Our Marriage

Our Marriage
Chapter 18


__ADS_3

“Selamat


pagi eomma,” Sapa Namjoon pada sang


mertua. Pria itu terlihat tampan dengan pakaian kerjanya. Ya, Namjoon sudah


mulai bekerja hari ini.


Yoon


Ah pun menoleh, dan tersenyum pada menantu kesayangannya. Tentu saja


kesayangan, karena ia tidak punya menantu selain Namjoon kan?


“Selamat


pagi juga menantuku yang tampan,” ucapnya dengan senyum merekah di bibirnya.


“Ah eomma jangan berlebihan begitu,” jawab


Namjoon terlihat malu dengan pujian Yoon Ah.


“Oppa kenapa turun sendiri? Dimana Sihyun eonni?” tanya Jaein yang kini sedang


mengulurkan kopi buatannya pada sang suami. Sepertinya gadis itu tengah belajar


menjadi istri yang baik untuk suaminya.


Namjoon


mengerutkan keningnya lantas melihat jam yang tergantung di dinding dapurnya.


Seharusnya Sihyun sudah bangun sejak tadi, mengingat wanita itu bukan tipe-tipe


pemalas yang suka bangun siang. Bahkan bisa dibilang jadwal bangun Sihyun lebih


pagi dari Namjoon. Tapi kenapa wanita itu belum terlihat.


Jangan


tanya kenapa pria itu tidak tahu-menahu tentang Sihyun sudah bangun atau belum,


karena sejak semalam Namjoon sudah tak lagi sekamar dengannya. Sihyun


beranggapan Namjoon harus lebih memperhatikan Jaein yang sedang hamil. Jadi


itulah sebabnya Sihyun memilih berpisah kamar dengan Namjoon.


Padahal


saat ini ia juga sedang mengandung buah cinta Namjoon, namun ia rela mengalah


agar Jaein lebih terurus oleh suaminya. Bukankah Sihyun terlihat seperti


malaikat? Tapi entah mengapa pria bodoh seperti Namjoon tega menyakiti hatinya.


“Apa


dia belum bangun? Kalau begitu biar ku panggil Sihyun dulu,” ucapnya setelah


menyesap kopi buatan sang istri muda.


Jaein


pun hanya menganggukkan kepalanya lantas mengamati kepergian sang suami.


“Istri


tidak becus seperti itu kenapa masih saja dipertahankan?” cibir Yoon Ah pelan namun


cukup bisa di dengar oleh Jaein.


“Eomma! Jangan berkata seperti itu,


Sihyun eonni bukan orang seperti


itu,” tegur Jaein.


“Dengarkan


aku gadis bodoh, bagaimanapun caranya kau harus bisa menyingkirkan wanita itu,


dan menjadi satu-satunya istri Kim Namjoon.”


“Eomma!”


Lupakan


permintaan tidak masuk akal Yoon Ah pada putrinya. Kini Namjoon tengan berada


di depan pintu kamar istrinya.


“Sihyun-ah apa belum bangun?” tanya Namjoon saat


memasuki kamar tersebut.


Namun


ia terhenyak saat tidak mendapati Sihyun di dalam sana. Sebaliknya, ia malah


mendengar suara musik yang cukup keras sedang beradu dengan guyuran shower dari arah kamar mandi. Namjoon


pun memilih berjalan mendekat.


Tok tok tok!


“Sayang


kau di dalam?” tanya Namjoon.


Tidak


ada jawaban dari dalam. Namjoon mengerutkan keningnya heran. Apa mungkin dia tidak mendengarku?


“Sihyun-ah apa kau mendengarku?” Ia pun kembali


bertanya.


“Eoh, aku disini.” Sahut Sihyun dari


dalam kamar mandi. Cukup lirih karena terhalang suara musik dan shower, namun beruntung Namjoon masih


bisa mendengarnya.


“Apa

__ADS_1


kau masih lama?” Namjoon pun kembali bertanya.


“Iya


Joon, kau makan saja dulu dengan Jaein dan eomonim,”


hahut Sihyun.


Namjoon


menghela napas berat setelah mendengar apa yang baru saja Sihyun ucapkan. Entah


mengapa Namjoon merasa bahwa hubungannya dengan Sihyun sedikit renggang


akhir-akhir ini.


“Baiklah,


kalau sudah selesai cepatlah turun, aku akan menunggumu.”


“Tidak


perlu Joon, sungguh aku masih lama. Jika kau menungguku nanti bisa terlambat


bekerja. Kau makan saja duluan.”


“Baiklah


kalau begitu,” jawab Namjoon pasrah lantas kembali mengayunkan tungkainya


kembali menuju dapur.


“Bagaimana oppa?” tanya Jaein saat melihat sang


suami telah kembali.


“Dia


bilang sebaiknya kita makan dulu saja.”


Jaein


pun menganggukkan kepalanya tanpa menaruh rasa curiga. Namun berbeda dengan


Yoon Ah yang kini tengah memasang ekspresi wajah yang tidak menyenangkan. Dan tanpa


sepengetahuan Namjoon tentu saja.



“Hueek!”


Sudah


hampir tiga puluh menit Sihyun berada di dalam kamar mandi karena rasa mual


yang terus-terusan melandanya. Rasanya ia ingin memuntahkan semua isi perutnya,


namun ternyata sejak tadi yang ia keluarkan hanyalah air.


