
Sudah
hampir seharian ini Sihyun tengah duduk termenung di ruang kerjanya. Pikirannya
sedang melayang kemana-mana, entahlah semua permasalahan ini membuatnya sangat
frustasi. Wanita itu tak pernah menyangka jika hidupnya, rumah tangganya akan
serumit ini.
Ia
merasa semua ini berawal darinya. Berawal dari ketidakmampuannya memberi
Namjoon keturunan selama hampir tiga tahun. Kucingpun juga akan merasa bosan
memakan satu jenis ikan, dan ingin merasakan yang lainnya. Begitulah yang ia
pikirkan tentang Namjoon. Pria itu mungkin sedang berada di titik jenuhnya,
lantas bertemu dengan Jaein yang jelas lebih menarik perhatian Namjoon.
“Semua
ini salahmu Choi Sihyun!” Umpatnya pada diri sendiri.
“Bibi!”
Sihyun
terlonjak saat mendengar suara cempreng yang tiba-tiba saja memanggilnya. Ia
bisa menebak siapa yang membuat suara itu.
Benar
saja saat menoleh, Sihyun mendapati keponakan nakalnya itu sudah berdiri di sampingnya,
dengan seringai khas miliknya. Alhasil membuat Sihyun seketika tersenyum, dan
sejenak melupakan semua masalahnya.
“Ya!
Tidak bisakah kau sekali saja tidak mengejutkan bibi?”
“Tidak
bisa!” Tak perlu berpikir panjang, Minji menjawabnya tanpa ragu.
Jawaban
gadis kecil itu sontak membuat Sihyun tertawa, dan menghujaminya dengan ciuman
gemas di seluruh wajah Minji tanpa memperdulikan jika gadis itu tengah
melayangkan protesnya.
“Kau
kemari dengan siapa? Apa ibumu menitipkanmu padaku lagi?”
Minji
menggeleng, mengambil tempat duduk di sebelah Sihyun. “Aku kemari dengan halmeoni.”
Sihyun
membeku seketika. Sejak kejadian hari itu ia belum pernah bertemu sama sekali
dengan ibunya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi ibunya saat
mengetahui semuanya.
“Sihyun-ah…”
Ia
menoleh pada sumber suara. Maniknya bertemu dengan tatapan sendu sang ibu,
membuatnya tak kuasa menahan air mata yang sudah mendesak ingin keluar.
Segera
saja Young Ae berjalan mendekati putrinya, lantas membawa Sihyun dalam
pelukannya. Tangis keduanya pun pecah seketika. Bagaimanapun, ibu mana yang
tidak sedih saat putrinya merasakan sakit. Begitu pula dengan Sihyun, sekuat
apapun ia bertahan, sekuat apapun ia menyembunyikan rasa sakitnya, jika sudah
bertemu sang ibu pasti semua pertahanannya akan runtuh.
“Bagaimana
bisa kau menanggung beban sebesar ini sendirian, eoh? Apa kau sudah tidak menganggapku sebagai ibumu?”
“Hiks eomma...” Hanya itu yang mampu keluar
dari bibir Sihyun.
“Kau
ingin menceritakan semuanya pada eomma?
Apa kau ingin membagi sedikit bebanmu padaku? Bagaimana bisa putriku bertahan
sekuat ini, eoh?” Semakin erat Young
Ae mendekap Sihyun, semakin keras pula tangisan si bungsu Choi itu.
“Aku
lelah eomma, hatiku tidak sanggup
lagi menahan semuanya.”
Young
Ae trenyuh. Diusapnya dengan lembut puncak kepala Sihyun, menyalurkan kekuatan
untuk putrinya.
“Lalu
kenapa kau masih mempertahankannya? Kenapa tidak menuruti ucapan ayahmu?”
Sihyun
mengangkat kepalanya, memandang wajah sendu bak malaikat milik sang ibu. “Aku
mencintainya eomma, aku tak bisa
meninggalkannya begitu saja.”
“Walaupun
ia sudah menyakitimu seperti saat ini?”
Sihyun
mengangguk lemah. “Bagaimanapun juga aku tidak bisa membiarkan bayiku lahir
tanpa ayah, eomma.”
“Eomma tidak akan menentang pilihanmu.
Tapi aku yakin ayahmu tidak akan tinggal diam Sihyun-ah. Kau tahu sifat ayahmu kan?”
Sihyun
terbelalak menatap Young Ae. “Memangnya apa yang akan ayah lakukan eomma?”
…
‘Choi
Corporation berhenti berinvestasi dengan Kim Financial.’
