Our Marriage

Our Marriage
Chapter 30


__ADS_3

Drrtt… drrtt…


Baru


saja selesai menidurkan Nami, perhatian gadis itu kini tertuju pada ponselnya


yang sejak tadi bergetar. Ia pun menyambar benda persegi tersebut, lantas


melihat contact name yang tertera di


layarnya.


“Yeoboseyo.”


‘Sepertinya dugaanmu memang benar.’


Jaein


mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan pria yang berstatus ayah biologis


Nami tersebut. “Dugaan?” tanya Jaein masih dalam mode kebingungan.


‘Sihyun noona, sepertinya memang benar sedang hamil. Kata suster, dia adalah pasien


salah satu dokter kandungan seniorku di rumah sakit,’ jelas Seokjin yang


berhasil membuat darah Jaein seolah-olah mendidih.


Tangannya


mengepal geram karena satu kebenaran yang sudah ia tunggu beberapa hari ini,


dan baru saja ia dengar. Sepertinya pengaruh buruk dari sang ibu sudah meresap


dalam otaknya. Gadis ini harus egois. Bagaimanapun caranya ia harus menjadikan


Namjoon miliknya. Dan perlu digaris bawahi pada kata hanya miliknya. Karena ia tidak ingin keturunan Sihyun yang


mewarisi harta Namjoon. Jika Nami tidak bisa mewarisinya, maka ia sendiri yang


akan memberi Namjoon keturunan laki-laki.


‘Dan dari yang ku amati beberapa hari ini, ia selalu


pergi ke apartemen World setiap petang,’ lanjut


Seokjin.


“Apartemen


World? Bukankah itu apartemen lamaku? Untuk apa dia pergi ke sana?”


‘Entahlah, tapi aku pernah melihat dokter Jung


mengantarnya keluar.’


“Apa


dokter Jung yang kau maksud itu adalah Jung Hoseok?”


‘Eoh, bagaimana kau bisa tahu?’


Bingo!


Bibir


Jaein seketika menyunggingkan seringai kemenangan. Bersyukur otaknya bisa


dengan cepat menangkap maksud perkataan Seokjin. Tentu saja ia tahu tentang


dokter muda tampan yang menjadi tetangga depan rumahnya itu. Kenapa dunia ini


sempit sekali, dan seolah tengah berpihak padanya. Berarti selama ini Sihyun


bersekongkol menyembunyikan kehamilannya dengan pria itu. Jika begini, semuanya


akan menjadi lebih mudah untuknya.


“Kau


akan tahu nanti Seokjin oppa.”



“Kau


akan pulang sekarang?”


“Iya,


aku harus memeriksa keadaan café setelah ini,” jawab Sihyun. Wanita itu pun


menyambar tas dan mantel miliknya yang ia kenakan asal-asalan.


Hoseok


pun bangkit, hendak mengantar Sihyun sampai di pintu utama. “Usia kandunganmu


sudah tua Choi Sihyun, kau harus mengurangi pekerjaanmu, dan konsentrasi jelang


persalinanmu nanti,” omelnya.


Sihyun


yang sudah berada di luar seketika berbalik, dan menatap Hoseok. Wajahnya kali


ini benar-benar khawatir, seolah ada sesuatu yang ia takutkan. ”Bagaimana ini?


Waktunya sudah semakin dekat, dan tiba-tiba saja aku merasa takut Hoseok-ah. Pasti rasanya akan sakit sekali,”


rengeknya.


“Choi


Sihyun.”


Sihyun


pun menoleh karena mendengar suara seorang pria yang memanggil namanya. Dan


betapa terkejutnya saat ia menemukan suaminya telah berdiri dua meter di


depannya. Tanpa sadar, ia pun segera membenarkan mantel yang dipakainya agar


menutupi perut buncitnya. Keringat dingin pun kini mulai membasahi wajahnya.


“Joon-ah…” sapanya dengan suara tertahan. Ia


takut Namjoon akan berpikiran yang tidak-tidak tentangnya.


