Our Marriage

Our Marriage
Chapter 16


__ADS_3

“Eungh…”


Jaein


yang sedang sibuk memoles wajahnya pun menoleh saat mendengar suara Namjoon. Ia


pun berjalan mendekati pria yang sejak kemarin sudah resmi menjabat sebagai


suaminya. Diusapnya lembut puncak kepala pria itu berharap agar kembali


mendapatkan kenyamanan.


“Kenapa


sudah bangun, hm?”


Jaein


pun terkejut saat Namjoon tiba-tiba saja menarik tangannya agar duduk di tepi


ranjang. Pria itu lantas melingkarkan tangannya di pinggang Jaein, dan


menjadikan pahanya sebagai bantalan kepala.


“Apa


aku mengganggu tidurmu oppa?”


Namjoon


mengangkat kepalanya menatap Jaein. “Tentu saja tidak sayang, memang sudah


waktunya aku bangun,” jawabnya. “Sejak kapan kau bangun?”


“Sudah


satu jam yang lalu,” jawabnya.


“Kenapa


tidak membangunkanku juga?”


Jaein


tersenyum. “Aku kan tidak ingin mengganggu kualitas tidurmu. Kau pasti lelah


setelah resepsi semalam.”


“Ck!


Lalu bagaimana denganmu? Apa kau tidak lelah juga? Kau kan tidak lagi sendirian


Jaein-ah, kau sedang membawa bayi


kita.”


Sontak


saja pipi Jaein merona karena ucapan Namjoon karena menyebut bayi kita. Bolehkah Jaein merasa senang


karena ini?


“Kenapa


pipimu memerah seperti itu?” goda Namjoon.


“Ya,


berhenti menggodaku oppa, sudah sana


mandilah. Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu,” titah Jaein dan bangkit


dari tempatnya. Namun Namjoon berhasil menahannya.


Sontak


saja Jaein dikejutkan dengan apa yang kini sedang Namjoon lakukan. Ya, pria itu


tengah memeluk perutnya lantas sesekali mengecupnya sayang. Jujur saja hal itu


membuat Jaein geli, namun hatinya membuncah karena perlakuan romantis Namjoon.


Gadis


itupun tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala suaminya. Sungguh ia sangat


bersyukur mendapatkan suami seperti Kim Namjoon.



“Wah


pasangan ini baru bangun ternyata, padahal kita sudah menunggu sejak tadi,”


sapa Yoon Ah saat melihat Namjoon berjalan dengan melingkarkan lengannya di


perut Jaein.


Sedangkan


Jaein sudah merona akibat ucapan ibunya. Ia sangat malu karena sang ibu


menggodanya di depan kedua mertuanya. Sungguh ingin sekali ia menarik ibunya


saat ini juga dan mengomelinya.


“Ah


tadi aku yang terlambat bangun eomma,


makanya Jaein terpaksa harus menungguku dulu.”


“Kalau


begitu duduklah, kami sudah memesankan makanan. Kalian kan harus segera makan,


terutama Jaein yang sedang mengandung tidak boleh terlambat makan.” Yo Won pun


membuka suara.


“Ne eomonim,” jawab Jaein lantas segera


mengambil tempat duduk di samping suaminya.


Sedangkan


Namjoon sedang mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran. Sudah sangat


jelas siapa yang sedang ia cari. Choi Sihyun.


Ada


sedikit rasa kecewa saat mendapati sosok Sihyun tidak ada di sana. Jujur saja,


pria ini masih belum terbiasa dengan hidup barunya. Jika dulu setiap pagi


Sihyun yang selalu ada di sampingnya saat menyantap sarapan, namun sekarang


gadis itu menghilang entah kemana.


Silahkan


salahkan dirimu sendiri karena sudah mengecewakan istri terbaikmu Namjoon-ssi.



“Eomma istirahat saja, pasti sangat lelah


setelah acara kemarin,” ujar Namjoon pada Yoon Ah saat baru saja memasuki


rumahnya.


“Ah


baiklah kalau begitu, menantuku ini memang sangat perhatian ya,” pujinya


sebelum melenggang kembali menuju kamarnya.


“Kau

__ADS_1


juga harus istirahat, sudah seharian ini kakimu tidak berhenti berjalan-jalan.”


