
Drrtt… drrtt…
Baru
saja selesai menidurkan Nami, perhatian gadis itu kini tertuju pada ponselnya
yang sejak tadi bergetar. Ia pun menyambar benda persegi tersebut, lantas
melihat contact name yang tertera di
layarnya.
“Yeoboseyo.”
‘Sepertinya dugaanmu memang benar.’
Jaein
mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan pria yang berstatus ayah biologis
Nami tersebut. “Dugaan?” tanya Jaein masih dalam mode kebingungan.
‘Sihyun noona, sepertinya memang benar sedang hamil. Kata suster, dia adalah pasien
salah satu dokter kandungan seniorku di rumah sakit,’ jelas Seokjin yang
berhasil membuat darah Jaein seolah-olah mendidih.
Tangannya
mengepal geram karena satu kebenaran yang sudah ia tunggu beberapa hari ini,
dan baru saja ia dengar. Sepertinya pengaruh buruk dari sang ibu sudah meresap
dalam otaknya. Gadis ini harus egois. Bagaimanapun caranya ia harus menjadikan
Namjoon miliknya. Dan perlu digaris bawahi pada kata hanya miliknya. Karena ia tidak ingin keturunan Sihyun yang
mewarisi harta Namjoon. Jika Nami tidak bisa mewarisinya, maka ia sendiri yang
akan memberi Namjoon keturunan laki-laki.
‘Dan dari yang ku amati beberapa hari ini, ia selalu
pergi ke apartemen World setiap petang,’ lanjut
Seokjin.
“Apartemen
World? Bukankah itu apartemen lamaku? Untuk apa dia pergi ke sana?”
‘Entahlah, tapi aku pernah melihat dokter Jung
mengantarnya keluar.’
“Apa
dokter Jung yang kau maksud itu adalah Jung Hoseok?”
‘Eoh, bagaimana kau bisa tahu?’
Bingo!
Bibir
Jaein seketika menyunggingkan seringai kemenangan. Bersyukur otaknya bisa
dengan cepat menangkap maksud perkataan Seokjin. Tentu saja ia tahu tentang
dokter muda tampan yang menjadi tetangga depan rumahnya itu. Kenapa dunia ini
sempit sekali, dan seolah tengah berpihak padanya. Berarti selama ini Sihyun
bersekongkol menyembunyikan kehamilannya dengan pria itu. Jika begini, semuanya
akan menjadi lebih mudah untuknya.
“Kau
akan tahu nanti Seokjin oppa.”
…
“Kau
akan pulang sekarang?”
“Iya,
aku harus memeriksa keadaan café setelah ini,” jawab Sihyun. Wanita itu pun
menyambar tas dan mantel miliknya yang ia kenakan asal-asalan.
Hoseok
pun bangkit, hendak mengantar Sihyun sampai di pintu utama. “Usia kandunganmu
sudah tua Choi Sihyun, kau harus mengurangi pekerjaanmu, dan konsentrasi jelang
persalinanmu nanti,” omelnya.
Sihyun
yang sudah berada di luar seketika berbalik, dan menatap Hoseok. Wajahnya kali
ini benar-benar khawatir, seolah ada sesuatu yang ia takutkan. ”Bagaimana ini?
Waktunya sudah semakin dekat, dan tiba-tiba saja aku merasa takut Hoseok-ah. Pasti rasanya akan sakit sekali,”
rengeknya.
“Choi
Sihyun.”
Sihyun
pun menoleh karena mendengar suara seorang pria yang memanggil namanya. Dan
betapa terkejutnya saat ia menemukan suaminya telah berdiri dua meter di
depannya. Tanpa sadar, ia pun segera membenarkan mantel yang dipakainya agar
menutupi perut buncitnya. Keringat dingin pun kini mulai membasahi wajahnya.
“Joon-ah…” sapanya dengan suara tertahan. Ia
takut Namjoon akan berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.
