Our Marriage

Our Marriage
Chapter 9


__ADS_3

Jaein termenung di


kamarnya, masih sibuk mencerna permintaan istri sah seorang Kim Namjoon.


Dirinya benar-benar tidak percaya dengan reaksi yang diberikan wanita itu.


Awalnya ia pikir


wanita itu mengajaknya bertemu untuk memakinya habis-habisan karena sudah


menggoda suaminya. Namun perkiraannya meleset, wanita itu malah berbicara


selembut mungkin sehingga tidak menyinggung perasaan Jaein, dan membujuknya


untuk menikah dengan suaminya.


Ia sempat berpikir


jika semua itu adalah trik Sihyun, tapi seberapa lama ia menyelami mata hazel wanita itu, sama sekali tidak


menemukan kebohongan di sana.


“Menikahlah


dengan Namjoon, Jaein-ah­…”


Seketika


Jaein terbelalak mendengar ucapan Kim Sihyun. Ia kembali memusatkan perhatian


pada wanita yang ada di hadapannya itu.


“Mwo?” seru Jaein tidak percaya.


Ia


dapat melihat istri Kim Namjoon mengulas senyum padanya. Terlihat sangat cantik


dan menawan. Meskipun matanya terlihat sembab, tidak lantas menghilangkan


pesona wanita itu.


“Kau


harus menikah dengannya, bagaimanapun juga bayimu harus memiliki status.”


“Tapi eonni, aku tidak bisa. Aku akan menyakitimu kebih


dalam jika melakukannya,” ujar Jaein menolak.


Sihyun


kembali tersenyum lantas menggenggam tangan Jaein. “Apa bedanya Jaein-ah? Saat ini aku juga sudah sakit. Tapi aku


tidak punya hak untuk menyalahkanmu, karena nyatanya kaulah yang bisa


membahagiakan suamiku.”


Jaein


menggelengkan kepalanya. Ucapan Sihyun seketika langsung menohok hatinya. Bagaimana


bisa wanita di hadapannya ini dengan santainya menyerahkan sang suami untuk


menikah dengan wanita simpanannya.


Sontak


saja situasi ini mengundang air mata Jaein untuk meluncur membelai pipinya.


Agaknya perlakuan lembut Sihyun yang mengkhawatirkan status bayinya sedikit


mengetuk hatinya. Ia tidak menyangka bahwa masih ada wanita bak malaikat


seperti Sihyun.


“Eonni kau tidak perlu melakukannya, biarkan aku


saja yang mengalah. Aku akan meninggalkan Namjoon oppa, dan aku tidak akan lagi mengganggu kehidupan kalian. Aku tidak bisa


menyakiti wanita baik sepertimu eonni. Sungguh maafkan aku…”


“Dan

__ADS_1


kau akan membiarkan bayimu lahir tanpa ayah?”


Jaein


terdiam, hanya isakkan yang terdengar dari bibir gadis itu.


“Aku


yang tidak akan membiarkan itu terjadi. Hanya kau yang bisa memberikan bayi


untuknya, sungguh aku rela berbagi suami denganmu.”


Jaein mengusap lembut


perutnya. “Aegi-ya, eomma harus bagaimana sekarang?”



Sihyun melangkahkan kaki memasuki


rumahnya, dan langsung melenggang menuju dapur saat merasa tenggorokannya


kering. Ia terkejut saat melihat makanan yang ia siapkan untuk Namjoon masih


tetap utuh seperti tak tersentuh.


“Apa dia pergi tanpa sarapan?”


gumamnya.


Ia menghela napas lantas menegak


air putih dingin, berharap bisa mendinginkan hatinya juga yang sedang terbakar.


Wanita itu kembali termenung,


tidak mengira ia akan mengatakan hal semacam itu pada gadis simpanan sang


suami. Agaknya Sihyun harus belajar menguatkan hatinya mulai sekarang. Ia harus


rela membagi Kim Namjoon dengan Jaein.


