Pacar Pertama Calon Kedua

Pacar Pertama Calon Kedua
Pacar Pertama Calon Kedua 6


__ADS_3

Jangan bertanya pada seseorang yang sedang jatuh cinta. Mungkin itu yang cocok dengan keadaan mereka sekarang ini, acara makan siang empat pemuda diselingi rasa heran dengan kelakuan up—normal salah satu sahabatnya.


Nando, Saka dan Singgih memandang jengah Chris. Mesem-mesem sendiri, tingkah anehnya dari pagi pun tak luput dari mata cokelat Nando.


Pagi ini saat Nando masuk ruangan Chris untuk menyerahkan laporan.


Apa yang Nando lihat. Pria itu tercengang.


Lelaki berambut hitam itu sedang menopang dagu dengan salah satu tangan dengan tangan lain memegang, menekan pulpen membentuk coretan aneh diatas kertas putih jangan lupakan aksi senyum-senyum sendiri Chris yang membuat Nando bergidik.


"Aw."


"Sialan Singgih, apa yang kau lakukan?" teriak Nando, tulang kering kaki nya menjadi sasaran Singgih yang sudah malas melihat tingkah Chris.


Chris tersadar dari lamunan panjang. Menoleh ke arah Singgih dan Saka seolah bertanya —Ada apa?.


Mereka yang dipandangi seperti itu hanya angkat bahu tidak peduli. Chris berpaling pada Nando saat pria itu meringis dengan wajah masam. Dan Chris memilih tidak peduli.


"Hn." Mengangkat sebelah alis.


"Ini semua gara-gara kau," tuding nya. menunjuk ke arah Chris dengan tatapan malas.


Ponsel Singgih berdering sebuah pesan atas nama my Lady tertera jelas. Dengan cepat dia membuka pesan itu.


Singgih pamit pada sahabat nya. Mengatakan bahwa mobil kekasihnya sedang mogok dan meminta dijemput di bengkel.


Mereka bertiga melanjutkan obrolan tidak jelas, sesekali  menyeruput cairan hitam dan tertawa ringan.


Pintu cafe terbuka menampilkan dua orang berbeda gen masuk. Sang pria menelisik cafe yang sedang ramai mencari meja kosong. Tanpa sengaja iris Chris dan iris cantik wanita itu bertemu.


"Siang Chris, Nando dan Saka." Sapanya dengan ramah.


"Kalian apa kabar?" Lanjutnya menampilkan senyum manis.


"Kita semua baik." Sahut Nando antusias tak kalah ramah.


Chris sebenarnya ingin bertanya siapa lelaki yang bersamanya. Tidak mungkin dia menginterogasi dengan seseorang yang hanya kenal biasa.


"Kakak bersama siapa?" Kali ini Chris harus berterima kasih pada Saka.


Kania menoleh kursi pojok di sana, seorang pria melihat interaksi mereka dan melambai saat Kania melihat ke arahnya.


"Dia sahabat sekaligus manager ku namanya Poldi," penjelasan Kania membuat mereka mengangguk.


Kania tersenyum "Baiklah, aku pergi jangan sampai aku terkena gosip ada kencan dengan salah satu dari kalian," mereka tertawa ringan mendengar kalimat itu, sebelum Kania melangkah Chris membuka suara.


"Kak Kania, Taka sakit?" Ucap Chris  sangat datar.

__ADS_1


Reaksi berbeda ada di wajah Kania yang secara tiba-tiba sendu mendengar nama Taka.


"Sakit." Cicit nya "Apa sekarang dia dirawat?" Chris menggeleng, membuat Kania semakin bingung.


"Aku sudah lama tidak bertemu dengannya, terakhir kira-kira setahun yang lalu bahkan lebih," ucapnya terdengar sendu.


"Dia pasti sembuh." Kania lega mendengar nya.


Entahlah kenapa dia selalu merindukan pria itu. Pria yang jelas sudah punya kekasih dan mungkin mereka sudah merencanakan menikah. Memikirkan itu hati Kania kembali tercubit.


"Kau tak apa?" suara Saka menyapa, membuat Kania tersentak dari lamunan panjang.


"Ah sudahlah, makanan ku sudah datang sampaikan salam ku untuk Taka, ya Chris." Kania melambaikan tangan.


"Apa ini namanya jodoh?" Nando langsung berbisik, saat Kania sudah duduk di kursinya.


