
"Well, I think enough for today's material, is there any question?"
Suara tenor khas Kim Namjoon menggema memenuhi seisi ruangan kelas tempatnya mengajar saat ini. Penampilannya yang trendi membuatnya berbeda dengan dosen lain. Otak kelewat encer milik Kim Namjoon membuatnya bisa menjadi dosen termuda di kampusnya, dan sangat terkenal di kalangan mahasiswanya.
"No, Sir..."
Pria berkacamata itu pun mengangguk sembari merapikan buku-bukunya yang ada di atas meja. "Alright then, I assume you've mastered the material today. So I will hold a test in the next class, prepare yourself." Tukasnya yang berhasil membuat mahasiswanya mendesah.
"So see you next time." pamitnya lantas melangkahkan kakinya keluar kelas.
Belum terlalu jauh ia berjalan, terdengar suara yang kini memanggilnya.
"Kim gyosunim..." Namjoon pun menoleh guna melihat si pemanggil.
"Ah, ada apa nona Park?"
"Ini makalah yang anda minta, sudah ku selesaikan semuanya gyosunim. Dan anda harus memeriksanya," tukas gadis 23 tahunan yang ternyata adalah asisten dosennya.
Ia menerima berkas yang Jaein ulurkan padanya, dan membacanya sekilas. "Wah cepat sekali kau mengerjakannya?" pujinya sambil tersenyum. "Padahal baru 2 hari yang lalu aku memberimu tugas ini. Memang tidak salah aku memilihmu sebagai asisten dosen," Tambahnya yang berhasil membuat gadis muda di hadapannya itu tersipu malu.
"Terima kasih atas pujian anda gyosunim," ucapnya lantas membungkukkan badan pada Namjoon.
Namjoon pun mengangguk. "Baiklah aku akan memeriksanya di ruanganku. Apa ada hal lain yang ingin kau sampaikan?" Tanya Namjoon yang sepertinya bisa membaca raut wajah Jaein yang gelisah.
"Em sebenarnya aku belum paham dengan materi yang anda ajarkan tadi, tapi aku malu mengakuinya di depan yang lain." Ungkapnya sedikit malu.
Namjoon tersenyum melihat gadis di hadapannya ini. "Baiklah kau bisa mempelajarinya di ruanganku selagi aku memeriksa makalahmu nona Park."
"Baiklah gyosunim," jawab gadis itu, dan berjalan mengekor mengikuti dosennya.
...
"Duduklah." titah Namjoon pada Jaein lantas menunjuk sofa yang ada di ruangannya.
Jaein pun mengangguk, dan menuruti perintah bapak dosennya. "Ne gyosunim."
Sedangkan Namjoon tengah sibuk membongkar isi tasnya. Mencari materi yang Jaein inginkan. "Ah ini dia," Ucapnya sambil berjalan menghampiri Jaein.
Ia menghempaskan bokongnya di samping asistennya itu. "Ini materi yang tadi ku ajarkan, kau baca saja dulu. Kalau ada yang tidak kau pahami, kau bisa bertanya padaku setelah aku selesai memeriksa makalahmu," tukasnya pada gadis di sampingnya.
"Ne Kim gyosunim." Jawabnya dengan sopan.
Namjoon tersenyum melihat gadis di sampingnya ini. "Kau bisa memanggilku oppa saat aku tidak mengajar seperti ini. Jujur saja aku geli saat mendengar mahasiswaku memanggilku dengan sebutan gyosunim. Aku merasa sangat tua ahaha..." ungkap Namjoon disertai kekehan.
Lantas Jaein pun terbelalak mendengar apa yang baru saja diucapkannya. Memanggilnya oppa? Apa dia sudah gila!
"Em ne o-oppa." jawabnya terbata-bata.
...
"Minji-ya..." Seru Sihyun saat menemukan gadis kecil yang sedang sibuk menyantap eskrim di tangannya. Sedangkan bocah tersebut sama sekali tak menghiraukan panggilan bibinya.
Im Young Ae menoleh memandang putrinya. "Astaga pelankan suaramu Sihyun-ah, apa kau tidak malu kalau ada pelayan yang mendengarnya?"
