
Malam telah berlalu, sang bulan pun kini telah digantikan dengan kehadiran mentari yang belum cukup tinggi menampakkan dirinya.
"Joon kau tidak menghabiskan kopimu?" Omel Sihyun pada suaminya yang sedang bersiap-siap.
"Tunggu sebentar sayang, ah apa Minji sudah bangun? Aku harus berpamitan padanya," ujarnya lantas menyeruput sisa kopi miliknya.
"Oh benar juga, dia bisa mencarimu nanti, sebentar biar ku bangunkan." Ia pun berlalu menuju kamar Minji.
Namjoon tersenyum melihat istrinya. Jika seperti itu ia benar-benar terlihat seperti seorang ibu.
"Aku masih ngantuk bibi." Suara khas bangun tidur Minji membuatnya menoleh. Gadis kecil itu memang terlihat masih mengantuk. Ia mengalungkan tangan kecilnya pada leher Sihyun. Dan membenamkan wajahnya di pundak sang istri.
"Hey, tapi paman Namjoon mau berpamitan sayang."
Akhirnya dengan sigap Namjoon mengambil alih Minji ke dalam gendongannya. Sontak saja gadis itu langsung membuka lebar matanya. Dasar licik!
"Paman harus kerja ke Jepang sayang, nanti Minji mau dibawakan apa kalau paman pulang?"
Minji tampak berpikir dengan jari telunjuk yang ia letakkan di dagunya. "Aku mau boneka doraemon yang besar paman." ucapnya antusias.
"Baiklah tuan putri, nanti paman belikan." Ia mencium gemas pipi keponakannya lantas menurunkan gadis itu. "Jadi paman boleh pergi ya?"
"Iya paman." Jawabnya menurut. Begitulah Minji jika dia dijanjikan sesuatu.
"Gadis pintar," Ia tersenyum. "Aku berangkat sayang." Pamitnya pada sang istri.
"Mantelmu tidak ketinggalan kan?" Sihyun menggandeng Minji untuk mengantar suaminya ke depan.
Setelah memasukkan semua barangnya ke dalam mobil, ia berbalik menghampiri sang istri. "Sudah dan tidak ada yang terlupa sayang. Jangan khawatir."
"I'll miss you Joon-ah..." ucapnya manja pada sang suami.
Melihat raut wajah menggemaskan sang istri membuatnya ingin memakannya hidup-hidup. Ia mencium kilas bibir sang istri. "I'll miss you too honey, aku berangkat ya." Ia melambaikan tangan setelah memasuki mobilnya. "Jaga bibimu baik-baik Minji-ya."
"Siap paman..." Jawab gadis itu riang sambil memberi hormat pada Namjoon.
Sihyun tersenyum. Pandangannya tertuju pada mobil Audy milik Namjoon yang semakin menjauh. Ia pasti akan sangat merindukan pria itu.
...
"Lihatlah siapa yang datang?" Yo Won berseru saat menyambut menantu kesayangannya.
Namun kali ini Sihyun tidak sendiri tentu saja, karena ia mengajak Minji. "Minji-ya ayo beri salam pada halmeoni."
Gadis kecil itu pun patuh. Lantas membungkukkan badannya. "Annyeong halmeoni..."
Sontak saja tingkah menggemaskan Minji mengundang tawa baginya. "Aigoo manisnya." Kali ini Yo Won berjongkok, mensejajarkan tubuhnya dengan Minji. Sedetik kemudian ia menghujami kecupan gemas pada gadis yang sudah ia anggap cucunya sendiri.
"Kau semakin besar saja ya, sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu." Tangannya terulur untuk mengusak gemas poni Minji. Sedangkan gadis kecil itu hanya terkekeh.
"Kebetulan oppa dan eonni sedang ke Jeju, jadi aku membawanya bersamaku eomma."
Yo Won pun kembali berdiri setelah menyuruh bibi Han agar mengajak Minji masuk.
"Ck! Lihatlah kau ini, sudah berapa lama tak mengunjungi eomma, eoh? Membuat orang khawatir saja." Omelnya. Bukan karena marah tentu saja. Hanya saja wanita bermargaa Lee itu benar-benar sangat menyayangi menantu semata wayangnya ini.
Namun begitulah karena kesibukan Sihyun, ia jarang mengunjungi rumah mertuanya.
"Maafkan aku eomma, aku sedang sibuk akhir-akhir ini. Bagaimana kabar eomma dan appa?" Gadis ini mengamit lengan ibunya berjalan memasuki kediaman Kim Jungwoo.
