
Chris mengerang kesal. Ega menghilang tanpa memberi tahu. Apa gadis itu pulang lebih dulu? Tidak mungkin juga. Mereka ke taman bersama jarak apartemen—taman lumayan jika jalan kaki.
"Ck, ke mana dia?"
Mengibas kaus depan mengurangi rasa gerah pada tubuh. Pria itu mendesah kenapa juga ia tidak bawa ponsel. Ia mengira akan seperti biasa, Ega menunggu di bangku sebelum pulang.
Iris tajam Chris berpendar. Berjalan pelan perhatikan sekeliling tanpa celah. Mengecap lidah, rasa cemas mulai mendera. Ia harus tenang, oh, mungkin dia ke toilet. Kepala Chris terangguk, yah bisa jadi begitu!
Sampai toilet langkah Chris terhenti. Mengingat kejadian dulu saat pernikahan Galih. Belum masuk ia sudah merinding. Chris menunggu depan toilet sampai penjaga toilet menegur. Oh, malu rasa nya. Chris di kira tukang intip karena tidak juga beranjak dari sana. Chris mendelik tidak percaya. Mau marah tapi di tahan. Pria itu memberi tahu, kalau dia mencari sang istri. Memakai kaus biru gelap dan celana training hitam. Penjaga itu menggeleng minta maaf tidak melihat ciri-ciri Ega tadi. Penjaga itu berdalih sangat banyak yang mampir, banyak juga yang memakai pakaian serupa.
Chris mendesah lelah mengucapkan terima kasih. Berjalan lagi berkeliling sampai dekat dengan stand para pedagang. Cahaya matahari mulai terasa di kulit. Menggigit bibit pria itu mulai putus asa.
Bertolak pinggang, Chris mengusap tengkuk. Tubuh pria itu berbalik. Desah lega tersemat di wajah tampan. Chris melihat Ega di salah satu stand penjual minuman. Jalan pria itu sangat santai, ia juga melihat anak kecil melambai menyebut 'papa'. Tapi ia abaikan.
"Yang mana papa mu tampan?"
"Itu Tante yang pakai baju kaus hitam dengan celana abu-abu."
Dari pandang lebar Ega menelisik. Baju kaus Puma hitam, celana training Calvin Klein abu-abu. Sneaker Puma hitam.
Itu—
Saat si pria berbalik badan menampilkan senyum lega. Ega bisa melihat tarikan napas lemah, melepas cemas itu ada. Raut wajah itu jelas tertanam rasa khawatir berlebih. Pria itu mendekat dengan berjalan santai. Riak muka nya terlihat datar dan biasa saja. Tidak ada rasa terkejut ataupun bersalah. Tidak ada.
Jantung Ega berdebar keras ada rasa tidak percaya menyelimuti. Pria itu tidak pernah mengatakan ini.
Raut wajah Ega tidak terbaca. Rasa terkejut berlebih di sambut hentak debaran dalam dada. Ega sempat menahan napas. Melamun serta berpikir keras. Jika memang anak itu anak kekasihnya, kenapa Chris tidak pernah mengatakan apa pun pada nya.
Iris mata Ega melirik kaku pada anak laki-laki tampan, yah memang mirip Chris. Pikiran nya menerawang. Apa anak itu hasil one night stand ? Kekasihnya tidak bertanggung jawab, atau ada kesepakatan antara wanita itu dan Chris.
Oh, tolong mata Ega berembun. Menggigit bibir kecil dan mengerjap mata. Ia tidak boleh cengeng, tidak boleh. Menahan napas ia kembali berpikir logis. Bukan berpikir, ia mendapati dirinya tercenung alias melamun. Isi kepala kosong menatap lurus pada kekasihnya yang terus berjalan santai mendekat.
Chris tersenyum mendorong kepala Ega mencium pelipis si gadis mesra, tanpa menghiraukan Kevin. Ega bergeming melirik kaku pada sang kekasih.
"Om, genit." Celetuk Kevin.
Heh? Apa—om?
Ega mengerjap mata lucu. Beralih menatap Kevin. Ia kira Chris ayah biologis anak itu. Kenapa mereka sangat mirip? Ega masih speechless mengamati percakapan dua orang berbeda usia.
Chris terkekeh, "Itu romantis, bukan genit."
Kevin memutar mata malas. Mengalihkan pandangan nya pada papa yang masih berjalan menuju nya.
Dahi Chris menekuk dalam. Ega tampak melamun. "Sweety," panggil nya pelan.
Ega tersadar, ia membuang karbondioksida dari celah bibir. Menarik sudut bibir kaku, dia sudah berpikir aneh-aneh tentang kekasihnya.
