Open Your Eyes (OYE)

Open Your Eyes (OYE)
27


__ADS_3

“HIKSSS LEPASKAN! KALIAN TIDAK BISA MEMISAHKANKU DENGANNYA! LEVIN! LEVIN ...!” jerit Zeza saat dokter dan suster ingin mengambil jenzah Levin. Zeza tidak bisa menahan tubuhnya yang sudah drop sejak kemarin jatuh pingsan kembali.


Yuna menatap nanar putrinya.”Tolong bawa dia pulang,” pintanya kepada Ryung. Dengan sigap Ryung menggedong Zeza.


“Dia terlalu drop hingga tidak sadar,” lirih Yuna. Heseok mengelus punggung Istrinya.


***


Zeza POV


Sakitnya gimana pas sayang-sayangnya ditinggal? Bahkan otak kalian tidak akan mecerna semua yang terjadi. Tatapanku kosong, aku tidak tahu sejak kapan aku berbaring di kamar bernuangsa putih gading ini.


Aku lelah, mungkinkah air mataku sudah kering, hingga aku tidak menangis lagi. Aku tidak tahu seberapa kacau penampilanku saat ini. Aku lupa makan dan aku hampir melupkan bayi mugil yang bersemeyang di dalam perutku.


“Maafkan Mommy, Nak,” lirihku sambil mengelusnya. Aku tahu calon anakku pun akan merasa kehilangan dan sedih. Dia bahkan belum mengenal ayahnya.


Aku benci Miami, kenapa orang menjulikinya kota Ajaib? Kenapa hidupku tak seajaib yang diceritakan orang mengenai Kota ini? Aku ingin menyalahkan takdir, namun, aku juga tidak bisa.


“Sayang, kamu makan dulu,” ujar Mommy kepadaku dan menyuapkan bubur ke arahku. Aku menggelengkan kepala. Napsu makanku telah hilang.


“Aku mau Levin,” lirihku.


“Mommy mohon kamu yang ikhlas, Nak,” ujar Mommy. Aku tidak bisa hidup tanpanya.


“Aku mencintainya, Mom.” Mommy mengelus rambutku.


“Dia jauh mencintaimu, Nak.” Aku menangis, jika dia mencintaiku kenapa dia pergi? Kenapa dia meninggalkanku?!


“Mommy harap kamu jangan keras kepala Zeza, anak kamu juga butuh makan, Sayang. Kamu tidak akan kehilangan sekali tetapi dua kali,” ujar Mommy tegas. Dia tersenyum membuat air mataku luluh lantah. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku marah, kesal dan semua perasaan bercampur menjadi satu dalam dadaku.


.


.

__ADS_1


.


5 Moth


Seorang wanita berjalan dengan perut besar. Dia memakan buburnya dengan enggang. Jika dia tidak mengingat sedang hamil, dia akan menolak makan. Dia sudah ikhlas dan menerima takdirnya. Dia tahu Tuhan menyayanginya.


“Kamu merindukan, Daddymu, Sayang?” tanyaku yang terasa menangis kembali. Selama ini aku berusaha terlihat tegar, tetapi jika mengingat Levin aku selalu sensitif sekali.


“Baiklah, Nak, ayo kita beli bunga tulip. Daddy pasti menyukainya, Nak.” Zeza beranjak setelah menghabiskan bubur dan juga susu miliknya. Dia meminta supir mengantarnya ke tokoh bunga. Dia memilih bunga tulip karena cinta yang sempurna dan baginya cintanya kepada Levin tidak bisa diungkap dengan kata-kata. Walau laki-laki itu tidak akan pernah melihat indahnya bunga tulip yang ia bawa.


Setelah membeli bunga tulip, Zeza melangkah ke tempat yang menyayat hatinya. Tempat yang pernah bosan ia kunjungi. Ia meletakkan bunga tulip itu dengan hati-hati. Matanya berkaca-kaca. Tidak ... dia tidak boleh cengen, meski Levin tidak melihatnya.


“I love you, Vin,” lirihnya dengan dada yang menyesakkan.


Zeza duduk dan tatapannya begitu senduh.”Aku tidak akan pernah bosan mengucapkan kata cinta setiap hari untukmu walau kutahu kau hanya diam membisu. Aku akan senang tiasa meletakkan bunga di sini karena aku tidak ingin kamu merasa sepi.”


Benar—Zeza selalu menjadikan tulip sebagai teman Levin. Dia ingin prianya tahu bahwa dia seperti tulip, tidak akan pernah meninggalkan Levin apapun yang terjadi. Dia mengusap air matanya yang lolos. Sekuat tenanga dia menahan isak tangisnya.


