
Seperti yang telah
dijanjikan, akhirnya Kim Jungwoo memajukan tanggal pernikahan Namjoon dan
Jaein. Selain untuk menyetujui permintaan nyonya Song, Jungwoo ingin
menghindari gosip miring tentang putranya. Mengingat Jungwoo adalah pemilik
perusahaan ternama di Korea. Ya, meskipun gosip itu memang benar adanya, namun
Jungwoo masih ingin melindungi reputasi putra semata wayangnya.
Semua persiapan yang
dilakukan sudah hampir selesai. Untuk masalah gaun penikahan, Jungwoo
menyerahkan tugas itu pada sang istri, Yo Won. Namun Sihyun meminta tugas itu
agar diserahkan padanya saja. Jungwoo dan Yo Won jelas menolaknya, tetapi bukan
Sihyun namanya jika gadis itu tidak keras kepala. Jadilah kedua mertuanya itu
terpaksa menyetujuinya.
Sihyun serius
memusatkan pandangannya pada deretan gaun pengantin yang ditunjukan seorang
pramuniaga padanya. Sejujurnya gadis ini tengah bingung akan memilih gaun yang
mana, karena semua sangat cantik. Dan bayangkan saja jika gaun tersebut
membalut tubuh Jaein, pasti akan terlihat lebih indah lagi.
Sihyun menoleh menatap
Jaein yang juga sedang terpesona dengan keindahan gaun yang ada di sana.
Seketika senyum Sihyun mengembang. Melihat reaksi yang ditunjukkan Jaein,
memaksa otaknya untuk kembali pada tiga tahun yang lalu, saat dirinya juga
sedang memilih gaun pengantin dengan Yo Won yang menemaninya.
Gadis itu sangat
antusias. Tidak menyangka pada akhirnya ia akan sampai pada tahap pernikahan,
sama seperti yang sedang dirasakan Jaein saat ini.
Hampir saja cairan
bening meluncur membasahi pipi Sihyun jika ia tidak segera menyeka saat Jaein
memanggilnya.
“Sudah menemukan
pilihanmu Jaein-ah?”
Jaein mengangguk dan
menyunggingkan senyum di bibirnya seraya menunjuk gaun yang ada ditengah-tengah
gaun lainnya. Sihyun pun berjalan mendekati gaun yang ditunjuk Jaein. Memang
indah. Jujur saja Sihyun juga menaruh hati pada gaun tersebut sejak pertama
sang pramuniaga mengajaknya masuk ke tempat display.
“Bagus Jaein-ah, apa kau suka yang ini?”
Jaein tersenyum malu
saat akan menjawab pertanyaan Sihyun. Benar-benar seperti dirinya saat memilih
gaun dengan calon mertuanya dulu.
“Sihyun-ah, gaun mana yang kau inginkan hum? Atau jangan-jangan tidak sesuai
dengan seleramu ya?” tanya Yo Won pada Sihyun yang tengah sibuk mengamati dua
gaun pilihan mertuanya.
“Ah
tidak eommonim,” jawab Sihyun seketika saat mendengar
ucapan Yo Won. “Hanya saja aku tidak bisa menentukan pilihan karena semuanya
sangat bagus.” lanjut Sihyun dengan sedikit malu. Maklum saja jika berdua
dengan calon mertuanya, gadis ini memang sering malu.
“Aigoo, apa perlu kita beli saja semuanya?” tawar Yo
Won seketika membuat Sihyun tercengang.
“Tidak-tidak eommonim, aku akan pilih satu.” Gadis itu pun
langsung menggelengkan kepalanya, dan itu membuat Yo Won tersenyum gemas dengan
tingkah calon menantunya.
“Em,
apa aku boleh minta pendapat Namjoon eommonim?”
Yo
Won tersenyum. “Tentu saja boleh Sihyun-ah. Ngomong-ngomong kau bisa panggil eomma saja, lagipula sebentar lagi kau akan jadi putriku kan?”
Mendengarnya
pipi Sihyun pun bersemu merah karena malu. Yo Won memang selalu punya cara
tersendiri untuk menggoda calon menantunya.
“Iya eonni, aku sangat menyukainya. Tapi
harganya‒” Jaein menghentikan kalimatnya.
