
“Mwo?
Apa aku tidak salah dengar oppa?” Jaein nampak terkejut dengan apa yang
barusaja Namjoon ucapkan padanya.
Namjoon
menggelengkan kepalanya. “Kau tidak salah dengar Jaein-ah, kau sedang
mengandung saat ini.”
Gadis
itu terbelalak tidak percaya. Maniknya berkaca-kaca. Dan sebelah tangannya
terulur untuk memegang perut datarnya.
“Aku
hamil?” Ia mengulangi kalimat Namjoon.
Namjoon
berlutut lantas menggenggam kedua tangan gadis itu. “Aku pasti akan bertanggung
jawab sayang, I promise...”
Jaein
menatap tepat pada mata Namjoon. Air matanya lolos begitu saja tanpa
diperintah. “Bagaimana kalau Sihyun eonni tahu oppa? Aku tidak ingin dianggap
sebagai perusak rumah tangga orang.”
“Masalah
itu biar aku yang memikirkannya, kau hanya perlu fokus menjaga kandunganmu,
arraseo?” Jelasnya.
…
Namjoon melajukan
mobilnya setelah mengantar Jaein ke rumahnya. Pria itu memutuskan membawa Jaein
kembali ke Seoul. Karena liburan mereka telah selesai. Pria itu ingat betul
bagaimana reaksi Jaein saat mengetahui ia tengah mengandung.
Dan sekarang kepala
Namjoon rasanya ingin meledak karena memikirkan cara untuk memberitahu Sihyun.
Berkali-kali ia memukul frustasi stang kemudi mobilnya yang tanpa sadar kini telah
memasuki halaman rumahnya. Ia begitu takut. Bahkan untuk memandang wajah Sihyun
saja ia tak sanggup.
Perlahan ia membuka
pintu rumah, berharap istrinya tidak akan mendengarnya. Ia mengedarkan
pandangan begitu memasuki rumahnya. Ia menghela napas lega karena mendapati
istrinya tidak ada di rumah. Sepertinya wanita itu sudah berangkat ke cafe.
Setidaknya ia masih punya waktu sedikit lebih lama untuk berpikir.
“Joon?”
Pria itu tersentak
saat mendengar suara khas istrinya dari arah dapur. Ia pun menoleh memandang
istrinya.
Tamatlah
riwayatmu Kim Namjoon!
Kini wanita itu
berjalan menghampirinya. “Kenapa kau sudah pulang?”
“Eoh itu, ternyata
pekerjaanku selesai lebih cepat dari perkiraan. Jadi aku bisa pulang,” ungkapnya
berbohong.
“Ah syukurlah kau
sudah pulang. Dengan begitu aku tidak akan kesepian lagi,” ujarnya sambil
memeluk erat sang suami.
Beruntunglah Namjoon
karena sang istri tidak menaruh curiga padanya. Ia pun membalas pelukan sang
istri. Dan mengecup puncak kepalanya.
“Ah istirahatlah dulu,
kau pasti sangat lelah sayang. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu. Kau mau
makan apa?” tanya Sihyun sambil memandang suaminya.
“Tidak perlu sayang,
aku tidak lapar.”
“Yasudah kau ke kamar
saja, biar nanti aku yang membereskan barangmu.”
“Tidak apa-apa, biar
aku yang membereskannya. Kau pasti juga sangat lelah.” Dengan cekatan Namjoon
membawa serta koper dan tasnya menuju kamar.
“Baiklah. Kalau kau
memerlukan sesuatu, panggil aku ya,” ucap Sihyun lantas kembali dengan
kesibukannya di dapur.
Sedangkan Namjoon
tengah meratapi bagaimana nasibnya sekarang. Haruskah ia memberitahu Sihyun,
atau tetap merahasiakannya dari sang istri? Jika ia memberitahu Sihyun, ia
harus siap bila wanita itu mengajaknya berpisah. Lagipula wanita mana yang mau
jika berbagi suaminya dengan wanita lain. Dan jika ia memilih merahasiakan,
setidaknya ia masih bisa meneruskan rumah tangganya dengan Sihyun. Dan juga ia
bisa mengurus Jaein diam-diam. Sepertinya pilihan ini bisa ia coba.
