
Terdengar suara gaduh memenuhi salah satu dapur sebuah apartemen. Aroma harum kopi pun menyeruak, menggelitik hidung seorang pria berusia 28 tahunan yang sedang tenggelam dengan buku tebal di tangannya, lengkap dengan kacamata baca yang menggantung di hidungnya.
"Joon cepat minum kopimu sebelum dingin!" Terdengar suara seorang wanita dari arah dapurnya. Namun tidak ada respon dari pria berkacamata itu. Saking asyiknya dia tenggelam dengan bukunya, sampai sampai tidak menghiraukan suara sang istri yang memanggilnya.
Kemudian ia mendongak saat objek di tangannya berhasil direbut darinya.
"Choi Sihyun..." tegurnya saat melihat sang istri tengah berdiri di depannya.
Wanita yang dimaksud kini tengah sibuk mengamati buku yang sedari tadi pria itu baca. Setelah itu meletakkannya di atas meja. "Sebenarnya apa yang sedang kau baca sampai tidak mendengarkanku Joon?" Selidiknya sambil mengulurkan cangkir kopi pada suaminya.
Sang suami tertawa melihat istrinya yang selalu saja berhasil dibuatnya cemburu pada buku-buku miliknya. Ia menerima cangkir yang diberikan istrinya, menghirup aromanya sejenak lalu menyesapnya hingga cairan itu berhasil mengalir melewati tenggorokannya.
"Ya, Kim Namjoon jawab aku!" rengek sang istri meminta penjelasan darinya.
Pria yang disebut Kim Namjoon itu pun menghentikan aktifitasnya dan kembali meletakkan cangkir yang dipegangnya di atas meja. Kemudian mengamati raut wajah istrinya yang kini tengah mengerucutkan bibir seperti anak kecil.
Kini ditariknya sang istri untuk duduk di pangkuannya. Ia memeluk pinggang wanita itu, lantas menguncinya agar tetap berada di pangkuannya. "Itu materi untukku mengajar nanti sayang." Akhirnya pria itu membuka suara.
Ya, Kim Namjoon adalah seorang dosen muda di Seoul Nation University. Ayahnya merupakan Direktur utama dari sebuag perusahaan ternama di Korea–Kim Financial. Sedangkan wanita yang saat ini tengah berada di pangkuannya adalah Choi Sihyun. Putri bungsu dari mantan member boyband yang popularitasnya pernah melegenda di seluruh Korea, bahkan sudah mendunia. Ya, Choi Siwon Super Junior. Yang kini lebih memilih vakum dari dunia hiburan dan mengelola sebuah Hotel besar bersama putra sulungnya.
"Hmm beginilah nasib Choi Sihyun yang setiap pagi kalah dari buku suaminya," protes Sihyun sambil mengalungkan tangannya manja di leher sang suami.
Pernyataan Sihyun sontak saja membuat Namjoon tertawa geli. "Yang baru saja kau ucapkan itu benar sekali sayangku," Ujarnya yang langsung saja membuat istrinya makin cemberut. "Tapi kan kau yang selalu berhasil memenangkanku setiap malam sayang," Bisik Namjoon menggoda sang istri.
Sihyun yang menangkap apa yang dimaksud suaminya bergidik geli lantas memukul pelan dada pria itu. "Ya, Kim Namjoon ini masih pagi dan kau sudah berpikiran mesum seperti itu!"
Namjoon makin dibuat tertawa dengan tingkah Sihyun yang masih terus saja memukulinya. Jika sudah seperti ini hanya ada satu cara yang bisa menghentikan istrinya.
Cup!
Dengan cepat ia membungkam bibir Sihyun dengan bibirnya lantas menelusupkan tangannya di tengkuk sang istri. Melumatnya dengan lembut untuk menyalurkan rasa cintanya pada wanita yang telah dinikahinya 3 tahun lalu.
