
Singgih menarik napas cemas.
Taka menggeleng nanar.
Sekelebat muncul bayangan buruk mengusik dalam benak masing-masing.
"Semoga tidak terjadi." Ucap mereka bersamaan, dan helaan berat kembali terdengar.
Kaki Taka menekan gas mobil lalu memutar kemudi, melaju keluar halaman luas itu, menjauh dari lokasi.
"Apa ada kabar dari Rendi?" Taka bersuara, kembali putar kemudi di perempatan jalan. Berbelok arah mobil itu melaju sedikit lamban. Siang ini jalur sedikit ramai dan padat.
Siku tangan Singgih menempel pada sisi jendela. Pria itu mengusap sedikit bibir sebelum bicara. " Sudah, dia setuju saja."
Taka mengangguk dengan sudut bibir berkedut senang saat keluar jalur padat. "Wildan dan Rendi. Aku merasa iba pada mereka. Wildan di manfaatkan secara picik, lalu Rendi pria itu salah langkah hanya memenuhi biologis."
Singgih berdeham, melirik dengan tatapan mencela. "Kau bicara diri mu sendiri, dude." Satu hantam main-main mampir pada lengan besar Singgih.
"Oh, b*j*ng*n jangan bicara itu, aku sudah lupa. Damn it, you make me sick, bruh." Umpat Taka memukul setir kemudi keras dan Singgih tertawa laknat.
"Sorry, yah, sudah ku bilang Kania yang terbaik untuk mu. Tapi jika tidak seperti itu mungkin hubungan kalian juga akan terkesan flat. Tidak seperti sekarang kau sangat berbeda."
Taka mengakui dari awal. Ia sekali lagi bersyukur saat Kania masih menjaga hati untuk nya. Setelah ia menolak dan gadis itu tetap menerima walau dengan wajah terkejut dan malu bersamaan.
Aksi senyum-senyum Taka membuat Singgih merinding dan mencibir, "Kau mau membunuh ku, jangan melamun jorok, b*d*b*h."
Taka mendelik. "Siapa juga yang melamun jorok, aku berpikir nanti malam dapat jatah lagi—tidak!" Memberi Singgih senyum yang membuat pria itu bergidik dan tidak bersuara lagi.
🌟🌟🌟
Chris keluar dari ruang rawat inap. Wajah basah masih setia menghiasi wajah pria tampan itu. Mendesah lelah ia duduk di antara bangku ruang tunggu. Tangan nya memijat pangkal hidung rasa nya lelah. Rasa takut pada harapan semu masih bergelayut.
Tapak sepatu membuat atensi pria itu menoleh. Satu bogem mentah dia terima dari pria yang baru saja datang. Menatap penuh intimidasi dan ingin membunuh.
Chris langsung tersungkur di atas lantai rumah sakit yang dingin, mengusap bibir terlihat sedikit bercak darah di punggung tangan. Ia meringis rasa nyeri dan sakit pukulan Galih tidak main-main.
Suara tangis terselip kata berhenti terdengar lirih. Galih menurut. Wanita itu sudah menangis tersedu saat perjalanan menuju rumah sakit.
"Berhenti," ucap nya sekali lagi. "Kau bisa lihat dia sama terluka nya, cukup Galih jangan membuat keributan, ini rumah sakit." Menatap sang suami dengan lembut.
Manda menarik lengan Galih, takut pria itu kembali kalut. Seharusnya mereka sampai beberapa hari yang lalu. Tapi tidak mungkin, mereka sedang di negara Sakura Jepang, Galih ada kerja sama dan tidak bisa lepas tangan begitu saja.
Dada Galih naik-turun, tangan nya mengusap pelipis, meluruh emosi yang sudah berkobar. Ia menatap Chris yang sudah berdiri dengan wajah terluka, cemas, kacau dan basah.
Tangan Rendi turun dari wajah. Menarik napas panjang sekali lagi dengan tangan terkepal dalam kantong celana. "Aku sangat yakin semua ini karena mu." Menekan suara datar.
Chris menatap wajah yang masih mengeras di hadapan nya. Ia sama sekali tidak gentar. "Ya, semua karena aku. Tapi aku sudah berusaha menjaga nya. Dan aku kecolongan."