Sihyun menggelengkan kepalanya lantas menggendong gadis kecilnya. "Biarkan saja mereka melihatku eomma. Ya! Choi Minji kau tidak sopan sekali pada bibi, eoh?" protesnya sambil menciumi gemas pipi gembil keponakannya.
"Aku sedang makan eskrim bibi," jawab bocah kelewat itu datar, membuat Sihyun melotot dengan ulahnya.
Karena gemas, Sihyun pun merebut eskrim di tangan Minji. "Kau ini masih pagi sudah makan eskrim!" Tukasnya sambil melotot marah pada gadis itu. Tentu saja yang hanya dibuat-buat.
"Halmeoniii lihatlah bibi!" teriak Minji dengan suara cemprengnya, mengadu pada sang nenek berharap neneknya itu akan memarahi Sihyun sehingga ia bisa mendapatkan eskrimnya kembali.
Young Ae hanya tersenyum memandang cucunya. "Kau marahi saja bibimu sendiri Minji-ya."
__ADS_1
Setelah mendengar perintah sang nenek, kini ia melipat tangannya di depan dada, tidak lupa melotot pada Sihyun. Bukannya menakutkan, gadis ini malah terlihat lebih menggemaskan. Ingin rasanya Sihyun menelannya hidup-hidup saking gemasnya. Dan setelah itu sang kakak pasti akan membunuhnya.
"Ya, bibi! Kembalikan eskrimku sekarang!" gertaknya garang.
Sihyun menahan tawanya. "Baiklah, tapi kau harus menciumku dulu dan katakan aku sayang bibi."
"Shireo! Berikan eskrimku bibi..." rengeknya dengan suara khasnya yang manja.
Astaga kalau sudah begini, Sihyun jadi tidak tega padanya. "Aigoo iya-iya ini ku kembalikan eskrim milikmu." ujarnya pasrah lantas mengembalikan eskrimnya pada Minji.
Tanpa tunggu lama gadis itu langsung melahap habis eskrimnya. Dan sontak membuat bibi dan neneknya ini tertawa.
"Astaga gadis ini!" Sihyun tertawa melihat ekspresi keponakan kecilnya ini. Lantas menciumi pipinya gemas.
"Sihyun-ah..."
Sihyun yang sedang sibuk menciumi pipi tembam keponakannya itupun menoleh pada ibunya. "Ada apa eomma?"
"Bagaimana dengan program hamilmu? Apa sudah membuahkan hasil?" selidik Young Ae.
Seketika raut wajah Sihyun berubah lesu setelah mendengar pertanyaan ibunya. Ia menggelengkan kepalanya lemah. "Aku baru saja selesai datang bulan eomma," Ungkapnya sedih.
Nyonya Choi menghampiri Sihyun. Diusapnya lembut punggung putrinya itu. "Tuhan pasti sudah menyiapkan kejutan yang sangat indah untuk kalian."
Sihyun pun tersenyum pada ibunya. "Setelah periodku selesai, aku dan Namjoon akan berkonsultasi pada dokter," tukasnya pada sang ibu.
Ibunya mengangguk mengerti. "Ah kalau begitu kenapa kau tanya saja pada kakak iparmu, ia pasti tahu dimana dokter yang terpercaya."
"Ah benar juga, kakak ipar pasti tahu. Aku akan bertanya saat ia pulang dari Jeju nanti," ucapnya. Kemudian kembali mengamati keponakan tersayangnya itu.
Betapa terkejutnya Sihyun melihat kondisi Minji yang mengenaskan saat ini. Bagaimana tidak, pasalnya tangan dan pipi gembil bocah itu penuh dengan eskrim. Sedangkan yang tengah menjadi pusat perhatian Sihyun dan Young Ae hanya diam lantas memasang ekspresi memelas dengan mata berbinar seperti tokoh kartun yang biasa ditontonnya.
"Minji sudah puas makan eskrimnya sayang?" Tanya Young Ae lantas mengelap pipi dan tangan Minji dengan tisu basah.
Minji pun mengangguk semangat. "Sudah halmeoni, eskrimku sudah habis." ungkapnya riang.
...
Sebuah Audy hitam berhenti tepat di depan apartemen yang ada di kawasan Myeongdong. Si pemilik mobil pun turun lantas memutari mobilnya agar bisa membuka pintu penumpang.
