Our Marriage

Our Marriage
Chapter 7


__ADS_3

Hoseok pun melajukan


mobilnya menuju apartemennya setelah mengantarkan Sihyun kembali ke cafe.


Dokter muda itu memilih pulang karena jadwalnya hari ini sedang kosong. Ya,


lebih baik bermalas-malasan di rumah sendiri kan daripada luntang-luntung tidak


jelas tanpa pekerjaan di rumah sakit.


Setelah memastikan


mobilnya terparkir dengan sempurna, pria itu segera melangkahkan kaki menuju


unitnya. Rasanya sudah hampir seminggu ia tidak pernah menyambangi rumahnya


karena kesibukannya di rumah sakit. Akhir-akhir ini memang banyak sekali pasien


yang harus ditanganinya. Sepertinya


mereka memang sengaja hamil secara bersamaan.


Saat akan membuka


pintu rumahnya, ekor matanya tidak sengaja menangkap sosok pria tinggi yang


menurutnya sangat familiar, jika ia


tidak salah. Ia memicingkan matanya


lantas sedikit berjalan mendekat padanya.


“Kim Namjoon?”


Pria yang disapanya


pun menoleh. Dan tebakannya ternyata benar, pria itu adalah teman seangkatannya


di kampus dulu, dan juga suami Sihyun tentu saja.


“Ju-Jung Hoseok?”


jawabnya tergagap.


“Ah ternyata benar


kau, ku kira tadi aku salah orang. Bagaimana kabarmu Namjoon gyosunim?” sapa Hoseok sedikit


berbasa-basi.


“Eung, aku baik tentu saja, darimana kau tahu kalau aku seorang


dosen?”


Hoseok tertawa pelan


mendengar pertanyaan pria di hadapannya itu. “Dari Sihyun tentu saja, dia


bercerita banyak tentangmu.”


“Ah begitu yah,”


jawabnya. Ia berkali-kali melirik arlojinya gelisah.


Hoseok mengernyit


menyadari kegelisahan Namjoon. “Ngomong-ngomong sedang apa kau di sini?”


Sontak saja Namjoon membelalakkan


matanya saat ia merasa terjebak dengan pertanyaan Hoseok. “Eoh, Aku sedang menjenguk salah satu mahasiswaku yang sedang sakit.


Kau sendiri sedang apa di sini?”


Terlihat Hoseok


melongokkan kepalanya untuk melihat unit yang baru saja ditunjuk Namjoon.


“Oh, jadi nona Park


adalah mahasiswamu ya. Aku tinggal di sini tentu saja, ini rumahku.” Kemudian


ia menunjuk unit miliknya.


Sedangkan Namjoon


hanya mengangguk pertanda mengerti. Dalam pikirannya sedang mencari cara


bagaimana mengakhiri perbincangan ini. Karena jika tidak, Jaein akan menunggu


pesanannya terlalu lama. Tahu sendiri kan ibu hamil itu sangat sensitif.


“Kau mau mampir?


Kebetulan aku punya ramyeon dan soju di dalam,” tawar Hoseok.


“Ah maaf sepertinya


lain kali saja Hoseok-ah, aku sedang


diburu pekerjaan mendesak saat ini. Sampai bertemu lain kali,” tolak Namjoon


sebelum pria itu terburu-buru meninggalkan Hoseok yang masih diam di tempatnya.


“Ternyata menjadi


dosen itu sama sibuknya dengan dokter ya?” ujar Hoseok bermonolog.



“Kenapa lama sekali?”


Selidik Jaein pada Namjoon yang baru saja datang membawa sundae pesanannya.


Namjoon sedikit


menghela napas lantas duduk merangkul pinggang Jaein. “Apa kau mengenal


penghuni unit depan rumahmu sayang?”


Jaein mengerutkan


alisnya heran memandang sikap Namjoon. Bukannya menjawab pertanyaannya, pria


itu malah balik bertanya. Aneh sekali!


“Seorang dokter,


kenapa memangnya?” jawabnya singkat lantas segera melahap sundae di tangannya.


“Dia teman kuliahku


dulu, teman Sihyun juga. Tadi aku bertemu dengannya.” Sepertinya Namjoon harus


meralat ucapannya dari bertemu menjadi memergoki.


“Jadi saat kembali


kemari aku harus benar-benar memastikan kondisinya aman, jika tidak dia akan


berpikiran macam-macam dan bercerita pada Sihyun.” Sambungnya.


Jaein menghentikan


aktifitas makannya setelah mendengar penjelasan Namjoon. “Kita seperti buronan


saja.”


Langsung saja Namjoon


merengkuh Jaein dan membawa gadis itu dalam pelukannya. “Bersabarlah sedikit


sayang, kita pasti bisa melaluinya.”


“Tidak bisakah kau memilih


saja antara aku dan Sihyun eonni?”


