
Sudah
menjadi rutinitas Sihyun untuk terbangun tengah malam seperti ini. Dengan
melawan rasa kantuknya sendiri, wanita itu sibuk mengaduk susu hamil untuk
diminumnya. Ia memang sengaja meminumnya saat semua orang di rumah besar Kim
sudah terlelap, dan tanpa penerangan agar rahasia besarnya tidak terbongkar.
Terhitung
sudah tujuh bulan lamanya ia melakukan rutinitas seperti ini. Meskipun sakit
karena harus membesarkan calon buah hatinya sendiri, ia sama sekali tidak
menyesali keputusannya. Pada dasarnya ia melakukan semua ini demi bayinya.
Ia
mengusap perutnya yang semakin hari semakin membuncit dibalik sweater longgarnya. Ia menyunggingkan
senyum ketika merasakan pergerakan dari bayinya. Benar-benar terharu, mengingat
bagaimana sulitnya melalui delapan bulan kehamilannya. “Aegi-ya, apa kau sudah tidak sabar ingin bertemu eomma sampai menendang dengan
bersemangat? Eomma juga tidak sabar
ingin bertemu denganmu.”
Sebenarnya
ia sudah melakukan USG untuk mengetahui jenis kelamin bayinya. Namun, entah
kenapa ia malah menolak saat Hoseok ingin memberitahunya. Menurutnya lebih baik
jika ia mengetahuinya saat persalinan.
“Hanya
tinggal satu bulan lagi kita akan bertemu sayang,” ucap Sihyun. Wanita itu pun
kembali meminum susu miliknya.
Cklek!
Sihyun
terkesiap saat lampu di dapur tiba-tiba menyala. Ia menoleh, dan semakin
terkejut saat mendapati Jaein yang kini sudah berjalan ke arahnya.
“Eoh, Jaein-ah, Membuat susu untuk Nami ya?” tanya Sihyun tergagap. Wanita itu
benar-benar tidak menduga jika Jaein akan datang. Tiba-tiba saja jantungnya
berdetak tak karuan, seperti pencuri yang ketahuan oleh pemilik rumah.
Gadis
itu hanya mengangguk sembari membuatkan susu untuk bayinya. “Eonni sedang apa di sini?”
Kini
Sihyun terlihat kebingungan akan pertanyaan yang Jaein ajukan. Namun, wanita
itu tetap memasang raut wajah sebiasa mungkin agar Jaein tidak mencurigainya.
“Aku sangat haus tadi, makanya aku kemari.”
“Ah
begitukah? Lalu kenapa kau malah meminum susu hamilku eonni?”
Sontak
saja wajah Sihyun menegang seketika. Ia melirik ke atas meja. Lantas menemukan
kotak susu hamilnya yang lupa ia simpan kembali. “Eoh, ini‒”
“Sayang
kenapa lama sekali?”
Perhatian
Jaein pun kini tertuju pada Namjoon yang baru saja memasuki dapur. Dengan Nami
di gendongannya yang tengah merengek. “Aigoo,
Nami-ya, maafkan eomma sudah membuatmu menunggu lama,” ujar Jaein. Gadis itu
mengambil alih Nami, lantas segera memberikan susu untuknya. Sedangkan Sihyun
hanya bisa berdiam diri melihat pemandangan tersebut.
Iri?
Tentu saja. Pada dasarnya ia sudah lama menginginkan berada di posisi Jaein.
Namun, Tuhan berkehendak lain. Hadiah Sihyun datang lebih lama dari yang ia
inginkan.
“Kalau
begitu aku akan kembali ke kamar,” pamit Sihyun.
Namjoon
hanya bisa menatap istrinya menjauh tanpa bisa menjangkaunya. Semuanya kacau
karena dirinya. Maafkan aku Kim Sihyun.
Semoga di kehidupan mendatang kau tidak bertemu dengan pria jahat sepertiku
lagi.
__ADS_1
…
Sihyun
menghela napas lega karena berhasil menghindari pertanyaan Jaein. Namun, ia
berani menjamin jika gadis itu pasti akan kembali bertanya suatu saat nanti.
Saat itulah Sihyun harus kembali berpikir keras untuk menjawabnya.
“Aku
harus menyembunyikan semuanya sebelum Jaein semakin curiga. Tapi bagaimana
caranya?” gumamnya yang kini sudah berada di dalam kamar.
“Sihyun-ah, kau sudah tidur?”
Sontak
saja Sihyun terkesiap saat mendengar suara Namjoon yang tiba-tiba memanggilnya.
Beruntung ia sempat mengunci pintu, sehingga Namjoon tidak bisa langsung masuk
ke dalam.
Ia
tak berniat menjawab. Untuk beberapa saat, maniknya hanya terpaku menatap ke arah
pintu yang ada Namjoon di baliknya.
“Sepertinya
kau sudah tidur ya? Selamat malam sayang,” ucap Namjoon sebelum Sihyun
mendengar langkahnya menjauh.
Tanpa
di sadari, jarak di antara mereka semakin menjauh. Tak ada lagi pillow talk yang biasa mereka lakukan
untuk mengurangi rasa lelah. Bahkan ia pun kini sudah jarang mengurus suaminya.
Bukan karena tak peduli, hanya saja pekerjaan itu sekarang sudah diambil alih
oleh Jaein. Kenapa kita harus melalui
semua ini Joon-ah?
