Our Marriage

Our Marriage
Chapter 5


__ADS_3

“Mwo?


Apa aku tidak salah dengar oppa?” Jaein nampak terkejut dengan apa yang


barusaja Namjoon ucapkan padanya.


Namjoon


menggelengkan kepalanya. “Kau tidak salah dengar Jaein-ah, kau sedang


mengandung saat ini.”


Gadis


itu terbelalak tidak percaya. Maniknya berkaca-kaca. Dan sebelah tangannya


terulur untuk memegang perut datarnya.


“Aku


hamil?” Ia mengulangi kalimat Namjoon.


Namjoon


berlutut lantas menggenggam kedua tangan gadis itu. “Aku pasti akan bertanggung


jawab sayang, I promise...”


Jaein


menatap tepat pada mata Namjoon. Air matanya lolos begitu saja tanpa


diperintah. “Bagaimana kalau Sihyun eonni tahu oppa? Aku tidak ingin dianggap


sebagai perusak rumah tangga orang.”


“Masalah


itu biar aku yang memikirkannya, kau hanya perlu fokus menjaga kandunganmu,


arraseo?” Jelasnya.



Namjoon melajukan


mobilnya setelah mengantar Jaein ke rumahnya. Pria itu memutuskan membawa Jaein


kembali ke Seoul. Karena liburan mereka telah selesai. Pria itu ingat betul


bagaimana reaksi Jaein saat mengetahui ia tengah mengandung.


Dan sekarang kepala


Namjoon rasanya ingin meledak karena memikirkan cara untuk memberitahu Sihyun.


Berkali-kali ia memukul frustasi stang kemudi mobilnya yang tanpa sadar kini telah


memasuki halaman rumahnya. Ia begitu takut. Bahkan untuk memandang wajah Sihyun


saja ia tak sanggup.


Perlahan ia membuka


pintu rumah, berharap istrinya tidak akan mendengarnya. Ia mengedarkan


pandangan begitu memasuki rumahnya. Ia menghela napas lega karena mendapati


istrinya tidak ada di rumah. Sepertinya wanita itu sudah berangkat ke cafe.


Setidaknya ia masih punya waktu sedikit lebih lama untuk berpikir.


“Joon?”


Pria itu tersentak


saat mendengar suara khas istrinya dari arah dapur. Ia pun menoleh memandang


istrinya.


Tamatlah


riwayatmu Kim Namjoon!


Kini wanita itu


berjalan menghampirinya. “Kenapa kau sudah pulang?”


“Eoh itu, ternyata


pekerjaanku selesai lebih cepat dari perkiraan. Jadi aku bisa pulang,” ungkapnya


berbohong.


“Ah syukurlah kau


sudah pulang. Dengan begitu aku tidak akan kesepian lagi,” ujarnya sambil


memeluk erat sang suami.


Beruntunglah Namjoon


karena sang istri tidak menaruh curiga padanya. Ia pun membalas pelukan sang


istri. Dan mengecup puncak kepalanya.


“Ah istirahatlah dulu,


kau pasti sangat lelah sayang. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu. Kau mau


makan apa?” tanya Sihyun sambil memandang suaminya.


“Tidak perlu sayang,


aku tidak lapar.”


“Yasudah kau ke kamar


saja, biar nanti aku yang membereskan barangmu.”


“Tidak apa-apa, biar


aku yang membereskannya. Kau pasti juga sangat lelah.” Dengan cekatan Namjoon


membawa serta koper dan tasnya menuju kamar.


“Baiklah. Kalau kau


memerlukan sesuatu, panggil aku ya,” ucap Sihyun lantas kembali dengan


kesibukannya di dapur.


Sedangkan Namjoon


tengah meratapi bagaimana nasibnya sekarang. Haruskah ia memberitahu Sihyun,


atau tetap merahasiakannya dari sang istri? Jika ia memberitahu Sihyun, ia


harus siap bila wanita itu mengajaknya berpisah. Lagipula wanita mana yang mau


jika berbagi suaminya dengan wanita lain. Dan jika ia memilih merahasiakan,


setidaknya ia masih bisa meneruskan rumah tangganya dengan Sihyun. Dan juga ia


bisa mengurus Jaein diam-diam. Sepertinya pilihan ini bisa ia coba.


