
Apartemen Chris
Pria tampan duduk melamun. Lebih tepatnya sedang menahan kesal. Rahang nya sesekali mengeras.
Beranjak dari balkon, bokong sexy nya mendarat di sofa kecil ruang tamu bersandar nyaman. Iris mata kelam itu menatap langit-langit, menatap telapak yang di angkat ke udara.
"Benarkah tidak ada kesempatan untuk ku, Ega?" lirih Chris, telapak lebar menutupi sebagian paras rupawan yang selalu membuat kaum hawa tidak bosan memandang.
Chris tampak tidak peduli siapa yang berkunjung ke tempatnya siang ini. Posisi masih sama sampai ia mendengar suara baritone mendengus kasar dari seseorang yang baru saja membobol pin.
Aroma khas parfum dari tubuh tamu menyeruak begitu saja masuk ke dalam indra penciuman. Tanpa melihat ia sudah tahu siapa pemilik aroma khas kayu bercampur mint itu.
Taka mendesah berat. Berdiam dan berbaring kaki menyilang nyaman di atas sofa panjang. Tidak lama ia menutup mata.
Coba lihat dua pria tampan, idaman, mapan, dan sekarang terabaikan.
Aw. Sungguh miris.
Uang tidak bisa membeli cinta. Itu Fakta.
Setengah jam berlalu hanya bunyi denting jam mengisi ruang sepi. Diam tanpa bersuara. Sama-sama menikmati hampa pada hati kosong.
Mereka satu rahim dan penuh drama cinta.
Bisa kalian tebak mereka kenapa?
Tidak bisa di percaya ternyata orang tampan, gagah dan ideal bisa galau juga.
Helaan napas halus terdengar dari keduanya, dan....
"Dia akan menikah." Ucap mereka bersamaan.
Mata mereka bertemu, saling mengernyit, mengubah pada posisi duduk.
"Siapa?" mereka terkekeh.
Ayolah mereka, kakak-adik dan beda 5 tahun tidak kembar.
Taka membuka telapak. "Kau dulu, Chris." Menghela napas lalu bercerita.
Sudut bibir Taka berkedut, "Aku sudah duga, dia sangat special." Iris itu mengerling jahil pada sang adik.
Chris angkat bahu lalu mendengus masam, "Kau sendiri? Siapa yang menikah? Apa—"
"Kania." Memutus ucapan Chris.
Hah.
Chris menatap kakak nya dan tidak menjawab.
"Kemarin, selepas pemotretan Poldi pergi ke toko perhiasan, dia bilang 'cincin sudah jadi'. Aku antar Kania pulang karena dia terlihat lelah," jelas Taka di balas angguk samar.
"Hanya itu?"
"Ya, kami juga makan malam bersama. Tidak lebih."
Chris menarik napas, "Kurasa Kania masih menyimpan rasa padamu," balas nya santai.
"Aku senang bila itu benar, untuk saat ini aku mencoba menerima kenyataan." Wajah muram menghempas punggung pada sofa.
Menarik napas Taka menatap Chris. Menatap lukisan yang sudah menempel di sana selama tiga tahun, "Kau sudah dengar kabar Wildan? Dia sudah membaik, aku ingin menjenguk, kau mau ikut?" tawar Taka.
"Hn." Taka mendengus mendengar gumam adiknya.
"Apa kita termasuk pria tampan kurang beruntung?" Chris mendelik melirik tidak suka pada pernyataan Taka.
"Cih, Itu untuk mu saja. Aku lebih banyak meremas berbagai gunung kembar di luar sana." Taka terkekeh penuh cela.
Menatap si adik playboy kurang belaian. "Oh, adik ku sayang, sombong sekali. Cuma gunung kembar, aku sudah menusuk juga di jepit suatu yang berlendir di luar sana." Chris memutar mata malas. Jelas salah dia memancing Taka.
Satu alisnya naik, dia tidak boleh kalah argumen. Bibir nya berkedut. "Aku tidak sebodoh itu, aku tidak mau selain dengan istri ku." Tukas nya membela diri bangga.
