
“Eungh…”
Jaein
yang sedang sibuk memoles wajahnya pun menoleh saat mendengar suara Namjoon. Ia
pun berjalan mendekati pria yang sejak kemarin sudah resmi menjabat sebagai
suaminya. Diusapnya lembut puncak kepala pria itu berharap agar kembali
mendapatkan kenyamanan.
“Kenapa
sudah bangun, hm?”
Jaein
pun terkejut saat Namjoon tiba-tiba saja menarik tangannya agar duduk di tepi
ranjang. Pria itu lantas melingkarkan tangannya di pinggang Jaein, dan
menjadikan pahanya sebagai bantalan kepala.
“Apa
aku mengganggu tidurmu oppa?”
Namjoon
mengangkat kepalanya menatap Jaein. “Tentu saja tidak sayang, memang sudah
waktunya aku bangun,” jawabnya. “Sejak kapan kau bangun?”
“Sudah
satu jam yang lalu,” jawabnya.
“Kenapa
tidak membangunkanku juga?”
Jaein
tersenyum. “Aku kan tidak ingin mengganggu kualitas tidurmu. Kau pasti lelah
setelah resepsi semalam.”
“Ck!
Lalu bagaimana denganmu? Apa kau tidak lelah juga? Kau kan tidak lagi sendirian
Jaein-ah, kau sedang membawa bayi
kita.”
Sontak
saja pipi Jaein merona karena ucapan Namjoon karena menyebut bayi kita. Bolehkah Jaein merasa senang
karena ini?
“Kenapa
pipimu memerah seperti itu?” goda Namjoon.
“Ya,
berhenti menggodaku oppa, sudah sana
mandilah. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu,” titah Jaein dan bangkit
dari tempatnya. Namun Namjoon berhasil menahannya.
Sontak
saja Jaein dikejutkan dengan apa yang kini sedang Namjoon lakukan. Ya, pria itu
tengah memeluk perutnya lantas sesekali mengecupnya sayang. Jujur saja hal itu
membuat Jaein geli, namun hatinya membuncah karena perlakuan romantis Namjoon.
Gadis
itupun tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala suaminya. Sungguh ia sangat
bersyukur mendapatkan suami seperti Kim Namjoon.
…
“Wah
pasangan ini baru bangun ternyata, padahal kita sudah menunggu sejak tadi,”
sapa Yoon Ah saat melihat Namjoon berjalan dengan melingkarkan lengannya di
perut Jaein.
Sedangkan
Jaein sudah merona akibat ucapan ibunya. Ia sangat malu karena sang ibu
menggodanya di depan kedua mertuanya. Sungguh ingin sekali ia menarik ibunya
saat ini juga dan mengomelinya.
“Ah
tadi aku yang terlambat bangun eomma,
makanya Jaein terpaksa harus menungguku dulu.”
“Kalau
begitu duduklah, kami sudah memesankan makanan. Kalian kan harus segera makan,
terutama Jaein yang sedang mengandung tidak boleh terlambat makan.” Yo Won pun
membuka suara.
“Ne eomonim,” jawab Jaein lantas segera
mengambil tempat duduk di samping suaminya.
Sedangkan
Namjoon sedang mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran. Sudah sangat
jelas siapa yang sedang ia cari. Choi Sihyun.
Ada
sedikit rasa kecewa saat mendapati sosok Sihyun tidak ada di sana. Jujur saja,
pria ini masih belum terbiasa dengan hidup barunya. Jika dulu setiap pagi
Sihyun yang selalu ada di sampingnya saat menyantap sarapan, namun sekarang
gadis itu menghilang entah kemana.
Silahkan
salahkan dirimu sendiri karena sudah mengecewakan istri terbaikmu Namjoon-ssi.
…
“Eomma istirahat saja, pasti sangat lelah
setelah acara kemarin,” ujar Namjoon pada Yoon Ah saat baru saja memasuki
rumahnya.
“Ah
baiklah kalau begitu, menantuku ini memang sangat perhatian ya,” pujinya
sebelum melenggang kembali menuju kamarnya.
“Kau
__ADS_1
juga harus istirahat, sudah seharian ini kakimu tidak berhenti berjalan-jalan.”
Kini giliran Jaein yang mendapat perhatian Namjoon.
