
“Choi Sihyun sadarkan
dirimu! Apa kau sudah kehilangan akal sehatmu sampai memohon pada kami untuk
menikahkan Namjoon di saat ia sudah punya istri. Apa kau sudah tidak mencintai
suamimu?” Sentak Yo Won pada Sihyun.
Sedangkan Jungwoo
hanya terdiam sembari menatap intens pada menantunya itu.
“Aku mencintainya eomma, sangat mencintainya. Tapi sampai
sekarang aku belum juga bisa memberi apa yang Namjoon dan kalian inginkan. Jika
ia menikah dengan Jaein maka semua itu akan terkabul eomma.”
Yo Won tiba-tiba
merasakan pening di kepalanya. Ia pun memutuskan untuk duduk di sofa agar ia
tidak tumbang karena situasi seperti ini.
“Sebenarnya Jaein
sudah hamil, dan aku yang menyuruh Namjoon melakukannya,” ujar Sihyun lirih.
Sontak saja membuat Yo Won semakin naik pitam. Ia tidak menyangka menantunya
bisa berpikiran pendek seperti itu.
Plak!
Sihyun merasakan panas
di pipinya karena tamparan tersebut. “Kenapa kau melakukan semua ini?”
Air mata Sihyun sudah
berderai membasahi pipinya. Bahunya bergetar menahan agar tangisannya tidak
tumpah. “Karena aku sudah mengecewakan kalian semua.”
“Siapa yang menyuruhmu
melakukannya Choi Sihyun? Siapa yang bilang kami kecewa padamu, eoh? Kami tidak masalah dengan semua
itu,” terang Yo Won yang sudah menurunkan nada bicaranya. Dan siapa sangka ibu
mertuanya itu kini juga telah meneteskan air matanya, merasa simpati dengan
menantunya.
Sihyun terdiam. Detik
berikutnya ia menoleh menatap ayah mertuanya yang masih bertahan di posisinya.
Kemudian ia mendekati pria paruh baya itu, dan berlutut di hadapannya tanpa
diperintah.
“Appa kumohon kabulkan keinginanku, kau sudah berjanji akan
memberikan apapun yang aku minta. Aku hanya ingin membuat Namjoon dan kalian
semua bahagia.”
Terdengar helaan napas
Jungwoo, lantas berlutut guna menyamakan posisinya dengan Sihyun. “Dengan
mengorbankan kebahagiaanmu? Apa itu yang kau mau?”
Sihyun pun mengangguk.
“Jika aku mengabulkan
permintaanmu, lalu apa yang akan ku katakana pada ayahmu Sihyun-ah? Dia pasti akan murka denganku,
dengan Namjoon juga.”
Wanita itu menggenggam
tangan ayah mertuanya. “Aku yang akan bicara padanya appa, asalkan kau mengizinkan Namjoon menikah dengan Jaein. Ia
gadis yang baik appa, eomma.”
Tak kuasa melihat
kesedihan menantunya, Jungwoo pun membawa Sihyun dalam pelukannya. Pria ini
memang sudah menganggap Sihyun seperti putri kandungnya sendiri. Diusapnya
lembut surai hitam Sihyun. Dan sontak saja pertahanan Sihyun runtuh begitu
saja, tangisnya pun kini sudah tak bisa terbendung lagi. Ia pun membalas
pelukan sang ayah mertua, membenamkan wajahnya, menumpahkan segala kesedihan
yang selama ini ia sembunyikan.
“Kau pasti sangat
tertekan selama ini.”
…
Jaein membeku di
tempatnya saat mendengar suara sentakan ibu mertua Sihyun. Sepertinya wanita
itu sedang meminta izin agar Namjoon menikah dengannya.
Entah mengapa
mendengar semua itu, seperti ada yang bergetar di dadanya. Ia tidak bisa
membayangkan jika dirinya yang berada di posisi Sihyun. Mungkin ia sudah murka,
dan memaki-maki wanita yang merebut suaminya. Tapi tidak dengan Sihyun, wanita
itu bahkan rela membagi suaminya meskipun ia sendiri tersakiti.
Jaein tidak habis
pikir, kenapa ada wanita sebaik Sihyun di dunia ini. Membuat situasi Jaein
semakin buruk. Ia benar-benar merasa bersalah padanya.
Kini mereka berdua
telah berada di dalam mobil. Setelah makan siang, Sihyun memutuskan untuk
mengajak Jaein pulang saja. Lagipula gadis itu harus banyak istirahat. Begitu
pula dengan Sihyun, ia perlu mengistirahatkan pikiran, terutama hatinya.