Namun yang Namjoon
tidak perhitungkan adalah sedalam-dalamnya bangkai dikubur, ia akan tercium
juga bukan?
Kini pandangannya
tertuju pada bingkai besar yang tergantung di dinding kamarnya. Foto pernikahan
bahagia mereka. Tak terasa airmata pun menetes membasahi pipinya.
“Mianhae Sihyun-ah...”
...
“Kau tahu tidak, eomma mengomeliku karena kita tidak
pernah mengunjunginya. Dan lagi appa mengancam akan menungguiku sarapan setiap pagi jika aku masih makan salad,” curhat
Sihyun pada suaminya.
Kini mereka sedang
dalam perjalanan menuju kediaman keluarga besar Choi. Setelah mendapat
istirahat yang cukup, pria ini mengajak Sihyun menemui Minji. Selain minta maaf
karena tidak bisa membelikan pesanan gadis kecil itu, ia juga ingin menyapa
kedua mertuanya.
“Appa benar sayang, kau harus tinggalkan saladmu itu. Apa kau tidak
sadar jika sekarang ini kau lebih kurus?”
Sihyun menoleh pada
suaminya. “Seburuk itukah?”
Namjoon menggelengkan
kepalanya. “Tidak, tapi aku tidak suka kalau pada akhirnya kau akan jatuh sakit
sayang.”
“Hmm arraseo. Ternyata semua orang
mengkhawatirkanku” tukasnya sambil menyandarkan kepala pada pundak sang suami.
“Ah iya Joon, apa kau ingat Hoseok?”
Namjoon mengernyit.
“Hoseok? Apa dia kenalanmu?” tuduh Namjoon yang langsung mendapat cubitan di
perutnya.
“Apa yang kau pikirkan
eoh? Dia kan temanmu di kampus dulu, fakultas kedokteran, kau ingat?”
Namjoon terlihat
tengah berpikir. “Ah si pria kuda itu?”
Sihyun pun mengernyit
mendengar jawaban Namjoon. Bagaimana bisa pria itu menyebut Hoseok ‘Pria Kuda’.
“Apa maksudmu pria kuda?”
Namjoon terkekeh. “Itu
nama panggilan sayang. Dan nama panggilanku adalah pria tampan.” Ujar Namjoon
membanggakan diri. Sedangkan Sihyun memutar bola mata malas mendengar
kenarsisan suaminya.
“Memangnya ada apa
dengan Hoseok sayang?” Namjoon mengalihkan pembicaraan mereka yang sudah mulai
__ADS_1
tidak jelas.
“Aku bertemu
dengannya. Ternyata dia dokter kandungan Raemi eonni. Dan kemarin aku berkonsultasi padanya.”
“Benarkah? Bagus kan
kalau begitu, siapa tahu dia akan menggratiskanmu saat berkonsultasi sayang,” ujarnya
seenak jidat. Dan sekali lagi membuat Sihyun melayangkan pukulan pada
lengannya.
Namjoon pun terkekeh
melihat wajah kesal sang istri. Meskipun dalam hatinya dipenuhi dengan rasa
was-was karena ulahnya sendiri.
...
Sihyun menahan tawanya
saat melihat sang suami sedang sibuk membujuk Minji yang sedang merajuk karena
tidak mendapat pesanan yang diinginkannya.
“Minji-ya maafkan paman ya, janji nanti paman
akan ganti dengan boneka yang lain.” Bujuknya.
Namun tak ada jawaban
dari Minji. Gadis kecil itu tetap memilih diam seribu bahasa dengan melipat
tangan di dadanya.
“Minji mau kan
memaafkan paman?”
Sihyun tersenyum dan
mengisyaratkan pada Namjoon, ‘biar aku
saja yang bicara padanya’.
