
“Usia
kandunganmu sudah memasuki bulan ketujuh kan Jaein-ah, artinya kau harus semakin sering memeriksakannya,” tutur Yo Won
yang tengah menyantap makan siang bersama kedua menantunya.
“Ne? Eoh, baik eomonim, aku akan mengikuti kata-katamu,” jawab Jaein sedikit
kikuk.
Entah
mengapa Sihyun sedikit iri dengan perhatian yang Yo Won berikan pada Jaein.
Meskipun ia sendiri tahu jika mertuanya itu masih belum terbiasa menerima
kehadiran Jaein di tengah keluarga besar mereka. Dan wanita itupun juga tahu
jika Yo Won lebih menyayanginya, namun tetap saja ia merasa cemburu saat ibu
mertuanya lebih memperhatikan tentang kehamilan Jaein. Sekali lagi wanita itu
menyadari jika semua itu jelas berawal darinya yang memilih menyembunyikan
kehamilannya sendiri.
Detik
berikutnya ia tersenyum lantas menatap Jaein. “Tenang saja Jaein-ah aku akan selalu menemanimu periksa.
Karena Namjoon pasti akan lebih sibuk sekarang ini.”
Jaein
tersenyum kilas dan mengangguk. “Ne eonni,
terimakasih.”
“Sudah
kau tidak perlu sungkan begitu jika padaku,” ucapnya sambil mengulurkan susu
hamil milik Jaein.
Tentu
saja bukan tanpa alasan Sihyun memutuskan mengantar Jaein. Ia berpikir kenapa
tidak sekalian saja memeriksakan kandungannya juga pada Hoseok. Toh pria itu
bekerja di tempat yang sama dengan dokter kandungan Jaein.
…
Jaein
memandang layar ponselnya dengan gelisah. Sesekali menggigit bibir sembari
memperhatikan sekelilingnya, mencari seseorang yang sedang ia tunggu. Kakinya
pun tak berhenti mengetuk-ngetuk lantai karena terlampau gelisah.
Sore
ini ia baru saja memeriksakan kandungannya dengan Sihyun. Namun wanita itu
sudah pulang sejak tadi karena Jaein beralasan ingin bertemu dengan teman
kuliahnya, dan akan pulang sendiri.
Lima
belas menit sudah ia menunggu di tempat yang telah dijanjikan. Jaein menghela
napas sejenak saat sosok yang ditunggunya tak kunjung datang. Kini ia kembali
membaca pesan yang diterimanya saat berada di rumah sakit tadi.
’Setelah selesai memeriksakan kandunganmu, temui aku
di café seberang rumah sakit. Kita perlu bicara.’
Tanpa
sadar Jaein meremas ponselnya geram.
“Jaein-ah…”
Sapa
seseorang yang sontak membuat Jaein menoleh. Pria yang membuatnya harus
terpaksa menjalankan scenario yang
dipilihnya saat ini.
“Apa katamu? Kau yakin bayi itu benar-benar anakku?”
Jaein terbelalak tidak percaya saat mendengar ucapan
pria di hadapannya itu. Kim Seokjin, kekasihnya.
“Kau yakin tidak melakukannya dengan pria lain?”
“Oppa, mana
__ADS_1
mungkin aku berani melakukannya dengan pria lain selain kekasihku. Tentu saja
bayi ini anakmu,” rengek Jaein.
“Ya, kau jangan mengada-ada. Aku ini masih muda, mana
mungkin aku sudah jadi ayah. Lagipula sebentar lagi aku akan jadi dokter, mana
mungkin aku menikahimu.”
“Mwo? Memangnya
dokter tidak boleh menikah? Kau sudah berjanji padaku akan bertanggung jawab
jika terjadi sesuatu oppa, maka dari
itu aku mau melakukannya karena aku mencintaimu.” Gadis itu meraih tangan
Seokjin, dan menatapnya penuh harap.
Namun tanpa diduga Seokjin malah menyentak tangan
Jaein hingga gadis itu limbung dan terjatuh. “Walaupun begitu bukankah
seharusnya kau menolak. Bagaimana mungkin kau dengan mudahnya melepaskan
kehormatanmu,” ucapnya dingin dan penuh penekanan.
Bagai disambar petir di siang bolong, hati Jaein
benar-benar tertohok dengan apa yang baru saja Seokjin ucapkan. Ia tak bisa
lagi membendung air mata yang menetes membasahi pipinya. Dalam benaknya
berpikir, benarkah pria di hadapannya ini adalah pria yang sama yang sempat
menjanjikan pernikahan padanya jika gadis itu hamil?
“Tidakkah kau diajarkan bahwa lelaki sejati tidak akan
pernah menyakiti seorang gadis eoh?!”
“Apa
maumu?” tanya Jaein ketus pada pria yang sudah duduk di hadapannya.
Pria
itu hanya tersenyum memandang Jaein. “Apa kandunganmu baik-baik saja? Apakah
bayi kita sehat?”