"Tentu saja baik, hanya saja akan lebih baik jika putra dan menantuku sering mengunjungi." ejeknya bermaksud untuk menggoda Sihyun. Sedangkan Sihyun hanya terkekeh menanggapi ejekkan ibunya.
Hubungannya dengan Yo Won memang sangat baik. Mereka sudah seperti ibu dan anak kandung. Yo Won pun begitu perhatian pada menantunya. Bahkan tak segan memarahi Namjoon jika pria itu membuat Sihyun menangis.
"Baiklah aku akan lebih sering mengunjungi eomma dan appa."
Wanita itu pun tersenyum. "Lalu apa sudah ada perkembangan?"
Sihyun tahu betul pembicaraan ini mengarah kemana.
"Belum ada eomma."
Yo Won menghela napas. Ia mengusap lembut punggung putrinya. "Semoga kali ini kalian segera bisa jadi orang tua," ujarnya penuh ketulusan.
"Terimakasih eomma."
"Halmeoni bolehkah aku makan eskrim?" Suara menggemaskan Minji mengalihkan perhatian dua wanita dewasa itu.
"Wah Minji mau eskrim? Tentu saja boleh gadis manis." Ujarnya sembari mencium gemas pipi gembil Minji.
...
"Minji sudah kenyang?" tanya Sihyun pada Minji setelah gadis itu mengunyah suapan terakhir darinya.
Minji pun mengangguk sembari menerima uluran susu dari Yo Won. "Sudah bibi, terimakasih halmeoni."
"Iya sayang," Ucapnya tulus lantas mengusap lembut surai Minji.
"Kau juga makanlah yang kenyang Sihyun-ah." Jungwoo sang kepala keluarga pun akhirnya membuka suara.
Sihyun menoleh. "Ah ne appa, aku juga sudah kenyang."
"Namjoon bilang kau masih sering melewatkan sarapanmu, kau harus menjaga kesehatanmu Sihyun-ah," tutur pria berusia 56 tahun itu.
Sihyun tersentak mendengar ucapan ayah mertuanya. Bagaimana bisa Namjoon mengadu pada ayah kalau ia sering melewatkan sarapan. Awas saja pria itu saat pulang nanti. Gerutunya dalam hati.
"Ah aku tidak melewatkan sarapanku appa, aku makan salad."
"Tidak. Tinggalkan saladmu itu, kau harus biasa makan nasi. Lihatlah tubuhmu jadi kurus sekarang."
Jujur saja, Sihyun sangat bahagia memiliki mertua yang cerewet dan mengkhawatirkan dirinya seperti Jungwoo. Ia begitu perhatian pada Sihyun lebih dari ayahnya sendiri.
"Ayahmu benar Sihyun-ah. Kau harus menjaga makanmu."
"Baiklah eomma, appa aku akan merubahnya," jawabnya patuh.
"Tentu saja, kalau sampai ketahuan kau makan salad lagi, ku pastikan setiap pagi aku akan datang ke rumahmu menungguimu sarapan," gertak Jungwoo.
"Em arraseo appa."
"Sepertinya Minji sudah mengantuk, sebaiknya kalian tidur saja."
"Eoh baiklah eomma, kajja sayang kita tidur ya."
...
Sihyun merebahkan Minji di ranjang. Lantas memberikan boneka ryan milik suaminya untuk dipeluk Minji. "Selamat tidur sayang." Ia mengecup singkat kening Minji.
"Selamat tidur juga bibi dan ryan." ucapnya polos. Ia memejamkan matanya setelah mencium kembali pipi Sihyun. Tidak lupa untuk mencium ryan tentu saja.
Sihyun pun tersenyum. Gadis ini sepertinya sangat terobsesi dengan ryan, sama seperti suaminya.
Ngomong-ngomong tentang suaminya, kenapa sampai sekarang ia belum memberi kabar ya?
Ia menyambar ponsel yang terletak di nakas. Ia menghela napas saat tahu sama sekali tidak ada notifikasi di layar ponselnya. Yasudahlah positif thinking saja. Mungkin dia sangat sibuk dengan pekerjaannya.
Disaat sedang memikirkan suaminya, ia sedikit terkejut saat mendengar suara dering ponselnya.
'Joonie is calling...'
__ADS_1
Panjang umur sekali. Baru saja ia memikirkan pria itu, dan suaminya langsung menelpon. Mungkin ini yang dinamakan ikatan batin antara suami istri.
