Our Marriage

Our Marriage
Chapter 23


__ADS_3

Sudah


hampir seharian ini Sihyun tengah duduk termenung di ruang kerjanya. Pikirannya


sedang melayang kemana-mana, entahlah semua permasalahan ini membuatnya sangat


frustasi. Wanita itu tak pernah menyangka jika hidupnya, rumah tangganya akan


serumit ini.


Ia


merasa semua ini berawal darinya. Berawal dari ketidakmampuannya memberi


Namjoon keturunan selama hampir tiga tahun. Kucingpun juga akan merasa bosan


memakan satu jenis ikan, dan ingin merasakan yang lainnya. Begitulah yang ia


pikirkan tentang Namjoon. Pria itu mungkin sedang berada di titik jenuhnya,


lantas bertemu dengan Jaein yang jelas lebih menarik perhatian Namjoon.


“Semua


ini salahmu Choi Sihyun!” Umpatnya pada diri sendiri.


“Bibi!”


Sihyun


terlonjak saat mendengar suara cempreng yang tiba-tiba saja memanggilnya. Ia


bisa menebak siapa yang membuat suara itu.


Benar


saja saat menoleh, Sihyun mendapati keponakan nakalnya itu sudah berdiri di sampingnya,


dengan seringai khas miliknya. Alhasil membuat Sihyun seketika tersenyum, dan


sejenak melupakan semua masalahnya.


“Ya!


Tidak bisakah kau sekali saja tidak mengejutkan bibi?”


“Tidak


bisa!” Tak perlu berpikir panjang, Minji menjawabnya tanpa ragu.


Jawaban


gadis kecil itu sontak membuat Sihyun tertawa, dan menghujaminya dengan ciuman


gemas di seluruh wajah Minji tanpa memperdulikan jika gadis itu tengah


melayangkan protesnya.


“Kau


kemari dengan siapa? Apa ibumu menitipkanmu padaku lagi?”


Minji


menggeleng, mengambil tempat duduk di sebelah Sihyun. “Aku kemari dengan halmeoni.”


Sihyun


membeku seketika. Sejak kejadian hari itu ia belum pernah bertemu sama sekali


dengan ibunya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibunya saat


mengetahui semuanya.


“Sihyun-ah…”


Ia


menoleh pada sumber suara. Maniknya bertemu dengan tatapan sendu sang ibu,


membuatnya tak kuasa menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar.


Segera


saja Young Ae berjalan mendekati putrinya, lantas membawa Sihyun dalam


pelukannya. Tangis keduanya pun pecah seketika. Bagaimanapun, ibu mana yang


tidak sedih saat putrinya merasakan sakit. Begitu pula dengan Sihyun, sekuat


apapun ia bertahan, sekuat apapun ia menyembunyikan rasa sakitnya, jika sudah


bertemu sang ibu pasti semua pertahanannya akan runtuh.


“Bagaimana


bisa kau menanggung beban sebesar ini sendirian, eoh? Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai ibumu?”


“Hiks eomma...” Hanya itu yang mampu keluar


dari bibir Sihyun.


“Kau


ingin menceritakan semuanya pada eomma?


Apa kau ingin membagi sedikit bebanmu padaku? Bagaimana bisa putriku bertahan


sekuat ini, eoh?” Semakin erat Young


Ae mendekap Sihyun, semakin keras pula tangisan si bungsu Choi itu.


“Aku


lelah eomma, hatiku tidak sanggup


lagi menahan semuanya.”


Young


Ae trenyuh. Diusapnya dengan lembut puncak kepala Sihyun, menyalurkan kekuatan


untuk putrinya.


“Lalu


kenapa kau masih mempertahankannya? Kenapa tidak menuruti ucapan ayahmu?”


Sihyun


mengangkat kepalanya, memandang wajah sendu bak malaikat milik sang ibu. “Aku


mencintainya eomma, aku tak bisa


meninggalkannya begitu saja.”


“Walaupun


ia sudah menyakitimu seperti saat ini?”


Sihyun


mengangguk lemah. “Bagaimanapun juga aku tidak bisa membiarkan bayiku lahir


tanpa ayah, eomma.”


“Eomma tidak akan menentang pilihanmu.


Tapi aku yakin ayahmu tidak akan tinggal diam Sihyun-ah. Kau tahu sifat ayahmu kan?”


Sihyun


terbelalak menatap Young Ae. “Memangnya apa yang akan ayah lakukan eomma?”



‘Choi


Corporation berhenti berinvestasi dengan Kim Financial.’

