
"Tidak, sudah ku bilang tidak ya tidak."
Jam sepuluh malam Ega merengek seperti bayi. Meminta dibelikan kebab pedas. Tentu Chris menolak keras lambung kekasihnya belum bisa menerima makanan pedas walau level satu.
Setelah melihat acara kuliner berbagai aneka makanan pedas di ponsel. Liur Ega tidak terkendali bergerak dan membayangkan ingin menyentuh makanan pedas. Rasa nya mengasyikan, bila bertemu panas dan pedas itu sangat menggairahkan.
"Ayolah, pacar ku yang ganteng sedikit saus tidak masalah untuk perut ku."
Chris mendengus mendengar rayuan Ega. "Aku tidak termakan rayuan mu manis. Aku memang ganteng alias tampan bin Handsome."
Menyesal rasanya Ega memuji.
"Kalau satai?"
Chris berpikir sejenak satai ada dua bumbu. Bumbu kacang dan kecap. Ia mengangguk membolehkan.
Eh, sebentar.
"Ayam atau kambing?"
"Ayam." Jawab Ega mantap.
"Bumbu?"
"Kacang,"
"Okeey,"
Chris meraih ponsel sudah siap mengetik menyuruh Genma membeli pesanan Ega.
"Pakai sambal sedikit seujung sendok saja, ya, ya boleh ya!?" memasang wajah memelas.
__ADS_1
Chris menatap Ega tanpa membuka mulut.
Ega melipat bibir, nyali nya ciut melihat gurat marah di wajah sang kekasih. "Ok. Aku mau pringles saja." tunjuk Ega pada dua pringles di meja.
Chris menahan senyum geli, angkat bokong dari kursi di samping ranjang Ega.
"Yakin, ini saja?"
"Hu'um," mengangguk lucu.
Menatap lagi televisi, "Box office ini sudah terlalu sering diputar, tapi entah kenapa aku tidak pernah bosan?"
"Mungkin kau suka pemeran nya?"
Ega terkekeh, kepala nya terangguk. "Dia tampan," menyusupkan satu lembaran pringles ke dalam mulut.
Chris melirik arah televisi. Leonardo DiCaprio.
Ega menutup mulut menahan tawa, "Tapi sekarang di usia yang tidak lagi muda, dia masih terlihat tampan."
Chris kesal Ega memuji pria lain. Walau itu aktor tetap saja seorang pria.
"Ah, benar Kate Winslet sendiri juga masih terlihat cantik di usia matang. Aku melihat salah satu filmnya selain Titanic. Adegan di sana lebih terbuka, aku melihat semua nya secara utuh," tubuh Chris maju membisik rendah. "Dia masih sexy' dan menggoda." Meniup telinga Ega menebar rasa debaran gila dalam dada.
"Kau kenapa?" Ega kesal.
"Kau cemburu?" tanya nya.
"Tidak," membuang wajah.
"Iya, kau cemburu." Chris mendesak.
__ADS_1
"Cuma kesal."
"Kesal untuk?"
"Kau menyebut wanita lain sexy'. Tentu aku kesal." Ega spontan menutup mulut sadar kalau dia secara tidak langsung berujar cemburu.
Chris tertawa senang menaruh sisa pringles ke meja. Ia kira Ega tidak akan ungkapkan perasaan nya. Dalam dada Chris menguar senang rasa cinta Ega benar ada untuk nya.
Seperti biasa Chris naik ranjang tanpa permisi. "Kita lanjut yang tadi siang tertunda." Memeluk erat. Chris bisa leluasa tanpa selang infus dan alat lain sudah tidak terpasang.
Ega mengerutkan alis. "Siang—"
Belum selesai bicara bibir Ega di jil*t Chris lebih dulu. Dalam kerjab mata iris Ega bergulir menatap iris hitam.
"Aku sangat rindu, biar malam ini aku mencumbu mu sepuas ku."
Mengikis jarak si pria membenamkan, menggerakkan sesuai irama. Pagutan Chris seperti biasa sangat lembut. Benda basah saling tarik menarik terdengar merdu. Ega meremas depan kemeja biru Chris. Merasa usap lembut tangan Chris di pinggang, mengantar rasa gelisah lain dalam diri. Tangan lain si pria menekan tengkuk menyesap lebih dalam bibir si gadis.
Chris melepas pagut, memberi ruang Ega meraup oksigen. Kembali menyatukan bibir Chris tidak akan melepas rindunya baru saja tersalur. Rasanya seperti satu tahun Chris tidak menyentuh, mendekap dan mencumbu kekasih nya, dia tidak ingin menjeda. Meski ia harus menahan gelombang sesak dahsyat dari bawah sana.
Dan malam ini televisi di dinding, berbalik menonton adegan romantis mereka.
🌷🌹🌷🌹
.
.
.
Tbc
__ADS_1
Tinggalkan jejak