“Minji sayang mau
makan eskrim tidak? Bibi sedang ingin
makan eskrim, Minji mau menemani bibi kan?”
Minji pun menoleh
menatap Sihyun. Jelas saja gadis itu tergiur dengan tawaran tersebut. “Mau
bibi, aku rasa stoberi yah,” ucapnya.
Sihyun tersenyum dan
menuntun tangan gadis kecil itu. “Iya sayang, tapi paman Namjoon boleh ikut
kan?”
“Tidak boleh!”
Jawabnya seketika.
“Kalau paman Namjoon
tidak boleh ikut, lalu siapa yang akan membayar eskrimnya? Bibi kan tidak punya uang,” jelasnya
berbohong.
Sedangkan Minji
terlihat seperti sedang berpikir. “Baiklah, tapi aku tidak mau bicara dengan
paman.”
Sihyun tertawa pelan.
“Ahaha iya-iya sayang, bibi tidak
akan membiarkan paman Namjoon membuka suara. Kajja!” Ajaknya pada Minji dan suaminya tentu saja.
Namjoon pun tersenyum
melihat cara Sihyun membujuk keponakan tersayangnya itu. Benar-benar terlihat seperti
seorang ibu bagi Minji. Pemikirannya tersebut berhasil menohok hatinya, karena
kembali mengingatkannya pada Jaein yang sedang mengandung buah hatinya. Sesuatu
yang selama tiga tahun ini telah ditunggunya bersama Sihyun. Namun malah
Jaeinlah yang dianugerahi kesempatan itu oleh Tuhan.
“Sayang kau yang
pesankan, aku dan Minji rasa stroberi, oke?”
Suara Sihyun berhasil
membuyarkan lamunannya. Dan sekarang kedua gadisnya itu sudah berlari menuju
tempat duduk kosong di taman kompleknya.
Namjoon pun hanya bisa
tersenyum melihat kedua gadisnya yang riang seperti itu. Kemudian ia berjalan
menuju kedai eskrim yang ada di dekatnya.
Sementara itu, Sihyun
memangku Minji, karena tidak berani jika membiarkan gadis kecil itu duduk
sendiri.
“Minji-ya, bibi boleh bertanya sesuatu tidak?”
Minji pun hanya
mengangguk, karena ia terlalu sibuk tertawa riang.
“Kenapa marah pada
paman Namjoon?” Sihyun kembali bertanya pada gadis kecilnya itu.
Sedangkan yang
ditanya, langsung merubah raut wajahnya. Gadis itu cemberut dan memasang
ekspresi wajah sebal. “Karena paman Namjoon jahat.”
Sihyun tersenyum
melihat Minji. “Minji tahu tidak, saat Minji bilang tidak mau bicara dengan
paman Namjoon, paman Namjoon jadi sedih sayang.”
Seketika Minji langsung
menoleh menatap Sihyun. “Benarkah?”
Sihyun tersenyum dan
mengangguk. “Tentu saja, lihat saja sekarang paman Namjoon tidak tersenyum kan?
Paman Namjoon sedang sedih karena Minji marah padanya.”
Kemudian ia kembali
menoleh dan menatap kearah Namjoon yang sedang mengantre membeli eskrim
untuknya.
“Paman tidak bisa beli
boneka kan karena sibuk bekerja, lagi pula paman juga sudah minta maaf pada
Minji, dan berjanji membelikan boneka yang lain nanti. Minji masih tidak mau
memaafkan paman?”
“Mau bibi,” jawabnya
lemah. Agaknya gadis ini mulai meluluhkan pertahanannya.
“Jadi nanti‒” Ia pun
membisikkan sesuatu di telinga Minji.
...
“Cha eskrimnya sudah datang,” ujar Namjoon dengan eskrim di kedua
tangannya yang sontak membuat manik gadis kecil bernama Minji itu berbinar.
“Dan ini untuk Minji.”
Kini pria itu tengah sibuk mengulurkan eskrim pada kedua gadis tercintanya. Dan
tentu saja langsung disambut baik oleh Minji.
