Our Marriage

Our Marriage
Chapter 12


__ADS_3

Seperti yang telah


dijanjikan, akhirnya Kim Jungwoo memajukan tanggal pernikahan Namjoon dan


Jaein. Selain untuk menyetujui permintaan nyonya Song, Jungwoo ingin


menghindari gosip miring tentang putranya. Mengingat Jungwoo adalah pemilik


perusahaan ternama di Korea. Ya, meskipun gosip itu memang benar adanya, namun


Jungwoo masih ingin melindungi reputasi putra semata wayangnya.


Semua persiapan yang


dilakukan sudah hampir selesai. Untuk masalah gaun penikahan, Jungwoo


menyerahkan tugas itu pada sang istri, Yo Won. Namun Sihyun meminta tugas itu


agar diserahkan padanya saja. Jungwoo dan Yo Won jelas menolaknya, tetapi bukan


Sihyun namanya jika gadis itu tidak keras kepala. Jadilah kedua mertuanya itu


terpaksa menyetujuinya.


Sihyun serius


memusatkan pandangannya pada deretan gaun pengantin yang ditunjukan seorang


pramuniaga padanya. Sejujurnya gadis ini tengah bingung akan memilih gaun yang


mana, karena semua sangat cantik. Dan bayangkan saja jika gaun tersebut


membalut tubuh Jaein, pasti akan terlihat lebih indah lagi.


Sihyun menoleh menatap


Jaein yang juga sedang terpesona dengan keindahan gaun yang ada di sana.


Seketika senyum Sihyun mengembang. Melihat reaksi yang ditunjukkan Jaein,


memaksa otaknya untuk kembali pada tiga tahun yang lalu, saat dirinya juga


sedang memilih gaun pengantin dengan Yo Won yang menemaninya.


Gadis itu sangat


antusias. Tidak menyangka pada akhirnya ia akan sampai pada tahap pernikahan,


sama seperti yang sedang dirasakan Jaein saat ini.


Hampir saja cairan


bening meluncur membasahi pipi Sihyun jika ia tidak segera menyeka saat Jaein


memanggilnya.


“Sudah menemukan


pilihanmu Jaein-ah?”


Jaein mengangguk dan


menyunggingkan senyum di bibirnya seraya menunjuk gaun yang ada ditengah-tengah


gaun lainnya. Sihyun pun berjalan mendekati gaun yang ditunjuk Jaein. Memang


indah. Jujur saja Sihyun juga menaruh hati pada gaun tersebut sejak pertama


sang pramuniaga mengajaknya masuk ke tempat display.


“Bagus Jaein-ah, apa kau suka yang ini?”


Jaein tersenyum malu


saat akan menjawab pertanyaan Sihyun. Benar-benar seperti dirinya saat memilih


gaun dengan calon mertuanya dulu.


“Sihyun­-ah, gaun mana yang kau inginkan hum? Atau jangan-jangan tidak sesuai


dengan seleramu ya?” tanya Yo Won pada Sihyun yang tengah sibuk mengamati dua


gaun pilihan mertuanya.


“Ah


tidak eommonim,” jawab Sihyun seketika saat mendengar


ucapan Yo Won. “Hanya saja aku tidak bisa menentukan pilihan karena semuanya


sangat bagus.” lanjut Sihyun dengan sedikit malu. Maklum saja jika berdua


dengan calon mertuanya, gadis ini memang sering malu.


“Aigoo, apa perlu kita beli saja semuanya?” tawar Yo


Won seketika membuat Sihyun tercengang.


“Tidak-tidak eommonim, aku akan pilih satu.” Gadis itu pun


langsung menggelengkan kepalanya, dan itu membuat Yo Won tersenyum gemas dengan


tingkah calon menantunya.


“Em,


apa aku boleh minta pendapat Namjoon eommonim?”


Yo


Won tersenyum. “Tentu saja boleh Sihyun-ah. Ngomong-ngomong kau bisa panggil eomma saja, lagipula sebentar lagi kau akan jadi putriku kan?”


Mendengarnya


pipi Sihyun pun bersemu merah karena malu. Yo Won memang selalu punya cara


tersendiri untuk menggoda calon menantunya.


“Iya eonni, aku sangat menyukainya. Tapi


harganya‒” Jaein menghentikan kalimatnya.