Hening menyelimuti,
tidak ada satupun dari mereka yang membuka suara. Hingga pada akhirnya Jaein
memutuskan untuk berbicara.
“Eonni mianhae, karena aku kau harus dimarahi. Sungguh aku tidak
apa-apa jika Namjoon oppa tidak
menikahiku. Lebih baik aku yang mengalah saja.”
Sihyun tersenyum. “Gwaenchana Jaein-ah, aku kan sudah bilang anakmu harus lahir dengan seorang ayah.
Lagi pula aku baik-baik saja.”
“Tapi eonni‒”
“Sudahlah kau tidak
perlu mengkhawatirkannya Jaein-ah,
tugasmu hanya perlu menjaga kandunganmu dengan baik.”
…
“Joon, cepat bangunkan
Jaein, gadis itu harus makan.”
Namjoon yang baru
turun dari kamarnya pun tersentak dengan ucapan Sihyun. Ia menatap punggung
wanita yang sedang berkutat dengan masakannya. Bagaimana bisa ia mempunyai
istri yang baiknya bagai malaikat, dan bahkan sekarang dengan suka rela
mengurus calon istri suaminya. Lemparkan saja pria itu ke lembah terdalam karena
sifat egoisnya.
“Joon, apa kau
mendengarku?”
Pria itu pun
terkesiap, dan menatap istrinya yang kini sudah berbalik menghadapnya. “Ah iya
aku akan membangunkannya,” ucapnya lirih, lantas beranjak kembali menuju kamar
Jaein.
Entah apa yang terjadi
__ADS_1
padanya, akhir-akhir ini saat bertemu dengan Jaein pria itu menjadi sangat
canggung. Berbeda sekali saat mereka menjalani hubungan di belakang Sihyun,
sangat intim dan romantis.
“Jaein-ah apa kau sudah bangun?” tanya Namjoon
dari depan pintu sembari mengetuknya.
Menyadari tidak ada
jawaban darinya, ia pun memutuskan untuk langsung masuk saja. Toh dulu saat
mereka pacaran, Namjoon juga sering keluar masuk apartemen Jaein dengan bebas.
Pria itu mengerutkan
keningnya saat melihat Jaein tengah duduk termangu di tepi ranjang dengan
membelakanginya. Lantas ia pun memilih untuk mendekati gadisnya.
“Jaein-ah kau kenapa?” tanya Namjoon yang kini
sudah duduk di sebelahnya.
“Eomma akan datang.”
“Lalu kenapa kau sedih
begitu? Bagus kan kalau ia menemui putrinya.”
Jaein menoleh pada
Namjoon dengan tatapan khawatir. Namjoon pun dibuat bingung dengan tatapan itu.
“Ia bilang akan
tinggal di sini oppa.”
Detik berikutnya
Namjoon mengulas senyum di bibirnya. Tangannya terulur untuk mengusap lembut
surai Jaein. “Jadi itu yang membuatmu sangat khawatir? Biarkan saja, toh di
sini juga masih ada kamar kosong.”
“Tapi eomma‒”
“Jangan dipikirkan
lagi, aku dan Sihyun tidak akan keberatan. Sudahlah kajja kita makan, jika aku tidak segera membawamu ke dapur, Sihyun
pasti akan segera membunuhku.”
Sontak saja Jaein
dibuat terkekeh karena ucapan Namjoon. “Mana mungkin eonni membunuh suaminya sendiri.”
“Mungkin saja kan,
kita tidak pernah tahu,” ujar Namjoon dengan senyum miring di bibirnya.
Jika
membunuh suaminya sendiri saja bisa menjadi mungkin, lalu membunuhku pun ia
juga pasti bisa.
…
“Orang seperti apa
ibumu Jaein-ah?”
Jaein mengernyit
mendengar ucapan Sihyun. Ia sedikit rancu dengan pertanyaan ‘orang seperti
apa’. Membuatnya hampir salah paham dengan maksud wanita itu.
“Ibuku wanita yang
baik eonni,”
Tentu saja Sihyun
tahu. Bahkan semua anak pun jika ditanya seperti itu jawaban mereka juga pasti
mengatakan bahwa ibunya baik. Tapi ia tidak mau ambil pusing, dan mengangguk
mengerti.
Ia mengedarkan pandang
ke penjuru stasiun. Menatap orang-orang yang berlalu lalang, berharap segera
bertemu dengan wanita yang mereka tunggu, dan membuat Sihyun sangat penasaran.
kereta.
