
“Maaf sudah merepotkanmu Sihyun-ah, tapi hanya kau yang bisa diandalkan.” Ucap Raemi saat memeluk
adik iparnya.
Sihyun pun tertawa mendengar permintaan maaf Raemi.
Bukan bermaksud mengejek, tapi ia memang sudah hapal dengan kebiasaan kakak
iparnya yang satu ini. Namun nyatanya wanita ini tidak keberatan sama sekali
saat Raemi menitipkan Minji padanya.
“Ck! Kau kan memang licik eonni, sama seperti oppa.”
Ejeknya sembari melirik satu-satunya pria yang ada disana.
“Kenapa kau malah mengataiku Choi Sihyun?”
“Karena kau memang seperti itu kan oppa?” Sihyun kembali menggoda kakaknya.
Disaat kakak beradik itu sedang berdebat, Raemi hanya
bisa memutar bola mata malas melihat keributan yang telah diciptakan Jaekwon
dan Sihyun.
“Ya! Kenapa kalian berdua jadi bertengkar eoh?
Sudahlah, pokoknya aku sangat berterimakasih padamu Sihyun-ah.”
Sihyun pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya. “Iya eonni, kau tahu kan aku selalu sedang
jika main dengan Minji. Ah kalau begitu aku pamit pulang dulu oppa, eonni.”
“Kau akan pulang sendiri?” Tanya Jaekwon. Tak bisa
dipungkiri kadang kala ia bisa sangat khawatir pada adiknya ini. “Apa tidak
sebaiknya kau minta dijemput Namjoon saja?”
“Dia pasti lelah setelah seharian ini bekerja oppa, lagipula bagaimana dengan mobilku
nanti?”
“Sihyun benar Kwon-ah,”
Sahut Raemi membenarkan.
Jaekwon pun menghela napas sejenak lantas
menganggukkan kepalanya. “Baiklah, hati-hati Sihyun-ah.”
“Eoh, aku akan berhati-hati.”
…
“Tadi apa yang ingin kau katakan sayang?”
Raemi yang sedang menghapus sisa riasan diwajahnya pun
menoleh menatap suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dan sontak
saja ia teringat dengan apa yang ingin ia katakana pada Jaekwon.
Raemi pun bangkit, lantas menghampiri Jaekwon dan
mengajaknya duduk di tepi ranjang mereka agar perbincangan mereka sedikit
terasa nyaman. Jaekwon pun mengikuti apa yang dilakukan istrinya.
“Sebenarnya aku takut mengatakannya,” Ucap Raemi
lirih.
“Kenapa takut?”
“Aku takut jika yang ku duga ini salah.”
Jaekwon merapatkan posisi duduknya dengan Raemi dan
menatap istrinya. “Memangnya tentang apa hm?”
Raemi menghela napas. Mencoba menguatkan dirinya
sendiri sebelum mengatakan apa yang terjadi pada Jaekwon.
“Tapi berjanjilah kau tidak akan marah Kwon-ah.”
Jaekwon pun mengangguk pasti.
“Apa kau ingat saat dulu kita pergi ke Jeju, tentang
pria yang pernah ku ceritakan padamu?”
“Pria?” Tanya Jaekwon keheranan. “Pria yang mana
memangnya?”
“Pria yang ku bilang sangat mirip dengan Namjoon
sayang,” Jelas Raemi.
Sang suami terlihat berpikir, mengingat kembali apa
yang dulu pernah Raemi ceritakan padanya.
“Ah! Yang berlibur dengan istrinya itu?” Tanya Jaekwon
memastikan, dan Raemi menganggukkan kepalanya. “Memangnya ada apa dengannya?
Apa kau bertemu dengannya?”
Raemi kembali mengangguk. “Tadi aku melihat pria itu
berbelanja dengan istrinya saat kita ke supermarket. Mereka terlihat mesra
sekali, dan sepertinya istrinya sedang hamil.” Ucap Raemi ragu.
