
‘Kau yakin? Walaupun pria itu jatuh miskin nantinya?
Bukankah seharusnya kau tahu tentang masalah Kim Financial?’
Jaein
menggigit-gigit jarinya gelisah. Sudah satu bulan ini gadis itu terus saja
terpikirkan tentang ucapan Seokjin padanya. Memang benar belakangan perusahaan
ayah mertuanya itu sempat terancam kebangkrutan karena Choi Siwon menghentikan
investasinya. Namun bukankah sekarang beliau kembali berinvestasi pada perusahaan,
dan lagi Namjoon juga pasti akan melakukan segalanya untuk mempertahankan
perusahaan.
“Aish!”
“Jaein-ah ada apa?” Ujar Sihyun yang tanpa ia
sadari sudah berada di ambang pintu. Sontak saja gadis itu terkejut. “Apa
terjadi sesuatu?”
“Eoh tidak ada eonni, aku baik-baik saja,” jawab Jaein.
“Ah
begitu ya, kajja sekarang sudah
saatnya makan malam.”
“Eoh baiklah aku akan menyusul sebentar
lagi eonni.”
Sihyun
pun mengangguk lantas meninggalkan Jaein yang sedang mencoba menormalkan
emosinya akibat memikirkan perkataan Seokjin padanya. Setelah merasa emosinya
sudah kembali normal, gadis itupun segera berjalan menuju ruang makan.
“Aku
harap bayi yang dikandung Jaein perempuan, karena aku tidak ingin bayi itu
menjadi pewaris kita nantinya.”
Sontak
saja Jaein menghentikan langkah saat mendengar samar-samar pembicaraan Yo Won
dengan Jungwoo. Ia mengerutkan keningnya dan menajamkan pendengarannya,
takut-takut ia salah paham dengan apa yang baru saja Yo Won ucapkan.
“Aku
juga sependapat sayang. Aku hanya ingin pewaris dari Sihyun saja.” Kini Jungwoo
membuka suara.
Gadis
itu pikir dengan menjadi istri sah Namjoon ia akan sepenuhnya diterima di
keluarga ini. Nyatanya kedua mertuanya itu masih tetap memihak pada Sihyun.
Jaein
memang sengaja tidak ingin memeriksa jenis kelamin bayinya. Menurutnya selama
kondisi bayi yang dikandungnya sehat, ia pun tak terlalu mempermasalahkannya.
Namun entah mengapa setelah mendengar ucapan kedua mertuanya satu sisi hatinya
memberontak. Tubuh Jaein pun menegang. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya
geram.
“Jaein-ah mwohae?”
Jaein
tersadar ketika Sihyun memanggil namanya. “Eoh?
Ah aku mau memanggil eomma dan appa sekalian eonni.”
Sihyun
pun tersenyum, lantas merangkul Jaein berjalan menuju ruang makan. “Mereka
sudah makan dulu tadi, mungkin sekarang sedang beristirahat.”
“Ah arraseo eonni.”
…
“Ngomong-ngomong kuperhatikan eonni sekarang lebih sering memakai oversized sweater,” selidik Jaein.
Sihyun lantas menghentikan
sejenak aktifitasnya, mengatur ekspresi wajah senormal mungkin. Bagaimana
caranya wanita ini menjawab pertanyaan Jaein. Alasan seperti apa yang akan ia
berikan pada Jaein. Tidak mungkin juga kan ia harus menjawab kalau dirinya hamil.
“Eum itu karena…” Kalimatnya terjeda beberapa saat. “Ah karena
akhir-akhir ini cuacanya cukup dingin, makanya aku lebih suka pakai sweater, lebih simpel dan nyaman juga,
yah begitulah.”
Jaein mengangguk. “Ah begitu ya.”
Sihyun pun memaksakan senyumnya. Bersyukur
gadis itu tak menaruh curiga padanya. Maafkan
eomma karena tak bisa mengakuimu saat ini nak.
“Eonni kapan oppa akan
pulang ya, padahal dia bilang hanya pergi selama dua minggu. Ck! Sekarang
bahkan sudah hampir satu bulan.” Jaein pun menggerutu.
Sedangkan Sihyun hanya bisa
terkekeh melihat ekspresi wajah Jaein saat ini. Benar-benar seperti anak kecil
yang sedang merajuk.
“Mungkin dia akan pulang dalam
beberapa hari. Wah kau sudah merindukan appa
eoh?” Kini tangannya terulur untuk mengusap perut buncit Jaein.
Jaein hanya tersenyum.
“Kalau begitu kau bisa memarahi
ayahmu saat dia pulang nanti jagoan,” ucap Sihyun dengan senyum di bibirnya.
Mendengar perkataan Sihyun
membuat Jaein kembali gelisah. Bagaimana jika bayi yang dikandungnya ternyata
perempuan? Dan bagaimana jika kedua mertuanya tidak mau menerima kehadiran
bayinya? Kini dalam benak Jaein tengah dipenuhi semua pemikiran itu.
