
Sihyun
menghela napas sejenak sebelum memberanikan diri menekan bel rumah keluarga
besar Kim. Sudah lima belas menit ia mondar-mandir tidak jelas di depan pintu,
padahal wanita itu tidak pernah sekikuk ini saat hendak memasuki kediaman Kim
Jungwoo. Ya, Sihyun meminta Hoseok mengantarkannya kemari setelah pria itu
menuruti keinginan anehnya, tentu saja ia beralasan harus mengerjakan laporan
pada Namjoon.
Cklek!
Wanita
itu terkesiap saat pintu tiba-tiba saja terbuka. Ia semakin kikuk saat
mengetahui ibu mertuanyalah yang baru saja keluar.
“Eomonim…” Dengan ragu ia pun menyapa Yo
Won.
Wanita
itu pun menoleh menatap sendu menantu kesayangannya. Lantas dengan sigap segera
merengkuh Sihyun dalam pelukannya. Begitu hangat dan menenangkan, membuat
Sihyun tidak bisa membendung air matanya. “Eomma maafkan aku, karenaku semuanya jadi seperti ini,” ucapnya terisak.
Yo Won
menggelengkan kepalanya, dan mengusap lembut puncak kepala Sihyun. “Tidak
Sihyun-ah, seharusnya akulah yang
minta maaf karena perbuatan putraku padamu.”
“Tapi
tetap saja karenaku appa berhenti
berinvestasi, aku benar-benar malu padamu dan appa mertua,”
“Sebenarnya
Choi hoejangnim memutuskan untuk
kembali berinvestasi pada perusahaan Sihyun-ah,
jadi jangan terlalu merasa bersalah.” Sontak saja kedua wanita itu menoleh
seketika saat mendengar suara berat milik Jungwoo.
Wajah
Sihyun terlihat kebingungan. Ditambah lagi melihat senyum yang terukir di bibir
kedua mertuanya. Melihat raut wajah menantunya, Jungwoo mengerti jika Sihyun
sedang bertanya-tanya tentang maksud dari ucapannya.
“Ayahmu
mencabut keputusannya, dan memutuskan untuk kembali berinvestasi.”
…
Jaein
meletakkan kopi milik Namjoon di atas meja. Sedangkan pria itu kini tengah
sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang ia lakukan saat ini. Namun sejak
keluar kamar tadi, Namjoon sudah tenggelam dengan ponselnya.
“Oppa,” Sela Jaein sembari memegang
lengan pria itu. Namjoonpun seketika menoleh. “Kopinya tidak enak jika dingin
nanti.”
Seakan
tersadar jika telah mengabaikan Jaein, ia pun segera mematikan benda persegi di
tangannya, lantas memasukkannya kedalam saku jas miliknya. “Ah mian, aku sedang mengurus sesuatu tadi,”
jawab Namjoon lantas menyeruput kopi miliknya.
“Apa
sangat penting sampai tidak mendengarkanku?”
Pria
itu hanya mengangguk, meletakkan kembali cangkir di tangannya. “Aku sedang
mencari investor untuk perusahaan, karena Choi abeonim menghentikan investasi pada Kim Financial,” jelas Namjoon.
Sedangkan
Jaein hanya menatap Namjoon dengan raut wajah yang sulit diartikan. “Jadi itu
alasan oppa berhenti mengajar?”
Namjoonpun kembali menganggukkan kepalanya.
“Bagaimanapun
aku harus bertanggung jawab.”
Jaein
hanya bisa mengangguk tanda mengerti. “Eum,
ngomong-ngomong eonni tidak pulang,
apa oppa tahu?”
“Dia
bilang mengurus sesuatu di café, jadi dia tidak bisa pulang.”
“Wah eonni benar-benar wanita yang sangat
__ADS_1
sibuk yah.”