__ADS_1
Jaekwon terkikik pelan. “Jadi kau ingin menceritakan
bahwa istri pria itu sedang hamil? Ah apa kau ingin bermesraan denganku juga?”
Goda sang suami yang sontak membuat Raemi melayangkan pukulannya pada pundak
Jaekwon.
“Aku serius Choi Jaekwon!”
“Hehehe baiklah-baiklah maaf, lanjutkan ceritanya.”
Bukannya menjawab dan melanjutkan ceritanya, kini
Raemi sudah beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju meja riasnya.
“Ya, aku minta maaf Raemi-ya. Ayo lanjutkan saja cerita...”
Jaekwon terdiam seketika saat Raemi kembali
menghampirinya dan menunjukkan sebuah foto yang berhasil mengejutkannya. Foto
sepasang suami istri yang sedang bermesraan. Terlihat sang suami tengah
melingkarkan lengannya pada perut buncit istrinya dan tengah mengecup bibir
sang istri.
“Katakan padaku jika pria itu bukan Namjoon sayang.”
Pinta Raemi. Suaranya bergetar gelisah.
Sontak Jaekwon mengepalkan tangan disamping tubuhnya.
Ia benar-benar terkejut saat ini.
Jujur ia mengakui jika pria yang ditunjukkan Raemi
benar-benar mirip dengan adik iparnya. Mulai dari wajah dan postur tubuhnya,
bagaikan pinang dibelah dua. Tidak ada bedanya. Namun entah mengapa emosinya
seketika tersulut saat melihat kemesraan pasangan tersebut.
“Aniya,
tidak mungkin pria itu Namjoon sayang. Sudah tidak perlu memikirkan apa-apa,
tidurlah kau pasti lelah kan?” Ucap Jaekwon setelah mengecup kening istrinya.
…
Jarum jam telah menunjuk angka 1, dan terlihat Jaein
berjalan menuruni tangga. Gadis itu hendak menuju dapur. Entah mengapa ia
tiba-tiba terbangun dan merasa tenggorokannya minta dibasahi.
Namun langkahnya seketika terhenti saat mendengar
suara dentingan gelas yang sedang diaduk. Tubuhnya menegang, dan langkahnya
film horror yang sangat ia benci.
Meskipun takut, namun ia tetap mengendap-endap menuju
dapur untuk memastikan siapa yang tengah berada disana. Mengingat Namjoon
sedang tidur di kamar, dan Sihyun mana mungkin malam-malam begini berada di
dapur.
Ia pun melongokkan kepalanya untuk memeriksa keadaan.
Namun baru saja mengintip, gadis itu dikejutkan dengan
sosok berbaju putih dihadapannya.
“Aaargh!!!”
“Kkamjagiya!
Ya-ya, Jaein-ah ini aku. Hey kau
kenapa?” Sihyun pun ikut terlonjak karena teriakan nyaring Jaein. Sedangkan
Jaein, ia sudah berjongkok dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Setelah mendengar suara Sihyun, gadis itupun
menengadah perlahan, memastikan jika yang mengajaknya bicara itu benar-benar
istri pertama Namjoon.
“Huwaa eonni…”
Langsung saja Jaein menghambur ke pelukan Sihyun. Sihyun yang tiba-tiba dipeluk
Jaein pun kelabakan karena harus tetap menyeimbangkan tubuhnya, dan juga
memastikan agar isi gelas yang sedang dipegangnya tidak tumpah.
“Hey sudah jangan menangis, ini aku Jaein-ah.”
“Ada apa ini? Jaein kenapa?” Tanya Namjoon yang
tahu-tahu sudah berada dihadapan mereka.
Sihyun menatap prianya lantas menggelengkan kepala.
“Tadi tiba-tiba saja dia berteriak ketakutan, lalu menghambur memelukku.”
Jelasnya.
“Aku takut eonni,”
Ucap Jaein dengan suara parau khas orang yang sedang menangis.