__ADS_1
Namjoon
melempar surat kabar dengan kasar setelah membaca berita utama. Tidak menyangka
ayah mertuanya benar-benar akan melakukan hal ini. Tangannya mengepal kuat
karena terlampau geram dengan apa yang baru saja ia baca. Namun tentu saja ia
tidak bisa melakukan apa-apa. Nasi telah menjadi bubur, ia pun telah kehilangan
kepercayaan dari Siwon karena perbuatan bodohnya.
Semua
pengusaha tahu jika Choi Corporation adalah jaringan bisnis besar yang tersohor
di seluruh penjuru Korea. Jika mereka menghentikan investasi pada salah satu
perusahaan, maka kebangkrutan akan segera menghampiri perusahaan tersebut.
Salahkan otak cerdas Namjoon yang dapat dengan cepat menangkap maksud ayah
mertuanya.
Tanpa
sadar ia mengacak rambutnya frustasi, dan menutup wajah dengan kedua tangannya.
Pada saat itu juga Jaein melihatnya. Gadis itupun duduk di sebelah Namjoon,
meletakan kopi yang baru saja ia buat untuk suaminya. Maniknya lantas tertuju
pada surat kabar yang sempat Namjoon baca.
“Oppa…” Jaein memberanikan diri memanggil
suaminya.
Tak
ada respon dari Namjoon. Pria itu terlalu kalut dengan semua permasalahan
hidupnya. Hingga akhirnya ia menoleh saat Jaein membuka tangan yang Namjoon
gunakan untuk menutupi wajahnya.
“Gwaenchana?” Jaein kembali bertanya.
Namjoon
memaksa senyum di bibirnya, lantas mengecup kening Jaein dengan sayang. “Aku
baik-baik saja sayang, tidak perlu khawatir.”
Jaein
menatap lekat mata pria itu. “Bohong. Jelas sekali terlihat jika kau tidak
baik-baik saja oppa.”
Pria
itu kembali menghela napas karena Jaein dapat membaca dengan jelas ekspresi
wajahnya.
Tanpa
suara, ia balas menatap manik Jaein. Seketika pikirannya berandai-andai, jika
saja dulu ia tidak pernah bertemu Jaein, semuanya pasti baik-baik saja. Jika
saja ia tetap sabar menunggu kehamilan Sihyun, mungkin hidupnya tidak akan serumit
ini. Dan jika saja ia tahu bahwa saat ini Sihyun tengah mengandung buah cinta
yang selama ini mereka idam-idamkan, mungkin pria itu akan dengan suka rela
melemparkan dirinya sendiri dari atas gedung yang sangat tinggi.
Beruntung
merasa semenyesal itu telah mengkhianati janji suci yang ia ucapkan saat
menikahi Sihyun tiga tahun yang lalu.
“Cha, sekarang lebih baik oppa minum kopi dulu, aku yakin semuanya
pasti akan baik-baik saja,” putus Jaein lantas mengulurkan kopi pada sang
suami.
Andai
mereka tahu kemelut yang akan mereka hadapi tidak lagi semudah bersantai dengan
minum kopi seperti saat ini.
…
Brak!
Sihyun
membanting pintu ruang kerja Siwon dengan keras. Wanita itu murka dengan apa
yang ayahnya lakukan pada perusahaan Jungwoo. Siwon pun memusatkan perhatian
pada putrinya.
“Kenapa appa melakukan itu? Semua ini tidak
ada hubungannya dengan ayah mertua!”
Siwon
bangkit dari tempat duduknya, melangkah perlahan menghampiri Sihyun. “Tapi
tetap saja keluarga itu sudah membuat putriku menderita.”
Sihyun
tertawa hambar, menatap penuh amarah pada ayahnya. “Aku baru tahu ternyata kau
sejahat ini appa. Apakah ucapanku
waktu itu tidak cukup untuk meyakinkanmu? Kenapa sekarang kau menyeret ayah
mertua kedalam masalah ini!”
Pria
berlesung pipi itu tidak menggubris. Ia tengah berdiri bersedekap menghadap
jendela.
“Appa kumohon tarik semuanya, jangan
libatkan ayah mertua kedalam masalah ini,” pinta Sihyun sedikit menurunkan nada
bicaranya. “Lakukanlah demi putrimu appa.
Ah tidak, aku akan membayarnya jika perlu, tapi ku mohon kembalilah menjadi
investor Kim Financial.”
Siwon
berbalik menatap sendu putrinya yang kini sedang berlutut padanya. “Bangunlah
Choi Sihyun, seberapa keras kau meminta aku akan tetap pada keputusanku.”