"Padahal kau tidak perlu repot seperti ini oppa." ujar gadis yang baru saja di bukakan pintu oleh Namjoon.
Namjoon pun hanya tersenyum memandangnya. "Gwaenchana, hanya membukakan pintu untukmu tidak merepotkanku," jelasnya.
Ucapan pria itu sontak membuat pipi Jaein bersemu merah. Ia sungguh malu karena perlakuan dosennya satu ini. "Apa oppa mau mampir dulu? Aku akan membuatkan teh hangat untukmu," Tawarnya pada pria itu.
Seketika Namjoon melirik benda yang tengah melingkar di pergelangan tangannya. Jarumnya sudah menunjuk angka 10. Sepertinya ia harus segera pulang. Mungkin istrinya sudah menunggu kepulangan Namjoon sejak sore tadi. Namun ia tertahan karena pekerjaannya di kampus.
Pria itu memandang Jaein penuh penyesalan. "Mianhae Jaein-ah ini sudah larut, dan masih ada yang harus ku kerjakan di rumah. Mungkin lain kali aku akan mampir," Tolaknya dengan lembut agar gadis di hadapannya ini tidak tersinggung.
Jaein mengangguk mengerti. "Baiklah oppa, terimakasih karena sudah mengantarku," tukasnya sambil membungkukkan badan untuk menunjukkan rasa hormatnya pada sang dosen.
Ia mengangguk sambil kembali memasuki mobilnya. Dan sebelum ia melajukan mobilnya, Namjoon menatap Jaein dari jendela mobilnya yang dengan sengaja dibuka. "Jangan lupa kemasi barang-barang keperluanmu, karena kita akan berangkat hari Senin. Aku akan menjemputmu pagi-pagi sekali Jaein-ah."
"Ah baiklah oppa, hati-hati di jalan."
Pria itu balas melambaikan tangan sebelum akhirnya melajukan mobilnya. Sesekali memeriksa ponselnya, dan membaca pesan-pesan dari sang istri.
'Aku menunggumu Joon.' – 18.35
'Apa kau belum pulang Joon? Pekerjaanmu masih banyak?' – 19.11
'Jangan lembur terlalu lama Joon, pikirkan juga kesehatanmu.' – 21.24
__ADS_1
Mungkin istrinya sudah tidur saat ini. Kini ia terus memikirkan kejutan apa yang ingin ditunjukkan istrinya. Ia merasa menyesal karena tidak bisa pulang ke rumah tepat waktu.
Namjoon memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Dengan segera ia menyambar tasnya lantas melangkahkan kakinya memasuki hunian yang di tempatinya bersama sang istri. Begitu memasuki rumah, ia mengedarkan pandangannya. Lampu diruang tamu sudah dimatikan. Ya, mungkin memang benar istrinya sudah tidur.
"Sihyun-ah..." Panggilnya pada sang istri. Namun tidak ada jawaban. Ia pun menaiki tangga menuju kamarnya. Betapa terkejutnya saat tidak bisa menemukan istrinya di dalam kamar. Ia pun membuka pintu kamar mandi. Menerka apa istrinya ada disana. Tapi tetap nihil.
Namjoon kebingungan. Dengan cepat ia berlari menuju dapur untuk mencari istrinya. Ia menghela napasnya kasar, karena sudah larut seperti ini tapi ia tidak bisa menemukan istrinya di manapun.
"Ya Kim Sihyun dimana kau?" gumamnya sambil menopang kepalanya di atas meja makan.
...
Sihyun terbangun dari tidurnya saat mendengar suara deru mobil berhenti di halaman rumahnya. Ia hendak bangun dari tidurnya, namun tertahan kerena pelukan Minji. Ya, kini Sihyun tengah menemani Minji tidur di kamar yang ia sediakan khusus untuknya saat menginap disini. Ia sengaja menculik bocah itu karena kedua orang tuanya sedang pergi ke Jeju.
Sihyun mengusap lembut rambut Minji. Ia begitu menyayangi putri kakaknya itu. Bahkan terkadang ia menganggap Minji seperti putrinya sendiri.
"Bibi menyayangimu Minji-ya." Ia mengecup kening gadis kecilnya. Lantas perlahan memindahkan tangan Minji, dan bangun dari ranjang.
