Our Marriage

Our Marriage
Chapter 6


__ADS_3

Sihyun mengernyitkan


dahi dan masih sibuk mengendus ceruk leher Namjoon.


“Aroma ini? Seperti


bukan parfum milikmu.”


Seketika Namjoon


terbelalak mendengar pernyataan sang istri. Oh tidak, mungkin parfum milik


Jaein yang menempel di kemejanya karena hampir seharian gadis itu menempeli


tubuhnya.


Kini ia dapat melihat


tatapan tajam Sihyun padanya. Baiklah mungkin ini akhir dari pernikahan mereka


berdua.


“Kim Namjoon beraninya


kau memakai parfumku, eoh! Padahal


aku sengaja jarang memakainya biar tidak cepat habis, tapi kau malah


memakainya,” protes Sihyun seraya memukul dada bidang suaminya.


Namjoon tercengang


tidak percaya sang istri tidak menaruh curiga padanya. Jika seperti ini, semua


menjadi lebih mudah untuknya. Jadi yang harus ia lakukan hanyalah meneruskan


kebohongannya agar sang istri tetap percaya padanya.


“Ehehe mian sayang, tadi parfum itu tertinggal


di mobil, jadi aku coba saja,” jelasnya sambil tersenyum kikuk.


Sihyun bersedekap


mengerucutkan bibirnya, lantas melirik Namjoon sebal. “Aku tidak mau tahu kau


harus segera mengembalikannya ke meja riasku.”


Namjoon yang tak kuasa


melihat tingkah menggemaskan Sihyun langsung saja meraup bibir mungil sang


istri, melumatnya dengan lembut. Perlahan Sihyun pun mengikuti permainan


suaminya. Ia mengalungkan tangan di leher Namjoon dan membalas ciuman


memabukkan pria itu.


Selang beberapa saat


tautan bibir mereka berdua pun terlepas, lantas berlomba menghirup udara


sebanyak-banyaknya akibat kegiatan panas mereka. Setelah dirasa mendapat


pasokan udara yang cukup mereka berdua saling melempar pandang, tanpa suara


yang keluar dari bibir mereka.


“Beraninya kau


terlihat menggoda seperti ini sayang?” bisik Namjoon yang kini sudah


melingkarkan tangannya di perut sang istri.


Sihyun menyunggingkan


senyumnya. “Jika kau tergoda, maka kau kalah,” jawabnya.


“Dan kau tahu? Di saat


seperti ini lebih baik aku merasa kalah.”


Tanpa menunggu lama,


Namjoon segera mengangkat sang istri, membopongnya menuju kamar mereka.


Sihyun yang tidak siap


langsung merapatkan pegangannya di leher sang suami. “Tapi bagaimana makan


malamnya sayang? Kau kan belum makan.”


Namjoon merebahkan


tubuh Sihyun secara perlahan, kemudian mendekatkan wajah padanya. “Makan


malamku kan ada di sini.”


Gadis itu terkekeh


lantas mengecup kilas bibir Namjoon. “Kalau begitu habiskan saja.”


Dirasa mendapat lampu


hijau dari istrinya, Namjoon tersenyum seraya membelai puncak kepala Sihyun.


Lantas perlahan ia kembali menghapus jarak. Memulai malam panjang dan indah


untuk mereka berdua.


...


“Hey gyosunim apa kau tidak ingin bangun, eoh?”


Namjoon mengerjap saat


merasa seseorang tengah mengguncang-guncangkan tubuhnya. Kemudian ia pun


memaksa membuka matanya yang masih terasa berat.


“Eungh...”


Cup!


“Sudah pagi, kau bisa


terlambat jika tidak segera bangun sayang.”


Akhirnya ia berhasil


membuka mata dengan sempurna setelah mendapat kecupan singkat dari sang istri.


Ia tersenyum mengamati penampilan Sihyun saat ini.


“Kau meninggalkanku, eoh?” tuduhnya pada Sihyun yang kini


sudah kembali duduk di depan meja rias.


“Bukan aku yang


meninggalkanmu, kau saja yang susah dibangunkan,” cibirnya. “Mandilah, aku


sudah menyiapkan air hangat untukmu.”


