
Nb: Masuk ke konflik Rendi sama Dea dulu ya. Maaf, saya di sini gada part Ega dan Chris ✌.
Hari semakin larut jam dinding terus berdenting. Dea wanita yang tengah hamil tampak pucat. Memegangi dada yang terasa sesak. Napasnya tersengal, bulir keringat mengalir deras di dahi.
Mimpi buruk yang baru saja ia alami membuatnya terjaga dari tidur nyenyak. Netra cokelat itu menyapu dinding dingin dalam kamar, menyentuh kepala yang terasa sakit. Dea turun dari ranjang besar, mendekati meja nakas mengambil ponsel, lalu beranjak keluar kamar.
Perlahan kakinya menapaki satu per satu tangga marmer rumah, sampai di ruang tamu ia duduk nyaman pada sofa merah maroon yang baru di beli nya kemarin.
Jemari nya mengelus sisi sofa bermerek Celly tersebut dengan senyum mengembang puas, perlahan tapi pasti senyum manis di bibir nya berubah menjadi senyum kecut. Menyadari hampir satu bulan ini sikap Rendi berubah.
Ponsel nya bergetar, meraih benda pipih yang bergetar di samping tubuh, nama Rendi jelas terpampang di layar, perasaan senang seketika muncul setelah hampir satu bulan juga Rendi tidak pernah menghubungi lebih dahulu.
"Halo Ren—" perkataannya terputus mendengar suara bising di seberang.
"Maaf nona, apa anda kenal dengan pemilik ponsel ini, tolong ke sini dia mabuk."
"Baiklah, kirim saja alamatnya, aku pasti ke sana." Memutus sambungan telepon dari bartender. Dea langsung menghubungi Hidan anak buah suaminya.
Alamat bar yang di berikan cukup jauh, membutuhkan waktu empat puluh menit untuk sampai sana. Begitu sampai di area parkir Dea langsung turun. Merapatkan mantel pada tubuh, karena udara cukup dingin malam ini, Hidan dengan setia mengikuti dari belakang.
Pintu bar terbuka aroma alkohol dan asap rokok menyeruak menusuk hidung. Alunan suara musik memekak telinga, namun ia tidak peduli itu sudah biasa baginya.
Langkah Dea terhenti saat pundaknya ditepuk seseorang. Tubuh Dea berbalik serta mengumpat keras pada seorang pria yang memegang bahu nya cukup keras.
"Sialan, apa urusan—?" Dea terkesiap melihat pria di depannya.
Pria itu memberi tatapan tajam siap menghunus pedang. Dea menyentak kasar tangan Malik. Wanita itu tidak mau ambil pusing. Tubuh Dea kembali berbalik mencoba pergi menghindar dari sang mantan. Sampai suara dingin milik Malik menyapa gendang telinga.
"Bagaimana bisa kau menikah dengan orang lain sedangkan itu anak ku?" desis Malik tidak dapat membendung rasa marah. Jari telunjuk panjang mengarah pada perut Dea yang membuncit.
Perdebatan diantara mereka tidak terelakkan, suara mereka saling bersahutan sinis bercampur suara musik yang sangat kontras di sana.
Sampai Julio yang sedari tadi menonton mulai jengah dan mendekati keduanya.
"Kau kira ini anak mu heh, percaya diri sekali dude?" memandang remeh Malik.
"Tentu saja, aku yakin sp**ma ku berkembang di sana," sekali lagi mata Malik mengarah pada perut Dea.
__ADS_1
Dea menatap malas, menggeleng kepala samar. "Terserah apa kata mu yang jelas sekarang aku istri sah Rendi." Dea melipat tangan depan dada dengan wajah congkak tanpa ragu, dia juga menatap Malik dengan senyum mengejek kentara.
"Cih, kau tidak lebih dari sampah, j***ng sialan," umpat Malik semakin geram dengan penjelasan Karin.
"Ja**ng sialan kau bilang! Kau saja yang terlalu bodoh, apa kau begitu setia padaku?" jari menunjuk diri sendiri, "Aku tidak yakin, kau juga pasti melakukan 'itu' dengan ja**ng sialan mu di luar sana, aku benar?!" Dea dengan satu alis terangkat.
Ucapan Dea semakin menyulut api, membuat Malik semakin meradang. Pria itu tidak menyangka wanita yang selama ini ia percaya dan cintai dengan tulus ternyata tidak lebih dari seorang p*l*c*r.
"Tutup mulut busuk sialan mu." Tunjuk tegas Malik. "Aku tidak pernah menyentuh wanita lain walau aku jauh darimu, sekalipun TIDAK PERNAH." Mengatur napas yang mulai memburu, "Enyah dari hadapan ku, JA**NG SIALAN." Malik berteriak, melangkah maju hendak mencekik Dea, tapi lebih dulu di tahan Julio.
