
Sihyun
melangkah perlahan menuju ruang rawat Jaein setelah kembali dari ruangan
dokter. Pikirannya melayang memikirkan ucapan dokter Yoon yang berhasil menyita
perhatiannya. Ia masih tidak mengerti, menurut perhitungannya seharusnya usia
kandungan Jaein masih delapan bulan, namun kenapa dokter bersikukuh mengatakan
bahwa usianya sudah genap sembilan bulan, tepat minggu ke tiga puluh enam.
‘Saya
mengerti maksud anda, mungkin anda terlalu khawatir. Dan lagipula usia
kandungan nona Park sudah genap sembilan bulan jadi anda tidak perlu
mengkhawatirkan apapun. Kami berani menjamin jika bayi nona Park benar-benar
dalam keadaan sangat sehat.’
Sekilas
ia memandang Jaein yang masih belum sadarkan diri di dalam ruang rawat. Jika memang
benar seperti apa yang dikatakan dokter Yoon, berarti gadis itu hamil sebelum
menjalani hubungannya dengan Namjoon.
Jadi mungkinkah…
“Sihyun-ah…”
Wanita
itu menoleh saat mendengar suara Namjoon. Dan benar saja, pria itu kini tengah
berlari menuju ke arahnya dengan wajah khawatir.
Jaein telah membohongi Namjoon hanya agar bayi yang
dikandungnya mendapat status yang jelas?
Tanpa
sadar ia meneteskan air mata saat Namjoon tepat berada di hadapannya. Sedangkan
pria itu malah menatapnya kebingungan. Semakin takut, dan ingin tahu apa yang
sebenarnya terjadi.
“Hei
ada apa? Apa yang terjadi?”
Tak
berniat menjawab, wanita itu kini mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi
Namjoon, lantas mengusapnya dengan penuh kasih.
“Sayang
kau kenapa? Apa terjadi sesuatu?” Pria itu mulai panik dan menangkup pipi
Sihyun.
Kenapa kita harus mengalami semua ini Namjoon-ah?
“Sihyun-ah kenapa diam saja?” Namjoon pun
semakin kebingungan dengan tingkah laku istrinya.
Namjoon-ah bisa-bisanya kau tertipu oleh Jaein? Bayi
itu bukan darah dagingmu Joon…
“Choi
Sihyun jawab aku!” ucap Namjoon dengan sedikit menekan kalimatnya.
Akhirnya
wanita itupun tersadar, dan dengan segera mengusap air mata di pipinya.
Menyisahkan Namjoon yang masih menyimpan banyak pertanyaan tentang apa yang
sebenarnya terjadi dengan Sihyun.
“Ah
syukurlah kau sudah datang Joon, saat ini Jaein masih belum sadar dari pengaruh
biusnya. Sedangkan, bayimu‒” Sihyun memberikan jeda sebelum melanjutkan
kalimatnya. “Berada di ruang khusus bayi.”
Agaknya
Namjoon mengira Sihyun tengah cemburu karena kelahiran buah hatinya dengan
Jaein. Pria itupun berniat membawa Sihyun ke dalam pelukannya. Namun terlambat,
Sihyun lebih dulu menuntunnya menuju ruangan khusus bayi. Sihyun jelas tidak
marah ataupun menyalahkan bayi mungil tak berdosa itu. Karena menurutnya bayi
itu juga korban disini.
Setibanya
di sana, Namjoon benar-benar takjub melihat bayi mungil yang sedang tertidur
dengan damai di box-nya. Senyum pun
merekah di bibir Namjoon. Terlihat sangat bahagia dengan anugerah yang baru
__ADS_1
saja Tuhan kirimkan padanya.
Di
sebelahnya, Sihyun tengah menahan rasa sakit yang bergejolak di hatinya.
Bagaimana bisa rasanya sesakit ini menatap pria yang dicintainya tersenyum
bahagia saat memandang buah hati yang bukan berasal dari rahimnya sendiri. Kini
pertanyaan pun muncul di benaknya, akankah Namjoon juga tersenyum bahagia
seperti itu saat menyaksikan kelahiran buah hatinya sendiri? Akankah pria itu
sama khawatirnya seperti saat ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut seakan
menohok hatinya.
“Kim
Nami,” ucap Namjoon yang berhasil menarik perhatian Sihyun. “Entahlah,
sejujurnya aku tidak terpikirkan nama lain, dan kurasa nama itu benar-benar
cocok untuknya. Bagaimana menurutmu?”
Sihyun
tak langsung menanggapi. Wanita itu semakin murung mendengar Namjoon menamai
bayinya dengan penuh kesungguhan. Semakin membuatnya dirundung krisis
kepercayaan diri.
“Sihyun-ah kau melamun?”
“Eoh? Ah kau bilang apa tadi Joon?” ucapnya
salah tingkah.
Namjoon
menghela napas kasar, dan berbalik menghadap Sihyun. Manik mereka pun saling
bertabrakan, lantas menuntun Namjoon untuk menangkup kedua sisi wajah istrinya.
“Ada apa denganmu? Ku perhatikan sejak tadi kau jadi sering melamun, dan tidak
memperhatikan ucapanku. Apa kau marah padaku?”
Dengan
cepat wanita itu menggelengkan kepala, menepis semua pertanyaan yang Namjoon
tujukan padanya. Perlahan ia mengarahkan tangannya untuk diletakkan di atas
tangan suaminya. “Aku baik-baik saja Joon,”
“Tapi
kenapa sejak tadi kau bertingkah aneh seperti itu? Kau cemburu?” Pria itu
Iya, aku cemburu, aku marah karena kau telah terjerat
dalam kebohongan Park Jaein. Gadis itu hanya memanfaatkanmu Joon, membuat
sandiwara seolah kaulah yang harus bertanggung jawab atas Nami.