Namjoon bangkit lantas


memeluk tubuh Sihyun dari belakang, dan menyandarkan dagu pada pundaknya.


Sihyun tersenyum


melihat kelakuan manja suaminya. “Kenapa?”


“Tidak ada, hanya


ingin memelukmu,” jawabnya di akhiri dengan ciuman lembut di pipi Sihyun, cukup


lama sebelum pria itu melenggang menuju kamar mandi.


Sihyun terkekeh dengan


tingkah aneh suaminya.


Ting!


Sihyun menoleh saat


mendengar sebuah notifikasi pesan dari ponsel suaminya. Lantas ia melihat


layarnya yang menyala, hanya memastikan itu pesan penting atau tidak.


Jaein Park


‘Ku


tunggu di tempat biasa’


Sihyun mengernyit


setelah membaca pesan yang tertera di ponsel Namjoon. Ia tidak pikir panjang,


mungkin saja itu pesan dari rekan kerjanya bukan. Lantas ia kembali dengan


aktifitasnya merias diri.


Namun aktifitasnya


kembali terusik saat mendengar ponselnya berdering. Ia pun segera mengangkat


setelah sebelumnya mengecek siapa yang meneleponnya.


“Yeobseyo, ada apa dokter?”


‘Apa kau rajin meminum vitaminnya?’


“Tentu saja, bahkan aku


membawanya kemana-mana, kau tidak perlu khawatir.”


‘Benarkah?’


“Aigoo haruskah ku fotokan sisa vitaminku padamu agar kau percaya?”


‘Sepertinya bukan ide yang buruk, baiklah ku tunggu kau mengirimkan


fotonya.’

__ADS_1


Pip!


Sihyun terbelalak


melihat ponselnya yang tiba-tiba mati karena Jung Hoseok memutus sambungan


terlebih dulu. “Ck! Dasar pria itu,” ocehnya sembari mengaduk-aduk isi tasnya


mencari vitamin yang dimaksudkan dokter muda itu.


Ia menghentikan


kegiatannya, alih-alih vitamin, kini tangannya tengah memegang botol parfum


miliknya. “Kenapa kau ada disini?” gumamnya.


Ia mulai berpikir,


kapan Namjoon mengembalikan parfumnya. Pasalnya sejak semalam pria itu tetap


bersama dengannya, dan lagi pria itu belum keluar kamar sama sekali. Bangun


saja karena Sihyun yang membangunkannya.


Mungkinkah


kau membohongiku Joon?


...


Namjoon melahap sandwich di hadapannya seraya mengamati


istrinya yang sedang melamun.


“Hey kenapa kau


melamun?” tegurnya.


Alhasil Sihyun kembali


sadar dan menatapnya. Gadis itu terlihat sedikit kikuk. “Ah apa kau bicara


denganku Joon?”


Namjoon menghela


napas. “Kau melamun sayang, apa yang sedang kau pikirkan?”


Sihyun pun menggelengkan


kepalanya. “Ah tidak ada,” jawabnya singkat lantas kembali melahap makanannya.


Beberapa saat


kemudian, ia kembali memandang Namjoon.


Haruskah


aku bertanya padanya tentang parfum itu?


“Joon...”


“Kenapa sayang?”


Sihyun termenung cukup


lama sebelum melanjutkan ucapannya.


Tidak


tidak. Jika aku bertanya padanya, maka sama saja seperti aku tidak mempercayai


suamiku sendiri.


“Ehehe tidak jadi...”


jawabnya mengurungkan niat.


Terlihat Namjoon


mengernyit, setelah itu terkekeh karena menurutnya tingkah Sihyun sangat


menggemaskan “Yasudah aku berangkat dulu, dan mungkin nanti aku akan pulang


terlambat sayang. Jangan menungguku, makanlah dulu oke?” ujarnya panjang lebar


mengingatkan sang istri.


Sihyun hanya


menjawabnya dengan anggukan.


“Tidak perlu


mengantarku ke depan, kau habiskan saja makananmu sayang. Aku berangkat,” pamitnya.


Lantas beranjak meninggalkan Sihyun setelah sebelumnya mencium kening wanita


itu terlebih dahulu.