“Jadi
ini yang kau lakukan di belakangku Choi Sihyun? Ah, pantas saja kau selalu
memakai oversized sweater, dan
menolak ajakanku ke pesta pertemuan, karena kau sedang hamil?”
Deg!
Langkahnya
tertahan saat ia ingin mendekat ke arah Namjoon, dan semakin salah tingkah
karena ucapan suaminya yang membuatnya tersudut. Benar-benar seperti yang ia
pikirkan jika Namjoon pasti akan menuduhnya berselingkuh dengan Hoseok.
“Aku
bisa jelaskan, semua ini tidak seperti yang kau pikirkan,” ucap Sihyun memelas
seraya meraih tangan suaminya. Ia sangat membenci situasi seperti ini.
“Apa
yang kau jelaskan? Kau ingin membalas perbuatanku padamu dengan melakukan hal
yang sama dengan Hoseok? Apa kau iri karena Jaein lebih dulu memberiku
keturunan?”
Sihyun
terperangah tidak percaya mendengar tuduhan tidak berdasar Namjoon. Bagaimana
pria berpendidikan sepertinya tega mengucapkan kalimat tajam yang tanpa pria
itu ketahui bisa menyayat hati Sihyun. Saat ini hatinya bergejolak, dan matanya
berkaca-kaca.
Plak!
Karena
geram, ia pun melayangkan tamparan di pipi Namjoon. Wajah memerah, menahan
amarah yang sejak tadi ia tahan karena ucapan suaminya. Dan kini terlihat air
mata mengumpul di pelupuk matanya. Hanya satu kedipan saja, maka pertahanan
yang dibuatnya akan hancur. Ia benar-benar tidak bisa berkata-kata saat ini.
Sihyun ingin sekali berteriak pada Namjoon, mengatakan jika bayi yang
dikandungnya saat ini adalah darah dagingnya. Namun, bibirnya seolah tertahan
hingga tak dapat mengeluarkan satupun kalimat penyangkal.
“Akhirnya
kau menunjukkan sifat aslimu Choi Sihyun. Aku mengerti sekarang kenapa kau
tetap memilih bertahan denganku, kau ingin membalas dendam padaku kan?”
Bugh!
Bukan
Sihyun, kali ini Hoseok yang bertindak, hingga membuat Namjoon terhuyung.
Agaknya pria itu tidak tahan dengan semua ucapan tajam Namjoon yang akan
__ADS_1
semakin menyakiti Sihyun. Dan entah kenapa Sihyun hanya diam melihatnya.
“Apa
kau tidak bisa menjaga ucapanmu Kim Namjoon? Setidaknya kau bisa mendengar
penjelasan Sihyun lebih dulu,” belanya.
“Sebaiknya
kau tidak perlu ikut campur Jung Hoseok!” gertak Namjoon. Kali ini Namjoon
sudah terpancing emosi dan berniat membalas pukulan Hoseok.
“Andwae! Joon-ah hentikan!” pinta Sihyun sembari menahan tangan Namjoon yang
hendak melayangkan pukulan pada Hoseok. Sekuat tenaga ia memeluk lengan kekar
suaminya agar tidak melukai dokter muda itu.
Sekuat
apapun Sihyun mencoba, pada dasarnya kekuatannya dengan Namjoon pasti akan
kalah. Dengan mudah pria itu menyentak tangan Sihyun hingga terlepas. Alhasil
wanita itupun terjatuh di lantai.
“Akh!”
Mendengar
rintihan keras Sihyun membuat kedua manusia yang hampir saja baku hantam
tersebut menoleh. Terutama Hoseok yang kini khawatir setengah mati.
“Sihyun-ah!” Pria itu pun dengan sigap
menghampiri Sihyun. Saat hendak membantunya berdiri, ia semakin tercengang saat
melihat darah segar yang merembes di antara kedua kaki Sihyun. Jelas saja
sebagai dokter yang mendalami bidang ini Hoseok tahu betul apa yang tengah
terjadi pada wanita itu.
