Our Marriage

Our Marriage
Chapter 27


__ADS_3

Sihyun


melangkah perlahan menuju ruang rawat Jaein setelah kembali dari ruangan


dokter. Pikirannya melayang memikirkan ucapan dokter Yoon yang berhasil menyita


perhatiannya. Ia masih tidak mengerti, menurut perhitungannya seharusnya usia


kandungan Jaein masih delapan bulan, namun kenapa dokter bersikukuh mengatakan


bahwa usianya sudah genap sembilan bulan, tepat minggu ke tiga puluh enam.


‘Saya


mengerti maksud anda, mungkin anda terlalu khawatir. Dan lagipula usia


kandungan nona Park sudah genap sembilan bulan jadi anda tidak perlu


mengkhawatirkan apapun. Kami berani menjamin jika bayi nona Park benar-benar


dalam keadaan sangat sehat.’


Sekilas


ia memandang Jaein yang masih belum sadarkan diri di dalam ruang rawat. Jika memang


benar seperti apa yang dikatakan dokter Yoon, berarti gadis itu hamil sebelum


menjalani hubungannya dengan Namjoon.


Jadi mungkinkah…


“Sihyun-ah…”


Wanita


itu menoleh saat mendengar suara Namjoon. Dan benar saja, pria itu kini tengah


berlari menuju ke arahnya dengan wajah khawatir.


Jaein telah membohongi Namjoon hanya agar bayi yang


dikandungnya mendapat status yang jelas?


Tanpa


sadar ia meneteskan air mata saat Namjoon tepat berada di hadapannya. Sedangkan


pria itu malah menatapnya kebingungan. Semakin takut, dan ingin tahu apa yang


sebenarnya terjadi.


“Hei


ada apa? Apa yang terjadi?”


Tak


berniat menjawab, wanita itu kini mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi


Namjoon, lantas mengusapnya dengan penuh kasih.


“Sayang


kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?” Pria itu mulai panik dan menangkup pipi


Sihyun.


Kenapa kita harus mengalami semua ini Namjoon-ah?


“Sihyun-ah kenapa diam saja?” Namjoon pun


semakin kebingungan dengan tingkah laku istrinya.


Namjoon-ah bisa-bisanya kau tertipu oleh Jaein? Bayi


itu bukan darah dagingmu Joon…


“Choi


Sihyun jawab aku!” ucap Namjoon dengan sedikit menekan kalimatnya.


Akhirnya


wanita itupun tersadar, dan dengan segera mengusap air mata di pipinya.


Menyisahkan Namjoon yang masih menyimpan banyak pertanyaan tentang apa yang


sebenarnya terjadi dengan Sihyun.


“Ah


syukurlah kau sudah datang Joon, saat ini Jaein masih belum sadar dari pengaruh


biusnya. Sedangkan, bayimu‒” Sihyun memberikan jeda sebelum melanjutkan


kalimatnya. “Berada di ruang khusus bayi.”


Agaknya


Namjoon mengira Sihyun tengah cemburu karena kelahiran buah hatinya dengan


Jaein. Pria itupun berniat membawa Sihyun ke dalam pelukannya. Namun terlambat,


Sihyun lebih dulu menuntunnya menuju ruangan khusus bayi. Sihyun jelas tidak


marah ataupun menyalahkan bayi mungil tak berdosa itu. Karena menurutnya bayi


itu juga korban disini.


Setibanya


di sana, Namjoon benar-benar takjub melihat bayi mungil yang sedang tertidur


dengan damai di box-nya. Senyum pun


merekah di bibir Namjoon. Terlihat sangat bahagia dengan anugerah yang baru

__ADS_1


saja Tuhan kirimkan padanya.


Di


sebelahnya, Sihyun tengah menahan rasa sakit yang bergejolak di hatinya.


Bagaimana bisa rasanya sesakit ini menatap pria yang dicintainya tersenyum


bahagia saat memandang buah hati yang bukan berasal dari rahimnya sendiri. Kini


pertanyaan pun muncul di benaknya, akankah Namjoon juga tersenyum bahagia


seperti itu saat menyaksikan kelahiran buah hatinya sendiri? Akankah pria itu


sama khawatirnya seperti saat ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan


menohok hatinya.


“Kim


Nami,” ucap Namjoon yang berhasil menarik perhatian Sihyun. “Entahlah,


sejujurnya aku tidak terpikirkan nama lain, dan kurasa nama itu benar-benar


cocok untuknya. Bagaimana menurutmu?”


Sihyun


tak langsung menanggapi. Wanita itu semakin murung mendengar Namjoon menamai


bayinya dengan penuh kesungguhan. Semakin membuatnya dirundung krisis


kepercayaan diri.


“Sihyun-ah kau melamun?”


“Eoh? Ah kau bilang apa tadi Joon?” ucapnya


salah tingkah.


Namjoon


menghela napas kasar, dan berbalik menghadap Sihyun. Manik mereka pun saling


bertabrakan, lantas menuntun Namjoon untuk menangkup kedua sisi wajah istrinya.


“Ada apa denganmu? Ku perhatikan sejak tadi kau jadi sering melamun, dan tidak


memperhatikan ucapanku. Apa kau marah padaku?”


Dengan


cepat wanita itu menggelengkan kepala, menepis semua pertanyaan yang Namjoon


tujukan padanya. Perlahan ia mengarahkan tangannya untuk diletakkan di atas


tangan suaminya. “Aku baik-baik saja Joon,”


“Tapi


kenapa sejak tadi kau bertingkah aneh seperti itu? Kau cemburu?” Pria itu


Iya, aku cemburu, aku marah karena kau telah terjerat


dalam kebohongan Park Jaein. Gadis itu hanya memanfaatkanmu Joon, membuat


sandiwara seolah kaulah yang harus bertanggung jawab atas Nami.