“Jadi


ini yang kau lakukan di belakangku Choi Sihyun? Ah, pantas saja kau selalu


memakai oversized sweater, dan


menolak ajakanku ke pesta pertemuan, karena kau sedang hamil?”


Deg!


Langkahnya


tertahan saat ia ingin mendekat ke arah Namjoon, dan semakin salah tingkah


karena ucapan suaminya yang membuatnya tersudut. Benar-benar seperti yang ia


pikirkan jika Namjoon pasti akan menuduhnya berselingkuh dengan Hoseok.


“Aku


bisa jelaskan, semua ini tidak seperti yang kau pikirkan,” ucap Sihyun memelas


seraya meraih tangan suaminya. Ia sangat membenci situasi seperti ini.


“Apa


yang kau jelaskan? Kau ingin membalas perbuatanku padamu dengan melakukan hal


yang sama dengan Hoseok? Apa kau iri karena Jaein lebih dulu memberiku


keturunan?”


Sihyun


terperangah tidak percaya mendengar tuduhan tidak berdasar Namjoon. Bagaimana


pria berpendidikan sepertinya tega mengucapkan kalimat tajam yang tanpa pria


itu ketahui bisa menyayat hati Sihyun. Saat ini hatinya bergejolak, dan matanya


berkaca-kaca.


Plak!


Karena


geram, ia pun melayangkan tamparan di pipi Namjoon. Wajah memerah, menahan


amarah yang sejak tadi ia tahan karena ucapan suaminya. Dan kini terlihat air


mata mengumpul di pelupuk matanya. Hanya satu kedipan saja, maka pertahanan


yang dibuatnya akan hancur. Ia benar-benar tidak bisa berkata-kata saat ini.


Sihyun ingin sekali berteriak pada Namjoon, mengatakan jika bayi yang


dikandungnya saat ini adalah darah dagingnya. Namun, bibirnya seolah tertahan


hingga tak dapat mengeluarkan satupun kalimat penyangkal.


“Akhirnya


kau menunjukkan sifat aslimu Choi Sihyun. Aku mengerti sekarang kenapa kau


tetap memilih bertahan denganku, kau ingin membalas dendam padaku kan?”


Bugh!


Bukan


Sihyun, kali ini Hoseok yang bertindak, hingga membuat Namjoon terhuyung.


Agaknya pria itu tidak tahan dengan semua ucapan tajam Namjoon yang akan

__ADS_1


semakin menyakiti Sihyun. Dan entah kenapa Sihyun hanya diam melihatnya.


“Apa


kau tidak bisa menjaga ucapanmu Kim Namjoon? Setidaknya kau bisa mendengar


penjelasan Sihyun lebih dulu,” belanya.


“Sebaiknya


kau tidak perlu ikut campur Jung Hoseok!” gertak Namjoon. Kali ini Namjoon


sudah terpancing emosi dan berniat membalas pukulan Hoseok.


“Andwae! Joon-ah hentikan!” pinta Sihyun sembari menahan tangan Namjoon yang


hendak melayangkan pukulan pada Hoseok. Sekuat tenaga ia memeluk lengan kekar


suaminya agar tidak melukai dokter muda itu.


Sekuat


apapun Sihyun mencoba, pada dasarnya kekuatannya dengan Namjoon pasti akan


kalah. Dengan mudah pria itu menyentak tangan Sihyun hingga terlepas. Alhasil


wanita itupun terjatuh di lantai.


“Akh!”


Mendengar


rintihan keras Sihyun membuat kedua manusia yang hampir saja baku hantam


tersebut menoleh. Terutama Hoseok yang kini khawatir setengah mati.


“Sihyun-ah!” Pria itu pun dengan sigap


menghampiri Sihyun. Saat hendak membantunya berdiri, ia semakin tercengang saat


melihat darah segar yang merembes di antara kedua kaki Sihyun. Jelas saja


sebagai dokter yang mendalami bidang ini Hoseok tahu betul apa yang tengah


terjadi pada wanita itu.