Ia pun segera menempelkan ponselnya ke telinga setelah mengangkat panggilan tersebut.
"Ku kira kau melupakan istrimu yang cantik dan sexy ini."
'Ya, jangan mengatakan seperti itu, kau membuatku ingin menerjangmu sekarang juga Choi Sihyun.'
Sihyun terkekeh mendengar suaminya menggerutu seperti itu.
"Coba saja kalau kau bisa menerjangku. Wleee..." ejeknya.
'Wah kau menantangku nyonya? Lihat saja saat aku pulang nanti ku pastikan kau tidak akan bisa bangun di pagi hari.'
"Omo aku takut sekali." ujar Sihyun dengan nada yang dibuat-buat.
'Kau ingatlah ucapanku sayang.'
"Arraseo aku akan mengingatnya tuan Kim. Kau sedang apa sekarang?"
'Sedang beristirahat dengan ditemani pemandangan malam yang sangat indah.'
"Lebih indah dariku?"
'Tentu saja.'
Kemudian terdengar suara kekehan puas Namjoon setelah berhasil menggoda istrinya.
"Ck! Yasudah tidak usah pulang sekalian. Kau di Jepang saja, dan menikah dengan pemandangan indahmu itu." sindir Sihyun malas. Ya, gadis ini masih punya rasa cemburu tentu saja. Meskipun hanya pada pemandangan yang sedang di nikmati suaminya.
'Jangan marah, aku kan hanya bercanda. Maafkan aku oke?'
"Kalau tidak ku maafkan kau mau apa?"
'Tentu saja aku akan bunuh diri sekarang juga. Memangnya kau mau jadi janda muda?'
"Yak! Aku akan membunuhmu terlebih dahulu sebelum kau bunuh diri Kim Namjoon."
'Hahaha tidak sayang, aku hanya bercanda. Apa Minji sudah tidur?'
"Em sudah. Dia sedang memeluk ryan milikmu saat ini. Aku mengajaknya menginap di rumah eomma."
'Ah begitu. Lalu kenapa kau belum tidur?'
"Aku kan menunggu kabar darimu gyosunim."
Namjoon kembali terkekeh mendengar ucapan istrinya.
'Yasudah, sekarang lebih baik kau tidur juga. Aku kan sudah menghubungimu. Aku juga akan istirahat.'
"Baiklah, kau juga istirahat. Aku mencintaimu Joonie..."
'Aku juga mencintaimu sayang.'
Setelah mendengar ungkapan cinta suaminya, sambungan telepon pun terputus. Sepertinya Sihyun jatuh cinta lagi pada sang suami.
...
Setelah memutus sambungan, Namjoon menoleh dan kembali memusatkan perhatiannya pada pemandangan indah yang ia maksudkan. Ia mengusap puncak kepala sosok yang tengah tertidur pulas dengan dada Namjoon digunakan sebagai bantal. Pria itu menyisir surai panjangnya dan menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik Jaein.
Gila. Itulah kata yang pantas untuk Namjoon saat ini. Pria ini jatuh cinta pada pesona Park Jaein. Mahasiswa sekaligus asisten dosennya di kampus. Entah setan apa yang merasukinya, hingga membuatnya sangat berani mengisi hatinya dengan sosok selain Sihyun.
Ia terus saja memandang wajah damai Jaein. Gadis ini mungkin kelelahan karena ulah Namjoon.
Mengingat itu, Namjoon tersenyum dan mengecup kilas bibir cherry miliknya. Bagai candu, pria itu kini mendekap tubuh polos Jaein di balik selimut. Ya, pesona Jaein benar-benar membuat Kim Namjoon kehilangan akal sehatnya.
...
Sesekali ia menoleh pada gadis kecil yang sedang asik menikmati cake pemberian mertuanya. Senyum pun mengembang di bibirnya.
"Enak sekali ya kue halmeoni?"
Gadis itu mengangguk antusias tanpa mengalihkan perhatiannya dari kuenya.
Sihyun yang melihat hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah keponakan kecilnya itu.
Mobil Sihyun pun memasuki halaman rumah keluarga bersar Choi. Setelah memastikan mobilnya terparkir dengan baik, ia bergegas turun dan membantu menurunkan Minji.
"Eomma appa..." Panggil Minji dengan suara cemprengnya. Ia melepaskan tautan tangan Sihyun dan berlari menuju kedua orang tuanya.
"Aigoo putri appa sudah pulang, eoh?" Ujar Jaekwon yang sudah melebarkan lengannya untuk menyambut Minji yang ingin memeluknya.