Namun yang Namjoon


tidak perhitungkan adalah sedalam-dalamnya bangkai dikubur, ia akan tercium


juga bukan?


Kini pandangannya


tertuju pada bingkai besar yang tergantung di dinding kamarnya. Foto pernikahan


bahagia mereka. Tak terasa airmata pun menetes membasahi pipinya.


“Mianhae Sihyun-ah...”


...


“Kau tahu tidak, eomma mengomeliku karena kita tidak


pernah mengunjunginya. Dan lagi appa mengancam akan menungguiku sarapan setiap pagi jika aku masih makan salad,” curhat


Sihyun pada suaminya.


Kini mereka sedang


dalam perjalanan menuju kediaman keluarga besar Choi. Setelah mendapat


istirahat yang cukup, pria ini mengajak Sihyun menemui Minji. Selain minta maaf


karena tidak bisa membelikan pesanan gadis kecil itu, ia juga ingin menyapa


kedua mertuanya.


“Appa benar sayang, kau harus tinggalkan saladmu itu. Apa kau tidak


sadar jika sekarang ini kau lebih kurus?”


Sihyun menoleh pada


suaminya. “Seburuk itukah?”


Namjoon menggelengkan


kepalanya. “Tidak, tapi aku tidak suka kalau pada akhirnya kau akan jatuh sakit


sayang.”


“Hmm arraseo. Ternyata semua orang


mengkhawatirkanku” tukasnya sambil menyandarkan kepala pada pundak sang suami.


“Ah iya Joon, apa kau ingat Hoseok?”


Namjoon mengernyit.


“Hoseok? Apa dia kenalanmu?” tuduh Namjoon yang langsung mendapat cubitan di


perutnya.


“Apa yang kau pikirkan


eoh? Dia kan temanmu di kampus dulu, fakultas kedokteran, kau ingat?”


Namjoon terlihat


tengah berpikir. “Ah si pria kuda itu?”


Sihyun pun mengernyit


mendengar jawaban Namjoon. Bagaimana bisa pria itu menyebut Hoseok ‘Pria Kuda’.


“Apa maksudmu pria kuda?”


Namjoon terkekeh. “Itu


nama panggilan sayang. Dan nama panggilanku adalah pria tampan.” Ujar Namjoon


membanggakan diri. Sedangkan Sihyun memutar bola mata malas mendengar


kenarsisan suaminya.


“Memangnya ada apa


dengan Hoseok sayang?” Namjoon mengalihkan pembicaraan mereka yang sudah mulai

__ADS_1


tidak jelas.


“Aku bertemu


dengannya. Ternyata dia dokter kandungan Raemi eonni. Dan kemarin aku berkonsultasi padanya.”


“Benarkah? Bagus kan


kalau begitu, siapa tahu dia akan menggratiskanmu saat berkonsultasi sayang,” ujarnya


seenak jidat. Dan sekali lagi membuat Sihyun melayangkan pukulan pada


lengannya.


Namjoon pun terkekeh


melihat wajah kesal sang istri. Meskipun dalam hatinya dipenuhi dengan rasa


was-was karena ulahnya sendiri.


...


Sihyun menahan tawanya


saat melihat sang suami sedang sibuk membujuk Minji yang sedang merajuk karena


tidak mendapat pesanan yang diinginkannya.


“Minji-ya maafkan paman ya, janji nanti paman


akan ganti dengan boneka yang lain.” Bujuknya.


Namun tak ada jawaban


dari Minji. Gadis kecil itu tetap memilih diam seribu bahasa dengan melipat


tangan di dadanya.


“Minji mau kan


memaafkan paman?”


Sihyun tersenyum dan


mengisyaratkan pada Namjoon, ‘biar aku


saja yang bicara padanya’.


