
Suara
kicau burung mengiringi sang surya yang kini mulai meninggi. Aroma khas embun
pagi pun menguar menyapa indera penciuman Jaein. Gadis itu terlihat tengah
berdiri menikmati suasana pagi.
Beberapa
saat kemudian ia mengalihkan pandangannya pada sosok yang masih setia bergelung
dengan selimut tebal miliknya. Ia pun tersenyum, lantas segera menghampiri
suaminya itu.
Gadis
itu memandang takjub pria yang sudah 2 bulan ini menikahinya. Jaein benar-benar
sangat bersyukur mempunyai suami seperti Namjoon. Selain genius, pria ini
termasuk dalam kategori pria idaman di kampus, jadi gadis ini merasa sangat
beruntung. Yah, meskipun jalan yang dipilihnya bukan jalan yang benar karena
menjalin hubungan dengan pria beristri.
Tapi
walaupun begitu bukan sepenuhnya salah Jaein kan? Karena Namjoon pun juga
sepenuhnya sadar dengan hubungan yang mereka jalani. Pria itu juga menginginkan
dirinya. Jika tidak, mana mungkin sekarang ini Jaein bisa mengandung? Jadi
jangan hanya menyalahkan Jaein.
“Aku
tahu kalau wajahku sangat tampan, tapi bisakah kau tidak memandangnya
terang-terangan seperti itu hum?”
Jaein
tersentak saat mendengar suara Namjoon. Gadis itu terlalu larut memandang wajah
suaminya sehingga tidak menyadari bahwa pria itu telah membuka matanya.
“Ck!
Tidak, siapa yang sedang memandang oppa,
aku baru saja ingin membangunkanmu.” Jaein mengelak dan membuat Namjoon
tersenyum jail.
Pria
itu pun menarik sang istri kedalam pelukannya, membuat Jaein sukses terbelalak.
Gadis itu pun refleks menjauhkan wajahnya karena malu. Dan Namjoon yang
mengetahuinya pun tersenyum puas.
“Kau
tidak bisa membohongiku sayang, lihatlah wajah merahmu itu.” Ejek Namjoon
berhasil membuat Jaein berdecak sebal.
“Iya-iya
aku ketahuan memandangimu diam-diam, sudah kan? Aku sudah mengakuinya, sekarang
lepaskan aku, oppa harus mandi.”
“Kalau
aku tidak mau bagaimana?”
Jaein
menyeringai memandang Namjoon. “Aku akan memanggil Sihyun eonni kemari tentu saja. Bagaimana? Masih tidak mau mandi?”
Namjoon
pun segera beranjak dari tempatnya. “Ck! Baiklah aku mandi, dasar licik.”
Omelnya. Tidak lupa mencuri satu kecupan dari bibir Jaein sebelum menuju kamar
mandi.
“Yak oppa!”
…
“Hari
ini Jaein ada jadwal periksa kandungan Joon, kau bisa menemaninya kan nanti
siang?”
Namjoon
yang tengah menikmati sandwich pun sontak menoleh kearah sumber suara.
“Siang
ini?” Sihyun mengangguk.
“Wae? Kenapa kau terkejut seperti itu?
Bukankah Jaein sudah memberitahumu kemarin?”
Pria
itu menggelengkan kepalanya. Sihyun pun mengalihkan pandangannya pada Jaein
yang berada disampingnya.
Jaein
mengerucutkan bibirnya. “Mianhae eonni,
aku lupa mengatakannya.”
Sihyun
menghela napas. “aniya gwaenchana Jaein-ah. Jadi bagaimana Joon, kau tidak ada
jadwal kan siang ini?”
“Maaf
sayang, aku sudah terlanjur menerima ajakan makan siang Jaekwon hyung, jadi aku tidak bisa menemaninya.”
Ucapnya penuh sesal.
“Bagaimana
ini?” Gumam Jaein.
“Ah gwaenchana eonni, aku bisa pergi
sendiri.” Ucap Jaein menyela.
“Mana
bisa begitu Jaein-ah, kau akan pergi
denganku kalau begitu. Aku akan mengosongkan jadwalku siang nanti.”
“Tapi
aku akan merepotkanmu eonni,”
Sihyun
tersenyum simpul memandang Jaein. “Tidak, aku kan sudah berjanji untuk
menjagamu. Jadi jangan pernah merasa sungkan.”
