
Sinar mentari pagi menembus menerpa wajah pria yang kini tengah tidur dengan mendekap istrinya. Ia mengerjap saat silaunya sang mentari berhasil mengenai matanya. Kemudian dipandanginya wajah damai sang istri yang masih terlelap dalam tidurnya. Bibirnya tertarik keatas mengulas senyum saat mengingat apa yang telah terjadi di antara mereka semalam.
Ia selalu menikmati moment hangat seperti ini. Mendekap istrinya di dada, saat kulit mereka saling bersentuhan tanpa ada sehelai benang sebagai penghalang. Ia mengecup kilas bibir Sihyun, menyingkap anak rambut yang menutupi wajah cantiknya. Wajah yang tiga tahun ini selalu menyambutnya di setiap ia membuka mata.
"Kau mencuri ciuman dariku, eoh?" ujar Sihyun dengan suara bangun tidurnya.
"Apa aku membangunkanmu?" Pria itu mengusap lembut punggung Sihyun yang kini hanya tertutup selimut.
Sihyun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Gwaenchana, lagipula ini sudah waktunya bangun kan," jawabnya.
Namjoon mengecup kening istrinya. Jujur saja pria ini tidak pernah bosan untuk menciumi wajah cantik sang istri. "Ah aku lupa mengatakan padamu sayang. Besok aku harus pergi ke Jepang, karena ada tugas yang harus ku lakukan di sana."
"Berapa lama Joon?" Sihyun membenarkan posisinya yang kini telah bersandar di dada Namjoon.
Namjoon menghela napas singkat. "Sepertinya satu minggu sayang."
"Hm, untung saja ada Minji, jadi aku tidak akan kesepian selama kau pergi," ujarnya lantas mengecup bibir Namjoon kilas.
Pria itu memandangi istrinya yang kini juga menatapnya. Entahlah, menurut Namjoon wajah bangun tidur istrinya saat ini benar-benar menggoda, serasa candu baginya. Tanpa sadar ia ingin kembali menyerang Sihyun pagi ini. Ia mendekatkan wajahnya pada sang istri. Menghapuskan jarak di antara mereka berdua. Sihyun yang mengerti dengan maksud suaminya, kini mulai memejamkan matanya.
Tok...tok...tok...
"Bibi, paman Namjoon..." Suara melengking Minji berhasil menyadarkan dua sejoli ini. Mereka pun dengan segera memisahkan diri.
"Ya! Joon bangunlah dan cepat pakai bajumu," titah Sihyun yang kini tengah bangkit dari ranjangnya. Dengan buru-buru ia memakai pakaiannya yang dari tadi malam teronggok di lantai karena ulah suaminya.
"Ah sebaiknya kau mandilah dulu, dan aku akan mengurus Minji."
"Dasar Minji, tidak bisa melihat timing." Namjoon menggumam, lantas dengan malas melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
"Aku bisa mendengarmu omelanmu Namjoonie," ucap Sihyun sambil menggelung rambutnya keatas setelah memastikan ia sudah berpakaian lengkap.
Ia membuka pintu kamarnya. Dan benar saja, Minji tengah mengerucurkan bibirnya sebal karena menunggu bibi dan pamannya keluar.
"Wah Minji sudah bangun?" tanyanya pada Minji dan hanya dibalas anggukan oleh gadis kecil itu.
"Mana paman Namjoon bibi?" Minji mengedarkan pandangannya ke dalam kamar Sihyun. Sepertinya gadis ini sudah tidak sabar untuk main dengan suaminya.
Sihyun tersenyum menggendong Minji. "Paman Namjoon sedang mandi, sebaiknya kita ke dapur ya, bibi akan siapkan sarapan untukmu. Kau mau makan apa?" Wanita itupun melangkahkan kakinya menuju dapur.
Minji terlihat sedang berpikir. "Paman Namjoon biasanya makan apa bibi?" Tanyanya sambil menatap Sihyun penasaran.
"Em paman Namjoon hanya makan sandwich dan kopi, kenapa?" Jawabnya sambil mendudukkan gadis kecil itu.
"Kalau begitu aku akan makan sama seperti paman Namjoon, sandwich dan kopi." Serunya bersemangat. Dan tingkah Minji berhasil membuatnya tertawa. Kenapa gadis ini bisa begitu menggemaskan di matanya.
"Baiklah bibi akan membuatkan sandwich untuk Minji dan paman Namjoon. Tapi Minji tidak boleh minum kopi, sebagai gantinya bibi akan buatkan susu stroberi kesukaanmu." Jelasnya sambil mencium pipi tembam keponakannya.
