
Chris sudah berangkat dari satu jam yang lalu. Bisa kalian tebak, apa dampak dari pria tampan datang lalu menginap dan siang hari baru terlihat batang hidung!? Terlebih ini bukan pertama kali pria itu menginap. Hidup di apartemen bukan berarti lolos dari mulut busuk tetangga.
Wew.
Ega tumbuh besar di sana. Dengan status si gadis yatim piatu yang hidup sendiri. Otomatis, jadi santapan sedap netizen kurang akhlak. Selepas pria tampan alias si bos pergi. Bisik-busuk mulai masuk menusuk gendang telinga. Ega hanya bisa berlapang dada. Satu hal yang selalu ia lakukan menulikan pendengaran. Menghindar dari penyakit hati yang bisa membuat nya mati muda.
Ngeri.
Bagi para penikmat ghibah, pada umum nya mereka memiliki anak perempuan atau laki-laki yang juga tidak se–suci itu. Ibarat nya semut di ujung laut akan terlihat jelas dan gajah di depan mata akan tampak samar.
Apa ya perumpamaan nya, hmm, tidak punya kaca. Ah iya, begitu istilah nya. Tabu tapi layak diperbincangkan. Miris.
Seperti melukis di atas air, semua sia-sia. Argumen kita tidak pernah berlaku dalam otak mereka. Jadi percuma juga membela diri, jika gosip murahan lebih gampang di terima dan merebak seperti ViRuz.
Abai saja cukup.
Selesai mandi, ia memilih celana pensil biru gelap dan baju ala model sabrina warna coklat susu untuk penampilan sore ini. Duduk depan meja rias dengan rambut masih tergulung handuk.
Tangan nya mulai menyentuh hair dryer mengeringkan rambut. Tiga jari terselip pada spon bedak Cushion menepuk tipis pada wajah, memberi warna natural. Bibir nya menipis rapat saat liptint warna peach kalem sudah dipoles.
Ah, dia terlihat cantik dan natural. Tidak berlebih, itu yang membuat Chris jatuh hati sampai rela menunggu. Senyum manis terurai dalam pantul bayang cermin. Merasa puas dengan hasil make up sendiri.
Ega bercermin lagi rasa nya kurang puas kalau hanya sekali. Nama nya perempuan dalam sehari mereka bisa bercermin ratusan kali begitu kaum pria mencibir. Nyebelin, padahal kami kaum wanita berdandan juga untuk siapa lagi. Tidak dandan mereka jelalatan. Dandan mereka rusuh, apa sih mau nya.
Melihat tampilan sekali lagi. Sudah cukup baik dan tidak mencolok mata. "Sip." Ucap nya memberi jempol pada bayang cermin.
Ega beranjak dari sana. Memilih tas Sling bag mungil Kate Spade hitam sebagai pemanis. Meraih ponsel dan dompet masuk ke dalam tas lalu keluar kamar. Ponsel mahal itu bergetar sebelum tangan nya berhasil mencapai pintu.
"Iya, ini mau berangkat. Ok, kita bertemu di sana."
Sebelum berlalu ia cek lagi suatu yang penting dompet, ponsel juga kartu apartemen. "Aman," bergumam sendiri. Keluar dari sarang ia melangkah menuju tempat parkir.
Senyum manis mengembang, sebelum mesin nyala tidak lupa ia berdoa. Mobil yang baru dua bulan ini di beli dari hasil kerja keras. Walau hanya mobil biasa tapi ia sudah puas. Chris sempat kesal karena Ega berulang kali menolak saat pria itu ingin memberi mobil yang lebih bagus. Dan Ega tetap pada pendirian nya tidak ingin di cap sebagai wanita materialistis.
Mobil hitam mulai meluncur keluar area parkir. Telunjuk nya menekan tombol audio player. Sedikit ikut bernyanyi dan setia fokus pada jalan. Ega mengemudi dengan kecepatan standar yang di tetapkan sesuai peraturan. Alis nya menekuk dalam saat jalan mobil terasa aneh. Selepas menepikan mobil, kaki Ega menekan pedal rem sedikit dalam. Ia keluar untuk cek roda.
Menutup pintu mobil, dua detik berikut nya suara teriak melengking terdengar. Suasana jadi sangat ramai dan Ega bisa melihat cairan kental di tangan. Debaran jantung nya kencang, di saat yang sama ia merasa kesadaran nya mulai menurun dan gelap.
🌟🌟🌟
__ADS_1
Melirik lagi jam di tangan Rani berdecak sebal depan pintu masuk Mall, sudah lebih dari tiga puluh menit tapi Ega tidak juga terlihat. Menghembus napas muram, ia kembali duduk dengan tangan terlipat depan dada dan kaki menyilang.
"Awas saja, kalau dia —"
Acara omel nya terputus saat ponsel dalam tas bergetar, nama Ega ada di layar. "Hei, kau mau aku jadi pengganti patung Mc.Donald, hah." Langsung menyemprot ketus tanpa menunggu suara dari seberang.
"Maaf nona, kami dari Kepolisian ingin memberi tahu. Pemilik ponsel saat ini sedang kritis di rumah sakit pusat kota, korban mengalami kecelakaan tabrak lari dan kami menghubungi karena nomor anda ada di panggilan terakhir."
Rani membekap mulut nya sendiri. Kaki nya lemas, tidak percaya dengan berita yang ia dengar dari seberang. Air mata sudah meluncur bebas di pipi.
"Te.terima kasih Pak polisi, saya segera ke sana." Ucap Rani tergagap.
