
Hoseok
memaksakan matanya agar terbuka saat mendengar suara bel rumahnya berbunyi.
Padahal pria itu baru saja mencoba untuk terlelap setelah lembur semalaman, dan
baru sampai di rumah siang harinya. Ia pun mempercepat langkahnya saat bel
rumahnya kembali berbunyi.
“Astaga
sebentar, tidak sabaran sekali,” omelnya pelan sembari membuka pintu rumah
tanpa berniat melihat tamunya dari layar intercom.
“Nugu‒”
“Aigoo kau baru bangun sesiang ini Jung
Hoseok?”
Sontak
saja matanya terbuka sempurna saat suara Sihyun menyapa gendang telinganya.
Dengan sigap, ia pun mengusap sudut bibir dan matanya. Takut-takut ada sesuatu
yang tidak ia inginkan untuk di lihat Sihyun. “Eoh, aku baru pulang dari rumah sakit Sihyun-ah.”
“Ah,
jadi aku mengganggumu ya?” tukas Sihyun yang seketika dibalas dengan gelengan
kepala oleh Hoseok.
“Tentu
saja tidak, aku hanya memejamkan mata sebentar tadi. Ayo masuklah,” ucap Hoseok
sembari mengambil alih barang bawaan Sihyun yang terlihat berat. “Bagaimana
bisa kau membawa barang berat seperti ini, eoh?
Apa kau mau diomeli dokter Jung?”
Sedangkan
Sihyun hanya terkekeh mendengar omelan Hoseok. “Biarkan saja, toh hanya
sebentar kan. Aku hanya mau menitipkan itu di sini.”
Hoseok
mengerutkan kening, mencoba memahami maksud wanita yang ada di hadapannya ini.
Kemudian pandangannya terarah pada barang bawaan Sihyun. Pria itu mengerutkan
dahi seketika. “Kenapa susu hamil dan semua vitaminmu kau bawa kemari? Kau
serius mau menitipkan semua ini padaku? Yang benar saja nyonya Choi!”
“Aku
serius Hoseok-ah, semalan Jaein
memergokiku meminum ini, dan aku tidak mau gadis itu mencurigaiku,” jelas
Sihyun memelas. “Hanya sebentar saja dokter Jung.”
Sedangkan
Hoseok hanya menghela napas mendengar penjelasan wanita di hadapannya.
“Baiklah, anggap saja aku mengizinkan, tapi apa kau lupa sedang ada dimana?
Kalau Namjoon tahu, dia pasti akan langsung membunuhku.”
“Aku
tahu, dan akan ku pastikan tidak akan ketahuan oleh siapapun.”
“Baiklah,
aku akan memberitahukan password-nya.”
…
“Kau
benar akan melakukan apapun?” tanya Jaein memastikan sembari menatap ke
arahnya.
Seokjin
mengangguk. “Kau tahu kan aku sangat bersungguh-sungguh,” tegasnya.
“Kalau
begitu lakukan sesuatu untukku.”
“Apa
itu?” Seokjin kembali bertanya. Pada dasarnya pria ini bisa melakukan apapun,
dan menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Jadi
untuk mendapatkan Jaein kembali padanya bukanlah hal sulit menurutnya.
“Kau
harus mengikuti kemanapun Sihyun eonni pergi.”
Pria
itu terbelalak tidak percaya. “Sihyun? Istri dosen itu? Kenapa kau ingin aku
mengikutinya?”
“Aku
ingin memastikan sesuatu saja. Eonni bersikap sangat aneh belakangan ini. aku menduga jika dia sedang hamil.”
Kening
Seokjin sukses mengkerut. “Sepertinya tidak, ku lihat tadi seperti biasa saja.”
“Kau
tidak tahu saja. Sekarang coba kau pikirkan, wanita yang dulu selalu memakai
pakaian modis pas badan, tiba-tiba menyingkirkan semua itu dan menggantinya
dengan oversized sweater.”
“Yah,
mungkin saja dia bosan dan ingin mengganti style-nya.”
“Jika
hanya itu, kenapa ia selalu menolak setiap kali oppa mengajaknya ke pesta pertemuan dan melemparnya padaku? Kau
__ADS_1
tahu apa alasannya? Ia tidak bisa menemukan gaun miliknya. Aneh bukan?” jelas
Jaein panjang lebar. “Dan lagi, aku sudah beberapa kali memergokinya minum susu
hamil.”