"Aish dasar habis manis sepah dibuang," gerutu Sihyun melihat drama yang dilakukan pasangan ayah dan anak itu. Sedangkan Raemi hanya terkekeh melihat Sihyun yang sedang kesal.
"Kenapa kalian pulang cepat sekali?"
"Karena pekerjaan Jaekwon sudah selesai, dan aku juga bosan lama-lama berada di Jeju," jawab Raemi sambil memperhatikan cerita putrinya saat berada di kediaman keluarga Kim.
"Lihatlah putrimu itu cerewet sekali."
"Kan sama seperti Sihyun saat kecil dulu sangat cerewet."
Suara berat Choi Siwon berhasil membuatnya menoleh.
"Appa..." Ia pun bangkit dan menghambur ke pelukan ayahnya. "Jangan buka kartuku di depan Minji appa."
"Tanpa dibuka pun kartumu sudah ketahuan." ejek Jaekwon membuatnya mendapat lirikan sengit dari Sihyun. Sedangkan sang ayah hanya tertawa melihat Jaekwon dan Sihyun.
"Bibi minggirlah aku juga mau peluk harabeoji." ujar Minji sambil menarik tangan Sihyun agar menjauh dari ayahnya.
"Ck! Iya-iya astaga!" jawabnya lantas melepas pelukan ayahnya agar pria itu bisa dikuasai oleh Minji.
"Sihyun-ah aku sudah menghubungi dokterku dan membuat janji dengannya. Ia bilang siang ini sudah bisa menemuinya."
"Wah benarkah eonni? Baiklah kita pergi nanti siang."
Tanpa Sihyun sadari sang ayah tengah memandanginya dengan senyuman hangat yang terukir dibibirnya. Senyum penuh harapan bagi putrinya.
...
Mobil Sihyun terparkir apik di basement salah satu rumah sakit di Seoul. Si pemilik pun keluar setelah berhasil menyambar tasnya. "Apa dia bekerja disini eonni?"
"Iya. Sepertinya dia sudah menunggu." ajak Raemi, Sihyun pun mengekor di belakangnya.
"Selamat datang, oh nyonya Choi ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang perawat yang menghampiri mereka. Dan sepertinya sudah sangat mengenal Choi Raemi.
"Kami sudah membuat janji dengan dokter Jung. Apa beliau ada?" tukas Raemi menanggapi.
"Ah baiklah nyonya bisa menunggu di dalam, dokter Jung sebentar lagi kembali dari makan siangnya. Mari silahkan masuk."
Raemi dan Sihyun pun mengikuti ucapan perawat tersebut.
"Silahkan tunggu sebentar, dokter Jung tidak akan lama."
"Baik suster, terimakasih," ujar Raemi menimpali.
"Kenapa sekarang aku jadi gugup ya?" Kini Sihyun mulai bersuara.
"Wajar kalau kau gugup, sudah santai saja," ucap Raemi menenangkan Sihyun. "Ah iya, tahu tidak saat di Jeju kemarin aku melihat pria yang sangat mirip dengan Namjoon."
__ADS_1
Sihyun menoleh pada Raemi. "Benarkah eonni? Tapi pasti suamiku lebih tampan," ucapnya membanggakan suaminya. "Lagipula tidak mungkin itu Namjoon. Pria itu sekarang sedang ada di Jepang eonni."
"Ck! Iya terserah saja. Tapi menurutku tingkat kemiripan mereka 98 persen."
"Em sepertinya hanya kebetulan," jawabnya.
"Kurasa juga begitu, karena dia tidak sendiri, pasti dengan istrinya," lanjut Raemi.
Sihyun terlihat akan membuka suara, namun ia urungkan saat mendengar pintu terbuka.
"Ah nyonya Choi maafkan aku, pasti anda sudah lama menunggu."
Raemi pun berdiri menyambut kedatangan sang dokter. Sedangkan Sihyun masih diam di tempatnya sembari mengamati wajah pria dengan jas putih yang terlihat tak asing di matanya.
"Tidak juga dok, kami baru saja sampai. Ah iya ini adikku yang ingin berkonsultasi," ujar Raemi sambil menunjuk Sihyun. "Sihyun-ah kenalkan ini dokter Jung."
"Wah ternyata benar, kau Jung Hoseok kan?" Ia pun bangkit mendekati dokter muda itu. "Benarkan Jung Hoseok? Kau mengingatku? Aku Choi Sihyun."
