Our Marriage

Our Marriage
Chapter 26


__ADS_3

‘Kau yakin? Walaupun pria itu jatuh miskin nantinya?


Bukankah seharusnya kau tahu tentang masalah Kim Financial?’


Jaein


menggigit-gigit jarinya gelisah. Sudah satu bulan ini gadis itu terus saja


terpikirkan tentang ucapan Seokjin padanya. Memang benar belakangan perusahaan


ayah mertuanya itu sempat terancam kebangkrutan karena Choi Siwon menghentikan


investasinya. Namun bukankah sekarang beliau kembali berinvestasi pada perusahaan,


dan lagi Namjoon juga pasti akan melakukan segalanya untuk mempertahankan


perusahaan.


“Aish!”


“Jaein-ah ada apa?” Ujar Sihyun yang tanpa ia


sadari sudah berada di ambang pintu. Sontak saja gadis itu terkejut. “Apa


terjadi sesuatu?”


“Eoh tidak ada eonni, aku baik-baik saja,” jawab Jaein.


“Ah


begitu ya, kajja sekarang sudah


saatnya makan malam.”


“Eoh baiklah aku akan menyusul sebentar


lagi eonni.”


Sihyun


pun mengangguk lantas meninggalkan Jaein yang sedang mencoba menormalkan


emosinya akibat memikirkan perkataan Seokjin padanya. Setelah merasa emosinya


sudah kembali normal, gadis itupun segera berjalan menuju ruang makan.


“Aku


harap bayi yang dikandung Jaein perempuan, karena aku tidak ingin bayi itu


menjadi pewaris kita nantinya.”


Sontak


saja Jaein menghentikan langkah saat mendengar samar-samar pembicaraan Yo Won


dengan Jungwoo. Ia mengerutkan keningnya dan menajamkan pendengarannya,


takut-takut ia salah paham dengan apa yang baru saja Yo Won ucapkan.


“Aku


juga sependapat sayang. Aku hanya ingin pewaris dari Sihyun saja.” Kini Jungwoo


membuka suara.


Gadis


itu pikir dengan menjadi istri sah Namjoon ia akan sepenuhnya diterima di


keluarga ini. Nyatanya kedua mertuanya itu masih tetap memihak pada Sihyun.


Jaein


memang sengaja tidak ingin memeriksa jenis kelamin bayinya. Menurutnya selama


kondisi bayi yang dikandungnya sehat, ia pun tak terlalu mempermasalahkannya.


Namun entah mengapa setelah mendengar ucapan kedua mertuanya satu sisi hatinya


memberontak. Tubuh Jaein pun menegang. Tanpa sadar ia mengepalkan tangannya


geram.


“Jaein-ah mwohae?”


Jaein


tersadar ketika Sihyun memanggil namanya. “Eoh?


Ah aku mau memanggil eomma dan appa sekalian eonni.”


Sihyun


pun tersenyum, lantas merangkul Jaein berjalan menuju ruang makan. “Mereka


sudah makan dulu tadi, mungkin sekarang sedang beristirahat.”


“Ah arraseo eonni.”



“Ngomong-ngomong kuperhatikan eonni sekarang lebih sering memakai oversized sweater,” selidik Jaein.


Sihyun lantas menghentikan


sejenak aktifitasnya, mengatur ekspresi wajah senormal mungkin. Bagaimana


caranya wanita ini menjawab pertanyaan Jaein. Alasan seperti apa yang akan ia


berikan pada Jaein. Tidak mungkin juga kan ia harus menjawab kalau dirinya hamil.


“Eum itu karena…” Kalimatnya terjeda beberapa saat. “Ah karena


akhir-akhir ini cuacanya cukup dingin, makanya aku lebih suka pakai sweater, lebih simpel dan nyaman juga,


yah begitulah.”


Jaein mengangguk. “Ah begitu ya.”


Sihyun pun memaksakan senyumnya. Bersyukur


gadis itu tak menaruh curiga padanya. Maafkan


eomma karena tak bisa mengakuimu saat ini nak.


“Eonni kapan oppa akan


pulang ya, padahal dia bilang hanya pergi selama dua minggu. Ck! Sekarang


bahkan sudah hampir satu bulan.” Jaein pun menggerutu.


Sedangkan Sihyun hanya bisa


terkekeh melihat ekspresi wajah Jaein saat ini. Benar-benar seperti anak kecil


yang sedang merajuk.


“Mungkin dia akan pulang dalam


beberapa hari. Wah kau sudah merindukan appa


eoh?” Kini tangannya terulur untuk mengusap perut buncit Jaein.


Jaein hanya tersenyum.


“Kalau begitu kau bisa memarahi


ayahmu saat dia pulang nanti jagoan,” ucap Sihyun dengan senyum di bibirnya.


Mendengar perkataan Sihyun


membuat Jaein kembali gelisah. Bagaimana jika bayi yang dikandungnya ternyata


perempuan? Dan bagaimana jika kedua mertuanya tidak mau menerima kehadiran


bayinya? Kini dalam benak Jaein tengah dipenuhi semua pemikiran itu.