Minji mengerjapkan matanya memandang Sihyun kebingungan. "Memangnya kopi itu apa bibi?" Tanyanya polos.
Sontak saja Sihyun kembali menciumi wajah Minji dengan gemas. "Kopi itu minuman pahit, Minji tidak akan suka. Jadi Minji minum susu saja, oke?"
"Oke!" Jawabnya sangat riang.
Sihyun tersenyum melihat tingkah Minji. Kini tangannya mulai sibuk membuatkan sandwich untuk Minji dan juga suaminya. Tidak lupa segelas kopi dan susu stroberi kesukaan Minji.
Selagi menunggu sarapannya siap. Gadis kecil itu bersenandung menyanyikan lagu anak-anak yang ia pelajari di sekolah. Ia menggoyangkan kepalanya ke kanan dan ke kiri bergantian, tidak lupa juga bertepuk tangan. Manis sekali kan putri kakaknya itu.
Nyanyian gadis kecil itu terhenti saat sepasang tangan menutup matanya dari belakang. Ia menebak-nebak pasti tangan itu milik paman kesayangannya.
"Paman Namjoon..." Ia berteriak kegirangan. Sedangkan Namjoon dibuat tertawa oleh tingkah menggemaskan keponakannya ini. Langsung saja ia menggendong Minji dan menciumi pipinya gemas.
"Uh pasti Minji rindu sekali dengan paman Namjoon?" tanyanya pada gadis itu.
Minji menganggukkan kepalanya antusias. "Tentu saja aku rindu sekali paman," ujarnya sambil bergelayut manja di gendongan pria itu. Kedua tangannya ia lingkarkan di leher sang paman, dan sesekali menciumi pipi pria itu.
Sihyun yang menyaksikan pemandangan di depannya, kini tersenyum penuh arti. Andai Minji bukanlah keponakannya, andaikan adalah putri kandungnya, pasti dia akan merasa sangat bahagia. Lebih dari yang ia rasakan saat ini.
"Cha kalau begitu kajja kita mandi dulu Minji-ya, biarkan paman Namjoon menunggu."
"Baiklah bibi, paman Namjoon jangan kemana-mana. Tunggu aku selesai mandi," titah Minji.
__ADS_1
Namjoon pun tertawa. "Arraseo gungju-nim (tuan putri) aku tidak akan kemana-mana."
...
Namjoon kini tengah sibuk mengutak-atik ponselnya. Berkali-kali ia membuka aplikasi pesan, lalu menutupnya saat mendapati tidak ada yang mengiriminya pesan. Wajahnya terlihat gelisah. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengirim pesan terlebih dahulu.
'Apa kau sudah berkemas?'
Ia mengetuk-ngetuk layar ponselnya sambil menunggu balasan. Selang beberapa menit layar ponselnya menyala, dan menunjukan notifikasi pesan. Segera saja ia membuka pesan tersebut.
'Saat ini aku sedang berkemas oppa, bagaimana denganmu?'
Tanpa sadar Namjoon menyunggingkan senyum di bibirnya setelah membaca pesan dari asisten dosennya itu.
'Aku akan berkemas nanti malam, Jaein-ah.'
"Ya Joon, kenapa kau senyum senyum sendiri? Sedang melihat apa?" tanya Sihyun yang tanpa disadarinya sudah kembali ke dapur dengan Minji. Pria itu pun tersentak.
"Ah aniya aku hanya‒" Jawab Namjoon tergagap. Beruntung Minji memotong jawaban Namjoon sehingga pria itu tidak perlu repot memikirkan jawaban apa yang harus diberikan pada Sihyun.
"Paman kita mau main kemana hari ini?" Tuntut Minji antusias. Suaranya terdengar aneh karena saat ini mulutnya penuh, tengah sibuk mengunyah sandwich buatan Sihyun tadi.
Sontak saja Namjoon dibuat tertawa olehnya. Ia pun mengangkat Minji ke pangkuannya. "Minji jangan bicara dulu saat mulutmu penuh." tegurnya. Gadis kecil itu pun terkekeh malu.
"Aigoo kalian ini, habiskan sarapannya dulu baru bicara." Omel Sihyun pada kedua makhluk kesayangannya ini.
"Lihatlah bibi marah Minji-ya, cepat habiskan makananmu." bisiknya pada Minji. bocah itu pun mengangguk patuh. "Kau juga harus makan sayang. Makan nasi, jangan makan salad terus," tegurnya pada sang istri.
"Aku tidak biasa makan nasi saat pagi, perutku akan sakit nanti Joon."