Sihyun hanya bisa


menoleh menatap kepergian suaminya. Ia masih merasakan sesuatu yang janggal. Ia


bertanya-tanya kenapa parfum itu bisa ada di dalam tasnya. Padahal masih


Sudahlah hanya masalah parfum tidak perlu dipikirkan. Batinnya.


...


“Bibi aku datang!”


Sihyun menoleh saat


suara cempreng Choi Minji menyapanya. Benar saja, gadis kecil itu dan juga


Raemi sudah berada di ruangan kerjanya.


“Aigoo kau begitu merindukanku ya?” Tebak Sihyun asal seraya


menciumi gemas keponakan semata wayangnya itu.


Kemudian Minji malah


menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku hanya mau minta kue pada bibi.”


Seketika Sihyun


tercengang mendengar penuturan gadis itu. Sedangkan Raemi hanya terkekeh


melihat tingkah lucu anaknya.


“Jadi kau hanya mau


kue? Yasudah ambil saja, setelah itu pulanglah,” ucap Sihyun pura-pura merajuk.


“Tapi aku mau main


dengan bibi...” Minji merengek sembari mengayun-ayunkan lengan Sihyun,


membuatnya tidak kuasa untuk menolak.


“Dasar licik, kalau


begini kan aku tidak bisa menolakmu,” ujarnya sambil memeluk dan mencium sayang


keponakannya itu.


Raemi yang sedari tadi


melihat hanya bisa terkekeh. “Kerja bagus Minji-ya, kalau seperti ini aku bisa mengerjakan laporan bulanan


milikku.”


Sihyun terbelalak


mendengar penuturan kakak iparnya. Wah dia merasa dikerjai sekarang ini.


“Ya! Ternyata kau juga


licik eonni!” Gadis itu menggerutu.


Tok...


Tok... Tok...


“Permisi nona Kim, ada


seseorang yang mencarimu.”


“Minji-ya makan kuenya nanti saja ya, bibi


sedang ada tamu,” pamitnya pada Minji seraya mencium pipi gembil gadis itu.


“Dah eonni selamat bermain dengan


Minji.” Ia menggoda Raemi sebelum akhirnya melenggang menuju cafe.


“Jung Hoseok?” Seru


Sihyun saat melihat tamunya adalah Hoseok.


Hoseok tersenyum manis


pada Sihyun sambil melambaikan tangannya.


“Kenapa kemari tidak


bilang padaku? Tunggu, darimana kau tahu kalau café ini milikku?” Sihyun


bertanya heran.


“Raemi noona tentu saja.”


Sihyun mengerutkan


keningnya tidak percaya. “Hey sejak kapan kau memanggil kakak iparku noona?” Wanita itu pun tertawa geli.


“Dia yang


mengizinkanku untuk memanggil noona. Biar lebih akrab katanya.”


“Awas saja kalau oppa tahu kau menggoda istrinya,” ujar


Sihyun.

__ADS_1


Hoseok hanya


menanggapinya dengan senyuman. Kemudian pria itu menatap serius pada Sihyun.


“Apa kau sudah makan siang?”



Sihyun menyeruput latte-nya sembari menunggu Hoseok yang


sedang membayar tagihan makan siang mereka. Pikirannya kembali melayang pada


keganjilan yang baru-baru ini terjadi.


“Hoseok-ah,” panggilnya pada Hoseok yang baru


saja menempelkan bokongnya pada kursi di depannya.


“Ada apa?” Tanya


Hoseok sembari mencomot kentang goreng yang ada dimeja.


“Mungkinkah kau


berbicara unformal pada rekan


kerjamu?”


Hoseok menggelengkan


kepalanya. “Tentu saja tidak, kecuali jika di luar jam kerja, dan kita memiliki


hubungan yang cukup dekat. Kenapa memangnya?”


Sihyun menggelengkan


kepalanya. “Em tidak, hanya ingin bertanya.”


Pria itu mengernyit.


“Dasar aneh sekali.”


“Cha kalau begitu besok aku yang akan mentraktirmu makan siang,


sebagai ucapan terima kasihku pada tuan dokter. Ah aku tidak mau dengar


penolakan.”