Mereka berdua pun
berpelukan menyalurkan rasa rindu karena lama tak berjumpa. Detik berikutnya
pandangan Sihyun bertemu dengan tatapan tajam wanita yang sudah melahirkan
Jaein. Sontak saja ia mengukir senyum di bibirnya untuk memberikan kesan baik.
“Selamat siang eommonim.”
“Sudah kajja kita pulang, aku sangat lelah. Dan
kau tolong bawakan koperku ini,” utusnya pada Sihyun.
“Aniya eomma biar aku saja yang membawanya,” tolak Jaein yang segera
menyambar koper milik ibunya. Namun sang ibu menahannya.
“Kau kan sedang hamil,
jadi jangan bawa barang berat! Biar dia saja yang membawanya, kau tidak
keberatan kan?” tanya wanita bernama Song Yoon Ah itu pada Sihyun.
Sihyun yang masih
mencoba mencerna ucapan Yoon Ah padanya pun hanya bisa menganggukkan kepala.
“Tentu aku tidak keberatan eommonim.”
Kemudian Yoon Ah pun
menuntun putrinya berjalan meninggalkan Sihyung yang masih termenung di
tempatnya. Wanita itupun menghela napas dan menarik kopernya mengikuti Yoon Ah
dan Jaein. Dalam benaknya berpikir mungkin yang dilakukan ibu Jaein memang
benar, wanita hamil itu tidak boleh membawa barang berat.
…
“Wah rumah ini
ternyata bagus juga ya?” ujar Yoon Ah seraya mengedarkan pandangan ke seluruh
penjuru rumah milik Namjoon.
“Eomma jangan berlebihan begitu.”
“Memangnya kenapa? Ini
kan akan jadi rumahmu juga,” ujarnya cuek.
Sedangkan Sihyun yang
sedang menyiapkan kamar untuk ibu Jaein hanya bisa menghela napas mendengar
celotehan ibu dan anak itu.
“Eommonim kamar anda sudah siap, silahkan jika anda ingin
beristirahat,” ucap Sihyun lembut tidak lupa dengan senyum di bibirnya.
“Eoh terimakasih,
ngomong-ngomong kau bisa meninggalkan kami berdua?”
Sontak saja ucapan
Yoon Ah membuat Sihyun dan Jaein tercengang. “Ah itu, tentu saja eommonim. Semoga anda betah tinggal di
sini, permisi.” pamit Sihyun. Setelah itu ia pun melenggang meninggalkan
pasangan orang tua dan anak itu.
“Pantas saja suaminya
berpaling, dia saja tidak lebih cantik darimu,” tukasnya terang-terangan.
“Eomma! Jangan bicara seperti itu, eonni bisa mendengarnya nanti!” sentak Jaein pada ibunya. Kemudian
menarik sang ibu menuju kamarnya.
Gadis itu tidak habis
pikir, kenapa ibunya memiliki lidah yang tajam seperti itu.
“Ya memangnya kenapa?
Aku bicara sesungguhnya, lagipula dia tidak bisa hamil kan? Jadi wajar saja
__ADS_1
jika suaminya lebih memilihmu.”
“Eomma kumohon, bersikaplah baik pada Sihyun eonni.”
Yoon Ah memalingkan
wajahnya seolah tidak ingin mendengar perkataan putrinya.
…
“Bagaimana perjalanan eommonim hari ini?” tanya Namjoon.
Kini mereka berempat
tengah berkumpul di ruang makan sembari berbincang-bincang ringan tentang
kesibukan mereka. Begitu pula Namjoon yang sudah cukup akrab dengan calon ibu
mertuanya itu.
“Tidak buruk, aku
banyak tidur di kereta,” jawabnya sambil terkekeh diikuti Namjoon dan Jaein
juga.
Sedangkan Sihyun hanya
tersenyum mendengar cerita ibunda Jaein, lantas mengulurkan lauk makan malam
untuk Yoon Ah.
“Silahkan dimakan eommonim, semoga anda menyukainya.”
“Ah terimakasih
Sihyun-ah, pasti akan ku habiskan,”
jawab Yoon Ah ramah dengan senyum di bibirnya. Berbeda dengan saat pertemuan
pertama mereka di stasiun. Membuat Sihyun tersentak keheranan.
“Ah iya eommonim.”
“Jangan panggil
begitu, panggil eomma saja seperti
Jaein, lagipula sebentar lagi kan kita jadi keluarga,” Jelasnya.
