
Kini Sihyun tengah
mendudukkan dirinya di salah satu gazebo yang
berada di taman hotel tersebut. Tangisnya sudah tidak bisa terbendung lagi.
Jika tidak ingat masih ada orang lain di sini, mungkin ia sudah meraung
sekeras-kerasnya meneriaki nama Namjoon.
Mana pernah ia
menyangka jika suatu saat nanti Namjoon akan menduakannya. Mana pernah ia
mengira jika Namjoon akan memilih gadis lain untuk mengandung buah cintanya. Ia
benar-benar merasa gagal menjadi seorang istri untuk Namjoon-nya. Iya
Namjoon-nya, cinta pertama Sihyun.
Meskipun Namjoon
adalah cinta pertama Sihyun, bukan berarti tidak ada pria lain yang
menyukainya. Jangan bercanda. Sihyun adalah gadis cantik yang menuruni dimple sang ayah, dan wajah cantik
ibunya. Jadi tidak sedikit pria yang mengutarakan cinta pada gadis itu. Namun
secara halus ia menolak. Bukan karena ia sombong, tapi tidak ada satupun dari
mereka yang membuat hatinya berdebar. Lagipula kita tidak bisa memaksakan cinta
bukan?
Dan dari sekian banyak
pria yang mengutarakan cinta padanya, hanya Namjoon yang menurutnya sangat
bersungguh-sungguh, dan membuat hatinya berdegup kencang.
Bagaimana tidak, pria
itu dengan sangat percaya dirinya mengutarakan cinta pada saat wisuda. Ah
tidak, dia bahkan melamar Sihyun saat itu juga, di depan para mahasiswa lain,
dosen, dan orang tua murid.
Gila bukan? Mungkin
itulah yang dipikirkan orang lain. Namun Sihyun berbeda, gadis itu seketika
menumpahkan air matanya karena terharu dengan lamaran Namjoon, dan berpikir
jika pria itu serius dengan ucapannya. Disaat orang lain menyatakan cinta hanya
untuk mengajaknya menjalin hubungan sekelas pacaran, Namjoon malah melamarnya
di depan banyak orang. MELAMAR. Dan coba pikirkan wanita mana yang tidak
terharu jika berada di posisi Sihyun? Jadi tidak ada alasan baginya untuk
menolak lamaran pria itu.
Bukan hanya Sihyun
saja, bahkan Siwon dan Young Ae saja dibuat terpesona dengan aksi heroik yang dilakukan Namjoon. Jangan
tanya lagi apa mereka menerimanya atau tidak, karena jika mereka tidak
menerimanya mana mungkin pernikahan Sihyun dan Namjoon berjalan sampai
sekarang. Meskipun sekarang ini Siwon dan Young Ae tidak tahu bahwa pernikahan
putrinya tengah di ambang kehancuran.
Bayangan masa lalu
terus saja berputar di benaknya seolah mengejeknya saat ini.
“Apa yang kau lakukan
disini Sihyun-ah?”
Sihyun buru-buru
mengusap air matanya saat mendengar seseorang menyapanya. Lantas segera menoleh
menatap si sosok yang menyapanya.
“O-oppa...” Gadis itu tergagap saat menemukan Jaekwon sudah berada
di hadapannya.
“Ya! kau menangis?
Kenapa wajahmu bengkak begitu?” tanya sang kakak mengintimindasi.
Ia menggelengkan
kepalanya sekuat tenaga agar Jaekwon tidak mencurigainya. Akan gawat jika
Jaekwon mengetahui tentang pernikahan Namjoon. Tapi apa yang sedang dilakukan
kakaknya di sini?
“Ngomong-ngomong apa
yang kau lakukan di sini oppa?”
Giliran Sihyun yang kini menginterogasi kakaknya.
“Ah aku baru saja
bertemu teman appa untuk membicarakan
sesuatu, hotel ini kan milik rekan kerjanya.”
Sontak saja Sihyun
tercengang mendengar penjelasan Jaekwon. Kenapa ia bisa lupa, kakaknya ini
sering mengunjungi beberapa hotel di Seoul untuk bertemu rekan kerja ayahnya.
“Sekarang sudah
selesai kan? Kajja kita pulang, aku
ridu dengan Minji,” ucap Sihyun begitu saja, lantas menarik tangan kakaknya
agar bangkit dari tempatnya.
