
‘Katakan
padaku jika pria itu bukan Namjoon sayang.’
Jaekwon
kembali teringat ucapan istrinya. Pria itu kembali mengamati foto sepasang
suami istri yang pernah Raemi tunjukkan padanya. Mau disangkal bagaimanapun
juga, otaknya mengatakan jika pria itu memang Namjoon. Namun entah mengapa
hatinya terasa berat untuk mengakuinya.
Ia
tahu betul jika Namjoon tidak akan mungkin menduakan adiknya. Pasalnya mereka
berdua bagaikan bulan dan bintang yang tidak bisa terpisahkan.
“Haruskah
aku mencurigai adik iparku sendiri?” gumam Jaekwon yang kini gusar.
Ia
menghela napas setelah membuat keputusan. Jarinya terulur untuk menekan tombol
telepon yang menghubungkan dengan sekertarisnya.
“Shin biseo kemarilah, aku ingin kau
mencarikan informasi untukku.”
…
“Pria
itu benar adik ipar anda, dan gadis itu‒” ucapan sekertaris Shin terjeda.
Jaekwon
pun menatapnya. “Gwaenchana, katakan
saja.”
“Ekhem,
baiklah. Gadis itu bernama Park Jaein, mereka baru saja menikah dua bulan yang
lalu di Seoul Prime Hotel. Dan saat ini gadis itu tengah mengandung.”
“Baiklah
kau bisa keluar. Dan jangan sampai pegawai lain tahu soal ini.”
“Algeseubnida.”
Rahang
Jaekwon mengeras, tangannya terkepal menahan gejolak yang sangat ingin ia
lampiaskan saat ini juga.
Brak!
“Mengandung?
Hahaha apa dia sudah gila?!”
…
“Selamat
siang Choi sajangnim, hoejangnim telah menunggu di ruangannya.”
“Eoh, bukankah hoejangnim berada di Jeju?” tanya Jaekwon seraya melangkahkan
kakinya menuju ruangan sang ayah.
“Beliau
mendadak pulang tadi pagi tanpa mengabari terlebih dahulu,” ujar sekertaris
Shin membuat Jaekwon terkekeh.
“Mungkin
saja appa ingin mengejutkan kalian.”
Begitu
memasuki ruangan, Jaekwon dapat melihat sang ayah sedang duduk membelakanginya.
“Kenapa
pulang tanpa memberi kabar dahulu? Ah appa ingin mengejutkan para pegawai ya?” Canda Jaekwon.
Detik
berikutnya Siwon pun berbalik untuk menghadap putranya. “Jelaskan apa semua
ini?” tukas Siwon begitu dingin.
Jaekwon
tersentak begitu melihat apa yang ada di tangan sang ayah.
“Aku
menemukan ini di atas meja kerjamu. Jelaskan semuanya padaku.”
“Appa itu‒” Seketika Jaekwon tergagap
setelah mendengar permintaan Siwon padanya. Ia merutuki dirinya sendiri karena
meninggalkan foto, dan berkas yang ia dapatkan dari sekertaris Shin secara
sembarangan.
Itulah
__ADS_1
mengapa Jaekwon ingin menyelidikinya sendiri tanpa sepengetahuan ayahnya.
Karena jika sampai Siwon tahu, semua ini akan berimbas pada hubungan Siwon
dengan ayah Namjoon.
“Bawa
Namjoon padaku.” Dingin dan datar. Begitulah cara Siwon berbicara saat marah.
“Appa biarkan aku yang mengurus semua
ini, aku‒”
“Kau
tidak mendengarku Choi Jaekwon? Bawa Kim Namjoon padaku!”
…
Namjoon
memandang pantulan istrinya di cermin. Wanita itu tengah mengobati sudut
bibirnya yang berdarah akibat tamparan dari Siwon tadi siang. Hatinya
benar-benar mencelos saat mendengar suara tamparannya yang begitu keras, sampai
membuat wanitanya terhuyung.
Perlahan
pria itu berjalan mendekat, lantas mengambil alih kapas yang Sihyun gunakan
untuk mengusap lukanya. Sihyun pun tersekejut dengan perlakuan tiba-tiba
Namjoon. Pasalnya pria itu tengah berlutut guna menyamakan tubuhnya dengan
Sihyun.
“Kenapa
kau melakukannya? Kenapa kau masih membela pria tak berguna sepertiku?
Tinggalkan saja aku Sihyun-ah, kau terlalu berharga untuk sampah sepertiku.”
Sihyun
menghentikan pergerakan tangan Namjoon yang sedang mengusap luka di sudut
bibirnya. “Jangan memaksaku untuk meninggalkanmu, karena sekeras apapun kau
meminta aku tidak akan menurutinya.”