Sedangkan
Namjoon hanya bisa membeku di tempatnya melihat pemandangan di hadapannya. Di
sisi lain ia sangat mengkhawatirkan keadaan Sihyun. Karena bagaimanapun juga
ini menyangkut keselamatan istri dan bayi yang sedang dikandung wanita itu,
meskipun ia tak tahu itu bayi siapa. Entah ia yang tidak peka, terlalu bodoh,
atau terhalang oleh emosi sehingga membuat Namjoon tidak bisa berpikir positif.
“Sakit
sekali Hoseok-ah,” erang Sihyun.
“Bertahanlah,
aku janji akan menyelamatkan bayimu,” ujar Hoseok. Dengan sigap, ia pun segera
membopong Sihyun. Ia melirik sengit penuh kebencian ke arah Namjoon. “Ku
pastikan kau akan menyesal jika tidak mau membantuku saat ini.”
…
Namjoon
menunggu dengan kalut di luar ruang operasi Sihyun. Keringat dingin membanjiri
wajahnya, tangannya bergetar hebat saat Hoseok mengatakan bahwa istrinya
mengalami pendarahan dan harus segera di operasi. Ia benar-benar takut. Bahkan
ia harus memberanikan dirinya untuk menghubungi Jaekwon, memberitahu keadaan
adiknya. Ia takut ayah mertuanya kembali murka karena kebodohan yang terlalu
sering ia lakukan.
Tanpa
sadar air mata pun mengalir di pipinya. Sepertinya malaikat telah membantu
menyadarkan pikirannya kembali. Kebodohan yang saat ini ia lakukan benar-benar
sudah keterlaluan sampai mengancam keselamatan istrinya, dan bayi tidak berdosa
yang tanpa ia ketahui adalah darah dagingnya sendiri.
Ia
menoleh saat mendengar langkah kaki yang menggema mendekat ke arahnya.
“Apa
yang terjadi pada Sihyun?” tanya Jaekwon.
Namjoon
berpikir keras tentang apa yang harus ia katakana pada Jaekwon.
“Kau
tidak mendengarku Kim Namjoon?”
“Maafkan
aku hyung…” Hanya itu yang berhasil
keluar dari bibir Namjoon. Membuat Jaekwon semakin tidak mengerti. “Sihyun
mengalami pendarahan,” ucapnya tertahan.
“Apa?!”
ucapan Namjoon agaknya membuat Jaekwon terkejut.
“Aku
tidak tahu jika selama ini Sihyun sedang hamil. Aku tidak sengaja mendorongnya
saat kami bertengkar,” sambungnya. Ia benar-benar tidak keberatan jika Jaekwon
menganggapnya sebagai pria yang tidak bertanggung jawab. Bahkan ia tidak akan
melawan jika kakak iparnya itu akan menghajarnya di tempat.
Bugh!
Seperti
yang sudah di duga, Jaekwon benar-benar melayangkan pukulan padanya. Pria itu
sedikit terhuyung, saking kerasnya pukulan Jaekwon.
“Sebenarnya
kau suami macam apa Kim Namjoon? Istrimu hamil dan kau tidak mengetahuinya?
Bahkan sekarang kau sendiri yang menyebabkan Sihyun berada di dalam sana? Apa
masih pantas kau menjadi suami Sihyun, hah?!”
Namjoon
hanya terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Jaekwon. Sungguh ia akan menerima
jika Jaekwon menghajarnya saat ini.
“Berdoa
saja Sihyun dan bayinya baik-baik saja, jika tidak ingin ayahku membunuhmu.”
…
Sudah
hampir dua jam Sihyun berada di dalam ruang operasi. Dan kini seluruh keluarga
pun sudah berada di depan ruangan tersebut, termasuk Yo Won dan Jungwoo yang
tidak henti-hentinya mengucapkan kata maaf pada Siwon karena perbuatan
putranya.
