
Hoseok pun melajukan
mobilnya menuju apartemennya setelah mengantarkan Sihyun kembali ke cafe.
Dokter muda itu memilih pulang karena jadwalnya hari ini sedang kosong. Ya,
lebih baik bermalas-malasan di rumah sendiri kan daripada luntang-luntung tidak
jelas tanpa pekerjaan di rumah sakit.
Setelah memastikan
mobilnya terparkir dengan sempurna, pria itu segera melangkahkan kaki menuju
unitnya. Rasanya sudah hampir seminggu ia tidak pernah menyambangi rumahnya
karena kesibukannya di rumah sakit. Akhir-akhir ini memang banyak sekali pasien
yang harus ditanganinya. Sepertinya
mereka memang sengaja hamil secara bersamaan.
Saat akan membuka
pintu rumahnya, ekor matanya tidak sengaja menangkap sosok pria tinggi yang
menurutnya sangat familiar, jika ia
tidak salah. Ia memicingkan matanya
lantas sedikit berjalan mendekat padanya.
“Kim Namjoon?”
Pria yang disapanya
pun menoleh. Dan tebakannya ternyata benar, pria itu adalah teman seangkatannya
di kampus dulu, dan juga suami Sihyun tentu saja.
“Ju-Jung Hoseok?”
jawabnya tergagap.
“Ah ternyata benar
kau, ku kira tadi aku salah orang. Bagaimana kabarmu Namjoon gyosunim?” sapa Hoseok sedikit
berbasa-basi.
“Eung, aku baik tentu saja, darimana kau tahu kalau aku seorang
dosen?”
Hoseok tertawa pelan
mendengar pertanyaan pria di hadapannya itu. “Dari Sihyun tentu saja, dia
bercerita banyak tentangmu.”
“Ah begitu yah,”
jawabnya. Ia berkali-kali melirik arlojinya gelisah.
Hoseok mengernyit
menyadari kegelisahan Namjoon. “Ngomong-ngomong sedang apa kau di sini?”
Sontak saja Namjoon membelalakkan
matanya saat ia merasa terjebak dengan pertanyaan Hoseok. “Eoh, Aku sedang menjenguk salah satu mahasiswaku yang sedang sakit.
Kau sendiri sedang apa di sini?”
Terlihat Hoseok
melongokkan kepalanya untuk melihat unit yang baru saja ditunjuk Namjoon.
“Oh, jadi nona Park
adalah mahasiswamu ya. Aku tinggal di sini tentu saja, ini rumahku.” Kemudian
ia menunjuk unit miliknya.
Sedangkan Namjoon
hanya mengangguk pertanda mengerti. Dalam pikirannya sedang mencari cara
bagaimana mengakhiri perbincangan ini. Karena jika tidak, Jaein akan menunggu
pesanannya terlalu lama. Tahu sendiri kan ibu hamil itu sangat sensitif.
“Kau mau mampir?
Kebetulan aku punya ramyeon dan soju di dalam,” tawar Hoseok.
“Ah maaf sepertinya
lain kali saja Hoseok-ah, aku sedang
diburu pekerjaan mendesak saat ini. Sampai bertemu lain kali,” tolak Namjoon
sebelum pria itu terburu-buru meninggalkan Hoseok yang masih diam di tempatnya.
“Ternyata menjadi
dosen itu sama sibuknya dengan dokter ya?” ujar Hoseok bermonolog.
…
“Kenapa lama sekali?”
Selidik Jaein pada Namjoon yang baru saja datang membawa sundae pesanannya.
Namjoon sedikit
menghela napas lantas duduk merangkul pinggang Jaein. “Apa kau mengenal
penghuni unit depan rumahmu sayang?”
Jaein mengerutkan
alisnya heran memandang sikap Namjoon. Bukannya menjawab pertanyaannya, pria
itu malah balik bertanya. Aneh sekali!
“Seorang dokter,
kenapa memangnya?” jawabnya singkat lantas segera melahap sundae di tangannya.
“Dia teman kuliahku
dulu, teman Sihyun juga. Tadi aku bertemu dengannya.” Sepertinya Namjoon harus
meralat ucapannya dari bertemu menjadi memergoki.
“Jadi saat kembali
kemari aku harus benar-benar memastikan kondisinya aman, jika tidak dia akan
berpikiran macam-macam dan bercerita pada Sihyun.” Sambungnya.
Jaein menghentikan
aktifitas makannya setelah mendengar penjelasan Namjoon. “Kita seperti buronan
saja.”
Langsung saja Namjoon
merengkuh Jaein dan membawa gadis itu dalam pelukannya. “Bersabarlah sedikit
sayang, kita pasti bisa melaluinya.”
“Tidak bisakah kau memilih
saja antara aku dan Sihyun eonni?”
