasie atas nama Jung Levin Aldirck.
âPatien on behalf of Jung Levin Aldrick VIP room number 12.â *Pasien atas nama Jung Levin Aldrick kamar VIP nomor 12.
Zeza segera berlari dan membiarkan mata indahnya kembali basah. Air matanya bukan hanya jatuh di pipi bak polesannya bahkan jatuh di lantai. Dia membuka kamar dan melihat keluarga Levin di sana. Hatinya tersayat-sayat melihat tubuh prianya sudah terbujur kaku dengan kain putih menutupinya.
âHiksss,â isaknya. Dia menyeret tungkainya yang terasa lemas. Zeza membekap mulutnya melihat wajah pucat suaminya saat dia membuka kain putih. Betapa damainya suaminya. Dia menangis terisak pilu, dadanya terasa sesak. Dia bahkan tidak tahu cara mengatakan betapa sakitnya dia.
__ADS_1
âHikss Levin,â jeritnya. Yuna menghampiri putrinya yang terlihat kacau. Matanya memanas melihat putrinya yang dingin terlihat rapuh.
âHikss kenapa kamu hikss haru meninggalkanku?â lirih Zeza, dia memeluk erat suaminya. Air matanya bagaikan hujan deras. Dia mengangkat wajahnya dan menatap wajah tampan suaminya. Zeza membelai wajah Levin lembut. Tangannya melihat jahitan luka di dada kiri suaminya.
âHikss hikss ....â Semua sama bersedihnya dengan wanita itu. Apalagi mereka tahu Zeza berbadan dua.
âVin hiks ... aku hamil, Sayang,â lirihnya pilu. Yuna memeluk suaminya saat suara putrinya terdengar putus asa. Apalagi Zeza kini membawa tangan Levin menyentuh perut datarnya.
âHikss akâaku membutuhkanmu hikss dia butuhkanmu. Kami membutuhkanmu hiks,â isaknya.
âBangun, Sayang. Bukannya kamu ingin melihatku, bukannya kamu ingin punya anak? Hikss bangun Vin, hikss pernikahan kita hampir lengkap hikss. Kumohon jangan setega ini hikss padaku,â isak Zeza.
âHUWAAAAAA LEVIN HIKSSS BANGUNG BRENGSEK! KAMU TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU!â Zeza merasa nyawanya dicabut paksa. Dia bagaia kesetenan menggucang suaminya. Napasnya tersedak.
Zeza menatap Levin dengan senduh. Tangannya mengenggam tangan suaminya erat. Dia tidak akan membiarkan seseorang memisahkannya dengan Levin. Dia tidak akan membiarkan orang mengambil suaminya. Biarkan dia egois, siapa yang rela melepas orang yang dicintainya?
âHiksss Vin open your please,â bisik Zeza dengan nada pilu. Dia mencium bibir Levin yang terkatup rapat. Biasanya bibir itu akan menggodanya habis-habisan tapi lihat ... dia diam tanpa sebuah kata apalagi senyuman.
~Bukan hanya aku yang menunggumu, Sayang. Ada calon anak kita, kumohon open your eyes and please stay with me my husband.
Zeza POV
Aku membiarkan dingin memeluk tubuhku. Aku mengizinkan sunyi merenggut ruang hatiku. Netraku tak pernah lepas memandang wajah damainya. Suamiku telah pergi ... aku terlalu berat untuk melepasnya.
__ADS_1
Kalian tahu ini Miami? Aku berharap ada keajaiban yang datang. Kota ini disebut sebagai kota ajaib. Aku berharap ada migical terjadi dalam hidupku. Sekali saja aku berharap bahwa magic itu ada di dunia nyata. Aku berhatap Tuhan memberi keajabain untuk suamiku.
Kilas tawanya membuat manik mataku irisku sembab. Air mataku seolah tidak ada habisnya keluar. Biarlah mengering karena kehilangannya memang membuatku terpuruk. Aku ingin berdua dengannya ... semua telah keluar. Aku ingin dia di sini tanpa ada kain putih atau kalimat memohok hatiku.
Yah, anggap kewarasanku telah hilang. Aku pikir kalian juga akan melakukan hal yang sama denganku. Walaupun orang mengatakan mengerti, mereka tidak mengerti. Aku yang merasakan cintanya. Aku yang melewati hari bersamanya.
Detik jarum jam ingin kupatahkan. Aku berharap malam masih panjang. Aku masih ingin bersamanya bahkan ketika fajar akan menyapa. Berapa kali aku memanggilnya dia tetap diam ... diamnyaâmembuat dadaku mendadak tertikam sepi. Jiwa mati berkali-kali. Kenapa tidak ada keajaiban Tuhan? Tidak ada jawaban seolah alam semesta hanya diam mebisuâtuli.
Pada malam gelap yang menemaniku harapku hanya satu, aku ingin suamiku membuka matanya. Aku merebahkan tubuhku di dekatnya. Memejamkan mata merasakan tubuhnya yang dingin.
Vin ... aku mungkin telat mengatakan ini padamu, aku rasa mengucapkan satu kali tidak akan cukup. Bangulah sayang dan akan kukatakan beribu cinta disetiap harinya. Jangan menyiksaku bagai memupuk harapan di sela-sela. Aku mengerami harapan yang tak ubahnya menandur rasa hingga akhirnya aku dipaksa untuk ikhlas.
Mereka boleh mengatakanku lemah karena terus menangis. Air mataku bukan air mata kelemahan, tetapi bagai ungkapan betapa berharganya kamu dalam hidupku. Bangunlah dan dekap aku, aku mulai taku di malam hari. Aku mulai takut pada dunia. Jangan tinggalkan aku, kita bahkan baru berjalan selangkah.
Tidak maukah kamu menuruskan kisah kita? Kenapa kamu menyerah Vin? Kamu tidak ingin melihat bayi kita kelak? Apa kamu tidak ingin mendengar suara tangisannya saat terlahir di Dunia? Kamu tidak mau dia memanggilmu Daddy? Tolong ... kami membutuhkanmu.
Mungkin karena aku lelah. Mungkin karena aku sadar, ketika esok aku membuka mataku, sekuat apapun aku meronta, mereka akan memsihkanku dengan kekasih hatiku. Mereka akan mengambil Levinku. Yah .. aku akan terhalan jarak yang tidak bisa kutembus. Aku akan menjadi pungut yang merindukan bulan.
âVin ... please open your eyes,â lirihku sebelum gelap merenggut paksa kesadaranku. Aku tidak tahu apa yang terjadi, mungkingkah aku mati? Aku akan tersenyum bahagia saat ini jika aku mati. Aku memilih bersama Levin. Napasku adalah Levin, jika dia pergi sama saja aku sudah mati.
TBC
Jejak (:
__ADS_1