__ADS_1
“Ya, memangnya kau kira aku ini hantu eoh?” Omel
Sihyun sembari menuntun Jaein dan mengajaknya duduk. Namjoon pun mengekori
kedua wanitanya. “Ck! Memangnya ada hantu secantik diriku ini? Cha minumlah dulu agar kau lebih
tenang.”
Tanpa berniat menjawab pertanyaannya, ia pun menerima
uluran gelas Sihyun, lantas meminumnya dalam sekejap.
“Aigoo pelan-pelan sayang, kau bisa tersedak nanti.” Namjoon mengusap lembut punggung
Jaein sekaligus agar gadis itu lebih tenang.
Setelah menghabiskan susu yang diberikan Sihyun, ia
pun menatap wanita yang lima tahun lebih tua darinya itu.
“Habisnya aku takut eonni, aku terkejut melihatmu tadi. Lagipula apa yang kau lakukan
di dapur malam-malam begini?” Serbu Jaein. “Eoh, ngomong-ngomong bukankah ini
susuku?”
Sihyun pun tersenyum. “Memang iya. Aku pernah membaca
jika ibu hamil akan merasa kehausan di malam hari, makanya aku sengaja bangun
membuatkan susu untukmu. Aku benar kan? Apa kau tadi haus?”
Sontak mata Jaein pun nampak berbinar memandang
Sihyun. Tebakan wanita itu benar-benar tepat pada sasaran.
“Woaah daebak!
Apa kau ini cenayang eonni?” Puji
Jaein.
Sihyun hanya bisa tersenyum mendapat pujian dari
Jaein. Sedangkan Namjoon kini tengah menatapnya dengan penuh arti. Mungkin pria
itu sedikit tertohok karena nyatanya Sihyun memberikan perhatian penuh pada
Jaein dan canlon bayi yang tengah dikandung gadis itu.
“Sekarang kau sudah baik-baik saja kan?” Jaein pun
menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu sekarang waktunya tidur, oke?” Kini
giliran Namjoon yang membuka suara.
“Arraseo oppa,
selamat malam eonni.” Pamitnya pada
Sihyun.
Kini pandangan Sihyun tertuju pada Namjoon. Manik
mereka bertemu, seakan sudah sangat lama tidak saling menatap seperti saat ini.
“Are you an
angel?”
Seketika Sihyun mengernyit heran memandang suaminya. “Mwoya?”
“Kenapa kau melakukan itu? Kau membuatku semakin
terlihat buruk Sihyun-ah.” Dan tanpa
sadar pria itu kini tengah meneteskan airmatanya, membuat Sihyun kembali
kelabakan.
“Hey apa kau benar Kim Namjoon yang aku kenal? Kenapa
kau menangis hm?” Ucap Sihyun sembari mengusap air mata di pipi suaminya.
“Uljima eoh,
kalau seperti ini tidak terlihat seperti suamiku. Lagipula aku sudah menganggap
bayi itu seperti anakku sendiri Joon.” Jelasnya.
Dan jika
kau tahu, aku juga sedang memperjuangkan bayi kita tanpa kau ketahui Joon.
“Maafkan aku Sihyun-ah. Aku pria tidak berguna.”
“Aniya, kau
adalah suami terbaikku.” Ucapnya dengan senyum hangat menghiasi bibirnya.
Grep!
Dalam sekejap Namjoon membawa Sihyun ke pelukannya.
Mendekapnya erat seolah tidak akan lagi hari esok. Sedangkan Sihyun hanya diam
membenamkan wajahnya dengan nyaman di dada bidang suaminya.
Pada dasarnya wanita itu juga sedih, teramat sangat
sedih. Namun ia enggan menunjukkan kesedihannya pada Namjoon. Ia mencoba
menyimpannya sendiri tanpa orang lain ketahui.
…
__ADS_1
25 Februari 2020 - Itsmehyuna_