“Ya ya ya, kenapa kau
malah menarikku seenaknya!” protes Jaekwon tanpa mendapat jawaban dari adiknya.
Dari kursi kemudi,
Jaekwon memicingkan mata menatap adiknya heran. “Kau belum menjawab
pertanyaanku loh Sihyun-ah.”
Sihyun menoleh
__ADS_1
menghadap kakaknya lantas memasang wajah sepolos mungkin. “Pertanyaan apa
memangnya? Tadi kau bertanya padaku ya?”
Jawaban Sihyun sontak
membuat Jaekwon memutar bola mata malas. Gadis ini suka sekali menyembunyikan
sesuatu darinya. Dan bodohnya ia tidak pernah berhasil mengelabuhi kakaknya.
“Katakan atau aku yang
mencari tahu sendiri?” ancamnya.
“Ah iya-iya aku akan
menjawabnya,” dumalnya. Bisa gawat kan jika Jaekwon mencari tahu kebenarannya.
“Aku menghadiri pesta pernikahan temanku.”
“Lalu kenapa
menangis?”
Sihyun menghela napas
sejenak. “Karena setelah menikah ia akan pergi ke London, dan tadi itu
pertemuan terakhirku dengannya, makanya aku menangis,” jawab Sihyun
berimprovisasi.
“Lalu sekarang ingin
bertemu Minji?” Jaekwon kembali bertanya, dan disambut anggukan antusias oleh
adiknya.
“Tentu saja, dan aku
akan menginap.”
“Ya, kau ini sudah
bersuami tahu, mana boleh kau seenaknya menginap tanpa seizinnya!” omel
Jaekwon.
“Ck! Memangnya tidak
boleh aku rindu keponakan manisku itu? Lagipula Namjoon sedang ada tugas di
luar kota.” Sekali lagi gadis itu berbohong pada Jaekwon. Beruntung pria itu
langsung terdiam tanpa berkata lagi.
Yah, memang sebaiknya
ia menghilang hari ini, menenangkan pikirannya sejenak. Sakit rasanya mengingat
Namjoon malam ini akan menghabiskan malam berdua dengan Jaein. Meskipun ia
sadar mungkin ini bukan kali pertama bagi mereka, namun tetap saja membuat
hatinya sakit.
…
Namjoon mengedarkan
pandangannya ke seluruh penjuru hall.
Matanya tengah sibuk menelisik satu-persatu tamu undangan yang ada di sana,
memisakan diri dari Jaein yang tengah duduk menerima ucapan selamat dari para
tamu undangan.
“Mencari apa?”
Tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara ibunya.
“Eoh? Tidak ada eomma,
hanya saja aku tidak melihat Sihyun dari tadi,” ucapnya terdengar gelisah di
telinga Yo Won.
Yo Won pun menghela
napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan putranya. “Dia bilang harus mengurus
sesuatu yang mendesak di café, jadi dia pergi terlebih dahulu,” jelas Yo Won
berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan jika Sihyun melarikan diri karena tidak
kuat menahan situasi menyesakkan seperti ini.
Terlihat gurat kecewa
di wajah Namjoon. Pria itu pun juga tahu alasan Sihyun pergi meninggalkan
tempat ini. Pria ini cukup pintar untuk menebak kemana arah jalan pikiran
istrinya itu. Sedalam-dalamnya ia menyembunyikan kesedihannya, Namjoon pasti
juga akan tahu.
Menurutnya sekarang
ini Sihyun sedang menuju tempat yang sepi, entah dimana itu, yang jelas tempat
yang tidak ada banyak orang, dan menangis sekencang-kencangnya untuk meluapkan
segala emosinya. Ya, tidak perlu ditanyakan lagi siapa yang menyebabkannya.
…
“Minji-ya…” seru Sihyun begitu memasuki
kediaman keluarga besar Choi.
Sedangkan Jaekwon yang
mengikuti di belakangnya hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan adiknya yang
terkadang tidak ingat umur.
“Ya, jangan berisik!”
Tanpa mengindahkan
ucapan kakaknya ia terus saja melenggang meninggalkan Jaekwon yang masih
mengoceh di belakang.
“Ah pantas saja
berisik, ternyata ada putri appa, eoh?” tukas Siwon yang tahu-tahu sudah
keluar dari ruang kerjanya.