…
“Tidak
ada yang ketinggalan kan?” Tanya Sihyun pada Jaein yang berjalan disampingnya.
Jaein menggeleng setelah memeriksa paper
bag yang tengah ia bawa.
“Vitamin
dan obatmu sudah kan?”
“Sudah eonni, astaga kalau begini kau
terlihat seperti eomma, cerewet
sekali.” Guraunya.
“Ya!
Aku memang harus cerewet, karena kalau tidak kau ceroboh lagi.” Jawaban Sihyun
sontak membuat Jaein tersenyum malu.
“Hey
Park Jaein…”
Keduanya
menoleh saat mendengar seseorang memanggil nama Jaein. Dan benar saja, seorang
dokter muda kini tengah berjalan menghampiri mereka berdua.
Sihyun
mengerutkan kening heran. “Temanmu Jaein-ah?”
Jaein
pun mengangguk. “Eoh, dia seniorku di kampus eonni.” Jawabnya.
Drrtt… drrtt… drrtt…
Sihyun
__ADS_1
segera memeriksa ponselnya yang berdering. Dan terlihat nama Raemi di layarnya.
“Jaein-ah sebentar ya, kau bicaralah dengan
temanmu dulu, aku mau mengangkat telepon.” Pamit Sihyun sebelum beranjak
meninggalkan Jaein.
“Ne eonni, ada apa? Apa kau ingin
menitipkan Minji lagi?” Godanya sebelum sempat mendengar suara Raemi.
‘Aniya, tapi
bisakah sekarang kau datang kemari?’
“Kemana?
Ada apa memangnya?”
‘Tidak, hanya makan siang keluarga, suamimu juga
sedang menuju kemari. Ruang VIP, cepatlah datang eoh.’
“Tapi eonni...”
Tut… tut… tut…
Sambungan
terputus begitu saja sebelum Sihyun bisa melayangkan protesnya. Ia benar-benar
heran dengan kakak iparnya yang tidak terduga ini.
“Kenapa
mengadakan makan siang keluarga tanpa memberitahuku sebelumnya? Mendadak
sekali!” Sihyun pun menggerutu dan kembali menghampiri Jaein.
“Sampai
jumpa lagi Jaein-ah.” Pamit sang
dokter muda pada Jaein. Dan tidak lupa menundukkan kepala pada Sihyun. Sihyun
pun membalasnya dengan senyuman.
“Eonni sudah selesai?” Tanya Jaein.
Sihyun
menganggukkan kepalanya. “Tapi maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang, ada
urusan mendadak. Tidak apa-apa kan kalau kau pulang sendiri?”
“Gwaenchana eonni, lagi pula aku sudah
merepotkanmu hari ini.” Jawabnya.
“Ah
baiklah, aku akan memesankan taksi untukmu. Hati-hati dijalan Jaein-ah.”
“Eoh eonni.”
…
“Selamat
datang nona muda, Presdir dan tuan muda berada di suit room.”
Sihyun
tersenyum pada seorang waiter yang
tengah menyapanya. “Baiklah, trimakasih.” Wanita itu pun melangkahkan kakinya
menuju ruangan yang dimaksud pelayan tadi. Meskipun sedikit bingung karena
tidak biasanya sang ayah memilih suit
room untuk acara makan keluarga seperti ini.
“Ah
mungkin saja mereka ingin lebih privat.”
Sihyun pun mulai bermonolog.
Benar
saja, beberapa saat kemudian ia melihat Raemi sedang berdiri menunggunya di
depan ruangan.
“Eonni…”
Mendengar
sapaan sang adik, Raemi segera berjalan menghampirinya. Sedangkan Sihyun
terheran dengan sikap yang ditunjukkan Raemi.
“Sihyun-ah, apa kau tahu sesuatu? Apa kau
sengaja menyembunyikannya dari kami?”
Sihyun
“Pernikahan
Namjoon.”
Sontak
saja Sihyun tersentak dengan apa yang baru saja kakak iparnya katakan. Wajahnya
seketika menegang, dan lehernya tercekat saat Raemi memergoki rahasia
terbesarnya.
“Ah
benar kau mengetahuinya kan?”
Wanita
itu langsung saja melenggang memasuki ruangan dihadapannya tanpa berniat untuk
menjawab pertanyaan Raemi. Firasatnya mengatakan jika saat ini sang ayah pasti
sedang memarahi Namjoon habis-habisan. Dan Sihyun tidak akan membiarkan hal itu
terjadi.