Mengerti akan hal itu,
Sihyun segera mengecek label harga yang tertera di sana. Memang lebih mahal
dari yang lainnya. Namun untuk acara yang special seperti ini, harga mahal pun tidak masalah asal gadis itu bahagia.
“Baiklah, kami ambil
__ADS_1
yang ini,” ucap Sihyun pada sang pramuniaga.
“Tidak eonni, lebih baik kita beli yang murah
saja,” sangkal Jaein.
Sihyun pun tersenyum
memandang Jaein. “Kita harus memilih yang terbaik untuk acara penting Jaein-ah. Kesempatan seperti ini hanya seumur hidup
sekali, jadi kau tidak akan menyesal di kemudian hari.
Seketika Jaein terdiam
karena jawaban tak terduga dari Sihyun. Gadis itu menatap lekat Sihyun yang
sedang membayar gaun miliknya. Hatinya berdesir, dalam benaknya berpikir
bagaimana mungkin ada wanita sebaik Sihyun.
Sebenarnya Sihyun
adalah korban dari semua kesalahan yang telah dilakukan olehnya dan Namjoon.
Tapi entah mengapa wanita itu bisa sangat tegar. Dan bahkan dengan suka rela
menemani dan membantu semua yang Jaein butuhkan. Membayangkannya saja hati
Jaein serasa teriris. Membuatnya merasa buruk.
Tapi mau bagaimana
lagi? Tidak mungkin juga ia menutupi aib selamanya. Sedalam-dalamnya bangkai
dikubur pasti akan tercium baunya. Dan lagi, anak dalam kandungannya harus
mendapat pengakuan dan status yang jelas dari keluarga ayahnya. Meskipun
sedikit merasa bersalah, ia juga harus berjuang demi bayinya.
…
Sihyun merebahkan
tubuhnya di atas ranjang seolah sudah lama tidak melakukannya. Wanita itu
merasa sangat lelah setelah seharian ini menemani Jaein membeli kebutuhan
pernikahannya. Ia menutup mata sejenak, melepaskan penat yang dirasakannya.
Sebenarnya dia masih
punya kewajiban menyiapkan makan malam untuk Namjoon, Jaein, dan nyonya Song,
namun entah kenapa rasa malas menghampirinya. Sedari tadi punggungnya meronta
ingin direbahkan.
“Sihyun-ah kau kenapa?”
Seketika ia membuka
mata saat terdengar suara berat Namjoon menyapa telinganya. Pria itu
mendudukkan bokongnya di sisi tempat tidur Sihyun, lantas mengusap sayang
puncak kepala sang istri.
menjawab, Sihyun malah terdiam. Ia menyelami tatapan sendu milik Namjoon yang
sudah jarang sekali ia dapatkan sejak Jungwoo menetapkan tanggal pernikahannya
dengan Jaein. Wanita itu benar-benar terlena dengan usapan sang suami di kepalanya,
sangat nyaman.
Ingin sekali ia
menghambur ke pelukan Namjoon seperti yang sering ia lakukan sebelum semua
kemelut ini menghampiri kehidupan rumah tangganya. Sungguh ia merindukan
saat-saat berdua dengan Namjoon.
“Apa kau sakit?” Kini
ia kembali tersadar saat tangan lebar Namjoon menyentuh keningnya, memastikan
suhu tubuh Sihyun tidak melampaui batas.
Detik berikutnya
Sihyun memilih bangun dan duduk di samping Namjoon. “Aku baik-baik saja Joon,
hanya sedikit merasa lelah,” ucapnya tidak lupa menunjukan senyum terbaik yang
ia miliki, senyum yang dulu membuat
Namjoon terjatuh dalam pesonanya. Iya, dulu sebelum Jaein datang dan
mengacaukan hati pria itu.
Jawaban Sihyun membuat
sudat matanya berkedut. Bagaimana tidak? Ini pernikahannya dengan Jaein, namun
wanita itu malah ikut menyibukkan diri, turut ambil bagian mengurus semua
keperluan Jaein.
Bukankah Namjoon
terlihat sangat jahat sekarang ini. Pria ini benar-benar tidak tahu bagaimana
caranya bersyukur karena mempunyai istri berhati malaikat seperti Sihyun yang
bahkan rela membagi suaminya dan mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi
suaminya. Demi Namjoon, catat itu.
