Our Marriage

Our Marriage
Chapter 14


__ADS_3

Kini Sihyun tengah


mendudukkan dirinya di salah satu gazebo yang


berada di taman hotel tersebut. Tangisnya sudah tidak bisa terbendung lagi.


Jika tidak ingat masih ada orang lain di sini, mungkin ia sudah meraung


sekeras-kerasnya meneriaki nama Namjoon.


Mana pernah ia


menyangka jika suatu saat nanti Namjoon akan menduakannya. Mana pernah ia


mengira jika Namjoon akan memilih gadis lain untuk mengandung buah cintanya. Ia


benar-benar merasa gagal menjadi seorang istri untuk Namjoon-nya. Iya


Namjoon-nya, cinta pertama Sihyun.


Meskipun Namjoon


adalah cinta pertama Sihyun, bukan berarti tidak ada pria lain yang


menyukainya. Jangan bercanda. Sihyun adalah gadis cantik yang menuruni dimple sang ayah, dan wajah cantik


ibunya. Jadi tidak sedikit pria yang mengutarakan cinta pada gadis itu. Namun


secara halus ia menolak. Bukan karena ia sombong, tapi tidak ada satupun dari


mereka yang membuat hatinya berdebar. Lagipula kita tidak bisa memaksakan cinta


bukan?


Dan dari sekian banyak


pria yang mengutarakan cinta padanya, hanya Namjoon yang menurutnya sangat


bersungguh-sungguh, dan membuat hatinya berdegup kencang.


Bagaimana tidak, pria


itu dengan sangat percaya dirinya mengutarakan cinta pada saat wisuda. Ah


tidak, dia bahkan melamar Sihyun saat itu juga, di depan para mahasiswa lain,


dosen, dan orang tua murid.


Gila bukan? Mungkin


itulah yang dipikirkan orang lain. Namun Sihyun berbeda, gadis itu seketika


menumpahkan air matanya karena terharu dengan lamaran Namjoon, dan berpikir


jika pria itu serius dengan ucapannya. Disaat orang lain menyatakan cinta hanya


untuk mengajaknya menjalin hubungan sekelas pacaran, Namjoon malah melamarnya


di depan banyak orang. MELAMAR. Dan coba pikirkan wanita mana yang tidak


terharu jika berada di posisi Sihyun? Jadi tidak ada alasan baginya untuk


menolak lamaran pria itu.


Bukan hanya Sihyun


saja, bahkan Siwon dan Young Ae saja dibuat terpesona dengan aksi heroik yang dilakukan Namjoon. Jangan


tanya lagi apa mereka menerimanya atau tidak, karena jika mereka tidak


menerimanya mana mungkin pernikahan Sihyun dan Namjoon berjalan sampai


sekarang. Meskipun sekarang ini Siwon dan Young Ae tidak tahu bahwa pernikahan


putrinya tengah di ambang kehancuran.


Bayangan masa lalu


terus saja berputar di benaknya seolah mengejeknya saat ini.


“Apa yang kau lakukan


disini Sihyun-ah?”


Sihyun buru-buru


mengusap air matanya saat mendengar seseorang menyapanya. Lantas segera menoleh


menatap si sosok yang menyapanya.


“O-oppa...” Gadis itu tergagap saat menemukan Jaekwon sudah berada


di hadapannya.


“Ya! kau menangis?


Kenapa wajahmu bengkak begitu?” tanya sang kakak mengintimindasi.


Ia menggelengkan


kepalanya sekuat tenaga agar Jaekwon tidak mencurigainya. Akan gawat jika


Jaekwon mengetahui tentang pernikahan Namjoon. Tapi apa yang sedang dilakukan


kakaknya di sini?


“Ngomong-ngomong apa


yang kau lakukan di sini oppa?”


Giliran Sihyun yang kini menginterogasi kakaknya.


“Ah aku baru saja


bertemu teman appa untuk membicarakan


sesuatu, hotel ini kan milik rekan kerjanya.”


Sontak saja Sihyun


tercengang mendengar penjelasan Jaekwon. Kenapa ia bisa lupa, kakaknya ini


sering mengunjungi beberapa hotel di Seoul untuk bertemu rekan kerja ayahnya.


“Sekarang sudah


selesai kan? Kajja kita pulang, aku


ridu dengan Minji,” ucap Sihyun begitu saja, lantas menarik tangan kakaknya


agar bangkit dari tempatnya.