“Bunga tulip ini kuberikan setiap hari untukmu, walau jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku ingin kamu yang memberiku bunga. Namun, aku sadar bahkan bunga dalam hatiku telah mati.” Zeza berceloteh seolah Levin akan mendengarnya.


Zeza meraih tangan Levin.”Yah, cintaku seperti bunga tulip. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” lirihnya dan mencium tangan Levin.


Awalnya Zeza tidak percaya jika Levin masih hidup. Dia bahkan tahu jika Levin sudah mati, ternyata ini di luar nalarnya. Mari Zeza jelaskan.


Flash back


“Mommy harap kamu jangan keras kepala Zeza, anak kamu juga butuh makan, Sayang. Kamu tidak akan kehilangan sekali tetapi dua kali,” ujar Mommy tegas. Dia tersenyum membuat air mataku luluh lantah. Aku menangis sejadi-jadinya. Aku marah, kesal dan semua perasaan bercampur menjadi satu dalam dadaku.


Mommy merengkuhku dengan erat.”Bilang ini mimpi, Mommy,” lirihku.


“Tidak, Sayang. Levin masih hidup dan jangan biarkan dia sedih melihat keadaanmu,” ujar Mommy. Tuhan terima kasih mengembalikannya. Dia hidupku, penopang dalam kerapuhanku dan pelindungku.


“bagimana bisa Mommy? Hiks Dokter bilang dia meninggal?” tanyaku parau.

__ADS_1


“Berjanjilah kamu tidak akan marah. Kamu harus pikirkan kondisi anak kamu dan yang terpenting Levin masih hidup,” ujar Mommy. Aku mengangguk.


“Levin sebenarnya diberi obat oleh Amel. Hingga detak jantungnya berhenti, dia seolah terlihat mati.” Napasku tercekat. Amel—gadis rubah itu! Aku melihat tatapan mommy memintaku tenang.


“Dia menangis dan minta maaf, dia bersimpuh di kaki Mommy dan Daddy. Dia menyesal karena buta akan kelicikan Ric. Dia saat itu hanya balas dendam karena dia menyalahkan kamu dan Levin membunuh Ric, dia menyuruh anak buah Ric yang tersisa dan beginilah ... Levin akhirnya dikira mati.”


Aku lega bercampur kesal. Aku ingin menghabisi Amel saat ini juga. Dia serius dengan ucapannya mengancamku untuk membuatku merasa kehilangan. Jika dia telat saja aku pastikan akan membunuhnya.


“Kamu sudah berjanji, Sayang. Kasihani dia, dia terpukul,” ujar Mommy.


“Aku ingin sekali membunuhnya Mommy,” ujarku geram.


“Tidak bai emosi saat kamu lagi hamil. Suamimu koma karena obat yang diberikan Amel terlalu diserap dalam tubuhnya.” Tatapanku kembali senduh. Levin pasti kesakitan dan aku berterima kasih atas kembalinya.


Mulai hari ini aku menjaga kandunganku. Rutin meninum susu dan makan, walau aku merasa mual. Emosiku juga tidak stabil. Lima bulan aku menjaga Levin dan menemaninya tetapi dia belum membuka matanya.


Flashback end


Itulah kisah yang membuat hati Zeza dipenuhi rasa takut yang dalam. Dia takut jika terbangun Levin tidak ada. Dia takut jika mata itu tidak akan terbuka.


Zeza POV


“Hikss aku pulang, Vin. Aku tidak mau jika kita dipisahkan, aku hiks sangat mencintaimu hiks. Ak—aku hiks hikss harus istirahat demi anak kita hiks. Cepatlah bangun,” lirihku. Aku mengecup keningnya dan bibirnya.


Aku berbalik badam sambil membekap mulutku. Aku sangat rapuh ketika Levin tidak ada. Merasa tidak sanggup menahan tangisku, tubuhku bergetar. Aku merasa kakiku tak sanggup berjalan.


Pelukan hangat dari belakang tubuhku membuatku menengan. Aku menatap perutku dan aku sudah tidak bisa menahan tangisku. Runtuh sudah dinding pertahananku. Aku terisak keras dan berbalik memeluk dia yang memelukku penuh kehangatan.


“Hiks hikss huwaaaaa hiksss jangan lagi hiks,” isakku. Aku memeluknya erat seolah takut kehilangan. Takkan kulepaskan pelukanku.


“Syyyuuttt, jangan menangis karena kamu terlalu sering menangis untukku, Sayang,” lirihnya.


“Hiksss aku takut hikss aku takut,” ujarku. Aku benar-benar takut kehilangan. Kini rumahku kembali, tempatku mengeluarkan keluh-kesahku. Aku menangis sejadi-jadinya, tak peduli jika bajunya basah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2