Pacar Pertama Calon Kedua

Pacar Pertama Calon Kedua
Pacar Pertama Calon Kedua 36


__ADS_3

"Kau tidak tidur? Hampir tengah malam, tidak ada pasien nakal seperti mu. Menonton drama tengah malam begini"


Ega menarik napas jengah, melirik kekasih nya bosan. Dari setengah jam yang lalu Chris menyuruh nya tidur seperti anak remaja kepergok orang tua sedang menonton film berbatas usia di waktu larut. Bibir gadis itu maju, memasang wajah masam.


Chris terkekeh. Mencium gemas pipi si gadis tanpa bosan. "Bagian mana yang masih terasa sangat sakit?" Mengelus bahu kekasih pujaan.


Chris meringis menyadari tubuh Ega terlihat kurus. Terhitung hampir sembilan hari, gadis itu tidak memberi asupan gizi. Kekasihnya bertahan hidup dari zat yang di suntikan ke dalam tubuh. Chris menghela napas sesak. Kejadian lalu bagai teror di mimpi indah. Ia berharap tidak ada lagi hal di luar batas normal.


Ega mengamati kekasihnya lekat, "Aku masih belum mendapat jawaban, bahu mu kenapa?"


Bukan tidak ingin menjawab. Chris bingung untuk bercerita. Pria itu mendesah samar mencari kosa kata yang tepat untuk menjelaskan.


"Ada bisul kecil semakin hari bertambah besar. Menghambat pekerjaan dan aktivitas. Dokter menyarankan operasi kecil." Bibir Chris kembali merapat. Wajah nya sedikit miring menelisik raut wajah Ega yang tampak datar.


Telapak tangan Ega rasanya gatal saat satu kebohongan kembali mendesak telinga. Jika saja gerak nya tidak terbatas, dengan senang hati Ega menjambak keras rambut dan memukul kencang bahu terbalut kain kassa. Gadis itu memilih diam tidak menyahut. Terlalu malas berdebat di tengah malam. Netra Ega bergulir menatap televisi, melanjutkan menonton drama tengah malam, tanpa meladeni Chris yang masih menatap.


Pria itu mulai gelisah menangkap gelagat diam Ega. Chris sudah menduga tidak mudah membohongi Ega. Tidak ada salahnya, Dia mencoba menutupi selagi bisa. Chris merasa ini belum waktu nya, untuk cerita semua kejadian selagi Ega memilih nyaman dalam mimpi. Kekasih nya baru saja siuman, satu kabar buruk pasti akan berimbas pada proses penyembuhan. Chris tidak mau Ega lebih mencemaskan diri nya ketimbang kesehatan gadis itu sendiri.


"Ega..." Chris memanggil dengan suara hampir berbisik.


Ega masih menatap televisi menutup telinga dari panggilan Chris.


"Ega..."


Gadis itu masih bergeming, menarik napas pelan serta dalam. Menutup kelopak mata perlahan berpura-pura tidur, sengaja acuh dari panggilan sang kekasih. Hati nya kesal, marah ia tahu Chris berbohong menutupi sesuatu.


Chris menarik napas gusar. Menyibak rambut sebelum bicara, "Ok, ok—aku  cerita tapi kau janji tidak marah." Chris akhirnya menyerah, menatap wajah pucat itu kembali membuka mata.


Ega mengangguk lemah sebagai jawaban. Menatap lebih dalam jelaga hitam Chris, berharap pria itu terbuka dan jujur pada nya tentang apapun. Semoga apa yang ada dalam benak nya tidak—


"Aku tertembak," ucap Chris lamat.


—Ah, benar'kan! Ia sudah menduga hal itu. "Apa ini tentang Dea?" balas Ega penasaran.


Wajah Chris tertunduk dalam, menghela napas sebentar, remasan kecil dari jari Ega pada tiga ujung jari panjang pria itu membuat Chris mengangguk sama lemah, "Medusa itu dalang dari semua hal yang kau alami saat ini, dia mencoba membunuh mu. Aku tidak bisa terima, aku tersulut emosi ingin membalas. Dia itu wanita pesakitan akut yang dilepas bebas berkeliaran." Suara Chris menggeram marah, masih saja tidak bisa terima.


Ega menatap cemas kekasih nya, tidak ada bayang lain—terlebih pintas ngeri mewakili aksi balas dendam pria itu. Ini lebih dari itu. Bagaimana bisa pria itu bisa bertindak bodoh!?


"Apa kau bodoh? Kenapa berbuat hal ekstrim tanpa pikir panjang juga keselamatan mu?" Bernada lirih. Air mata Ega mengalir.


Chris mengusap air mata Ega. "Aku hanya bertindak ekstrim juga untuk mu—kekasih ku." Menekan kata kekasih berharap Ega paham arti hadir gadis itu dalam hidupnya. "Demi Tuhan, dia ingin membunuh mu. Apa kau kira—aku bisa terima jika kau pergi dari sisi ku?" menahan gejolak emosi. Ia merasa Ega sangat egois.