Mengerti akan hal itu,


Sihyun segera mengecek label harga yang tertera di sana. Memang lebih mahal


dari yang lainnya. Namun untuk acara yang special seperti ini, harga mahal pun tidak masalah asal gadis itu bahagia.


“Baiklah, kami ambil

__ADS_1


yang ini,” ucap Sihyun pada sang pramuniaga.


“Tidak eonni, lebih baik kita beli yang murah


saja,” sangkal Jaein.


Sihyun pun tersenyum


memandang Jaein. “Kita harus memilih yang terbaik untuk acara penting Jaein-ah. Kesempatan seperti ini hanya seumur hidup


sekali, jadi kau tidak akan menyesal di kemudian hari.


Seketika Jaein terdiam


karena jawaban tak terduga dari Sihyun. Gadis itu menatap lekat Sihyun yang


sedang membayar gaun miliknya. Hatinya berdesir, dalam benaknya berpikir


bagaimana mungkin ada wanita sebaik Sihyun.


Sebenarnya Sihyun


adalah korban dari semua kesalahan yang telah dilakukan olehnya dan Namjoon.


Tapi entah mengapa wanita itu bisa sangat tegar. Dan bahkan dengan suka rela


menemani dan membantu semua yang Jaein butuhkan. Membayangkannya saja hati


Jaein serasa teriris. Membuatnya merasa buruk.


Tapi mau bagaimana


lagi? Tidak mungkin juga ia menutupi aib selamanya. Sedalam-dalamnya bangkai


dikubur pasti akan tercium baunya. Dan lagi, anak dalam kandungannya harus


mendapat pengakuan dan status yang jelas dari keluarga ayahnya. Meskipun


sedikit merasa bersalah, ia juga harus berjuang demi bayinya.



Sihyun merebahkan


tubuhnya di atas ranjang seolah sudah lama tidak melakukannya. Wanita itu


merasa sangat lelah setelah seharian ini menemani Jaein membeli kebutuhan


pernikahannya. Ia menutup mata sejenak, melepaskan penat yang dirasakannya.


Sebenarnya dia masih


punya kewajiban menyiapkan makan malam untuk Namjoon, Jaein, dan nyonya Song,


namun entah kenapa rasa malas menghampirinya. Sedari tadi punggungnya meronta


ingin direbahkan.


“Sihyun-ah kau kenapa?”


Seketika ia membuka


mata saat terdengar suara berat Namjoon menyapa telinganya. Pria itu


mendudukkan bokongnya di sisi tempat tidur Sihyun, lantas mengusap sayang


puncak kepala sang istri.


menjawab, Sihyun malah terdiam. Ia menyelami tatapan sendu milik Namjoon yang


sudah jarang sekali ia dapatkan sejak Jungwoo menetapkan tanggal pernikahannya


dengan Jaein. Wanita itu benar-benar terlena dengan usapan sang suami di kepalanya,


sangat nyaman.


Ingin sekali ia


menghambur ke pelukan Namjoon seperti yang sering ia lakukan sebelum semua


kemelut ini menghampiri kehidupan rumah tangganya. Sungguh ia merindukan


saat-saat berdua dengan Namjoon.


“Apa kau sakit?” Kini


ia kembali tersadar saat tangan lebar Namjoon menyentuh keningnya, memastikan


suhu tubuh Sihyun tidak melampaui batas.


Detik berikutnya


Sihyun memilih bangun dan duduk di samping Namjoon. “Aku baik-baik saja Joon,


hanya sedikit merasa lelah,” ucapnya tidak lupa menunjukan senyum terbaik yang


ia miliki, senyum yang dulu membuat


Namjoon terjatuh dalam pesonanya. Iya, dulu sebelum Jaein datang dan


mengacaukan hati pria itu.


Jawaban Sihyun membuat


sudat matanya berkedut. Bagaimana tidak? Ini pernikahannya dengan Jaein, namun


wanita itu malah ikut menyibukkan diri, turut ambil bagian mengurus semua


keperluan Jaein.


Bukankah Namjoon


terlihat sangat jahat sekarang ini. Pria ini benar-benar tidak tahu bagaimana


caranya bersyukur karena mempunyai istri berhati malaikat seperti Sihyun yang


bahkan rela membagi suaminya dan mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi


suaminya. Demi Namjoon, catat itu.


