Our Marriage

Our Marriage
Chapter 29


__ADS_3

Hoseok


memaksakan matanya agar terbuka saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi.


Padahal pria itu baru saja mencoba untuk terlelap setelah lembur semalaman, dan


baru sampai di rumah siang harinya. Ia pun mempercepat langkahnya saat bel


rumahnya kembali berbunyi.


“Astaga


sebentar, tidak sabaran sekali,” omelnya pelan sembari membuka pintu rumah


tanpa berniat melihat tamunya dari layar intercom.


“Nugu‒”


“Aigoo kau baru bangun sesiang ini Jung


Hoseok?”


Sontak


saja matanya terbuka sempurna saat suara Sihyun menyapa gendang telinganya.


Dengan sigap, ia pun mengusap sudut bibir dan matanya. Takut-takut ada sesuatu


yang tidak ia inginkan untuk di lihat Sihyun. “Eoh, aku baru pulang dari rumah sakit Sihyun-ah.”


“Ah,


jadi aku mengganggumu ya?” tukas Sihyun yang seketika dibalas dengan gelengan


kepala oleh Hoseok.


“Tentu


saja tidak, aku hanya memejamkan mata sebentar tadi. Ayo masuklah,” ucap Hoseok


sembari mengambil alih barang bawaan Sihyun yang terlihat berat. “Bagaimana


bisa kau membawa barang berat seperti ini, eoh?


Apa kau mau diomeli dokter Jung?”


Sedangkan


Sihyun hanya terkekeh mendengar omelan Hoseok. “Biarkan saja, toh hanya


sebentar kan. Aku hanya mau menitipkan itu di sini.”


Hoseok


mengerutkan kening, mencoba memahami maksud wanita yang ada di hadapannya ini.


Kemudian pandangannya terarah pada barang bawaan Sihyun. Pria itu mengerutkan


dahi seketika. “Kenapa susu hamil dan semua vitaminmu kau bawa kemari? Kau


serius mau menitipkan semua ini padaku? Yang benar saja nyonya Choi!”


“Aku


serius Hoseok-ah, semalan Jaein


memergokiku meminum ini, dan aku tidak mau gadis itu mencurigaiku,” jelas


Sihyun memelas. “Hanya sebentar saja dokter Jung.”


Sedangkan


Hoseok hanya menghela napas mendengar penjelasan wanita di hadapannya.


“Baiklah, anggap saja aku mengizinkan, tapi apa kau lupa sedang ada dimana?


Kalau Namjoon tahu, dia pasti akan langsung membunuhku.”


“Aku


tahu, dan akan ku pastikan tidak akan ketahuan oleh siapapun.”


“Baiklah,


aku akan memberitahukan password-nya.”



“Kau


benar akan melakukan apapun?” tanya Jaein memastikan sembari menatap ke


arahnya.


Seokjin


mengangguk. “Kau tahu kan aku sangat bersungguh-sungguh,” tegasnya.


“Kalau


begitu lakukan sesuatu untukku.”


“Apa


itu?” Seokjin kembali bertanya. Pada dasarnya pria ini bisa melakukan apapun,


dan menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Jadi


untuk mendapatkan Jaein kembali padanya bukanlah hal sulit menurutnya.


“Kau


harus mengikuti kemanapun Sihyun eonni pergi.”


Pria


itu terbelalak tidak percaya. “Sihyun? Istri dosen itu? Kenapa kau ingin aku


mengikutinya?”


“Aku


ingin memastikan sesuatu saja. Eonni bersikap sangat aneh belakangan ini. aku menduga jika dia sedang hamil.”


Kening


Seokjin sukses mengkerut. “Sepertinya tidak, ku lihat tadi seperti biasa saja.”


“Kau


tidak tahu saja. Sekarang coba kau pikirkan, wanita yang dulu selalu memakai


pakaian modis pas badan, tiba-tiba menyingkirkan semua itu dan menggantinya


dengan oversized sweater.”


“Yah,


mungkin saja dia bosan dan ingin mengganti style-nya.”


“Jika


hanya itu, kenapa ia selalu menolak setiap kali oppa mengajaknya ke pesta pertemuan dan melemparnya padaku? Kau

__ADS_1


tahu apa alasannya? Ia tidak bisa menemukan gaun miliknya. Aneh bukan?” jelas


Jaein panjang lebar. “Dan lagi, aku sudah beberapa kali memergokinya minum susu


hamil.”