…
“Apa
kau sudah akan berangkat ke café?” tanya Yo Won yang sedang menyantap sarapan
miliknya.
Pagi
sudah berangkat ke kantor, begitu pula dengan Namjoon. Pria itu sering kali
berangkat lebih pagi dari biasanya, bahkan ia sering melewatkan sarapan, karena
lebih mementingkan pekerjaannya yang menumpuk di kantor.
“Iya eomma, ada laporan yang harus aku
kerjakan hari ini,” jawab Sihyun. Wanita itu melirik kilas pada Jaein,
takut-takut gadis itu akan mengingat kejadian tadi malam. Namun, sepertinya
Jaein telah melupakannya begitu saja.
“Walaupun
kau sibuk mengurus pekerjaan, jangan melewatkan makan Sihyun-ah,” tutur sang ibu. Membuat Sihyun
hanya bisa tersenyum dan mengangguk patuh. Sudah menjadi kebiasaan buruk Sihyun
memang, di saat serius mengerjakan sesuatu ia tidak akan mengingat hal lain,
termasuk makan sekalipun.
“Kalau
begitu aku berangkat dulu eomma.”
Setelah
berpamitan, ia pun segera beranjak meninggalkan ruang makan. Begitu telah
mencapai pintu utama, ia terkesiap saat melihat seseorang telah berdiri di
sana, hendak menekan bel.
“Ah
maafkan aku noona, aku pasti
membuatmu terkejut ya?”
“Eoh, gwaenchana,”
jawab Sihyun ragu. Wanita itu mencoba mengingat siapa pria yang sedang ada di hadapannya
itu. Karena menurut Sihyun wajahnya terlihat tidak asing.
“Noona tidak mengingatku? Aku teman
Jaein, kita pernah bertemu sebelumnya saat di rumah sakit,” jelasnya. Seketika
membuat Sihyun mengingatnya.
“Ah,
aku ingat sekarang, kau dokter muda itu kan?” tebaknya. “Masuklah, aku akan
__ADS_1
memanggilkan Jaein kalau begitu.”
…
Jaein
terperangah tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Ia tidak menyangka
jika teman yang di maksud Sihyun tadi adalah si pria brengsek Kim Seokjin.
Jaein heran, bagaimana bisa ia menemukan alamat rumah ayah Kim. Kini terlihat
pria itu tengah menyeringai puas pada Jaein, dan berjalan menghampirinya.
“Kenapa
wajahmu terkejut begitu?” ucapnya berbisik.
Sedangkan
Jaein hanya menatapnya tajam. “Apa kau sadar, kau ada dimana? Berani sekali kau
datang kemari?”
“Memangnya
salah jika aku ingin melihat keadaan putriku sendiri?”
“Siapa
itu Jaein-ah?” Sontak saja Jaein dan
Seokjin menoleh saat mendengar suara Yo Won memecah perdebatan mereka. Wajah Jaein
pun menegang seketika.
“Eoh, dokter Kim datang untuk memeriksa
keadaan Nami, eomma. Tadi aku memang sengaja
memanggilnya,” jelas Jaein berbohong. Membuat Seokjin tersenyum sinis mendengar
kebohongan gadis itu. “Kalau begitu kita ke kamar sekarang dokter Kim,” ajak
Jaein sebelum Yo Won kembali melemparkan pertanyaan yang bisa menyudutkannya.
“Apa
kau gila Kim Seokjin?!” umpat Jaein begitu telah berada di dalam kamarnya.
“Sudah
ku bilang kan, aku akan melakukan apa saja untuk membawamu kembali kepadaku,”
ungkap Seokjin enteng. Seketika membuat Jaein tertawa hambar.
“Apa
perlu aku mengingatkanmu bagaimana kau membuangku saat itu? Ah, dan bahkan kau
tidak mau mengakui bayimu sendiri. Kau malah menuduhku melakukannya dengan pria
lain.”
“Jaein-ah, kau tahu kan saat itu aku sedang
tidak bisa berpikir dengan jernih karena tugas akhir. Ku harap kau bisa
mengerti,” jelas Seokjin. Kini pria itu malah berjalan menghampiri Nami yang
sedang tertidur dengan damai di dalam box-nya.
“Wah lihatlah, dia persis sekali sepertiku.”
“Setelah
semua yang kau lakukan padaku saat itu, sekarang kau memujinya sepertimu? Kau
benar-benar tidak tahu malu Kim Seokjin!”
Pria
bernama Kim Seokjin itupun kembali menoleh menatap Jaein, dan berjalan
menghampirinya. Tangannya terulur untuk menangkup kedua sisi wajah gadis itu.
Sorot matanya pun menyiratkan kesungguhan. “Aku tidak main-main dengan ucapanku
nona Park. Sekali aku menginginkanmu, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu
bisa kembali padaku.”
Jaein
terkejut dengan perubahan sikap Seokjin, karena sebelumnya ia tak pernah
melihat Seokjin berbicara seperti itu. “Kau benar akan melakukan apapun?”
Seokjin
mengangguk. “Aku sangat bersungguh-sungguh,” tegasnya.
“Kalau
begitu lakukan sesuatu untukku.”
“Apa
itu?”
“Kau
harus mengikuti kemanapun Sihyun eonni pergi.”
…
10 April 2020 - Itsmehyuna_
__ADS_1