Dokter muda itu tampak sedang mengingat-ingat. "Ah aku ingat, kau si gadis visual idaman para mahasiswa di kampus itu kan?"
"Hehehe kau mengingatnya ternyata." Seketika gadis itu jadi salah tingkah.
Bukan apa-apa, hanya saja saat masih kuliah dulu Sihyun adalah idola di kampusnya karena ia adalah putri seorang Choi Siwon. Bahkan banyak pria yang jatuh cinta padanya, dan mengejar cintanya dulu.
Namun semua pria itu kalah dengan Kim Namjoon. Pria yang berani meminangnya saat upacara kelulusan. Gila saja, gadis mana yang tidak tersentuh saat seseorang berani melamarnya pada acara resmi seperti itu di depan banyak orang dan orang tua gadisnya.
"Tentu saja." Jawab Hoseok dengan senyum di bibirnya. "Jadi apa yang bisa ku bantu?"
...
"Jadi ingat pesanku Sihyun-ah, banyak istirahat, jaga pola makanmu, dan yang paling penting jangan sampai stres, oke?"
"Siap dokter Jung, aku akan mengikuti saranmu." Jawabnya sedikit menggoda dokter muda itu.
Sedangkan Hoseok hanya bisa menggelengkan kepala. "Sudah ku bilang panggil namaku saja, kalau kau yang memanggilku dokter kedengarannya sangat menggelikan."
Sontak saja Sihyun dan Raemi dibuat terkekeh karena jawaban Hoseok.
"Hahaha... arraseo Hoseok-ah, kalau begitu aku pamit dulu."
"Em baiklah, vitaminnya harus dihabiskan, kalau sudah habis kau harus kembali kemari."
"Iya terimakasih Hoseok-ah. Na kanda (aku pergi dulu).".
"Ah tidak ku sangka ternyata kau mengenalnya," celetuk Raemi.
"Kebetulan sekali kan?"
...
Kini Sihyun tengah berada di tengah pusat perbelanjaan di Seoul setelah berpisah dengan Raemi di rumah sakit. Ia ingin membelikan hadiah untuk ia berikan pada suaminya di hari jadi pernikahan mereka.
Ia pun segera berkeliling. Indera penglihatannya menyisir setiap toko yang ada disana. Beberapa saat kemudian langkahnya terhenti di depan salah satu butik brand ternama. Ia pun memutuskan masuk ke butik tersebut. Tak ingin membuang waktu, ia pun segera memesan salah satu coat yang ia baru saja ia lihat.
"Aku mau winter coat yang ada di pajangan depan itu," ujar Sihyun pada sang pelayan lantas menunjuk kearah manekin yang ada di pajangan.
"Wah selera anda benar-benar bagus nyonya, coat itu keluaran terbaru dan limited edition." Puji si pelayan. "Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan barangnya."
Sihyun memang punya selera fashion yang baik. Terbukti saat pilihannya jatuh pada coat warna hitam tanpa banyak motif hiasan yang membuatnya terlihat elegan. Dan benar saja, ternyata memang limited edition. Mengingat sebentar lagi akan memasuki musim gugur dan musim dingin, sepertinya winter coat cocok sebagai hadiah untuk Namjoon.
"Ini pesanan anda nyonya, apa ada yang bisa kami bantu lagi?" Ujar si pelayan sambil menunjukkan coat yang baru saja diambilnya.
"Ah kalau begitu tolong dibungkuskan sekalian ya." Jawab Sihyun.
Namjoon pasti sangat menyukainya. Dan pasti ia terlihat tampan nanti saat memakainya.
...
Sementara itu Namjoon dan Jaein sedang menikmati suasana musim panas di pantai Hyeopjae-Jeju. Pria itu terlihat tampan dengan t-shirt pantai warna merah dan celana pendek selutut. Sedangkan Jaein terlihat cantik dengan summer dress yang ia kenakan. Model tali yang menggantung di lehernya semakin membuat gadis itu terlihat menggoda karena menunjukkan bagian punggungnya. Salah satunya adalah Kim Namjoon. Cintanya pada Jaein bermula karena perhatiannya pada gadis itu.
Awalnya Namjoon hanya menolong Jaein saat ia sedang berseteru dengan seorang pria di kampus. Namun siapa yang sangka pria itu akan jatuh lebih dalam pada pesona Jaein dua bulan ini. Dan membuatnya berani mengingkari janji suci yang ia ucapkan bersama Sihyun tiga tahun lalu.