Wajah Taka kembali muram. Satu kebodohan yang tidak pernah bisa di ubah sampai kapan pun. "Yah, kau benar. Itu kesalahan. Ya Tuhan, itu membuat ku mual." Suara dingin Taka terdengar jelas di telinga Chris.
Chris berdiri dari sofa.
Taka melirik, melihat adiknya mendekat. Menepuk pundak Taka memberi kekuatan.
"Kau tahu, Kania tidak menikah kecuali kau melamarnya." Alis Taka hampir menyatu, "Kau pasti menyangka Kania dan Poldi, aku benar? Cincin itu di gambar dan di pesan Kania milik Tata dan Nando." Taka berdiri tidak percaya.
__ADS_1
"Benarkah? Kau tahu dari mana?" Chris gemas, bantal sofa miliknya melayang bebas memukul kepala Taka.
"Kurang —"
"Aku menemani Nando. Poldi ternyata masih ada ikatan saudara Nando jadi dia ikut membantu," sendu di wajah Taka memudar mengulas satu senyum senang.
Taka melangkah ke arah pintu. Sudah mencapai pintu. Menoleh sebentar tersenyum penuh arti pada Chris yang juga menatap nya.
"Aku menyayangi mu adik ku," tertawa kencang. "Oh iya, aku juga punya info untuk mu. Aku bisa melihat sekretaris mu menaruh hati pada mu." Taka keluar dan menutup pintu.
Chris menatap kosong pintu apartemen. Pikiran nya buntu. Beranjak ke kamar mandi, ia butuh air dingin untuk hawa panas di tubuh nya.
"Kau ba***gan beruntung, Kak." Mendesah frustrasi berendam dalam jacuzzi.
🌟🌟🌟
Jadwal pagi sedikit longgar, pria rupawan yang kini menatap keluar jendela besar dan menarik napas.
Dia berbalik melihat kegiatan Ega sedang fokus. Menatap punggung mungil dan rambut terikat asal.
Ega perempuan yang ia cintai belum dapat membuka hati sepenuhnya. Chris bisa sabar menunggu. Galih lelaki yang selalu ada di sisi Ega.
Menghembus napas panjang berat, rasa cemburu serta curiga sudah mencapai batas maksimum. Mengingat kejadian dua hari kemarin.
Flashback on
Weekend pagi, hari cerah senyum tampan di puja kaum hawa. Pria penuh karismatik mengendarai mobil sport hitam menuju tempat tinggal sang pujaan.
Senyum tampan memudar. Galih, lelaki itu lebih dulu menjemput Ega. Pakaian nya terlihat rapi, mungkin juga mereka sudah ada janji untuk keluar.
Sabar.
Chris menunggu di dalam mobil. Sudah ia duga. Menatap geram dua orang depan sana mengobrol dan tertawa.
Chris tidak mau berpikir negatif dari apa yang ia lihat. Chris berpikir kalau dia memang tidak memiliki harapan. Terlebih ia pernah melihat mereka keluar dari toko pernak-pernik pernikahan.
Ia harus membuang pikiran negatif tentang gadis itu.
Masih tidak menyerah selama belum ada janur kuning.
"Lebih baik aku kembali lagi besok." Ucapnya memutar kemudi dan pulang.
Galih, lelaki itu masih memakai pakaian yang kemarin pagi di tubuhnya. Galih menginap di apartemen Ega.
Hatinya semakin berdebar. Melihat Ega antar Galih ke tempat parkir. Berbalut celana pendek dan sweater.
Genggaman pada kemudi mengerat. Rasa marah mengusai. Melihat senyum Ega mengembang mengucapkan 'hati-hati' pada si lelaki itu.
"B*R*NGS*K." Umpat nya memukul kemudi kencang.
Menekan gas cukup dalam. Chris keluar dari tempat parkir. Dia sudah kenyang. Makan hati.
Flashback off
"Masuk." ucap Chris.
Ega berdiri, memberi salam pada tamu yang masuk. Galih menghampiri, mengelus pipi Ega lalu tersenyum.
"Tidak perlu formal princess, kau sudah sarapan?"
Ega mencebik. "Aku tidak akan bangun telat, kalau hari kerja prince."
Oke.