Ya,
gadis itu memang terlalu senang dengan suasana di sekitar hotel mereka. Jadi
dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Dan setelah Namjoon
mengetahuinya, langsung saja pria itu mengajaknya pulang.
“Baiklah
aku akan istirahat sekarang,” jawab Jaein lantas berjalan menuju kamarnya.
“Aku
akan buatkan susu untukmu,” ujar Namjoon yang kini malah melenggang ke dapur.
Namun
sebenarnya bukan itu tujuan Namjoon. Pria itu ingin mencari Sihyun yang jelas
tidak ada di rumah. Karena ia tidak menemukan mobilnya di garasi tadi.
Ia
pun segera mengeluarkan ponsel pintarnya, dan menghubungi Sihyun sembari
menyiapkan susu hamil untuk Jaein.
Namjoon
begitu gelisah saat Sihyun tak kunjung mengangkat panggilannya. Ia takut jika
terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu.
‘Ada apa Joon?’
Pria
itupun kini dapat bernapas lega saat mendengar suara Sihyun dari seberang sana.
“Kau
ada dimana? Kenapa tidak ada di rumah?”
‘Tentu saja di café, ini kan sudah waktunya bekerja.
Ah kalian sudah pulang ya?’
“Apa
pekerjaanmu sangat banyak sampai kau terpaksa meninggalkanku semalam?”
Hening
untuk sepersekian detik, dan tak ada jawaban dari Sihyun.
“Choi
Sihyun apa kau mendengarku?”
‘Eum maafkan aku Joon, semalam ada pertemuan yang
tidak bisa ditunda dengan client, jadi aku
terpaksa harus pergi. Dan maaf aku juga tidak sempat berpamitan denganmu.’
“Bohong.”
Dan
Sihyun pun kembali terdiam saat mendengar ucapan Namjoon yang tepat pada
sasaran. Memang benar adanya jika ia pergi bukan karena client, melainkan karena tidak bisa menahan rasa sakit yang
dirasakannya saat melihat suami yang sangat dicintainya bersanding di altar dengan wanita lain.
‘Ah sudah dulu Joon, sepertinya eomma memanggilku. Jangan lupa membuatkan susu
“Aku
juga mencintaimu…” jawab Namjoon lirih setelah Sihyun memutus sambungan
teleponnya secara sepihak.
Namjoon
pun termenung. Tak ada lagi kalimat aku
mencintaimu yang keluar dari bibir Sihyun saat ia ingin memutus sambungan
telepon dengannya. Tapi yang harus Namjoon tahu, bukankah itu tidak sebanding
dengan rasa sakit yang dialami Sihyun?
Tolong
ingatkan pria itu, barangkali saja ia lupa.
…
“Selamat
siang nona muda.” Sapa salah seorang pegawainya di café.
“Eoh selamat pagi.” Ia pun membalas.
Tidak lupa menyunggingkan senyumnya walaupun suasana hatinya sedang di bawah
batas normal. Dan maka dari itu sudah sesiang ini Sihyun baru menyempatkan diri
datang ke café. Sudah tahu kan siapa penyebabnya?
“Ah
iya, tadi ada sesorang yang mencarimu nona. Dia tidak menyebutkan namanya dan
hanya menitipkan ini,” ujar si pegawai sembari mengulurkan paper bag pada Sihyun.
“Baiklah
terimakasih.”
Kini
wanita itu berjalan ke ruangannya sembari mengecek isi paper bag yang baru saja diberikan pegawainya.
“Eoh? Astaga manusia ini,”
…
“Apa
masih ada pasien yang harus ku temui lagi suster Han?”
Suster
yang di ajak bicarapun dengan segera memeriksa buku agenda yang tengah
dipegangnya. “Sepertinya tidak ada dokter Jung. Nyonya Jang adalah pasien
terakhir hari ini,” jelas sang suster yang diikuti senyum penuh arti dari bibir
seorang Jung Hoseok.
“Baiklah
kau boleh keluar kalau begitu, aku akan bersiap-siap pulang.”
“Baik
dokter.”
