
Sihyun
melangkahkan kakinya memasuki rumah yang tiga tahun ini menjadi saksi bisu
kisah cintanya dengan Namjoon. Setelah menepati janjinya membelikan es krim
Minji, ia pun berpamitan pulang.
Ia
mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah. Sepi. Tentu saja karena Namjoon
dan Jaein sedang bermalam di hotel tempatnya melakukan pemberkatan dan resepsi
kemarin. Begitu pula dengan nyonya Song yang pasti juga ikut menginap di hotel
tersebut.
Jungwoo
memang telah memesan kamar secara khusus untuk ditempati keluarga mempelai,
termasuk Sihyun. Namun gadis ini tentu saja menolak dengan beralasan harus
mengerjakan banyak laporan yang harus segera diselesaikan.
Perlahan
ia menyusuri setiap sudut ruangan. Kembali bayangan masa lalu muncul menghantui
pikirannya. Bayangan saat pertama kali
ia menempati rumah yang dibeli Namjoon dengan uangnya sendiri, sebagai hadiah
pernikahan dari pria itu. Wanita mana yang tidak bahagia saat sang suami
memanjakannya begitu besar.
“Namjoon-ah turunkan aku!” protes Sihyun lantas memukul pelan dada sang suami yang
tengah menggendongnya memasuki rumah baru mereka.
“Ya diamlah sayang, berpeganglah padaku atau kau akan
jatuh nanti,” ujarnya pada Sihyun yang sontak membuat gadis itu mengerucutkan
bibirnya sebal.
Namjoon pun tersenyum melihat wajah sebal istrinya.
Ingin sekali ia memakannya saat ini juga.
“Ah lagi pula kau kan tidak bisa jalan sendiri,” bisiknya.
“Mwo? Tentu saja
aku bisa tuan Kim!”
“Setelah apa yang ku lakukan padamu semalam?” Kembali
ia membisikkan kalimat yang berhasil membungkam Sihyun seketika.
Butuh waktu lama bagi Sihyun untuk mencerna ucapan
Namjoon. Sebelum akhirnya berhasil memahami apa maksud suaminya.
“YA KIM NAMJOON!” Gadis itu pun gencar melayangkan
pukulan pada dada sang suami.
“Aw aw sakit Sihyun-ah, ya ya ya hentikan kau bisah jatuh nanti.”
Sihyun tetap memukuli dada suaminya dan tanpa ia
sadari membuat Namjoon terhuyung.
“Sihyun-ah hentikan…”
Bruk!
“Akh!”
Ya, mereka berdua pun terjatuh dengan posisi Sihyun
yang ada di atas karena Namjoon kehilangan keseimbangan tubuhnya.
“Oh omo! Namjoon-ah gwaenchana?” tanya
Sihyun khawatir saat melihat Namjoon menutup matanya. Ia pun segera bangkit dan
membantu suaminya. “Kim Namjoon kau dengar aku? Ya bangunlah, buka matamu,” ucapnya
sembari menepuk pelan pipi pria itu.
__ADS_1
“Joon bangunlah, hiks… maafkan aku sudah memukulimu
tadi.” Gadis itu kini malah terisak sambil mengoyangkan tubuh Namjoon.
Tidak, Namjoon tidak pingsan, dia hanya ingin menggoda
istrinya. Namun di luar dugaannya, hal tersebut malah membuat Sihyun menangis.
Grep!
Dengan sigap Namjoon menarik tubuh Sihyun, membawa
gadis itu dalam pelukannya. “Hey uljima, aku baik-baik saja sayang. Maaf ya sudah membuatmu menangis.”
Bukannya reda, tangisan Sihyun malah semakin keras.
Sontak saja membuat Namjoon kelabakan.
“Ya Sihyun-ah maafkan aku, astaga bodohnya kau Kim Namjoon.
Hey maafkan aku, jangan menangis lagi sayang,” ujarnya sembari mengangkat
kepala Sihyun agar menghadap ke arahnya.
“Jangan membohongiku seperti itu lagi, aku takut
Joon.”
Namjoon pun tersenyum dan mengusap air mata yang
membasahi pipi istrinya. “Iya Choi Sihyun, mau memaafkanku kan?”
Dengan lugu Sihyun pun mengangguk. Ia benar-benar
takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada suaminya.
Sontak
Sihyun menyunggingkan senyum di bibirnya saat pikirannya berkelana ke masa awal
pernikahan mereka.