…
‘Entahlah apa yang membuatnya berubah pikiran, tapi
tadi pagi-pagi sekali ia menghubungi dan mengatakan jika akan kembali
berinvestasi. Tentu saja aku merasa sangat senang hari ini.’
Sihyun
tengah sibuk memikirkan penjelasan Jungwoo, mencoba mencerna apa yang
sebenarnya terjadi pada ayahnya. Pandangannya menerawang, dan tangannya
bergerak mengaduk secangkir teh di hadapannya.
Ya,
wanita itu masih betah berada di rumah besar Kim. Walaupun alasan sebenarnya ia
enggan pulang ke rumahnya sendiri. Menurutnya lebih baik berada di sini, tidak
ada tekanan yang bisa mengusik pikirannya.
“Eomma kami datang!”
Sontak
Sihyun melepaskan sendok yang sedari tadi dipegangnya saat mendengar suara yang
sangat dikenalnya. Ia pun segera beranjak dari tempatnya, berjalan menuju ruang
tamu untuk memastikan benar atau tidak dugaannya tersebut.
“Eoh Sihyun eonni, kau ada di sini?”
Mendengar
Jaein menyebut nama Sihyun, Namjoon menoleh seketika mencari presensi wanita
itu. Ia menghentikan pencariannya saat netra mereka bertatapan. Pria itu
mengerutkan kening heran melihat raut wajah Sihyun yang tidak pernah ia
tunjukkan sebelumnya. Entahlah, kali ini Namjoon benar-benar tidak bisa
membacanya.
“Ah
itu, aku…”
“Tadi
pagi eomma yang menyuruhnya kemari,
dan sepertinya dia lupa memberitahumu Namjoon-ah,” sahut Yo Won begitu tahu menantunya itu tengah kebingungan.
Namjoon
memandang Sihyun sekilas, kemudian menganggukkan kepalanya mengerti.
“Apa
di antara mereka menjadi semakin canggung. Dan Sihyun benci hal itu.
“Tidak eonni, oppa bilang akan pergi ke Busan hari ini. Dan berhubung tadi kau
tidak ada di rumah, oppa menyuruhku
tinggal di sini. Ia khawatir jika aku sendirian di rumah,” jawab Jaein sembari
bergelayut mengamit lengan Sihyun.
“Ah
begitu ya,”
Ada
sesuatu yang bergetar di dalam hatinya saat mendengar jawaban Jaein. Apakah
Sihyun sudah benar-benar tidak penting bagi Namjoon sampai pria itu tidak
mengkhawatirkannya sedikit saja? Padahal dulu sekali saat Sihyun pulang
terlambat, pria itu akan selalu menjemputnya ke café. Bahkan jika wanita itu
terpaksa harus lembur mengerjakan laporan, Namjoon tidak akan segan menemaninya
begadang.
Namun
sekarang? Tentu saja ia lebih memilih Jaein yang jelas tengah mengandung buah
hati mereka. Tapi tidakkah pria itu tahu jika Sihyun kini juga tengah
mengandung buah hati mereka yang selama ini telah ditunggu-tunggu. Memang benar
salah Sihyun karena memutuskan untuk menyembunyikan kehamilannya, tapi tetap
saja wanita itu cemburu juka Namjoon lebih memperhatikan Jaein.
Seakan
mengerti apa yang tengah Sihyun pikirkan, kini Namjoon menatap wanita itu dalam
diam. Ia menyadari bahwa akhir-akhir ini hubungannya dengan Sihyun benar-benar
renggang. Bahkan tidak pernah lagi melakukan pillow talk seperti yang dulu biasa mereka lakukan.
Merebahkan
tubuh yang penat sembari bertukar cerita tentang apa yang mereka lakukan dalam
satu hari. Konon cara tersebut memang sangat efektif untuk mempererat hubungan
pernikahan. Ingin Sekali Namjoon tertawa jika mengingat hal itu. Sesering
apapun mereka melakukannya, Namjoon tetap saja menyebabkan kehancuran bagi
rumah tangganya.
