Our Marriage

Our Marriage
Chapter 21


__ADS_3

Suara


kicau burung mengiringi sang surya yang kini mulai meninggi. Aroma khas embun


pagi pun menguar menyapa indera penciuman Jaein. Gadis itu terlihat tengah


berdiri menikmati suasana pagi.


Beberapa


saat kemudian ia mengalihkan pandangannya pada sosok yang masih setia bergelung


dengan selimut tebal miliknya. Ia pun tersenyum, lantas segera menghampiri


suaminya itu.


Gadis


itu memandang takjub pria yang sudah 2 bulan ini menikahinya. Jaein benar-benar


sangat bersyukur mempunyai suami seperti Namjoon. Selain genius, pria ini


termasuk dalam kategori pria idaman di kampus, jadi gadis ini merasa sangat


beruntung. Yah, meskipun jalan yang dipilihnya bukan jalan yang benar karena


menjalin hubungan dengan pria beristri.


Tapi


walaupun begitu bukan sepenuhnya salah Jaein kan? Karena Namjoon pun juga


sepenuhnya sadar dengan hubungan yang mereka jalani. Pria itu juga menginginkan


dirinya. Jika tidak, mana mungkin sekarang ini Jaein bisa mengandung? Jadi


jangan hanya menyalahkan Jaein.


“Aku


tahu kalau wajahku sangat tampan, tapi bisakah kau tidak memandangnya


terang-terangan seperti itu hum?”


Jaein


tersentak saat mendengar suara Namjoon. Gadis itu terlalu larut memandang wajah


suaminya sehingga tidak menyadari bahwa pria itu telah membuka matanya.


“Ck!


Tidak, siapa yang sedang memandang oppa,


aku baru saja ingin membangunkanmu.” Jaein mengelak dan membuat Namjoon


tersenyum jail.


Pria


itu pun menarik sang istri kedalam pelukannya, membuat Jaein sukses terbelalak.


Gadis itu pun refleks menjauhkan wajahnya karena malu. Dan Namjoon yang


mengetahuinya pun tersenyum puas.


“Kau


tidak bisa membohongiku sayang, lihatlah wajah merahmu itu.” Ejek Namjoon


berhasil membuat Jaein berdecak sebal.


“Iya-iya


aku ketahuan memandangimu diam-diam, sudah kan? Aku sudah mengakuinya, sekarang


lepaskan aku, oppa harus mandi.”


“Kalau


aku tidak mau bagaimana?”


Jaein


menyeringai memandang Namjoon. “Aku akan memanggil Sihyun eonni kemari tentu saja. Bagaimana? Masih tidak mau mandi?”


Namjoon


pun segera beranjak dari tempatnya. “Ck! Baiklah aku mandi, dasar licik.”


Omelnya. Tidak lupa mencuri satu kecupan dari bibir Jaein sebelum menuju kamar


mandi.


“Yak oppa!”



“Hari


ini Jaein ada jadwal periksa kandungan Joon, kau bisa menemaninya kan nanti


siang?”


Namjoon


yang tengah menikmati sandwich pun sontak menoleh kearah sumber suara.


“Siang


ini?” Sihyun mengangguk.


“Wae? Kenapa kau terkejut seperti itu?


Bukankah Jaein sudah memberitahumu kemarin?”


Pria


itu menggelengkan kepalanya. Sihyun pun mengalihkan pandangannya pada Jaein


yang berada disampingnya.


Jaein


mengerucutkan bibirnya. “Mianhae eonni,


aku lupa mengatakannya.”


Sihyun


menghela napas. “aniya gwaenchana Jaein-ah. Jadi bagaimana Joon, kau tidak ada


jadwal kan siang ini?”


“Maaf


sayang, aku sudah terlanjur menerima ajakan makan siang Jaekwon hyung, jadi aku tidak bisa menemaninya.”


Ucapnya penuh sesal.


“Bagaimana


ini?” Gumam Jaein.


“Ah gwaenchana eonni, aku bisa pergi


sendiri.” Ucap Jaein menyela.


“Mana


bisa begitu Jaein-ah, kau akan pergi


denganku kalau begitu. Aku akan mengosongkan jadwalku siang nanti.”


“Tapi


aku akan merepotkanmu eonni,”


Sihyun


tersenyum simpul memandang Jaein. “Tidak, aku kan sudah berjanji untuk


menjagamu. Jadi jangan pernah merasa sungkan.”