“Tapi
aku sudah menyakitimu terlalu dalam, aku malu Sihyun-ah. Bahkan aku malu pada diriku sendiri, aku yang dulu pernah
mengucap janji, dan sekarang aku sendiri yang mengingkarinya. Entah bagaimana
aku harus meminta maaf padamu, kurasa semua permintaan maafku tak akan pernah
Tak
berniat menjawab, detik berikutnya Sihyun telah merengkuh Namjoon ke dalam
pelukannya, lantas mengusap puncak kepala pria itu dengan lembut. “Diamlah,
atau aku akan benar-benar meninggalkanmu.”
“Begitu
lebih baik.”
…
“Choi hoejangnim…” Jungwoo yang sedang memeriksa
berkas seketika bangkit dari tempat duduknya karena kehadiran Choi Siwon secara
tiba-tiba.
“Mungkinkah
anda bertanya-tanya untuk apa kehadiranku saat ini?”
“Ah ne, silahkan duduk hoejangnim.”
“Aku
tidak akan berlama-lama, dan langsung saja pada intinya, tentang pernikahan
putramu…”
Seperti
dugaan Siwon, Jungwoo pasti sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia
ucapkan.
“Aku
sudah mengetahui semuanya. Tentang pernikahan Namjoon, dan kehamilan mahasiswi
itu, anda terkejut bukan?”
“Ho-hoejangnim…” Jungwoo sangat terkejut
dan tak bisa berkata-kata.
“Aku
benar-benar kecewa Kim hoejangnim,” ujar
Siwon dengan tatapan mengintimidasi miliknya.
Jungwoo
pun membungkuk seketika pada Siwon sebagai permintaan maaf pada ayah menantunya.
…
__ADS_1
Plak!
Namjoon
meringis saat telapak tangan sang ayah berhasil menyentuh kulit pipinya.
Jungwoo benar-benar murka atas kelakuan putranya. Ia merasa sangat malu pada
Siwon karena tidak bisa menjaga putrinya.
“Apa
sekarang kau tahu apa akibat dari semua perbuatanmu ini? Choi hoejangnim membatalkan semua kerja sama,
dan investasi dengan perusahaan kita. Bahkan kini ia tak lagi menjadikan kita
sebagai supplier untuk hotel mereka.”
Namjoon
menunduk, kehabisan kata-kata. Karena memang benar apa yang ayahnya paparkan,
semuanya salah Namjoon. “Maafkan aku appa,
semua ini memang salahku,” ucap Namjoon penuh penyesalan.
“Untuk
apa kau minta maaf padaku? Seharusnya kau minta maaf pada istri dan mertuamu.
Yah, anggap saja ini akhir dari perusahaanku.”
“Aku
akan mempertanggung jawabkan semuanya appa,
aku akan bekerja di perusahaan. Aku akan berusaha mencari investor untuk
bekerja sama dengan kita. Aku tidak akan membiarkan perusahaan appa bangkrut begitu saja.”
Mendengar
keputusan Namjoon, Jungwoo hanya bisa menghela napas berat. Sejujurnya
kehilangan investor seperti Siwon merupakan kerugian yang cukup besar baginya,
karena sama saja seperti menukar tambang emas dengan tumpukan kerikil.
“Berdoa
saja agar ibumu tidak mengetahui tentang semua ini.”
…
‘Tinggalkan pria itu! Putriku terlalu berharga untuk
pria brengsek seperti dia.’
Sihyun
kembali meneteskan air matanya saat ucapan Siwon kembali terngiang di
pikirannya. Wanita itu kini tengah duduk di atas ranjang memeluk kedua lututnya
di depan dada, merenungi semua kemelut yang tengah menimpanya.
Bahkan
sempat terbesit di benaknya untuk bunuh diri. Namun ia urungkan saat mengingat
jika saat ini ia tidak lagi sendiri. Ada makhluk kecil tak berdosa yang kini
tengah tumbuh dalam tubuhnya, dan menunggu untuk bertemu dengannya.
“Kau
akan selalu bersama eomma kan? Kau
akan menemani eomma sampai saat itu
tiba kan?” Tukas Sihyun sembari mengusap perutnya yang sudah mulai menyembul
dengan penuh kasih sayang.
Tok tok tok…
“Eonni, kau harus keluar, jangan terus
mengunci dirimu di dalam kamar.”
Sihyun
pun menghentikan aktifitasnya saat mendengar suara Jaein dari luar kamarnya.
Tak berniat menjawab, ia malah membenamkan wajahnya pada lututnya. Entah apa
yang membuat Sihyun tiba-tiba saja malas saat mendengar suara Jaein. Yah,
bagaimanapun sifat manusia bisa berubah.
“Kau
kan belum makan dari tadi pagi. Kau harus makan eonni. Bagaimana kalau nanti kau sakit?”
Wanita
itu mengangkat kepalanya, lantas menghela napas sejenak menyadari
kecerobohannya. Benar kata Jaein, tubuhnya belum mendapat asupan dari tadi
pagi. Ia pun segera beranjak dari ranjang.
“Benar,
aku tidak boleh seperti ini. Setidaknya aku harus bertahan demi bayiku.”
…
10 Maret 2020 - Itsmehyuna_
__ADS_1