Benar
memang, Namjoon tak pernah membohongi Sihyun seperti itu lagi selama tiga tahun
ini. Namun ia melakukan kebohongan yang lebih menyakitkan dari pura-pura
pingsan. Dan jika boleh memilih, lebih baik Namjoon pura-pura pingsan saja
Ia
kembali melangkahkan kakinya menaiki tangga menuju lantai dua, menuju kamar
utama. Ruangan yang biasanya ia dan Namjoon gunakan meluapkan segala penatnya.
Ruangan dimana menjadi saksi cinta mereka berdua selama ini.
Perlahan
pandangannya menyusuri segala penjuru kamar tersebut. Setiap sudut mampu
membuat hatinya berdegup karena menyimpan banyak kenangannya dengan Namjoon.
Kini
ia berjalan mendekat menuju meja rias, dan duduk menghadap cermin. Sihyun jelas
masih ingat, dulu sekali Namjoon sering menggodanya saat ia sedang merias diri
di depan cermin.
Biasanya
Sihyunlah yang mandi terlebih dulu sebelum Namjoon membuka matanya. Lalu ketika
pria itu bangun pasti akan memeluknya posesif dari belakang.
“Wahai cermin ajaib, katakanlah siapa wanita yang
paling cantik di istana ini?” ucapnya.
Sihyun yang mendengarnya pun tersenyum geli.
Bisa-bisanya sang suami mengatakan kalimat seorang ratu yang ada dalam dongeng
putri salju.
“Siapa memangnya?” Sihyunpun balik bertanya.
Namjoon mengecup kilas pipi sang istri lantas kembali
memandangnya lewat cermin. “Tentu saja kau sayang. Kau kan satu-satunya ratu di
__ADS_1
hatiku. Satu-satunya ratu di istana ini.”
Akhirnya Sihyun berbalik, dan mengalungkan tangannya
pada leher Namjoon. “Belajar darimana kalimat seperti itu?”
“Aku tidak belajar, aku hanya mengatakan yang
sesungguhnya sayang. Hanya kaulah ratu bagiku sampai kapanpun. Kau harus tahu
itu sayang.”
“Iya-iya aku tahu Kim Namjoon.”
Sihyun
tersenyum getir saat kembali mengingat ucapan Namjoon waktu itu. Benar-benar
sakit rasanya saat orang yang sangat kau cintai dan percaya pada akhirnya
mengingkari apa yang dulu pernah ia ucapkan.
“Kini
aku bukanlah satu-satunya ratu di hatimu Joon. Bukan lagi satu-satunya ratu di
istana kita.”
Kembali
terdengar isakan dari bibir Sihyun. Dipandanginya bingkai foto pernikahan
mereka dengan sendu.
“Sepertinya
kau sudah lupa jika aku pernah menjadi yang paling kau sayang, menjadi yang
paling kau cinta. Kau bahkan mengatakan padaku tak akan pernah meninggalkanku
Joon, tapi apa? Kau bahkan memilih mmencari wanita lain untuk mengandung buah
cintamu di saat aku tak kunjung mendapatkan kesempatan itu.”
Tangis
Sihyun pun akhirnya tak bisa ia bendung lagi. Ia pun merasakan sesak yang
teramat sangat di dadanya.
“Kenapa
kau tega melakukannya padaku Joon? Katakan padaku apa yang dimiliki Jaein dan
tak kau temukan padaku? Apa cintaku padamu tidak cukup sehingga kau mencari
cinta yang lain?”
“Ahaha
aku tahu, aku kan tidak bisa hamil, wajar saja kau jenuh denganku dan mencari
wanita lain. Yah, aku memang istri yang tak berguna untuk suamiku.”
“Aaargh!”
Brak!
Tak
kuasa menahan sakit hatinya, Sihyun pun meraung sejadi-jadinya. Tangannya
menyapu bersih segala benda yang ada di atas meja riasnya hingga berjatuhan di
lantai.
“Dan
sekarang apa yang ku lakukan? Aku tetap bertahan di sampingmu, bertahan di samping
pria yang sangat ku cintai. Bahkan ku biarkan kau menikah dengan gadis lain
demi kebahagiaanmu. Ku lakukan segalanya untukmu, tapi yang ku dapat hanyalah
kepedihan.”
“Apa
semua itu tidak cukup membuktikan jika aku benar-benar mencintaimu Joon?”
…
__ADS_1
30 Januari 2020 - Itsmehyuna_