Kini


tubuhnya terasa lemas. Matanya pun memerah dan berair. Seperti inikah rasanya morning sickness yang sering ia baca


menghampiri setiap wanita yang sedang mengandung, terutama pada trisemester pertama. Dan sekarang ia


bisa merasakannya sendiri.


“Ueekk!”


Ia


kembali memuntahkan isi perutnya, dan tetap saja hanya air yang keluar. Setitik


air mata akhirnya menetes di pipinya.


“Hah,


apakah seperti ini rasanya? Apakah Jaein juga mengalaminya?” Ia pun bermonolog.


Tok tok tok!


Samar-samar


ia mendengar suara ketukan pintu. Namun ia t


“Sayang


kau di dalam?” Tanya Namjoon.


Sihyun


terkesiap begitu mendengar suara Namjoon tengah memanggilnya.


“Bagaimana


ini? bagaimana jika Namjoon mendengar suara muntahku tadi?” gumam Sihyun pada


dirinya sendiri.


Ia


menggelengkan kepalanya, meyakinkan dirinya sendiri bahwa Namjoon tidak akan


mendengar suaranya dari luar sana. Pasalnya wanita itu telah memurat musik


keras-keras, dan membiarkan shower tetap


menyala.


“Dia


pasti tidak mendengarku,” Sambungnya.


“Sihyun-ah apa kau mendengarku?” Namjoon pun


kembali bertanya karena tak kunjung mendapat jawaban dari istrinya.


“Eoh, aku di sini.”


“Apa


kau masih lama?”


“Iya

__ADS_1


Joon, kau makan saja dulu dengan Jaein dan eomonim,”


jawab Sihyun karena ia tidak tahu kapan rasa mualnya ini akan reda.


“Baiklah,


kalau sudah selesai cepatlah turun, aku akan menunggumu,” ucap Namjoon yang


sontak membuat Sihyun terbelalak.


“Tidak


perlu Joon, sungguh aku masih lama. Jika kau menungguku nanti bisa terlambat


bekerja. Kau makan saja duluan,” sanggahnya.


“Baiklah


kalau begitu,” jawab Namjoon pasrah.


Jujur


saja ia merasa bersalah pada Namjoon, karena baru pertama kali ini ia harus


terpaksa mengabaikan Namjoon saat pria itu akan berangkat kerja. Ia mengabaikan


semuanya. Menyiapkan baju ganti, air hangat untuk mandinya, dan bahkan ia juga


tidak membuatkan sarapan untuk suaminya itu.


Namun


pria itu tidak lagi hanya memilikinya, Namjoon telah mempunyai Jaein. Pasti


gadis itu kini tengah bersusah payah menyiapkan sarapan untuk suaminya.


Bukannya


Sihyun egois karena tidak mau lagi mengurus suaminya, hanya saja wanita itu


juga tengah berada dalam posisi sulit. Terjebak morning sickness yang kini melandanya, dan itu sangat menyakitkan


baginya. Bagaimana tidak, napsu makan Sihyun sedang buruk akhir-akhir ini, dan


tidak banyak makanan yang masuk dalam tubuhnya. Namun ia terpaksa harus


mengeluarkan isi perutnya.


Perlahan


ia mengarahkan tangannya untuk mengusap perutnya yang masih datar. “Apa kau


benar-benar ada dalam perut eomma, eoh? Apa kau benar-benar ada di dalam


sana sayang?” tanya Sihyun seolah sedang berbicara dengan bayinya.


“Maafkan eomma karena kau harus datang di saat


situasinya seperti ini. Kau akan selalu bersama eomma kan? Kita berjuang bersama, apapun yang terjadi eomma akan selalu melindungimu.”



“Selamat


pagi eommonim, selamat pagi Jaein-ah. Apa Namjoon sudah berangkat bekerja?”


sapa Sihyun yang baru saja turun dari kamarnya.


“Eoh, selamat pagi eonni. Oppa baru saja


berangkat. Kajja kita makan bersama.”


Sihyun


pun tersenyum karena ajakan Jaein. Ia pun menatap takjub dengan hidangan yang


telah tersaji di atas meja. Tak menyangka jika Jaein bisa memasak sebaik ini.


“Kau


yang memasaknya Jaein-ah?” tanya


Sihyun.


“Tentu


saja, karena putriku ini bertanggung jawab mengurus suaminya, tidak sepertimu!”


celetuk Yoon Ah yang sontak membuat Sihyun menoleh padanya.


“Ne eommonim?”


“Eomma!” Jaein pun menggertak ibunya


tidak percaya.


“Ah,


sudahlah eomma sudah kenyang,” ucap Yoon


Ah lantas beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan Jaein dan Sihyun yang


masih menatapnya.


“Pantas


saja suaminya memilih putriku, sikapnya saja sangat tidak bertanggung jawab


seperti itu.” Gumam Yoon Ah yang jelas masih bisa Sihyun dengar.


“Eonni maafkan eomma, aku yakin ia tidak bermaksud bicara seperti itu padamu.”


Sihyun


pun menoleh dan tersenyum pada gadis itu. “Aniya


gwaenchana Jaein-ah. Cha, habiskan makananmu, kau harus


banyak mendapat asupan kan?”



 


15 Februari 2020 - Itsmehyuna_

__ADS_1


__ADS_2