“Ck!”
Jaeinpun berdecak dan menatap sinis pada pria itu. “Maafkan aku Kim Seokjin sunbaenim, bukankah kau yang menolak
“Ahaha
lucu sekali. Menjadi istri, ah tidak, mantan selingkuhan seorang dosen
membuatmu sombong ya?”
“Apa
kau menyuruhku kemari hanya untuk mengatakan ini?” ketus Jaein.
“Tidak
juga, jelas sekali aku menanyakan keadaan bayiku tadi,” jawab Seokjin dengan
senyum di bibirnya. Namun tidak digubris oleh Jaein.
“Dan
lagi, tentang penawaranku waktu itu. Sebentar lagi aku akan dipromosikan, tinggalkan
dosen itu, dan kita mulai hidup yang baru. Bagaimana?”
“Kau
pikir aku mau menerimanya setelah kau jelas-jelas menolakku dan bayi ini?
Maafkan aku dokter Kim Seokjin yang terhormat, aku tidak akan pernah meninggalkan
suamiku,” tegas Jaein penuh penekanan di setiap katanya. Detik berikutnya ia
menyambar tasnya, dan beranjak meninggalkan Seokjin.
“Kau
yakin? Walaupun pria itu jatuh miskin nantinya?”
Seketika
Jaein kembali menghentikan langkahnya yang belum terlalu jauh. Berbalik badan
dan menatap Seokjin seolah menuntut penjelasan darinya.
“Bukankah
seharusnya kau tahu tentang masalah Kim Financial?”
Jaein
mengepalkan tangannya geram karena pria di hadapannya ini berusaha
__ADS_1
memprovokasinya agar bercerai dengan Namjoon.
“Aku
tidak akan pernah menerima penawaranmu. Dan satu lagi, perusahaan itu tidak
akan mengalami kebangkrutan. Karena suamiku pasti akan melakukan apapun untuk
mempertahankan perusahaannya!” desis Jaein lantas melenggang pergi.
“Baiklah,
kau bisa menghubungiku jika berubah pikiran Jaein-ah,” ujar Seokjin yang pasti akan di dengar oleh Jaein. “Dan aku
yakin kau pasti akan berubah pikiran.”
…
Namjoon berjalan mendekati sepasang kekasih yang
sedang bertengkar. Bahkan ia melihat dengan jelas sang lelaki mendorong
gadisnya hingga terjatuh. Jelas saja Namjoon merasa sangat geram.
“Tidakkah kau diajarkan bahwa lelaki sejati tidak akan
pernah menyakiti seorang gadis eoh?!” Tegas Namjoon lantas dengan segera
menolong gadis tersebut untuk kembali berdiri.
Tanpa mengindahkan pertanyaan Namjoon, lelaki itu
melenggang pergi tanpa sepatah kata.
“Hey, aku masih berbicara denganmu! Tidak sopan
sekali, siapa nama bocah itu?”
“Gyosunim tidak
perlu, tadi aku yang salah,” potong gadis tersebut sembari menahan lengan Namjoon
yang ingin mengikuti kemana perginya lelaki tersebut.
Namjoon menoleh menatap gadis itu. “Tapi tetap saja
seharusnya ia tak mendorong seperti itu, terlebih lagi pada seorang gadis.”
“Aniya, aku tidak
apa-apa, aku baik-baik saja gyosunim.”
“Benar kau baik-baik saja?” selidik Namjoon
memastikan.
Gadis itupun mengangguk pasti karena tidak ingin
dicurigai.
“Kalau kau baik-baik saja, lalu kenapa kau menangis?”
ucap Namjoon sembari mengusap air mata yang membasahi pipi gadis itu.
Sontak saja perbuatan Namjoon membuat gadis itu
terbelalak. Wajahnya memerah karena malu. Ia benar-benar lupa jika tadi sempat
menangis saat bertengkar dengan kekasihnya.
“Kau tidak pandai berbohong nona muda. Siapa namamu?”
Namjoon tersenyum karena tingkah lucu gadis itu.
Dengan ragu gadis itu pun menjawab. “Park Jaein, gyosunim.”
Namjoon mengangguk.”Sepertinya aku mengingat namamu,
kau pernah beberapa kali mengikuti kelasku kan?”
Jaein mengangguk. “Ne
gyosunim.”
“Dan aku mengingat nilaimu cukup bagus.”
Jaein merona. Entah kenapa ia benar-benar malu dipuji
seperti itu oleh Namjoon. Padahal ia sudah sering mendapat pujian tentang
prestasinya, namun kali ini berbeda. Seolah ada sesuatu yang menerbangkan
hatinya.
“Ah iya, sepertinya kau harus menraktirku sebagai
ucapan terimakasih nona Park,” bisik Namjoon sebelum melenggang pergi
meninggalkan Jaein dalam kebingungan.
Mungkin di sinilah awal cerita terlarang mereka.
…
__ADS_1
25 Maret 2020 - Itsmehyuna_