“Ya


mungkin saja dia memang benar hamil,” celetuk Seokjin asal.


“Dan


aku tidak ingin itu terjadi. Apa kau tahu jika kedua mertuaku itu masih belum


menerima keberadaanku dan Nami? Bisa ku tebak saat ini mereka bahagia karena


bayiku perempuan. Mereka tidak ingin mewariskan perusahaannya pada keturunanku.


Jika anakku tidak bisa mendapatkannya, begitu juga yang harus Sihyun eonni rasakan.”


“Jadi


intinya kau ingin aku melakukan sesuatu padanya?”


Jaein


menerawang lurus ke depan. Terlihat bibirnya menyeringai, dan tatapannya berubah


tajam. “Ikuti saja, dengan begitu aku bisa memutuskan apa yang harus ku


lakukan.”



‘Ikuti saja, dengan begitu aku bisa memutuskan apa


yang harus ku lakukan.’


Seokjin


kembali teringat tentang permintaan Jaein padanya. Pria itu pun kebingungan


harus memulainya darimana. Tidak mungkin jika ia harus menunggui Sihyun


seharian di depan rumahnya sampai wanita itu keluar kan? Lagipula ia juga memiliki


pekerjaan yang tidak bisa di tinggal begitu saja.


“Dokter


Kim,” sapa seorang suster yang kini tengah berada di hadapannya. “Sedang


memikirkan pacarmu ya? Kenapa tidak langsung pulang? Padahal sudah tidak ada


jadwal.”


Begitu


tersadar dari lamunannya, pria itu lantas segera menyunggingkan senyum


menawannya yang bisa membuat siapa saja tersihir saat melihatnya. “Kalau ku


bilang aku memikirkanmu bagaimana?”


“Aigoo dokter Kim bisa saja,” ujar sang


suster malu-malu. Begitulah cara Seokjin untuk menggoda gadis-gadis yang


menyukainya. Bagaimana ia bisa membedakan gadis yang menyukainya atau tidak?


Itulah salah satu kelebihan yang ia miliki. Ia bisa dengan mudah menebak gadis


yang menyukainya hanya dengan sekali pandang.


saja ia ingin menimpali ucapan suster tersebut, tiba-tiba saja seseorang


mencuri perhatiannya. ia memicingkan matanya agar pandangannya sedikit lebih


jelas.


“Oh


itu pasien tetap dokter Jung, nyonya Choi.” Agaknya suster tersebut bisa


menebak kemana arah pandang Seokjin tertuju. “Apa dokter mengenalnya?”


“Ah,


kau bilang tadi aku sudah tidak ada jadwal kan?”



“Beli


yang baru saja ya, toh bonekamu yang lama pasti berdebu karena sudah lama tidak


di pakai. Tidak baik untuk Nami juga sayang,” ujar Namjoon yang membuat Jaein


merengut seketika.


“Aku


tidak mau boneka yang lain, aku hanya mau boneka beruangku yang dulu pernah kau


berikan itu.”


Namjoon


hanya bisa menghela napas pasrah dengan permintaan istrinya. Jika sudah seperti


ini mana mungkin ia mampu menolak permintaan Jaein. Gadis itu benar-benar masih


sama seperti sebelum ada Nami, terkadang bisa sangat manja jika sedang merajuk


seperti ini.


“Baiklah,


aku akan mengambilnya sekarang juga. Kau senang, hm?” ucap Namjoon seraya  mengecup gemas pipi gembil Nami. Sedangkan Jaein


hanya bisa terkekeh. “Sekarang kau dan Nami harus pulang, kalau tidak aku tidak


akan mau mengambilkan bonekanya untukmu,” gertak Namjoon.


“Iya appa, Nami akan pulang dengan eomma. Jangan lupa ambilkan boneka untuk


Nami ya,” ucap Jaein dengan nada yang dibuat-buat, seolah Nami yang tengah


mengatakannya pada Namjoon. “Saranghae


oppa.”


“Nado saranghae.”



Seperti


yang sudah dijanjikan, pria itu kini tengah berada di apartemen lama milik


Jaein untuk mengambil boneka beruang yang diinginkan gadis itu. Untuk beberapa


saat, Namjoon mengedarkan pandang mengamati keadaan apartemen tersebut. Ia

__ADS_1


berpikir akan menyuruh seseorang untuk membersihkan tempat ini nanti.