Benar saja menurut Namjoon cara ini sangat efektif untuk menghentikan pukulan istrinya. Kini Sihyun kembali mengalungkan tanganya di leher Namjoon sambil sesekali meremas rambut pria itu. Ia menutup mata, dan membalas ciuman suaminya. Aktifitas itu berlangsung cukup lama, sebelum akhirnya Namjoon mengakhirinya dengan kecupan lembut pada bibir sang istri. Kini keduanya terengah-engah mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-paru mereka akibat adegan panas yang baru saja mereka lakukan.
"Sudah selesai memukulku kan?" ucap Namjoon membuka suara.
Sihyun mengangguk lantas menyandarkan kepala pada ceruk leher sang suami dan kembali bergelayut manja.
"Joon," panggilnya pada sang suami.
"Hm?"
Terdengar suara desahan Sihyun sebelum akhirnya membuka suara. "Aku baru saja mendapatkan period-ku," ucapnya lemah.
__ADS_1
Namjoon yang mengerti apa maksud istrinya, lantas segera merengkuh Sihyun dalam pelukannya. Mengusap puncak kepalanya agar istrinya itu merasa sedikit tenang. "Gwaenchana, kita bisa mencobanya lagi sayang."
Ya, sampai saat ini Tuhan belum juga mengizinkan Sihyun untuk mengandung. Padahal mereka berdua sudah sangat menginginkan bayi di tengah tengah keluarga mereka. Belum lagi orang tua masing masing yang sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari mereka berdua.
Wanita mana yang tidak bersedih ketika keinginannya menjadi ibu belum juga terwujud. Hal ini berlaku juga pada Sihyun. Dia merasa gagal menjadi seorang istri karena setiap bulan mendapati period-nya selalu datang menghampirinya.
"Kim Sihyun kau mendengarku kan? Tidak apa-apa sayang, percayalah bahwa Tuhan akan mengabulkan setiap doa kita. Hanya saja kita perlu menunggu sampai saat itu tiba." Namjoon tahu betul istrinya akan menjadi sangat rapuh jika sudah menyangkut masalah ini.
"Kalau begitu setelah period-mu selesai, kita akan menemui dokter dan berkonsultasi, bagaimana?" tawarnya pada sang istri.
Sihyun menatap suaminya. Ia sering berpikir mungkin saja Namjoon sangat kecewa padanya karena sampai saat ini belum juga bisa memberinya keturunan. Pernah suatu hari ia mengutarakan pemikirannya itu pada Namjoon, dan berakhir pada pertengkaran hebat di antara mereka. Beruntung pertengkaran itu berhasil dihentikan Namjoon. Meski perlu waktu lama untuk meyakinkan istrinya bahwa ia sama sekali tidak merasa kecewa.
"Kenapa tidak menjawabku eoh?"
"Em iya-iya aku setuju suamiku sayang, cha kajja kita sarapan,"
...
Kini mereka berdua tengah asyik menyantap makanannya. Hidangan yang tidak terlalu berat. Namjoon biasa memakan sandwich dengan telur mata sapi untuk sarapan, sedangkan Sihyun sudah terbiasa memakan salad dan susu murni.
"Ah Joon, jam berapa kau pulang semalam? Maaf aku sangat lelah di café, jadi tidak bisa menunggumu pulang," sesal Sihyun seraya menatap suaminya.
Namjoon yang ditanya hanya tersenyum pada sang istri. "Tidak apa-apa sayang, kau memang harus banyak istirahat," Tukas Namjoon lantas kembali melahap sandwich-nya.
"Jam 12 sayang."
Mendengar jawaban suaminya membuat Sihyun tersedak.
"Hyun-ah gwaenchana?" Namjoon seketika khawatir melihat Sihyun, lantas mengulurkan susu padanya. Sihyun pun dengan segera meminum susunya.
"Apa pekerjaanmu itu sangat penting sehingga kau lupa waktu? Kau juga harus menjaga kesehatanmu Joon. Kau tahukan angin malam itu tidak baik untuk kesehatanmu. Kau kan masih bisa melanjutkannya lain waktu, astaga!" omel Sihyun pada suaminya.
