
Sihyun mengernyitkan
dahi dan masih sibuk mengendus ceruk leher Namjoon.
“Aroma ini? Seperti
bukan parfum milikmu.”
Seketika Namjoon
terbelalak mendengar pernyataan sang istri. Oh tidak, mungkin parfum milik
Jaein yang menempel di kemejanya karena hampir seharian gadis itu menempeli
tubuhnya.
Kini ia dapat melihat
tatapan tajam Sihyun padanya. Baiklah mungkin ini akhir dari pernikahan mereka
berdua.
“Kim Namjoon beraninya
kau memakai parfumku, eoh! Padahal
aku sengaja jarang memakainya biar tidak cepat habis, tapi kau malah
memakainya,” protes Sihyun seraya memukul dada bidang suaminya.
Namjoon tercengang
tidak percaya sang istri tidak menaruh curiga padanya. Jika seperti ini, semua
menjadi lebih mudah untuknya. Jadi yang harus ia lakukan hanyalah meneruskan
kebohongannya agar sang istri tetap percaya padanya.
“Ehehe mian sayang, tadi parfum itu tertinggal
di mobil, jadi aku coba saja,” jelasnya sambil tersenyum kikuk.
Sihyun bersedekap
mengerucutkan bibirnya, lantas melirik Namjoon sebal. “Aku tidak mau tahu kau
harus segera mengembalikannya ke meja riasku.”
Namjoon yang tak kuasa
melihat tingkah menggemaskan Sihyun langsung saja meraup bibir mungil sang
istri, melumatnya dengan lembut. Perlahan Sihyun pun mengikuti permainan
suaminya. Ia mengalungkan tangan di leher Namjoon dan membalas ciuman
memabukkan pria itu.
Selang beberapa saat
tautan bibir mereka berdua pun terlepas, lantas berlomba menghirup udara
sebanyak-banyaknya akibat kegiatan panas mereka. Setelah dirasa mendapat
pasokan udara yang cukup mereka berdua saling melempar pandang, tanpa suara
yang keluar dari bibir mereka.
“Beraninya kau
terlihat menggoda seperti ini sayang?” bisik Namjoon yang kini sudah
melingkarkan tangannya di perut sang istri.
Sihyun menyunggingkan
senyumnya. “Jika kau tergoda, maka kau kalah,” jawabnya.
“Dan kau tahu? Di saat
seperti ini lebih baik aku merasa kalah.”
Tanpa menunggu lama,
Namjoon segera mengangkat sang istri, membopongnya menuju kamar mereka.
Sihyun yang tidak siap
langsung merapatkan pegangannya di leher sang suami. “Tapi bagaimana makan
malamnya sayang? Kau kan belum makan.”
Namjoon merebahkan
tubuh Sihyun secara perlahan, kemudian mendekatkan wajah padanya. “Makan
malamku kan ada di sini.”
Gadis itu terkekeh
lantas mengecup kilas bibir Namjoon. “Kalau begitu habiskan saja.”
Dirasa mendapat lampu
hijau dari istrinya, Namjoon tersenyum seraya membelai puncak kepala Sihyun.
Lantas perlahan ia kembali menghapus jarak. Memulai malam panjang dan indah
untuk mereka berdua.
...
“Hey gyosunim apa kau tidak ingin bangun, eoh?”
Namjoon mengerjap saat
merasa seseorang tengah mengguncang-guncangkan tubuhnya. Kemudian ia pun
memaksa membuka matanya yang masih terasa berat.
“Eungh...”
Cup!
“Sudah pagi, kau bisa
terlambat jika tidak segera bangun sayang.”
Akhirnya ia berhasil
membuka mata dengan sempurna setelah mendapat kecupan singkat dari sang istri.
Ia tersenyum mengamati penampilan Sihyun saat ini.
“Kau meninggalkanku, eoh?” tuduhnya pada Sihyun yang kini
sudah kembali duduk di depan meja rias.
“Bukan aku yang
meninggalkanmu, kau saja yang susah dibangunkan,” cibirnya. “Mandilah, aku
sudah menyiapkan air hangat untukmu.”
Namjoon bangkit lantas
memeluk tubuh Sihyun dari belakang, dan menyandarkan dagu pada pundaknya.