Sedangkan


Namjoon hanya bisa membeku di tempatnya melihat pemandangan di hadapannya. Di


sisi lain ia sangat mengkhawatirkan keadaan Sihyun. Karena bagaimanapun juga


ini menyangkut keselamatan istri dan bayi yang sedang dikandung wanita itu,


meskipun ia tak tahu itu bayi siapa. Entah ia yang tidak peka, terlalu bodoh,


atau terhalang oleh emosi sehingga membuat Namjoon tidak bisa berpikir positif.


“Sakit


sekali Hoseok-ah,” erang Sihyun.


“Bertahanlah,


aku janji akan menyelamatkan bayimu,” ujar Hoseok. Dengan sigap, ia pun segera


membopong Sihyun. Ia melirik sengit penuh kebencian ke arah Namjoon. “Ku


pastikan kau akan menyesal jika tidak mau membantuku saat ini.”



Namjoon


menunggu dengan kalut di luar ruang operasi Sihyun. Keringat dingin membanjiri


wajahnya, tangannya bergetar hebat saat Hoseok mengatakan bahwa istrinya


mengalami pendarahan dan harus segera di operasi. Ia benar-benar takut. Bahkan


ia harus memberanikan dirinya untuk menghubungi Jaekwon, memberitahu keadaan


adiknya. Ia takut ayah mertuanya kembali murka karena kebodohan yang terlalu


sering ia lakukan.


Tanpa


sadar air mata pun mengalir di pipinya. Sepertinya malaikat telah membantu


menyadarkan pikirannya kembali. Kebodohan yang saat ini ia lakukan benar-benar


sudah keterlaluan sampai mengancam keselamatan istrinya, dan bayi tidak berdosa


yang tanpa ia ketahui adalah darah dagingnya sendiri.


Ia


menoleh saat mendengar langkah kaki yang menggema mendekat ke arahnya.


“Apa


yang terjadi pada Sihyun?” tanya Jaekwon.


Namjoon


berpikir keras tentang apa yang harus ia katakana pada Jaekwon.


“Kau


tidak mendengarku Kim Namjoon?”


“Maafkan


aku hyung…” Hanya itu yang berhasil


keluar dari bibir Namjoon. Membuat Jaekwon semakin tidak mengerti. “Sihyun


mengalami pendarahan,” ucapnya tertahan.


“Apa?!”


ucapan Namjoon agaknya membuat Jaekwon terkejut.


“Aku


tidak tahu jika selama ini Sihyun sedang hamil. Aku tidak sengaja mendorongnya


saat kami bertengkar,” sambungnya. Ia benar-benar tidak keberatan jika Jaekwon


menganggapnya sebagai pria yang tidak bertanggung jawab. Bahkan ia tidak akan


melawan jika kakak iparnya itu akan menghajarnya di tempat.


Bugh!


Seperti


yang sudah di duga, Jaekwon benar-benar melayangkan pukulan padanya. Pria itu


sedikit terhuyung, saking kerasnya pukulan Jaekwon.


“Sebenarnya


kau suami macam apa Kim Namjoon? Istrimu hamil dan kau tidak mengetahuinya?


Bahkan sekarang kau sendiri yang menyebabkan Sihyun berada di dalam sana? Apa


masih pantas kau menjadi suami Sihyun, hah?!”


Namjoon


hanya terdiam, tidak bisa menjawab pertanyaan Jaekwon. Sungguh ia akan menerima


jika Jaekwon menghajarnya saat ini.


“Berdoa


saja Sihyun dan bayinya baik-baik saja, jika tidak ingin ayahku membunuhmu.”



Sudah


hampir dua jam Sihyun berada di dalam ruang operasi. Dan kini seluruh keluarga


pun sudah berada di depan ruangan tersebut, termasuk Yo Won dan Jungwoo yang


tidak henti-hentinya mengucapkan kata maaf pada Siwon karena perbuatan


putranya.