Jaein sendiri sangat menyadari bahwa hubungan mereka ini salah. Namun sayang, ia juga terperangkap oleh pesona Kim Namjoon yang menjeratnya. Ia tak bisa mengingkari bahwa ia juga mencintai pria itu.
"Kenapa kau diam saja sayang? Padahal semalam kau sangat bersemangat saat mengajakku kemari," ujar Namjoon pada kekasihnya yang terlihat lesu.
"Entahlah aku jadi tidak selera main di pantai," jawab Jaein singkat.
Namjoon pun menghampiri gadis itu. "Kenapa tidak selera? Kan ada aku disini."
Gadis itu hanya menggelengkan kepala tanpa berniat menjawab pertanyaan Namjoon. Ia menghambur memeluk pria itu. Menyandarkan kepalanya yang terasa pening pada dada bidang prianya. Jika dilihat-lihat seperti ini, mereka berdua nampak seperti pasangan suami istri yang sedang bulan madu bukan?
Namjoon pun membalas pelukan Jaein. "Kau kenapa sayang? Mau kembali ke resort saja?"
"Em begitu lebih baik oppa." Jawabnya.
"Yasudah, kita kembali," ujarnya lantas mulai merapihkan barang-barang yang dibawanya.
"Oppaa..."
"Iya sayang sebentar‒"
Bruk!
Namjoon menoleh. Dan betapa terkejutnya pria itu saat mendapati Jaein sudah ambruk. Ia semakin panik saat melihat wajah pucat Jaein. "Jaein-ah!"
Tanpa basa basi ia pun segera membopong tubuh Jaein menuju mobilnya. Dengan lembut ia menyandarkannya di kursi penumpang.
"Sayang, Park Jaein bangunlah." Ia menepuk pelan pipi kekasihnya. Berharap gadis itu akan membuka mata. Namun gadis itu tetap tidak bereaksi.
Segera saja ia melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat. Saat ini ia benar-benar khawatir. Pria itu semakin kalut saat perawat tidak memperbolehkannya masuk menemani Jaein diperiksa. Dan sekarang ini yang bisa ia lakukan hanyalah mondar-mandir tidak jelas di depan ruangan tempat Jaein diperiksa.
Terhitung 15 menit sudah ia menunggu Jaein dengan gelisah.
"Apa anda keluarga pasien?"
Namjoon segera berdiri saat mendengar suara seseorang. "Ah iya dokter, bagaimana keadaannya?"
"Ah anda pasti suaminya, terlihat sekali anda sangat khawatir. Istri anda baik-baik saja, ia hanya kelelahan. Sebaiknya ia tidak boleh terlalu lelah, mengingat usia kandungannya masih sangat muda. Karena pada usia ini rentan terjadi keguguran. Tapi tenang saja tuan, saya akan memberikan resep vitamin untuk istri anda." Dokter tersebut tersenyum begitu menyelesaikan kalimatnya.
Namjoon melebarkan matanya setelah berhasil menangkap maksud dokter tersebut. "Ne dokter?"
"Ah nampaknya tuan masih belum tahu, selamat tuan istri anda tengah mengandung," ucap sang dokter sambil menepuk bahu Namjoon.
Bagai disambar petir di siang bolong. Pria ini membeku setelah mendengar penuturan dokter tersebut. Ia masih terkejut dengan apa yang baru saja di dengarnya. Mungkin reaksi Namjoon tidak akan seperti ini jika saja Sihyun yang sedang berada di dalam. Nyatanya itu Jaein, kekasihnya.
Entah ia harus senang atau malah sebaliknya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Kesalahan Namjoon karena tidak memakai pengaman saat bercinta dengan Jaein.
Ia menatap ke dalam ruang rawat Jaein. Menatap gadis yang kini tengah mengandung darah dagingnya. Bukannya ia tidak menginginkan bayi itu dan meninggalkan Jaein. Tidak, ia akan tetap bahkan harus bertanggung jawab. Hanya saja ia bingung harus bagaimana sekarang.
Bagaimana menjalani hidup kedepannya dengan Sihyun dan Jaein yang sedang mengandung. Bagaimana jika Sihyun tahu dan meminta untuk bercerai?
Namjoon benar-benar tidak sanggup jika berpisah dari wanita itu. Namun ia juga tidak bisa berpaling begitu saja dari tanggung jawabnya pada Jaein.
Ya, pria ini memang sangat serakah.
...
5 Januari 2020 - Itsmehyuna_
__ADS_1