Our Marriage

Our Marriage
Chapter 17


__ADS_3

“Baiklah,


lain kali aku akan mentraktirmu menonton film yang kau suka, bagaimana?”


Bruk!


“Nona!”


Hoseok


menoleh saat mendengar suara tubuh yang menghantam tanah, dan diikuti seruan


orang-orang di sekitarnya.


“Choi


Sihyun!”


Ia terbelalak saat mendapati tubuh


Sihyun sudah terbaring lemah di tanah. Dengan sigap, ia pun segera membopong


Sihyun menuju mobilnya. Sebagai seorang dokter, sikap tanggap Hoseok patut kita


acungi jempol.


Tak perlu waktu lama mereka pun


akhirnya tiba di rumah sakit, mengingat jarak tempat mereka tadi cukup dekat


dengan rumah sakit.


Dengan bantuan perawat, Hoseok


segera membawa Sihyun menuju UGD.


“Ada apa Hoseok-ah?” tanya seorang dokter yang saat itu


sedang bertugas.


“Entahlah, tadi tiba-tiba saja


temanku pingsan. Tolong kau periksa dia hyung,”


pinta Hoseok pada dokter manis yang bernama Min Yoongi itu.


“Baiklah, kau tunggu sebentar,” ujar


dokter Min, lantas segera memasuki ruangan periksa.


Sedangkan Hoseok menunggu dengan


gelisah di luar ruangan. Bahkan tidak terpikirkan olehnya untuk menghubungi


keluarga Sihyun karena terlampau khawatir.


Lima belas menit berlalu, dokter


Min pun keluar dari ruang periksa. Hoseok yang menyadarinya langsung bergegas


mendekat ke arahnya.


“Jadi apa yang terjadi padanya hyung?” tanya Hoseok.


“Hoseok-ah, kau kan juga dokter, jadi kenapa tidak kau periksa sendiri


saja?”


Hoseok mengerutkan keningnya


heran. Bagaimana bisa seorang dokter bercanda di saat genting seperti ini?


“Ya, apa kau masih bisa bercanda hyung? Aku ini kan dokter kandungan,


bukan dokter umum sepertimu. Dokter kandungan, kau ingat?” jelas Hoseok penuh


penekanan terutama saat menyebut dokter


kandungan.


“Aku juga tahu bodoh. Maka dari


itu cobalah kau periksa sendiri. Karena aku tidak bisa sembarangan


mendiagnosisnya.”


Setelah mendengar ucapan Yoongi


membuat Hoseok membeku seketika.



Hoseok menatap intens lembar hasil pemeriksaan Sihyun.


Entah mengapa ia tersenyum setiap kali membaca satu kata yang tertera disana.


“Eungh…”

__ADS_1


Pria itu pun mengalihkan


pandangannya untuk menatap Sihyun yang sedang terbaring di atas ranjang.


Perlahan wanita itu membuka matanya.


“Sihyun-ah gwaenchana?”


“Aku dimana? Kenapa kau memakai


jas kerjamu?” tanya Sihyun mulai kebingungan dengan situasi yang sedang di hadapinya.


“Tadi tiba-tiba saja kau pingsan,


dan sekarang kau ada di ruanganku.”


Sihyun pun kemudian bangkit, dan


memilih duduk di tepi ranjang. “Pingsan?”


Hoseok mengangguk. “Sepertinya


kau tidak banyak makan akhir-akhir ini, jadi gula darahmu menurun. Apa tadi kau


merasa pusing?” tanya Hoseok.


Sihyun mengangguk ragu. Pasalnya


ia memang sudah merasa pusing saat di bioskop tadi. Namun ia tak terlalu


mempermasalahkannya, karena ia pikir rasa pusingnya akan cepat hilang. Dan


tentang kurang makanpun Hoseok juga benar. Sudah beberapa hari ini ia


kehilangan selera makannya.


“Yeogsi. Jika kau terus


seperti ini, akan membahayakan Sihyun-ah,”


omel Hoseok sembari mengulurkan lembaran yang berada di tangannya.


“Apa ini?”


“Baca saja, kau akan tahu nanti.”



“Mulai


kau sekarang sudah tak sendiri lagi, ada kehidupan lain yang harus kau


perhatikan juga. Dan lagi jangan lupa meminum susu hamil sebagai penambah


nutrisi untuk bayimu, kau mengerti?”


Kini omelan Hoseok terus saja


terngiang di kepalanya.


