Our Marriage

Our Marriage
Chapter 11


__ADS_3

“Choi Sihyun sadarkan


dirimu! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu sampai memohon pada kami untuk


menikahkan Namjoon di saat ia sudah punya istri. Apa kau sudah tidak mencintai


suamimu?” Sentak Yo Won pada Sihyun.


Sedangkan Jungwoo


hanya terdiam sembari menatap intens pada menantunya itu.


“Aku mencintainya eomma, sangat mencintainya. Tapi sampai


sekarang aku belum juga bisa memberi apa yang Namjoon dan kalian inginkan. Jika


ia menikah dengan Jaein maka semua itu akan terkabul eomma.”


Yo Won tiba-tiba


merasakan pening di kepalanya. Ia pun memutuskan untuk duduk di sofa agar ia


tidak tumbang karena situasi seperti ini.


“Sebenarnya Jaein


sudah hamil, dan aku yang menyuruh Namjoon melakukannya,” ujar Sihyun lirih.


Sontak saja membuat Yo Won semakin naik pitam. Ia tidak menyangka menantunya


bisa berpikiran pendek seperti itu.


Plak!


Sihyun merasakan panas


di pipinya karena tamparan tersebut. “Kenapa kau melakukan semua ini?”


Air mata Sihyun sudah


berderai membasahi pipinya. Bahunya bergetar menahan agar tangisannya tidak


tumpah. “Karena aku sudah mengecewakan kalian semua.”


“Siapa yang menyuruhmu


melakukannya Choi Sihyun? Siapa yang bilang kami kecewa padamu, eoh? Kami tidak masalah dengan semua


itu,” terang Yo Won yang sudah menurunkan nada bicaranya. Dan siapa sangka ibu


mertuanya itu kini juga telah meneteskan air matanya, merasa simpati dengan


menantunya.


Sihyun terdiam. Detik


berikutnya ia menoleh menatap ayah mertuanya yang masih bertahan di posisinya.


Kemudian ia mendekati pria paruh baya itu, dan berlutut di hadapannya tanpa


diperintah.


“Appa kumohon kabulkan keinginanku, kau sudah berjanji akan


memberikan apapun yang aku minta. Aku hanya ingin membuat Namjoon dan kalian


semua bahagia.”


Terdengar helaan napas


Jungwoo, lantas berlutut guna menyamakan posisinya dengan Sihyun. “Dengan


mengorbankan kebahagiaanmu? Apa itu yang kau mau?”


Sihyun pun mengangguk.


“Jika aku mengabulkan


permintaanmu, lalu apa yang akan ku katakana pada ayahmu Sihyun-ah? Dia pasti akan murka denganku,


dengan Namjoon juga.”


Wanita itu menggenggam


tangan ayah mertuanya. “Aku yang akan bicara padanya appa, asalkan kau mengizinkan Namjoon menikah dengan Jaein. Ia


gadis yang baik appa, eomma.”


Tak kuasa melihat


kesedihan menantunya, Jungwoo pun membawa Sihyun dalam pelukannya. Pria ini


memang sudah menganggap Sihyun seperti putri kandungnya sendiri. Diusapnya


lembut surai hitam Sihyun. Dan sontak saja pertahanan Sihyun runtuh begitu


saja, tangisnya pun kini sudah tak bisa terbendung lagi. Ia pun membalas


pelukan sang ayah mertua, membenamkan wajahnya, menumpahkan segala kesedihan


yang selama ini ia sembunyikan.


“Kau pasti sangat


tertekan selama ini.”



Jaein membeku di


tempatnya saat mendengar suara sentakan ibu mertua Sihyun. Sepertinya wanita


itu sedang meminta izin agar Namjoon menikah dengannya.


Entah mengapa


mendengar semua itu, seperti ada yang bergetar di dadanya. Ia tidak bisa


membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Sihyun. Mungkin ia sudah murka,


dan memaki-maki wanita yang merebut suaminya. Tapi tidak dengan Sihyun, wanita


itu bahkan rela membagi suaminya meskipun ia sendiri tersakiti.


Jaein tidak habis


pikir, kenapa ada wanita sebaik Sihyun di dunia ini. Membuat situasi Jaein


semakin buruk. Ia benar-benar merasa bersalah padanya.


Kini mereka berdua


telah berada di dalam mobil. Setelah makan siang, Sihyun memutuskan untuk


mengajak Jaein pulang saja. Lagipula gadis itu harus banyak istirahat. Begitu


pula dengan Sihyun, ia perlu mengistirahatkan pikiran, terutama hatinya.