Seringai Chris tak lepas dari wajah tampan, sementara Saka hanya mengendik bahu acuh.4


🌟🌟🌟


"PERGI." Bentak Taka, namun Cindy tak bergeming dia melangkah maju memberanikan diri mendekati.


"Apa kau tuli?" Cindy memejamkan mata, bibirnya terkatup rapat, matanya kembali terbuka kembali memandang Taka.


Tubuh Cindy sudah bergetar hebat. Wanita itu menggigit bibir mencoba memberanikan diri, "Taka." Selembut mungkin.


"Keluar atau aku panggil Dendi untuk menyeret mu," desis dengan suara yang sangat dingin.


"Kenapa kau menghindari ku beberapa minggu ini, aku selalu menghubungi mu tapi kau tidak membalas. Aku kemari tidak pernah bertemu dengan mu, ada apa dengan mu?".


Cindy melangkah maju, tangannya terulur dengan cepat di tepis Taka yang langsung menatapnya tajam.


"CEPAT KELUAR." Teriakan itu menggema berbarengan dengan pintu ruangan terbuka.


Kansa sekretaris Taka mematung di depan pintu. Ini pertama kali Kansa mendengar suara tinggi bosnya. Dia melirik ke belakang melihat wanita cantik dengan mimik pucat terkejut.


Mendengar suara marah Taka wajah Kania berubah pucat. Badannya bergetar, selama berteman dengan pria itu Kania tidak pernah mendengar baritone itu sangat tinggi seperti tadi.


Air mata Cindy sudah membasahi pipi, "Taka." Panggilnya sekali lagi dengan suara lirih.


Kaki Kania tiba-tiba lemas, jantungnya berdetak hebat. Wajahnya semakin pucat seketika itu juga gelap menyapa.


Kansa dengan sigap menangkap tubuh limbung Kania dalam pelukannya. Taka langsung panik melihat Kania pingsan. Pria tampan itu mendekat membopong tubuh Kania. Membaringkan di sofa dalam ruangan kerjanya.


Cindy melihat siapa digendong Taka berdecak kesal dan keluar tanpa suara.


"Bagaimana bisa kau di sini?" Kansa mengernyitkan dahi, apa bosnya sudah tidak waras orang pingsan diajak bicara.

__ADS_1


"Kania datang untuk bertemu dengan anda, dia adalah model untuk brand baru kita tuan," jelas Kansa.


Tanpa memalingkan wajah pada Kansa, tangan si bos setia menggenggam erat jemari mungil Kania mengusap lembut.


Melihat tingkah laku bos nya Kansa merasa heran.


Siapa Kania sebenarnya? Ah sudahlah sebaiknya aku pamit, aku tak mau jadi obat nyamuk di sini.


Belum juga berucap, suara gumam Taka terdengar jelas di telinga.


"Nia, maafkan aku." Raut sedih si bos terlihat jelas, merasa tidak enak ia langsung pergi.


Taka tidak membalas sapaan sang sekretaris, dia masih setia memandangi wajah cantik  Kania.Pintu ruangan kembali terbuka.


"Kania." suara pria terdengar panik membuat Taka menolehkan kepalanya.


"Kau siapa?" Tanpa aba-aba pertanyaan sengit itu meluncur.


Poldi  melihat tangan Kania digenggam lembut oleh CEO muda di hadapan nya, berdeham sebelum menjawab.


Seringai jahil muncul di sudut bibirnya.


"Perkenalkan saya Poldi 'tunangannya' tadi saya ke toilet, meninggalkan dia dengan sekretaris anda tuan,"


Taka tidak menjawab kembali memandangi wajah Kania. Poldi kesal dia mengumpat dalam hati lelaki di hadapannya sangat membuatnya jengkel.


Sudah sangat jelas dirinya mengatakan 'tunangan'. Tapi tangan pria ga jelas di hadapannya masih mengelus lembut jemari Kania.


"Jangan karena kau bos di perusahaan ini, kau bisa menyentuh model mu seenaknya, dan tolong hargai perasaan saya tuan," Poldi berhasil mendapat atensi Taka yang langsung melepaskan genggaman pada Kania.


"Hn.. jaga dia." Taka berlalu keluar ruangan. Merogoh ponsel di kantong celana, entah siapa yang dia hubungi.


 


🌷🌹🌷🌹


 


Komen ya 😉


Like juga 💕


Salaminezt


#ViRuz04


💕

__ADS_1


__ADS_2