Sontak saja Namjoon
merasakan hatinya bagai dihantam ombak yang sangat dasyat. Lagi-lagi ia harus
terjebak dengan pertanyaan yang dilayangkan padanya. Jelas saja pria itu tidak
bisa memilih antara Jaein dan Sihyun karena ia sama-sama mencintai kedua gadis
itu. Meskipun bukan itu alasan sebenarnya. Ia tidak bisa melepaskan Sihyun
__ADS_1
karena gadis itu adalah cinta pertamanya, dan juga tidak bisa melepaskan Jaein
begitu saja karena gadis itu sedang mengandung buah hatinya.
Sebut saja pria ini
serakah.
“Percayalah padaku
semuanya pasti baik-baik saja sayang,” ujarnya tanpa berniat menjawab
pertanyaan yang diajukan Jaein.
Sedangkan Jaein sedang
berpikir keras, bagaimana ia bisa tenang jika harus menjalani hubungan secara
sembunyi-sembuyi seperti ini? Karena Jaein juga wanita, setidaknya ia juga
menginginkan hidup normal, dan berkeluarga seperti orang lain.
Namun lagi-lagi ia
juga harus menyadari di mana posisinya. Mau sekeras apapun ia mencoba
meyakinkan Namjoon, pria itu pasti sudah jelas akan memilih cinta pertama. Dan
lagi jika Jaein tidak keberatan, ia harus mengingat jika ia hanyalah
simpanannya seorang Kim Namjoon, tidak lebih.
“Lanjutkan makanmu
sayang, setelah itu kau harus istirahat. Aku akan pergi setelah memastikan kau
tidur nanti.”
“Aku sudah tidak
selera,” ucapnya datar. Gadis itu pun beranjak meninggalkan Namjoon yang
lagi-lagi hanya bisa menghela napas.
Sekali lagi tolong
ingatkan Kim Namjoon bahwa semua ini bermula karena ulahnya.
…
“Kau lembur lagi
Joon?” tanya Sihyun sembari mengambil alih tas kerja dan mantel suaminya untuk
ia bawakan.
“Iya sayang,” jawabnya
singkat.
“Kalau begitu kau
mandilah dulu, aku akan menyiapkan makan malam,”
“Tidak perlu Sihyun-ah, aku sudah makan di luar tadi. Aku
mau langsung tidur saja.”
Sihyun menatap
suaminya yang kini sudah berlalu meninggalkannya menuju kamar. Ia hanya bisa
menghela napas karena sikap Namjoon yang tidak seperti biasanya. Kemudian ia
tersenyum dan mencoba berpikir positif, mungkin Namjoon kelelahan dengan
pekerjaannya di kampus tadi.
Sihyun duduk di
samping Namjoon setelah meletakkan tas kerja dan mantel milik pria itu di
tempatnya. Ia tersenyum lantas mengusap lembut surai hitam suaminya. Di
amatinya wajah damai sang suami yang sedang tidur. Menurutnya wajah Namjoon
bangun lebih awal dari pria itu agar bisa mencuri pandang padanya.
“Kau pasti sangat
lelah ya Joon?” u-capnya lembut. Kemudian mencium kilas kening sang suami.
Tanpa Sihyun ketahui
ternyata Namjoon tidak benar-benar tertidur. Ia hanya memejamkan matanya yang
terasa lelah, dan lagi ia ingin menghindar dari pertanyaan yang dilayangkan
sang istri. Bukankah pria ini memang terlihat kurang mensyukuri apa yang telah
ia miliki? Istri cantik, pandai memasak, punya bisnis yang menjanjikan, dan
lagi dari keluarga terpandang. Lantas apalagi yang kurang darinya sehingga
Namjoon dengan teganya menduakan wanita berhati malaikat seperti itu.
Buah hati, mungkin.
Detik berikutnya
Sihyun beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, rutinitas yang biasa
ia lakukan sebelum tidur. Kemudian Namjoon membuka matanya untuk memandang
punggung sang istri yang berjalan
menjauh darinya. Maafkan aku Sihyun-ah...
Yang harus pria itu
ketahui, kata maaf saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang dialami
Sihyun, jika saja wanita itu nanti mengetahui apa saja yang telah dilakukan
Namjoon di belakangnya.
Drrtt…
drrtt… drrtt…
Namjoon segera
menyambar ponselnya yang tengah berdering. Matanya mebulat seketika saat
melihat nama Jaein tertera di layar ponselnya. Segera saja pria itu beranjak
keluar kamar guna mengangkat telpon Jaein agar Sihyun tidak mendengar
percakapannya.
Tapi sayang, Sihyun
sudah lebih dulu rampung dengan kegiatannya di kamar mandi dan melihat Namjoon
yang baru saja keluar dari kamar.
“Sudah ku bilang kan,
jangan menelponku duluan saat aku ada di rumah,” ucap Namjoon lirih pada Jaein.
‘Tapi
aku tidak bisa tidur, dan ingin mendengar suaramu oppa’
Namjoon menghela napas
mendengar ucapan Jaein. Akhir-akhir ini gadis itu memang sering mengeluh sulit
tidur saat malam hari.
