Our Marriage

Our Marriage
Chapter 25


__ADS_3

“Usia


kandunganmu sudah memasuki bulan ketujuh kan Jaein-ah, artinya kau harus semakin sering memeriksakannya,” tutur Yo Won


yang tengah menyantap makan siang bersama kedua menantunya.


“Ne? Eoh, baik eomonim, aku akan mengikuti kata-katamu,” jawab Jaein sedikit


kikuk.


Entah


mengapa Sihyun sedikit iri dengan perhatian yang Yo Won berikan pada Jaein.


Meskipun ia sendiri tahu jika mertuanya itu masih belum terbiasa menerima


kehadiran Jaein di tengah keluarga besar mereka. Dan wanita itupun juga tahu


jika Yo Won lebih menyayanginya, namun tetap saja ia merasa cemburu saat ibu


mertuanya lebih memperhatikan tentang kehamilan Jaein. Sekali lagi wanita itu


menyadari jika semua itu jelas berawal darinya yang memilih menyembunyikan


kehamilannya sendiri.


Detik


berikutnya ia tersenyum lantas menatap Jaein. “Tenang saja Jaein-ah aku akan selalu menemanimu periksa.


Karena Namjoon pasti akan lebih sibuk sekarang ini.”


Jaein


tersenyum kilas dan mengangguk. “Ne eonni,


terimakasih.”


“Sudah


kau tidak perlu sungkan begitu jika padaku,” ucapnya sambil mengulurkan susu


hamil milik Jaein.


Tentu


saja bukan tanpa alasan Sihyun memutuskan mengantar Jaein. Ia berpikir kenapa


tidak sekalian saja memeriksakan kandungannya juga pada Hoseok. Toh pria itu


bekerja di tempat yang sama dengan dokter kandungan Jaein.



Jaein


memandang layar ponselnya dengan gelisah. Sesekali menggigit bibir sembari


memperhatikan sekelilingnya, mencari seseorang yang sedang ia tunggu. Kakinya


pun tak berhenti mengetuk-ngetuk lantai karena terlampau gelisah.


Sore


ini ia baru saja memeriksakan kandungannya dengan Sihyun. Namun wanita itu


sudah pulang sejak tadi karena Jaein beralasan ingin bertemu dengan teman


kuliahnya, dan akan pulang sendiri.


Lima


belas menit sudah ia menunggu di tempat yang telah dijanjikan. Jaein menghela


napas sejenak saat sosok yang ditunggunya tak kunjung datang. Kini ia kembali


membaca pesan yang diterimanya saat berada di rumah sakit tadi.


’Setelah selesai memeriksakan kandunganmu, temui aku


di café seberang rumah sakit. Kita perlu bicara.’


Tanpa


sadar Jaein meremas ponselnya geram.


“Jaein-ah…”


Sapa


seseorang yang sontak membuat Jaein menoleh. Pria yang membuatnya harus


terpaksa menjalankan scenario yang


dipilihnya saat ini.


“Apa katamu? Kau yakin bayi itu benar-benar anakku?”


Jaein terbelalak tidak percaya saat mendengar ucapan


pria di hadapannya itu. Kim Seokjin, kekasihnya.


“Kau yakin tidak melakukannya dengan pria lain?”


“Oppa, mana

__ADS_1


mungkin aku berani melakukannya dengan pria lain selain kekasihku. Tentu saja


bayi ini anakmu,” rengek Jaein.


“Ya, kau jangan mengada-ada. Aku ini masih muda, mana


mungkin aku sudah jadi ayah. Lagipula sebentar lagi aku akan jadi dokter, mana


mungkin aku menikahimu.”


“Mwo? Memangnya


dokter tidak boleh menikah? Kau sudah berjanji padaku akan bertanggung jawab


jika terjadi sesuatu oppa, maka dari


itu aku mau melakukannya karena aku mencintaimu.” Gadis itu meraih tangan


Seokjin, dan menatapnya penuh harap.


Namun tanpa diduga Seokjin malah menyentak tangan


Jaein hingga gadis itu limbung dan terjatuh. “Walaupun begitu bukankah


seharusnya kau menolak. Bagaimana mungkin kau dengan mudahnya melepaskan


kehormatanmu,” ucapnya dingin dan penuh penekanan.


Bagai disambar petir di siang bolong, hati Jaein


benar-benar tertohok dengan apa yang baru saja Seokjin ucapkan. Ia tak bisa


lagi membendung air mata yang menetes membasahi pipinya. Dalam benaknya


berpikir, benarkah pria di hadapannya ini adalah pria yang sama yang sempat


menjanjikan pernikahan padanya jika gadis itu hamil?


“Tidakkah kau diajarkan bahwa lelaki sejati tidak akan


pernah menyakiti seorang gadis eoh?!”


“Apa


maumu?” tanya Jaein ketus pada pria yang sudah duduk di hadapannya.