“Ya
mungkin saja dia memang benar hamil,” celetuk Seokjin asal.
“Dan
aku tidak ingin itu terjadi. Apa kau tahu jika kedua mertuaku itu masih belum
menerima keberadaanku dan Nami? Bisa ku tebak saat ini mereka bahagia karena
bayiku perempuan. Mereka tidak ingin mewariskan perusahaannya pada keturunanku.
Jika anakku tidak bisa mendapatkannya, begitu juga yang harus Sihyun eonni rasakan.”
“Jadi
intinya kau ingin aku melakukan sesuatu padanya?”
Jaein
menerawang lurus ke depan. Terlihat bibirnya menyeringai, dan tatapannya berubah
tajam. “Ikuti saja, dengan begitu aku bisa memutuskan apa yang harus ku
lakukan.”
…
‘Ikuti saja, dengan begitu aku bisa memutuskan apa
yang harus ku lakukan.’
Seokjin
kembali teringat tentang permintaan Jaein padanya. Pria itu pun kebingungan
harus memulainya darimana. Tidak mungkin jika ia harus menunggui Sihyun
seharian di depan rumahnya sampai wanita itu keluar kan? Lagipula ia juga memiliki
pekerjaan yang tidak bisa di tinggal begitu saja.
“Dokter
Kim,” sapa seorang suster yang kini tengah berada di hadapannya. “Sedang
memikirkan pacarmu ya? Kenapa tidak langsung pulang? Padahal sudah tidak ada
jadwal.”
Begitu
tersadar dari lamunannya, pria itu lantas segera menyunggingkan senyum
menawannya yang bisa membuat siapa saja tersihir saat melihatnya. “Kalau ku
bilang aku memikirkanmu bagaimana?”
“Aigoo dokter Kim bisa saja,” ujar sang
suster malu-malu. Begitulah cara Seokjin untuk menggoda gadis-gadis yang
menyukainya. Bagaimana ia bisa membedakan gadis yang menyukainya atau tidak?
Itulah salah satu kelebihan yang ia miliki. Ia bisa dengan mudah menebak gadis
yang menyukainya hanya dengan sekali pandang.
saja ia ingin menimpali ucapan suster tersebut, tiba-tiba saja seseorang
mencuri perhatiannya. ia memicingkan matanya agar pandangannya sedikit lebih
jelas.
“Oh
itu pasien tetap dokter Jung, nyonya Choi.” Agaknya suster tersebut bisa
menebak kemana arah pandang Seokjin tertuju. “Apa dokter mengenalnya?”
“Ah,
kau bilang tadi aku sudah tidak ada jadwal kan?”
…
“Beli
yang baru saja ya, toh bonekamu yang lama pasti berdebu karena sudah lama tidak
di pakai. Tidak baik untuk Nami juga sayang,” ujar Namjoon yang membuat Jaein
merengut seketika.
“Aku
tidak mau boneka yang lain, aku hanya mau boneka beruangku yang dulu pernah kau
berikan itu.”
Namjoon
hanya bisa menghela napas pasrah dengan permintaan istrinya. Jika sudah seperti
ini mana mungkin ia mampu menolak permintaan Jaein. Gadis itu benar-benar masih
sama seperti sebelum ada Nami, terkadang bisa sangat manja jika sedang merajuk
seperti ini.
“Baiklah,
aku akan mengambilnya sekarang juga. Kau senang, hm?” ucap Namjoon seraya mengecup gemas pipi gembil Nami. Sedangkan Jaein
hanya bisa terkekeh. “Sekarang kau dan Nami harus pulang, kalau tidak aku tidak
akan mau mengambilkan bonekanya untukmu,” gertak Namjoon.
“Iya appa, Nami akan pulang dengan eomma. Jangan lupa ambilkan boneka untuk
Nami ya,” ucap Jaein dengan nada yang dibuat-buat, seolah Nami yang tengah
mengatakannya pada Namjoon. “Saranghae
oppa.”
“Nado saranghae.”
…
Seperti
yang sudah dijanjikan, pria itu kini tengah berada di apartemen lama milik
Jaein untuk mengambil boneka beruang yang diinginkan gadis itu. Untuk beberapa
saat, Namjoon mengedarkan pandang mengamati keadaan apartemen tersebut. Ia
__ADS_1
berpikir akan menyuruh seseorang untuk membersihkan tempat ini nanti.