Aku


tidak mau tahu, bagaimanapun juga bayi ini harus laki-laki.



“Joon, kapan kau akan pulang? Apa


kau tidak tahu Jaein sangat merindukanmu?”

__ADS_1


‘Maafkan


aku sayang, pekerjaanku benar-benar di luar dugaan. Mungkin aku baru bisa


pulang dua hari lagi.’


“Wah kau ternyata sesibuk itu ya sajangnim,” ejek Sihyun disertai


kekehan. “Walau begitu bukankah kau harus tetap mengabari Jaein agar gadis itu


tidak mengkhawatirkan keadaanmu.”


‘Baiklah,


aku akan mengabarinya nanti. Tapi ngomong-ngomong dari tadi kau mengatakan


Jaein merindukanku, lalu bagaimana denganmu, kau tidak rindu padaku?’


Sihyun tersenyum getir. “Aku?


Bagaimana ya, kalau aku bilang tidak?”


‘Wah


istriku tega sekali eoh? Bagaimana mungkin ia tidak merindukanku.’


Wanita itu hanya bisa terkekeh


mendengar nada bicara Namjoon yang terdengar dibuat-buat seperti anak kecil


yang sedang merajuk.


“Sudah jangan merajuk, cepatlah


tidur dan beristirahat, kau pasti sangat lelah kan? Aku juga akan beristirahat


sekarang.”


‘Aigoo


padahal kita baru bicara sebentar denganmu. Aku merindukanmu sayang.’


“Makanya cepatlah pulang Joon,


sudah ku tutup ya.”


‘Love...’


Pip!


Belum sempat Sihyun mendengar


ucapan Namjoon, ia sudah terlebih dulu memutus sambungan tersebut. Ia tidak mau


merasa emosional malam-malam begini.


Kini tangannya terulur untuk


menyentuh perutnya yang sudah mulai buncit. Tentu saja usia janinnya kini sudah


memasuki bulan ke enam, jadi wajar saja jika perutnya sudah terlihat besar.


Namun beruntungnya Sihyun bisa menyembunyikan dengan baik dibalik oversized sweater-nya.


Dug!


“Omo!”


Seketika Sihyun memekik terkejut


saat perutnya tiba-tiba saja bergerak. Ia terperangah dengan apa yang baru saja


dirasakannya. Ia kembali mengusap lembut perutnya.


“Apa kau baru saja menyapa eomma eoh? Apa kau ingin berbicara


dengan eomma?” tanya Sihyun pada


perutnya.


Tanpa sadar air mata pun menetes


membasahi pipinya. Bagaimana tidak, ini pertama kalinya ia merasakan gerakan


cukup keras dari bayinya. Sebelumnya Sihyun memang sudah pernah merasakan


gerakan dari bayinya, namum tak sekeras seperti yang baru saja ia rasakan. Kini


pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.


“Terimakasih sudah datang dan


memberi kebahagiaan pada eomma sayang.”



“Apa eomma melihat Jaein? Kenapa aku tidak bisa menemukannya


dimana-mana?” tanya Sihyun lantas menghampiri Yo Won yang sedang sibuk


menyiapkan kopi untuk suaminya.


“Memangnya di kamarnya tidak ada?”


Sihyun pun menggelengkan


kepalanya. “Tidak ada eomma,” jawabnya.


“Kalau begitu coba saja kau


hubungi. Kau ini bagaimana bisa sangat mengkhawatirkan gadis itu, di saat dia


sedang berbahagia di atas penderitaanmu.”


“Aigoo eomma kenapa bicara seperti itu?” ujar Sihyun. Ia pun


memutuskan untuk menghubungi Jaein dan menanyakan keberadaannya sekarang.


Drrtt


drrtt drrtt…


Ia mengurungkan niatnya saat


melihat contact name Namjoon tertera


di layar ponselnya. Dengan cepat, ia pun segera mengangkatnya. “Halo‒”


‘Sayang


cepatlah ke rumah sakit sekarang juga, dokter bilang Jaein merasakan sakit pada


perutnya. Beruntung saja ia tengah berada di rumah sakit, jadi segera mendapat


penanganan medis.’


Sihyun membeku. Yo Won yang


sedari tadi memperhatikan pun kini penasaran dengan apa yang sedang mereka


berdua bicarakan.


“Darimana kau tahu?”


‘Baru


saja pihak rumah sakit menghubungiku menggunakan ponselnya. Aku akan pulang sekarang


juga, tolong kau temani Jaein dulu ya sayang.’


“Baiklah,”


‘Aku


mencintaimu.’


Pip!


Sambungan terputus sebelum Sihyun


menanggapi ungkapan cinta suaminya. Ia menghela napas sejenak, membuat Yo Won


semakin penasaran.


“Sihyun-ah ada apa?”


Wanita itu pun menatap Yo Won.

__ADS_1


“Terjadi sesuatu dengan Jaein eomma,”


“Mwo?”



Sihyun dan Yo Won pun segera


memasuki ruangan Jaein. Gadis itu tengah menggeliat, mengerang menahan sakit


yang dirasakannya.


