
“Baiklah,
lain kali aku akan mentraktirmu menonton film yang kau suka, bagaimana?”
Bruk!
“Nona!”
Hoseok
menoleh saat mendengar suara tubuh yang menghantam tanah, dan diikuti seruan
orang-orang di sekitarnya.
“Choi
Sihyun!”
Ia terbelalak saat mendapati tubuh
Sihyun sudah terbaring lemah di tanah. Dengan sigap, ia pun segera membopong
Sihyun menuju mobilnya. Sebagai seorang dokter, sikap tanggap Hoseok patut kita
acungi jempol.
Tak perlu waktu lama mereka pun
akhirnya tiba di rumah sakit, mengingat jarak tempat mereka tadi cukup dekat
dengan rumah sakit.
Dengan bantuan perawat, Hoseok
segera membawa Sihyun menuju UGD.
“Ada apa Hoseok-ah?” tanya seorang dokter yang saat itu
sedang bertugas.
“Entahlah, tadi tiba-tiba saja
temanku pingsan. Tolong kau periksa dia hyung,”
pinta Hoseok pada dokter manis yang bernama Min Yoongi itu.
“Baiklah, kau tunggu sebentar,” ujar
dokter Min, lantas segera memasuki ruangan periksa.
Sedangkan Hoseok menunggu dengan
gelisah di luar ruangan. Bahkan tidak terpikirkan olehnya untuk menghubungi
keluarga Sihyun karena terlampau khawatir.
Lima belas menit berlalu, dokter
Min pun keluar dari ruang periksa. Hoseok yang menyadarinya langsung bergegas
mendekat ke arahnya.
“Jadi apa yang terjadi padanya hyung?” tanya Hoseok.
“Hoseok-ah, kau kan juga dokter, jadi kenapa tidak kau periksa sendiri
saja?”
Hoseok mengerutkan keningnya
heran. Bagaimana bisa seorang dokter bercanda di saat genting seperti ini?
“Ya, apa kau masih bisa bercanda hyung? Aku ini kan dokter kandungan,
bukan dokter umum sepertimu. Dokter kandungan, kau ingat?” jelas Hoseok penuh
penekanan terutama saat menyebut dokter
kandungan.
“Aku juga tahu bodoh. Maka dari
itu cobalah kau periksa sendiri. Karena aku tidak bisa sembarangan
mendiagnosisnya.”
Setelah mendengar ucapan Yoongi
membuat Hoseok membeku seketika.
…
Hoseok menatap intens lembar hasil pemeriksaan Sihyun.
Entah mengapa ia tersenyum setiap kali membaca satu kata yang tertera disana.
“Eungh…”
__ADS_1
Pria itu pun mengalihkan
pandangannya untuk menatap Sihyun yang sedang terbaring di atas ranjang.
Perlahan wanita itu membuka matanya.
“Sihyun-ah gwaenchana?”
“Aku dimana? Kenapa kau memakai
jas kerjamu?” tanya Sihyun mulai kebingungan dengan situasi yang sedang di hadapinya.
“Tadi tiba-tiba saja kau pingsan,
dan sekarang kau ada di ruanganku.”
Sihyun pun kemudian bangkit, dan
memilih duduk di tepi ranjang. “Pingsan?”
Hoseok mengangguk. “Sepertinya
kau tidak banyak makan akhir-akhir ini, jadi gula darahmu menurun. Apa tadi kau
merasa pusing?” tanya Hoseok.
Sihyun mengangguk ragu. Pasalnya
ia memang sudah merasa pusing saat di bioskop tadi. Namun ia tak terlalu
mempermasalahkannya, karena ia pikir rasa pusingnya akan cepat hilang. Dan
tentang kurang makanpun Hoseok juga benar. Sudah beberapa hari ini ia
kehilangan selera makannya.
“Yeogsi. Jika kau terus
seperti ini, akan membahayakan Sihyun-ah,”
omel Hoseok sembari mengulurkan lembaran yang berada di tangannya.
“Apa ini?”
“Baca saja, kau akan tahu nanti.”
…
“Mulai
kau sekarang sudah tak sendiri lagi, ada kehidupan lain yang harus kau
perhatikan juga. Dan lagi jangan lupa meminum susu hamil sebagai penambah
nutrisi untuk bayimu, kau mengerti?”
Kini omelan Hoseok terus saja
terngiang di kepalanya.