Sihyun tersenyum
melihat kelakuan manja suaminya. “Kenapa?”
“Tidak ada, hanya
ingin memelukmu,” jawabnya di akhiri dengan ciuman lembut di pipi Sihyun, cukup
lama sebelum pria itu melenggang menuju kamar mandi.
Sihyun terkekeh dengan
tingkah aneh suaminya.
Ting!
Sihyun menoleh saat
mendengar sebuah notifikasi pesan dari ponsel suaminya. Lantas ia melihat
layarnya yang menyala, hanya memastikan itu pesan penting atau tidak.
Jaein Park
‘Ku
tunggu di tempat biasa’
Sihyun mengernyit
setelah membaca pesan yang tertera di ponsel Namjoon. Ia tidak pikir panjang,
mungkin saja itu pesan dari rekan kerjanya bukan. Lantas ia kembali dengan
aktifitasnya merias diri.
Namun aktifitasnya
kembali terusik saat mendengar ponselnya berdering. Ia pun segera mengangkat
setelah sebelumnya mengecek siapa yang meneleponnya.
“Yeobseyo, ada apa dokter?”
‘Apa kau rajin meminum vitaminnya?’
“Tentu saja, bahkan aku
membawanya kemana-mana, kau tidak perlu khawatir.”
‘Benarkah?’
“Aigoo haruskah ku fotokan sisa vitaminku padamu agar kau percaya?”
‘Sepertinya bukan ide yang buruk, baiklah ku tunggu kau mengirimkan
fotonya.’
__ADS_1
Pip!
Sihyun terbelalak
melihat ponselnya yang tiba-tiba mati karena Jung Hoseok memutus sambungan
terlebih dulu. “Ck! Dasar pria itu,” ocehnya sembari mengaduk-aduk isi tasnya
mencari vitamin yang dimaksudkan dokter muda itu.
Ia menghentikan
kegiatannya, alih-alih vitamin, kini tangannya tengah memegang botol parfum
miliknya. “Kenapa kau ada disini?” gumamnya.
Ia mulai berpikir,
kapan Namjoon mengembalikan parfumnya. Pasalnya sejak semalam pria itu tetap
bersama dengannya, dan lagi pria itu belum keluar kamar sama sekali. Bangun
saja karena Sihyun yang membangunkannya.
Mungkinkah
kau membohongiku Joon?
...
Namjoon melahap sandwich di hadapannya seraya mengamati
istrinya yang sedang melamun.
“Hey kenapa kau
melamun?” tegurnya.
Alhasil Sihyun kembali
sadar dan menatapnya. Gadis itu terlihat sedikit kikuk. “Ah apa kau bicara
denganku Joon?”
Namjoon menghela
napas. “Kau melamun sayang, apa yang sedang kau pikirkan?”
Sihyun pun menggelengkan
kepalanya. “Ah tidak ada,” jawabnya singkat lantas kembali melahap makanannya.
Beberapa saat
kemudian, ia kembali memandang Namjoon.
Haruskah
aku bertanya padanya tentang parfum itu?
“Joon...”
“Kenapa sayang?”
Sihyun termenung cukup
lama sebelum melanjutkan ucapannya.
Tidak
tidak. Jika aku bertanya padanya, maka sama saja seperti aku tidak mempercayai
suamiku sendiri.
“Ehehe tidak jadi...”
jawabnya mengurungkan niat.
Terlihat Namjoon
mengernyit, setelah itu terkekeh karena menurutnya tingkah Sihyun sangat
menggemaskan “Yasudah aku berangkat dulu, dan mungkin nanti aku akan pulang
terlambat sayang. Jangan menungguku, makanlah dulu oke?” ujarnya panjang lebar
mengingatkan sang istri.
Sihyun hanya
menjawabnya dengan anggukan.
“Tidak perlu
mengantarku ke depan, kau habiskan saja makananmu sayang. Aku berangkat,” pamitnya.
Lantas beranjak meninggalkan Sihyun setelah sebelumnya mencium kening wanita
itu terlebih dahulu.
Sihyun hanya bisa
menoleh menatap kepergian suaminya. Ia masih merasakan sesuatu yang janggal. Ia
bertanya-tanya kenapa parfum itu bisa ada di dalam tasnya. Padahal masih
Sudahlah hanya masalah parfum tidak perlu dipikirkan. Batinnya.