Sihyun dibuat
tercengang dengan penjelasan Yoon Ah. Pasalnya wanita itu sangat dingin
padanya, dan sekarang ia berubah 180 derajat. Tidak mau ambil pusing ia pun
tersenyum dan mengangguk mengerti. Begitupun dengan Namjoon. Mungkin hanya
perasaannya Sihyun saja karena Yoon Ah kelelahan setelah menempuh perjalanan
jauh.
…
“Selamat datang
nyonya, silahkan duduk. Pasti anda lelah setelah menempuh perjalanan jauh dari
Incheon.” Sapa Yo Won, ibu Namjoon pada Yoon Ah yang baru saja datang.
Mereka semua memang
sengaja datang ke rumah besar Kim untuk membicarakan tentang pernikahan Jaein
dan Namjoon nantinya. Kini namjoon tengah memanggil sang ayah, sedangkan Sihyun
langsung saja melenggang ke dapur untuk menyiapkan minum dan camilan ringan.
“Ah tidak juga nyonya
Kim, semalam aku sudah cukup beristirahat,” jawabnya.
Selang beberapa saat
Namjoon pun turun dan menghampiri para ibu di ruang tamu. “Kata appa sebaiknya bicara di ruangannya saja eomma.”
“Arraseo, kalau begitu sebaiknya ajak nyonya Song dan Jaein dulu, eomma akan menunggu Sihyun,” titah sang
ibu. Sebenarnya pria itu ingin menolak, tapi setelah mendapat tatapan tajam
ibunya, ia pun menurut dan mengajak Yoon Ah dan Jaein menuju ruangan sang ayah.
“Eoh, kenapa eomma sendirian?
Dimana yang lainnya?” tanya Sihyun dengan Nampan berisi kue, di ikuti bibi Han
yang tengah membawakan minumannya.
“Ayahmu ingin bicara
di ruangannya Sihyun-ah, ayo kita
kesana.”
Namun Sihyun masih
membeku di tempatnya. Entah mengapa hatinya terasa berat. Sudah cukup merelakan
suaminya untuk menikah lagi, ia tidak bisa jika bergabung dalam pertemuan ini.
Itu akan menyakiti hatinya sekali lagi.
“Sihyun-ah kau kenapa?” tanya Yo Won yang
tahu-tahu sudah berada di hadapannya.
“Ah tidak apa-apa eomma, sepertinya masih ada yang
ketinggalan di dapur. Eomma duluan
saja, nanti aku menyusul,” ucapnya lantas mengulurkan kue yang tengah
dipegangnya pada Yo Won.
Ia pun melenggang
meninggalkan mertuanya itu. Belum jauh ia melangkah Yo Won menginterupsinya.
“Apa kau ingin menarik
ucapanmu Sihyun-ah? Apa kau ingin
membatalkan semua ini saja, hm?”
Wanita itu tersentak,
dan seketika menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Yo Won. Demi apa
wanita itu ingin sekali menumpahkan semua air matanya, dan menghambur ke
pelukan ibu mertuanya saat ini. Tapi egonya lebih besar, dan memilih terus
melangkahkan kakinya menuju dapur dan meninggalkan Yo Won yang masih
menatapnya.
“Mana Sihyun eomma?” tanya Namjoon saat mengetahui
ibunya masuk sendiri tanpa ada Sihyun.
Yo Won tersenyum
mencoba menetralkan raut wajahnya agar putranya tidak curiga. Ia sangat tahu
jika Sihyun sedang mencoba menghindari pertemuan ini.
“Dia masih mengambil
sesuatu di dapur, nanti dia juga menyusul. Kita mulai saja,” jawab Yo Won yang
kini sudah duduk di samping suaminya.
“Baiklah, tentang
pernikahan Namjoon dan Jaein, kami yang akan menyiapkan semuanya,” ucap Jungwoo
membuka suara. “Tapi maaf pernikahannya hanya akan dihadiri oleh keluarga dekat
saja, kita tidak akan mengundang banyak tamu.”
Yoon Ah hanya
mengangguk. Wanita itu setuju saja selama semua itu tidak merugikannya. Toh
sebentar lagi putrinya akan menjadi anggota keluarga Kim yang terkenal itu.
“Aku tidak masalah
dengan itu tuan Kim, hanya saja aku punya satu permintaan.”
Jungwoo terlihat
tenang mendengar ucapan Yoon Ah. “Katakan saja apa permintaanmu nyonya Song?”
Yoon Ah menyunggingkan
senyum miring di bibirnya dan menyilangkan kakinya. “Aku hanya ingin
pernikahannya dipercepat.”
…
__ADS_1
12 Januari 2020 - Itsmehyuna_