
Jaein termenung di
kamarnya, masih sibuk mencerna permintaan istri sah seorang Kim Namjoon.
Dirinya benar-benar tidak percaya dengan reaksi yang diberikan wanita itu.
Awalnya ia pikir
wanita itu mengajaknya bertemu untuk memakinya habis-habisan karena sudah
menggoda suaminya. Namun perkiraannya meleset, wanita itu malah berbicara
selembut mungkin sehingga tidak menyinggung perasaan Jaein, dan membujuknya
untuk menikah dengan suaminya.
Ia sempat berpikir
jika semua itu adalah trik Sihyun, tapi seberapa lama ia menyelami mata hazel wanita itu, sama sekali tidak
menemukan kebohongan di sana.
“Menikahlah
dengan Namjoon, Jaein-ah…”
Seketika
Jaein terbelalak mendengar ucapan Kim Sihyun. Ia kembali memusatkan perhatian
pada wanita yang ada di hadapannya itu.
“Mwo?” seru Jaein tidak percaya.
Ia
dapat melihat istri Kim Namjoon mengulas senyum padanya. Terlihat sangat cantik
dan menawan. Meskipun matanya terlihat sembab, tidak lantas menghilangkan
pesona wanita itu.
“Kau
harus menikah dengannya, bagaimanapun juga bayimu harus memiliki status.”
“Tapi eonni, aku tidak bisa. Aku akan menyakitimu kebih
dalam jika melakukannya,” ujar Jaein menolak.
Sihyun
kembali tersenyum lantas menggenggam tangan Jaein. “Apa bedanya Jaein-ah? Saat ini aku juga sudah sakit. Tapi aku
tidak punya hak untuk menyalahkanmu, karena nyatanya kaulah yang bisa
membahagiakan suamiku.”
Jaein
menggelengkan kepalanya. Ucapan Sihyun seketika langsung menohok hatinya. Bagaimana
bisa wanita di hadapannya ini dengan santainya menyerahkan sang suami untuk
menikah dengan wanita simpanannya.
Sontak
saja situasi ini mengundang air mata Jaein untuk meluncur membelai pipinya.
Agaknya perlakuan lembut Sihyun yang mengkhawatirkan status bayinya sedikit
mengetuk hatinya. Ia tidak menyangka bahwa masih ada wanita bak malaikat
seperti Sihyun.
“Eonni kau tidak perlu melakukannya, biarkan aku
saja yang mengalah. Aku akan meninggalkan Namjoon oppa, dan aku tidak akan lagi mengganggu kehidupan kalian. Aku tidak bisa
menyakiti wanita baik sepertimu eonni. Sungguh maafkan aku…”
“Dan
__ADS_1
kau akan membiarkan bayimu lahir tanpa ayah?”
Jaein
terdiam, hanya isakkan yang terdengar dari bibir gadis itu.
“Aku
yang tidak akan membiarkan itu terjadi. Hanya kau yang bisa memberikan bayi
untuknya, sungguh aku rela berbagi suami denganmu.”
Jaein mengusap lembut
perutnya. “Aegi-ya, eomma harus bagaimana sekarang?”
…
Sihyun melangkahkan kaki memasuki
rumahnya, dan langsung melenggang menuju dapur saat merasa tenggorokannya
kering. Ia terkejut saat melihat makanan yang ia siapkan untuk Namjoon masih
tetap utuh seperti tak tersentuh.
“Apa dia pergi tanpa sarapan?”
gumamnya.
Ia menghela napas lantas menegak
air putih dingin, berharap bisa mendinginkan hatinya juga yang sedang terbakar.
Wanita itu kembali termenung,
tidak mengira ia akan mengatakan hal semacam itu pada gadis simpanan sang
suami. Agaknya Sihyun harus belajar menguatkan hatinya mulai sekarang. Ia harus
rela membagi Kim Namjoon dengan Jaein.
Saat sedang merenung, tiba-tiba
memeluk tubuhnya dari belakang. Tidak hanya itu, ia juga mendengar isakan halus
darinya.
“Maafkan aku sayang, sungguh aku
telah berdosa padamu.”
Wanita itu terdiam mendengar
permintaan maaf sang suami. Sesungguhnya ia sangat murka pada pria itu. Tapi
sekali lagi Sihyun tidak punya hak untuk marah mengingat kenyataan bahwa ia
tidak bisa memberikan apa yang pria itu inginkan.
Kemudian wanita itu berbalik dan
menatap pria yang ada di hadapannya. Dalam diam, ia menyelami tatapan mata Kim
Namjoon yang tak lagi hangat baginya. Lantas ia mengulas senyum, dan menagkup
pipi pria itu dengan kedua tangannya.
“Dia cantik,” ujarnya.
Sontak saja Namjoon terbelalak
saat menyadari ucapan Sihyun. Pria itu menyimpulkan, sepertinya sang istri
sudah bertemu dengan Jaein.
“Sihyun-ah…”
“Aku tahu dia gadis yang baik,
dan lagi‒” Sihyun meneguk liurnya sebelum melanjutkan apa yang ingin ia ucapkan.
“Kau dan Jaein terlihat serasi,” sambungnya.
__ADS_1
Ingin rasanya Namjoon memaki
dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tega menduakan dan menyakiti wanita
sesempurna Sihyun. Ia sungguh malu karena telah melanggar sendiri janji suci
yang tiga tahun lalu ia ucapkan di hadapan Sihyun dan orang tua mereka.
“Kau harus menikahinya, Joon.”
Namjoon tercengang. Ia
menggelengkan kepala lantas menatap sang istri. “Tidak, aku tidak akan
melakukannya. Aku akan meninggalkannya sayang, aku tidak ingin berpisah
denganmu.”
“Dan kau akan lepas dari tanggung
jawabmu begitu saja? Apa kau tidak memikirkan perasaan Jaein? Setidaknya jika
aku tidak bisa memberikan bayi untukmu, biarkanlah Jaein yang melakukannya.
Kumohon Joon, hanya ini permintaanku. Anggap saja kau memberikan hadiah ulang
tahun pernikahan untukku.”
“Sihyun-ah…” Sontak saja pria itu merengkuh Sihyun membawa wanita itu ke
pelukannya.
Suara isak tangis pun terdengar
di antara mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Biarkan saja mereka
berdua tenggelam dalam kesedihan yang diciptakan Kim Namjoon. Hingga akhirnya
Sihyun membuka suara.
“Aku sudah menyuruh Jaein untuk
tinggal disini.”
Sekali lagi Namjoon terkejut
dengan ucapan sang istri. “Kenapa kau melakukan semua ini sayang? Kau tahu kan
semua itu akan lebih menyakitimu?”
“Dia hanya tinggal seorang diri
Joon, dan dia sedang mengandung. Ada baiknya ia tinggal di sini agar aku juga
bisa mengawasinya. Bagaimana jika terjadi sesuatu saat ia sedang sendirian?”
“Tapi kau tidak perlu…” Belum
sempat Namjoon menyelesaikan kalimatnya, Sihyun kembali memotong ucapan pria
itu.
“Aku sudah mengirim orang untuk
membantu Jaein mengurus kepindahannya besok. Dan Jaein pun sudah setuju
denganku.”
Sekali lagi Namjoon merasa sedang
dihantam batu besar. Bagaimana bisa ia menyia-nyiakan istri yang baiknya tiada
tara seperti Sihyun. Cabut saja nyawa pria ini sekarang juga. Karena akan lebih
baik daripada mati secara perlahan karena penyesalan yang akan menggerogotinya
nanti.
…
__ADS_1
10 Januari 2020 - Itsmehyuna_