__ADS_1


Namjoon


melempar surat kabar dengan kasar setelah membaca berita utama. Tidak menyangka


ayah mertuanya benar-benar akan melakukan hal ini. Tangannya mengepal kuat


karena terlampau geram dengan apa yang baru saja ia baca. Namun tentu saja ia


tidak bisa melakukan apa-apa. Nasi telah menjadi bubur, ia pun telah kehilangan


kepercayaan dari Siwon karena perbuatan bodohnya.


Semua


pengusaha tahu jika Choi Corporation adalah jaringan bisnis besar yang tersohor


di seluruh penjuru Korea. Jika mereka menghentikan investasi pada salah satu


perusahaan, maka kebangkrutan akan segera menghampiri perusahaan tersebut.


Salahkan otak cerdas Namjoon yang dapat dengan cepat menangkap maksud ayah


mertuanya.


Tanpa


sadar ia mengacak rambutnya frustasi, dan menutup wajah dengan kedua tangannya.


Pada saat itu juga Jaein melihatnya. Gadis itupun duduk di sebelah Namjoon,


meletakan kopi yang baru saja ia buat untuk suaminya. Maniknya lantas tertuju


pada surat kabar yang sempat Namjoon baca.


“Oppa…” Jaein memberanikan diri memanggil


suaminya.


Tak


ada respon dari Namjoon. Pria itu terlalu kalut dengan semua permasalahan


hidupnya. Hingga akhirnya ia menoleh saat Jaein membuka tangan yang Namjoon


gunakan untuk menutupi wajahnya.


“Gwaenchana?” Jaein kembali bertanya.


Namjoon


memaksa senyum di bibirnya, lantas mengecup kening Jaein dengan sayang. “Aku


baik-baik saja sayang, tidak perlu khawatir.”


Jaein


menatap lekat mata pria itu. “Bohong. Jelas sekali terlihat jika kau tidak


baik-baik saja oppa.”


Pria


itu kembali menghela napas karena Jaein dapat membaca dengan jelas ekspresi


wajahnya.


Tanpa


suara, ia balas menatap manik Jaein. Seketika pikirannya berandai-andai, jika


saja dulu ia tidak pernah bertemu Jaein, semuanya pasti baik-baik saja. Jika


saja ia tetap sabar menunggu kehamilan Sihyun, mungkin hidupnya tidak akan serumit


ini. Dan jika saja ia tahu bahwa saat ini Sihyun tengah mengandung buah cinta


yang selama ini mereka idam-idamkan, mungkin pria itu akan dengan suka rela


melemparkan dirinya sendiri dari atas gedung yang sangat tinggi.


Beruntung


merasa semenyesal itu telah mengkhianati janji suci yang ia ucapkan saat


menikahi Sihyun tiga tahun yang lalu.


“Cha, sekarang lebih baik oppa minum kopi dulu, aku yakin semuanya


pasti akan baik-baik saja,” putus Jaein lantas mengulurkan kopi pada sang


suami.


Andai


mereka tahu kemelut yang akan mereka hadapi tidak lagi semudah bersantai dengan


minum kopi seperti saat ini.



Brak!


Sihyun


membanting pintu ruang kerja Siwon dengan keras. Wanita itu murka dengan apa


yang ayahnya lakukan pada perusahaan Jungwoo. Siwon pun memusatkan perhatian


pada putrinya.


“Kenapa appa melakukan itu? Semua ini tidak


ada hubungannya dengan ayah mertua!”


Siwon


bangkit dari tempat duduknya, melangkah perlahan menghampiri Sihyun. “Tapi


tetap saja keluarga itu sudah membuat putriku menderita.”


Sihyun


tertawa hambar, menatap penuh amarah pada ayahnya. “Aku baru tahu ternyata kau


sejahat ini appa. Apakah ucapanku


waktu itu tidak cukup untuk meyakinkanmu? Kenapa sekarang kau menyeret ayah


mertua kedalam masalah ini!”


Pria


berlesung pipi itu tidak menggubris. Ia tengah berdiri bersedekap menghadap


jendela.


“Appa kumohon tarik semuanya, jangan


libatkan ayah mertua kedalam masalah ini,” pinta Sihyun sedikit menurunkan nada


bicaranya. “Lakukanlah demi putrimu appa.


Ah tidak, aku akan membayarnya jika perlu, tapi ku mohon kembalilah menjadi


investor Kim Financial.”


Siwon


berbalik menatap sendu putrinya yang kini sedang berlutut padanya. “Bangunlah


Choi Sihyun, seberapa keras kau meminta aku akan tetap pada keputusanku.”



