
“Selamat
pagi eomma,” Sapa Namjoon pada sang
mertua. Pria itu terlihat tampan dengan pakaian kerjanya. Ya, Namjoon sudah
mulai bekerja hari ini.
Yoon
Ah pun menoleh, dan tersenyum pada menantu kesayangannya. Tentu saja
kesayangan, karena ia tidak punya menantu selain Namjoon kan?
“Selamat
pagi juga menantuku yang tampan,” ucapnya dengan senyum merekah di bibirnya.
“Ah eomma jangan berlebihan begitu,” jawab
Namjoon terlihat malu dengan pujian Yoon Ah.
“Oppa kenapa turun sendiri? Dimana Sihyun eonni?” tanya Jaein yang kini sedang
mengulurkan kopi buatannya pada sang suami. Sepertinya gadis itu tengah belajar
menjadi istri yang baik untuk suaminya.
Namjoon
mengerutkan keningnya lantas melihat jam yang tergantung di dinding dapurnya.
Seharusnya Sihyun sudah bangun sejak tadi, mengingat wanita itu bukan tipe-tipe
pemalas yang suka bangun siang. Bahkan bisa dibilang jadwal bangun Sihyun lebih
pagi dari Namjoon. Tapi kenapa wanita itu belum terlihat.
Jangan
tanya kenapa pria itu tidak tahu-menahu tentang Sihyun sudah bangun atau belum,
karena sejak semalam Namjoon sudah tak lagi sekamar dengannya. Sihyun
beranggapan Namjoon harus lebih memperhatikan Jaein yang sedang hamil. Jadi
itulah sebabnya Sihyun memilih berpisah kamar dengan Namjoon.
Padahal
saat ini ia juga sedang mengandung buah cinta Namjoon, namun ia rela mengalah
agar Jaein lebih terurus oleh suaminya. Bukankah Sihyun terlihat seperti
malaikat? Tapi entah mengapa pria bodoh seperti Namjoon tega menyakiti hatinya.
“Apa
dia belum bangun? Kalau begitu biar ku panggil Sihyun dulu,” ucapnya setelah
menyesap kopi buatan sang istri muda.
Jaein
pun hanya menganggukkan kepalanya lantas mengamati kepergian sang suami.
“Istri
tidak becus seperti itu kenapa masih saja dipertahankan?” cibir Yoon Ah pelan namun
cukup bisa di dengar oleh Jaein.
“Eomma! Jangan berkata seperti itu,
Sihyun eonni bukan orang seperti
itu,” tegur Jaein.
“Dengarkan
aku gadis bodoh, bagaimanapun caranya kau harus bisa menyingkirkan wanita itu,
dan menjadi satu-satunya istri Kim Namjoon.”
“Eomma!”
Lupakan
permintaan tidak masuk akal Yoon Ah pada putrinya. Kini Namjoon tengan berada
di depan pintu kamar istrinya.
“Sihyun-ah apa belum bangun?” tanya Namjoon saat
memasuki kamar tersebut.
Namun
ia terhenyak saat tidak mendapati Sihyun di dalam sana. Sebaliknya, ia malah
mendengar suara musik yang cukup keras sedang beradu dengan guyuran shower dari arah kamar mandi. Namjoon
pun memilih berjalan mendekat.
Tok tok tok!
“Sayang
kau di dalam?” tanya Namjoon.
Tidak
ada jawaban dari dalam. Namjoon mengerutkan keningnya heran. Apa mungkin dia tidak mendengarku?
“Sihyun-ah apa kau mendengarku?” Ia pun kembali
bertanya.
“Eoh, aku disini.” Sahut Sihyun dari
dalam kamar mandi. Cukup lirih karena terhalang suara musik dan shower, namun beruntung Namjoon masih
bisa mendengarnya.
“Apa
__ADS_1
kau masih lama?” Namjoon pun kembali bertanya.
“Iya
Joon, kau makan saja dulu dengan Jaein dan eomonim,”
hahut Sihyun.
Namjoon
menghela napas berat setelah mendengar apa yang baru saja Sihyun ucapkan. Entah
mengapa Namjoon merasa bahwa hubungannya dengan Sihyun sedikit renggang
akhir-akhir ini.
“Baiklah,
kalau sudah selesai cepatlah turun, aku akan menunggumu.”
“Tidak
perlu Joon, sungguh aku masih lama. Jika kau menungguku nanti bisa terlambat
bekerja. Kau makan saja duluan.”
“Baiklah
kalau begitu,” jawab Namjoon pasrah lantas kembali mengayunkan tungkainya
kembali menuju dapur.
“Bagaimana oppa?” tanya Jaein saat melihat sang
suami telah kembali.
“Dia
bilang sebaiknya kita makan dulu saja.”
Jaein
pun menganggukkan kepalanya tanpa menaruh rasa curiga. Namun berbeda dengan
Yoon Ah yang kini tengah memasang ekspresi wajah yang tidak menyenangkan. Dan tanpa
sepengetahuan Namjoon tentu saja.
…
“Hueek!”
Sudah
hampir tiga puluh menit Sihyun berada di dalam kamar mandi karena rasa mual
yang terus-terusan melandanya. Rasanya ia ingin memuntahkan semua isi perutnya,
namun ternyata sejak tadi yang ia keluarkan hanyalah air.
