Pacar Pertama Calon Kedua

Pacar Pertama Calon Kedua
Pacar Pertama Calon Kedua 8


__ADS_3

Beberapa bulan ini hidupnya terasa tenang tanpa kehadiran sang mantan. Tidak untuk hari ini, dia tidak mampu menghindar.


Lima belas menit berlalu dari rapat pemegang saham. Ega masih berkutat dengan beberapa dokumen di tempatnya. Catatan selesai. Merapikan lagi beberapa berkas, menyelipkan notes sebagai tanda jika penting lalu menumpuknya jadi satu.


Ega meminta izin keluar lebih dulu meninggalkan Chris yang masih mengobrol dengan salah satu relasi yang ia kenal bernama Malik.


Tepat saat Ega keluar ruangan. Rendi memutuskan untuk mengikutinya. Netra


Rendi melihat keadaan sekitar sudah sepi karena memang rapat berakhir malam hari para karyawan juga sudah pulang mungkin hanya ada beberapa staf yang lembur.


Tanpa membuang waktu Rendi mengejar Ega. Meraih tangan mungil itu dan menyeretnya sampai masuk ke salah satu ruangan yang  divisi pemasaran yang terlihat kosong.


"Lepaskan aku." Memekik dan memberontak dalam genggaman Rendi.


Rendi melepas genggaman. Melangkah satu-satu mendekati.


Tubuh Ega gemetar dengan rasa takut mengambil langkah mundur. Menatap Rendi penuh waspada, "Jangan mendekat." Perintah Ega dengan jari mengacung tegas.


Rendi tidak menghentikan langkah, Dia terus maju.


Debaran dada Ega menguat saat ia merasa sudah terjebak. Tubuhnya terbentur dengan kaca besar kantor yang sudah tertutup tirai.


Rendi mengikis jarak pada Ega. Sampai tatapan mereka bertemu.


"Ega, dengar–"  Memandangi wajah manis yang ia rindu selama beberapa bulan ini.


Ega bergeming.


"Ga, maafkan aku, aku menyesal." Ega menunduk tanpa aba-aba air mata mengalir. Tremor pada tubuhnya meningkat dengan mendekap erat dokumen di dada.


Kepala Ega terangkat menatap nyalang penuh rasa benci, "Aku tidak mau berhubungan dengan mu lagi. JANGAN GANGGU AKU." Tanpa sadar ia berteriak suaranya terdengar sampai keluar ruangan.


Gadis itu selalu tidak bisa menahan air mata nya. Kenapa dia harus menjadi orang yang masih cengeng saat dia sudah dewasa.


"Ega aku mohon, aku—menyesal. Tapi demi tuhan dari awal aku mencintaimu," tatapan sinis bercampur benci Ega membuat dada Rendi sesak.

__ADS_1


Ega memberi tatapan mencemooh, "Jangan menyebut nama Tuhan breng**k. Cinta, kau bilang cinta. Kalau kau mencintai ku, kau tidak mungkin bercinta dengan— jal*ng itu di kamar _,"  Ega tidak mampu untuk berkata lagi.


Rendi terkesiap. Tidak menyangka dia ketahuan selingkuh dengan Dea.


Ega semakin sesak. Gadis itu menggelengkan kepala lemah sebelum melanjutkan ucapannya. Mengusap air mata yang sudah membasahi wajah iris Ega bergulir menatap Rendi remeh.


"Dan juga jangan pura-pura lagi mencintai ku," desis nya penuh kebencian. "Kau mengatakan itu untuk mendapatkan hak mu sebagai suami aku benar?" Penuh benci masih Ega kalimat nya.


Ega mendengus, "Awal aku mengira kau benar bisa menunggu ku sampai siap. Apa kau tahu? Saat itu aku mulai mencintai mu. Tapi apa yang aku dengar tidak lebih membuat hati ku teriris." Tubuh Rendi semakin kaku pernyataan Ega membuat dirinya merasa paling bodoh.


Ega pernah mencintai ku.


Telunjuk kurus Ega kembali teracung mengarah pintu, "SEKARANG PERGILAH JAUH JANGAN PERNAH GANGGU AKU LAGI." Usir Ega.


Rendi menulikan pendengaran menarik Ega ke dalam pelukan membuat dokumen dalam dekapan Ega terlihat naas berantakan dilantai.


Ega berontak berusaha melepaskan pelukan Rendi, tidak melepaskan pria itu lebih mengeratkan pelukan.


"Lepaskan dia." Suara baritone di balik punggung menginterupsi, dia berbalik melepaskan dekapan nya pada Ega.


🌟🌟🌟


Ponsel Julio berdering melirik tidak minat menjawab panggilan dari. Tidak ingin bertemu dengan tunangannya. Sebelum keluar toilet ia membasuh wajah yang terlihat lelah.


Langkah Julio terhenti mendengar suara perempuan berteriak. Melangkah pelan mencari sumber suara. Kakinya terhenti di salah satu pintu ruang divisi pemasaran. Membuka pintu bercat hitam itu dengan sangat pelan tanpa suara.


Matanya berkilat tidak suka pada sosok pria yang sudah beristri di depannya sedang memeluk sekretaris sahabatnya. Julio maju.


"Lepaskan dia." Bersuara dingin, dibalas dengan tatapan sinis Rendi.


Flashback off


🌟🌟🌟


"Permisi tuan Taka."

__ADS_1


Pintu ruang rapat dibuka kencang menimbulkan suara keras. Dendi mengatur napas yang tersengal. Wajah panik Dendi berhasil menarik perhatian mereka yang ada di ruang rapat. Menetralkan napas lalu bersuara lagi.


"Apa?" Taka menaikan sebelah alisnya.


"Tuan, tadi saya mendengar suara  perempuan berteriak."


"Dimana–,"


"Ck.. sial." Umpatan Chris memotong suara Taka.


Menatap bingung adik semata wayang. Lebih dulu berlari keluar ruangan dengan tergesa bercampur panik.


Taka beranjak dari duduk. Mengikuti langkah lari Chris disusul Malik dan Dendi.


Larinya semakin kencang saat melihat pintu terbuka salah satu ruangan yang seharusnya tertutup. Dan benar saja ia melihat Julio berjongkok didepan Ega lalu beralih pada Rendi berdiri mematung di sana.


Ega terlihat sangat kacau. Gadis itu menangis terisak terduduk dilantai dingin dengan Julio yang mengulurkan tangan. Chris melangkah maju tangan kekarnya terulur merengkuh bahu mungil Ega. Membawa tubuh Ega untuk berdiri lalu memeluknya memberi rasa nyaman.


Chris berbisik lembut, "Kau tak apa?" Ega  menggeleng masih tersedu.


Rahang Chris mengetat, "Apa yang kalian lakukan?" Menggeram marah dengan meruncingkan tatapannya pada dua pria yang ada di sana.


🌷🌹🌷🌹


Jangan lupa tinggalkan jejak


Komen


Like


Vote juga boleh hehhe


Salaminezt


ViRuz04

__ADS_1


💕


__ADS_2