
Bunyi gelas berdenting satu sama lain. Nando merayakan ulang tahun Tata. Tentu saja dengan izin dari Kakak ipar. Walau berstatus tunangan Tata masih harus perlu izin.
"Ega kau tak apa?" wajah pucat gadis itu sangat terlihat di mata Tata.
"Aku tak apa Tata, bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian?" mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ah, sudah delapan puluh persen. Kami hanya perlu menyiapkan beberapa hal, satu hal membuat ku khawatir. Gaun yang ku pesan masih agak lama," Tata menghela napas takut, jika gaun nya tidak selesai tepat waktu.
Ega mengelus punggung tangan Tata, "Tenang, jangan khawatir, gaun mu pasti bisa selesai sebelum waktunya," tangannya terulur membakar daging dan udang yang sudah dilumuri bumbu.
Penuturan lembut Ega mampu membuat hati Tata bisa sedikit lega.
"Apa kau perlu bantuan, Nando?" Saka berhenti mengunyah, kepalanya menoleh memberi angguk kepala samar, membenarkan ucapan Chris.
"Untuk saat ini tidak. Nanti kalau ada sesuatu yang mendesak aku pasti minta tolong." Mengambil potongan daging menaruh nya di piring Tata.
"Ega kau juga makan yang banyak," Chris melakukan hal yang sama seperti Nando pada Tata. Membuat yang lain tersenyum melihat perlakuan Chris seperti itu.
"Oh iya, Rani bagaimana kabar nenekmu sekarang?" sebelum menjawab Rani menelan sisa makanan dalam mulut dan meminum sedikit air.
"Nenek sudah sehat, sekarang ibuku yang menjaga dan—"
"Sekarang dia menjaga ku siang—malam, semakin aneh." Saka buru-buru menyela.
Rani mendelik ucapannya dipotong Saka dan sekarang dia dituduh seperti stalker.
Kekasih Saka mengerang kesal, menaruh sendok kasar. Berucap dengan emosi meletup. "Asal kalian tahu. Saat pulang dari rumah nenek, aku menemukan jejak lipstick di kemeja dia," tunjuk Rani ke arah Saka dengan dagu, "Dan itu tidak satu tapi dua, di bagian belakang dan depan," melipat tangan di dada melirik Saka tajam.
"Tidak benar, yang ada kita langsung melepas rindu sayang. Paginya kau merapikan pakaian ku dan melihat itu. Sudah ku jelaskan tapi kau tidak percaya, aku bisa apa?" meminum bir kaleng yang baru ia buka.
"Lipstick siapa?" Ega spontan bersuara, wajahnya semakin pucat menunduk dan bahu bergetar.
"Ega kau tak apa?" Chris menoleh cepat. Menelisik raut sendu gadis manis itu. Menaruh sendok pada piring, tangan nya terulur menggenggam jari Ega.
Ega tidak mengerti kenapa masih sakit hanya mendengar kata lipstick di kemeja. Menitikkan air mata, tremor pada tubuh semakin meningkat. Ega tidak ingin seperti ini, menangis karena mengingat semua di masa lalunya. Ini menyiksa.
Semua pasang mata menatap pilu. Rani menggigit bibir sedikit kuat merasa bersalah. Ia lupa Ega masih ada rasa trauma ketika menyinggung sedikit tentang perselingkuhan.
Rani berdiri mendekati Ega memeluk bahu mungil itu dari belakang.
"Maaf," suara nya bergetar.
"Ayo." Cicit Tata.
Tata meminta Ega untuk bangun kemudian membawanya ke kamar tamu. Mendengar pintu tertutup, para pria terutama Nando dan Saka melirik Chris. Pria itu menunduk dengan tangan terkepal kuat.
"Chris, aku minta maaf— Rani pasti tidak sengaja." Chris tidak menjawab, tatapan pria itu menajam dengan rahang mengeras. Mengingat Ega menangis malam itu.
"Woi. Woi. Santai dude, Saka sudah minta maaf." Nando yang takut melihat wajah garang Chris.
Chris membuka suara, menceritakan kejadian di malam setelah selesai rapat, sepanjang cerita tak hentinya ia mengumpat untuk Rendi.
__ADS_1
Ia menyesali ide nya memasang peredam suara untuk ruang rapat. Karena menurutnya suara dari luar dapat memecah konsentrasi saat rapat. Jadi, beberapa tahun yang lalu ia memutuskan untuk memasang peredam suara.
Nando dan Saka yang sedari tadi menyimak cerita Chris, ikut berang dengan kelakuan Rendi. Mereka tidak habis pikir Rendi bisa sangat nekat.
"Chris, kau tenang saja, cepat atau lambat Ega pasti bisa lepas dari ingatan sialan itu," Nando menenangkan, mengambil botol besar minuman soda di depan Chris menuang ke dalam gelas.
Suara pintu terbuka. Serentak para pria yang berada di ruang tamu menoleh. Chris meringis mendapati wajah kacau Ega, hidung dan mata terlihat merah.
Chris berdiri memakai jas nya lagi yang tersampir di sofa putih, melangkah menghampiri Ega.
"Mau pulang?" dan lagi para sahabatnya di buat shock, mendengar vocal Chris bisa begitu lembut.
Ega bergumam sebagai jawaban. Meraih tas dan berpamitan pada semua yang ada di sana.
Rani menghampiri Saka. Duduk di pangkuan pria pujaannya. Kedua tangan Rani melingkar di leher kekasihnya, menyembunyikan kepala di sana. Ia menangis.
Saka membalas dekapan Rani, mengelus punggung itu, saat mendengar isak kecil Rani ia memejamkan mata sebentar. Mencium kening wanita yang sedang di rundung rasa bersalah. Ia tahu Rani tidak sengaja, dan ia hanya perlu memberi rasa tenang pada wanita manjanya.
