
“Sudah ku bilang kan,
jangan meneleponku duluan saat aku ada di rumah.”
Sihyun mengerutkan
alis begitu ia keluar dari kamar mandi, lantas memandang suaminya yang sedang
menerima telepon, dan berjalan terburu-buru. Heran saja, kenapa pria itu
melarang seseorang itu untuk menghubungnya saat tengah berada di rumah.
Akhirnya Sihyun
memutuskan untuk mengikuti pria itu. karena menurutnya, Namjoon tidak pernah
seperti ini sebelumnya, tapi entahlah, instingnya memaksa untuk menguping
pembicaraan suaminya.
“Iya aku tahu sayang, tapi tetap saja nanti
Sihyun bisa mendengar.”
Sontak saja mata
Sihyun membulat sempurna saat Namjoon menyebutkan namanya. Dan lagi jika ia tak
salah dengar, Namjoon memanggil orang itu sayang? Segera saja ia menggelengkan
kepala menepis semua pemikiran buruk di kepalanya. Tidak mungkin Namjoon
mengkhianatinya.
Ia pun kembali
memandang Namjoon, dan memusatkan pendengarannya pada pembicaraan suaminya.
“Yasudah kau sudah mendengar suaraku kan,
sekarang tidurlah karena udara malam tidak baik untuk ibu hamil. Nado saranghae Jaein-ah.”
Sihyun menganga tidak
percaya. Dadanya bergemuruh bagai diterpa badai. Matanya pun memanas menahan
cairan yang ingin keluar dari sudut matanya.
Dugaannya selama ini
benar, pria itu mempunyai wanita lain di luar sana, dan sedang hamil? Ia
benar-benar tidak percaya Namjoon akan melakukan semua ini, melanggar janji
suci yang pernah ia ucapkan tiga tahun yang lalu.
Kemudian ia menatap
pria itu berbalik dengan senyum merekah di bibirnya. Bagaimana bisa pria itu
menyunggingkan senyum seindah itu setelah berbicara dengan wanita lain.
Sedangkan pada dirinya, jangankan untuk tersenyum, menjawab pertanyaan Sihyun
tadi saja pria itu nampak enggan.
“Nado
saranghae?”
Terlihat sekali
Namjoon sangat terkejut dengan kehadiran Sihyun yang sudah berada di
hadapannya.
“Sa-sayang, sejak kapan kau ada di situ?” Pria
itu kikuk. Hal tersebut pun semakin membuat Sihyun yakin jika pria itu memang
telah menduakannya.
“Wae? Apa kau takut aku akan mendengar percakapanmu?” sindir Sihyun.
Namjoon terlihat
panik. Lantas segera mendekati Sihyun, dan merengkuhnya agar wanita itu tenang.
Namun Sihyun memilih menghindar. Hatinya sangat sakit.
“Sebenarnya apa yang
sedang kau sembunyikan dariku Joon? Apa kau berhubungan dengan seorang gadis di
belakangku?”
“Sayang aku bisa
menjelaskannya,” ujar Namjoon sembari meraih tangan Sihyun. Namun sekali lagi
wanita itu menolak, dan menepis tangan Namjoon dengan sekali sentakan.
“Apa yang akan kau
jelaskan, sementara aku sudah mendengar semuanya Joon? Ah biar ku tebak, apa
gadismu itu sedang hamil?” Kali ini Sihyun ingin mendengar pengakuan dari bibir
suaminya sendiri. Ia berharap semua ini hanya kejutan yang dibuat pria itu
untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga.
“Sihyun-ah dengar‒”
“JAWAB AKU KIM
NAMJOON!” Sihyun pun memekik karena tak kunjung mendapat jawaban dari suaminya.
Yang wanita ini inginkan hanyalah kejujuran pria itu.
“Maafkan aku Sihyun-ah, semua ini diluar dugaanku,” jawabnya
lirih.
Kaki Sihyun kini
terasa lemas seolah tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Bahunya merosot karena pengakuan
pria itu. Hancur sudah pertahanannya, ia kalah telak.
“Katakan padaku kau
sedang berbohong Joon, kumohon…”
“Maafkan aku Sihyun-ah…”
Sekali lagi hanya kata
maaflah yang keluar dari mulut Namjoon. Dan tangis Sihyun pun pecah seketika.
Ia meraung frustasi saat menyadari bahwa ternyata benar pria itu menduakannya.
“Jadi dugaanku benar,
aroma parfum di kemejamu waktu itu adalah parfum milik gadismu? Ah dan lagi,
apa lemburmu itu hanya alasan agar kau dapat bertemu dengannya?”