Pria


itu hanya tersenyum memandang Jaein. “Apa kandunganmu baik-baik saja? Apakah


bayi kita sehat?”


“Ck!”


Jaeinpun berdecak dan menatap sinis pada pria itu. “Maafkan aku Kim Seokjin sunbaenim, bukankah kau yang menolak


“Ahaha


lucu sekali. Menjadi istri, ah tidak, mantan selingkuhan seorang dosen


membuatmu sombong ya?”


“Apa


kau menyuruhku kemari hanya untuk mengatakan ini?” ketus Jaein.


“Tidak


juga, jelas sekali aku menanyakan keadaan bayiku tadi,” jawab Seokjin dengan


senyum di bibirnya. Namun tidak digubris oleh Jaein.


“Dan


lagi, tentang penawaranku waktu itu. Sebentar lagi aku akan dipromosikan, tinggalkan


dosen itu, dan kita mulai hidup yang baru. Bagaimana?”


“Kau


pikir aku mau menerimanya setelah kau jelas-jelas menolakku dan bayi ini?


Maafkan aku dokter Kim Seokjin yang terhormat, aku tidak akan pernah meninggalkan


suamiku,” tegas Jaein penuh penekanan di setiap katanya. Detik berikutnya ia


menyambar tasnya, dan beranjak meninggalkan Seokjin.


“Kau


yakin? Walaupun pria itu jatuh miskin nantinya?”


Seketika


Jaein kembali menghentikan langkahnya yang belum terlalu jauh. Berbalik badan


dan menatap Seokjin seolah menuntut penjelasan darinya.


“Bukankah


seharusnya kau tahu tentang masalah Kim Financial?”


Jaein


mengepalkan tangannya geram karena pria di hadapannya ini berusaha

__ADS_1


memprovokasinya agar bercerai dengan Namjoon.


“Aku


tidak akan pernah menerima penawaranmu. Dan satu lagi, perusahaan itu tidak


akan mengalami kebangkrutan. Karena suamiku pasti akan melakukan apapun untuk


mempertahankan perusahaannya!” desis Jaein lantas melenggang pergi.


“Baiklah,


kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran Jaein-ah,” ujar Seokjin yang pasti akan di dengar oleh Jaein. “Dan aku


yakin kau pasti akan berubah pikiran.”



Namjoon berjalan mendekati sepasang kekasih yang


sedang bertengkar. Bahkan ia melihat dengan jelas sang lelaki mendorong


gadisnya hingga terjatuh. Jelas saja Namjoon merasa sangat geram.


“Tidakkah kau diajarkan bahwa lelaki sejati tidak akan


pernah menyakiti seorang gadis eoh?!” Tegas Namjoon lantas dengan segera


menolong gadis tersebut untuk kembali berdiri.


Tanpa mengindahkan pertanyaan Namjoon, lelaki itu


melenggang pergi tanpa sepatah kata.


“Hey, aku masih berbicara denganmu! Tidak sopan


sekali, siapa nama bocah itu?”


“Gyosunim tidak


perlu, tadi aku yang salah,” potong gadis tersebut sembari menahan lengan Namjoon


yang ingin mengikuti kemana perginya lelaki tersebut.


Namjoon menoleh menatap gadis itu. “Tapi tetap saja


seharusnya ia tak mendorong seperti itu, terlebih lagi pada seorang gadis.”


“Aniya, aku tidak


apa-apa, aku baik-baik saja gyosunim.”


“Benar kau baik-baik saja?” selidik Namjoon


memastikan.


Gadis itupun mengangguk pasti karena tidak ingin


dicurigai.


“Kalau kau baik-baik saja, lalu kenapa kau menangis?”


ucap Namjoon sembari mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu.


Sontak saja perbuatan Namjoon membuat gadis itu


terbelalak. Wajahnya memerah karena malu. Ia benar-benar lupa jika tadi sempat


menangis saat bertengkar dengan kekasihnya.


“Kau tidak pandai berbohong nona muda. Siapa namamu?”


Namjoon tersenyum karena tingkah lucu gadis itu.


Dengan ragu gadis itu pun menjawab. “Park Jaein, gyosunim.”


Namjoon mengangguk.”Sepertinya aku mengingat namamu,


kau pernah beberapa kali mengikuti kelasku kan?”


Jaein mengangguk. “Ne


gyosunim.”


“Dan aku mengingat nilaimu cukup bagus.”


Jaein merona. Entah kenapa ia benar-benar malu dipuji


seperti itu oleh Namjoon. Padahal ia sudah sering mendapat pujian tentang


prestasinya, namun kali ini berbeda. Seolah ada sesuatu yang menerbangkan


hatinya.


“Ah iya, sepertinya kau harus menraktirku sebagai


ucapan terimakasih nona Park,” bisik Namjoon sebelum melenggang pergi


meninggalkan Jaein dalam kebingungan.


Mungkin di sinilah awal cerita terlarang mereka.



 

__ADS_1


25 Maret 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2