Sontak saja Namjoon


merasakan hatinya bagai dihantam ombak yang sangat dasyat. Lagi-lagi ia harus


terjebak dengan pertanyaan yang dilayangkan padanya. Jelas saja pria itu tidak


bisa memilih antara Jaein dan Sihyun karena ia sama-sama mencintai kedua gadis


itu. Meskipun bukan itu alasan sebenarnya. Ia tidak bisa melepaskan Sihyun

__ADS_1


karena gadis itu adalah cinta pertamanya, dan juga tidak bisa melepaskan Jaein


begitu saja karena gadis itu sedang mengandung buah hatinya.


Sebut saja pria ini


serakah.


“Percayalah padaku


semuanya pasti baik-baik saja sayang,” ujarnya tanpa berniat menjawab


pertanyaan yang diajukan Jaein.


Sedangkan Jaein sedang


berpikir keras, bagaimana ia bisa tenang jika harus menjalani hubungan secara


sembunyi-sembuyi seperti ini? Karena Jaein juga wanita, setidaknya ia juga


menginginkan hidup normal, dan berkeluarga seperti orang lain.


Namun lagi-lagi ia


juga harus menyadari di mana posisinya. Mau sekeras apapun ia mencoba


meyakinkan Namjoon, pria itu pasti sudah jelas akan memilih cinta pertama. Dan


lagi jika Jaein tidak keberatan, ia harus mengingat jika ia hanyalah


simpanannya seorang Kim Namjoon, tidak lebih.


“Lanjutkan makanmu


sayang, setelah itu kau harus istirahat. Aku akan pergi setelah memastikan kau


tidur nanti.”


“Aku sudah tidak


selera,” ucapnya datar. Gadis itu pun beranjak meninggalkan Namjoon yang


lagi-lagi hanya bisa menghela napas.


Sekali lagi tolong


ingatkan Kim Namjoon bahwa semua ini bermula karena ulahnya.



“Kau lembur lagi


Joon?” tanya Sihyun sembari mengambil alih tas kerja dan mantel suaminya untuk


ia bawakan.


“Iya sayang,” jawabnya


singkat.


“Kalau begitu kau


mandilah dulu, aku akan menyiapkan makan malam,”


“Tidak perlu Sihyun-ah, aku sudah makan di luar tadi. Aku


mau langsung tidur saja.”


Sihyun menatap


suaminya yang kini sudah berlalu meninggalkannya menuju kamar. Ia hanya bisa


menghela napas karena sikap Namjoon yang tidak seperti biasanya. Kemudian ia


tersenyum dan mencoba berpikir positif, mungkin Namjoon kelelahan dengan


pekerjaannya di kampus tadi.


Sihyun duduk di


samping Namjoon setelah meletakkan tas kerja dan mantel milik pria itu di


tempatnya. Ia tersenyum lantas mengusap lembut surai hitam suaminya. Di


amatinya wajah damai sang suami yang sedang tidur. Menurutnya wajah Namjoon


bangun lebih awal dari pria itu agar bisa mencuri pandang padanya.


“Kau pasti sangat


lelah ya Joon?” u-capnya lembut. Kemudian mencium kilas kening sang suami.


Tanpa Sihyun ketahui


ternyata Namjoon tidak benar-benar tertidur. Ia hanya memejamkan matanya yang


terasa lelah, dan lagi ia ingin menghindar dari pertanyaan yang dilayangkan


sang istri. Bukankah pria ini memang terlihat kurang mensyukuri apa yang telah


ia miliki? Istri cantik, pandai memasak, punya bisnis yang menjanjikan, dan


lagi dari keluarga terpandang. Lantas apalagi yang kurang darinya sehingga


Namjoon dengan teganya menduakan wanita berhati malaikat seperti itu.


Buah hati, mungkin.


Detik berikutnya


Sihyun beranjak menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya, rutinitas yang biasa


ia lakukan sebelum tidur. Kemudian Namjoon membuka matanya untuk memandang


punggung sang istri  yang berjalan


menjauh darinya. Maafkan aku Sihyun-ah­...


Yang harus pria itu


ketahui, kata maaf saja tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang dialami


Sihyun, jika saja wanita itu nanti mengetahui apa saja yang telah dilakukan


Namjoon di belakangnya.


Drrtt…


drrtt… drrtt…


Namjoon segera


menyambar ponselnya yang tengah berdering. Matanya mebulat seketika saat


melihat nama Jaein tertera di layar ponselnya. Segera saja pria itu beranjak


keluar kamar guna mengangkat telpon Jaein agar Sihyun tidak mendengar


percakapannya.


Tapi sayang, Sihyun


sudah lebih dulu rampung dengan kegiatannya di kamar mandi dan melihat Namjoon


yang baru saja keluar dari kamar.


“Sudah ku bilang kan,


jangan menelponku duluan saat aku ada di rumah,” ucap Namjoon lirih pada Jaein.


‘Tapi


aku tidak bisa tidur, dan ingin mendengar suaramu oppa’


Namjoon menghela napas


mendengar ucapan Jaein. Akhir-akhir ini gadis itu memang sering mengeluh sulit


tidur saat malam hari.