Suaminya itu memang maniak kerja, tak jarang pulang terlambat karena harus lembur menyelesaikan pekerjaannya di kampus. Biasanya hanya 1 sampai 2 jam. Namun malam ini benar-benar keterlaluan.
5 jam lembur apa dia sudah gila!
"Kumohon Joon kesehatanmu itu lebih penting dari pekerjaanmu," ujar Sihyun menatap suaminya.
Yang ditatap hanya tersenyum dan mengangguk. "Em baiklah sayang, aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Good boy." Tangannya refleks mengacak rambut sang suami seakan menganggapnya seperti anak kecil yang menurut pada ibunya.
"Sayang aku kan bukan Minji" protes Namjoon.
__ADS_1
"Biarkan saja, kau kan lucu seperti Minji," ledeknya seraya menjulurkan lidah untuk menggoda suaminya itu.
Namjoon terperangah dengan tingkah kekanakan sang istri. Mungkin ini akibatnya karena dia terlalu sering main dengan si kecil Minji. Bahkan ia pernah meminta izin pada sang kakak untuk menculik putrinya saat hari minggu. Dan menghabiskan waktu seharian untuk main dengan si kecil itu. Sepertinya jiwa keibuannya sudah sangat kuat.
"Em jadi aku lucu?" Pria itu kembali bertanya sambil mendekati sang istri. "Apa kau ingin melihat saat aku menjadi ganas, eoh?" godanya lantas mendekatkan wajah pada Sihyun.
Terlihat sekali wajah Sihyun saat ini tengah memerah. Kedua tangannya terulur menahan dada bidang milik suaminya. "Ya! Joon hentikan. Kau bisa terlambat ke kampus nanti," ucapnya agar sang suami segera menghentikan aktifitasnya saat ini.
"Em biarkan saja aku terlambat." Bukannya berhenti, pria itu lantas merengkuh Sihyun dalam pelukannya. Menghapus jarak di antara mereka berdua.
"Joon hentikan–"
"Kenapa aku harus berhenti? Aku akan menunjukkan pada istriku bahwa suaminya yang lucu ini sangat ganas." Masih tetap dalam posisi yang sama Namjoon menatap manik istrinya.
"Tapi ini masih pagi Joon, kau bisa terlambat bekerja," Seketika saja Namjoon dibuat tertawa karena ucapan sang istri. Memangnya apa yang sedang dipikirkan wanita itu.
"Apa yang sedang kau pikirkan, eoh? Memangnya aku akan melakukan apa padamu nona Choi?" ujarnya masih tertawa dan menyentil pelan dahi sang istri.
"Akh ya!! Sakit tahu!" Dengan cepat Sihyun mengusap dahinya yang mendapat sentilan Namjoon.
Sihyun mendengus melihat suaminya yang saat ini sedang sibuk tertawa karena berhasil menggodanya. Namun bukan sepenuhnya salah Namjoon, salah Sihyun juga yang terbawa dalam jebakan suaminya sendiri.
"Jadi siapa yang mesum sayang?" Bisiknya kembali menggoda Sihyun.
"Ya kau dengarkan aku tuan Kim kalau kau tidak segera melepaskanku, akan ku pastikan kau tidak akan dapat jatah makan selama seminggu." gertak Sihyun pada suaminya.
"Em baiklah," Akhirnya Namjoon melepas pelukannya lantas mengecup dahi Sihyun. "Saranghae Choi Sihyun.
Sihyun tersenyum memandang suami tercintanya. Tidak langsung menjawab ungkapan cinta sang suami.
Duk!
"Argh!!" Namjoon mengerang saat Sihyun dengan sengaja menginjak kakinya. Setelah itu dengan secepat kilat lari meninggalkan pria yang tengah menahan sakit karena diinjaknya.
"Nado saranghae Kim Namjoon." Dan tidak lupa membalas ungkapan cinta suaminya itu sebelum ia berhasil tenggelam di dalam kamarnya.
"Astaga Choi Shiyun!"
Wah kau ingin main main dengan suamimu ternyata.
...
3 Januari 2020 - Itsmehyuna
__ADS_1