Telinga Chris terbakar. Tidak hanya telinga, hatinya juga panas. Emosi tertahan selama dua hari, semakin ingin meledak mendengar percakapan mereka.
Galih melirik Chris sebentar. Sudut bibirnya terangkat licik. Mencium pipi juga mengacak rambut gemas.
"Jauhkan, kau merusak rambut ku." Ega kesal.
Galih mendapati Chris menatap sinis di balik meja.
Galih terkekeh, mendekati meja Chris.
"Selamat pagi, kau terlihat—buruk."
Chris diam. Malam menanggapi buaya rawa.
Galih melepas tawa puas. "Ok. Aku datang untuk Ega. Bisa dia cuti dua atau tiga hari." Chris merasa detak jantung di pompa cepat mendengar kalimat Galih.
__ADS_1
Pura-pura tak tahu, itu yang terbaik saat ini.
"Apa maksud mu?" pertanyaan meluncur bebas.
Galih kembali terkekeh, "Ega, bos mu kaku sekali." Menoleh ke belakang.
Ega mengulum senyum.
"Aku bertanya padamu, Ega akan pergi selama beberapa hari. Kau beri izin?" bibir Chris merapat.
Ada jeda beberapa menit sampai suara Chris terdengar.
"Dia harus menyelesaikan tugas. Bila dia mau izin, kenapa harus kau yang mengatakan nya?" Melempar dagu pada Galih.
"Kau dingin sekali, pantas Ega tidak suka." Chris tersentak per-sekian detik dan kembali memasang wajah datar.
Memutar ulang kejadian demi kejadian. Benarkah mereka sepasang kekasih.
Dan menikah.
"Apa yang kau—" menelisik sorot mata Chris yang terlihat kosong.
"Aku tidak suka bertele-tele," Galih menarik napas pendek. Chris ternyata lebih dingin.
Menaruh kartu berhias pita cantik di atas meja sekali sentak. Galih bisa menangkap Chris berubah kaku. Menatap kosong pada kartu tanpa berniat mengambil.
Ega, Aku tak percaya ini, benarkah?
"Aku harap kau datang membawa Ega. Pernikahan ku minggu depan."
1
2
3
Chris masih diam.
Galih kembali terkekeh. Berdiri dan mendekati Ega.
"Ku harap kau bisa datang princess. Manda menunggu mu. Kalau kau tidak datang. Kau juga harus hati-hati selama aku tidak di sini." Melirik ke arah Chris.
Manda.
Mencium sekali lagi pipi Ega. Ia pergi dari sana.
Pintu tertutup. Entahlah, hatinya yang terlalu senang atau harapan nya bisa menjadi nyata.
Ia kembali mengingat ucapan Taka. Tersenyum.
Chris tertawa kencang. Ega memutar kursi melihat aksi aneh. Oh, dia kesurupan.
"Chris kau kenapa?"
Chris yang sedang girang tidak tertolong mendekati Ega.
"Aku bahagia sangat bahagia, boleh aku peluk kamu, hanya ingin berbagi." Modus.
Belum juga menjawab Chris langsung peluk. Ega melihat kebahagiaan di wajah tampan itu.
Mereka tersenyum saling menatap. Tidak menyadari langkah mereka mendekati sofa.
"Aw." Ega terjatuh di sofa posisi duduk. Chris membungkuk menatap lamat wajah ayu Ega.
"Maaf, aku terlalu semangat." Wajah mereka sangat dekat, Ega merasa jantung nya keluar dari sarangnya.
Wajah Chris semakin dekat, jantung Ega berpacu cepat saat ia rasa deru napas hangat si bos.
Semakin dekat, semakin dekat dan_
Suara pintu terbuka. Tamu tidak di undang menatap tajam melihat kegiatan di atas sofa.
Berdeham memberi kode. Berhasil...
Ega hanya terduduk kaku. Chris berdiri tepat di hadapan Ega sebagai perisai. Ega menggenggam telapak lebar itu ragu. Tubuhnya tiba-tiba kaku.
Kepala pria itu menoleh pada Ega, bertaut erat seperti takut di tinggal. Ega menggeleng kepala lemah.
"Re.Rendi." pita suara Ega bergetar.
__ADS_1
🌷🌹🌷🌹