Sihyun membeku ditempatnya


setelah selesai membaca berulang-ulang lembaran yang tadi diberikan Hoseok


padanya. Ya, tidak cukup satu kali, karena ia masih tidak percaya dengan apa


yang tertulis di sana. Padahal Hoseok juga sudah mengatakan dengan jelas jika


ia memang benar sedang mengandung.


Hal itulah yang berhasil membuat


hatinya tak karuan. Bukankah seharusnya ia senang? Namun tidak, Sihyun malah


dibuat kalut dengan kondisinya saat ini.


Setitik air mata pun menetes


membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia menatap sendu pantulan dirinya di cermin


seolah menuntut jawaban dari bayangannya sendiri.


Kini perlahan ia menuntun


tangannya untuk menyentuh perutnya yang datar. “Apa benar aku sedang


mengandung? Benarkah kau ada di dalam sana?” gumamnya seolah bertanya pada sang


buah hati yang nyatanya belum terbentuk dengan sempurna.


Ya, kau yang ia maksud di sini adalah bayinya. Buah hatinya dengan


Namjoon yang sudah tiga tahun ini ia dan Namjoon nantikan. Malaikat kecil yang


akan meramaikan suasana rumah mereka berdua. Setidaknya itulah yang Sihyun


inginkan sebelum ia tahu jika Namjoon ternyata telah memiliki buah hatinya

__ADS_1


sendiri dengan wanita lain.


Pandangannya kian mengabur karena


air mata yang telah berkumpul di pelupuk matanya. Satu kedipan saja


pertahanannya pasti akan hancur.


Jika kalian tanya apakah Sihyun


bahagia?


Tentu saja wanita itu sangat


bahagia. Setelah tiga tahun menunggu akhirnya Tuhan menjawab segala doanya.


Wanita mana yang tidak bahagia jika diberi kesempatan untuk menjadi ibu.


Ingin sekali rasanya saat ini


juga ia menghambur kedalam pelukan Namjoon, dan mengatakan padanya bahwa apa


yang mereka impikan selama ini telah terkabul. Ingin rasanya ia mengungkapkan


kebahagiaannya pada sang suami. Namun entah mengapa hatinya merasa berat.


Cklek!


Dengan sigap Sihyun mengusap air


mata yang membasahi pipinya saat pintu kamarnya terbuka. Dan ia sangat yakin


pasti Namjoon yang membukanya.


“Sayang kau sudah pulang?” tanya


Namjoon lantas berjalan menghampiri istrinya.


“Eoh iya Joon, aku baru saja sampai,” jawabnya sembari meremas


kertas hasil pemeriksaannya. Tanpa sepengetahuan Namjoon tentu saja.


Kini ia merasakan Namjoon tengah


merengkuhnya dari belakang. Menyandarkan dagu pada pundak Sihyun, dan menatap


mata sang istri pada cermin di hadapannya.


Sihyun pun balas menatap obsidian sang suami seolah sedang


melakukan telepati dengan pria itu.


Joon-ah aku sedang hamil. Tuhan akhirnya menitipkan malaikat yang selama ini


kita tunggu-tunggu. Buah cinta kita Joon.


Dan tentu saja kalimat itu hanya


ada dalam benak Sihyun saja.


“Maafkan aku sayang. Aku tahu,


mungkin kata maafku tidak akan bisa menebus segala rasa sakit yang kau rasakan.


Tapi aku benar-benar minta maaf karena perbuatanku,” ucaapnya terdengar penuh


sesal.


Sihyun tersenyum, dan mengarahkan


tangannya untuk memegang pipi Namjoon. “Semuanya sudah terjadi Joon. Jika Tuhan


sudah berkehendak, manusia seperti kita tak akan bisa menentangnya kan?”


“Tapi tetap saja aku yang salah‒”


“Sstt! Aku tahu, tapi kumohon berhentilah


merasa bersalah. Kita lewati saja semuanya, oke?”


Namjoon pun mengangguk lantas


mencium sayang kening sang istri. Sedangkan Sihyun kini tengah menutup mata


menikmati ciuman sang suami.


Ya, wanita itu sudah menetapkan


keputusannya. Dalam hati ia berdoa, semoga apa yang dipilihnya tidak salah. Maafkan aku karena harus menyimpan


kebahagian ini sendirian Joon...



 


10 Februari 2020 - Itsmehyuna_

__ADS_1


__ADS_2