Ia


pun menemukan boneka Jaein tergeletak rapih di atas ranjang gadis itu. dan


seperti dugaannya, benda berbulu itu benar-benar berdebu karena tidak ada


pembungkus yang melindunginya. Pria itu pun hanya bisa menggelengkan kepala


seraya mengangkat boneka tersebut.


Setelah


membersihkan benda tersebut dari debu, ia segera memasukannya dalam kantong


plastik yang sebelumnya sudah ia siapkan.


“Ah,


menyusahkan sekali. Padahal aku bisa membelikannya yang baru,” gerutu Namjoon


sembari menutup kembali pintu kamar Jaein.


Pria


itu pun segera menuju pintu utama, tidak mau berlama-lama di tempat berdebu


seperti ini. tidak baik juga untuk pernapasannya.


”Bagaimana


ini? Waktunya sudah semakin dekat, dan tiba-tiba saja aku merasa takut Hoseok-ah. Pasti rasanya akan sakit sekali.”


Pria


itu seketika membeku saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.


Ia pun berbalik perlahan guna memastikan apa yang ia duga benar atau tidak. Ia


memicing tidak percaya saat menemukan Sihyun dan Hoseok tengah bercanda di


depan pintu apartemen Hoseok. Sepertinya mereka belum menyadari keberadaan


Namjoon, karena masih saja meneruskan candaan mereka yang membuat Namjoon


sedikit harus berpikir keras untuk mengerti maksudnya.


“Choi


Sihyun…”


Seperti


dugaannya, kedua manusia itu menoleh dengan wajah yang nampak terkejut. Terlebih


Sihyun, wanita itu benar-benar ketakutan melihat Namjoon dan dengan segera


membenarkan matel miliknya agar menutupi perutnya yang terlihat menyembul. Saat


itu juga, Namjoon bisa mengerti situasi seperti apa yang sedang terjadi di


antara mereka.


“Joon-ah…”


“Jadi


ini yang kau lakukan di belakangku Choi Sihyun? Ah, pantas saja kau selalu


memakai oversized sweater, dan


menolak ajakanku ke pesta pertemuan, karena kau sedang hamil?”


Wanita


itu semakin salah tingkah karena ucapan Namjoon. Hal itu membuat Namjoon


semakin memperkuat dugaannya jika Sihyun tengah berselingkuh dengan Hoseok di


belakangnya.


“Aku


bisa jelaskan, semua ini tidak seperti yang kau pikirkan,” ucap Sihyun memelas


seraya meraih tangan suaminya.


“Apa


yang kau jelaskan? Kau ingin membalas perbuatanku padamu dengan melakukan hal


yang sama dengan Hoseok? Apa kau iri karena Jaein lebih dulu memberiku


keturunan?”


Plak!


Satu


tamparan berhasil mendarat di pipi Namjoon. Wajah Sihyun memerah, menahan amarah


karena ucapan Namjoon. Dan kini terlihat air mata mengumpul di pelupuk matanya.


Hanya satu kedipan saja, maka pertahanan yang dibuatnya akan hancur.


“Akhirnya


kau menunjukkan sifat aslimu Choi Sihyun. Aku mengerti sekarang kenapa kau


tetap memilih bertahan denganku, kau ingin membalas dendam padaku kan?”


Bugh!


Kali


ini Hoseok yang bertindak, hingga membuat Namjoon terhuyung. Ia benar-benar


tidak tahan dengan semua ucapan tajam Namjoon yang akan semakin menyakiti


Sihyun. Karena pada dasarnya Sihyun adalah korban. Namun, dalam sudut pandang


Namjoon ia menjadi tersangka.


“Apa


kau tidak bisa menjaga ucapanmu Kim Namjoon? Setidaknya kau bisa mendengar


penjelasan Sihyun lebih dulu.”


“Sebaiknya


kau tidak perlu ikut campur Jung Hoseok!” gertak Namjoon. Kali ini Namjoon


sudah terpancing emosi dan berniat membalas pukulan dokter muda itu.


“Andwae! Joon-ah hentikan!” pinta Sihyun sembari menahan tangan Namjoon yang


hendak melayangkan pukulan pada Hoseok.


“Akh!”


__ADS_1


15 April 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2