Sedangkan Namjoon hanya mendesah pasrah mendengar penuturan istri tercintanya itu. Jujur saja, menurut Namjoon istrinya sekarang ini lebih kurus dibandingkan saat menikah tiga tahun yang lalu. Ia kehilangan berat tubuhnya semenjak menghilangkan nasi dari list menu makan paginya.
"Aku sudah selesai paman." Celetuk Minji yang sudah berhasil melahap habis sandwich miliknya. Dan kini tengah sibuk meminum susu stroberinya.
Sihyun pun tersenyum. "Wah pintar sekali Choi Minji." Ujarnya sambil mengusap lembut puncak kepala gadis kecil itu.
Namjoon meneguk habis kopi yang Sihyun buatkan untuknya. "Cha kalau begitu kita pergi ke Lotte World, kajja." Ajaknya pada Minji dan Sihyun.
...
Minji mengedarkan pandangan takjub saat memasuki area permainan yang cukup terkenal di Korea. Matanya berbinar dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Minji mau main apa dulu?" tawar Sihyun pada keponakan kecilnya.
Minji tidak menjawab. Gadis itu sedang bingung ingin mencoba permainan yang mana dulu. Karena pada dasarnya ia ingin mencoba semua mainan yang ada di sana.
Namjoon berjongkok menyamakan tingginya dengan Minji. "Minji mau mencoba ice skating tidak? Permainan yang itu," Tangannya kini menunjuk ke tempat ice skating.
Sihyun membelalakan matanya saat mendengar tawaran Namjoon. "Tapi itu kan berbahaya Joon," ujarnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.
Namjoon hanya tersenyum memandang istrinya. "Tenang saja sayang, kan ada aku."
Sihyun diam sejenak. Ia melihat Minji yang sudah mendekat, melihat area berlantai es itu dari balik pagar pembatas dengan mata berbinar. Ia menghela napas pasrah. Tidak ada salahnya membiarkan Minji bermain. Toh suaminya sangat menguasai permainan satu itu. Pasti ia akan menjaga Minji dengan baik. Lagipula ia sudah berjanji pada Minji.
"Baiklah kalian bermainlah, aku akan melihat saja." Ujarnya.
"Kau tidak ikut bermain sayang?" Tanya Namjoon.
Ia menggelengkan kepalanya. Tentu saja tidak. Karena Sihyun terbilang payah dengan ice skating. Berkali-kali Namjoon mengajarinya, ia tetap tidak dapat menguasai permainan itu.
Namjoon mengecup kilas bibir sang istri. "Baiklah kalau begitu, jangan kemana-mana, arraseo?"
Sihyun tertawa geli melihat tingkah suaminya. "Ne gyosunim." Jawabnya patuh.
Kini ia melihat sang suami mengajak Minji memasuki area tersebut. Nampak Namjoon dengan telaten memasangkan atribut pada Minji.
"Dia benar-benar terlihat seperti ayahnya Minji." Gumamnya dengan senyum di bibirnya.
Setelah persiapan mereka selesai, Namjoon menuntun Minji menuju lapangan. Dengan perlahan ia mengajari Minji tanpa melepaskan pegangan tangannya. Gadis itupun berjalan perlahan mengikuti apa yang di perintahkan pamannya. Tanpa sadar ia memekik kegirangan karena berhasil berjalan di lapangan es tersebut.
"Wah Minji hebat sekali!" Sihyun pun bertepuk tangan, dan menyoraki keponakannya.
__ADS_1
"Siapa dulu yang mengajari sayang!" seru Namjoon membanggakan diri.
Sihyun mendecih. "Percaya dirimu tinggi sekali Kim Namjoon?" Ejeknya pada sang suami.
Sedangkan Namjoon hanya terkekeh mendengar ejekkan istrinya. Lantas kembali menuntun Minji untuk berjalan lebih jauh ke tengah lapangan.
Minji itu memang cerdas. Ia dengan mudah dapat menguasai permainan ini. Dan yang lebih mengejutkan lagi, kini gadis itu sudah bisa berjalan sendiri tanpa berpegangan tangan Namjoon. Meskipun sebelumnya ia harus berkali-kali terjatuh. Tapi hebatnya gadis kecil itu sama sekali tidak menangis. Bahkan Namjoon sempat kewalahan saat mengajak Minji mengakhiri permainan mereka.
"Kau senang main skating ya?" tanya Sihyun sambil mengulurkan susu stroberi pada Minji, yang ia yakini sekarang ini pasti merasa haus.
Minji pun mengangguk antusias. "Tentu saja bibi, karena sangat menyenangkan."