Kini giliran Jaein yang mendapat perhatian Namjoon.


Ya,


gadis itu memang terlalu senang dengan suasana di sekitar hotel mereka. Jadi


dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Dan setelah Namjoon


mengetahuinya, langsung saja pria itu mengajaknya pulang.


“Baiklah


aku akan istirahat sekarang,” jawab Jaein lantas berjalan menuju kamarnya.


“Aku


akan buatkan susu untukmu,” ujar Namjoon yang kini malah melenggang ke dapur.


Namun


sebenarnya bukan itu tujuan Namjoon. Pria itu ingin mencari Sihyun yang jelas


tidak ada di rumah. Karena ia tidak menemukan mobilnya di garasi tadi.


Ia


pun segera mengeluarkan ponsel pintarnya, dan menghubungi Sihyun sembari


menyiapkan susu hamil untuk Jaein.


Namjoon


begitu gelisah saat Sihyun tak kunjung mengangkat panggilannya. Ia takut jika


terjadi sesuatu yang buruk pada wanita itu.


‘Ada apa Joon?’


Pria


itupun kini dapat bernapas lega saat mendengar suara Sihyun dari seberang sana.


“Kau


ada dimana? Kenapa tidak ada di rumah?”


‘Tentu saja di café, ini kan sudah waktunya bekerja.


Ah kalian sudah pulang ya?’


“Apa


pekerjaanmu sangat banyak sampai kau terpaksa meninggalkanku semalam?”


Hening


untuk sepersekian detik, dan tak ada jawaban dari Sihyun.


“Choi


Sihyun apa kau mendengarku?”


‘Eum maafkan aku Joon, semalam ada pertemuan yang


tidak bisa ditunda dengan client, jadi aku


terpaksa harus pergi. Dan maaf aku juga tidak sempat berpamitan denganmu.’


“Bohong.”


Dan


Sihyun pun kembali terdiam saat mendengar ucapan Namjoon yang tepat pada


sasaran. Memang benar adanya jika ia pergi bukan karena client, melainkan karena tidak bisa menahan rasa sakit yang


dirasakannya saat melihat suami yang sangat dicintainya bersanding di altar dengan wanita lain.


‘Ah sudah dulu Joon, sepertinya eomma memanggilku. Jangan lupa membuatkan susu


“Aku


juga mencintaimu…” jawab Namjoon lirih setelah Sihyun memutus sambungan


teleponnya secara sepihak.


Namjoon


pun termenung. Tak ada lagi kalimat aku


mencintaimu yang keluar dari bibir Sihyun saat ia ingin memutus sambungan


telepon dengannya. Tapi yang harus Namjoon tahu, bukankah itu tidak sebanding


dengan rasa sakit yang dialami Sihyun?


Tolong


ingatkan pria itu, barangkali saja ia lupa.



“Selamat


siang nona muda.” Sapa salah seorang pegawainya di café.


“Eoh selamat pagi.” Ia pun membalas.


Tidak lupa menyunggingkan senyumnya walaupun suasana hatinya sedang di bawah


batas normal. Dan maka dari itu sudah sesiang ini Sihyun baru menyempatkan diri


datang ke café. Sudah tahu kan siapa penyebabnya?


“Ah


iya, tadi ada sesorang yang mencarimu nona. Dia tidak menyebutkan namanya dan


hanya menitipkan ini,” ujar si pegawai sembari mengulurkan paper bag pada Sihyun.


“Baiklah


terimakasih.”


Kini


wanita itu berjalan ke ruangannya sembari mengecek isi paper bag yang baru saja diberikan pegawainya.


“Eoh? Astaga manusia ini,”



“Apa


masih ada pasien yang harus ku temui lagi suster Han?”


Suster


yang di ajak bicarapun dengan segera memeriksa buku agenda yang tengah


dipegangnya. “Sepertinya tidak ada dokter Jung. Nyonya Jang adalah pasien


terakhir hari ini,” jelas sang suster yang diikuti senyum penuh arti dari bibir


seorang Jung Hoseok.


“Baiklah


kau boleh keluar kalau begitu, aku akan bersiap-siap pulang.”


“Baik


dokter.”