"Papa," suara Kevin kembali mengalun di sambut tawa Baritone lain bergerak menggendong si anak.
"Jagoan papa, kau bersama om?"
Kevin menggeleng, "Aku bersama tante Ega, om Chris genit cium Tante tadi." Justin tertawa mencubit hidung Kevin gemas. "Jangan di tiru, om mu memang genit." Kepala Kevin terangguk dengan bibir berkerut lucu.
Chris mendengus, anak kecil zaman sekarang sudah pintar menilai. "Ah, iya perkenalkan Ega istri ku." Mereka berjabat dengan saling menyebut nama.
"Calon?" Justin membenarkan.
Chris memutar mata, "Sama saja,"
"Bodoh, beda"
"Sama," tidak mau di salahkan.
Justin menggeleng, "Kalau istri sudah pasti kau bebas mendarat." Mengedip sebelah mata.
"Oh, f—menyebalkan." Hampir saja keceplosan di sana ada Kevin. Tidak baik anak itu mendengar umpatan.
Ega terkekeh.
"Papa, ayo pulang ibu pasti sudah masak. Aku lapar." Justin mengacak rambut anaknya. "Ok, beri salam perpisahan seperti sampai nanti tante cantik dan om jelek."
__ADS_1
Chris mendelik tidak terima tapi Kevin tetap mengucapkan. Ega tertawa lepas, anak itu lucu sekali.
💖💖💖
Seharian Chris di apartemen Ega. Pria itu sudah terbiasa mulut petasan iri tetangga. Chris memilih tidak peduli gunjingan busuk. Chris sempat merasa aneh, tidak habis pikir. Kenapa harus merendahkan diri sendiri, mencemooh dan menilai dengan mata tertutup tanpa berkaca. Chris menggeleng kepala skeptis mengingat nya.
•••Flashback on•••
Tiga hari setelah Ega sadar, Chris, Saka dan Rani sempat datang untuk memeriksa keadaan apartemen. Membawa dua pasang pakaian ganti untuk Ega.
Saka dan Chris sedang menunggu Rani menyiapkan keperluan Ega. Rani keluar dari kamar mengatakan sudah selesai. Mereka keluar dari apartemen, bertemu satu wanita muda. Rani lebih dulu mengabaikan memilih terus berjalan tanpa menoleh pada wanita muda tersebut.
Saka dan Chris saling lirik pandang aneh. Ikut melangkah dan terhenti saat suara lembut wanita itu menyebut nama Ega.
Rani mendengus memutar tubuh memasang wajah sinis.
Wanita itu menarik satu bibir angkuh, "Kalian dari tempat Ega?"
"Apa itu jadi urusan mu?"
"Aku bertanya tanpa urat, kenapa kau marah?" Menggeleng pura-pura bingung.
Rani menahan napas, buang perlahan sebelum menjawab. "Dia di rumah sakit,"
"Oh, dia sakit?—"
Baru saja Rani ingin menjawab ternyata pertanyaan itu belum selesai.
"—atau di buat sakit!"
Jelas Rani tahu pikiran setan dalam benak wanita itu.
"Ah, apa aku benar? Dia keguguran atau—." Melirik ke arah Chris.
Chris mengepalkan tangan, menahan amarah. Maju memberi tatapan elang siap mencabik daging busuk wanita itu, "Kalau kau bukan wanita, sudah ku pastikan kau babak belur sekarang juga." Berdesis sinis.
Tubuh wanita itu bergetar. Iris nya mengecil, tatapan penuh kilat membunuh Chris begitu nyata, sampai ia lupa cara bernapas.
Chris angkat dagu angkuh, "Sekali lagi aku dengar kau berkata buruk tentang istri ku. Tunggu ajal mu." Menambah peringatan.
"Mamp*s!" Rani mengumpat senang. Saka memberi ibu jari pada sang kekasih.
Wanita tadi menarik napas sesak. Mengusap pelipis berkeringat. Ancaman Chris sangat menakutkan.
•••Flashback off•••
💖💖💖
Ega bertopang dagu, menatap Chris penuh bintang menari di iris mata, bibir tipis si gadis membentuk lengkung indah.
Sedang asyik nonton Netflix, dua jam selepas makan malam Chris mengeluh ingin camilan pengganjal perut. Ega terkekeh kekasih nya seperti ibu-ibu ngidam.
Menyuruh Chris menunggu sebentar. Ega beranjak ke dapur melihat bahan di lemari pendingin ada dua buah jagung manis. Sebuah ide muncul, gadis itu mencari bahan tambahan. Ega ingin membuat kudapan ringan jagung manis susu keju. Sepuluh menit jagung manis sudah matang, memindahkan dalam mangkuk di tambah topping sedikit mentega, susu serta keju.