“Ya!
Sihyun-ah tunggu!”
Brak!
“Apa
kau pikir istriku melahirkan Sihyun untuk kau sakiti semudah itu Kim Namjoon?”
Sang ayah berteriak murka.
Ia
melihat Namjoon hanya bisa menunduk tanpa berkata-kata dengan sudut bibir yang
sudah berdarah. Pasti ayahnya telah menghajar pria itu.
“Apa
kau sudah kehilangan akal hah?!” Tangan Siwon terayun ingin menampar Namjoon.
“Andwae appa!” Sihyun pun dengan segera
menghadang di depan tubuh suaminya.
Plak!
“Sihyun-ah!”
“Sihyun-ah!”
Namjoon
dan Siwon berseru bersamaan karena pipi Sihyunlah yang menjadi sasaran tamparan
Siwon.
“Apa
yang kau lakukan disini?”
“Hentikan appa kumohon, semua ini bukan salah
Namjoon, akulah yang telah menyuruhnya menikah lagi.” Bela Sihyun dengan suara
bergetar. Air matanya menetes membasahi pipinya yang memerah akibat tamparan
sang ayah.
“Sihyun-ah hentikan, jangan melawan ayahmu.”
Namjoon pun menahan Sihyun, namun wanita itu menepis tangan Namjoon begitu
saja.
“Berhentilah
membela pria hidung belang ini Choi Sihyun, kau dengar apa katanya kan? Pria
seperti itu tidak perlu kau bela sayang.”
“Sungguh
akulah yang salah appa, aku yang
menyuruhnya menikah lagi. Aku muak karena selama ini belum bisa memberinya
keturunan. Jangan menyalahkan Namjoon.” Isakan Sihyun pun semakin menjadi. Air
matanya semakin deras.
“Sihyun-ah…”
“Diamlah
__ADS_1
Kim Namjoon biarkan aku bicara!”
Belum
sempat Namjoon melanjutkan kalimatnya, Sihyun sudah memotongnya dengan sedikit
sentakan. Hal itu membuat Namjoon terheran, karena selama ini ia tidak pernah
melihat Sihyun seperti itu. Ah tidak juga, ia pernah melihatnya saat wanita itu
memergokinya sedang menghubungi Jaein.
“Tidak, appa tidak akan mendengarkan apa-apa
lagi darimu. Tinggalkan pria itu! Putriku terlalu berharga untuk pria brengsek
seperti dia.”
“Aniya! Kali ini aku tidak akan menuruti appa, aku tidak akan meninggalkan
Namjoon apapun alasannya. Aku sangat mencintainya appa.”
Namjoon
seakan dihantam batuan besar saat mendengar perkataan Sihyun. Dalam situasi
seperti ini, wanita itu bersikeras membelanya. Padahal ia hanya bisa memberikan
Sihyun rasa sakit yang mungkin tidak akan pernah bisa hilang dalam hatinya.
Ingin
sekali ia mengatakan ‘jangan lagi membela
pria brengsek ini’ atau mungkin ‘tinggalkan
saja aku, masih ada banyak pria yang lebih baik dariku’, namun lidahnya
kelu. Pria itu terlalu pengecut untuk melakukannya. Dalam hatinya ia tidak mau
kehilangan Sihyun. Egois memang, tapi begitulah adanya. Yah, sebut saja Namjoon
serakah.
“Berhenti
melawan appa Choi Sihyun, apa kau
lupa siapa yang sudah membesarkanmu selama ini? Aku tahu, waktu itu kau
menangis karena pernikahan si brengsek ini kan, bukan karena pernikahan
temanmu.” Pada akhirnya Jaekwon pun membuka suara.
Sihyun
tergagap, tidak bisa menyangkal tuduhan Jaekwon. Otaknya tak bisa berpikir
dengan jernih. Ia tak menyangka jika dan kakak akan menelusuri semua itu.
“Aku
benar kan?”
Sihyun
masih tetap diam, hanya isakan yang keluar dari bibirnya.
Srek!
Namjoon
berlutut dihadapan Siwon. Ia tidak bisa terus-terusan berlindung dibelakang
Sihyun. Ia harus berani mengakui semua perbuatannya.
“Ya!