Sihyun membeku ditempatnya
setelah selesai membaca berulang-ulang lembaran yang tadi diberikan Hoseok
padanya. Ya, tidak cukup satu kali, karena ia masih tidak percaya dengan apa
yang tertulis di sana. Padahal Hoseok juga sudah mengatakan dengan jelas jika
ia memang benar sedang mengandung.
Hal itulah yang berhasil membuat
hatinya tak karuan. Bukankah seharusnya ia senang? Namun tidak, Sihyun malah
dibuat kalut dengan kondisinya saat ini.
Setitik air mata pun menetes
membasahi pipinya tanpa ia sadari. Ia menatap sendu pantulan dirinya di cermin
seolah menuntut jawaban dari bayangannya sendiri.
Kini perlahan ia menuntun
tangannya untuk menyentuh perutnya yang datar. “Apa benar aku sedang
mengandung? Benarkah kau ada di dalam sana?” gumamnya seolah bertanya pada sang
buah hati yang nyatanya belum terbentuk dengan sempurna.
Ya, kau yang ia maksud di sini adalah bayinya. Buah hatinya dengan
Namjoon yang sudah tiga tahun ini ia dan Namjoon nantikan. Malaikat kecil yang
akan meramaikan suasana rumah mereka berdua. Setidaknya itulah yang Sihyun
inginkan sebelum ia tahu jika Namjoon ternyata telah memiliki buah hatinya
__ADS_1
sendiri dengan wanita lain.
Pandangannya kian mengabur karena
air mata yang telah berkumpul di pelupuk matanya. Satu kedipan saja
pertahanannya pasti akan hancur.
Jika kalian tanya apakah Sihyun
bahagia?
Tentu saja wanita itu sangat
bahagia. Setelah tiga tahun menunggu akhirnya Tuhan menjawab segala doanya.
Wanita mana yang tidak bahagia jika diberi kesempatan untuk menjadi ibu.
Ingin sekali rasanya saat ini
juga ia menghambur kedalam pelukan Namjoon, dan mengatakan padanya bahwa apa
yang mereka impikan selama ini telah terkabul. Ingin rasanya ia mengungkapkan
kebahagiaannya pada sang suami. Namun entah mengapa hatinya merasa berat.
Cklek!
Dengan sigap Sihyun mengusap air
mata yang membasahi pipinya saat pintu kamarnya terbuka. Dan ia sangat yakin
pasti Namjoon yang membukanya.
“Sayang kau sudah pulang?” tanya
Namjoon lantas berjalan menghampiri istrinya.
“Eoh iya Joon, aku baru saja sampai,” jawabnya sembari meremas
kertas hasil pemeriksaannya. Tanpa sepengetahuan Namjoon tentu saja.
Kini ia merasakan Namjoon tengah
merengkuhnya dari belakang. Menyandarkan dagu pada pundak Sihyun, dan menatap
mata sang istri pada cermin di hadapannya.
Sihyun pun balas menatap obsidian sang suami seolah sedang
melakukan telepati dengan pria itu.
Joon-ah aku sedang hamil. Tuhan akhirnya menitipkan malaikat yang selama ini
kita tunggu-tunggu. Buah cinta kita Joon.
Dan tentu saja kalimat itu hanya
ada dalam benak Sihyun saja.
“Maafkan aku sayang. Aku tahu,
mungkin kata maafku tidak akan bisa menebus segala rasa sakit yang kau rasakan.
Tapi aku benar-benar minta maaf karena perbuatanku,” ucaapnya terdengar penuh
sesal.
Sihyun tersenyum, dan mengarahkan
tangannya untuk memegang pipi Namjoon. “Semuanya sudah terjadi Joon. Jika Tuhan
sudah berkehendak, manusia seperti kita tak akan bisa menentangnya kan?”
“Tapi tetap saja aku yang salah‒”
“Sstt! Aku tahu, tapi kumohon berhentilah
merasa bersalah. Kita lewati saja semuanya, oke?”
Namjoon pun mengangguk lantas
mencium sayang kening sang istri. Sedangkan Sihyun kini tengah menutup mata
menikmati ciuman sang suami.
Ya, wanita itu sudah menetapkan
keputusannya. Dalam hati ia berdoa, semoga apa yang dipilihnya tidak salah. Maafkan aku karena harus menyimpan
kebahagian ini sendirian Joon...
…
10 Februari 2020 - Itsmehyuna_
__ADS_1