"Meskipun kau berkali-kali jatuh?"
"Tapi aku tidak merasa sakit bibi," jawabnya santai sambil menyesap susu di tangannya.
"Yasudah sekarang Minji ingin main apa lagi?" Akhirnya pria itu bersuara.
Gadis kecil itu mengulurkan tangannya menunjuk permainan yang ingin dinaikinya. "Itu saja paman," ujarnya berdongak memandang Namjoon dan Sihyun bergantian.
"Komedi putar?" Tanya Sihyun.
"Cha kajja kita bersantai kalau begitu." Ucap Namjoon lantas menuntun Minji.
"Aku mau naik dengan bibi ya," ujarnya sambil menatap Sihyun.
"Iya sayang, biarkan paman Namjoon sendirian ya," bisiknya pada Minji. Sontak saja gadis kecil tersebut terkekeh dan membuatnya terlihat lebih menggemaskan.
Sedangkan Namjoon yang sedang dibicarakan hanya bisa memicingkan mata pada istri dan keponakan liciknya. "Kalian pasri sedang membicarakanku? Ckckck awas saja nanti."
Mendengar ancaman Namjoon bukannya takut, Minji malah menjulurkan lidah pada paman tampannya itu. Sedangkan Sihyun tertawa melihat tingkah lucu Minji dan suaminya. Namjoonpun berdecak kesal, namun hanya dibuat-buat. Mana mungkin pria itu bisa marah pada dua malaikat cantiknya.
"Bibi, aku jadi ingin naik kuda sungguhan. Pasti sama menyenangkannya." Celetuk Minji.
Sihyun menatap gadis kecilnya. "Kuda sungguhan kan menakutkan. Bibi saja tidak berani menaikinya."
"Benarkah?" Tanya Minji penasaran.
"Bibimu itu menangis dengan keras saat naik kuda dengan paman." Sontak saja ucapan Namjoon mengundang gelak tawa Minji. Dan juga lirikan tajam Sihyun yang seakan bisa menghunus pria itu.
Sihyun sedikit mempunyai trauma dengan kuda. Sehari setelah pernikahan mereka, Sihyun dan Namjoon memutuskan untuk pergi berkuda, karena Sihyun bilang sudah sejak lama ingin sekali bisa menunggang kuda.
Saat itu Sihyun bersikeras ingin menaikinya sendiri tanpa ditemani oleh Namjoon, padahal ia sama sekali tidak punya pengalaman menunggang kuda. Karena ingin menyenangkan sang istri, akhirnya Namjoon mengiyakan keinginan Sihyun.
Awalnya berjalan dengan lancar, Sihyun pun tersenyum senang karena berhasil menunggang kuda. Namun tiba-tiba saja kuda yang ditungganginya hilang kendali, dan berlari dengan kencang. Sontak saja Sihyun berteriak dan menangis. Ia sangat ketakutan.
Untung saja Namjoon dengan sigap berhasil mengejar dan menghentikan kuda itu. Dengan bantuan sang penjanga tentu saja. Sejak saat itulah Sihyun sangat benci dengan kuda.
"Jadi aku akan menunggang kuda dengan paman saja." Celetuknya.
Namjoon tersenyum menatap Minji. "Em tentu saja, tapi nanti saat Minji sudah agak besar, oke?"
Gadis kecil itu mengerutkan bibirnya. "Tapi aku kan sudah besar pamaan..." Rengeknya.
Sihyun tertawa saat melihat Namjoon menghela napas pasrah. Dia sangat tahu jika sudah seperti ini Namjoon tidak akan pernah bisa menolak permintaan Minji.
...
Namjoon menggendong Minji yang sudah ketiduran. Sejak dari restoran tadi gadis itu memang sudah mengantuk. Dan setelah menghabiskan makanannya ia terlelap. Mungkin saja karena ia kelelahan bermain.
Sihyun menata tempat tidur Minji, lantas menyelimuti gadis itu setelah Namjoon merebahkannya. Tentu saja tidak lupa mencium lembut keningnya.
"Hm, manis sekali istriku." Ujarnya tersenyum melihat perlakuan Sihyun pada Minji.
Sihyun menoleh dan membalas senyuman suaminya. "Semoga Tuhan segera memberikan milik kita sendiri," ujarnya sambil bersandar memeluk suaminya.
Namjoon mengangguk dan mengecup singkat sang istri.
"Kajja kita wujudkan sayang." Bisiknya. Lantas menggendong sang istri menuju kamarnya.
...
__ADS_1
4 Januari 2020 - Itsmehyuna_