
Dengan sedikit ragu,
Jaein melangkahkan kakinya memasuki rumah milik Kim Namjoon dan juga istrinya.
Gadis itu diselimuti rasa canggung karena situasi seperti ini.
“Waeyo Jaein-ah?” tanya
Sihyun yang tengah berbalik saat menyadari Jaein masih tetap berada di
tempatnya.
“Eoh aniya eonni,” jawabnya tergagap, lantas
dengan segera menyusul Sihyun.
“Kau tidak perlu
canggung begitu, sekarang ini juga menjadi rumahmu,” ucapnya sembari
menunjukkan kamar milik Jaein. “Cha ini
kamarmu Jaein-ah, jika kau
membutuhkan sesuatu, kamarku ada di ujung sana.”
Jaein mengikuti arah
pandang Sihyun saat wanita itu menunjukkan kamar miliknya. Kamar dimana
kekasihnya, dan sang istri memadu kasih. Sontak saja ada sesuatu yang
bergejolak di dalam hatinya. Cemburu mungkin.
“Kalau begitu aku akan
menyiapkan minuman untukmu, kau boleh berkeliling untuk melihat rumah ini.”
Sihyun menepuk pelan pundak gadis itu sebelum beranjak meninggalkannya.
Setelah memastikan
Sihyun benar-benar sudah pergi, segera saja ia berjalan menuju kamar Sihyun dan
Namjoon.
Jaein mengedarkan
pandang mengamati setiap sudut dan interior kamar milik sepasang suami istri
itu. Ia terpanah melihat tatanan serba putih di dalam kamar mereka. Ia tahu ini
sungguh tidak sopan, tapi entah kenapa ia tidak bisa menekan rasa penasaran
dalam hatinya.
Kemudian tatapannya
terhenti saat memandang bingkai foto pernikahan Namjoon dan Sihyun yang
tergantung di dinding. Perlahan ia mendekatinya, mengamati wajah bahagia
pasangan itu. Wajah bahagia yang telah dihancurkannya dalam sekejap saja.
Maafkan
aku karena perlahan telah mencintai suamimu eonni.
…
Namjoon melangkah
memasuki rumahnya dengan gontai. Lantas melonggarkan ikatan dasinya sehingga
acak-acakan. Pria itu merasa pusing karena pekerjaannya yang menumpuk di
kampus. Belum lagi memikirkan kemelut dalam rumah tangganya. Membuat kepalanya
serasa mau pecah saja.
“Sihyun-ah aku pulang,”
“Oppa…”
Sontak ia segera
mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang baru saja menyapanya. Pria itu
terkejut dengan kehadiran Jaein di rumahnya. “Jaein-ah?”
Dalam beberapa detik
kedua insan itu bertukar pandang tanpa ada yang memulai percakapan. Hingga
akhirnya Sihyun datang dan berhasil mencairkan suasana di antara mereka.
“Kau sudah pulang
Joon? Cepatlah mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Kami tunggu di
dapur, oke?”
“Eoh?” jawab Namjoon tergagap masih belum bisa menangkap situasinya.
Pikirannya melayang
__ADS_1
tidak dapat berpikir secara jernih. Dalam benaknya bertanya-tanya, sedang apa
Jaein ada di sini.
‘Aku
sudah mengirim orang untuk membantu Jaein mengurus kepindahannya besok. Dan Jaein
pun sudah setuju denganku.’
Kemudian pria itu
teringat akan perkataan Sihyun semalam. Benar juga, wanita itu bilang jika akan
mengajak Jaein untuk tinggal bersama. Namjoon menghela napas berat, dan
mengacak rambutnya frustasi. Sebenarnya
apa yang sedang Kau rencanakan, Tuhan?
…
“Sihyun-ah…” Pria itu segera menyusul Sihyun
menuju kamarnya, karena Jaein sudah terlebih dulu meninggalkan mereka berdua
dengan alasan sudah mengantuk.
Sihyun pun menoleh
sejenak menatap suaminya tanpa berhenti dari pekerjaannya menghapus riasan
wajahnya. “Kenapa Joon?”
Namjoon melingkarkan
kedua tangannya untuk memeluk istrinya dari belakang. Tak lupa ia sandarkan
dagu pada pundak sang istri.
“Kenapa kau melakukan
semua ini, padahal aku sudah menyakitimu?”
Yang ditanya terdiam
seketika, dan menghentikan kegiatannya. Pandangannya menerawang entah kemana.
Sakit memang, sangat sakit hati wanita ini. Tapi apakah rasa sakitnya akan
menghilang jikalau ia memilih untuk meninggalkan Namjoon? Tidak, Sihyun tidak
bisa melakukannya, karena wanita itu sangat mencintai suaminya. Maka ia akan
“Lalu apa yang harus
ku lakukan Joon? Apa harus aku mengajukan surat cerai padamu?” jawab Sihyun
datar.