“Oppa kenapa diam saja? Tidak jadi
berangkat?” Suara Jaein menyadarkan Namjoon dari lamunannya.
__ADS_1
“Ah
itu,” Ada jeda sebelum ia kembali melanjutkan kalimatnya. “Aku ingin bicara
berdua dengan Sihyun,” ucap Namjoon sembari menuntun tangan Sihyun menuju
halaman rumah.
Sedangkan
Sihyun hanya bisa mengikutinya dengan pasrah.
Namjoon
berbalik menatap dalam manik istrinya. Kedua tangannya menggenggam erat tangan
Sihyun. Cukup lama berlalu tanpa ada percakapan di antara mereka. Hingga
akhirnya Sihyun memutuskan untuk bersuara.
“Berapa
hari kau akan berada di Busan?”
“Kira-kira
sampai seminggu kedepan, dan ada baiknya jika kalian sementara ini tinggal
bersama eomma.”
Sihyunpun
mengangguk patuh. “Berhati-hatilah saat di sana, jaga kesehatanmu, dan jangan
sampai terlambat makan karena pekerjaanmu,” ucapnya sembari merapikan ikatan
dasi sang suami. Bukankah wanita ini benar-benar istri idaman?
Tak
berniat menjawab, detik berikutnya pria itu sudah merengkuh Sihyun kedalam
pelukannya. Begitu hangat dan erat, seperti tak ingin kehilangan wanita itu.
“Bogoshipeo…” hanya satu kata yang keluar
dari bibir Namjoon.
Sihyun
tersenyum simpul mendengar ucapan pria itu. Walaupun hanya satu kata, namun
berhasil membuat hatinya menghangat. Meyakinkan dirinya sendiri jika Namjoon
tidak benar-benar melupakannya.
“Aku
juga,” jawabnya singkat sembari mebalas pelukan suaminya.
“Kuharap
kau tidak akan pernah memaafkanku Sihyun-ah.
Pria sepertiku tidak pantas mendapatkan maaf darimu setelah apa yang pernah
kulakukan padamu. Aku akan lebih bahagia jika kau tidak memberikan maafmu.”
Sihyun
hanya diam. Mendengar satu persatu kata yang Namjoon ucapkan. Memang benar,
jika jadi Namjoonpun ia juga akan mengatakan agar tidak pernah dimaafkan. Namun
sekali lagi, rasa cinta Sihyun pada Namjoon lebih besar mengalahkan sakit
hatinya. Biar saja semua orang mengatakan dirinya bodoh karena dibutakan rasa
cinta pada Namjoon sehingga dengan mudahnya memaafkan pria yang telah
menyelingkuhinya. Bagi Sihyun tidak mudah melepaskan pria yang benar-benar
telah menyentuh hati kakunya.
“Jika
aku tidak memaafkanmu apa kau akan bahagia?”
Sihyun
dapat merasakan saat Namjoon menganggukkan kepala.
“Kalau
begitu aku akan memaafkanmu tuan Kim, karena aku tidak ingin kau bahagia,” jawabnya
dengan sedikit candaan. Membuat Namjoon tertawa kilas dan kembali menatap wajah
sang istri.
“Geurae, jika itu maumu aku tidak akan
bisa menolaknya.”
“Memang
kau tidak diizinkan untuk menolak tuan. Hanya saja berjanjilah padaku kau akan
kembali dengan selamat. Kami akan menunggumu di sini.” Tangannya tergerak
dengan lembut mengusap pipi Namjoon.
“Aku
pasti akan kembali dengan selamat,” ucapnya sembari mencium kening Sihyun.
Dan
seandainya Namjoon tahu jika ‘kami’
yang Sihyun maksud bukanlah ia dan Jaein, melainkan Sihyun dan buah hati mereka
mungkin wanita itu akan lebih bahagia.
…
20 Maret 2020 - Itsmehyuna_
__ADS_1