“Tidak


ada yang ketinggalan kan?” Tanya Sihyun pada Jaein yang berjalan disampingnya.


Jaein menggeleng setelah memeriksa paper


bag yang tengah ia bawa.


“Vitamin


dan obatmu sudah kan?”


“Sudah eonni, astaga kalau begini kau


terlihat seperti eomma, cerewet


sekali.” Guraunya.


“Ya!


Aku memang harus cerewet, karena kalau tidak kau ceroboh lagi.” Jawaban Sihyun


sontak membuat Jaein tersenyum malu.


“Hey


Park Jaein…”


Keduanya


menoleh saat mendengar seseorang memanggil nama Jaein. Dan benar saja, seorang


dokter muda kini tengah berjalan menghampiri mereka berdua.


Sihyun


mengerutkan kening heran. “Temanmu Jaein-ah?”


Jaein


pun mengangguk. “Eoh, dia seniorku di kampus eonni.” Jawabnya.


Drrtt… drrtt… drrtt…


Sihyun

__ADS_1


segera memeriksa ponselnya yang berdering. Dan terlihat nama Raemi di layarnya.


“Jaein-ah sebentar ya, kau bicaralah dengan


temanmu dulu, aku mau mengangkat telepon.” Pamit Sihyun sebelum beranjak


meninggalkan Jaein.


“Ne eonni, ada apa? Apa kau ingin


menitipkan Minji lagi?” Godanya sebelum sempat mendengar suara Raemi.


‘Aniya, tapi


bisakah sekarang kau datang kemari?’


“Kemana?


Ada apa memangnya?”


‘Tidak, hanya makan siang keluarga, suamimu juga


sedang menuju kemari. Ruang VIP, cepatlah datang eoh.’


“Tapi eonni...”


Tut… tut… tut…


Sambungan


terputus begitu saja sebelum Sihyun bisa melayangkan protesnya. Ia benar-benar


heran dengan kakak iparnya yang tidak terduga ini.


“Kenapa


mengadakan makan siang keluarga tanpa memberitahuku sebelumnya? Mendadak


sekali!” Sihyun pun menggerutu dan kembali menghampiri Jaein.


“Sampai


jumpa lagi Jaein-ah.” Pamit sang


dokter muda pada Jaein. Dan tidak lupa menundukkan kepala pada Sihyun. Sihyun


pun membalasnya dengan senyuman.


“Eonni sudah selesai?” Tanya Jaein.


Sihyun


menganggukkan kepalanya. “Tapi maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang, ada


urusan mendadak. Tidak apa-apa kan kalau kau pulang sendiri?”


“Gwaenchana eonni, lagi pula aku sudah


merepotkanmu hari ini.” Jawabnya.


“Ah


baiklah, aku akan memesankan taksi untukmu. Hati-hati dijalan Jaein-ah.”


“Eoh eonni.”



“Selamat


datang nona muda, Presdir dan tuan muda berada di suit room.”


Sihyun


tersenyum pada seorang waiter yang


tengah menyapanya. “Baiklah, trimakasih.” Wanita itu pun melangkahkan kakinya


menuju ruangan yang dimaksud pelayan tadi. Meskipun sedikit bingung karena


tidak biasanya sang ayah memilih suit


room untuk acara makan keluarga seperti ini.


“Ah


mungkin saja mereka ingin lebih privat.”


Sihyun pun mulai bermonolog.


Benar


saja, beberapa saat kemudian ia melihat Raemi sedang berdiri menunggunya di


depan ruangan.


“Eonni…”


Mendengar


sapaan sang adik, Raemi segera berjalan menghampirinya. Sedangkan Sihyun


terheran dengan sikap yang ditunjukkan Raemi.


“Sihyun-ah, apa kau tahu sesuatu? Apa kau


sengaja menyembunyikannya dari kami?”


Sihyun


“Pernikahan


Namjoon.”


Sontak


saja Sihyun tersentak dengan apa yang baru saja kakak iparnya katakan. Wajahnya


seketika menegang, dan lehernya tercekat saat Raemi memergoki rahasia


terbesarnya.


“Ah


benar kau mengetahuinya kan?”