Ia
pun menemukan boneka Jaein tergeletak rapih di atas ranjang gadis itu. dan
seperti dugaannya, benda berbulu itu benar-benar berdebu karena tidak ada
pembungkus yang melindunginya. Pria itu pun hanya bisa menggelengkan kepala
seraya mengangkat boneka tersebut.
Setelah
membersihkan benda tersebut dari debu, ia segera memasukannya dalam kantong
plastik yang sebelumnya sudah ia siapkan.
“Ah,
menyusahkan sekali. Padahal aku bisa membelikannya yang baru,” gerutu Namjoon
sembari menutup kembali pintu kamar Jaein.
Pria
itu pun segera menuju pintu utama, tidak mau berlama-lama di tempat berdebu
seperti ini. tidak baik juga untuk pernapasannya.
”Bagaimana
ini? Waktunya sudah semakin dekat, dan tiba-tiba saja aku merasa takut Hoseok-ah. Pasti rasanya akan sakit sekali.”
Pria
itu seketika membeku saat mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.
Ia pun berbalik perlahan guna memastikan apa yang ia duga benar atau tidak. Ia
memicing tidak percaya saat menemukan Sihyun dan Hoseok tengah bercanda di
depan pintu apartemen Hoseok. Sepertinya mereka belum menyadari keberadaan
Namjoon, karena masih saja meneruskan candaan mereka yang membuat Namjoon
sedikit harus berpikir keras untuk mengerti maksudnya.
“Choi
Sihyun…”
Seperti
dugaannya, kedua manusia itu menoleh dengan wajah yang nampak terkejut. Terlebih
Sihyun, wanita itu benar-benar ketakutan melihat Namjoon dan dengan segera
membenarkan matel miliknya agar menutupi perutnya yang terlihat menyembul. Saat
itu juga, Namjoon bisa mengerti situasi seperti apa yang sedang terjadi di
antara mereka.
“Joon-ah…”
“Jadi
ini yang kau lakukan di belakangku Choi Sihyun? Ah, pantas saja kau selalu
memakai oversized sweater, dan
menolak ajakanku ke pesta pertemuan, karena kau sedang hamil?”
Wanita
itu semakin salah tingkah karena ucapan Namjoon. Hal itu membuat Namjoon
semakin memperkuat dugaannya jika Sihyun tengah berselingkuh dengan Hoseok di
belakangnya.
“Aku
bisa jelaskan, semua ini tidak seperti yang kau pikirkan,” ucap Sihyun memelas
seraya meraih tangan suaminya.
“Apa
yang kau jelaskan? Kau ingin membalas perbuatanku padamu dengan melakukan hal
yang sama dengan Hoseok? Apa kau iri karena Jaein lebih dulu memberiku
keturunan?”
Plak!
Satu
tamparan berhasil mendarat di pipi Namjoon. Wajah Sihyun memerah, menahan amarah
karena ucapan Namjoon. Dan kini terlihat air mata mengumpul di pelupuk matanya.
Hanya satu kedipan saja, maka pertahanan yang dibuatnya akan hancur.
“Akhirnya
kau menunjukkan sifat aslimu Choi Sihyun. Aku mengerti sekarang kenapa kau
tetap memilih bertahan denganku, kau ingin membalas dendam padaku kan?”
Bugh!
Kali
ini Hoseok yang bertindak, hingga membuat Namjoon terhuyung. Ia benar-benar
tidak tahan dengan semua ucapan tajam Namjoon yang akan semakin menyakiti
Sihyun. Karena pada dasarnya Sihyun adalah korban. Namun, dalam sudut pandang
Namjoon ia menjadi tersangka.
“Apa
kau tidak bisa menjaga ucapanmu Kim Namjoon? Setidaknya kau bisa mendengar
penjelasan Sihyun lebih dulu.”
“Sebaiknya
kau tidak perlu ikut campur Jung Hoseok!” gertak Namjoon. Kali ini Namjoon
sudah terpancing emosi dan berniat membalas pukulan dokter muda itu.
“Andwae! Joon-ah hentikan!” pinta Sihyun sembari menahan tangan Namjoon yang
hendak melayangkan pukulan pada Hoseok.
“Akh!”
…
__ADS_1
15 April 2020 - Itsmehyuna_