...
“Bibi aku datang!”
Sihyun menoleh saat
suara cempreng Choi Minji menyapanya. Benar saja, gadis kecil itu dan juga
Raemi sudah berada di ruangan kerjanya.
“Aigoo kau begitu merindukanku ya?” Tebak Sihyun asal seraya
menciumi gemas keponakan semata wayangnya itu.
Kemudian Minji malah
menggelengkan kepalanya. “Tidak, aku hanya mau minta kue pada bibi.”
Seketika Sihyun
tercengang mendengar penuturan gadis itu. Sedangkan Raemi hanya terkekeh
melihat tingkah lucu anaknya.
“Jadi kau hanya mau
kue? Yasudah ambil saja, setelah itu pulanglah,” ucap Sihyun pura-pura merajuk.
“Tapi aku mau main
dengan bibi...” Minji merengek sembari mengayun-ayunkan lengan Sihyun,
membuatnya tidak kuasa untuk menolak.
“Dasar licik, kalau
begini kan aku tidak bisa menolakmu,” ujarnya sambil memeluk dan mencium sayang
keponakannya itu.
Raemi yang sedari tadi
melihat hanya bisa terkekeh. “Kerja bagus Minji-ya, kalau seperti ini aku bisa mengerjakan laporan bulanan
milikku.”
Sihyun terbelalak
mendengar penuturan kakak iparnya. Wah dia merasa dikerjai sekarang ini.
“Ya! Ternyata kau juga
licik eonni!” Gadis itu menggerutu.
Tok...
Tok... Tok...
“Permisi nona Kim, ada
seseorang yang mencarimu.”
“Minji-ya makan kuenya nanti saja ya, bibi
sedang ada tamu,” pamitnya pada Minji seraya mencium pipi gembil gadis itu.
“Dah eonni selamat bermain dengan
Minji.” Ia menggoda Raemi sebelum akhirnya melenggang menuju cafe.
“Jung Hoseok?” Seru
Sihyun saat melihat tamunya adalah Hoseok.
Hoseok tersenyum manis
pada Sihyun sambil melambaikan tangannya.
“Kenapa kemari tidak
bilang padaku? Tunggu, darimana kau tahu kalau café ini milikku?” Sihyun
bertanya heran.
“Raemi noona tentu saja.”
Sihyun mengerutkan
keningnya tidak percaya. “Hey sejak kapan kau memanggil kakak iparku noona?” Wanita itu pun tertawa geli.
“Dia yang
mengizinkanku untuk memanggil noona. Biar lebih akrab katanya.”
“Awas saja kalau oppa tahu kau menggoda istrinya,” ujar
Sihyun.
__ADS_1
Hoseok hanya
menanggapinya dengan senyuman. Kemudian pria itu menatap serius pada Sihyun.
“Apa kau sudah makan siang?”
…
Sihyun menyeruput latte-nya sembari menunggu Hoseok yang
sedang membayar tagihan makan siang mereka. Pikirannya kembali melayang pada
keganjilan yang baru-baru ini terjadi.
“Hoseok-ah,” panggilnya pada Hoseok yang baru
saja menempelkan bokongnya pada kursi di depannya.
“Ada apa?” Tanya
Hoseok sembari mencomot kentang goreng yang ada dimeja.
“Mungkinkah kau
berbicara unformal pada rekan
kerjamu?”
Hoseok menggelengkan
kepalanya. “Tentu saja tidak, kecuali jika di luar jam kerja, dan kita memiliki
hubungan yang cukup dekat. Kenapa memangnya?”
Sihyun menggelengkan
kepalanya. “Em tidak, hanya ingin bertanya.”
Pria itu mengernyit.
“Dasar aneh sekali.”
“Cha kalau begitu besok aku yang akan mentraktirmu makan siang,
sebagai ucapan terima kasihku pada tuan dokter. Ah aku tidak mau dengar
penolakan.”