“Ehehe seberisik
__ADS_1
itukah appa?” jawab Sihyun dengan
senyum kikuk di wajahnya, lantas segera menghambur ke pelukan ayahnya.
“Apa kau baru sadar
kalau kau berisik?” celetuk Jaekwon yang sontak mengundang tatapan tajam dari
adiknya. Yah begitulah kelakuan kakak adik ini. Jika salah satu tidak ada, maka
rasa rindu akan menghampiri. Namun jika sudah bertemu, maka akan terlihat
seperti kucing dan tikus seperti ini.
“Ck! Diamlah oppa!”
“Hey sudah-sudah,
kenapa jadi bertengkar? Putri appa darimana,
kenapa bisa datang dengan oppa?”
“Tadi bertemu denganku
di hotel tuan Lee appa.” Ya, itu
Jaekwon yang menjawab.
“Benarkah? Sihyun
sedang apa di sana?”
“Menghadiri pernikahan
temanku, lalu oppa datang
menggangguku,” jawab Sihyun mengadu pada Siwon.
Siwon hanya bisa
menahan tawa mendengar jawaban putrinya itu. Sedangkan Jaekwon sudah sibuk
mencibir tanpa suara, dan melenggang menuju kamarnya.
“Wah ada Sihyun
rupanya, pantas saja appa meninggalkan
pekerjaannya begitu saja,” sindir Young Ae yang kini telah duduk di samping
suaminya. Siwon pun hanya bisa terkekeh melihat istrinya.
“Memangnya tidak boleh
merindukan putriku sendiri?” ujar Siwon lantas merangkul pinggang Young Ae dan
mencium pipinya.
“Baiklah baiklah
terserahmu saja,” jawab Young Ae sembari menyandarkan kepala di pundak
suaminya.
Sihyun hanya bisa
memandangi kedua orang tuanya dalam diam. Dalam hatinya sangat iri. Di usia
yang tidak lagi muda, mereka masih bisa mempertahankan pernikahannya, dan
bahkan semakin romantis. Tidak seperti Sihyun, di usia tiga tahun pernikahannya
namun sudah diterpa banyak sekali kemelut.
…
“Hari ini bibi tidur
dengan Minji yah, bibi sangat rindu keponakan manis bibi,” ucapnya pada Minji
yang kini sudah ada di pangkuannya.
“Kalau bibi rindu kenapa
tidak bawakan aku es krim?” protesnya dengan melipat tangan di dadanya yang
sontak saja mengundang tawa geli Sihyun.
“Baiklah, sebagai
gantinya besok pagi bibi belikan es krim, oke?”
“Yes, bibi boleh tidur denganku kalau begitu,” tukasnya riang.
Dasar Minji. Selalu
saja licik seperti ayahnya. Yah walaupun begitu ia sangat menyayanginya. Sudah
ku bilang kan terkadang Sihyun menganggap gadis ini seperti putrinya sendiri?
Sihyun mengusap lembut
surai Minji. Iya, gadis itu kini terlelap setelah mengajak bibinya bersenda
gurau. Pandangan Sihyun tertuju pada langit-langit kamar Minji yang dihiasi
dengan gambar bintang dan bulan. Pikirannya menerawang jauh, memikirkan
kira-kira sekarang ini apa yang sedang Namjoon dan Jaein lakukan.
Kembali air mata
mengalir membasahi pipinya tanpa diperintah. Entah ini sudah yang keberapa
kalinya Sihyun menumpahkan air matanya. Mungkin jika persediaan air mata
miliknya terbatas, sudah bisa dipastikan akan habis saat ini juga karena
terlalu banyak ia tumpahkan.
Mulai saat ini Sihyun
harus bisa menerima, mungkin ia bukan lagi menjadi prioritas utama Namjoon
mengingat pria itu pasti akan lebih memperhatikan istri mudanya yang tengah
mengandung. Ia pun harus bisa menerima jika pada akhirnya harus tidur sendiri
setiap malamnya.
Yah, seperti inilah
kehidupan pernikahan seorang Choi Sihyun yang begitu memilukan. Setelah sekian
lama diperjuangkan, namun kini harus dihempas sedalam-dalamnya.
…
16 Januari 2020 - Itsmehyuna_
__ADS_1