Our Marriage

Our Marriage
Chapter 24


__ADS_3

Sihyun


menghela napas sejenak sebelum memberanikan diri menekan bel rumah keluarga


besar Kim. Sudah lima belas menit ia mondar-mandir tidak jelas di depan pintu,


padahal wanita itu tidak pernah sekikuk ini saat hendak memasuki kediaman Kim


Jungwoo. Ya, Sihyun meminta Hoseok mengantarkannya kemari setelah pria itu


menuruti keinginan anehnya, tentu saja ia beralasan harus mengerjakan laporan


pada Namjoon.


Cklek!


Wanita


itu terkesiap saat pintu tiba-tiba saja terbuka. Ia semakin kikuk saat


mengetahui ibu mertuanyalah yang baru saja keluar.


“Eomonim…” Dengan ragu ia pun menyapa Yo


Won.


Wanita


itu pun menoleh menatap sendu menantu kesayangannya. Lantas dengan sigap segera


merengkuh Sihyun dalam pelukannya. Begitu hangat dan menenangkan, membuat


Sihyun tidak bisa membendung air matanya. “Eomma maafkan aku, karenaku semuanya jadi seperti ini,” ucapnya terisak.


Yo Won


menggelengkan kepalanya, dan mengusap lembut puncak kepala Sihyun. “Tidak


Sihyun-ah, seharusnya akulah yang


minta maaf karena perbuatan putraku padamu.”


“Tapi


tetap saja karenaku appa berhenti


berinvestasi, aku benar-benar malu padamu dan appa mertua,”


“Sebenarnya


Choi hoejangnim memutuskan untuk


kembali berinvestasi pada perusahaan Sihyun-ah,


jadi jangan terlalu merasa bersalah.” Sontak saja kedua wanita itu menoleh


seketika saat mendengar suara berat milik Jungwoo.


Wajah


Sihyun terlihat kebingungan. Ditambah lagi melihat senyum yang terukir di bibir


kedua mertuanya. Melihat raut wajah menantunya, Jungwoo mengerti jika Sihyun


sedang bertanya-tanya tentang maksud dari ucapannya.


“Ayahmu


mencabut keputusannya, dan memutuskan untuk kembali berinvestasi.”



Jaein


meletakkan kopi milik Namjoon di atas meja. Sedangkan pria itu kini tengah


sibuk dengan ponselnya, entah apa yang sedang ia lakukan saat ini. Namun sejak


keluar kamar tadi, Namjoon sudah tenggelam dengan ponselnya.


“Oppa,” Sela Jaein sembari memegang


lengan pria itu. Namjoonpun seketika menoleh. “Kopinya tidak enak jika dingin


nanti.”


Seakan


tersadar jika telah mengabaikan Jaein, ia pun segera mematikan benda persegi di


tangannya, lantas memasukkannya kedalam saku jas miliknya. “Ah mian, aku sedang mengurus sesuatu tadi,”


jawab Namjoon lantas menyeruput kopi miliknya.


“Apa


sangat penting sampai tidak mendengarkanku?”


Pria


itu hanya mengangguk, meletakkan kembali cangkir di tangannya. “Aku sedang


mencari investor untuk perusahaan, karena Choi abeonim menghentikan investasi pada Kim Financial,” jelas Namjoon.


Sedangkan


Jaein hanya menatap Namjoon dengan raut wajah yang sulit diartikan. “Jadi itu


alasan oppa berhenti mengajar?”


Namjoonpun kembali menganggukkan kepalanya.


“Bagaimanapun


aku harus bertanggung jawab.”


Jaein


hanya bisa mengangguk tanda mengerti. “Eum,


ngomong-ngomong eonni tidak pulang,


apa oppa tahu?”


“Dia


bilang mengurus sesuatu di café, jadi dia tidak bisa pulang.”


“Wah eonni benar-benar wanita yang sangat

__ADS_1


sibuk yah.”



