Our Marriage

Our Marriage
Chapter 28


__ADS_3

Sudah


menjadi rutinitas Sihyun untuk terbangun tengah malam seperti ini. Dengan


melawan rasa kantuknya sendiri, wanita itu sibuk mengaduk susu hamil untuk


diminumnya. Ia memang sengaja meminumnya saat semua orang di rumah besar Kim


sudah terlelap, dan tanpa penerangan agar rahasia besarnya tidak terbongkar.


Terhitung


sudah tujuh bulan lamanya ia melakukan rutinitas seperti ini. Meskipun sakit


karena harus membesarkan calon buah hatinya sendiri, ia sama sekali tidak


menyesali keputusannya. Pada dasarnya ia melakukan semua ini demi bayinya.


Ia


mengusap perutnya yang semakin hari semakin membuncit dibalik sweater longgarnya. Ia menyunggingkan


senyum ketika merasakan pergerakan dari bayinya. Benar-benar terharu, mengingat


bagaimana sulitnya melalui delapan bulan kehamilannya. “Aegi-ya, apa kau sudah tidak sabar ingin bertemu eomma sampai menendang dengan


bersemangat? Eomma juga tidak sabar


ingin bertemu denganmu.”


Sebenarnya


ia sudah melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin bayinya. Namun, entah


kenapa ia malah menolak saat Hoseok ingin memberitahunya. Menurutnya lebih baik


jika ia mengetahuinya saat persalinan.


“Hanya


tinggal satu bulan lagi kita akan bertemu sayang,” ucap Sihyun. Wanita itu pun


kembali meminum susu miliknya.


Cklek!


Sihyun


terkesiap saat lampu di dapur tiba-tiba menyala. Ia menoleh, dan semakin


terkejut saat mendapati Jaein yang kini sudah berjalan ke arahnya.


“Eoh, Jaein-ah, Membuat susu untuk Nami ya?” tanya Sihyun tergagap. Wanita itu


benar-benar tidak menduga jika Jaein akan datang. Tiba-tiba saja jantungnya


berdetak tak karuan, seperti pencuri yang ketahuan oleh pemilik rumah.


Gadis


itu hanya mengangguk sembari membuatkan susu untuk bayinya. “Eonni sedang apa di sini?”


Kini


Sihyun terlihat kebingungan akan pertanyaan yang Jaein ajukan. Namun, wanita


itu tetap memasang raut wajah sebiasa mungkin agar Jaein tidak mencurigainya.


“Aku sangat haus tadi, makanya aku kemari.”


“Ah


begitukah? Lalu kenapa kau malah meminum susu hamilku eonni?”


Sontak


saja wajah Sihyun menegang seketika. Ia melirik ke atas meja. Lantas menemukan


kotak susu hamilnya yang lupa ia simpan kembali. “Eoh, ini‒”


“Sayang


kenapa lama sekali?”


Perhatian


Jaein pun kini tertuju pada Namjoon yang baru saja memasuki dapur. Dengan Nami


di gendongannya yang tengah merengek. “Aigoo,


Nami-ya, maafkan eomma sudah membuatmu menunggu lama,” ujar Jaein. Gadis itu


mengambil alih Nami, lantas segera memberikan susu untuknya. Sedangkan Sihyun


hanya bisa berdiam diri melihat pemandangan tersebut.


Iri?


Tentu saja. Pada dasarnya ia sudah lama menginginkan berada di posisi Jaein.


Namun, Tuhan berkehendak lain. Hadiah Sihyun datang lebih lama dari yang ia


inginkan.


“Kalau


begitu aku akan kembali ke kamar,” pamit Sihyun.


Namjoon


hanya bisa menatap istrinya menjauh tanpa bisa menjangkaunya. Semuanya kacau


karena dirinya. Maafkan aku Kim Sihyun.


Semoga di kehidupan mendatang kau tidak bertemu dengan pria jahat sepertiku


lagi.

__ADS_1



Sihyun


menghela napas lega karena berhasil menghindari pertanyaan Jaein. Namun, ia


berani menjamin jika gadis itu pasti akan kembali bertanya suatu saat nanti.


Saat itulah Sihyun harus kembali berpikir keras untuk menjawabnya.


“Aku


harus menyembunyikan semuanya sebelum Jaein semakin curiga. Tapi bagaimana


caranya?” gumamnya yang kini sudah berada di dalam kamar.


“Sihyun-ah, kau sudah tidur?”


Sontak


saja Sihyun terkesiap saat mendengar suara Namjoon yang tiba-tiba memanggilnya.


Beruntung ia sempat mengunci pintu, sehingga Namjoon tidak bisa langsung masuk


ke dalam.


Ia


tak berniat menjawab. Untuk beberapa saat, maniknya hanya terpaku menatap ke arah


pintu yang ada Namjoon di baliknya.


“Sepertinya


kau sudah tidur ya? Selamat malam sayang,” ucap Namjoon sebelum Sihyun


mendengar langkahnya menjauh.


Tanpa


di sadari, jarak di antara mereka semakin menjauh. Tak ada lagi pillow talk yang biasa mereka lakukan


untuk mengurangi rasa lelah. Bahkan ia pun kini sudah jarang mengurus suaminya.


Bukan karena tak peduli, hanya saja pekerjaan itu sekarang sudah diambil alih


oleh Jaein. Kenapa kita harus melalui


semua ini Joon-ah?