Sedangkan
Namjoon berdiri sedikit menjauh karena perasaan bersalahnya. Tidak sendiri, ia
ditemani Minji yang berada di pangkuannya sejak tadi. Meskipun Raemi dan
Jaekwon sempat melarangnya, bocah kecil itu tetap bersikukuh menemani paman
kesayangannya.
Minji
mengusap air mata yang membasahi pipi Namjoon. “Paman kenapa menangis? Padahal
paman akan mamarahiku setiap kali aku menangis,” tukas Minji.
“Karena
paman sudah berbuat jahat pada bibimu, makanya paman menangis,” jawab Namjoon
sekenanya.
“Tidak,
paman tidak jahat. Paman kan orang yang sangat baik,” sangkal Minji. Tentu saja
gadis polos itu tidak tahu-menahu tentang perbuatan pamannya selama ini. Dan
andai saja bocah itu tahu, mungkin ia tidak akan pernah berkata seperti itu
saat ini.
__ADS_1
Sedangkan
Namjoon tidak bisa bereaksi apa-apa dengan ucapan Minji. Pria itu memilih diam.
“Aku
yakin bibi pasti akan sembuh.”
Namjoon
mengangguk mengamini. Semoga saja Minji-ya, semoga bibimu baik-baik saja.
Ting!
Sontak
saja Namjoon menoleh saat mendengar suara bel tanda operasi telah selesai. Ia
segera bangkit dengan menggendong Minji. Ia pun bisa melihat Hoseok keluar dari
dalam ruangan tersebut membungkuk memberi salam. Jantungnya bertalu-talu
menunggu kalimat yang akan Hoseok ucapkan.
“Operasinya
berjalan dengan lancar,” Sepertinya pria itu sedikit bisa bernapas lega. Namun,
ia harus menyiapkan persediaan air mata yang banyak saat ia mengetahui semua
kebenarannya. “Bayi laki-lakinya pun sangat sehat.”
“Bagaimana
keadaan Sihyun?” sela Siwon yang sudah sangat mengkhawatirkan putrinya.
Hoseok
pun tersenyum. “Sihyun baik-baik saja tuan Choi. Ah, ia bilang ingin bicara
dengan Namjoon.” Ucapan Hoseok seketika membuat Siwon melirik sinis ke arah
Namjoon. Sedangkan pria itu hanya bisa menundukkan kepala, merasa terintimidasi
oleh mertuanya.
“Kau
pikir aku akan mengizinkanmu menemuinya setelah apa yang kau lakukan?” ucap
Siwon.
“Yeobo, itu permintaan Sihyun. Biarkan
saja ia menemuinya,” ujar Young Ae menengahi. Lantas segera menyuruh Namjoon
untuk menemui Sihyun agar wanita itu tidak menunggu.
Pemandangan
pertama yang ia lihat adalah Sihyun yang terbaring lemah pasca persalinanya,
tengah tersenyum penuh arti menatap bayi laki-laki mungil di sampingnya. Dan
entah kenapa melihatnya membuat mata Namjoon memanas. Ia ingat sekali sejak
dulu itulah yang sangat diinginkan Sihyun.
“Joon…”
panggil Sihyun yang sukses memecah lamunannya. Wanita itu tersenyum,
mengisyaratkan Namjoon untuk mendekat ke arahnya. Pria itu pun menyeret
langkahnya, berjalan mendekat ke ranjang Sihyun. Ia pun bisa melihat dengan
jelas wajah bayi mungil yang tengah terlelap dengan damainya.
“Aku
akan bersyukur jika jadi dirimu Kim Namjoon,” ucapan Hoseok memutus perhatian
pria itu dari bayi di samping Sihyun. Kini ia menoleh pada Hoseok yang berdiri
di sampingnya.
“Apa
maksudmu?”