Namjoon memasuki unit apartemen milik Jaein. Gadis itu


kembali memilih absen dari kegiatan perkuliahannya karena kondisi tubuhnya yang


tidak memungkinkan. Gadis itu lebih sering merasa mual dan lesu. Wajar saja,


mungkin bawaan bayi yang dikandungnya, mengingat usia kandungan gadis itu juga


masih muda.


Pria itu tersenyum


melihat Jaein yang sedang melahap apel sambil menonton kartun kucing biru


bernama Doraemon. Baguslah, setidaknya masih ada makanan yang masuk ke dalam


tubuhnya. Dan sepertinya gadis itu sangat serius menonton sampai tidak


menyadari bahwa Namjoon kini telah berada di belakangnya.


Ia pun memutuskan


memeluk Jaein dari belakang untuk menarik atensi gadisnya. “Seru sekali sampai


tidak tahu kalau aku datang,” bisiknya di telinga Jaein.


Sontak saja gadis itu


terkesiap. Beruntung ia tidak melempar piring berisi apel yang sedang di


pegangnya. “Aish oppa mengagetiku


saja,” protesnya.


Namjoon terkekeh,


lantas mencium gemas pipi gadis itu. “Apa sudah tidak lemas sekarang? Sudah


agak mendingan ya?”


Jaein pun mengangguk


sambil mengusap perutnya yang masih datar. “Dia kan pintar oppa,” ucapnya sumringah.


“Baguslah kalau begitu


sayang,”


“Oppa sudah makan? Biar ku buakan makan siang untukmu.” Jaein pun


bangkit dari tempatnya, namun tangan Namjoon mencegahnya dan menariknya agar


duduk kembali di samping pria itu.


“Sudah di sini saja,


aku bisa membuat ramyeon nanti. Kau


harus banyak istirahat,” tuturnya sembari membelai sayang pipi Jaein.


Jaein pun terdiam. Ia


begitu terlena dengan pesona Namjoon. Kemudian ia memilih menyandarkan


kepalanya pada pundak pria itu. Sedikit membenamkan wajahnya pada ceruk leher


Namjoon, menikmati aroma parfum yang menguar dari tubuhnya.


“Apa kau sangat


merindukanku?”


Gadis itu hanya


mengangguk lantas menggenggam tangan Namjoon yang berada di perutnya. “Sampai


kapan kita akan begini oppa?”


Namjoon tertegun


mendengar pertanyaan Jaein. Tentu saja Jaein akan berkata seperti itu padanya.


Gadis mana yang akan diam saja jika statusnya sedang dipertanyakan seperti ini,


dan tak kunjung mendapat kepastian.


Namun Namjoon terlalu


pengecut. Ia takut akan kehilangan Sihyun, dan juga saat ini ia sudah terlanjur


sayang pada Jaein serta calon bayinya. Mana bisa pria itu memilih di antara


mereka berdua.


“Em aku akan


memikirkan jalan keluarnya sayang, bersabarlah sebentar.” Hanya itu kalimat


yang keluar dari bibir Namjoon.


Jaein menghela napas


berat mendengar jawaban pria itu. Yah, bagaimanapun juga Jaein harus menyadari posisinya


saat ini. Hanya simpanan.


“Aku tiba-tiba ingin


makan sundae (sosis darah).” ujar


Jaein.


Namjoon tercengang. “Mwo? Kenapa ingin makan itu?”


“Memangnya tidak


boleh? Ini kan aegi yang mau. Dan aku


ingin oppa yang berangkat


membelikanku.”


Yang harus Namjoon


tahu, sepertinya wanita ini sedang mengalami fase yang disebut ngidam. Mau tidak mau ia harus menuruti


apa yang Jaein inginkan. Karena jika tidak, bayi mereka akan ileran. Setidaknya


begitulah yang pernah pria itu dengar.


“Baiklah aku akan


membelikanmu,” ucapnya sambil mencium pipi Jaein.


Namjoon segera berlalu


karena tidak ingin membuat Jaein dan bayinya menunggu lama. Ia pun berbalik


setelah memastikan pintu apartemen Jaein tertutup.


“Kim Namjoon?”


Pria itu menoleh


ketika seseorang menyapanya. Sontak matanya membulat saat menyadari siapa yang


baru saja memanggilnya.


“Ju… Jung Hoseok?”



 


 

__ADS_1


7 Januari 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2