Pacar Pertama Calon Kedua

Pacar Pertama Calon Kedua
Pacar Pertama Calon Kedua 35


__ADS_3

Hari ini telah datang. Pertemuan dengan kedua orang tua dan nenek yang telah tiada, membuat Ega tidak kuasa menahan tangis sedih saat harus kembali berpisah. Cahaya putih memaksa masuk di antara mereka. Menarik Ega menyatu dalam pusaran badai kuat. Netra Ega berpendar menatap sekeliling, dipaksa mengikuti pusaran angin kuat.


Seperti melintasi mesin waktu. Banyak warna tertangkap netra. Namun warna ungu, biru, hitam dan putih lebih dominan mencolok mata. Semua dalam satu lingkaran membawa nya berputar kencang. Wajah Ega semakin pucat. Rasa takut mulai menguasai, tubuh nya merosot berjongkok tidak kuat melawan arus deras. Serasa di tusuk jutaan sinar laser dengan warna dominan yang sama menembus tubuh.


Sakit menjalar sekujur tubuh. Tangan Ega menyentuh kepala, rasanya sangat pusing melihat semua benda berkilau dalam gelap serta berputar. Iris nya melebar melihat lintas bayang kejadian yang pernah dialami. Tubuh Ega kembali meringkuk gemetar dan gelisah. Mencoba melindungi diri saat jutaan sinar laser kembali datang menembus tubuh. Bagai di tusuk dan di sayat jutaan benda tajam. Menebar rasa linu, perih dan sakit dalam batas tidak normal.


Napas Ega terengah-engah, ia menggigil. Rasa lain mampir pada tubuh nya, bergejolak ingin berontak tapi tidak bisa. Wajah nya terangkat,  terkejut melihat gumpalan awan hitam di atas kepala. Belum usai dari  rasa terkejut, Ega melihat warna-warna dominan tadi menyatu. Bergabung dengan awan hitam di sana. Ega berdiri memegang dada yang berdebar keras,  kaki kurus itu bergerak ia mulai berlari.


Percuma saja, kaki nya terasa berat dan kaku. Bukan kerja sama yang baik seperti yang bisa ia lakukan. Pikiran nya kosong. Keringat dingin membasuh tubuh, semakin menggigil dan sesak. Kilat cahaya putih terang menyengat, kembali menarik nya kuat. Membawa jiwa Ega jauh dari mesin waktu. Bergabung dengan warna dan gumpalan awan hitam. Tubuh gadis itu terbawa arus dan terangkat tinggi, berusaha berteriak sebisa mungkin namun nihil. Suara nya tercekat. Rasanya sesuatu yang berat menjejal kerongkongan Ega.


Seketika rasa mual merajai, cahaya putih  terang itu sangat silau menusuk mata. Ruh Ega terasa dihempas masuk pada tubuh gadis terbaring lemah dengan pakaian serba hijau. Jiwa gadis itu telah menyatu dengan raga. Kaku, sakit, perih dan linu berbaur dalam satu rasa. Hitungan detik gadis rapuh di sana membuka mata perlahan. Bayang buram tertangkap netra teduhnya. Masih harus berusaha keras untuk mendapat bayang sempurna. Pupil mata Ega mulai bekerja dengan baik, menangkap jelas benda sekitarnya. Ia bisa mengenali ruang putih ini dari bau obat menyengat ini.


Jari kurus miliknya bergerak sedikit. Gerak Ega terbatas. Napas gadis itu mulai halus teratur. Apa yang terjadi? Satu hal terlintas dalam benak gadis itu. Ia menarik napas pelan. Punggung nya, aduh, berat dan sangat sakit. Kelopak Ega kembali terpejam, menetralkan rasa sakit di punggung.


Samar-samar gendang telinga menangkap percakapan kecil tidak jauh dari nya. Baritone itu! Ia mengenali suara itu. Hati Ega kembali berdebar, ingatan kecil menyusup, saat ia tertidur panjang. Ungkapan dari rasa rindu dari seseorang. Ega mengukir senyum. Mencoba menoleh walau sulit, leher nya sangat kaku. Ah, ternyata ada cervical collar membalut dan mengunci gerak di leher. Bagaimana bisa diri nya sakit sampai separah ini? Pikiran Ega masih melanglang buana. Memikirkan hal ngeri apa yang menimpa dirinya.


Ega mencoba lagi untuk menoleh, melihat ada seorang wanita paruh baya menyuapi Chris. Jantungnya berdebar kencang iris mereka bertaut. Detik berikutnya air mata mereka sama-sama menetes.


"Ega..."