Alih-alih
menjawab, Hoseok malah menyodorkan lembaran kertas pada pria itu. Namjoon
mengerutkan kening bingung, lantas segera membacanya. Cukup lama pria itu
terdiam, raut wajahnya pun berubah setelah membaca lembaran yang ternyata hasil
tes DNA.
“Tidak
ingin menyapa bayimu, Joon?”
Satu
tetes, dua tetes air mata meluncur bebas di pipinya sebelum tangisnya pecah.
Detik berikutnya ia hanya bisa tertunduk, menyesali perbuatannya tanpa bisa
memeluk Sihyun ataupun bayinya. Ia merasa sangat malu menunjukkan wajahnya
setelah menuduh Sihyun melakukan hal yang tidak mungkin wanita itu lakukan.
“Kenapa
kau membuatku terlihat seperti penjahat Sihyun-ah? Kau bahkan hampir saja membuatku membunuh bayi kita. Ah, masih
pantaskah aku menyebutnya bayi kita? Kenapa kau melakukannya?” sesal Namjoon
dibalik tangis pilunya.
Tidak
berniat menjawab, yang bisa Sihyun lakukan hanya meraih tangan Namjoon dan
menggenggamnya erat. “Lupakanlah semua yang telah berlalu, Joon. Aku sungguh
sudah memaafkan semuanya.”
“Tapi
dengan kau memaafkanku tidak akan pernah bisa menghapus kenyataan, maupun rasa
sakit yang telah ku berikan padamu dan bayi ini Sihyun-ah.” Nasi sudah menjadi bubur. Bisa kalian bayangkan bukan seberapa
dalam rasa penyesalan di hati Namjoon saat ini?
“Walau
begitu kau tetap ayahnya Joon, kau berhak memberikan nama untuknya.”
Tamparan
keras bagi Namjoon. Sudah sepantasnya ia bersyukur karena mendapatkan wanita
berhati malaikat seperti Sihyun. Tapi memang ia terlalu bodoh karena
menyia-nyiakannya. “Kau yakin aku masih pantas melakukannya?”
Hanya
anggukkan dari Sihyun sebagai jawaban. Untuk beberapa saat, pandangan Namjoon
tertuju pada bayi laki-lakinya. Air matanya kembali menetes. Ia memberanikan
diri untuk mengusap pipi bocah yang merupakan darah dagingnya tersebut.
“Kuharap kau mau memaafkan ayah, Kim Hyunsoo. Maafkan ayahmu yang bodoh ini.”
Sihyun
pun tersenyum disela rasa harunya. “Terimakasih,” ucap Sihyun yang berhasil
membuat Namjoon menoleh padanya. “Terimakasih karena menjadi suamiku selama
ini, Joon. Terimakasih karena kau telah memberikan hadiah terindah berupa
Hyunsoo padaku.”
“Tidak,
seharusnya aku yang berterimakasih karena kau masih mau bertahan bersama pria
sepertiku ini.”
Mendengar
ucapan Namjoon, membuat Sihyun menggelengkan kepalanya. “Tidak Joon, kita tidak
bisa meneruskannya. Aku menyerah,” ujarnya. Ia pun mengisyaratkan pada Hoseok
untuk menyerahkan berkas yang selama ini
sudah ia persiapkan, dan ia titipkan pada dokter muda itu.
Namjoon
yang tengah dilanda kebingungan pun menerima berkas pemberian Hoseok, lantas
segera membacanya. Dan bagai dilempar ke dasar laut terdalam, saat ia menyadari
bahwa berkas tersebut adalah surat cerai yang diajukan Sihyun padanya.
“Kau
bisa menjalani hidupmu, dan aku akan mejalani hidupku sendiri dengan Hyunsoo.
Kita akhiri saja semuanya sampai di sini, Joon. Terimakasih atas semua kenangan
indah yang pernah kau berikan padaku selama ini, termasuk Hyunsoo. Semoga kau
bisa bahagia di kehidupan yang akan datang.”
__ADS_1
-END-
20 April 2020 - Itsmehyuna_