…
Hari
sudah semakin larut, Sihyun mengusap kasar air mata yang membasahi pipinya. Ia
menyeret langkah enggan memasuki café miliknya. Wanita itu sama sekali tak
__ADS_1
berniat pulang ke rumah, karena suasana hatinya benar-benar buruk akibat
perdebatannya dengan sang ayah.
Ia
menghempaskan tubuhnya di salah satu bangku café. Lantas membenamkan wajah pada
kedua tangannya tanpa memperdulikan pelanggan café yang kini tengah menatapnya.
“Permisi
nona, ada yang bisa kami bantu?”
“Aku
ingin sendiri, jangan menggangguku,” jawabnya tanpa mengangkat kepala.
“Tapi
sepertinya anda sedang memerlukan sesuatu.”
“Chogi sudah kubilang‒” Sihyun
menghentikan ucapannya ketika memandang sang lawan bicara. “Kau?”
Hoseok
melayangkan senyum terbaiknya lantas mendudukkan dirinya di hadapan Sihyun.
“Wajahmu jelek saat menangis Sihyun-ah.”
“Apa
kau kemari hanya ingin meledekku?”
“Aniya, aku mencarimu, pegawaimu bilang
kau sedang keluar. Aku menghubungimu berkali-kali tapi tidak kau angkat, jadi
kuputuskan untuk menunggu disini, siapa tahu kau kembali kemari. Ternyata benar
kan,” ujar Hoseok menjelaskan.
Sihyun
menghela napas. “Maafkan aku Hoseok-ah,
aku sedang tidak dalam kondisi yang baik.”
“Apa
karena perusahaan ayahmu?”
Sihyun
menatap Hoseok datar dengan senyum getir di bibirnya. “Kau juga sudah tahu
rupanya. Aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih karena masalah ini.”
“Hey,
kau harus ingat bayi yang ada di dalam perutmu itu. Kau pikir saat ibunya
sedang kacau seperti ini dia akan baik-baik saja?”
“Lalu
aku harus bagaimana Hoseok-ah?”
Wanita itu menatap Hoseok, menuntut jawaban dari pria itu.
“Mau
jalan-jalan tidak?”
…
Hoseok
mengusap lembut puncak kepala Sihyun, mencoba menenangkan wanita yang kini
tengah menangis di pelukannya. Dan hanya itu yang bisa Hoseok lakukan agar
tangis Sihyun segera reda.
“Aku
harus bagaimana Hoseok-ah? Aku tidak
tahan dengan semua ini. Tapi aku juga tidak bisa meninggalkan Namjoon begitu
saja, aku sangat mencintainya.” Racau Sihyun terbata karena tangisnya.
Hoseok
menghela napas, entah tak tahu saran seperti apa yang harus ia berikan pada
Sihyun. Karena ia pun juga tak berpengalaman dalam hal seperti ini. Jatuh cinta
saja tidak pernah saking sibuknya dengan pekerjaan di rumah sakit, bagaimana ia
bisa membantu Sihyun? Tapi setidaknya ia sedikit meringankan beban wanita itu,
karena sudah meyakinkan Sihyun agar menceritakan semua masalahnya.
“Kalau
begitu ikuti saja kata hatimu Sihyun-ah.
Wanita baik sepertimu tidak mungkin terus menderita, aku yakin semuanya akan
indah seiring berjalannya waktu. Tuhan juga tidak akan tutup mata, ia membuatmu
menderita saat ini karena ia sudah mempunyai rencana hebat untukmu nanti.”
Hanya itulah yang berhasil keluar dari bibir Hoseok.
Kini
pria itu tahu alasan kenapa Sihyun memintanya merahasiakan kehamilannya pada
Namjoon. Dan sekarang ia juga tahu, jika mahasiswi depan rumahnya adalah
selingkuhan Namjoon. Itulah mengapa waktu itu ia bertemu Namjoon.
“Aku
ada di sini untuk membantumu Sihyun-ah,
kau bisa datang kapan saja padaku jika memerlukan sesuatu. Bukankah itu gunanya
teman?”
“Jika
aku memerlukan sesuatu?” Sihyun melepaskan pelukannya lantas menatap intens dokter
muda di hadapannya.
Hoseok
mengangguk pasti dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya. “Tentu saja.”
“Benar
kau akan menurutinya?” Sekali lagi Sihyun memastikan.
“Iya
nona Choi Sihyun.”
“Kalau
begitu aku ingin sup kerang, dan memakannya di tepi pantai.”
…
__ADS_1
15 Maret 2020 - Itsmehyuna_