“Minji sayang mau


makan eskrim tidak? Bibi sedang ingin


makan eskrim, Minji mau menemani bibi kan?”


Minji pun menoleh


menatap Sihyun. Jelas saja gadis itu tergiur dengan tawaran tersebut. “Mau


bibi, aku rasa stoberi yah,” ucapnya.


Sihyun tersenyum dan


menuntun tangan gadis kecil itu. “Iya sayang, tapi paman Namjoon boleh ikut


kan?”


“Tidak boleh!”


Jawabnya seketika.


“Kalau paman Namjoon


tidak boleh ikut, lalu siapa yang akan membayar eskrimnya? Bibi kan tidak punya uang,” jelasnya


berbohong.


Sedangkan Minji


terlihat seperti sedang berpikir. “Baiklah, tapi aku tidak mau bicara dengan


paman.”


Sihyun tertawa pelan.


“Ahaha iya-iya sayang, bibi tidak


akan membiarkan paman Namjoon membuka suara. Kajja!” Ajaknya pada Minji dan suaminya tentu saja.


Namjoon pun tersenyum


melihat cara Sihyun membujuk keponakan tersayangnya itu. Benar-benar terlihat seperti


seorang ibu bagi Minji. Pemikirannya tersebut berhasil menohok hatinya, karena


kembali mengingatkannya pada Jaein yang sedang mengandung buah hatinya. Sesuatu


yang selama tiga tahun ini telah ditunggunya bersama Sihyun. Namun malah


Jaeinlah yang dianugerahi kesempatan itu oleh Tuhan.


“Sayang kau yang


pesankan, aku dan Minji rasa stroberi, oke?”


Suara Sihyun berhasil


membuyarkan lamunannya. Dan sekarang kedua gadisnya itu sudah berlari menuju


tempat duduk kosong di taman kompleknya.


Namjoon pun hanya bisa


tersenyum melihat kedua gadisnya yang riang seperti itu. Kemudian ia berjalan


menuju kedai eskrim yang ada di dekatnya.


Sementara itu, Sihyun


memangku Minji, karena tidak berani jika membiarkan gadis kecil itu duduk


sendiri.


“Minji-ya, bibi boleh bertanya sesuatu tidak?”


Minji pun hanya


mengangguk, karena ia terlalu sibuk tertawa riang.


“Kenapa marah pada


paman Namjoon?” Sihyun kembali bertanya pada gadis kecilnya itu.


Sedangkan yang


ditanya, langsung merubah raut wajahnya. Gadis itu cemberut dan memasang


ekspresi wajah sebal. “Karena paman Namjoon jahat.”


Sihyun tersenyum


melihat Minji. “Minji tahu tidak, saat Minji bilang tidak mau bicara dengan


paman Namjoon, paman Namjoon jadi sedih sayang.”


Seketika Minji langsung


menoleh menatap Sihyun. “Benarkah?”


Sihyun tersenyum dan


mengangguk. “Tentu saja, lihat saja sekarang paman Namjoon tidak tersenyum kan?


Paman Namjoon sedang sedih karena Minji marah padanya.”


Kemudian ia kembali


menoleh dan menatap kearah Namjoon yang sedang mengantre membeli eskrim


untuknya.


“Paman tidak bisa beli


boneka kan karena sibuk bekerja, lagi pula paman juga sudah minta maaf pada


Minji, dan berjanji membelikan boneka yang lain nanti. Minji masih tidak mau


memaafkan paman?”


“Mau bibi,” jawabnya


lemah. Agaknya gadis ini mulai meluluhkan pertahanannya.


“Jadi nanti‒” Ia pun


membisikkan sesuatu di telinga Minji.


...


“Cha eskrimnya sudah datang,” ujar Namjoon dengan eskrim di kedua


tangannya yang sontak membuat manik gadis kecil bernama Minji itu berbinar.


“Dan ini untuk Minji.”


Kini pria itu tengah sibuk mengulurkan eskrim pada kedua gadis tercintanya. Dan


tentu saja langsung disambut baik oleh Minji.