Wanita


itu langsung saja melenggang memasuki ruangan dihadapannya tanpa berniat untuk


menjawab pertanyaan Raemi. Firasatnya mengatakan jika saat ini sang ayah pasti


sedang memarahi Namjoon habis-habisan. Dan Sihyun tidak akan membiarkan hal itu


terjadi.


“Ya!


Sihyun-ah tunggu!”


Brak!


“Apa


kau pikir istriku melahirkan Sihyun untuk kau sakiti semudah itu Kim Namjoon?”


Sang ayah berteriak murka.


Ia


melihat Namjoon hanya bisa menunduk tanpa berkata-kata dengan sudut bibir yang


sudah berdarah. Pasti ayahnya telah menghajar pria itu.


“Apa


kau sudah kehilangan akal hah?!” Tangan Siwon terayun ingin menampar Namjoon.


“Andwae appa!” Sihyun pun dengan segera


menghadang di depan tubuh suaminya.


Plak!


“Sihyun-ah!”


“Sihyun-ah!”


Namjoon


dan Siwon berseru bersamaan karena pipi Sihyunlah yang menjadi sasaran tamparan


Siwon.


“Apa


yang kau lakukan disini?”


“Hentikan appa kumohon, semua ini bukan salah


Namjoon, akulah yang telah menyuruhnya menikah lagi.” Bela Sihyun dengan suara


bergetar. Air matanya menetes membasahi pipinya yang memerah akibat tamparan


sang ayah.


“Sihyun-ah hentikan, jangan melawan ayahmu.”


Namjoon pun menahan Sihyun, namun wanita itu menepis tangan Namjoon begitu


saja.


“Berhentilah


membela pria hidung belang ini Choi Sihyun, kau dengar apa katanya kan? Pria


seperti itu tidak perlu kau bela sayang.”


“Sungguh


akulah yang salah appa, aku yang


menyuruhnya menikah lagi. Aku muak karena selama ini belum bisa memberinya


keturunan. Jangan menyalahkan Namjoon.” Isakan Sihyun pun semakin menjadi. Air


matanya semakin deras.


“Sihyun-ah…”


“Diamlah

__ADS_1


Kim Namjoon biarkan aku bicara!”


Belum


sempat Namjoon melanjutkan kalimatnya, Sihyun sudah memotongnya dengan sedikit


sentakan. Hal itu membuat Namjoon terheran, karena selama ini ia tidak pernah


melihat Sihyun seperti itu. Ah tidak juga, ia pernah melihatnya saat wanita itu


memergokinya sedang menghubungi Jaein.


“Tidak, appa tidak akan mendengarkan apa-apa


lagi darimu. Tinggalkan pria itu! Putriku terlalu berharga untuk pria brengsek


seperti dia.”


“Aniya! Kali ini aku tidak akan menuruti appa, aku tidak akan meninggalkan


Namjoon apapun alasannya. Aku sangat mencintainya appa.”


Namjoon


seakan dihantam batuan besar saat mendengar perkataan Sihyun. Dalam situasi


seperti ini, wanita itu bersikeras membelanya. Padahal ia hanya bisa memberikan


Sihyun rasa sakit yang mungkin tidak akan pernah bisa hilang dalam hatinya.


Ingin


sekali ia mengatakan ‘jangan lagi membela


pria brengsek ini’ atau mungkin ‘tinggalkan


saja aku, masih ada banyak pria yang lebih baik dariku’, namun lidahnya


kelu. Pria itu terlalu pengecut untuk melakukannya. Dalam hatinya ia tidak mau


kehilangan Sihyun. Egois memang, tapi begitulah adanya. Yah, sebut saja Namjoon


serakah.


“Berhenti


melawan appa Choi Sihyun, apa kau


lupa siapa yang sudah membesarkanmu selama ini? Aku tahu, waktu itu kau


menangis karena pernikahan si brengsek ini kan, bukan karena pernikahan


temanmu.” Pada akhirnya Jaekwon pun membuka suara.


Sihyun


tergagap, tidak bisa menyangkal tuduhan Jaekwon. Otaknya tak bisa berpikir


dengan jernih. Ia tak menyangka jika dan kakak akan menelusuri semua itu.


“Aku


benar kan?”


Sihyun


masih tetap diam, hanya isakan yang keluar dari bibirnya.


Srek!


Namjoon


berlutut dihadapan Siwon. Ia tidak bisa terus-terusan berlindung dibelakang


Sihyun. Ia harus berani mengakui semua perbuatannya.