“Ya ya ya, kenapa kau


malah menarikku seenaknya!” protes Jaekwon tanpa mendapat jawaban dari adiknya.


Dari kursi kemudi,


Jaekwon memicingkan mata menatap adiknya heran. “Kau belum menjawab


pertanyaanku loh Sihyun-ah.”


Sihyun menoleh

__ADS_1


menghadap kakaknya lantas memasang wajah sepolos mungkin. “Pertanyaan apa


memangnya? Tadi kau bertanya padaku ya?”


Jawaban Sihyun sontak


membuat Jaekwon memutar bola mata malas. Gadis ini suka sekali menyembunyikan


sesuatu darinya. Dan bodohnya ia tidak pernah berhasil mengelabuhi kakaknya.


“Katakan atau aku yang


mencari tahu sendiri?” ancamnya.


“Ah iya-iya aku akan


menjawabnya,” dumalnya. Bisa gawat kan jika Jaekwon mencari tahu kebenarannya.


“Aku menghadiri pesta pernikahan temanku.”


“Lalu kenapa


menangis?”


Sihyun menghela napas


sejenak. “Karena setelah menikah ia akan pergi ke London, dan tadi itu


pertemuan terakhirku dengannya, makanya aku menangis,” jawab Sihyun


berimprovisasi.


“Lalu sekarang ingin


bertemu Minji?” Jaekwon kembali bertanya, dan disambut anggukan antusias oleh


adiknya.


“Tentu saja, dan aku


akan menginap.”


“Ya, kau ini sudah


bersuami tahu, mana boleh kau seenaknya menginap tanpa seizinnya!” omel


Jaekwon.


“Ck! Memangnya tidak


boleh aku rindu keponakan manisku itu? Lagipula Namjoon sedang ada tugas di


luar kota.” Sekali lagi gadis itu berbohong pada Jaekwon. Beruntung pria itu


langsung terdiam tanpa berkata lagi.


Yah, memang sebaiknya


ia menghilang hari ini, menenangkan pikirannya sejenak. Sakit rasanya mengingat


Namjoon malam ini akan menghabiskan malam berdua dengan Jaein. Meskipun ia


sadar mungkin ini bukan kali pertama bagi mereka, namun tetap saja membuat


hatinya sakit.



Namjoon mengedarkan


pandangannya ke seluruh penjuru hall.


Matanya tengah sibuk menelisik satu-persatu tamu undangan yang ada di sana,


memisakan diri dari Jaein yang tengah duduk menerima ucapan selamat dari para


tamu undangan.


“Mencari apa?”


Tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara ibunya.


“Eoh? Tidak ada eomma,


hanya saja aku tidak melihat Sihyun dari tadi,” ucapnya terdengar gelisah di


telinga Yo Won.


Yo Won pun menghela


napas sejenak sebelum menjawab pertanyaan putranya. “Dia bilang harus mengurus


sesuatu yang mendesak di café, jadi dia pergi terlebih dahulu,” jelas Yo Won


berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan jika Sihyun melarikan diri karena tidak


kuat menahan situasi menyesakkan seperti ini.


Terlihat gurat kecewa


di wajah Namjoon. Pria itu pun juga tahu alasan Sihyun pergi meninggalkan


tempat ini. Pria ini cukup pintar untuk menebak kemana arah jalan pikiran


istrinya itu. Sedalam-dalamnya ia menyembunyikan kesedihannya, Namjoon pasti


juga akan tahu.


Menurutnya sekarang


ini Sihyun sedang menuju tempat yang sepi, entah dimana itu, yang jelas tempat


yang tidak ada banyak orang, dan menangis sekencang-kencangnya untuk meluapkan


segala emosinya. Ya, tidak perlu ditanyakan lagi siapa yang menyebabkannya.



“Minji-ya…” seru Sihyun begitu memasuki


kediaman keluarga besar Choi.


Sedangkan Jaekwon yang


mengikuti di belakangnya hanya bisa geleng kepala melihat kelakuan adiknya yang


terkadang tidak ingat umur.


“Ya, jangan berisik!”


Tanpa mengindahkan


ucapan kakaknya ia terus saja melenggang meninggalkan Jaekwon yang masih


mengoceh di belakang.