Kini
tubuhnya terasa lemas. Matanya pun memerah dan berair. Seperti inikah rasanya morning sickness yang sering ia baca
menghampiri setiap wanita yang sedang mengandung, terutama pada trisemester pertama. Dan sekarang ia
bisa merasakannya sendiri.
“Ueekk!”
Ia
kembali memuntahkan isi perutnya, dan tetap saja hanya air yang keluar. Setitik
air mata akhirnya menetes di pipinya.
“Hah,
apakah seperti ini rasanya? Apakah Jaein juga mengalaminya?” Ia pun bermonolog.
Tok tok tok!
Samar-samar
ia mendengar suara ketukan pintu. Namun ia t
“Sayang
kau di dalam?” Tanya Namjoon.
Sihyun
terkesiap begitu mendengar suara Namjoon tengah memanggilnya.
“Bagaimana
ini? bagaimana jika Namjoon mendengar suara muntahku tadi?” gumam Sihyun pada
dirinya sendiri.
Ia
menggelengkan kepalanya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa Namjoon tidak akan
mendengar suaranya dari luar sana. Pasalnya wanita itu telah memurat musik
keras-keras, dan membiarkan shower tetap
menyala.
“Dia
pasti tidak mendengarku,” Sambungnya.
“Sihyun-ah apa kau mendengarku?” Namjoon pun
kembali bertanya karena tak kunjung mendapat jawaban dari istrinya.
“Eoh, aku di sini.”
“Apa
kau masih lama?”
“Iya
__ADS_1
Joon, kau makan saja dulu dengan Jaein dan eomonim,”
jawab Sihyun karena ia tidak tahu kapan rasa mualnya ini akan reda.
“Baiklah,
kalau sudah selesai cepatlah turun, aku akan menunggumu,” ucap Namjoon yang
sontak membuat Sihyun terbelalak.
“Tidak
perlu Joon, sungguh aku masih lama. Jika kau menungguku nanti bisa terlambat
bekerja. Kau makan saja duluan,” sanggahnya.
“Baiklah
kalau begitu,” jawab Namjoon pasrah.
Jujur
saja ia merasa bersalah pada Namjoon, karena baru pertama kali ini ia harus
terpaksa mengabaikan Namjoon saat pria itu akan berangkat kerja. Ia mengabaikan
semuanya. Menyiapkan baju ganti, air hangat untuk mandinya, dan bahkan ia juga
tidak membuatkan sarapan untuk suaminya itu.
Namun
pria itu tidak lagi hanya memilikinya, Namjoon telah mempunyai Jaein. Pasti
gadis itu kini tengah bersusah payah menyiapkan sarapan untuk suaminya.
Bukannya
Sihyun egois karena tidak mau lagi mengurus suaminya, hanya saja wanita itu
juga tengah berada dalam posisi sulit. Terjebak morning sickness yang kini melandanya, dan itu sangat menyakitkan
baginya. Bagaimana tidak, napsu makan Sihyun sedang buruk akhir-akhir ini, dan
tidak banyak makanan yang masuk dalam tubuhnya. Namun ia terpaksa harus
mengeluarkan isi perutnya.
Perlahan
ia mengarahkan tangannya untuk mengusap perutnya yang masih datar. “Apa kau
benar-benar ada dalam perut eomma, eoh? Apa kau benar-benar ada di dalam
sana sayang?” tanya Sihyun seolah sedang berbicara dengan bayinya.
“Maafkan eomma karena kau harus datang di saat
situasinya seperti ini. Kau akan selalu bersama eomma kan? Kita berjuang bersama, apapun yang terjadi eomma akan selalu melindungimu.”
…
“Selamat
pagi eommonim, selamat pagi Jaein-ah. Apa Namjoon sudah berangkat bekerja?”
sapa Sihyun yang baru saja turun dari kamarnya.
“Eoh, selamat pagi eonni. Oppa baru saja
berangkat. Kajja kita makan bersama.”
Sihyun
pun tersenyum karena ajakan Jaein. Ia pun menatap takjub dengan hidangan yang
telah tersaji di atas meja. Tak menyangka jika Jaein bisa memasak sebaik ini.
“Kau
yang memasaknya Jaein-ah?” tanya
Sihyun.
“Tentu
saja, karena putriku ini bertanggung jawab mengurus suaminya, tidak sepertimu!”
celetuk Yoon Ah yang sontak membuat Sihyun menoleh padanya.
“Ne eommonim?”
“Eomma!” Jaein pun menggertak ibunya
tidak percaya.
“Ah,
sudahlah eomma sudah kenyang,” ucap Yoon
Ah lantas beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Jaein dan Sihyun yang
masih menatapnya.
“Pantas
saja suaminya memilih putriku, sikapnya saja sangat tidak bertanggung jawab
seperti itu.” Gumam Yoon Ah yang jelas masih bisa Sihyun dengar.
“Eonni maafkan eomma, aku yakin ia tidak bermaksud bicara seperti itu padamu.”
Sihyun
pun menoleh dan tersenyum pada gadis itu. “Aniya
gwaenchana Jaein-ah. Cha, habiskan makananmu, kau harus
banyak mendapat asupan kan?”
…
15 Februari 2020 - Itsmehyuna_
__ADS_1