‘Entahlah apa yang membuatnya berubah pikiran, tapi


tadi pagi-pagi sekali ia menghubungi dan mengatakan jika akan kembali


berinvestasi. Tentu saja aku merasa sangat senang hari ini.’


Sihyun


tengah sibuk memikirkan penjelasan Jungwoo, mencoba mencerna apa yang


sebenarnya terjadi pada ayahnya. Pandangannya menerawang, dan tangannya


bergerak mengaduk secangkir teh di hadapannya.


Ya,


wanita itu masih betah berada di rumah besar Kim. Walaupun alasan sebenarnya ia


enggan pulang ke rumahnya sendiri. Menurutnya lebih baik berada di sini, tidak


ada tekanan yang bisa mengusik pikirannya.


“Eomma kami datang!”


Sontak


Sihyun melepaskan sendok yang sedari tadi dipegangnya saat mendengar suara yang


sangat dikenalnya. Ia pun segera beranjak dari tempatnya, berjalan menuju ruang


tamu untuk memastikan benar atau tidak dugaannya tersebut.


“Eoh Sihyun eonni, kau ada di sini?”


Mendengar


Jaein menyebut nama Sihyun, Namjoon menoleh seketika mencari presensi wanita


itu. Ia menghentikan pencariannya saat netra mereka bertatapan. Pria itu


mengerutkan kening heran melihat raut wajah Sihyun yang tidak pernah ia


tunjukkan sebelumnya. Entahlah, kali ini Namjoon benar-benar tidak bisa


membacanya.


“Ah


itu, aku…”


“Tadi


pagi eomma yang menyuruhnya kemari,


dan sepertinya dia lupa memberitahumu Namjoon-ah,” sahut Yo Won begitu tahu menantunya itu tengah kebingungan.


Namjoon


memandang Sihyun sekilas, kemudian menganggukkan kepalanya mengerti.


“Apa


di antara mereka menjadi semakin canggung. Dan Sihyun benci hal itu.


“Tidak eonni, oppa bilang akan pergi ke Busan hari ini. Dan berhubung tadi kau


tidak ada di rumah, oppa menyuruhku


tinggal di sini. Ia khawatir jika aku sendirian di rumah,” jawab Jaein sembari


bergelayut mengamit lengan Sihyun.


“Ah


begitu ya,”


Ada


sesuatu yang bergetar di dalam hatinya saat mendengar jawaban Jaein. Apakah


Sihyun sudah benar-benar tidak penting bagi Namjoon sampai pria itu tidak


mengkhawatirkannya sedikit saja? Padahal dulu sekali saat Sihyun pulang


terlambat, pria itu akan selalu menjemputnya ke café. Bahkan jika wanita itu


terpaksa harus lembur mengerjakan laporan, Namjoon tidak akan segan menemaninya


begadang.


Namun


sekarang? Tentu saja ia lebih memilih Jaein yang jelas tengah mengandung buah


hati mereka. Tapi tidakkah pria itu tahu jika Sihyun kini juga tengah


mengandung buah hati mereka yang selama ini telah ditunggu-tunggu. Memang benar


salah Sihyun karena memutuskan untuk menyembunyikan kehamilannya, tapi tetap


saja wanita itu cemburu juka Namjoon lebih memperhatikan Jaein.


Seakan


mengerti apa yang tengah Sihyun pikirkan, kini Namjoon menatap wanita itu dalam


diam. Ia menyadari bahwa akhir-akhir ini hubungannya dengan Sihyun benar-benar


renggang. Bahkan tidak pernah lagi melakukan pillow talk seperti yang dulu biasa mereka lakukan.


Merebahkan


tubuh yang penat sembari bertukar cerita tentang apa yang mereka lakukan dalam


satu hari. Konon cara tersebut memang sangat efektif untuk mempererat hubungan


pernikahan. Ingin Sekali Namjoon tertawa jika mengingat hal itu. Sesering


apapun mereka melakukannya, Namjoon tetap saja menyebabkan kehancuran bagi


rumah tangganya.