Sedangkan


Namjoon berdiri sedikit menjauh karena perasaan bersalahnya. Tidak sendiri, ia


ditemani Minji yang berada di pangkuannya sejak tadi. Meskipun Raemi dan


Jaekwon sempat melarangnya, bocah kecil itu tetap bersikukuh menemani paman


kesayangannya.


Minji


mengusap air mata yang membasahi pipi Namjoon. “Paman kenapa menangis? Padahal


paman akan mamarahiku setiap kali aku menangis,” tukas Minji.


“Karena


paman sudah berbuat jahat pada bibimu, makanya paman menangis,” jawab Namjoon


sekenanya.


“Tidak,


paman tidak jahat. Paman kan orang yang sangat baik,” sangkal Minji. Tentu saja


gadis polos itu tidak tahu-menahu tentang perbuatan pamannya selama ini. Dan


andai saja bocah itu tahu, mungkin ia tidak akan pernah berkata seperti itu


saat ini.

__ADS_1


Sedangkan


Namjoon tidak bisa bereaksi apa-apa dengan ucapan Minji. Pria itu memilih diam.


“Aku


yakin bibi pasti akan sembuh.”


Namjoon


mengangguk mengamini. Semoga saja Minji-ya, semoga bibimu baik-baik saja.


Ting!


Sontak


saja Namjoon menoleh saat mendengar suara bel tanda operasi telah selesai. Ia


segera bangkit dengan menggendong Minji. Ia pun bisa melihat Hoseok keluar dari


dalam ruangan tersebut membungkuk memberi salam. Jantungnya bertalu-talu


menunggu kalimat yang akan Hoseok ucapkan.


“Operasinya


berjalan dengan lancar,” Sepertinya pria itu sedikit bisa bernapas lega. Namun,


ia harus menyiapkan persediaan air mata yang banyak saat ia mengetahui semua


kebenarannya. “Bayi laki-lakinya pun sangat sehat.”


“Bagaimana


keadaan Sihyun?” sela Siwon yang sudah sangat mengkhawatirkan putrinya.


Hoseok


pun tersenyum. “Sihyun baik-baik saja tuan Choi. Ah, ia bilang ingin bicara


dengan Namjoon.” Ucapan Hoseok seketika membuat Siwon melirik sinis ke arah


Namjoon. Sedangkan pria itu hanya bisa menundukkan kepala, merasa terintimidasi


oleh mertuanya.


“Kau


pikir aku akan mengizinkanmu menemuinya setelah apa yang kau lakukan?” ucap


Siwon.


“Yeobo, itu permintaan Sihyun. Biarkan


saja ia menemuinya,” ujar Young Ae menengahi. Lantas segera menyuruh Namjoon


untuk menemui Sihyun agar wanita itu tidak menunggu.


Pemandangan


pertama yang ia lihat adalah Sihyun yang terbaring lemah pasca persalinanya,


tengah tersenyum penuh arti menatap bayi laki-laki mungil di sampingnya. Dan


entah kenapa melihatnya membuat mata Namjoon memanas. Ia ingat sekali sejak


dulu itulah yang sangat diinginkan Sihyun.


“Joon…”


panggil Sihyun yang sukses memecah lamunannya. Wanita itu tersenyum,


mengisyaratkan Namjoon untuk mendekat ke arahnya. Pria itu pun menyeret


langkahnya, berjalan mendekat ke ranjang Sihyun. Ia pun bisa melihat dengan


jelas wajah bayi mungil yang tengah terlelap dengan damainya.


“Aku


akan bersyukur jika jadi dirimu Kim Namjoon,” ucapan Hoseok memutus perhatian


pria itu dari bayi di samping Sihyun. Kini ia menoleh pada Hoseok yang berdiri


di sampingnya.


“Apa


maksudmu?”