Namjoon tertegun
mendengar jawaban sang istri. Sesungguhnya Namjoon pun tidak ingin berpisah
dengan wanita yang sudah menemaninya selama ini dalam keadaan apapun. Lemparkan
saja pria ini ke laut karena sikap egoisnya.
“Ini demi kebahagiaan
kita Joon. Ambil saja sisi positifnya, setidaknya kita akan mendapatkan
malaikat kecil yang selama ini kita impikan.”
Detik berikutnya
wanita itu berbalik dan mengusap lembut pipi suaminya. Tak lupa mengulas senyum
indah di bibirnya.
“Aku baik-baik saja
Joon, sungguh. Mungkin memang beginilah cara Tuhan untuk membahagiakan kita.”
“Anggap saja begitu,
lalu bagaimana dengan eomma dan appa? Bagaimana kita memberitahunya?
Mereka tidak akan semudah itu menyetujui pernikahanku dengan Jaein.”
Sihyun menghela napas
lantas kembali menatap suaminya. “Biar aku saja yang bicara pada eomma dan appa.”
…
“Wah lihatlah siapa
yang datang, ku kira kau sudah melupakan ibu dan ayahmu,” sindir Yo Won sembari memeluk menantu kesayangannya.
“Mianhae eomma aku harus mengurus café jadi belum sempat kemari. Ah iya, bagaimana kabar eomma dan appa?”
“Baik tentu saja,”
jawabnya. Kemudian pandangan Yo Won tertuju pada sosok yang ada di belakang
__ADS_1
Sihyun. “Siapa dia Sihyun-ah?”
Sihyun pun menoleh. Ia
tersenyum dan mengajak Jaein untuk mendekat. “Dia Jaein eomma, aku sudah menganggap Jaein seperti adikku sendiri.”
Yo Won mengamatinya
dengan seksama, membuat Jaein merasa kikuk dan lebih canggung lagi.
“Eoh annyeong eomonim,”
sapanya tergagap.
“Eh annyeong Jaein-ah, kau pasti gugup karena ku pandangi seperti itu ya? Jangan takut
aku tidak menggigit kok,” ujar Yo Won penuh canda, yang sontak membuat
ketiganya tertawa.
…
“Bagaimana kabar appa?” tanya Sihyun saat membawakan kopi
kesukaan Jungwoo ke ruangannya.
“Aku baik Sihyun-ah. Kau yang terlihat tidak baik-baik
saja, ada apa denganmu?” Seakan bisa membaca pikiran Sihyun, Jungwoo menebak
sesuai dengan kenyataan yang sedang dialami wanita itu.
Sihyun tersenyum dan
duduk di hadapan ayah mertuanya. “Aku baik-baik saja appa, Namjoon juga baik.”
Terdengar helaan napas
Jungwoo membuat Sihyun harus menatap wajah ayahnya itu. “Anak itu benar-benar
kurang ajar, bisa-bisanya melupakan orang tuanya, dan membiarkan istrinya
datang sendirian kemari.”
“Ah dia benar-benar
sibuk appa,” ujar Sihyun.
“Dasar anak itu!
Kenapa menantuku yang lebih perhatian padaku,” omelnya yang membuat Sihyun
mengulas senyum di bibirnya. Ya, sekali lagi ia benar-benar beruntung mempunyai
mertua seperti mereka.
Kini pandangan Sihyun
terarah ke meja kerja yang ada di hadapannya. Ia ragu, bagaimana caranya
memberitahu Jungwoo tentang pernikahan Namjoon.
“Ah iya Sihyun-ah selamat ulang tahun pernikahan untuk
kelian berdua, ngomong-ngomong kau mau hadiah apa dariku?”
Sihyun tersenyum.
“Terimakasih appa, tapi kau tidak
perlu repot-repot memberiku hadiah, memiliki kalian saja sudah menjadi hadiah
terindah untukku.”
“Ah tidak-tidak, kali
ini aku akan memberikan apapun yang kau inginkan.”
Sontak saja Sihyun
terperangah dengan apa yang baru saja diucapkan tuan Kim. Ini dia, inilah
kesempatan Sihyun untuk mengungkapkan semuanya.
“Benar appa akan memberikan apa yang aku
inginkan?” Sihyun memandang orang tua suaminya secara bergantian.
“Tentu saja, memangnya
apa yang kau inginkan Sihyun-ah?”
Wanita itu menghela
napas sebelum membuka suara. “Tolong izinkan Namjoon untuk menikah dengan
Jaein,”
…
11 Januari 2020 - Itsmehyuna_
__ADS_1