Hening menyelimuti,


tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Hingga pada akhirnya Jaein


memutuskan untuk berbicara.


“Eonni mianhae, karena aku kau harus dimarahi. Sungguh aku tidak


apa-apa jika Namjoon oppa tidak


menikahiku. Lebih baik aku yang mengalah saja.”


Sihyun tersenyum. “Gwaenchana Jaein-ah, aku kan sudah bilang anakmu harus lahir dengan seorang ayah.


Lagi pula aku baik-baik saja.”


“Tapi eonni‒”


“Sudahlah kau tidak


perlu mengkhawatirkannya Jaein-ah,


tugasmu hanya perlu menjaga kandunganmu dengan baik.”



“Joon, cepat bangunkan


Jaein, gadis itu harus makan.”


Namjoon yang baru


turun dari kamarnya pun tersentak dengan ucapan Sihyun. Ia menatap punggung


wanita yang sedang berkutat dengan masakannya. Bagaimana bisa ia mempunyai


istri yang baiknya bagai malaikat, dan bahkan sekarang dengan suka rela


mengurus calon istri suaminya. Lemparkan saja pria itu ke lembah terdalam karena


sifat egoisnya.


“Joon, apa kau


mendengarku?”


Pria itu pun


terkesiap, dan menatap istrinya yang kini sudah berbalik menghadapnya. “Ah iya


aku akan membangunkannya,” ucapnya lirih, lantas beranjak kembali menuju kamar


Jaein.


Entah apa yang terjadi

__ADS_1


padanya, akhir-akhir ini saat bertemu dengan Jaein pria itu menjadi sangat


canggung. Berbeda sekali saat mereka menjalani hubungan di belakang Sihyun,


sangat intim dan romantis.


“Jaein-ah apa kau sudah bangun?” tanya Namjoon


dari depan pintu sembari mengetuknya.


Menyadari tidak ada


jawaban darinya, ia pun memutuskan untuk langsung masuk saja. Toh dulu saat


mereka pacaran, Namjoon juga sering keluar masuk apartemen Jaein dengan bebas.


Pria itu mengerutkan


keningnya saat melihat Jaein tengah duduk termangu di tepi ranjang dengan


membelakanginya. Lantas ia pun memilih untuk mendekati gadisnya.


“Jaein-ah kau kenapa?” tanya Namjoon yang kini


sudah duduk di sebelahnya.


“Eomma akan datang.”


“Lalu kenapa kau sedih


begitu? Bagus kan kalau ia menemui putrinya.”


Jaein menoleh pada


Namjoon dengan tatapan khawatir. Namjoon pun dibuat bingung dengan tatapan itu.


“Ia bilang akan


tinggal di sini oppa.”


Detik berikutnya


Namjoon mengulas senyum di bibirnya. Tangannya terulur untuk mengusap lembut


surai Jaein. “Jadi itu yang membuatmu sangat khawatir? Biarkan saja, toh di


sini juga masih ada kamar kosong.”


“Tapi eomma‒”


“Jangan dipikirkan


lagi, aku dan Sihyun tidak akan keberatan. Sudahlah kajja kita makan, jika aku tidak segera membawamu ke dapur, Sihyun


pasti akan segera membunuhku.”


Sontak saja Jaein


dibuat terkekeh karena ucapan Namjoon. “Mana mungkin eonni membunuh suaminya sendiri.”


“Mungkin saja kan,


kita tidak pernah tahu,” ujar Namjoon dengan senyum miring di bibirnya.


Jika


membunuh suaminya sendiri saja bisa menjadi mungkin, lalu membunuhku pun ia


juga pasti bisa.



“Orang seperti apa


ibumu Jaein-ah?”


Jaein mengernyit


mendengar ucapan Sihyun. Ia sedikit rancu dengan pertanyaan ‘orang seperti


apa’. Membuatnya hampir salah paham dengan maksud wanita itu.


“Ibuku wanita yang


baik eonni,”


Tentu saja Sihyun


tahu. Bahkan semua anak pun jika ditanya seperti itu jawaban mereka juga pasti


mengatakan bahwa ibunya baik. Tapi ia tidak mau ambil pusing, dan mengangguk


mengerti.


Ia mengedarkan pandang


ke penjuru stasiun. Menatap orang-orang yang berlalu lalang, berharap segera


bertemu dengan wanita yang mereka tunggu, dan membuat Sihyun sangat penasaran.


kereta.