“Terima kasih sayang,”
ucap Sihyun saat menerima pemberian Namjoon. “Tapi kenapa hanya beli dua
sayang? Kau tidak beli juga?”
Ia tersenyum. “Tidak sayang,
aku cukup melihat kalian makan saja sudah senang.”
Namun sedetik kemudian
Minji kembali mengulurkan eskrim miliknya yang belum sempat ia makan pada
Namjoon. Sedangkan Namjoon mengernyit heran.
“Minji kenapa tidak
dimakan? Apa tidak suka rasanya?” Tanya Namjoon sambil menerima uluran eskrim
Minji.
Gadis kecil itu
menggeleng pelan. “Tidak paman, aku ingin memakannya bersama paman. Karena
kalau paman tidak makan aku juga tidak mau.”
Namjoon tersentak
dengan ucapan Minji. Lantas tawanya pecah ketika telah berhasil menyadari apa
yang baru saja ia dengar.
Kini pria itu sudah
duduk memangku Minji agar menghadap ke arahnya. “Bukankah Minji sedang marah
pada paman?” Kini pria itu memutuskan untuk bertanya.
Lantas gadis kecil itu
__ADS_1
menggelengkan kepalanya. “Kata bibi aku tidak boleh marah pada paman, kalau aku
marah nanti paman jadi sedih,” ujarnya dengan senyum polos di bibirnya.
Mendengar jawaban
Minji membuatnya mencium gemas pipi gembil gadis kecil itu kemudian menoleh
pada istrinya. Ia tersenyum ketika manik mereka saling bertemu. Satu point yang Namjoon dapat, ia sadar bahwa
ternyata sang istri sangat terampil dalam mendidik keponakannya.
...
Namjoon berjalan
menyusuri koridor sebuah apartemen di daerah Seocho-dong. Lantas dengan segera
menekan 6 digit angka untuk membuka pintu salah satu unit yang ada di sana. Ia
pun melangkah masuk setelah memastikan keadaan di luar cukup aman.
“Jaein-ah aku datang,” seru Namjoon sembari
melepas jas kerja miliknya.
Ya, Namjoon kini
sedang berada di apartemen Park Jaein. Pria itu langsung meluncur menuju kemari
saat mendengar kabar bahwa gadisnya tidak masuk kuliah. Ia takut terjadi
sesuatu yang buruk pada Jaein, dan juga bayi yang sedang gadis itu kandung.
Tidak ada sahutan dari
gadisnya membuatnya semakin khawatir. Ia berjalan menuju kamar sang gadis, dan
membuka pintunya secara perlahan. Setelah pintu terbuka dengan sempurna, ia
dapat melihat sang gadis tengah meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang
membalut tubuhnya.
Namjoon
menghampirinya. Ia mengusap pelan surai hitam milik Jaein setelah mendudukkan
bokongnya di samping gadis itu.
“Sayang aku datang,”
bisiknya.
Mendengar suara
Namjoon membuat Jaein membuka perlahan matanya yang terasa berat. Tatapannya
nampak sangat lemah dan sayu.
“Ada apa denganmu, hm? Kau sakit? Apa perlu ku panggilkan
dokter?” tawarnya lembut sembari mengusap sayang pipi Jaein.
Sedangkan Jaein hanya
bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian ia menarik Namjoon agar pria itu
merebahkan tubuh di sampingnya. Namjoon tersentak dengan aksi tiba-tiba Jaein.
Kini ia pun sukses berbaring di samping gadis itu. Kemudian ia merasakan tangan
Jaein melingkar di perutnya. Dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang
Namjoon.
Melihat tingkah manja
Jaein, ia pun membalas pelukan gadis itu. “Katakan padaku ada apa?”
“Aku hanya ingin
seperti ini,” ucap Jaein yang sudah kembali memejamkan matanya.
“Apa kau pusing?” pria
itu kembali bertanya, diikuti anggukan dari Jaein.