“Oppa kenapa diam saja? Tidak jadi


berangkat?” Suara Jaein menyadarkan Namjoon dari lamunannya.

__ADS_1


“Ah


itu,” Ada jeda sebelum ia kembali melanjutkan kalimatnya. “Aku ingin bicara


berdua dengan Sihyun,” ucap Namjoon sembari menuntun tangan Sihyun menuju


halaman rumah.


Sedangkan


Sihyun hanya bisa mengikutinya dengan pasrah.


Namjoon


berbalik menatap dalam manik istrinya. Kedua tangannya menggenggam erat tangan


Sihyun. Cukup lama berlalu tanpa ada percakapan di antara mereka. Hingga


akhirnya Sihyun memutuskan untuk bersuara.


“Berapa


hari kau akan berada di Busan?”


“Kira-kira


sampai seminggu kedepan, dan ada baiknya jika kalian sementara ini tinggal


bersama eomma.”


Sihyunpun


mengangguk patuh. “Berhati-hatilah saat di sana, jaga kesehatanmu, dan jangan


sampai terlambat makan karena pekerjaanmu,” ucapnya sembari merapikan ikatan


dasi sang suami. Bukankah wanita ini benar-benar istri idaman?


Tak


berniat menjawab, detik berikutnya pria itu sudah merengkuh Sihyun kedalam


pelukannya. Begitu hangat dan erat, seperti tak ingin kehilangan wanita itu.


“Bogoshipeo…” hanya satu kata yang keluar


dari bibir Namjoon.


Sihyun


tersenyum simpul mendengar ucapan pria itu. Walaupun hanya satu kata, namun


berhasil membuat hatinya menghangat. Meyakinkan dirinya sendiri jika Namjoon


tidak benar-benar melupakannya.


“Aku


juga,” jawabnya singkat sembari mebalas pelukan suaminya.


“Kuharap


kau tidak akan pernah memaafkanku Sihyun-ah.


Pria sepertiku tidak pantas mendapatkan maaf darimu setelah apa yang pernah


kulakukan padamu. Aku akan lebih bahagia jika kau tidak memberikan maafmu.”


Sihyun


hanya diam. Mendengar satu persatu kata yang Namjoon ucapkan. Memang benar,


jika jadi Namjoonpun ia juga akan mengatakan agar tidak pernah dimaafkan. Namun


sekali lagi, rasa cinta Sihyun pada Namjoon lebih besar mengalahkan sakit


hatinya. Biar saja semua orang mengatakan dirinya bodoh karena dibutakan rasa


cinta pada Namjoon sehingga dengan mudahnya memaafkan pria yang telah


menyelingkuhinya. Bagi Sihyun tidak mudah melepaskan pria yang benar-benar


telah menyentuh hati kakunya.


“Jika


aku tidak memaafkanmu apa kau akan bahagia?”


Sihyun


dapat merasakan saat Namjoon menganggukkan kepala.


“Kalau


begitu aku akan memaafkanmu tuan Kim, karena aku tidak ingin kau bahagia,” jawabnya


dengan sedikit candaan. Membuat Namjoon tertawa kilas dan kembali menatap wajah


sang istri.


“Geurae, jika itu maumu aku tidak akan


bisa menolaknya.”


“Memang


kau tidak diizinkan untuk menolak tuan. Hanya saja berjanjilah padaku kau akan


kembali dengan selamat. Kami akan menunggumu di sini.” Tangannya tergerak


dengan lembut mengusap pipi Namjoon.


“Aku


pasti akan kembali dengan selamat,” ucapnya sembari mencium kening Sihyun.


Dan


seandainya Namjoon tahu jika ‘kami’


yang Sihyun maksud bukanlah ia dan Jaein, melainkan Sihyun dan buah hati mereka


mungkin wanita itu akan lebih bahagia.



 


20 Maret 2020 - Itsmehyuna_

__ADS_1


__ADS_2