Mereka berdua pun


berpelukan menyalurkan rasa rindu karena lama tak berjumpa. Detik berikutnya


pandangan Sihyun bertemu dengan tatapan tajam wanita yang sudah melahirkan


Jaein. Sontak saja ia mengukir senyum di bibirnya untuk memberikan kesan baik.


“Selamat siang eommonim.”


“Sudah kajja kita pulang, aku sangat lelah. Dan


kau tolong bawakan koperku ini,” utusnya pada Sihyun.


“Aniya eomma biar aku saja yang membawanya,” tolak Jaein yang segera


menyambar koper milik ibunya. Namun sang ibu menahannya.


“Kau kan sedang hamil,


jadi jangan bawa barang berat! Biar dia saja yang membawanya, kau tidak


keberatan kan?” tanya wanita bernama Song Yoon Ah itu pada Sihyun.


Sihyun yang masih


mencoba mencerna ucapan Yoon Ah padanya pun hanya bisa menganggukkan kepala.


“Tentu aku tidak keberatan eommonim.”


Kemudian Yoon Ah pun


menuntun putrinya berjalan meninggalkan Sihyung yang masih termenung di


tempatnya. Wanita itupun menghela napas dan menarik kopernya mengikuti Yoon Ah


dan Jaein. Dalam benaknya berpikir mungkin yang dilakukan ibu Jaein memang


benar, wanita hamil itu tidak boleh membawa barang berat.



“Wah rumah ini


ternyata bagus juga ya?” ujar Yoon Ah seraya mengedarkan pandangan ke seluruh


penjuru rumah milik Namjoon.


“Eomma jangan berlebihan begitu.”


“Memangnya kenapa? Ini


kan akan jadi rumahmu juga,” ujarnya cuek.


Sedangkan Sihyun yang


sedang menyiapkan kamar untuk ibu Jaein hanya bisa menghela napas mendengar


celotehan ibu dan anak itu.


“Eommonim kamar anda sudah siap, silahkan jika anda ingin


beristirahat,” ucap Sihyun lembut tidak lupa dengan senyum di bibirnya.


“Eoh terimakasih,


ngomong-ngomong kau bisa meninggalkan kami berdua?”


Sontak saja ucapan


Yoon Ah membuat Sihyun dan Jaein tercengang. “Ah itu, tentu saja eommonim. Semoga anda betah tinggal di


sini, permisi.” pamit Sihyun. Setelah itu ia pun melenggang meninggalkan


pasangan orang tua dan anak itu.


“Pantas saja suaminya


berpaling, dia saja tidak lebih cantik darimu,” tukasnya terang-terangan.


“Eomma! Jangan bicara seperti itu, eonni bisa mendengarnya nanti!” sentak Jaein pada ibunya. Kemudian


menarik sang ibu menuju kamarnya.


Gadis itu tidak habis


pikir, kenapa ibunya memiliki lidah yang tajam seperti itu.


“Ya memangnya kenapa?


Aku bicara sesungguhnya, lagipula dia tidak bisa hamil kan? Jadi wajar saja

__ADS_1


jika suaminya lebih memilihmu.”


“Eomma kumohon, bersikaplah baik pada Sihyun eonni.”


Yoon Ah memalingkan


wajahnya seolah tidak ingin mendengar perkataan putrinya.



“Bagaimana perjalanan eommonim hari ini?” tanya Namjoon.


Kini mereka berempat


tengah berkumpul di ruang makan sembari berbincang-bincang ringan tentang


kesibukan mereka. Begitu pula Namjoon yang sudah cukup akrab dengan calon ibu


mertuanya itu.


“Tidak buruk, aku


banyak tidur di kereta,” jawabnya sambil terkekeh diikuti Namjoon dan Jaein


juga.


Sedangkan Sihyun hanya


tersenyum mendengar cerita ibunda Jaein, lantas mengulurkan lauk makan malam


untuk Yoon Ah.


“Silahkan dimakan eommonim, semoga anda menyukainya.”


“Ah terimakasih


Sihyun-ah­, pasti akan ku habiskan,”


jawab Yoon Ah ramah dengan senyum di bibirnya. Berbeda dengan saat pertemuan


pertama mereka di stasiun. Membuat Sihyun tersentak keheranan.


“Ah iya eommonim.”


“Jangan panggil


begitu, panggil eomma saja seperti


Jaein, lagipula sebentar lagi kan kita jadi keluarga,” Jelasnya.