Berlari ke arah parkir, saat sudah di dalam mobil. Ia menghubungi Saka dengan suara menjerit sakit. Mengusap wajah basah ia menarik napas hati nya tenang. Dan percaya semua akan baik-baik saja.
🌟🌟🌟
Chris berkali-kali mengumpat mendapati keadaan sedikit macet. Mengacak rambut sendiri dan mengusap wajah kasar. Kepala nya menyentak keras pada jok mobil pikiran sialan sudah melayang jauh. Dada nya naik turun gejolak emosi tidak terbendung. Ia sudah tidak sabar untuk melihat dan berada di samping kekasih nya.
Taka menghembus uap karbondioksida. Menepuk bahu sang adik tanpa ada kalimat apapun. Ia tahu rasa gelisah sang adik. Hati nya sedikit tersentuh juga bangga pada adik nya. Ia akhirnya bisa melihat seorang Chris yang bisa mencintai dengan tulus.
Chris menoleh melihat ada ojek online tidak membawa penumpang di samping mobil. Membuka kaca ia memanggil.
Tukang ojek online menggeleng. "Saya baru pulang antar penumpang, mau kembali ke pangkalan."
Dengan cepat Chris keluar dari mobil. Naik ke atas motor dan minta di antar ke rumah sakit yang di tuju. Tanpa berdebat harus pesan melalui aplikasi. Karena Chris berjanji membayar lebih.
Taka menatap nanar punggung Chris yang mulai menjauh. Sang Kaka tampan itu juga berdoa penuh harap semoga semua baik-baik saja.
Lima belas menit Chris sudah sampai di rumah sakit. Merogoh kantong memberi tiga lembar uang bergambar bapak Soekarno tidak lupa mengucap terima kasih dan berlari kencang tanpa mendengar jawaban dari bapa ojek online.
"Alhamdulillah. Sering - sering bertemu orang seperti dia, bisa makan enak terus anak saya. Siapa pun yang di khawatirkan pria itu semoga baik-baik saja, Aamiin." Doa tulus dari bapa ojek.
Sampai lobi Chris menghubungi Rani, bertanya dia di mana. Pria itu terus berlari resah. Dada nya berdetak kuat sampai depan pintu operasi, langkah nya mulai lemah. Mendekati Rani dan bertanya.
Rani bercerita dengan urai air mata. Dua puluh menit menunggu pintu putih ruang operasi masih setia merapat. Hati Chris semakin berantakan dengan benak negatif mulai membayangi.
Hati nya kembali sesak. Menepis semua bayangan yang hadir mengacak gemuruh dalam dada. Ia menunduk kedua tangan di tengkuk dan siku menumpu pada paha, menatap gamang sepatu nya sendiri.
Baru tadi malam rasa cemas selama ia di luar negeri berganti lega. Benak nya memutar kenangan kejadian malam tanpa izin. Tadi malam ia masih bisa memeluk, mencium, mencumbu, bercanda. Begitu juga pagi sampai siang ini ia masih merengkuh tubuh Ega dalam dekapan. Melepas semua kemelut aneh dalam hati selama ia jauh dari gadis pujaan nya.
__ADS_1
Sekarang hati nya di hantam rasa takut berlebih.
Jika ia berdoa akan kah kekasih nya selamat?.
Doa orang yang berlumur dosa akan kah di kabulkan?.
Ia menutup mata. Berdoa meminta dengan tulus untuk kekasih pujaan Pacar pertama nya. Sejauh ini ia tidak pernah merasa jantung nya berdebar keras dan ingin memiliki, sampai ia bertemu Ega. Merasakan semua cemas, sedih, takut kehilangan.
Langkah kaki berbondong mendekat. Mengubah posisi menjadi tegap dan melihat siapa yang datang. Ternyata sahabat dan orang tuanya.
Mika memeluk Chris, mencoba memberi rasa tenang pada sang putra. Berbisik lirih menguatkan hati. Chris menarik napas sesak. Ia masih bisa memasang wajah tegar tidak menangis, setetes pun tidak.
Rani semakin menangis dalam peluk Tata. Mereka berdua sama-sama menangis dengan pasangan mendampingi.
Taka datang dengan Kania, mungkin kakak nya memutar kemudi setelah dia keluar dari mobil dan menjemput kekasih nya.
Kania mendekat pada Mika, memberi pelukan saat wanita paruh baya itu masih berusaha untuk berhenti menangis. Kasih sayang Mika tulus pada calon mantu. Ia sudah menganggap Kania dan Ega sebagai putri kandung sendiri bukan orang lain.
Pintu putih ruang operasi terbuka, dokter muda bernama Rei keluar dari sana.
"Dia istri ku bagaimana keadaan nya?" Chris langsung bertanya. Menatap dengan penuh harap dokter itu mengatakan semua terlewati dengan baik.
Helaan dokter tertutup masker itu terdengar. Ia membuka masker sebelum bicara, "Maaf tuan, kami sudah berusaha se-maksimal mungkin—"
"Jangan bercanda," bentak Chris dengan wajah keras, meremas kuat pakaian hijau si dokter.
Gelengan samar dari dokter membuat napas nya berhenti. Chris gagal. Ia gagal untuk tidak meneteskan air mata.
"Ega." Lirih nya.
Di sambut suara tangis lain, di belakang punggung yang biasa terlihat kuat kini bergetar dan rapuh. Saat tubuh Chris terhuyung lemas sang kakak maju menopang memberi pelukan erat.
🌹🌷🌹🌷
.
.
.
__ADS_1
Tbc