“Apa


kau sudah akan berangkat ke café?” tanya Yo Won yang sedang menyantap sarapan


miliknya.


Pagi


sudah berangkat ke kantor, begitu pula dengan Namjoon. Pria itu sering kali


berangkat lebih pagi dari biasanya, bahkan ia sering melewatkan sarapan, karena


lebih mementingkan pekerjaannya yang menumpuk di kantor.


“Iya eomma, ada laporan yang harus aku


kerjakan hari ini,” jawab Sihyun. Wanita itu melirik kilas pada Jaein,


takut-takut gadis itu akan mengingat kejadian tadi malam. Namun, sepertinya


Jaein telah melupakannya begitu saja.


“Walaupun


kau sibuk mengurus pekerjaan, jangan melewatkan makan Sihyun-ah,” tutur sang ibu. Membuat Sihyun


hanya bisa tersenyum dan mengangguk patuh. Sudah menjadi kebiasaan buruk Sihyun


memang, di saat serius mengerjakan sesuatu ia tidak akan mengingat hal lain,


termasuk makan sekalipun.


“Kalau


begitu aku berangkat dulu eomma.”


Setelah


berpamitan, ia pun segera beranjak meninggalkan ruang makan. Begitu telah


mencapai pintu utama, ia terkesiap saat melihat seseorang telah berdiri di


sana, hendak menekan bel.


“Ah


maafkan aku noona, aku pasti


membuatmu terkejut ya?”


“Eoh, gwaenchana,”


jawab Sihyun ragu. Wanita itu mencoba mengingat siapa pria yang sedang ada di hadapannya


itu. Karena menurut Sihyun wajahnya terlihat tidak asing.


“Noona tidak mengingatku? Aku teman


Jaein, kita pernah bertemu sebelumnya saat di rumah sakit,” jelasnya. Seketika


membuat Sihyun mengingatnya.


“Ah,


aku ingat sekarang, kau dokter muda itu kan?” tebaknya. “Masuklah, aku akan

__ADS_1


memanggilkan Jaein kalau begitu.”



Jaein


terperangah tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Ia tidak menyangka


jika teman yang di maksud Sihyun tadi adalah si pria brengsek Kim Seokjin.


Jaein heran, bagaimana bisa ia menemukan alamat rumah ayah Kim. Kini terlihat


pria itu tengah menyeringai puas pada Jaein, dan berjalan menghampirinya.


“Kenapa


wajahmu terkejut begitu?” ucapnya berbisik.


Sedangkan


Jaein hanya menatapnya tajam. “Apa kau sadar, kau ada dimana? Berani sekali kau


datang kemari?”


“Memangnya


salah jika aku ingin melihat keadaan putriku sendiri?”


“Siapa


itu Jaein-ah?” Sontak saja Jaein dan


Seokjin menoleh saat mendengar suara Yo Won memecah perdebatan mereka. Wajah Jaein


pun menegang seketika.


“Eoh, dokter Kim datang untuk memeriksa


keadaan Nami, eomma. Tadi aku memang sengaja


memanggilnya,” jelas Jaein berbohong. Membuat Seokjin tersenyum sinis mendengar


kebohongan gadis itu. “Kalau begitu kita ke kamar sekarang dokter Kim,” ajak


Jaein sebelum Yo Won kembali melemparkan pertanyaan yang bisa menyudutkannya.


“Apa


kau gila Kim Seokjin?!” umpat Jaein begitu telah berada di dalam kamarnya.


“Sudah


ku bilang kan, aku akan melakukan apa saja untuk membawamu kembali kepadaku,”


ungkap Seokjin enteng. Seketika membuat Jaein tertawa hambar.


“Apa


perlu aku mengingatkanmu bagaimana kau membuangku saat itu? Ah, dan bahkan kau


tidak mau mengakui bayimu sendiri. Kau malah menuduhku melakukannya dengan pria


lain.”


“Jaein-ah, kau tahu kan saat itu aku sedang


tidak bisa berpikir dengan jernih karena tugas akhir. Ku harap kau bisa


mengerti,” jelas Seokjin. Kini pria itu malah berjalan menghampiri Nami yang


sedang tertidur dengan damai di dalam box-nya.


“Wah lihatlah, dia persis sekali sepertiku.”


“Setelah


semua yang kau lakukan padaku saat itu, sekarang kau memujinya sepertimu? Kau


benar-benar tidak tahu malu Kim Seokjin!”


Pria


bernama Kim Seokjin itupun kembali menoleh menatap Jaein, dan berjalan


menghampirinya. Tangannya terulur untuk menangkup kedua sisi wajah gadis itu.


Sorot matanya pun menyiratkan kesungguhan. “Aku tidak main-main dengan ucapanku


nona Park. Sekali aku menginginkanmu, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu


bisa kembali padaku.”


Jaein


terkejut dengan perubahan sikap Seokjin, karena sebelumnya ia tak pernah


melihat Seokjin berbicara seperti itu. “Kau benar akan melakukan apapun?”


Seokjin


mengangguk. “Aku sangat bersungguh-sungguh,” tegasnya.


“Kalau


begitu lakukan sesuatu untukku.”


“Apa


itu?”


“Kau


harus mengikuti kemanapun Sihyun eonni pergi.”



10 April 2020 - Itsmehyuna_

__ADS_1


__ADS_2