“Iya aku tahu sayang,
tapi tetap saja nanti Sihyun bisa mendengar.”
‘Iya-iya
aku tidak akan mengulanginya lagi oppa,’
__ADS_1
Namjoon pun tersenyum
karena akhirnya Jaein mau mengerti pada ucapannya.
“Yasudah kau sudah
mendengar suaraku kan, sekarang tidurlah karena udara malam tidak baik untuk
ibu hamil.”
‘Arraseo oppa, saranghae…’
“Nado saranghae Jaein-ah.”
Pria itu kembali
tersenyum setelah menjawab ungkapan cinta dari Jaein. Ia pun mematikan
sambungan teleponnya kemudian berbalik hendak kembali menuju kamarnya.
“Nado saranghae?”
Senyum Namjoon pun
memudar seketika saat mendengar suara Sihyun. Dan benar saja, ternyata wanita
itu sudah berada di hadapannya dengan wajah yang sedang menahan tangis.
“Sa-sayang, sejak
kapan kau ada di situ?”
“Wae? Apa kau takut aku mendengar percakapanmu?” sindirnya.
Namjoon panik dan
segera mendekati Sihyun. Namun Sihyun memilih menghindar dari pria itu.
“Sebenarnya apa yang
sedang kau sembunyikan dariku Joon? Apa kau berhubungan dengan seorang gadis di
belakangku?”
Sekali lagi Namjoon
tertohok dengan ucapan Sihyun yang tepat pada sasaran. Ia menatap wajah wanita
itu sudah memerah, dan air mata pun terlihat jatuh mengalir di pipinya.
“Sayang aku bisa menjelaskannya,”
ujar Namjoon sembari meraih tangan Sihyun. Namun sekali lagi gadis itu menolak
dan melepaskan tangan Namjoon dengan sekali sentakan.
“Apa yang akan kau
jelaskan? Sementara aku sudah mendengar semuanya Joon? Ah biar ku tebak, apa
gadis itu sedang hamil?”
“Sihyun-ah dengar…”
“JAWAB AKU KIM
NAMJOON!” Sihyun pun memekik karena tak kunjung mendapat jawaban dari suaminya.
Yang wanita ini inginkan hanyalah kejujuran pria itu.
“Maafkan aku Sihyun-ah, semua ini di luar dugaanku,”
jawabnya lirih.
Bagai dihantam badai,
kaki Sihyun kini terasa lemas seolah tak sanggup lagi menopang berat tubuhnya. Bahunya merosot karena pengakuan
pria itu.
“Katakan padaku kau
sedang berbohong Joon, kumohon…”
“Maafkan aku Sihyun-ah…”
Sekali lagi hanya kata
maaflah yang keluar dari mulut Namjoon. Dan tangis Sihyun pun pecah seketika,
ia meraung frustasi saat menyadari bahwa ternyata benar pria itu menduakannya.
“Jadi dugaanku benar,
aroma parfum di kemejamu waktu itu adalah parfum milik gadismu? Ah dan lagi,
apa lemburmu itu hanya alasan agar kau dapat bertemu dengannya?”
Pria itu memandang
Sihyun kilas. “Maafkan aku…”
“KENAPA KAU LAKUKAN
SEMUA INI PADAKU KIM NAMJOON? APA KAU BENAR-BENAR KECEWA PADAKU KARENA TIDAK
BISA MEMBERIMU KETURUNAN?”
Di luar kendali,
Sihyun meraih kerah baju Namjoon dan memukul dadanya berkali-kali. Tangisnya
pun semakin menjadi. Bisa kalian bayangkan kan bagaimana rasanya sakit hati
saat kau di duakan?
“Sihyun-ah bukan seperti itu, aku bisa
menjelaskan semuanya padamu…”
“MEMANGNYA APALAGI
YANG INGIN KAU JELASKAN? SUDAH JELAS KAU BERHUBUNGAN DENGAN GADIS ITU AGAR
MENDAPAT KETURUNAN KAN? KAU MELAKUKANNYA KARENA AKU TAK KUNJUNG MEMBERIKAN
KETURUNAN PADAMU, BENAR KAN?”
“Sayang kumohon
dengarkan aku,”
Dalam sekali sentak,
Sihyun melepaskan tangan Namjoon yang memeluk tubuhnya. “Lepaskan! Aku sudah
muak denganmu. Kita akhiri saja semuanya!”
“Tunggu Sihyun-ah…”
BLAM!
Terlambat.
Sihyun sudah terlebih
dulu membanting pintu dan menguncinya agar pria itu tidak bisa masuk. Sedangkan
Namjoon hanya bisa bersandar pada pintu kamarnya mendengar tangisan pilu
istrinya. Jujur saja hatinya sangat sakit saat mendengar tangis Sihyun yang
seperti itu. Tapi sepertinya pria ini masih belum sadar karena siapa istrinya
kesakitan seperti itu.
“Sekarang apa yang
harus ku lakukan Tuhan?”
…
8 Januari 2020 - Itsmehyuna_
__ADS_1