Pria itu memandang
Sihyun kilas. “Maafkan aku…”
“KENAPA KAU LAKUKAN
SEMUA INI PADAKU KIM NAMJOON? APA KAU BENAR-BENAR KECEWA PADAKU KARENA TIDAK
__ADS_1
BISA MEMBERIMU KETURUNAN?”
Di luar kendali, Sihyun
meraih kerah baju Namjoon, dan memukul dadanya berkali-kali. Tangisnya pun
semakin menjadi. Bisa kalian bayangkan bagaimana rasanya sakit hati saat kau di
duakan?
“Sihyun-ah bukan seperti itu, aku bisa
menjelaskan semuanya padamu‒”
“Memangnya apa lagi
yang ingin kau jelaskan? Sudah jelas bukan, kau berhubungan dengan gadis itu
agar mendapat keturunan. Kau melakukan itu karena kecewa padaku yang tidak bisa
memberikan keturunan padamu, benar kan?”
“Sayang kumohon
dengarkan aku‒”
Dalam sekali sentak,
Sihyun melepaskan tangan Namjoon yang berniat memeluk tubuhnya. “LEPASKAN AKU!
KITA AKHIRI SAJA SEMUANYA, AKU MUAK DENGANMU!”
“Tunggu Kim Sihyun…”
BLAM!
Tanpa ingin
memperpanjang pertengkarannya dengan pria itu, Sihyun lebih dulu membanting
pintu kamar, dan menguncinya agar pria itu tidak bisa masuk.
Ia pun tak bisa lagi
menahan tangisnya yang semakin keras. Hatinya sangat sakit, ngilu sekali
mendapati kenyataan bahwa pria yang selama ini mengikatnya dengan pernikahan
begitu tega menghancurkan ikatan tersebut, dan berhubungan dengan gadis lain di
belakangnya.
“Kenapa kau tega
sekali melakukannya padaku Namjoon-ah?
Apa yang ada pada dirinya, dan yang tidak ada padaku?” ucapnya meraung sembari
memukul-mukul dadanya yang terasa sakit.
“Ahaha pasti karena
bayi yang dikandungnya kan? Aku memang tidak berguna!” rancaunya dengan tertawa
getir.
Sedetik kemudian ia
kembali terisak, dan meneriakkan nama Namjoon berkali-kali.
Tidak ada wanita yang
tidak merasakan sakit di hatinya, saat suaminya berhubungan dengan gadis lain.
Dan tidak ada wanita yang menerima dengan lapang dada jika di duakan oleh
suaminya sendiri. Sekalipun ada, mungkin wanita itu adalah jelmaan dari
malakat.
…
drrtt… drrtt…
Namjoon tersentak saat
mendengar suara dering ponselnya. Dengan cekatan ia mengangkat telpon yang baru
saja ia terima.
“Yeoboseyo…”
‘Maaf gyosunim, hari ini adalah jadwal anda mengajar di
kelas kami, tapi anda belum datang. Aku sudah berulang kali mencoba menghubungi
anda, tapi anda tidak mengangkatnya.”
Sontak saja ucapan
dari salah satu mahasiswanya membuatnya tersadar. Ia pun segera menoleh menatap
jam ke arah jam dinding, yang kini jarumnya telah menunjuk angka sepuluh. Jelas
saja pria itu sudah terlambat 1 jam dari jadwalnya.
“Maaf tapi sepertinya
hari ini aku tidak bisa mengajar, kerjakan saja materi yang sudah ku berikan,
setelah itu kumpulkan di atas mejaku.”
Setelah mematikan
sambungan teleponnya, ia segera bergegas menuju kamar. Bagaimanapun caranya ia
harus membicarakannya dengan Sihyun saat ini juga. Namun ia membelalakkan
matanya saat menemukan kamarnya sudah kosong tak berpenghuni. Hanya ada kotak
di atas ranjangnya.
Namjoon pun berjalan
mendekat untuk melihat kotak itu. Hatinya kembali tertohok saat membaca sticky note yang ditulis oleh sang
istri.
Selamat
ulang tahun pernikahan yang ke-3 sayang
Semoga
kau menyukai hadiah dariku,
meskipun
tidak sebagus yang diberikan Tuhan padamu
…SARANGHAE KIM NAMJOON…
Ia tahu betul apa yang Sihyun
maksud dengan kalimat hadiah dari Tuhan.
Tentu saja wanita itu sedang menyindir tentang kehamilan Jaein.
Jangan tanya bagaimana perasaan
Namjoon saat ini. Pria itu merasa bodoh telah mengkhianati wanita sebaik
Sihyun, dan menghancurkan janji suci yang telah diucapkannya tiga tahun lalu.
