Our Marriage

Our Marriage
Chapter 8


__ADS_3

“Sudah ku bilang kan,


jangan meneleponku duluan saat aku ada di rumah.”


Sihyun mengerutkan


alis begitu ia keluar dari kamar mandi, lantas memandang suaminya yang sedang


menerima telepon, dan berjalan terburu-buru. Heran saja, kenapa pria itu


melarang seseorang itu untuk menghubungnya saat tengah berada di rumah.


Akhirnya Sihyun


memutuskan untuk mengikuti pria itu. karena menurutnya, Namjoon tidak pernah


seperti ini sebelumnya, tapi entahlah, instingnya memaksa untuk menguping


pembicaraan suaminya.


“Iya aku tahu sayang, tapi tetap saja nanti


Sihyun bisa mendengar.”


Sontak saja mata


Sihyun membulat sempurna saat Namjoon menyebutkan namanya. Dan lagi jika ia tak


salah dengar, Namjoon memanggil orang itu sayang? Segera saja ia menggelengkan


kepala menepis semua pemikiran buruk di kepalanya. Tidak mungkin Namjoon


mengkhianatinya.


Ia pun kembali


memandang Namjoon, dan memusatkan pendengarannya pada pembicaraan suaminya.


“Yasudah kau sudah mendengar suaraku kan,


sekarang tidurlah karena udara malam tidak baik untuk ibu hamil. Nado saranghae Jaein-ah.”


Sihyun menganga tidak


percaya. Dadanya bergemuruh bagai diterpa badai. Matanya pun memanas menahan


cairan yang ingin keluar dari sudut matanya.


Dugaannya selama ini


benar, pria itu mempunyai wanita lain di luar sana, dan sedang hamil? Ia


benar-benar tidak percaya Namjoon akan melakukan semua ini, melanggar janji


suci yang pernah ia ucapkan tiga tahun yang lalu.


Kemudian ia menatap


pria itu berbalik dengan senyum merekah di bibirnya. Bagaimana bisa pria itu


menyunggingkan senyum seindah itu setelah berbicara dengan wanita lain.


Sedangkan pada dirinya, jangankan untuk tersenyum, menjawab pertanyaan Sihyun


tadi saja pria itu nampak enggan.


“Nado


saranghae?”


Terlihat sekali


Namjoon sangat terkejut dengan kehadiran Sihyun yang sudah berada di


hadapannya.


“Sa-sayang, sejak kapan kau ada di situ?” Pria


itu kikuk. Hal tersebut pun semakin membuat Sihyun yakin jika pria itu memang


telah menduakannya.


“Wae? Apa kau takut aku akan mendengar percakapanmu?” sindir Sihyun.


Namjoon terlihat


panik. Lantas segera mendekati Sihyun, dan merengkuhnya agar wanita itu tenang.


Namun Sihyun memilih menghindar. Hatinya sangat sakit.


“Sebenarnya apa yang


sedang kau sembunyikan dariku Joon? Apa kau berhubungan dengan seorang gadis di


belakangku?”


“Sayang aku bisa


menjelaskannya,” ujar Namjoon sembari meraih tangan Sihyun. Namun sekali lagi


wanita itu menolak, dan menepis tangan Namjoon dengan sekali sentakan.


“Apa yang akan kau


jelaskan, sementara aku sudah mendengar semuanya Joon? Ah biar ku tebak, apa


gadismu itu sedang hamil?” Kali ini Sihyun ingin mendengar pengakuan dari bibir


suaminya sendiri. Ia berharap semua ini hanya kejutan yang dibuat pria itu


untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga.


“Sihyun-ah dengar‒”


“JAWAB AKU KIM


NAMJOON!” Sihyun pun memekik karena tak kunjung mendapat jawaban dari suaminya.


Yang wanita ini inginkan hanyalah kejujuran pria itu.


“Maafkan aku Sihyun-ah, semua ini diluar dugaanku,” jawabnya


lirih.


Kaki Sihyun kini


terasa lemas seolah tak sanggup lagi menopang berat  tubuhnya. Bahunya merosot karena pengakuan


pria itu. Hancur sudah pertahanannya, ia kalah telak.


“Katakan padaku kau


sedang berbohong Joon, kumohon…”


“Maafkan aku Sihyun-ah­…”


Sekali lagi hanya kata


maaflah yang keluar dari mulut Namjoon. Dan tangis Sihyun pun pecah seketika.


Ia meraung frustasi saat menyadari bahwa ternyata benar pria itu menduakannya.


“Jadi dugaanku benar,


aroma parfum di kemejamu waktu itu adalah parfum milik gadismu? Ah dan lagi,


apa lemburmu itu hanya alasan agar kau dapat bertemu dengannya?”