Galih mendengus penuh cela. "Sudah ku peringatkan, jangan pernah melukai nya. Dan sekarang, kau membuat dia nyaris kehilangan nyawa. B*j*ng*n ke**rat, itu cara mu menjaga nya?"
Mata Chris memicing tajam. Perkataan Rendi seolah mencemooh, kalau dia sama sekali tidak pantas untuk Ega. Rasa lelah dan harapan abu-abu dari kondisi sang kekasih serta rindu yang tidak tersalurkan menyulut emosi yang ia pendam beberapa hari.
__ADS_1
Bibir nya berkedut sinis. "Aku memang b*j*ng*n seperti ucapan mu. Tapi perlu kau ingat, b*j*ng*n ini juga di cintai Ega. Tidak masalah jika kau tidak merestui kami. Aku tetap memegang tangan nya sampai kapan pun."
Berucap dengan intonasi tegas serta nada ultimatum garis keras. Jika sampai Galih mencoba memisahkan dia dan Ega. Chris tidak tinggal diam.
Galih menyembur tidak kalah sinis. "Jangan egois hanya untuk bersama nya. Kau menyakiti nya. Kau bisa cari perempuan lain, jangan campuri hari nya lagi. Aku kembalikan semua uang yang sudah kau keluar dari rekening mu untuk biaya rumah sakit. Kau bisa pergi."
Tatapan mereka terhubung saling melempar pandang sengit.
Chris membuang wajah ke samping, melipat bibir garis ketat. Detik selanjutnya tangan yang sudah gatal melayang tepat mengenai pelipis si korban. Emosi labil membuat pria itu tanpa pikir panjang memberi bogem mentah. Chris menjadi berang, geraham nya kembali mengetat. Menarik napas kuat menatap dengan dagu terangkat congkak pada Galih yang tersungkur.
"B*d*b*h, aku tidak butuh uang mu. Yang sudah ku lakukan hal yang benar dia kekasih ku. Kau tidak ada hak mencampuri urusan kami. Jika kau datang mencoba mengambil dia dari sisi ku, lebih baik angkat kaki dari sini. Aku tidak segan bermain kasar, Fu*k."
Desis Chris, tidak main-main syarat mengancam dan intonasi membunuh di setiap kata.
Galih bangkit dengan terkekeh bengis. "Aku punya hak kau lupa, aku kakak nya." Jawab lebih santai dengan tangan terlipat dengan dada angkuh.
Satu alis Chris terangkat. Memberi tatapan mencemooh kental. "Ah, iya benar, kau itu sebatas kakak—angkat, begitu?" tersenyum remeh membuat Galih kembali mengepal tangan kuat dan menahan gejolak.
Galih mengerang frustrasi menunjuk wajah Chris dengan telunjuk mengacung tegas.
"Kau—"
"Bisa kalian diam. Oh, sialan, kalau kalian mau baku hantam aku tidak masalah. Tapi di luar, aku tidak peduli. Lalu pilih kamar mana yang kalian suka. Ku sarankan kamar mayat terdengar cocok untuk kalian, ber*ng**k." Manda seperti kompor nyala tersiram bensin meledak berkobar. Ia muak melihat pertengkaran tidak berujung dua manusia tidak tahu diri.
Persetan.
Galih harus berterima kasih pada sang istri. Sesaat tadi tiba-tiba suara nya hilang. Merasa kalah telak dan tidak bisa mencela kalimat Chris.
Telunjuk nya turun, ia memilih membuang muka. Memeluk pundak Manda dari samping.
Begitu kenyataan nya.
Chris melirik Manda yang terus mengusap wajah. Ia tahu Manda pasti sangat terpukul melihat kondisi Ega. "Belum ada," Chris menarik napas berat sebelum melanjutkan. "Hari ini, kau bisa ikut dengan kami."
Galih melirik Manda sesaat. Manik itu berpindah ke ekor mata melirik Chris yang masih setia menatap Ega di balik kaca. "Orang yang sama?"
Chris mengangguk mendapati iris Galih bertanya dengan wajah ingin tahu lebih. Dua jari Chris naik. Kelopak Galih melebar, ini berarti pembunuhan berencana.