Ega menggeleng lemah, menangis tersedu. "Jangan konyol. Kau terluka. Tertembak. Beruntung bahu mu yang terluka, bagaimana jika kau kehilangan nyawa?" suaranya putus-putus.

__ADS_1


Chris mengusap wajah kasar. Mengerang frustrasi. Apa mereka harus berdebat tengah malam begini? Apa Ega masih belum mengerti? Atau gadis itu berpura-pura tidak paham maksud Chris!.


"Dengar aku baik-baik. Wanita sinting itu hampir membunuh mu. Mem-bunuh-mu. Apa kau tahu rasanya saat mendengar seorang yang kau cintai kecelakaan? Aku menunggu, merindu dalam cemas abu-abu. Apa kau tahu bagaimana rasanya?" Chris mulai mengerjap mata, mencegah air mata turun.


Pria itu kembali mengusap kelopak mata. Menekan suara yang terdengar serak. "Aku melihat video kecelakaan mu. Rasa nya dada ini sesak, hancur dan terbakar." Menatap Ega penuh rasa sakit, "Melihat gadis yang ku cintai terpelanting dan membentur aspal begitu kejam." Chris menggeleng lemah, "Menjumpai gadis yang aku cintai terbaring lemah dengan alat-alat menembus daging, menyakiti mu. Apa kau pikir aku bisa berpikir waras selain membalas?"


Air mata Ega semakin deras. Apa ia terlalu egois dan bodoh untuk meminta Chris berpikir waras dan diam menerima takdir begitu saja. Melihat pria itu menangis cukup membuat dada Ega sesak. Isak tangis Ega terdengar. Remasan jari Ega berubah menjadi genggam lemah. "Kenapa kau jadi bodoh!?" seru Ega sekali lagi dia masih kesal.


Bibir Chris berkedut geli. Sisi jari panjang pria itu setia menghapus air mata Ega yang meluncur di sudut mata. "Jangan menangis, aku tahu kau takut kehilangan ku dan sangat mencintai ku." Bercakap jenaka penuh percaya diri, "Nyawa ku banyak jika itu menyangkut tentang mu."


Ega mendengus saat kata rayuan meluncur menjejal telinga merambat rasa geli dalam perut, tanpa bisa menahan tawa kecil lolos dari celah mulut. "Kau ternyata sangat bodoh,"


Tanpa permisi pada penghuni ranjang. Chris naik ikut berbaring di sana. Memeluk tubuh kekasihnya  hati-hati dari samping. Tatapan mereka bertaut, mensejajarkan wajah Chris berbisik mesra. "Ya, aku mencintai mu." Mengecup pelipis Ega. Gadis itu menutup mata merasakan cinta tanpa batas dari seorang Chris untuk nya.


Yah, setidaknya biarkan malam ini Chris tidur dengan mendekap Ega. Melepas rindu yang tertunda—begitu Chris menyebutnya.


🍁🍁🍁


Masih terlalu pagi untuk membuat sebuah keributan. Teriakan histeris salah satu kamar rawat membuat kisruh suasana tenang rumah sakit. Petugas dan suster penjaga berlarian ke arah kamar tersebut.


Pintu kamar terbuka, lemparan vas bunga dari bahan keramik nyaris melukai wajah penjaga. Empat orang di sana berdiri kaku. Mendapati ruang bersih dan nyaman kini tidak lebih dari kapal pecah. Semua benda tidak pada tempat nya, sangat berantakan. Wanita itu mengamuk. Berteriak histeris seperti orang kesetanan.


Suara rintih tangis terdengar pilu. Ia tersedu-sedu. Memukul dada kencang, "INI TIDAK BENAR, KATAKAN INI TIDAK BENAR." Wanita itu terus meraung menjambak rambut kencang, menunjuk segala arah tanpa tahu ada apa di hadapannya.


Demi Tuhan kenyataan ini teramat pahit untuk di terima. Tubuhnya jatuh diantara barang-barang berserakan. Saat ia mendengar langkah kaki. Jessy membuka suara lagi. "Ini tidak benar." Tangan kurus itu terulur mencari-cari tubuh dari si pemilik parfum yang sangat ia kenal. "Kenapa kau jahat—dokter itu pasti punya dendam pribadi dengan ku. Kalian semua jahat." Menangis tanpa henti, meremas kemeja pria itu kuat-kuat.


"Tenangkan diri mu, aku sudah cari pendonor. Dokter bilang kau masih bisa sembuh." Mendekap erat tubuh gemetar Jessy.


Saat gelengan kepala di dapat Wildan melepas dekapan. Mengamati Jessy yang masih menunduk. "Kenapa kau baik pada ku? Kau boleh tertawa atau maki diri ku, tapi tolong jangan membuat ku hancur seperti ini. Kembalikan mata ku," kata-kata Jessy cukup membuat hati Wildan teriris.