Aku
tidak mau tahu, bagaimanapun juga bayi ini harus laki-laki.
…
“Joon, kapan kau akan pulang? Apa
kau tidak tahu Jaein sangat merindukanmu?”
__ADS_1
‘Maafkan
aku sayang, pekerjaanku benar-benar di luar dugaan. Mungkin aku baru bisa
pulang dua hari lagi.’
“Wah kau ternyata sesibuk itu ya sajangnim,” ejek Sihyun disertai
kekehan. “Walau begitu bukankah kau harus tetap mengabari Jaein agar gadis itu
tidak mengkhawatirkan keadaanmu.”
‘Baiklah,
aku akan mengabarinya nanti. Tapi ngomong-ngomong dari tadi kau mengatakan
Jaein merindukanku, lalu bagaimana denganmu, kau tidak rindu padaku?’
Sihyun tersenyum getir. “Aku?
Bagaimana ya, kalau aku bilang tidak?”
‘Wah
istriku tega sekali eoh? Bagaimana mungkin ia tidak merindukanku.’
Wanita itu hanya bisa terkekeh
mendengar nada bicara Namjoon yang terdengar dibuat-buat seperti anak kecil
yang sedang merajuk.
“Sudah jangan merajuk, cepatlah
tidur dan beristirahat, kau pasti sangat lelah kan? Aku juga akan beristirahat
sekarang.”
‘Aigoo
padahal kita baru bicara sebentar denganmu. Aku merindukanmu sayang.’
“Makanya cepatlah pulang Joon,
sudah ku tutup ya.”
‘Love...’
Pip!
Belum sempat Sihyun mendengar
ucapan Namjoon, ia sudah terlebih dulu memutus sambungan tersebut. Ia tidak mau
merasa emosional malam-malam begini.
Kini tangannya terulur untuk
menyentuh perutnya yang sudah mulai buncit. Tentu saja usia janinnya kini sudah
memasuki bulan ke enam, jadi wajar saja jika perutnya sudah terlihat besar.
Namun beruntungnya Sihyun bisa menyembunyikan dengan baik dibalik oversized sweater-nya.
Dug!
“Omo!”
Seketika Sihyun memekik terkejut
saat perutnya tiba-tiba saja bergerak. Ia terperangah dengan apa yang baru saja
dirasakannya. Ia kembali mengusap lembut perutnya.
“Apa kau baru saja menyapa eomma eoh? Apa kau ingin berbicara
dengan eomma?” tanya Sihyun pada
perutnya.
Tanpa sadar air mata pun menetes
membasahi pipinya. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia merasakan gerakan
cukup keras dari bayinya. Sebelumnya Sihyun memang sudah pernah merasakan
gerakan dari bayinya, namum tak sekeras seperti yang baru saja ia rasakan. Kini
pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
“Terimakasih sudah datang dan
memberi kebahagiaan pada eomma sayang.”
…
“Apa eomma melihat Jaein? Kenapa aku tidak bisa menemukannya
dimana-mana?” tanya Sihyun lantas menghampiri Yo Won yang sedang sibuk
menyiapkan kopi untuk suaminya.
“Memangnya di kamarnya tidak ada?”
Sihyun pun menggelengkan
kepalanya. “Tidak ada eomma,” jawabnya.
“Kalau begitu coba saja kau
hubungi. Kau ini bagaimana bisa sangat mengkhawatirkan gadis itu, di saat dia
sedang berbahagia di atas penderitaanmu.”
“Aigoo eomma kenapa bicara seperti itu?” ujar Sihyun. Ia pun
memutuskan untuk menghubungi Jaein dan menanyakan keberadaannya sekarang.
Drrtt
drrtt drrtt…
Ia mengurungkan niatnya saat
melihat contact name Namjoon tertera
di layar ponselnya. Dengan cepat, ia pun segera mengangkatnya. “Halo‒”
‘Sayang
cepatlah ke rumah sakit sekarang juga, dokter bilang Jaein merasakan sakit pada
perutnya. Beruntung saja ia tengah berada di rumah sakit, jadi segera mendapat
penanganan medis.’
Sihyun membeku. Yo Won yang
sedari tadi memperhatikan pun kini penasaran dengan apa yang sedang mereka
berdua bicarakan.
“Darimana kau tahu?”
‘Baru
saja pihak rumah sakit menghubungiku menggunakan ponselnya. Aku akan pulang sekarang
juga, tolong kau temani Jaein dulu ya sayang.’
“Baiklah,”
‘Aku
mencintaimu.’
Pip!
Sambungan terputus sebelum Sihyun
menanggapi ungkapan cinta suaminya. Ia menghela napas sejenak, membuat Yo Won
semakin penasaran.
“Sihyun-ah ada apa?”
Wanita itu pun menatap Yo Won.
__ADS_1
“Terjadi sesuatu dengan Jaein eomma,”
“Mwo?”
…
Sihyun dan Yo Won pun segera
memasuki ruangan Jaein. Gadis itu tengah menggeliat, mengerang menahan sakit
yang dirasakannya.