Beginilah
kebahagiaan Hoseok saat ia tidak terlalu banyak mempunyai pasien. Karena pria
__ADS_1
ini tidak begitu memedulikan berapa penghasilan yang ia dapat, toh lebih baik
jika dirinya banyak beristirahat. Yah, begitulah dokter muda ini.
Sepeninggal
suster Han, ia pun segera membereskan barang-barang miliknya dan bersiap untuk
pulang. Namun saat ia akan beranjak dari tempatnya, suster Han kembali memasuki
ruangan Hoseok.
“Ada
apa lagi suster?” tanya pria itu kebingungan.
“Maaf
dokter ada pasien yang mencarimu, sudah ku katakan padanya tidak bisa bertemu
tanpa membuat janji lebih dulu, tapi dia memaksa ingin bertemu denganmu.”
Hoseok
menghela napas berat lantas kembali duduk di singgasananya dengan bahunya yang
terkulai. Bayangan ranjang empuk dan nyamannya pun buyar seketika.
“Baiklah
biarkan saja dia masuk.”
Cklek…
Pria
itu pun tercengang saat melihat sosok yang baru saja memasuki ruangannya. Oh
baiklah, jadi wanita ini yang berani mengganggu waktu istirahatnya yang sangat
berharga.
“Aku
tidak mengganggumu kan dokter Jung?” tanya wanita yang kini sudah duduk di
hadapannya itu.
“Ya,
kenapa tidak memberitahuku jika kau ingin kemari Choi Sihyun? Tahu begitu kan
aku akan minta kau bawakan mint choco
cake buatanmu itu.”
Sihyun
pun berdecak. “Bukankah kau sendiri juga ke café tanpa memberitahuku terlebih dahulu?”
Sontak
saja Hoseok pun tertawa begitu Sihyun menangkap basah dirinya.
“Aku
kan memberikan vitamin untuk pasienku, memangnya ada yang salah?”
“Tentu
saja salah. Mana bisa kau memberikan vitamin padaku tanpa menerima uang, eoh? Wah sepertinya kau sudah kaya ya?”
Dokter
muda itupun kembali tertawa mendengar ucapan Sihyun. “Iya aku memang sudah
kaya, kenapa? Apa kau mau menikah denganku?” godanya yang sontak mendapat
pukulan dari Sihyun.
“Jangan
bercanda Jung Hoseok!”
“Ahaha
baiklah kau harus membayarku kalau begitu. Tapi aku tidak mau dengan uang.”
Sihyun
mengerutkan keningnya tidak mengerti. Memangnya dengan apalagi ia bisa membayar
selain dengan uang?
…
Sihyun
mengayunkan tungkainya beriringan dengan dokter muda di sampingnya. Tidak lupa
es krim yang ada di tangan mereka berdua. Bukankah terlihat sekali jika mereka
tidak ingat umur? Jadi jangan salahkan jika orang lain yang melihat akan
mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih.
Lihat
saja penampilan mereka. Sihyun dengan gaun off-shoulder-nya
yang membuatnya nampak menawan. Serasi dengan Hoseok yang kini hanya mengenakan
kemeja warna putih dengan membuka satu kancing teratasnya. Jangan pernah
membayangkan seperti apa tampannya pria itu saat ini.
“Tidak
seru sekali,” gerutu Sihyun sambil memakan es krim miliknya. Sedangkan Hoseok
hanya tersenyum melihat raut wajah wanita itu.
Ya,
Hoseok dan Sihyun baru saja keluar dari bioskop. Dokter muda itu meminta Sihyun
untuk menemaninya menyaksikan seri terakhir dari film Avenger yang saat ini
sedang viral.
Pada
dasarnya Sihyun sangat tidak menyukai genre film seperti itu. Namun ia harus melakukannya sebagai bayaran vitamin yang
sudah diberikan Hoseok padanya.
“Aku
kan tidak tahu kalau kau tidak suka film action Sihyun-ah,” jawab Hoseok.
“Ck!
Dasar kau menyebalkan dokter Jung!” omel Sihyun yang kini mengekor di belakangnya.
Hoseok
berjalan menahan tawanya mendengar omelan Sihyun. “Baiklah, lain kali aku akan
mentraktirmu menonton film yang kau suka. Bagaimana?”
Bruk!
“Nona!”
“Choi
Sihyun!”
…
__ADS_1
5 Februari 2020