"Malik sadarlah jangan kotori tangan mu. Dan kau Dea, kau pasti akan menyesal sudah mencampakan kesetiaan sahabatku,"
Dea memberi dengusan remeh, tidak menjawab memilih pergi dan berlalu menghampiri Rendi di meja bar.
Julio melirik Malik yang mengepalkan tangan. Melihat Rendi tengah mabuk mencumbu mesra Dea.
Julio memandang nanar Malik. Dia tidak mengerti berbagai macam hubungan di dunia ini. Termasuk hubungan dia dan Gendis harus backstreet karena statusnya bertunangan.
💢💢💢
Hari sudah beranjak pagi Dea menatap bayangan diri yang terlihat menyedihkan pada cermin besar dalam kamar. Hatinya hancur.
Flashback on.
Hidan mengemudikan mobil, ia sesekali menatap spion tengah, melihat wajah Dea yang kaku dan muram terlihat menahan tangis.
Sampai di rumah Dea meminta tolong pada Hidan. Membopong suaminya masuk ke kamar.
"Hidan bisa kau bantu aku, bawa Rendi ke kamar?" bodyguard itu hanya memberi angguk kepala.
"Ega, maafkan aku... aku mencintaimu."
Hidan menegang mendengar kata demi kata dari bos. Tidak menyangka selama ini si bos masih menyimpan mencintai untuk mantan istri.
Dugaan Hidan tepat, sehari setelah Rendi bercerai. Hidan sempat melihat sang bos terpuruk, tapi ia membuang jauh pikiran itu.
Dugaan Hidan semakin kuat saat hari pernikahan, si bos pergi ke apartemen Ega. Memilih meninggalkan acara penting hanya untuk tahu hubungan Ega dan Chris. Hidan diam tidak mau ikut campur yang bukan menjadi tugasnya.
__ADS_1
"Kau tahu sesuatu?" Hidan hanya diam membopong tubuh si bos untuk sampai ke kamar. "Apa yang selama ini Rendi rahasiakan dari ku?" Dea di ambang pintu,
Bertanya lagi setelah melihat Hidan meletakan tubuh Rendi dalam ranjang king size mereka. "Jangan diam saja sialan, aku tidak bertanya pada tembok." Dea mengerang frustrasi. Menatap Hidan penuh kesal.
Hidan menarik napas, "Maaf nyonya Dea, tapi itu bukan urusan saya," membungkuk dan melangkah keluar dari sana.
Dea melihat Hidan dengan pandangan menyelidik, sebelum turun tangga langkah Hidan terhenti. Wanita itu kembali memanggil menuntut penjelasan.
Dea melangkah cepat sampai sisi tangga, "Katakan b*j*ng*n, aku tahu kau menyimpan sesuatu," suara wanita itu tertelan pahit, tangan nya mencengkeram kuat sisi tangga.
"Bukan kapasitas ku untuk bicara tentang ini." Memilih melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.
Dea mendengus sinis, "Berhenti," dengan suara mendesis dingin membuat langkah Hidan kembali terhenti, memutar tubuh menatap istri bosnya.
"Aku tegaskan padamu, KATAKAN PADAKU!" kekesalannya sudah di ubun-ubun, menunjuk ke arah Hidan dengan berteriak keras.
Hidan bergeming, menatap nanar pada Dea. Wanita itu sangat pucat, terlalu kaget menemui fakta malam ini. Hidan diam tidak menjawab pertanyaan wanita berkaca mata itu.
Tidak mendapat jawaban Dea melangkah masuk ke kamar dan membanting pintu. Melangkah gontai sampai pada sisi ranjang. Dia mendengar lagi Rendi kembali meracau memanggil nama mantan istrinya.
Flashback off.
Segala pikiran buruk Dea akan masa depannya berkecamuk. Membuat tubuh wanita hamil itu semakin lemah dengan mata bengkak. Ia tidak ingin lagi menangis.
Terlebih pagi ini, selepas bangun tidur pun Rendi mengabaikan nya. Melangkah turun dari kamar dan pergi begitu saja. Pria itu langsung pergi tanpa mau sarapan ataupun berganti pakaian. Tanpa menyapa atau menanyakan bagaimana kondisi Dea yang sudah diabaikan selama sebulan.
Tubuh Dea merosot ke lantai, tangannya mengepal dan memukul dadanya pelan. Rasa sesak menjalar tanpa ampun. Air mata sudah mengalir deras. Sakit sungguh, ini sangat sakit. Kenyataan Rendi masih menyimpan nama itu di hati, dan sama sekali tidak peduli dengan perasaan Dea. Hati nya menjerit sakit. Sendiri tanpa seorang peduli.
Apa karma begitu cepat menyapa?.
🌷🌹🌷🌹
'Dia akan menikah'
.
.
__ADS_1
.
Tbc