“Ya!


Kim Namjoon apa yang kau lakukan? Bangunlah!” Wanita itu kini berusaha menarik


prianya untuk berdiri. Namun ia begitu lemah, dan tidak bisa mengalahkan tenaga


Namjoon.


“Kubilang


berhenti membelanya Sihyun!” Sang kakak pun beranjak menahan adiknya agar tidak


mendekati Namjoon.


“Lepaskan


aku! Jangan mencegahku oppa!”


Teriaknya.


“Maafkan


aku abeonim, maafkan aku karena telah


meyakiti putrimu. ,aafkan aku karena telah mengingkari janji untuk menjaganya


sehidup semati.”


“HENTIKAN


KIM NAMJOON!” Wanita itu meronta dalam dekapan Jaekwon. Tangisnya sudah tidak


bisa terbendung lagi.


Siwon


menyeringai memandang Namjoon dengan pandangan mengejek. “Kuharap kau tidak


pernah lupa lamaran beranimu di depan banyak orang itu, dan yah kau berhasil


memikatku. Tapi andai saja ku tahu jika ternyata kau akan menyakiti putriku


sedalam ini, aku tidak akan pernah menerimamu sebagai menantu.”


“Appa kumohon


hentikan! Lepaskan aku oppa!”


“Diam Sihyun-ah,


kami melakukannya demi kebaikanmu.”


“Tinggalkan putriku, aku akan segera mengatur


perceraian kalian. Dan jangan pernah menunjukkan dirimu dihadapan kami. Kau


dengar itu?” Lembut namun mematikan. Begitulah cara seorang Choi Siwon


berbicara.


Bagai disambar petir di siang bolong, Sihyun seketika


terbelalak mendengar perkataan Siwon. Ia menggelengkan kepalanya. Tidak, ia


tidak bisa membiarkan pernikahannya kandas di tengah jalan begitu saja.


“Ne,


algeuseubnida.”


“ANDWAE!”


Dengan sekali sentakan, akhirnya Sihyun bisa lepas


dari dekapan Jaekwon. Ia pun segera menarik Namjoon untuk berdiri dan


menuntunnya keluar.


“Sihyun-ah apa yang kau lakukan? Apa kau tidak dengar kata appa?” Namjoon pun menghentikan langkahnya.


Sihyun berbalik menatap pria dihadapannya. Wajahnya


sangat kacau, ditambah jejak air mata yang memenuhi wajah cantiknya.


“Aku tidak mendengar apa-apa, dan aku tidak akan


pernah menyetujui perceraian itu.”


“Jangan seperti ini Sihyun, kau harus mendengarkan


kata appa. Aku bukanlah pria yang


tepat urntukmu.” Ucapnya dengan kedua tangan mengusap pipinya.


“Tidak, aku akan bicara pada appa. Jangan mencegahku.”


“Sihyun hentikan, Choi Sihyun!”


Blam!


Pintu pun tertutup saat Sihyun menghilang dari


pandangannya. Menyisahkan Namjoon dan Raemi yang berada di depan ruangan itu.


“Aku pernah melihatmu dengan wanita itu di Jeju.” Ucap


Raemi tanpa menatap pada Namjoon. Membuat pria itu menoleh dan balas menatap


Raemi.


“Padahal Sihyun begitu dalam mencintaimu, dan kau


dengan mudahnya mengkhianati cinta sucinya.” Raemi menghetikan sejenak


kalimatnya. Mengambil napas dalam sebelum melanjutkannya. “Aku tahu dalam hati


kecilmu pasti kecewa karena Sihyun belum juga memberimu keturunan. Tapi


haruskah kau menyakitinya seperti itu? Apa kau tidak memikirkan bagaimana


perasaan Sihyun? Tenyata aku salah menilaimu sebagai pria baik selama ini.”


Benar ucapan Raemi, pria itu tidak pernah memikirkan


bagaimana perasaan Sihyun jika ia menduakannya. Yang Namjoon tahu hanyalah


kesenangannya sendiri dibalik kekecewaannya pada wanita itu. Dan sialnya, Jaein


muncul dalam kehidupannya disaat rasa kecewanya sedang membuncah. Membuat


pikirannya tidak bisa berpikir jernih.


Disitulah awal dari semua bencana yang disebabkannya.


Terkutuklah kau Kim Namjoon.

__ADS_1



5 Maret 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2