Hari


sudah semakin larut, Sihyun mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya. Ia


menyeret langkah enggan memasuki café miliknya. Wanita itu sama sekali tak

__ADS_1


berniat pulang ke rumah, karena suasana hatinya benar-benar buruk akibat


perdebatannya dengan sang ayah.


Ia


menghempaskan tubuhnya di salah satu bangku café. Lantas membenamkan wajah pada


kedua tangannya tanpa memperdulikan pelanggan café yang kini tengah menatapnya.


“Permisi


nona, ada yang bisa kami bantu?”


“Aku


ingin sendiri, jangan menggangguku,” jawabnya tanpa mengangkat kepala.


“Tapi


sepertinya anda sedang memerlukan sesuatu.”


“Chogi sudah kubilang‒” Sihyun


menghentikan ucapannya ketika memandang sang lawan bicara. “Kau?”


Hoseok


melayangkan senyum terbaiknya lantas mendudukkan dirinya di hadapan Sihyun.


“Wajahmu jelek saat menangis Sihyun-ah.”


“Apa


kau kemari hanya ingin meledekku?”


“Aniya, aku mencarimu, pegawaimu bilang


kau sedang keluar. Aku menghubungimu berkali-kali tapi tidak kau angkat, jadi


kuputuskan untuk menunggu disini, siapa tahu kau kembali kemari. Ternyata benar


kan,” ujar Hoseok menjelaskan.


Sihyun


menghela napas. “Maafkan aku Hoseok-ah,


aku sedang tidak dalam kondisi yang baik.”


“Apa


karena perusahaan ayahmu?”


Sihyun


menatap Hoseok datar dengan senyum getir di bibirnya. “Kau juga sudah tahu


rupanya. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih karena masalah ini.”


“Hey,


kau harus ingat bayi yang ada di dalam perutmu itu. Kau pikir saat ibunya


sedang kacau seperti ini dia akan baik-baik saja?”


“Lalu


aku harus bagaimana Hoseok-ah?”


Wanita itu menatap Hoseok, menuntut jawaban dari pria itu.


“Mau


jalan-jalan tidak?”



Hoseok


mengusap lembut puncak kepala Sihyun, mencoba menenangkan wanita yang kini


tengah menangis di pelukannya. Dan hanya itu yang bisa Hoseok lakukan agar


tangis Sihyun segera reda.


“Aku


harus bagaimana Hoseok-ah? Aku tidak


tahan dengan semua ini. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Namjoon begitu


saja, aku sangat mencintainya.” Racau Sihyun terbata karena tangisnya.


Hoseok


menghela napas, entah tak tahu saran seperti apa yang harus ia berikan pada


Sihyun. Karena ia pun juga tak berpengalaman dalam hal seperti ini. Jatuh cinta


saja tidak pernah saking sibuknya dengan pekerjaan di rumah sakit, bagaimana ia


bisa membantu Sihyun? Tapi setidaknya ia sedikit meringankan beban wanita itu,


karena sudah meyakinkan Sihyun agar menceritakan semua masalahnya.


“Kalau


begitu ikuti saja kata hatimu Sihyun-ah.


Wanita baik sepertimu tidak mungkin terus menderita, aku yakin semuanya akan


indah seiring berjalannya waktu. Tuhan juga tidak akan tutup mata, ia membuatmu


menderita saat ini karena ia sudah mempunyai rencana hebat untukmu nanti.”


Hanya itulah yang berhasil keluar dari bibir Hoseok.


Kini


pria itu tahu alasan kenapa Sihyun memintanya merahasiakan kehamilannya pada


Namjoon. Dan sekarang ia juga tahu, jika mahasiswi depan rumahnya adalah


selingkuhan Namjoon. Itulah mengapa waktu itu ia bertemu Namjoon.


“Aku


ada di sini untuk membantumu Sihyun-ah,


kau bisa datang kapan saja padaku jika memerlukan sesuatu. Bukankah itu gunanya


teman?”


“Jika


aku memerlukan sesuatu?” Sihyun melepaskan pelukannya lantas menatap intens dokter


muda di hadapannya.


Hoseok


mengangguk pasti dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. “Tentu saja.”


“Benar


kau akan menurutinya?” Sekali lagi Sihyun memastikan.


“Iya


nona Choi Sihyun.”


“Kalau


begitu aku ingin sup kerang, dan memakannya di tepi pantai.”



 

__ADS_1


15 Maret 2020 - Itsmehyuna_


__ADS_2