“Jaein-ah apa yang terjadi? Kenapa kau bisa seperti ini?” tanya Sihyun


sembari menggenggam tangan Jaein berharap akan sedikit mengurangi rasa sakit


yang dialami gadis itu.


“Akh sakit sekali eonni, aku tidak bisa menahannya,” rengek


Jaein. Sihyun pun tahu jika sakit yang dirasakan Jaein tidak main-main. Karena


gadis itu tengah meremas tangan Sihyun yang menggenggamnya. Wanita itu pun kini


menjadi sedikit ketakutan membayangkan jika ia yang akan berada di posisi Jaein


nantinya.


“Keadaan nona Park tidak


memungkinkan untuk melahirkan scara normal, jadi mau tidak mau kita harus


melakukan operasi secepatnya agar tidak membahayakan ibu dan bayinya.”


Sihyun membeku mendengar


penjelasan sang dokter. Ia menatap Jaein yang terlihat sudah kelelahan menahan


rasa sakitnya. Bagaimana ini? Bisakah ia mengambil keputusan sendiri tanpa


persetujuan Namjoon? Namun jika harus menunggu pria itu, ia takut terjadi


sesuatu yang buruk pada Jaein dan bayinya.


Wanita itu pun menghela napas


sejenak.


“Lakukan operasinya sekarang dok.”



Ting!


Sihyun dan Yo Won pun sontak


menoleh saat ruang operasi di sampingnya terbuka. Mereka pun segera menghampiri


sang dokter yang baru saja membantu proses persalinan Jaein. Tidak sabar


mendengar bagaimana keadaan Jaein dan buah hatinya, terlebih Sihyun yang


terlihat sangat mengkhawatirkan gadis itu.


“Syukurlah operasinya berjalan


lancar, dan bayi perempuannya lahir dengan selamat.”


Sihyun pun kini bisa bernapas


lega setelah mendapat kabar dari sang dokter.


“Lalu bagaimana dengan Jaein


dokter?” Kini giliran Yo Won yang membuka suara.


“Ah nona Park sudah kami


pindahkan ke ruang rawat, namun karena pengaruh bius, mungkin dalam waktu satu


jam kedepan baru akan sadar. Jika ingin melihat bayinya, kami sudah


memindahkannya di ruang bayi. Kalau begitu saya permisi,” pungkas sang dokter


yang kini sudah melenggang pergi meninggalkan Sihyun dan Yo Won.


“Apa kau ingin melihat bayinya?”


tanya Yo Won.


“Eoh?” Sihyun pun menoleh menatap Yo Won. “Ah aku akan melihat Jaein


lebih dulu eomma.”


Yo Won tersenyum lantas


menganggukkan kepalanya mengerti. “Baiklah kalau begitu aku akan melihat


bayinya,” ujar Yo Won lantas berjalan menuju ruangan bayi.


Sihyun memandang wajah pucat


Jaein yang terbaring di atas ranjang. Ia merasa menyesal karena gadis itu harus


melewati persalinan pertamanya sendiri tanpa kehadiran Namjoon di sampingnya.


Bagaimanapun Sihyun juga wanita, jadi ia bisa mengerti bagaimana perasaan


Jaein. Ia pun juga akan merasa seperti itu jika berada di posisi Jaein saat


ini.


“Kau sudah bekerja keras Jaein-ah,” ucap Sihyun tulus dengan senyum di


bibirnya.



Sihyun mendesah pasrah, lantas


meletakkan ponselnya kedalam tas. Pasalnya sejak tadi ia mencoba menghubungi


Namjoon, namun gagal. Sepertinya ia sudah berada dalam pesawat dan mematikan


ponselnya. Yang harus dilakukan wanita itu hanyalah menunggu. Menunggu Jaein


sadar, dan menunggu kedatangan Namjoon.


“Kau sudah berjuang bayi cantik,


selamat datang di dunia.”


Kini pandangannya tertuju pada


bayi perempuan mungil yang tengah tidur dengan damainya dari balik kaca. Tanpa sadar


ia tersenyum, membayangkan bagaimana bahagianya Namjoon dan Jaein saat melihat


betapa cantik dan menggemaskannya buah hati mereka.


“Permisi dokter, ada sesuatu yang


ingin ku tanyakan,” ujar Sihyun setelah memasuki ruangan dokter yang menangani


persalinan Jaein.


“Eoh tentu saja, apa yang bisa saya bantu nona?”


“Em tentang bayi Jaein, apa tidak


ada masalah? Ah maksudku bayi itu lahir sebelum genap sembilan bulan, aku hanya


khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.”


Mendengar ucapan Sihyun membuat


dokter di hadapannya itu tersenyum. “Saya mengerti maksud anda, mungkin anda


terlalu khawatir. Dan lagipula usia kandungan nona Park sudah genap sembilan


bulan jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Kami berani menjamin jika


bayi nona Park benar-benar dalam keadaan sangat sehat.”


“Ne?”


__ADS_1


 


30 Maret 2020


__ADS_2