Kim Namjoon apa yang kau lakukan? Bangunlah!” Wanita itu kini berusaha menarik
prianya untuk berdiri. Namun ia begitu lemah, dan tidak bisa mengalahkan tenaga
Namjoon.
“Kubilang
berhenti membelanya Sihyun!” Sang kakak pun beranjak menahan adiknya agar tidak
mendekati Namjoon.
“Lepaskan
aku! Jangan mencegahku oppa!”
Teriaknya.
“Maafkan
aku abeonim, maafkan aku karena telah
meyakiti putrimu. ,aafkan aku karena telah mengingkari janji untuk menjaganya
sehidup semati.”
“HENTIKAN
KIM NAMJOON!” Wanita itu meronta dalam dekapan Jaekwon. Tangisnya sudah tidak
bisa terbendung lagi.
Siwon
menyeringai memandang Namjoon dengan pandangan mengejek. “Kuharap kau tidak
pernah lupa lamaran beranimu di depan banyak orang itu, dan yah kau berhasil
memikatku. Tapi andai saja ku tahu jika ternyata kau akan menyakiti putriku
sedalam ini, aku tidak akan pernah menerimamu sebagai menantu.”
“Appa kumohon
hentikan! Lepaskan aku oppa!”
“Diam Sihyun-ah,
kami melakukannya demi kebaikanmu.”
“Tinggalkan putriku, aku akan segera mengatur
perceraian kalian. Dan jangan pernah menunjukkan dirimu dihadapan kami. Kau
dengar itu?” Lembut namun mematikan. Begitulah cara seorang Choi Siwon
berbicara.
Bagai disambar petir di siang bolong, Sihyun seketika
terbelalak mendengar perkataan Siwon. Ia menggelengkan kepalanya. Tidak, ia
tidak bisa membiarkan pernikahannya kandas di tengah jalan begitu saja.
“Ne,
algeuseubnida.”
“ANDWAE!”
Dengan sekali sentakan, akhirnya Sihyun bisa lepas
dari dekapan Jaekwon. Ia pun segera menarik Namjoon untuk berdiri dan
menuntunnya keluar.
“Sihyun-ah apa yang kau lakukan? Apa kau tidak dengar kata appa?” Namjoon pun menghentikan langkahnya.
Sihyun berbalik menatap pria dihadapannya. Wajahnya
sangat kacau, ditambah jejak air mata yang memenuhi wajah cantiknya.
“Aku tidak mendengar apa-apa, dan aku tidak akan
pernah menyetujui perceraian itu.”
“Jangan seperti ini Sihyun, kau harus mendengarkan
kata appa. Aku bukanlah pria yang
tepat urntukmu.” Ucapnya dengan kedua tangan mengusap pipinya.
“Tidak, aku akan bicara pada appa. Jangan mencegahku.”
“Sihyun hentikan, Choi Sihyun!”
Blam!
Pintu pun tertutup saat Sihyun menghilang dari
pandangannya. Menyisahkan Namjoon dan Raemi yang berada di depan ruangan itu.
“Aku pernah melihatmu dengan wanita itu di Jeju.” Ucap
Raemi tanpa menatap pada Namjoon. Membuat pria itu menoleh dan balas menatap
Raemi.
“Padahal Sihyun begitu dalam mencintaimu, dan kau
dengan mudahnya mengkhianati cinta sucinya.” Raemi menghetikan sejenak
kalimatnya. Mengambil napas dalam sebelum melanjutkannya. “Aku tahu dalam hati
kecilmu pasti kecewa karena Sihyun belum juga memberimu keturunan. Tapi
haruskah kau menyakitinya seperti itu? Apa kau tidak memikirkan bagaimana
perasaan Sihyun? Tenyata aku salah menilaimu sebagai pria baik selama ini.”
Benar ucapan Raemi, pria itu tidak pernah memikirkan
bagaimana perasaan Sihyun jika ia menduakannya. Yang Namjoon tahu hanyalah
kesenangannya sendiri dibalik kekecewaannya pada wanita itu. Dan sialnya, Jaein
muncul dalam kehidupannya disaat rasa kecewanya sedang membuncah. Membuat
pikirannya tidak bisa berpikir jernih.
Disitulah awal dari semua bencana yang disebabkannya.
Terkutuklah kau Kim Namjoon.
__ADS_1
…
5 Maret 2020 - Itsmehyuna_