Pria tampan di sana dengan bahu berbalut kain kassa mendekat pada nya hampir berlari. Memandang, menggenggam jari nya. Pria itu menangis, terisak mengecup kening Ega penuh kelembutan. Wajah pria itu telah basah kemudian berbisik lirih, "Syukurlah, kau kembali. Aku merindukan mu. Sangat merindu. Aku mencintai mu, Ega. Ya, Tuhan, kau membuat ku gila." Untaian kata manis, tersendat-sendat diiringi isak mengisi telinga Ega.


Chris terus menangis. Bingung bagaimana cara ia mendekap  kekasihnya yang sudah siuman. Tubuh gadis itu di kuasai banyak alat. Jika ia salah menyentuh, kekasihnya bisa lebih sakit. Pria itu mengerang frustrasi di saat seperti ini ia masih harus menahan merengkuh tubuh gadis itu. Bibir tipis nya berdecak kesal, ego Chris mengalah memilih mencium kening dan pipi Ega sebanyak-banyak nya.


Pergerakan Chris terhenti saat ia mencium lama kening Ega. "Aku juga mencintai mu." Chris meledak hampir tidak kuasa menahan diri. Tangan nya bergerak ingin memeluk namun tertahan di udara. Kembali berpikir rasional melihat keadaan Ega. Tubuh Chris membungkuk mengelus pipi Ega.  Kening mereka menyatu, "Terima kasih." Suara Chris tertelan dalam getar isak. Air mata nya jatuh dari garis hidung panjang menyatu dengan air mata si gadis.


Mika bersama Saka yang sedari tadi menonton ikut merasa senang, sedih dan haru. Mereka merasakan euforia membuncah dari hati Chris. Ibu jari Saka menekan kelopak mata, Ah, kenapa dia ikut cengeng batin nya berbisik kesal. Mika mengusap wajah. Mengerjap mata menghalau buram. Maju melangkah mengusap lembut punggung sang putra yang masih setia membungkuk dan bergetar.


Chris kembali mencium kening Ega. Berdiri tegap Chris memberi kesempatan pada sang ibu yang  tidak kalah  cemas. Mika memberi senyum hangat, pandangan nya kembali memburam. "Syukurlah, kau kembali." Mengusap kepala Ega penuh hati-hati. Ia melakukan hal yang sama mencium kening si gadis.


Dokter dan suster datang untuk periksa. Langkah dokter terhenti, ia tersenyum senang menyadari pasien telah membuka mata. "Sejak kapan?" Dokter itu bertanya saat iris nya terhubung dengan Chris.


Chris mengusap wajah yang masih basah. "Baru saja," singkat nya.


Kepala dokter terangguk, segera periksa setelah Mika memberi ruang. "Apa yang kau rasa?"


Tunggu.


Chris menekuk alis. Kau?


"Semua linu dan sangat sakit, aku juga haus."

__ADS_1


Aku? Chris semakin kesal.


Dokter itu terkekeh sekali lalu mengulas senyum. Tanpa sadar ia meraih satu botol air mineral yang masih tersegel, membuka dan memberi sedotan ke dalam nya. Ia memberi Ega minum. "Jangan paksa banyak gerak bila masih terlalu sakit. Kau masih perlu beradaptasi, otot di tubuh mu pasti kaku." Mengelus kepala Ega.


Chris mencebik kesal baru saja siuman, ia sudah dibuat terbakar. "Dokter, kau lupa dia istri ku!" Baritone menyapa dingin, mengalahkan pendingin ruangan.


Saka memutar mata malas mendengar pengakuan bodoh Chris dan Mika dia hanya terkekeh.


Dokter muda itu bereaksi geli melihat wajah Chris tapi ia tidak merasa bersalah. "Benarkah? Tapi maaf tuan, saya lebih mengenal gadis manis ini. Ega belum menikah," sahut dokter itu kalem, "Dan juga Ega—sudah lah lupakan. Ega istirahat yang cukup, kau membuat jantung ku mendadak berhenti." Netra sang dokter sesaat melirik Chris, kembali bergulir mengamati Ega. "Kau perlu banyak istirahat, jika ingin bergerak pelan-pelan saja, aku pergi dulu. Tiba-tiba ruangan ini  sedingin kutub, aku takut kau semakin sakit." Celetuk dokter tampan membuat mereka yang di sana tidak bisa berhenti untuk tertawa, kecuali Chris.


Dokter tampan dan suster sudah pergi. Wajah Chris masih menahan kesal. Ia melirik Ega tampak berpura-pura tidak mengerti apapun. Chris menatap penuh tanya namun Ega diam.


"Siapa dia?" bersungut dan ketus.


Ega mengerutkan kening, "Dokter!"


Lagi-lagi Saka dan Mika terkekeh. Ega memang tidak salah. Yah, Ega benar. Chris yang bodoh di sini.