"Manda," Chris memanggil wanita yang sedari tadi berusaha menahan diri untuk tidak pecah. "Kau bisa masuk ke dalam, cuci tangan mu lebih dulu. Di dalam ada pakaian khusus, kau bisa memakainya."
"Apa hanya satu orang yang boleh masuk?" Tanya Manda tersendat karena Isak.
Chris hanya mengangguk lemah.
Galih mengelus kepala sang istri. "Aku di sini saja. Aku dan Chris janji tidak baku hantam." Memberi senyum dan Manda mencebik namun mengangguk.
Manda masuk, memakai baju hijau. Mereka yakin tangis wanita itu tidak bisa berhenti.
"Bila Ega tidak bisa kembali membuka mata. Aku akan membunuh nya."
Chris menoleh pada Galih. Sudut bibir nya berkedut tidak suka. "Itu kalimat ku," sanggah nya cepat.
__ADS_1
Galih hanya memberi senyum miring dengan alis terangkat satu.
🌟🌟🌟
Senyum merekah menyambut pagi. Sejak semalam ia sudah menyiapkan segala persiapan dengan baik. Euforia nya berlebih sampai ia tidak bisa berhenti tersenyum pada pelayan rumah yang sedang menata sarapan di meja panjang berlapis kaca. Ini berbanding terbalik dari hari biasa, sikap ketus dan lidah tajam sang majikan yang kerap mereka dapat. Hari ini tidak ada umpat, marah, atau pun wajah murka. Membuat mereka tidak lebih nyaman, lebih dari rasa merinding di sekujur tubuh.
Masih memakai kimono tidur, ia menuntaskan sarapan. Tidak ada lemparan garpu, pisau ataupun piring pecah seperti biasa. Hanya sarapan tenang juga damai dengan ponsel mahal menemani.
Wanita itu mengabaikan pandangan aneh mengarah pada nya. Debaran cinta dalam dada nya mengudara menyapa langit yang bersinar cerah. Hari bertabur momen indah terbayang di pelupuk mata. Hal itu semakin membuat nya tidak sabar menunggu sore dan bertemu.
"Akhir nya, penantian ku berbuah manis. Hah, aku tidak pernah menyangka. Ending yang bagus!" berseru sendiri. Dan tawa iblis terdengar dari dalam kamar besar dengan hiasan feminim.
Waktu berotasi cepat. Menjelang sore wanita itu bersiap, bersolek cantik, anggun dan seperti biasa selalu kurang bahan.
Keluar rumah, iris nya berpendar menatap binar pada warna oren jingga. Senja. Waktu yang sangat ia benci. Ia sangat ingin melupakan hal yang telah berlalu, sejarah menyakitkan dalam hidup. Ia pernah di hina oleh segerombolan siswa di sekolah.
Cukup.
Tidak lagi ingin mengingat. Kesepuluh jari nya mengetat pada kemudi. Keringat dingin muncul, mengingat kejadian mengerikan yang pernah ia alami.
Chris. Pria itu menolong nya. Dia menjadi penolong saat ia terpuruk. Tapi kenapa saat mereka dekat pria itu tampak acuh, dingin dan melirik ke arah nya pun tidak.
Ah, sudahlah.
Sekarang semua impian sudah di depan mata. Bayangan kebahagiaan serta di manja pujaan hati menggelitik perut yang terisi kupu-kupu. Bibir tipis di poles liptint Chanel— shade 196 menyungging senyum manis dan licik bersamaan.
Rumah besar dua lantai tampak dari luar, dengan halaman luas cukup menampung empat sampai lima mobil. Perasaan nya membuncah selepas kaki jenjang menekan sedikit dalam pedal rem lalu menarik tuas.
Matikan mesin ia segera keluar dari mobil. Seorang maid membuka pintu, mempersilahkan masuk dan....
"Hey, apa-apaan ini, ber*ng**k. LEPASKAN AKU."
🌹🌷🌹🌷
.
.
.
Tbc
Note:
You make me sick \= Kau membuat ku ingin muntah.
Bruh (sapaan untuk pria).
.
.
__ADS_1
.
Tbc