“Jaein-ah apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini?” tanya Sihyun
sembari menggenggam tangan Jaein berharap akan sedikit mengurangi rasa sakit
yang dialami gadis itu.
“Akh sakit sekali eonni, aku tidak bisa menahannya,” rengek
Jaein. Sihyun pun tahu jika sakit yang dirasakan Jaein tidak main-main. Karena
gadis itu tengah meremas tangan Sihyun yang menggenggamnya. Wanita itu pun kini
menjadi sedikit ketakutan membayangkan jika ia yang akan berada di posisi Jaein
nantinya.
“Keadaan nona Park tidak
memungkinkan untuk melahirkan scara normal, jadi mau tidak mau kita harus
melakukan operasi secepatnya agar tidak membahayakan ibu dan bayinya.”
Sihyun membeku mendengar
penjelasan sang dokter. Ia menatap Jaein yang terlihat sudah kelelahan menahan
rasa sakitnya. Bagaimana ini? Bisakah ia mengambil keputusan sendiri tanpa
persetujuan Namjoon? Namun jika harus menunggu pria itu, ia takut terjadi
sesuatu yang buruk pada Jaein dan bayinya.
Wanita itu pun menghela napas
sejenak.
“Lakukan operasinya sekarang dok.”
…
Ting!
Sihyun dan Yo Won pun sontak
menoleh saat ruang operasi di sampingnya terbuka. Mereka pun segera menghampiri
sang dokter yang baru saja membantu proses persalinan Jaein. Tidak sabar
mendengar bagaimana keadaan Jaein dan buah hatinya, terlebih Sihyun yang
terlihat sangat mengkhawatirkan gadis itu.
“Syukurlah operasinya berjalan
lancar, dan bayi perempuannya lahir dengan selamat.”
Sihyun pun kini bisa bernapas
lega setelah mendapat kabar dari sang dokter.
“Lalu bagaimana dengan Jaein
dokter?” Kini giliran Yo Won yang membuka suara.
“Ah nona Park sudah kami
pindahkan ke ruang rawat, namun karena pengaruh bius, mungkin dalam waktu satu
jam kedepan baru akan sadar. Jika ingin melihat bayinya, kami sudah
memindahkannya di ruang bayi. Kalau begitu saya permisi,” pungkas sang dokter
yang kini sudah melenggang pergi meninggalkan Sihyun dan Yo Won.
“Apa kau ingin melihat bayinya?”
tanya Yo Won.
“Eoh?” Sihyun pun menoleh menatap Yo Won. “Ah aku akan melihat Jaein
lebih dulu eomma.”
Yo Won tersenyum lantas
menganggukkan kepalanya mengerti. “Baiklah kalau begitu aku akan melihat
bayinya,” ujar Yo Won lantas berjalan menuju ruangan bayi.
Sihyun memandang wajah pucat
Jaein yang terbaring di atas ranjang. Ia merasa menyesal karena gadis itu harus
melewati persalinan pertamanya sendiri tanpa kehadiran Namjoon di sampingnya.
Bagaimanapun Sihyun juga wanita, jadi ia bisa mengerti bagaimana perasaan
Jaein. Ia pun juga akan merasa seperti itu jika berada di posisi Jaein saat
ini.
“Kau sudah bekerja keras Jaein-ah,” ucap Sihyun tulus dengan senyum di
bibirnya.
…
Sihyun mendesah pasrah, lantas
meletakkan ponselnya kedalam tas. Pasalnya sejak tadi ia mencoba menghubungi
Namjoon, namun gagal. Sepertinya ia sudah berada dalam pesawat dan mematikan
ponselnya. Yang harus dilakukan wanita itu hanyalah menunggu. Menunggu Jaein
sadar, dan menunggu kedatangan Namjoon.
“Kau sudah berjuang bayi cantik,
selamat datang di dunia.”
Kini pandangannya tertuju pada
bayi perempuan mungil yang tengah tidur dengan damainya dari balik kaca. Tanpa sadar
ia tersenyum, membayangkan bagaimana bahagianya Namjoon dan Jaein saat melihat
betapa cantik dan menggemaskannya buah hati mereka.
“Permisi dokter, ada sesuatu yang
ingin ku tanyakan,” ujar Sihyun setelah memasuki ruangan dokter yang menangani
persalinan Jaein.
“Eoh tentu saja, apa yang bisa saya bantu nona?”
“Em tentang bayi Jaein, apa tidak
ada masalah? Ah maksudku bayi itu lahir sebelum genap sembilan bulan, aku hanya
khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”
Mendengar ucapan Sihyun membuat
dokter di hadapannya itu tersenyum. “Saya mengerti maksud anda, mungkin anda
terlalu khawatir. Dan lagipula usia kandungan nona Park sudah genap sembilan
bulan jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Kami berani menjamin jika
bayi nona Park benar-benar dalam keadaan sangat sehat.”
“Ne?”
…
__ADS_1
30 Maret 2020