…
Namjoon memasuki unit apartemen milik Jaein. Gadis itu
kembali memilih absen dari kegiatan perkuliahannya karena kondisi tubuhnya yang
tidak memungkinkan. Gadis itu lebih sering merasa mual dan lesu. Wajar saja,
mungkin bawaan bayi yang dikandungnya, mengingat usia kandungan gadis itu juga
masih muda.
Pria itu tersenyum
melihat Jaein yang sedang melahap apel sambil menonton kartun kucing biru
bernama Doraemon. Baguslah, setidaknya masih ada makanan yang masuk ke dalam
tubuhnya. Dan sepertinya gadis itu sangat serius menonton sampai tidak
menyadari bahwa Namjoon kini telah berada di belakangnya.
Ia pun memutuskan
memeluk Jaein dari belakang untuk menarik atensi gadisnya. “Seru sekali sampai
tidak tahu kalau aku datang,” bisiknya di telinga Jaein.
Sontak saja gadis itu
terkesiap. Beruntung ia tidak melempar piring berisi apel yang sedang di
pegangnya. “Aish oppa mengagetiku
saja,” protesnya.
Namjoon terkekeh,
lantas mencium gemas pipi gadis itu. “Apa sudah tidak lemas sekarang? Sudah
agak mendingan ya?”
Jaein pun mengangguk
sambil mengusap perutnya yang masih datar. “Dia kan pintar oppa,” ucapnya sumringah.
“Baguslah kalau begitu
sayang,”
“Oppa sudah makan? Biar ku buakan makan siang untukmu.” Jaein pun
bangkit dari tempatnya, namun tangan Namjoon mencegahnya dan menariknya agar
duduk kembali di samping pria itu.
“Sudah di sini saja,
aku bisa membuat ramyeon nanti. Kau
harus banyak istirahat,” tuturnya sembari membelai sayang pipi Jaein.
Jaein pun terdiam. Ia
begitu terlena dengan pesona Namjoon. Kemudian ia memilih menyandarkan
kepalanya pada pundak pria itu. Sedikit membenamkan wajahnya pada ceruk leher
Namjoon, menikmati aroma parfum yang menguar dari tubuhnya.
“Apa kau sangat
merindukanku?”
Gadis itu hanya
mengangguk lantas menggenggam tangan Namjoon yang berada di perutnya. “Sampai
kapan kita akan begini oppa?”
Namjoon tertegun
mendengar pertanyaan Jaein. Tentu saja Jaein akan berkata seperti itu padanya.
Gadis mana yang akan diam saja jika statusnya sedang dipertanyakan seperti ini,
dan tak kunjung mendapat kepastian.
Namun Namjoon terlalu
pengecut. Ia takut akan kehilangan Sihyun, dan juga saat ini ia sudah terlanjur
sayang pada Jaein serta calon bayinya. Mana bisa pria itu memilih di antara
mereka berdua.
“Em aku akan
memikirkan jalan keluarnya sayang, bersabarlah sebentar.” Hanya itu kalimat
yang keluar dari bibir Namjoon.
Jaein menghela napas
berat mendengar jawaban pria itu. Yah, bagaimanapun juga Jaein harus menyadari posisinya
saat ini. Hanya simpanan.
“Aku tiba-tiba ingin
makan sundae (sosis darah).” ujar
Jaein.
Namjoon tercengang. “Mwo? Kenapa ingin makan itu?”
“Memangnya tidak
boleh? Ini kan aegi yang mau. Dan aku
ingin oppa yang berangkat
membelikanku.”
Yang harus Namjoon
tahu, sepertinya wanita ini sedang mengalami fase yang disebut ngidam. Mau tidak mau ia harus menuruti
apa yang Jaein inginkan. Karena jika tidak, bayi mereka akan ileran. Setidaknya
begitulah yang pernah pria itu dengar.
“Baiklah aku akan
membelikanmu,” ucapnya sambil mencium pipi Jaein.
Namjoon segera berlalu
karena tidak ingin membuat Jaein dan bayinya menunggu lama. Ia pun berbalik
setelah memastikan pintu apartemen Jaein tertutup.
“Kim Namjoon?”
Pria itu menoleh
ketika seseorang menyapanya. Sontak matanya membulat saat menyadari siapa yang
baru saja memanggilnya.
“Ju… Jung Hoseok?”
…
__ADS_1
7 Januari 2020 - Itsmehyuna_