🌟🌟🌟
Kurang lebih satu jam Taka di tempat penuh dengan blitz dan lampu-lampu besar. Dia sengaja datang hanya untuk melihat Kania. Dalam hati ia merindukan seseorang yang bukan kekasihnya. Mata hitam itu hanya fokus menatap ekspresi Kania.
Ia senang bisa bertemu Kania lagi, tapi kenyataan seolah menampar kuat. Mengingat percakapan Kania dan Poldi beberapa waktu lalu.
Senyum Kania terbit, melihat hasil sesi pemotretan hari ini. Model cantik di sana selalu tersenyum tidak menunjukkan wajah lelah, padahal mereka sudah melakukan ini dari 4 hampir 5 jam yang lalu.
Mendengar Shino berucap sudah selesai, Taka memutuskan menghampiri Kania yang sedang mengecek hasil foto pada layar laptop.
"Perfect, nona." Shino fotografer muda tersenyum pada model cantik di depannya.
"Terima kasih." Ucap Kania lamat. "Apa masih ada lagi?" tanya nya dengan mata fokus melihat hasil pemotretan hari ini di layar laptop.
Shino menggeleng lemah. "Tidak, untuk hari ini sudah selesai. Besok jangan lupa pagi kau harus ada di sini." Shino menaruh kamera dekat laptop.
"Kau sudah selesai," Kania mendongak, atensi pada layar laptop terpecah mendengar suara yang dia kenal.
"Kau di sini?" pertanyaan bodoh macam apa itu! Kania, mengumpat dalam hati, jelas saja Taka ada di hadapanmu, bodoh.
Taka terkekeh sebentar. "Aku jelas di sini dan kau masih bertanya?" semburat merah muncul di tambah shading yang ia gunakan menambah kesan menor di wajah.
Shino tersenyum, sejak kapan Taka peduli dengan modelnya. Sudah lebih dari lima tahun ia bekerja di perusahaan ini. Dan ini juga pertama kalinya, ia melihat CEO itu datang dan pantau langsung pemotretan.
Mungkin pengecualian untuk Kania. Shino cukup sadar diri untuk tidak lama-lama di antara mereka.
"Bisa kita makan malam?" Taka sendiri terkejut dengan apa yang ia ucapkan.
Melihat raut terkejut Kania. Taka menunduk melihat sepatu nya sendir. Ia tahu akan ada penolakan.
Hal berbeda di rasa oleh Kania. Gadis manis itu merasa ada kupu-kupu yang menggelitik di perut. Rasa masih tidak percaya Taka mengajak makan malam. Mungkin terlihat berlebihan tapi Kania sangat menanti ini.
Baru saja ia ingin menjawab 'ya'. Pikiran rasional nya teralih, mengingat pada kenyataan bahwa Taka sudah memiliki kekasih.
__ADS_1
"Taka," panggil Kania lembut membuat atensi Taka menatap dengan penuh harap.
"A.aku—"
"Kania." Gadis itu menoleh, mendapati Poldi berjalan mendekat.
Kania mengangguk sebagai jawaban. Netra Poldi beralih menatap Taka yang berdiri kaku.
"Aku mau mampir pergi ke toko perhiasan, mereka beri kabar kalau cincin nya sudah siap." Pandangan Taka berubah pias, jantung nya berdentum keras pecah berkeping-keping.
Kepala Taka kembali menunduk menatap sepatu hitam lagi dengan pandangan kosong. Iris mata pria itu mengedar ke arah belakang entah apa yang dia cari.
Taka menahan napas, saat menangkap binar senang di wajah Kania, "Baiklah, aku bisa pulang sendiri." Kepala Taka menoleh cepat mendengar penuturan Kania.
Poldi menatap Kania khawatir, ini sudah jam malam tidak mungkin membiarkan Kania pulang sendirian.
Poldi menggeleng. "Tidak, Kania, aku pesan taxi untuk mu." Mengeluarkan benda tipis persegi canggih dan mengetik sesuatu di sana.
Pergerakan mengetik Poldi terhenti mendengar ucapan Taka.
"Boleh aku mengantarnya, maksud ku—dia teman ku, kau tak perlu khawatir."
Taka merasa seperti badut di sini. Tanpa malu meminta izin untuk berdua pada tunangan orang lain.
Alis Poldi naik satu. "Maaf tuan, apa tidak merepotkan? Kau bos di sini, jangan bilang kau ingin mengajak nya makan malam. Apa ini semacam kencan?" Poldi tersenyum misteri.
Taka mengumpat keras dalam hati. Apa memang hal itu tertulis jelas di wajahnya? Oh, memalukan.
"Poldi," Kania kesal memukul lengan nya dan melotot. Poldi terkekeh melihat Kania yang sedikit malu.
"Jadi, kau juga ingin kencan dengannya, ya?" tuding pria itu dengan raut jenaka.
Poldi mengelus dagu, beralih ke tengkuk, melirik kedua orang canggung itu bergantian.
"Ok, kalian bersenang-senang–lah."
"Aku cukup tahu batasan ku, percayalah aku tidak akan menyentuh nya." Poldi berbalik sebentar lalu kepala nya terangguk.
"Sip. Aku pergi dulu. Aku titip Kania pada mu, Tuan Taka." Ucap Poldi tersenyum.
Taka mendengus masam, "Dia aman bersama ku." Kania tersenyum hangat memandang Taka. Setidaknya, untuk saat ini saja, dia ingin egois. Juga merasa tidak peduli pada kekasih Taka.
Tanpa mereka ketahui benang merah semakin mengikat mereka satu sama lain.
🌷🌹🌷🌹
.
.
.
__ADS_1
Tbc