“Ah pantas saja


berisik, ternyata ada putri appa, eoh?” tukas Siwon yang tahu-tahu sudah


keluar dari ruang kerjanya.


“Ehehe seberisik

__ADS_1


itukah appa?” jawab Sihyun dengan


senyum kikuk di wajahnya, lantas segera menghambur ke pelukan ayahnya.


“Apa kau baru sadar


kalau kau berisik?” celetuk Jaekwon yang sontak mengundang tatapan tajam dari


adiknya. Yah begitulah kelakuan kakak adik ini. Jika salah satu tidak ada, maka


rasa rindu akan menghampiri. Namun jika sudah bertemu, maka akan terlihat


seperti kucing dan tikus seperti ini.


“Ck! Diamlah oppa!”


“Hey sudah-sudah,


kenapa jadi bertengkar? Putri appa darimana,


kenapa bisa datang dengan oppa?”


“Tadi bertemu denganku


di hotel tuan Lee appa.” Ya, itu


Jaekwon yang menjawab.


“Benarkah? Sihyun


sedang apa di sana?”


“Menghadiri pernikahan


temanku, lalu oppa datang


menggangguku,” jawab Sihyun mengadu pada Siwon.


Siwon hanya bisa


menahan tawa mendengar jawaban putrinya itu. Sedangkan Jaekwon sudah sibuk


mencibir tanpa suara, dan melenggang menuju kamarnya.


“Wah ada Sihyun


rupanya, pantas saja appa meninggalkan


pekerjaannya begitu saja,” sindir Young Ae yang kini telah duduk di samping


suaminya. Siwon pun hanya bisa terkekeh melihat istrinya.


“Memangnya tidak boleh


merindukan putriku sendiri?” ujar Siwon lantas merangkul pinggang Young Ae dan


mencium pipinya.


“Baiklah baiklah


terserahmu saja,” jawab Young Ae sembari menyandarkan kepala di pundak


suaminya.


Sihyun hanya bisa


memandangi kedua orang tuanya dalam diam. Dalam hatinya sangat iri. Di usia


yang tidak lagi muda, mereka masih bisa mempertahankan pernikahannya, dan


bahkan semakin romantis. Tidak seperti Sihyun, di usia tiga tahun pernikahannya


namun sudah diterpa banyak sekali kemelut.



“Hari ini bibi tidur


dengan Minji yah, bibi sangat rindu keponakan manis bibi,” ucapnya pada Minji


yang kini sudah ada di pangkuannya.


“Kalau bibi rindu kenapa


tidak bawakan aku es krim?” protesnya dengan melipat tangan di dadanya yang


sontak saja mengundang tawa geli Sihyun.


“Baiklah, sebagai


gantinya besok pagi bibi belikan es krim, oke?”


“Yes, bibi boleh tidur denganku kalau begitu,” tukasnya riang.


Dasar Minji. Selalu


saja licik seperti ayahnya. Yah walaupun begitu ia sangat menyayanginya. Sudah


ku bilang kan terkadang Sihyun menganggap gadis ini seperti putrinya sendiri?


Sihyun mengusap lembut


surai Minji. Iya, gadis itu kini terlelap setelah mengajak bibinya bersenda


gurau. Pandangan Sihyun tertuju pada langit-langit kamar Minji yang dihiasi


dengan gambar bintang dan bulan. Pikirannya menerawang jauh, memikirkan


kira-kira sekarang ini apa yang sedang Namjoon dan Jaein lakukan.


Kembali air mata


mengalir membasahi pipinya tanpa diperintah. Entah ini sudah yang keberapa


kalinya Sihyun menumpahkan air matanya. Mungkin jika persediaan air mata


miliknya terbatas, sudah bisa dipastikan akan habis saat ini juga karena


terlalu banyak ia tumpahkan.


Mulai saat ini Sihyun


harus bisa menerima, mungkin ia bukan lagi menjadi prioritas utama Namjoon


mengingat pria itu pasti akan lebih memperhatikan istri mudanya yang tengah


mengandung. Ia pun harus bisa menerima jika pada akhirnya harus tidur sendiri


setiap malamnya.


Yah, seperti inilah


kehidupan pernikahan seorang Choi Sihyun yang begitu memilukan. Setelah sekian


lama diperjuangkan, namun kini harus dihempas sedalam-dalamnya.



 


 


16 Januari 2020 - Itsmehyuna_

__ADS_1


__ADS_2