“Terima kasih sayang,”


ucap Sihyun saat menerima pemberian Namjoon. “Tapi kenapa hanya beli dua


sayang? Kau tidak beli juga?”


Ia tersenyum. “Tidak sayang,


aku cukup melihat kalian makan saja sudah senang.”


Namun sedetik kemudian


Minji kembali mengulurkan eskrim miliknya yang belum sempat ia makan pada


Namjoon. Sedangkan Namjoon mengernyit heran.


“Minji kenapa tidak


dimakan? Apa tidak suka rasanya?” Tanya Namjoon sambil menerima uluran eskrim


Minji.


Gadis kecil itu


menggeleng pelan. “Tidak paman, aku ingin memakannya bersama paman. Karena


kalau paman tidak makan aku juga tidak mau.”


Namjoon tersentak


dengan ucapan Minji. Lantas tawanya pecah ketika telah berhasil menyadari apa


yang baru saja ia dengar.


Kini pria itu sudah


duduk memangku Minji agar menghadap ke arahnya. “Bukankah Minji sedang marah


pada paman?” Kini pria itu memutuskan untuk bertanya.


Lantas gadis kecil itu

__ADS_1


menggelengkan kepalanya. “Kata bibi aku tidak boleh marah pada paman, kalau aku


marah nanti paman jadi sedih,” ujarnya dengan senyum polos di bibirnya.


Mendengar jawaban


Minji membuatnya mencium gemas pipi gembil gadis kecil itu kemudian menoleh


pada istrinya. Ia tersenyum ketika manik mereka saling bertemu. Satu point yang Namjoon dapat, ia sadar bahwa


ternyata sang istri sangat terampil dalam mendidik keponakannya.


...


Namjoon berjalan


menyusuri koridor sebuah apartemen di daerah Seocho-dong. Lantas dengan segera


menekan 6 digit angka untuk membuka pintu salah satu unit yang ada di sana. Ia


pun melangkah masuk setelah memastikan keadaan di luar cukup aman.


“Jaein-ah aku datang,” seru Namjoon sembari


melepas jas kerja miliknya.


Ya, Namjoon kini


sedang berada di apartemen Park Jaein. Pria itu langsung meluncur menuju kemari


saat mendengar kabar bahwa gadisnya tidak masuk kuliah. Ia takut terjadi


sesuatu yang buruk pada Jaein, dan juga bayi yang sedang gadis itu kandung.


Tidak ada sahutan dari


gadisnya membuatnya semakin khawatir. Ia berjalan menuju kamar sang gadis, dan


membuka pintunya secara perlahan. Setelah pintu terbuka dengan sempurna, ia


dapat melihat sang gadis tengah meringkuk di atas ranjang dengan selimut yang


membalut tubuhnya.


Namjoon


menghampirinya. Ia mengusap pelan surai hitam milik Jaein setelah mendudukkan


bokongnya di samping gadis itu.


“Sayang aku datang,”


bisiknya.


Mendengar suara


Namjoon membuat Jaein membuka perlahan matanya yang terasa berat. Tatapannya


nampak sangat lemah dan sayu.


“Ada apa denganmu, hm? Kau sakit? Apa perlu ku panggilkan


dokter?” tawarnya lembut sembari mengusap sayang pipi Jaein.


Sedangkan Jaein hanya


bisa menggelengkan kepalanya. Kemudian ia menarik Namjoon agar pria itu


merebahkan tubuh di sampingnya. Namjoon tersentak dengan aksi tiba-tiba Jaein.


Kini ia pun sukses berbaring di samping gadis itu. Kemudian ia merasakan tangan


Jaein melingkar di perutnya. Dan menenggelamkan wajahnya pada dada bidang


Namjoon.


Melihat tingkah manja


Jaein, ia pun membalas pelukan gadis itu. “Katakan padaku ada apa?”


“Aku hanya ingin


seperti ini,” ucap Jaein yang sudah kembali memejamkan matanya.


“Apa kau pusing?” pria


itu kembali bertanya, diikuti anggukan dari Jaein.