“Kalau begitu biar ku
panggilkan dokter agar memeriksamu”
Jaein pun menggeleng
dengan cepat. “Aku hanya butuh kau oppa,
biarlah aku mengisi tenagaku seperti ini,” jelasnya. Namjoon pun menghela napas
karena sikap keras kepala gadisnya.
“Baiklah aku akan
menemanimu sampai nanti.” Perlahan tangannya terulur untuk mengusap perut Jaein
yang masih datar.
“Hey jagoan, kau harus
bisa menjaga eomma. Jangan membuat eomma murung seperti ini, arraseo?” tukasnya pada calon bayi di
perut Jaein.
Jaein menatap Namjoon
intens. Ia benar-benar tersentuh dengan sikap perhatian Namjoon kepadanya.
Sikap yang bahkan belum pernah di dapatkan istri sahnya sendiri. Bukankah ia
harus merasa beruntung?
Ia menurunkan
pandangannya menuju tangan Namjoon yang masih setia mengusap lembut perutnya.
Ia tersenyum, kemudian ia meletakkan tangannya di atas tangan pria itu.
“Arraseo appa,” ucapnya seolah-olah bayi dalam perutnyalah yang
menjawab.
Namjoon tersenyum dan
mencium kening Jaein sedikit lama seolah lewat ciumannya bisa mentransfer
energi untuk gadis dan calon bayinya itu.
Di sisi lain, pria itu
merasa miris karena kenyataan Jaein lah yang harus mmengandung bayinya, bukan
istrinya Kim Sihyun. Andai saja Sihyun yang ada di posisi Jaein saat ini. Andai
saja bayi ini tumbuh di rahim Sihyun, mungkin ia akan merasa lebih senang.
Namun semua ini bukan
berarti ia tidak menginginkan kehamilan Jaein. Ia hanya sedang barandai-andai.
Karena mana mungkin ia tidak mengakui bayi hasil hubungannya dengan Park Jaein.
Bagaimanapun juga ia harus tetap bersyukur dengan semua kejadian ini.
...
Malam ini Sihyun
tengah berkutat di dapurnya. Dengan telaten mengolah bahan mentah menjadi
masakan yang akan menggugah selera makan sang suami saat ia pulang nanti. Senyum
pun merekah di bibirnya saat menatap masakan yang sudah ia tata diatas meja
makan.
“Hm, pasti Namjoon suka melihat masakan kesukaannya,” gumamnya pada
diri sendiri.
Ia menoleh melirik jam
dinding di dapurnya. Jarumnya sudah menunjuk angka delapan. Seharusnya Namjoon
sampai rumah, pikirnya.
Tak lama setelah itu
ia mendengar suara deru mobil milik suaminya memasuki halaman rumah. Tanpa
tunggu lama ia pun berjalan ke depan untuk menyambut kepulangan suaminya.
“Aku pulang,” seru
Namjoon saat memasuki rumah.
Namun ia terlonjak dan
hampir saja oleng saat istrinya tiba-tiba menghambur memeluknya.
“Aigoo sayang kalau kita jatuh bagaimana?”
Sedangkan Sihyun hanya
bisa terkekeh mendengar omelan suaminya. “Tidak mungkin, kau kan kuat.”
Namjoon tertawa pelan.
“Em iya-iya aku tahu itu,” ujarnya lantas mengecup kilas bibir sang istri.
“Aku sudah memasak, oh
tunggu!” Tiba-tiba saja Sihyun mengendus tubuh sang suami.
Namjoon menatap
istrinya heran. “Ada apa sayang?”
Sihyun mengernyitkan
dahi dan masih sibuk mengendus ceruk leher Namjoon. “Aroma ini? Seperti bukan
parfum milikmu.”
Seketika Namjoon
terbelalak mendengar pernyataan sang istri. Oh tidak, mungkin parfum milik
Jaein, karena hampir seharian gadis itu menempeli tubuhnya. Kini ia dapat
melihat tatapan tajam Sihyun padanya.
“Kim Namjoon beraninya
kau‒”
...
__ADS_1
6 Januari 2020 - Itsmehyuna_