Hanya
itu yang mampu Sihyun ucapkan dalam hatinya. Ia sendiri tidak tega jika harus
mengatakannya dalam situasi seperti ini. Lagipula pria itu tidak akan percaya
dengan ucapannya, yang ada Namjoon malah akan menuduhnya terlalu cemburu karena
Jaein lebih bisa memberikan keturunan untuknya. Sihyun membencinya. Ia membenci
situasi seperti sekarang ini.
“Cha, lebih baik kita kembali ke ruangan
Jaein. Mungkin saja gadis itu sudah sadar,” ucapnya singkat sebelum menuntun
Namjoon untuk kembali berjalan.
Ada
baiknya jika ia tidak ikut campur dalam masalah ini. Biarkan saja pria itu
mengetahui kebenarannya sendiri. Toh Sihyun memang tidak berada dalam posisi
yang menguntungkan jika ia yang membongkar topeng Jaein. Sedalam-dalamnya
bangkai dikubur, pasti baunya akan tercium juga bukan?
…
“Aigoo lihatlah cucuku cantik sekali,
mirip seperti ibu dan ayahnya,” seru Yoon Ah yang sejak tadi tak berhenti
memuji cucu pertamanya, sambil sesekali mencium gemas wajah bayi mungil yang
dengan damainya terlelap di gendongan neneknya.
Berbeda
dengan Yo Won yang hanya tersenyum simpul melihat bagaimana reaksi Yoon Ah saat
ini. Memang benar Yo Won sudah sejak lama menginginkan cucu, namun entah
mengapa hadirnya Nami tidak serta merta membuatnya bersuka cita. Karena yang ia
inginkan sesungguhnya mendapatkan cucu dari Sihyun.
“Hey
__ADS_1
Nami-ya, apa kau tidak mau membuka
mata, dan menyapa nenekmu ini hum? Apa kau tidak ingin melihat wajah bahagia
nenekmu ini?”
“Eomma sudahlah, biarkan dia tidur. Kau
sudah melihatnya sejak dua hari yang lalu.”
“Jaein-ah, apa kau tidak lihat ibu sedang
bahagia karena kelahiran Nami? Setidaknya kau harus memaklumi, karena Nami
adalah cucu pertamaku.” Yoon Ah menimpali.
Kini
giliran Namjoon yang merangkul Jaein, lantas mengusap lembut lengan gadis itu.
“Biarkan saja sayang, lagipula eomma kan tidak lama berada di Seoul. Biarkan saja eomma menimang cucunya sampai puas.”
“Benar
apa yang dikatakan suamimu. Ternyata menantuku lebih mengerti daripada putriku
sendiri,” cibir Yoon Ah yang seketika membuat Jaein memutar bola mata malas
karena kelakuan ibunya.
…
Belakangan
suasana kediaman Kim Jungwoo menjadi sedikit berbeda semenjak kehadiran Nami di
antara mereka. Setiap malam, pasti akan selalu terdengar suara tangisan Nami.
Entah minta di ganti popoknya karena penuh, atau saat bocah itu kehausan. Sudah
menjadi rutinitas setiap malam mendengar tangisan melengking Nami.
Seperti
malam ini, Namjoon tengah sibuk menenangkan bayi perempuan yang baru berusia
dua bulan itu. “Putri appa haus yah?
Ujuju tunggu sebentar appa akan
membuatkan susu untukmu,” pungkasnya setelah mengecup pipi gembil bocah itu.
Namun
sebelum pria itu beranjak dari ranjang, Jaein telah mencegahnya terlebih
dahulu. “Biar aku saja yang membuatkannya, oppa pasti sangat lelah kan.”
“Apa
kau berani sendirian?”
Jaein
terkekeh mendengar pertanyaan suaminya. “Tentu saja aku berani oppa, memangnya ada apa lagi di dapur
selain piring dan sendok?” Kemudian ia segera beranjak menuju dapur dengan
membawa botol susu di tangannya.
Ya,
sudah hampir dua minggu ini Nami harus terpaksa meminum susu formula karena
produksi air susu Jaein tiba-tiba saja tidak keluar. Tapi beruntung, bocah
kecil itu tidak rewel saat pertama kali lepas dari asi dan akhirnya sampai saat
ini.
Begitu
mencapai pintu dapur, gadis itu menghentikan langkahnya. Ia mengerutkan kening
heran saat melihat Sihyun juga tengah berada di dapur, tanpa penerangan. Namun
meskipun gelap, gadis itu masih bisa melihat apa yang sedang Sihyun lakukan di
dalam sana.
Cklek!
Seperti
dugaannya, Sihyun menoleh saat Jaein menghidupkan lampu dapur secara tiba-tiba.
Wanita itu nampak terkejut karena kehadiran Jaein yang tidak di duganya.
“Eoh, Jaein-ah,” sapa Sihyun tergagap. “Membuat susu untuk Nami ya?”
Gadis
itu mengangguk sembari berjalan menuju lemari penyimpanan. “Eonni sedang apa disini?” Tanya Jaein
tanpa menghentikan kegiatannya membuat susu untuk putrinya.
“Aku
sangat haus tadi, makanya aku kemari.”
“Ah
begitukah?” Setelah menutup kembali botol susu Nami, gadis itu segera berbalik.
Pandangannya pun bertemu dengan manik Sihyun. “Lalu kenapa kau malah meminum
susu hamilku eonni?”
__ADS_1
…
5 April 2020 - Itsmehyuna_