“Aku akan menyiapkan


air hangat untukmu,” ucapnya lantas beranjak menuju kamar mandi. Sedangkan


Namjoon masih tenggelam dengan pemikirannya.


Ia merasa akhir-akhir


ini hubungannya dengan Sihyun sedikit renggang. Jika dulu sepulang mengajar

__ADS_1


Namjoon disambut dengan aroma sedap masakan Sihyun, dan disusul sang istri yang


bergelayut manja padanya sambil sesekali mengoceh menceritakan apa saja kegiatan


yang ia lakukan selama sehari ini.


Sekarang? Setiap hari


ia harus terpaksa menatap wajah kelelahan Sihyun. Wanita itu menjadi irit


bicara. Bahkan ia tidak repot mengeluarkan suaranya, tidak lagi cerewet seperti


dulu. Namjoon akan mendengar suara Sihyun baru jika ia bertanya, dan saat


wanita itu mengatakan makan malam sudah siap.


Siapapun tolong


sadarkan Kim Namjoon bahwa ialah penyebab diamnya sang istri, jika pria itu


lupa.



“Eommonim makan malam sudah siap,” ujar Sihyun setelah mengetuk


pintu kamar nyonya Song.


Detik berikutnya ia


mendengar derap langkah kaki mendekat, dan pintu di hadapannya pun terbuka.


Menunjukkan wajah nyonya Song. Sihyun pun menyambutnya dengan senyuman.


“Bawakan makananku ke


atas, aku ingin makan di sini saja.”


Sihyun mengerjapkan


matanya seketika. “Ne?”


“Apa kau tidak dengar?


Aku tidak mau turun ke bawah, kau bawakan saja makananku kemari,” Ketus Yoon Ah


lantas kembali menutup pintu kamarnya.


Sedangkan Sihyun masih


membeku di depan pintu kamar Yoon Ah. Ia pun menghela napas kemudian beranjak


kembali ke dapur. Pikir positif saja,


mungkin eomma lelah.


Setelah selesai


mengantar makanan pada Yoon Ah, ia melihat Namjoon sudah duduk dengan nyaman di


depan meja makan.


Begitu mendengar suara


langkah Sihyun, pria itu menoleh dan menatap sang istri.


“Dimana eomma dan Jaein?” tanya Namjoon.


“Aku yang mengatakan


pada Jaein dan eomma tidak perlu


turun. Kurasa mereka sangat lelah hari ini. Jadi tolong kau bawakan makanan


untuk Jaein,” ucap Sihyun bohong sembari menyiapkan makanan milik Jaein.


Namjoon menyipitkan


matanya saat melihat isi nampan yang Sihyun siapkan. “Kenapa banyak sekali?


Memangnya Jaein sanggup menghabiskannya?”


Sihyun tersenyum dan


mengulurkan nampan itu pada Namjoon. “Tentu saja kau harus menemaninya makan


Joon,” jawabnya enteng. Sontak saja Namjoon terbelalak.


“Lalu bagaimana


denganmu?”


“Gwaenchana, aku akan makan sendiri. Saat ini Jaein yang paling


penting. ”


Jawaban Sihyun sontak


mampu mengiris ulu hati Namjoon. Pria itu merasa tersindir oleh kalimat yang


diucapkan istrinya. Wanita itu ada benarnya kan, Namjoon memang mengesampingkan


Sihyun dan memilih bersenang-senang dengan Jaein.


“Kenapa malah melamun?


Sudah sana, nanti Jaein dan bayinya kelaparan,” titah Sihyun sambil sedikit


mendorong tubuh pria itu agar segera beranjak menuju kamar Jaein.


Pada akhirnya Namjoon


pun menuruti Sihyun dan berjalan menuju kamar calon istrinya.


Sepeninggal Namjoon,


tiba-tiba saja air mata menetes di pipinya tanpa diperintah. Secara perlahan ia


semakin kehilangan sosok Namjoon yang dulu hanya memusatkan perhatian padanya.


Hatinya sangat sakit, benar-benar sakit. Namun ia harus bertahan, bagaimanapun


juga ia yang memohon pada Jungwoo untuk mengabulkan permintaannya.



 


 

__ADS_1


13 Januari 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2