Saat keluar dari kamar Minji, ia dapat melihat Namjoon tergesa-gesa berlari menuju dapur. Dan sepertinya ia tidak menyadari kehadiran Sihyun. Ada apa dengan pria itu?
Kemudian ia menyusul suaminya menuju dapur. Ia melihat pria itu tengah menopang kepalanya. Apa dia sedang ada masalah?
"Ya Choi Sihyun di mana kau?" Sihyun tersenyum mendengar gumaman suaminya.
Ia menebak saat ini Namjoon tengah bingung mencarinya, karena tidak bisa menemukan istrinya di kamar. Kemudian ia mendekat pada pria itu, lantas memeluknya dari belakang. "Kau mencariku sayang?" bisiknya.
Namjoon terkesiap karena pelukan Sihyun. Ia pun berbalik menghadap istrinya. "Kau darimana saja? Aku mencarimu dari tadi." ujarnya.
Sihyun dapat melihat raut wajah khawatir suaminya, lantas mengusap lembut pipi pria itu.
"Aku akan menunjukan kejutan untukmu, kau pasti senang." Bukannya menjawab, wanita itu kini telah menuntun Namjoon menuju ke kamar Minji.
"Kenapa mengajakku kemari?" ujar Namjoon menoleh pada istrinya penasaran kejutan apa sebenarnya yang ingin ditunjukan Sihyun.
"Lihat saja sendiri sayang," Tukas Sihyun saat membuka pintu. "Lihatlah gadis kecilku sedang tidur Joon."
Namjoon tersenyum melihat keponakannya tengah tidur dengan damai. Rupanya ini kejutan dari istrinya. Ia mengulas senyum saat menangkap tatapan berbinar Sihyun. Pria itu tahu betul kebahagiaan yang dirasaakan sang istri jika ada Minji berada di rumah mereka. Karena Sihyun bisa memainkan peran sebagai seorang ibu bagi Minji.
"Kenapa dia ada disini sayang? Kau tidak menculiknya kan?" goda Namjoon lantas mendekatkan wajahnya pada Sihyun.
Sontak saja Sihyun mencubit perut suaminya. Namjoon mengerang karena cubitan istrinya yang padahal tidak terasa sakit baginya. Ia hanya suka melihat wajah istrinya yang sedang kesal seperti ini. Sangat menggemaskan.
"Aish tentu saja tidak Joon," Sangkal Sihyun.
"Euung..."
Mereka berdua menoleh saat mendengar suara Minji.
"Sstt... kau bisa membangunkannya sayang, kajja kita kembali ke kamar," bisik Namjoon pada istrinya.
"Padahal tadi kau yang memulainya." Omel Sihyun sambil menutup pintu kamar Minji secara perlahan. Namjoon sangat gemas melihat istrinya saat ini. Lihat saja kau Choi Sihyun.
Dengan sigap Namjoon menggendong istrinya, mengecup kilas bibir cherry milik Sihyun. Sedangkan wanita itu dibuat melongo karena suaminya ini malah melayangkan evil smile padanya.
"Joon kau mau apa, eoh?" tanya Sihyun yang berhasil dibuat gugup oleh Namjoon. Tangannya refleks melingkar di leher pria itu.
"Sepertinya kau sangat mengerti maksudku sayang," selasnya. Setelah di dalam kamar, ia merebahkan tubuh istrinya di ranjang king size mereka.
Sihyun tersenyum menatap obsidian suaminya. Ia mengecup kilas bibir pria itu. "Apapun untukmu Joon."
Setelah mendapat lampu hijau dari istrinya, Namjoon pun menghapuskan jarak di antara mereka, memposisikan tubuhnya menindih sang istri.
Pria itu mematikan lampu yang ada di meja sebelah ranjang mereka. Sedetik kemudian bibir mereka kembali bertemu, menyalurkan rasa cinta di antara keduanya. Dan biarkanlah mereka hanyut pada dunia mereka sendiri. Dunia dimana tidak ada orang lain yang bisa mengganggunya. Dunia yang hanya ada manusia bernama Kim Namjoon dan Kim Sihyun. Sepertinya malam ini akan terasa panjang untuk mereka berdua.
__ADS_1
...
4 Januari 2020 - Itsmehyuna_