Lihatlah disaat seperti ini saja, wanita itu masih mengingat hari penting
__ADS_1
mereka. Sedangkan Namjoon? Untuk bangun pagi saja ia lupa, apalagi dengan ulang
tahun pernikahan.
Setitik air mata menetes dari
sudut mata pria itu. “Maafkan aku Sihyun-ah,
aku memang pria bodoh yang tidak pernag bersyukur.”
Dan siapapun tolong ingatkan Kim
Namjoon bahwa penyesalannya saat ini sudah tidak ada gunanya lagi. Nasi sudah
menjadi bubur.
…
Sihyun mengedarkan
pandangannya menuju pintu masuk café, mencari keberadaan seseorang yang sedang
ditunggunya.
‘Yeoboseyo…’
“Kau
Park Jaein?”
‘Iya,
dengan siapa aku bicara?’
“Aku
Kim Sihyun, kurasa kau mengenalku dengan baik. Aku hanya akan bicara sekali,
kuharap kau mendengarkanku. Temui aku pagi ini, aku akan mengirimkan alamatnya
padamu lewat pesan.”
Sihyun memang sengaja
mencuri nomor Jaein dari ponsel Namjoon saat pria itu masih terlelap. Dan di
sinilah wanita ini sekarang, menunggu Jaein di sebuah café dengan ice americano di tangannya.
Detik berikutnya, ia
dapat melihat seorang gadis muda baru saja memasuki café. Sihyun sangat yakin
jika gadis itu adalah simpanan Namjoon. Ia bisa menebak usia gadis itu masih 20
tahunan, dan sangat cantik. Kemudian ia tersenyum getir, pantas saja Namjoon
tertarik padanya.
Ia memilih mengirim
pesan pada gadis itu ketimbang berteriak memanggilnya di tengah kerumunan orang
banyak. Benar saja dugaannya, gadis itu langsung berjalan mendekati Sihyun
setelah membaca pesan yang diterimannya.
Sihyun pun melepas
kacamata yang sedari tadi ia pakai guna menutupi mata sembabnya akibat menangis
semalaman. “Park Jaein-ssi?”
Gadis itu hanya
mengangguk. Terlihat sekali ia sangat canggung berhadapan dengan wanita sekelas
Sihyun.
“Duduklah, dan santai
saja denganku,” ujarnya lantas tersenyum manis pada Jaein. Kemudian seorang
pelayan datang menghampiri mereka memberikan menu, dan minuman yang sebelumnya
sudah dipesan oleh Sihyun.
“Tidak perlu repot
Sihyun-ssi,” tolaknya secara halus.
Sihyun pun menghela
napas sejenak. “Tidak perlu sungkan begitu, minumlah aku tidak menaruh apapun
di dalamnya, bahkan pelayan sudah mencicipinya,” jelasnya.
“Arraseo eonni…” Ia pun menyeruput jus yang telah dipesankan Sihyun
untuk membasahi tenggorokannya yang entah kenapa tiba-tiba terasa sangat
kering.
“Sudah berapa bulan
usia kandunganmu Jaein-ah?”
Sontak saja Jaein
segera menghentikan minumnya saat mendengar pertanyaan Sihyun. “Eonni aku bisa menjelaskannya‒”
Sihyun pun tersenyum.
“Aku tidak marah Jaein-ah, aku tidak
punya hak untuk marah karena kondisiku yang seperti ini. Awalnya aku memang
marah pada Namjoon, tapi aku berpikir mungkin inilah cara Tuhan untuk
membuatnya bahagia.”
Jaein terperangah.
Mana mungkin seorang istri yang telah mengetahui bahwa sang suami menduakannya
bisa bicara setenang ini dengan selingkuhan suaminya. Padahal sejak berangkat
tadi, ia sudah berpikir bahwa wanita ini pasti akan langsung mendampratnya
habis-habisan karena telah merebut suaminya.
“Eonni aku sungguh minta maaf padamu, aku tidak bermaksud merusak
hubungan kalian,” terang Jaein. Tolong siapa saja ingatkan gadis ini, siapa
gadis yang pernah menyuruh Namjoon untuk memilih antara dirinya dan Sihyun
kemarin.
“Aniya gwaeinchana. Semua sudah terjadi Jaein-ah, Sekarang hanya perlu memikirkan yang terbaik untuk kita
semua.” Baik untuk mereka berdua, Namjoon dan Jaein. Bukan untuk Sihyun lebih
tepatnya.
“Menikahlah dengan
Namjoon, Jaein-ah…”
…
9 Januari 2020 - Itsmehyuna_
__ADS_1