Chris menarik napas. Menatap Ega intens. "Bukan itu! Kau tahu yang ku maksud. Jangan membuat ku—berpikir aneh-aneh. Oh, aku harus memindah mu ke rumah sakit—"


"Sepupu." Memotong ucapan Chris. Ega menarik bibir membentuk kurva indah, saat Chris terdiam, berdeham dan memasang wajah kikuk dengan bahu merosot lega.


Sesaat Chris melirik bahu terbalut kain kassa, "Aku— bermain dokter–dokter-an dengan Saka dan ibu. Membantu menghabiskan stok kain kassa  di rumah sakit."


Saka menyembur tawa. Chris terlihat bodoh atau memang tidak bisa mencari alasan lain. Oh, ya ampun, dia beruntung bisa melihat tampang yang biasa cool kini berubah menjadi idiot.


Mika menggeleng, tawa wanita paruh baya itu sedikit tertahan di balik punggung tangan. Ternyata sang putra yang terkenal jenius bisa begitu bodoh untuk mencari alasan.


Ega mendengus, apa dia terlihat seperti bocah lima tahun? Percaya, iya dan pasrah di beri jawaban itu. "Oh, apa aku jadi bagian dari permainan kalian?" dua alis nya terangkat.


Chris menatap kekasih nya, melipat bibir cukup dalam. Bibir pria itu menahan geli sesaat, "Ya." Ucap Chris mengusap tengkuk yang tidak pegal, ia memberi senyum.


Saka dan Mika tidak lagi bisa menahan tawa. Namun begitu mereka kembali merasa lega, semoga semua cepat membaik.


💖💖💖


Suasana kamar di jam berkunjung membuat Chris mengumpat dalam hati. Sedang asyik berdua dengan sang kekasih, tiba-tiba banyak nyamuk datang menganggu. Memaksa dan menggeser posisi Chris untuk menjauhi Ega.


Satu, dua, tiga benar dugaan nya. Pertunjukan opera sabun di mulai. Para wanita di sana mendramatisir, menangis dan saling berpelukan menatap Ega.


Chris memutar mata malas, melirik jam di ponsel hampir satu jam dirinya teronggok di atas sofa. Mendengar kalimat  sinetron ala-ala para sahabat Ega.

__ADS_1


Kill.


Tangan nya terus menekan layar ponsel.


Double kill.


Chris terus menekan tombol, memaksa sang pahlawan bertombak membantai semua lawan. Sorak kecil meluncur senang dari bibir,  diri nya menang. Upgrade emblem saat berhasil dalam misi.


"Berisik, kal kil - kal kil." Taka mengacak rambut kesal. Tubuh tegap nya bangun, duduk di sofa. "Aku baru tidur dua jam, kecilkan suara ponsel mu. Bodoh." Gerutu dengan memasang wajah muram.


Chris melirik datar sang kakak. "Lebih berisik mana ponsel ku atau drama di sana," mengendik dagu pada sekumpulan kaum hawa. "Mereka bahkan sempat teriak dan kau seperti mendengar dongeng sebelum jatuh tertidur dan pulas." Chris membalas sarkas. Keluar dari game, mengecek email masuk dari Genma.


Taka menjitak kepala sang adik dengan roti isi daging yang masih di kemas plastik rapi. Membuka kemasan plastik, ia memotong dan memakan nya.


"Bagaimana perusahaan?" tanya Chris lamat.


Taka meminum kopi dalam kaleng. Kepala nya terangguk, memotong kecil lagi roti di tangannya. "Semua baik, terkendali dan aman. Kau tinggal menggaji ku, jangan lupa—" menunjuk Chris dengan potongan roti. "—kau juga harus mengganti mobil ku" mengunyah dan tersenyum lebar.


Chris mendengus, "Oh, aku hampir lupa."


Taka memutar mata malas. "Yang sakit bahu mu, bukan isi kepala mu, keparat!" mendengus jengkel.


Chris terkekeh. "Seharusnya kau  memberi ku hadiah, aku sebentar lagi menikah."


Taka tersenyum seringai, "Rasanya tidak perlu persetujuan mu, saat aku harus transfer sendiri sebagian uang mu ke dalam rekening ku."


Chris mencebik menyesal perusahaan nya di pegang sang kakak. "Aku turut prihatin ternyata kantong mu kurus,"


Taka melotot tidak percaya dia di bilang miskin. "Sebagai pria, aku hanya mengajarkan cara bertanggung jawab yang baik dan benar." Sahut Taka tidak kalah menohok.


"Be**bah, Double Shiiiit." Umpat Chris dan Taka tertawa, dia menang.


🌷🌹🌷🌹


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2