Hanya


itu yang mampu Sihyun ucapkan dalam hatinya. Ia sendiri tidak tega jika harus


mengatakannya dalam situasi seperti ini. Lagipula pria itu tidak akan percaya


dengan ucapannya, yang ada Namjoon malah akan menuduhnya terlalu cemburu karena


Jaein lebih bisa memberikan keturunan untuknya. Sihyun membencinya. Ia membenci


situasi seperti sekarang ini.


“Cha, lebih baik kita kembali ke ruangan


Jaein. Mungkin saja gadis itu sudah sadar,” ucapnya singkat sebelum menuntun


Namjoon untuk kembali berjalan.


Ada


baiknya jika ia tidak ikut campur dalam masalah ini. Biarkan saja pria itu


mengetahui kebenarannya sendiri. Toh Sihyun memang tidak berada dalam posisi


yang menguntungkan jika ia yang membongkar topeng Jaein. Sedalam-dalamnya


bangkai dikubur, pasti baunya akan tercium juga bukan?



“Aigoo lihatlah cucuku cantik sekali,


mirip seperti ibu dan ayahnya,” seru Yoon Ah yang sejak tadi tak berhenti


memuji cucu pertamanya, sambil sesekali mencium gemas wajah bayi mungil yang


dengan damainya terlelap di gendongan neneknya.


Berbeda


dengan Yo Won yang hanya tersenyum simpul melihat bagaimana reaksi Yoon Ah saat


ini. Memang benar Yo Won sudah sejak lama menginginkan cucu, namun entah


mengapa hadirnya Nami tidak serta merta membuatnya bersuka cita. Karena yang ia


inginkan sesungguhnya mendapatkan cucu dari Sihyun.


“Hey

__ADS_1


Nami-ya, apa kau tidak mau membuka


mata, dan menyapa nenekmu ini hum? Apa kau tidak ingin melihat wajah bahagia


nenekmu ini?”


“Eomma sudahlah, biarkan dia tidur. Kau


sudah melihatnya sejak dua hari yang lalu.”


“Jaein-ah, apa kau tidak lihat ibu sedang


bahagia karena kelahiran Nami? Setidaknya kau harus memaklumi, karena Nami


adalah cucu pertamaku.” Yoon Ah menimpali.


Kini


giliran Namjoon yang merangkul Jaein, lantas mengusap lembut lengan gadis itu.


“Biarkan saja sayang, lagipula eomma kan tidak lama berada di Seoul. Biarkan saja eomma menimang cucunya sampai puas.”


“Benar


apa yang dikatakan suamimu. Ternyata menantuku lebih mengerti daripada putriku


sendiri,” cibir Yoon Ah yang seketika membuat Jaein memutar bola mata malas


karena kelakuan ibunya.



Belakangan


suasana kediaman Kim Jungwoo menjadi sedikit berbeda semenjak kehadiran Nami di


antara mereka. Setiap malam, pasti akan selalu terdengar suara tangisan Nami.


Entah minta di ganti popoknya karena penuh, atau saat bocah itu kehausan. Sudah


menjadi rutinitas setiap malam mendengar tangisan melengking Nami.


Seperti


malam ini, Namjoon tengah sibuk menenangkan bayi perempuan yang baru berusia


dua bulan itu. “Putri appa haus yah?


Ujuju tunggu sebentar appa akan


membuatkan susu untukmu,” pungkasnya setelah mengecup pipi gembil bocah itu.


Namun


sebelum pria itu beranjak dari ranjang, Jaein telah mencegahnya terlebih


dahulu. “Biar aku saja yang membuatkannya, oppa pasti sangat lelah kan.”


“Apa


kau berani sendirian?”


Jaein


terkekeh mendengar pertanyaan suaminya. “Tentu saja aku berani oppa, memangnya ada apa lagi di dapur


selain piring dan sendok?” Kemudian ia segera beranjak menuju dapur dengan


membawa botol susu di tangannya.


Ya,


sudah hampir dua minggu ini Nami harus terpaksa meminum susu formula karena


produksi air susu Jaein tiba-tiba saja tidak keluar. Tapi beruntung, bocah


kecil itu tidak rewel saat pertama kali lepas dari asi dan akhirnya sampai saat


ini.


Begitu


mencapai pintu dapur, gadis itu menghentikan langkahnya. Ia mengerutkan kening


heran saat melihat Sihyun juga tengah berada di dapur, tanpa penerangan. Namun


meskipun gelap, gadis itu masih bisa melihat apa yang sedang Sihyun lakukan di


dalam sana.


Cklek!


Seperti


dugaannya, Sihyun menoleh saat Jaein menghidupkan lampu dapur secara tiba-tiba.


Wanita itu nampak terkejut karena kehadiran Jaein yang tidak di duganya.


“Eoh, Jaein-ah,” sapa Sihyun tergagap. “Membuat susu untuk Nami ya?”


Gadis


itu mengangguk sembari berjalan menuju lemari penyimpanan. “Eonni sedang apa disini?” Tanya Jaein


tanpa menghentikan kegiatannya membuat susu untuk putrinya.


“Aku


sangat haus tadi, makanya aku kemari.”


“Ah


begitukah?” Setelah menutup kembali botol susu Nami, gadis itu segera berbalik.


Pandangannya pun bertemu dengan manik Sihyun. “Lalu kenapa kau malah meminum


susu hamilku eonni?”

__ADS_1



5 April 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2