Saat sedang merenung, tiba-tiba


memeluk tubuhnya dari belakang. Tidak hanya itu, ia juga mendengar isakan halus


darinya.


“Maafkan aku sayang, sungguh aku


telah berdosa padamu.”


Wanita itu terdiam mendengar


permintaan maaf sang suami. Sesungguhnya ia sangat murka pada pria itu. Tapi


sekali lagi Sihyun tidak punya hak untuk marah mengingat kenyataan bahwa ia


tidak bisa memberikan apa yang pria itu inginkan.


Kemudian wanita itu berbalik dan


menatap pria yang ada di hadapannya. Dalam diam, ia menyelami tatapan mata Kim


Namjoon yang tak lagi hangat baginya. Lantas ia mengulas senyum, dan menagkup


pipi pria itu dengan kedua tangannya.


“Dia cantik,” ujarnya.


Sontak saja Namjoon terbelalak


saat menyadari ucapan Sihyun. Pria itu menyimpulkan, sepertinya sang istri


sudah bertemu dengan Jaein.


“Sihyun-ah…”


“Aku tahu dia gadis yang baik,


dan lagi‒” Sihyun meneguk liurnya sebelum melanjutkan apa yang ingin ia ucapkan.


“Kau dan Jaein terlihat serasi,” sambungnya.

__ADS_1


Ingin rasanya Namjoon memaki


dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia tega menduakan dan menyakiti wanita


sesempurna Sihyun. Ia sungguh malu karena telah melanggar sendiri janji suci


yang tiga tahun lalu ia ucapkan di hadapan Sihyun dan orang tua mereka.


“Kau harus menikahinya, Joon.”


Namjoon tercengang. Ia


menggelengkan kepala lantas menatap sang istri. “Tidak, aku tidak akan


melakukannya. Aku akan meninggalkannya sayang, aku tidak ingin berpisah


denganmu.”


“Dan kau akan lepas dari tanggung


jawabmu begitu saja? Apa kau tidak memikirkan perasaan Jaein? Setidaknya jika


aku tidak bisa memberikan bayi untukmu, biarkanlah Jaein yang melakukannya.


Kumohon Joon, hanya ini permintaanku. Anggap saja kau memberikan hadiah ulang


tahun pernikahan untukku.”


“Sihyun-ah…” Sontak saja pria itu merengkuh Sihyun membawa wanita itu ke


pelukannya.


Suara isak tangis pun terdengar


di antara mereka. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Biarkan saja mereka


berdua tenggelam dalam kesedihan yang diciptakan Kim Namjoon. Hingga akhirnya


Sihyun membuka suara.


“Aku sudah menyuruh Jaein untuk


tinggal disini.”


Sekali lagi Namjoon terkejut


dengan ucapan sang istri. “Kenapa kau melakukan semua ini sayang? Kau tahu kan


semua itu akan lebih menyakitimu?”


“Dia hanya tinggal seorang diri


Joon, dan dia sedang mengandung. Ada baiknya ia tinggal di sini agar aku juga


bisa mengawasinya. Bagaimana jika terjadi sesuatu saat ia sedang sendirian?”


“Tapi kau tidak perlu…” Belum


sempat Namjoon menyelesaikan kalimatnya, Sihyun kembali memotong ucapan pria


itu.


“Aku sudah mengirim orang untuk


membantu Jaein mengurus kepindahannya besok. Dan Jaein pun sudah setuju


denganku.”


Sekali lagi Namjoon merasa sedang


dihantam batu besar. Bagaimana bisa ia menyia-nyiakan istri yang baiknya tiada


tara seperti Sihyun. Cabut saja nyawa pria ini sekarang juga. Karena akan lebih


baik daripada mati secara perlahan karena penyesalan yang akan menggerogotinya


nanti.



 


 

__ADS_1


10 Januari 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2