Pria itu memandang


Sihyun kilas. “Maafkan aku…”


“KENAPA KAU LAKUKAN


SEMUA INI PADAKU KIM NAMJOON? APA KAU BENAR-BENAR KECEWA PADAKU KARENA TIDAK

__ADS_1


BISA MEMBERIMU KETURUNAN?”


Di luar kendali, Sihyun


meraih kerah baju Namjoon, dan memukul dadanya berkali-kali. Tangisnya pun


semakin menjadi. Bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya sakit hati saat kau di


duakan?


“Sihyun-ah bukan seperti itu, aku bisa


menjelaskan semuanya padamu‒”


“Memangnya apa lagi


yang ingin kau jelaskan? Sudah jelas bukan, kau berhubungan dengan gadis itu


agar mendapat keturunan. Kau melakukan itu karena kecewa padaku yang tidak bisa


memberikan keturunan padamu, benar kan?”


“Sayang kumohon


dengarkan aku‒”


Dalam sekali sentak,


Sihyun melepaskan tangan Namjoon yang berniat memeluk tubuhnya. “LEPASKAN AKU!


KITA AKHIRI SAJA SEMUANYA, AKU MUAK DENGANMU!”


“Tunggu Kim Sihyun…”


BLAM!


Tanpa ingin


memperpanjang pertengkarannya dengan pria itu, Sihyun lebih dulu membanting


pintu kamar, dan menguncinya agar pria itu tidak bisa masuk.


Ia pun tak bisa lagi


menahan tangisnya yang semakin keras. Hatinya sangat sakit, ngilu sekali


mendapati kenyataan bahwa pria yang selama ini mengikatnya dengan pernikahan


begitu tega menghancurkan ikatan tersebut, dan berhubungan dengan gadis lain di


belakangnya.


“Kenapa kau tega


sekali melakukannya padaku Namjoon-ah?


Apa yang ada pada dirinya, dan yang tidak ada padaku?” ucapnya meraung sembari


memukul-mukul dadanya yang terasa sakit.


“Ahaha pasti karena


bayi yang dikandungnya kan? Aku memang tidak berguna!” rancaunya dengan tertawa


getir.


Sedetik kemudian ia


kembali terisak, dan meneriakkan nama Namjoon berkali-kali.


Tidak ada wanita yang


tidak merasakan sakit di hatinya, saat suaminya berhubungan dengan gadis lain.


Dan tidak ada wanita yang menerima dengan lapang dada jika di duakan oleh


suaminya sendiri. Sekalipun ada, mungkin wanita itu adalah jelmaan dari


malakat.



drrtt… drrtt…


Namjoon tersentak saat


mendengar suara dering ponselnya. Dengan cekatan ia mengangkat telpon yang baru


saja ia terima.


“Yeoboseyo…”


‘Maaf gyosunim, hari ini adalah jadwal anda mengajar di


kelas kami, tapi anda belum datang. Aku sudah berulang kali mencoba menghubungi


anda, tapi anda tidak mengangkatnya.”


Sontak saja ucapan


dari salah satu mahasiswanya membuatnya tersadar. Ia pun segera menoleh menatap


jam ke arah jam dinding, yang kini jarumnya telah menunjuk angka sepuluh. Jelas


saja pria itu sudah terlambat 1 jam dari jadwalnya.


“Maaf tapi sepertinya


hari ini aku tidak bisa mengajar, kerjakan saja materi yang sudah ku berikan,


setelah itu kumpulkan di atas mejaku.”


Setelah mematikan


sambungan teleponnya, ia segera bergegas menuju kamar. Bagaimanapun caranya ia


harus membicarakannya dengan Sihyun saat ini juga. Namun ia membelalakkan


matanya saat menemukan kamarnya sudah kosong tak berpenghuni. Hanya ada kotak


di atas ranjangnya.


Namjoon pun berjalan


mendekat untuk melihat kotak itu. Hatinya kembali tertohok saat membaca sticky note yang ditulis oleh sang


istri.


Selamat


ulang tahun pernikahan yang ke-3 sayang


Semoga


kau menyukai hadiah dariku,


meskipun


tidak sebagus yang diberikan Tuhan padamu


…SARANGHAE KIM NAMJOON…


Ia tahu betul apa yang Sihyun


maksud dengan kalimat hadiah dari Tuhan.


Tentu saja wanita itu sedang menyindir tentang kehamilan Jaein.


Jangan tanya bagaimana perasaan


Namjoon saat ini. Pria itu merasa bodoh telah mengkhianati wanita sebaik


Sihyun, dan menghancurkan janji suci yang telah diucapkannya tiga tahun lalu.