“Iya aku tahu sayang,


tapi tetap saja nanti Sihyun bisa mendengar.”


‘Iya-iya


aku tidak akan mengulanginya lagi oppa,’

__ADS_1


Namjoon pun tersenyum


karena akhirnya Jaein mau mengerti pada ucapannya.


“Yasudah kau sudah


mendengar suaraku kan, sekarang tidurlah karena udara malam tidak baik untuk


ibu hamil.”


‘Arraseo oppa, saranghae…’


“Nado saranghae Jaein-ah.”


Pria itu kembali


tersenyum setelah menjawab ungkapan cinta dari Jaein. Ia pun mematikan


sambungan teleponnya kemudian berbalik hendak kembali menuju kamarnya.


“Nado saranghae?”


Senyum Namjoon pun


memudar seketika saat mendengar suara Sihyun. Dan benar saja, ternyata wanita


itu sudah berada di hadapannya dengan wajah yang sedang menahan tangis.


“Sa-sayang, sejak


kapan kau ada di situ?”


“Wae? Apa kau takut aku mendengar percakapanmu?” sindirnya.


Namjoon panik dan


segera mendekati Sihyun. Namun Sihyun memilih menghindar dari pria itu.


“Sebenarnya apa yang


sedang kau sembunyikan dariku Joon? Apa kau berhubungan dengan seorang gadis di


belakangku?”


Sekali lagi Namjoon


tertohok dengan ucapan Sihyun yang tepat pada sasaran. Ia menatap wajah wanita


itu sudah memerah, dan air mata pun terlihat jatuh mengalir di pipinya.


“Sayang aku bisa menjelaskannya,”


ujar Namjoon sembari meraih tangan Sihyun. Namun sekali lagi gadis itu menolak


dan melepaskan tangan Namjoon dengan sekali sentakan.


“Apa yang akan kau


jelaskan? Sementara aku sudah mendengar semuanya Joon? Ah biar ku tebak, apa


gadis itu sedang hamil?”


“Sihyun-ah dengar…”


“JAWAB AKU KIM


NAMJOON!” Sihyun pun memekik karena tak kunjung mendapat jawaban dari suaminya.


Yang wanita ini inginkan hanyalah kejujuran pria itu.


“Maafkan aku Sihyun-ah, semua ini di luar dugaanku,”


jawabnya lirih.


Bagai dihantam badai,


kaki Sihyun kini terasa lemas seolah tak sanggup lagi menopang berat  tubuhnya. Bahunya merosot karena pengakuan


pria itu.


“Katakan padaku kau


sedang berbohong Joon, kumohon…”


“Maafkan aku Sihyun-ah­…”


Sekali lagi hanya kata


maaflah yang keluar dari mulut Namjoon. Dan tangis Sihyun pun pecah seketika,


ia meraung frustasi saat menyadari bahwa ternyata benar pria itu menduakannya.


“Jadi dugaanku benar,


aroma parfum di kemejamu waktu itu adalah parfum milik gadismu? Ah dan lagi,


apa lemburmu itu hanya alasan agar kau dapat bertemu dengannya?”


Pria itu memandang


Sihyun kilas. “Maafkan aku…”


“KENAPA KAU LAKUKAN


SEMUA INI PADAKU KIM NAMJOON? APA KAU BENAR-BENAR KECEWA PADAKU KARENA TIDAK


BISA MEMBERIMU KETURUNAN?”


Di luar kendali,


Sihyun meraih kerah baju Namjoon dan memukul dadanya berkali-kali. Tangisnya


pun semakin menjadi. Bisa kalian bayangkan kan bagaimana rasanya sakit hati


saat kau di duakan?


“Sihyun-ah bukan seperti itu, aku bisa


menjelaskan semuanya padamu…”


“MEMANGNYA APALAGI


YANG INGIN KAU JELASKAN? SUDAH JELAS KAU BERHUBUNGAN DENGAN GADIS ITU AGAR


MENDAPAT KETURUNAN KAN? KAU MELAKUKANNYA KARENA AKU TAK KUNJUNG MEMBERIKAN


KETURUNAN PADAMU, BENAR KAN?”


“Sayang kumohon


dengarkan aku,”


Dalam sekali sentak,


Sihyun melepaskan tangan Namjoon yang memeluk tubuhnya. “Lepaskan! Aku sudah


muak denganmu. Kita akhiri saja semuanya!”


“Tunggu Sihyun-ah…”


BLAM!


Terlambat.


Sihyun sudah terlebih


dulu membanting pintu dan menguncinya agar pria itu tidak bisa masuk. Sedangkan


Namjoon hanya bisa bersandar pada pintu kamarnya mendengar tangisan pilu


istrinya. Jujur saja hatinya sangat sakit saat mendengar tangis Sihyun yang


seperti itu. Tapi sepertinya pria ini masih belum sadar karena siapa istrinya


kesakitan seperti itu.


“Sekarang apa yang


harus ku lakukan Tuhan?”



 


 


8 Januari 2020 - Itsmehyuna_

__ADS_1


__ADS_2