Our Marriage

Our Marriage
Chapter 10


__ADS_3

Dengan sedikit ragu,


Jaein melangkahkan kakinya memasuki rumah milik Kim Namjoon dan juga istrinya.


Gadis itu diselimuti rasa canggung karena situasi seperti ini.


“Waeyo Jaein-ah?” tanya


Sihyun yang tengah berbalik saat menyadari Jaein masih tetap berada di


tempatnya.


“Eoh aniya eonni,” jawabnya tergagap, lantas


dengan segera menyusul Sihyun.


“Kau tidak perlu


canggung begitu, sekarang ini juga menjadi rumahmu,” ucapnya sembari


menunjukkan kamar milik Jaein. “Cha ini


kamarmu Jaein-ah, jika kau


membutuhkan sesuatu, kamarku ada di ujung sana.”


Jaein mengikuti arah


pandang Sihyun saat wanita itu menunjukkan kamar miliknya. Kamar dimana


kekasihnya, dan sang istri memadu kasih. Sontak saja ada sesuatu yang


bergejolak di dalam hatinya. Cemburu mungkin.


“Kalau begitu aku akan


menyiapkan minuman untukmu, kau boleh berkeliling untuk melihat rumah ini.”


Sihyun menepuk pelan pundak gadis itu sebelum beranjak meninggalkannya.


Setelah memastikan


Sihyun benar-benar sudah pergi, segera saja ia berjalan menuju kamar Sihyun dan


Namjoon.


Jaein mengedarkan


pandang mengamati setiap sudut dan interior kamar milik sepasang suami istri


itu. Ia terpanah melihat tatanan serba putih di dalam kamar mereka. Ia tahu ini


sungguh tidak sopan, tapi entah kenapa ia tidak bisa menekan rasa penasaran


dalam hatinya.


Kemudian tatapannya


terhenti saat memandang bingkai foto pernikahan Namjoon dan Sihyun yang


tergantung di dinding. Perlahan ia mendekatinya, mengamati wajah bahagia


pasangan itu. Wajah bahagia yang telah dihancurkannya dalam sekejap saja.


Maafkan


aku karena perlahan telah mencintai suamimu eonni.



Namjoon melangkah


memasuki rumahnya dengan gontai. Lantas melonggarkan ikatan dasinya sehingga


acak-acakan. Pria itu merasa pusing karena pekerjaannya yang menumpuk di


kampus. Belum lagi memikirkan kemelut dalam rumah tangganya. Membuat kepalanya


serasa mau pecah saja.


“Sihyun-ah aku pulang,”


“Oppa…”


Sontak ia segera


mengangkat kepalanya saat mendengar suara yang baru saja menyapanya. Pria itu


terkejut dengan kehadiran Jaein di rumahnya. “Jaein-ah?”


Dalam beberapa detik


kedua insan itu bertukar pandang tanpa ada yang memulai percakapan. Hingga


akhirnya Sihyun datang dan berhasil mencairkan suasana di antara mereka.


“Kau sudah pulang


Joon? Cepatlah mandi, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu. Kami tunggu di


dapur, oke?”


“Eoh?” jawab Namjoon tergagap masih belum bisa menangkap situasinya.


Pikirannya melayang

__ADS_1


tidak dapat berpikir secara jernih. Dalam benaknya bertanya-tanya, sedang apa


Jaein ada di sini.


‘Aku


sudah mengirim orang untuk membantu Jaein mengurus kepindahannya besok. Dan Jaein


pun sudah setuju denganku.’


Kemudian pria itu


teringat akan perkataan Sihyun semalam. Benar juga, wanita itu bilang jika akan


mengajak Jaein untuk tinggal bersama. Namjoon menghela napas berat, dan


mengacak rambutnya frustasi. Sebenarnya


apa yang sedang Kau rencanakan, Tuhan?



“Sihyun-ah…” Pria itu segera menyusul Sihyun


menuju kamarnya, karena Jaein sudah terlebih dulu meninggalkan mereka berdua


dengan alasan sudah mengantuk.


Sihyun pun menoleh


sejenak menatap suaminya tanpa berhenti dari pekerjaannya menghapus riasan


wajahnya. “Kenapa Joon?”


Namjoon melingkarkan


kedua tangannya untuk memeluk istrinya dari belakang. Tak lupa ia sandarkan


dagu pada pundak sang istri.


“Kenapa kau melakukan


semua ini, padahal aku sudah menyakitimu?”


Yang ditanya terdiam


seketika, dan menghentikan kegiatannya. Pandangannya menerawang entah kemana.


Sakit memang, sangat sakit hati wanita ini. Tapi apakah rasa sakitnya akan


menghilang jikalau ia memilih untuk meninggalkan Namjoon? Tidak, Sihyun tidak


bisa melakukannya, karena wanita itu sangat mencintai suaminya. Maka ia akan


“Lalu apa yang harus


ku lakukan Joon? Apa harus aku mengajukan surat cerai padamu?” jawab Sihyun


datar.