Lihatlah disaat seperti ini saja, wanita itu masih mengingat hari penting

__ADS_1


mereka. Sedangkan Namjoon? Untuk bangun pagi saja ia lupa, apalagi dengan ulang


tahun pernikahan.


Setitik air mata menetes dari


sudut mata pria itu. “Maafkan aku Sihyun-ah,


aku memang pria bodoh yang tidak pernag bersyukur.”


Dan siapapun tolong ingatkan Kim


Namjoon bahwa penyesalannya saat ini sudah tidak ada gunanya lagi. Nasi sudah


menjadi bubur.



Sihyun mengedarkan


pandangannya menuju pintu masuk café, mencari keberadaan seseorang yang sedang


ditunggunya.


‘Yeoboseyo…’


“Kau


Park Jaein?”


‘Iya,


dengan siapa aku bicara?’


“Aku


Kim Sihyun, kurasa kau mengenalku dengan baik. Aku hanya akan bicara sekali,


kuharap kau mendengarkanku. Temui aku pagi ini, aku akan mengirimkan alamatnya


padamu lewat pesan.”


Sihyun memang sengaja


mencuri nomor Jaein dari ponsel Namjoon saat pria itu masih terlelap. Dan di


sinilah wanita ini sekarang, menunggu Jaein di sebuah café dengan ice americano di tangannya.


Detik berikutnya, ia


dapat melihat seorang gadis muda baru saja memasuki café. Sihyun sangat yakin


jika gadis itu adalah simpanan Namjoon. Ia bisa menebak usia gadis itu masih 20


tahunan, dan sangat cantik. Kemudian ia tersenyum getir, pantas saja Namjoon


tertarik padanya.


Ia memilih mengirim


pesan pada gadis itu ketimbang berteriak memanggilnya di tengah kerumunan orang


banyak. Benar saja dugaannya, gadis itu langsung berjalan mendekati Sihyun


setelah membaca pesan yang diterimannya.


Sihyun pun melepas


kacamata yang sedari tadi ia pakai guna menutupi mata sembabnya akibat menangis


semalaman. “Park Jaein-ssi?”


Gadis itu hanya


mengangguk. Terlihat sekali ia sangat canggung berhadapan dengan wanita sekelas


Sihyun.


“Duduklah, dan santai


saja denganku,” ujarnya lantas tersenyum manis pada Jaein. Kemudian seorang


pelayan datang menghampiri mereka memberikan menu, dan minuman yang sebelumnya


sudah dipesan oleh Sihyun.


“Tidak perlu repot


Sihyun-ssi,” tolaknya secara halus.


Sihyun pun menghela


napas sejenak. “Tidak perlu sungkan begitu, minumlah aku tidak menaruh apapun


di dalamnya, bahkan pelayan sudah mencicipinya,” jelasnya.


“Arraseo eonni…” Ia pun menyeruput jus yang telah dipesankan Sihyun


untuk membasahi tenggorokannya yang entah kenapa tiba-tiba terasa sangat


kering.


“Sudah berapa bulan


usia kandunganmu Jaein-ah?”


Sontak saja Jaein


segera menghentikan minumnya saat mendengar pertanyaan Sihyun. “Eonni aku bisa menjelaskannya‒”


Sihyun pun tersenyum.


“Aku tidak marah Jaein-ah, aku tidak


punya hak untuk marah karena kondisiku yang seperti ini. Awalnya aku memang


marah pada Namjoon, tapi aku berpikir mungkin inilah cara Tuhan untuk


membuatnya bahagia.”


Jaein terperangah.


Mana mungkin seorang istri yang telah mengetahui bahwa sang suami menduakannya


bisa bicara setenang ini dengan selingkuhan suaminya. Padahal sejak berangkat


tadi, ia sudah berpikir bahwa wanita ini pasti akan langsung mendampratnya


habis-habisan karena telah merebut suaminya.


“Eonni aku sungguh minta maaf padamu, aku tidak bermaksud merusak


hubungan kalian,” terang Jaein. Tolong siapa saja ingatkan gadis ini, siapa


gadis yang pernah menyuruh Namjoon untuk memilih antara dirinya dan Sihyun


kemarin.


“Aniya gwaeinchana. Semua sudah terjadi Jaein-ah­, Sekarang hanya perlu memikirkan yang terbaik untuk kita


semua.” Baik untuk mereka berdua, Namjoon dan Jaein. Bukan untuk Sihyun lebih


tepatnya.


“Menikahlah dengan


Namjoon, Jaein-ah…”



 


 


9 Januari 2020 - Itsmehyuna_

__ADS_1


__ADS_2