Beginilah


kebahagiaan Hoseok saat ia tidak terlalu banyak mempunyai pasien. Karena pria

__ADS_1


ini tidak begitu memedulikan berapa penghasilan yang ia dapat, toh lebih baik


jika dirinya banyak beristirahat. Yah, begitulah dokter muda ini.


Sepeninggal


suster Han, ia pun segera membereskan barang-barang miliknya dan bersiap untuk


pulang. Namun saat ia akan beranjak dari tempatnya, suster Han kembali memasuki


ruangan Hoseok.


“Ada


apa lagi suster?” tanya pria itu kebingungan.


“Maaf


dokter ada pasien yang mencarimu, sudah ku katakan padanya tidak bisa bertemu


tanpa membuat janji lebih dulu, tapi dia memaksa ingin bertemu denganmu.”


Hoseok


menghela napas berat lantas kembali duduk di singgasananya dengan bahunya yang


terkulai. Bayangan ranjang empuk dan nyamannya pun buyar seketika.


“Baiklah


biarkan saja dia masuk.”


Cklek…


Pria


itu pun tercengang saat melihat sosok yang baru saja memasuki ruangannya. Oh


baiklah, jadi wanita ini yang berani mengganggu waktu istirahatnya yang sangat


berharga.


“Aku


tidak mengganggumu kan dokter Jung?” tanya wanita yang kini sudah duduk di


hadapannya itu.


“Ya,


kenapa tidak memberitahuku jika kau ingin kemari Choi Sihyun? Tahu begitu kan


aku akan minta kau bawakan mint choco


cake buatanmu itu.”


Sihyun


pun berdecak. “Bukankah kau sendiri juga ke café tanpa memberitahuku terlebih dahulu?”


Sontak


saja Hoseok pun tertawa begitu Sihyun menangkap basah dirinya.


“Aku


kan memberikan vitamin untuk pasienku, memangnya ada yang salah?”


“Tentu


saja salah. Mana bisa kau memberikan vitamin padaku tanpa menerima uang, eoh? Wah sepertinya kau sudah kaya ya?”


Dokter


muda itupun kembali tertawa mendengar ucapan Sihyun. “Iya aku memang sudah


kaya, kenapa? Apa kau mau menikah denganku?” godanya yang sontak mendapat


pukulan dari Sihyun.


“Jangan


bercanda Jung Hoseok!”


“Ahaha


baiklah kau harus membayarku kalau begitu. Tapi aku tidak mau dengan uang.”


Sihyun


mengerutkan keningnya tidak mengerti. Memangnya dengan apalagi ia bisa membayar


selain dengan uang?



Sihyun


mengayunkan tungkainya beriringan dengan dokter muda di sampingnya. Tidak lupa


es krim yang ada di tangan mereka berdua. Bukankah terlihat sekali jika mereka


tidak ingat umur? Jadi jangan salahkan jika orang lain yang melihat akan


mengira mereka berdua adalah sepasang kekasih.


Lihat


saja penampilan mereka. Sihyun dengan gaun ­off-shoulder-nya


yang membuatnya nampak menawan. Serasi dengan Hoseok yang kini hanya mengenakan


kemeja warna putih dengan membuka satu kancing teratasnya. Jangan pernah


membayangkan seperti apa tampannya pria itu saat ini.


“Tidak


seru sekali,” gerutu Sihyun sambil memakan es krim miliknya. Sedangkan Hoseok


hanya tersenyum melihat raut wajah wanita itu.


Ya,


Hoseok dan Sihyun baru saja keluar dari bioskop. Dokter muda itu meminta Sihyun


untuk menemaninya menyaksikan seri terakhir dari film Avenger yang saat ini


sedang viral.


Pada


dasarnya Sihyun sangat tidak menyukai genre film seperti itu. Namun ia harus melakukannya sebagai bayaran vitamin yang


sudah diberikan Hoseok padanya.


“Aku


kan tidak tahu kalau kau tidak suka film action Sihyun-ah­,” jawab Hoseok.


“Ck!


Dasar kau menyebalkan dokter Jung!” omel Sihyun yang kini mengekor di belakangnya.


Hoseok


berjalan menahan tawanya mendengar omelan Sihyun. “Baiklah, lain kali aku akan


mentraktirmu menonton film yang kau suka. Bagaimana?”


Bruk!


“Nona!”


“Choi


Sihyun!”


__ADS_1


5 Februari 2020


__ADS_2