Ega kembali ke ruang tengah membawa mangkuk bening berisi jagung manis susu keju juga segelas air dingin. Duduk di samping Chris di bawah sofa. Chris mencium pelipis Ega, melihat satu mangkuk jagung manis susu keju. Chris sangat suka makanan itu saat mereka jalan berdua.
"Enak?" Wajah Ega miring melihat ekspresi Chris.
Chris tersenyum malu, menatap gadis nya lalu mengedip sebelah mata. Mereka sangat menikmati waktu seharian nerdua, tangan Ega mengganti acara televisi. Sesekali Chris menyuapi.
"Chris, aku—"
Chris diam memasang telinga, menatap sang kekasih tampak ragu.
"Aku sempat berpikir Kevin itu anak mu, mungkin kau pernah one night stand dan kelepasan." Balas Ega suram.
Chris tersedak jagung. Memukul dada pelan, meraih gelas dari tangan Ega. "Apa?"
Ega menatap Chris, kepala gadis itu menggeleng keras serta melipat bibir dalam.
"Kenapa berpikir sampai sejauh itu?"
__ADS_1
"Aku—maaf," cicit nya lemah.
Bahu Chris merosot lemah, "Jangan berpikir aneh-aneh lagi, mengerti!"
"Mengerti, bos!" Memasang wajah kaku.
"Kau sudah ke butik dengan ibu?" Mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, desain nya cantik-cantik. Ku dengar dia teman mu?" vocal Ega terdengar aneh
"Iya, nama nya Inka. Dia memang berbakat di lukis."
"Kalian pernah dekat?" tanya Ega tiba-tiba, menelisik raut wajah Chris.
Chris hanya memandang kekasih nya. Perasaan pria itu sedikit aneh menilai suara Ega barusan. Hati pria itu tentu senang jika Ega cemburu. Apa gadis nya tidak tahu, Chris hanya jatuh cinta pada nya.
Jeda panjang di antara mereka di isi suara televisi.
Ega cukup penasaran, entah kenapa merasa Chris pernah memiliki perasaan khusus pada desainer muda dan cantik itu.
Duduk Chris bergeser, lebih merapat pada si gadis manis. Tangan Chris bergerak menyisir sisi rambut Ega sampai belakang kepala. Mendorong tengkuk Ega, sampai kening mereka menyatu. Dari jarak pandang dekat, mereka saling menyelami cinta masing-masing.
"Kau ragu?"
"Bukan maksud."
"Jangan ragu, aku memilih mu."
Mencium singkat bibir ranum itu. "Oh, aku lupa menyapa ini." Mengusap bibir basah Ega.
"Lagi ya,"
Ega menegang, meneguk liur susah. Melirik jam dinding sudah hampir larut. Lebih baik ia tidur, selamatkan diri dari singa lapar.
"Kau takut, heh?"
Si gadis kembali menahan napas melihat seringai buaya tercetak di wajah Chris.
"Kurang dari sepuluh hari kita akan menikah, kita bisa—"
Ega berdiri. Chris menatap gadis nya geli. Mempertahankan seringai di wajah tampan, menebar rasa gugup pada Ega.
"Bersihkan alat makan mu," perintah Ega. "Dan tidur." Tambahnya hampir masuk ke dalam kamar sebelum suara Chris terdengar.
"Di mana?"
"Kau tidak lihat di sofa bed, ada bantal selimut juga guling."
"Guling? Mana, tidak ada!" seru nya angkat bahu.
Ega mendengus, "Di atas bantal besar itu apa namanya kalau bukan guling?"
"Aku mau guling hidup, bernapas, bernyawa bisa bersuara—"
"Pervert." Mengerang kesal Ega menutup pintu kamar kencang.
Chris tertawa keras, rasanya senang sekali. Meraih mangkuk dan gelas membawa ke dapur. Chris termasuk pria bersih tidak suka barang kotor menumpuk, mencuci alat makan tadi lalu kembali ke ruang tengah. Tangan pria itu meraih remote matikan televisi.
Menarik sofa bed lebih besar dan berbaring. Chris masih tersenyum, menerawang jauh ke acara pernikahan.
Ia seperti anak kecil menanti juga membayangkan janji jalan-jalan dari orang tuanya. Tidak sabar sampai tidak bisa tidur.
Ah, benar! Dia sudah sangat tidak sabar untuk itu.
"Ega, aku mencintai mu. Rasa nya ingin memutar waktu lebih cepat." Menutup tubuh dengan selimut, sepasang kelopak mulai turun menjelajah mimpi basah–eh—indah.
🌷🌹🌷🌹
.
.
__ADS_1
.
Tbc