Alih-alih


menjawab, Hoseok malah menyodorkan lembaran kertas pada pria itu. Namjoon


mengerutkan kening bingung, lantas segera membacanya. Cukup lama pria itu


terdiam, raut wajahnya pun berubah setelah membaca lembaran yang ternyata hasil


tes DNA.


“Tidak


ingin menyapa bayimu, Joon?”


Satu


tetes, dua tetes air mata meluncur bebas di pipinya sebelum tangisnya pecah.


Detik berikutnya ia hanya bisa tertunduk, menyesali perbuatannya tanpa bisa


memeluk Sihyun ataupun bayinya. Ia merasa sangat malu menunjukkan wajahnya


setelah menuduh Sihyun melakukan hal yang tidak mungkin wanita itu lakukan.


“Kenapa


kau membuatku terlihat seperti penjahat Sihyun-ah? Kau bahkan hampir saja membuatku membunuh bayi kita. Ah, masih


pantaskah aku menyebutnya bayi kita? Kenapa kau melakukannya?” sesal Namjoon


dibalik tangis pilunya.


Tidak


berniat menjawab, yang bisa Sihyun lakukan hanya meraih tangan Namjoon dan


menggenggamnya erat. “Lupakanlah semua yang telah berlalu, Joon. Aku sungguh


sudah memaafkan semuanya.”


“Tapi


dengan kau memaafkanku tidak akan pernah bisa menghapus kenyataan, maupun rasa


sakit yang telah ku berikan padamu dan bayi ini Sihyun-ah.” Nasi sudah menjadi bubur. Bisa kalian bayangkan bukan seberapa


dalam rasa penyesalan di hati Namjoon saat ini?


“Walau


begitu kau tetap ayahnya Joon, kau berhak memberikan nama untuknya.”


Tamparan


keras bagi Namjoon. Sudah sepantasnya ia bersyukur karena mendapatkan wanita


berhati malaikat seperti Sihyun. Tapi memang ia terlalu bodoh karena


menyia-nyiakannya. “Kau yakin aku masih pantas melakukannya?”


Hanya


anggukkan dari Sihyun sebagai jawaban. Untuk beberapa saat, pandangan Namjoon


tertuju pada bayi laki-lakinya. Air matanya kembali menetes. Ia memberanikan


diri untuk mengusap pipi bocah yang merupakan darah dagingnya tersebut.


“Kuharap kau mau memaafkan ayah, Kim Hyunsoo. Maafkan ayahmu yang bodoh ini.”


Sihyun


pun tersenyum disela rasa harunya. “Terimakasih,” ucap Sihyun yang berhasil


membuat Namjoon menoleh padanya. “Terimakasih karena menjadi suamiku selama


ini, Joon. Terimakasih karena kau telah memberikan hadiah terindah berupa


Hyunsoo padaku.”


“Tidak,


seharusnya aku yang berterimakasih karena kau masih mau bertahan bersama pria


sepertiku ini.”


Mendengar


ucapan Namjoon, membuat Sihyun menggelengkan kepalanya. “Tidak Joon, kita tidak


bisa meneruskannya. Aku menyerah,” ujarnya. Ia pun mengisyaratkan pada Hoseok


untuk menyerahkan  berkas yang selama ini


sudah ia persiapkan, dan ia titipkan pada dokter muda itu.


Namjoon


yang tengah dilanda kebingungan pun menerima berkas pemberian Hoseok, lantas


segera membacanya. Dan bagai dilempar ke dasar laut terdalam, saat ia menyadari


bahwa berkas tersebut adalah surat cerai yang diajukan Sihyun padanya.


“Kau


bisa menjalani hidupmu, dan aku akan mejalani hidupku sendiri dengan Hyunsoo.


Kita akhiri saja semuanya sampai di sini, Joon. Terimakasih atas semua kenangan


indah yang pernah kau berikan padaku selama ini, termasuk Hyunsoo. Semoga kau


bisa bahagia di kehidupan yang akan datang.”

__ADS_1


-END-


20 April 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2