“Kalau begitu biar ku


panggilkan dokter agar memeriksamu”


Jaein pun menggeleng


dengan cepat. “Aku hanya butuh kau oppa,


biarlah aku mengisi tenagaku seperti ini,” jelasnya. Namjoon pun menghela napas


karena sikap keras kepala gadisnya.


“Baiklah aku akan


menemanimu sampai nanti.” Perlahan tangannya terulur untuk mengusap perut Jaein


yang masih datar.


“Hey jagoan, kau harus


bisa menjaga eomma. Jangan membuat eomma murung seperti ini, arraseo?” tukasnya pada calon bayi di


perut Jaein.


Jaein menatap Namjoon


intens. Ia benar-benar tersentuh dengan sikap perhatian Namjoon kepadanya.


Sikap yang bahkan belum pernah di dapatkan istri sahnya sendiri. Bukankah ia


harus merasa beruntung?


Ia menurunkan


pandangannya menuju tangan Namjoon yang masih setia mengusap lembut perutnya.


Ia tersenyum, kemudian ia meletakkan tangannya di atas tangan pria itu.


“Arraseo appa,” ucapnya seolah-olah bayi dalam perutnyalah yang


menjawab.


Namjoon tersenyum dan


mencium kening Jaein sedikit lama seolah lewat ciumannya bisa mentransfer


energi untuk gadis dan calon bayinya itu.


Di sisi lain, pria itu


merasa miris karena kenyataan Jaein lah yang harus mmengandung bayinya, bukan


istrinya Kim Sihyun. Andai saja Sihyun yang ada di posisi Jaein saat ini. Andai


saja bayi ini tumbuh di rahim Sihyun, mungkin ia akan merasa lebih senang.


Namun semua ini bukan


berarti ia tidak menginginkan kehamilan Jaein. Ia hanya sedang barandai-andai.


Karena mana mungkin ia tidak mengakui bayi hasil hubungannya dengan Park Jaein.


Bagaimanapun juga ia harus tetap bersyukur dengan semua kejadian ini.


...


Malam ini Sihyun


tengah berkutat di dapurnya. Dengan telaten mengolah bahan mentah menjadi


masakan yang akan menggugah selera makan sang suami saat ia pulang nanti. Senyum


pun merekah di bibirnya saat menatap masakan yang sudah ia tata diatas meja


makan.


“Hm, pasti Namjoon suka melihat masakan kesukaannya,” gumamnya pada


diri sendiri.


Ia menoleh melirik jam


dinding di dapurnya. Jarumnya sudah menunjuk angka delapan. Seharusnya Namjoon


sampai rumah, pikirnya.


Tak lama setelah itu


ia mendengar suara deru mobil milik suaminya memasuki halaman rumah. Tanpa


tunggu lama ia pun berjalan ke depan untuk menyambut kepulangan suaminya.


“Aku pulang,” seru


Namjoon saat memasuki rumah.


Namun ia terlonjak dan


hampir saja oleng saat istrinya tiba-tiba menghambur memeluknya.


“Aigoo sayang kalau kita jatuh bagaimana?”


Sedangkan Sihyun hanya


bisa terkekeh mendengar omelan suaminya. “Tidak mungkin, kau kan kuat.”


Namjoon tertawa pelan.


“Em iya-iya aku tahu itu,” ujarnya lantas mengecup kilas bibir sang istri.


“Aku sudah memasak, oh


tunggu!” Tiba-tiba saja Sihyun mengendus tubuh sang suami.


Namjoon menatap


istrinya heran. “Ada apa sayang?”


Sihyun mengernyitkan


dahi dan masih sibuk mengendus ceruk leher Namjoon. “Aroma ini? Seperti bukan


parfum milikmu.”


Seketika Namjoon


terbelalak mendengar pernyataan sang istri. Oh tidak, mungkin parfum milik


Jaein, karena hampir seharian gadis itu menempeli tubuhnya. Kini ia dapat


melihat tatapan tajam Sihyun padanya.


“Kim Namjoon beraninya


kau‒”


...


 


 

__ADS_1


6 Januari 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2