Sihyun dibuat


tercengang dengan penjelasan Yoon Ah. Pasalnya wanita itu sangat dingin


padanya, dan sekarang ia berubah 180 derajat. Tidak mau ambil pusing ia pun


tersenyum dan mengangguk mengerti. Begitupun dengan Namjoon. Mungkin hanya


perasaannya Sihyun saja karena Yoon Ah kelelahan setelah menempuh perjalanan


jauh.



“Selamat datang


nyonya, silahkan duduk. Pasti anda lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari


Incheon.” Sapa Yo Won, ibu Namjoon pada Yoon Ah yang baru saja datang.


Mereka semua memang


sengaja datang ke rumah besar Kim untuk membicarakan tentang pernikahan Jaein


dan Namjoon nantinya. Kini namjoon tengah memanggil sang ayah, sedangkan Sihyun


langsung saja melenggang ke dapur untuk menyiapkan minum dan camilan ringan.


“Ah tidak juga nyonya


Kim, semalam aku sudah cukup beristirahat,” jawabnya.


Selang beberapa saat


Namjoon pun turun dan menghampiri para ibu di ruang tamu. “Kata appa sebaiknya bicara di ruangannya saja eomma.”


“Arraseo, kalau begitu sebaiknya ajak nyonya Song dan Jaein dulu, eomma akan menunggu Sihyun,” titah sang


ibu. Sebenarnya pria itu ingin menolak, tapi setelah mendapat tatapan tajam


ibunya, ia pun menurut dan mengajak Yoon Ah dan Jaein menuju ruangan sang ayah.


“Eoh, kenapa eomma sendirian?


Dimana yang lainnya?” tanya Sihyun dengan Nampan berisi kue, di ikuti bibi Han


yang tengah membawakan minumannya.


“Ayahmu ingin bicara


di ruangannya Sihyun-ah, ayo kita


kesana.”


Namun Sihyun masih


membeku di tempatnya. Entah mengapa hatinya terasa berat. Sudah cukup merelakan


suaminya untuk menikah lagi, ia tidak bisa jika bergabung dalam pertemuan ini.


Itu akan menyakiti hatinya sekali lagi.


“Sihyun-ah kau kenapa?” tanya Yo Won yang


tahu-tahu sudah berada di hadapannya.


“Ah tidak apa-apa eomma, sepertinya masih ada yang


ketinggalan di dapur. Eomma duluan


saja, nanti aku menyusul,” ucapnya lantas mengulurkan kue yang tengah


dipegangnya pada Yo Won.


Ia pun melenggang


meninggalkan mertuanya itu. Belum jauh ia melangkah Yo Won menginterupsinya.


“Apa kau ingin menarik


ucapanmu Sihyun-ah? Apa kau ingin


membatalkan semua ini saja, hm?”


Wanita itu tersentak,


dan seketika menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Yo Won. Demi apa


wanita itu ingin sekali menumpahkan semua air matanya, dan menghambur ke


pelukan ibu mertuanya saat ini. Tapi egonya lebih besar, dan memilih terus


melangkahkan kakinya menuju dapur dan meninggalkan Yo Won yang masih


menatapnya.


“Mana Sihyun eomma?” tanya Namjoon saat mengetahui


ibunya masuk sendiri tanpa ada Sihyun.


Yo Won tersenyum


mencoba menetralkan raut wajahnya agar putranya tidak curiga. Ia sangat tahu


jika Sihyun sedang mencoba menghindari pertemuan ini.


“Dia masih mengambil


sesuatu di dapur, nanti dia juga menyusul. Kita mulai saja,” jawab Yo Won yang


kini sudah duduk di samping suaminya.


“Baiklah, tentang


pernikahan Namjoon dan Jaein, kami yang akan menyiapkan semuanya,” ucap Jungwoo


membuka suara. “Tapi maaf pernikahannya hanya akan dihadiri oleh keluarga dekat


saja, kita tidak akan mengundang banyak tamu.”


Yoon Ah hanya


mengangguk. Wanita itu setuju saja selama semua itu tidak merugikannya. Toh


sebentar lagi putrinya akan menjadi anggota keluarga Kim yang terkenal itu.


“Aku tidak masalah


dengan itu tuan Kim, hanya saja aku punya satu permintaan.”


Jungwoo terlihat


tenang mendengar ucapan Yoon Ah. “Katakan saja apa permintaanmu nyonya Song?”


Yoon Ah menyunggingkan


senyum miring di bibirnya dan menyilangkan kakinya. “Aku hanya ingin


pernikahannya dipercepat.”



 

__ADS_1


 


12 Januari 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2