“Aku akan menyiapkan
air hangat untukmu,” ucapnya lantas beranjak menuju kamar mandi. Sedangkan
Namjoon masih tenggelam dengan pemikirannya.
Ia merasa akhir-akhir
ini hubungannya dengan Sihyun sedikit renggang. Jika dulu sepulang mengajar
__ADS_1
Namjoon disambut dengan aroma sedap masakan Sihyun, dan disusul sang istri yang
bergelayut manja padanya sambil sesekali mengoceh menceritakan apa saja kegiatan
yang ia lakukan selama sehari ini.
Sekarang? Setiap hari
ia harus terpaksa menatap wajah kelelahan Sihyun. Wanita itu menjadi irit
bicara. Bahkan ia tidak repot mengeluarkan suaranya, tidak lagi cerewet seperti
dulu. Namjoon akan mendengar suara Sihyun baru jika ia bertanya, dan saat
wanita itu mengatakan makan malam sudah siap.
Siapapun tolong
sadarkan Kim Namjoon bahwa ialah penyebab diamnya sang istri, jika pria itu
lupa.
…
“Eommonim makan malam sudah siap,” ujar Sihyun setelah mengetuk
pintu kamar nyonya Song.
Detik berikutnya ia
mendengar derap langkah kaki mendekat, dan pintu di hadapannya pun terbuka.
Menunjukkan wajah nyonya Song. Sihyun pun menyambutnya dengan senyuman.
“Bawakan makananku ke
atas, aku ingin makan di sini saja.”
Sihyun mengerjapkan
matanya seketika. “Ne?”
“Apa kau tidak dengar?
Aku tidak mau turun ke bawah, kau bawakan saja makananku kemari,” Ketus Yoon Ah
lantas kembali menutup pintu kamarnya.
Sedangkan Sihyun masih
membeku di depan pintu kamar Yoon Ah. Ia pun menghela napas kemudian beranjak
kembali ke dapur. Pikir positif saja,
mungkin eomma lelah.
Setelah selesai
mengantar makanan pada Yoon Ah, ia melihat Namjoon sudah duduk dengan nyaman di
depan meja makan.
Begitu mendengar suara
langkah Sihyun, pria itu menoleh dan menatap sang istri.
“Dimana eomma dan Jaein?” tanya Namjoon.
“Aku yang mengatakan
pada Jaein dan eomma tidak perlu
turun. Kurasa mereka sangat lelah hari ini. Jadi tolong kau bawakan makanan
untuk Jaein,” ucap Sihyun bohong sembari menyiapkan makanan milik Jaein.
Namjoon menyipitkan
matanya saat melihat isi nampan yang Sihyun siapkan. “Kenapa banyak sekali?
Memangnya Jaein sanggup menghabiskannya?”
Sihyun tersenyum dan
mengulurkan nampan itu pada Namjoon. “Tentu saja kau harus menemaninya makan
Joon,” jawabnya enteng. Sontak saja Namjoon terbelalak.
“Lalu bagaimana
denganmu?”
“Gwaenchana, aku akan makan sendiri. Saat ini Jaein yang paling
penting. ”
Jawaban Sihyun sontak
mampu mengiris ulu hati Namjoon. Pria itu merasa tersindir oleh kalimat yang
diucapkan istrinya. Wanita itu ada benarnya kan, Namjoon memang mengesampingkan
Sihyun dan memilih bersenang-senang dengan Jaein.
“Kenapa malah melamun?
Sudah sana, nanti Jaein dan bayinya kelaparan,” titah Sihyun sambil sedikit
mendorong tubuh pria itu agar segera beranjak menuju kamar Jaein.
Pada akhirnya Namjoon
pun menuruti Sihyun dan berjalan menuju kamar calon istrinya.
Sepeninggal Namjoon,
tiba-tiba saja air mata menetes di pipinya tanpa diperintah. Secara perlahan ia
semakin kehilangan sosok Namjoon yang dulu hanya memusatkan perhatian padanya.
Hatinya sangat sakit, benar-benar sakit. Namun ia harus bertahan, bagaimanapun
juga ia yang memohon pada Jungwoo untuk mengabulkan permintaannya.
…
__ADS_1
13 Januari 2020 - Itsmehyuna_