Dia harus bagaimana saat dokter memberi kabar tentang penglihatan Jessy hilang. Dia bisa apa? Selain mencari pendonor yang cocok untuk wanita ini. Kalau dia bisa tertawa melihat keadaan Jessy mungkin sudah sedari awal. Namun hati kecilnya menolak, ia memilih menitikkan air mata dalam diam. Rasanya membenci itu mudah namun ia memilih mengunci rapat rasa benci itu saat melihat keadaan sang mantan.


Wildan membawa Jessy bangun untuk keluar kamar. Namun Jessy menolak mengusir Wildan pergi untuk meninggalkan nya sendiri.


"Jessy, kamar mu berantakan, di sana sudah ada penjaga dan office boy akan membersihkan ini." 


"Sebentar saja, aku ingin sendiri. Jangan terlalu baik pada ku. Aku tidak pantas terima semua kebaikan mu." Jessy kembali menangis betapa bodoh nya dia menyakiti hati pria ini.


"Jessy..."


Jari mengusap wajah basah nya dan tersenyum. "Aku mohon, aku butuh sendiri."


Wildan menarik napas, dengan berat hati ia meninggalkan Jessy untuk sendiri dulu. Ia berpikir kalau wanita itu, memang butuh banyak waktu untuk menenangkan diri. Pasti tidak mudah untuk terima garis takdir kejam.

__ADS_1


"Janji pada ku, hanya sebentar. Jangan lakukan hal di luar batas. Ok." Suara Wildan masih terdengar cemas. Jessy sukses di buat bungkam ternyata arti pria ini lebih penting dari apapun.


Wildan mulai melangkah dalam helaan napas berat. Menyuruh mereka yang ada di sana keluar untuk sesaat. Menutup pintu dan ia bisa mendengar jerit tertahan dari balik pintu.


Bersandar pada dinding rumah sakit. Ia mulai merasa resah. Chris datang setelah mendengar ada sebuah keributan dari pasien buta. Menemukan Wildan menunduk dengan wajah sedikit sembab.


"Kau tidak masuk?" tanya Chris saat tatapan mereka bertaut.


"Dia bilang ingin sendiri dulu. Aku hanya menuruti, jika ku paksa aku takut itu tidak baik." Wildan membalas dengan raut murung.


Chris mendesah, ia sedikit melirik pintu  putih tertutup. "Jessy pasti sangat terpukul,"


"Bagaimana dengan Ega? Semalam aku ke kamar nya, melihat kau terus mencium nya aku mundur. Malas jadi nyamuk."


Chris menarik sudut bibir, "Istri ku baik. Dia sempat kesal aku berbohong tentang ini." Menunjuk bahu sendiri, "Aku sudah cerita tapi belum semua. Semoga Jessy bisa melewati ini sementara waktu."


Kepala Wildan mengangguk, "Takdir nya terlalu kejam. Semoga dia bisa kuat, aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi. Sebisa mungkin aku harus dapatkan pendonor itu dengan cepat." Wildan tampak lelah, menarik napas ia mengubah posisi tubuh.


Chris tertegun. Ia paham maksud tersembunyi Wildan. Chris sangat sadar saudara nya sangat mencintai Jessy. Sampai Wildan sulit membedakan antara kasihan dan peduli.


Chris membuang wajah, menghembus napas berat. Melirik aksi Wildan lewat ekor mata. Tubuh Wildan berbalik menghadap dinding memukul dengan kepalan kuat juga wajah mengeras.


Chris menepuk pundak Wildan. "Kau pasti bisa. Apa perlu dilihat—setidaknya kita intip dia sedang apa?!"


Wildan setuju, ia rasa waktu dua puluh menit itu cukup membuat Jessy tenang. Perlahan ia membuka pintu. Chris menahan napas menangkap keadaa kamar super berantakan.


Rasa lega hadir di hati Wildan, melihat Jessy tidur meringkuk di atas ranjang membelakangi pintu tanpa bantal, sprei atau selimut. Wildan masuk lebih dulu. Chris menahan seorang office boy saat melintas depan kamar. Memberi tahu untuk membersihkan kamar.


"Jessy." Baritone Wildan lirih dengan badan membungkuk memeluk tubuh wanita itu.


Chris membeku menangkap hal janggal di depan nya. Melangkah halus, kekasih Ega terkesiap, saat melihat darah melebar pada baju pasien Jessy. Hanya ada tetesan kecil dilantai, wanita itu menyayat urat nadi sembunyikan tangan di perut. Darah nya mengalir menggenang di ranjang serta memberi warna lain pada baju.


Wajah Jessy sudah pucat, tubuh wanita itu pun sudah tidak bereaksi. Wildan masih memeluk tubuh tidak bernyawa Jessy. Terus menangis dan abai pada darah yang memberi warna lain di kemeja putihnya.


🌷🌹🌷🌹


.


.


.


Tbc

__ADS_1


NB: Terima kasih udah untuk Readers, sampai di sini adakah di antara kalian memiliki kesan atau pesan dari cerita ini? Yah, walau ecek-ecek sih hahaha. ✌️😂.


Jejak ya


__ADS_2