Namjoon tertegun


mendengar jawaban sang istri. Sesungguhnya Namjoon pun tidak ingin berpisah


dengan wanita yang sudah menemaninya selama ini dalam keadaan apapun. Lemparkan


saja pria ini ke laut karena sikap egoisnya.


“Ini demi kebahagiaan


kita Joon. Ambil saja sisi positifnya, setidaknya kita akan mendapatkan


malaikat kecil yang selama ini kita impikan.”


Detik berikutnya


wanita itu berbalik dan mengusap lembut pipi suaminya. Tak lupa mengulas senyum


indah di bibirnya.


“Aku baik-baik saja


Joon, sungguh. Mungkin memang beginilah cara Tuhan untuk membahagiakan kita.”


“Anggap saja begitu,


lalu bagaimana dengan eomma dan appa? Bagaimana kita memberitahunya?


Mereka tidak akan semudah itu menyetujui pernikahanku dengan Jaein.”


Sihyun menghela napas


lantas kembali menatap suaminya. “Biar aku saja yang bicara pada eomma dan appa.”



“Wah lihatlah siapa


yang datang, ku kira kau sudah melupakan ibu dan ayahmu,” sindir Yo Won sembari memeluk menantu kesayangannya.


“Mianhae eomma aku harus mengurus café jadi belum sempat kemari. Ah iya, bagaimana kabar eomma dan appa?”


“Baik tentu saja,”


jawabnya. Kemudian pandangan Yo Won tertuju pada sosok yang ada di belakang

__ADS_1


Sihyun. “Siapa dia Sihyun-ah?”


Sihyun pun menoleh. Ia


tersenyum dan mengajak Jaein untuk mendekat. “Dia Jaein eomma, aku sudah menganggap Jaein seperti adikku sendiri.”


Yo Won mengamatinya


dengan seksama, membuat Jaein merasa kikuk dan lebih canggung lagi.


“Eoh annyeong eomonim,”


sapanya tergagap.


“Eh annyeong Jaein-ah, kau pasti gugup karena ku pandangi seperti itu ya? Jangan takut


aku tidak menggigit kok,” ujar Yo Won penuh canda, yang sontak membuat


ketiganya tertawa.



“Bagaimana kabar appa?” tanya Sihyun saat membawakan kopi


kesukaan Jungwoo ke ruangannya.


“Aku baik Sihyun-ah. Kau yang terlihat tidak baik-baik


saja, ada apa denganmu?” Seakan bisa membaca pikiran Sihyun, Jungwoo menebak


sesuai dengan kenyataan yang sedang dialami wanita itu.


Sihyun tersenyum dan


duduk di hadapan ayah mertuanya. “Aku baik-baik saja appa, Namjoon juga baik.”


Terdengar helaan napas


Jungwoo membuat Sihyun harus menatap wajah ayahnya itu. “Anak itu benar-benar


kurang ajar, bisa-bisanya melupakan orang tuanya, dan membiarkan istrinya


datang sendirian kemari.”


“Ah dia benar-benar


sibuk appa,” ujar Sihyun.


“Dasar anak itu!


Kenapa menantuku yang lebih perhatian padaku,” omelnya yang membuat Sihyun


mengulas senyum di bibirnya. Ya, sekali lagi ia benar-benar beruntung mempunyai


mertua seperti mereka.


Kini pandangan Sihyun


terarah ke meja kerja yang ada di hadapannya. Ia ragu, bagaimana caranya


memberitahu Jungwoo tentang pernikahan Namjoon.


“Ah iya Sihyun-ah selamat ulang tahun pernikahan untuk


kelian berdua, ngomong-ngomong kau mau hadiah apa dariku?”


Sihyun tersenyum.


“Terimakasih appa, tapi kau tidak


perlu repot-repot memberiku hadiah, memiliki kalian saja sudah menjadi hadiah


terindah untukku.”


“Ah tidak-tidak, kali


ini aku akan memberikan apapun yang kau inginkan.”


Sontak saja Sihyun


terperangah dengan apa yang baru saja diucapkan tuan Kim. Ini dia, inilah


kesempatan Sihyun untuk mengungkapkan semuanya.


“Benar appa akan memberikan apa yang aku


inginkan?” Sihyun memandang orang tua suaminya secara bergantian.


“Tentu saja, memangnya


apa yang kau inginkan Sihyun-ah?”


Wanita itu menghela


napas sebelum membuka suara. “Tolong izinkan Namjoon untuk menikah dengan


Jaein,”



 


 


11 Januari 2020 - Itsmehyuna_

__ADS_1


__ADS_2