Pacar Pertama Calon Kedua

Pacar Pertama Calon Kedua
Pacar Pertama Calon Kedua 34


__ADS_3

"Berikan kunci mobil mu?" perintah Dea dingin, menatap Chris penuh intimidasi siap melecut amunisi ke kepala Wildan.


Wajah Chris mengeras. Merogoh kantong celana melempar kunci mobil tepat di kaki Dea. "Lepaskan dia,"  Chris menyembur tidak kalah dingin.


Dea memercik tawa sarkas, menggema dalam ruang di antara detik berjalan. Suara tawa dari seorang pesakitan menebar antisipasi dari pemilik telinga lain. Wanita itu memberi sapaan berupa ekspresi ngeri, siapa saja yang melihat pasti merinding. Dea memiringkan wajah, layak nya seorang berkepribadian ganda ia terus memasang wajah bengis.


"Kau ingin aku melepaskan, teman mu!"  Dea menyahut rendah menghantar rasa lain saat bulu kuduk meremang. Melihat netra Wildan melirik datar, Chris menahan udara dalam paru-paru. Cukup tenang dan mengerti. Pria itu kembali diam merapatkan bibir, melihat apa yang di rencanakan Wildan.


Iris Dea melirik pada Jessy, wanita itu masih menggeliat, berteriak kuat penuh kesakitan. Membuat jiwa sakit Dea merasa menang. Dea suka—sangat suka. Mendengar suara orang menjerit penuh rasa sakit, menangis serta meminta ampun, memohon berkali-kali dalam suara getar bercampur putus asa.


Ah, mendengar dan melihat bagaimana cara mereka menyatakan rasa ingin lepas atau memohon.  Semakin menyulut darah lain bergejolak untuk lebih bertindak liar. Dea kembali tertawa, melihat tubuh Jessy semakin bergetar menahan sakit yang luar biasa, kedua tangan kurus miliknya masih menutupi wajah. Suara Jessy melemah, mungkin  saja dia kehabisan tenaga.


Seribu sayang harus sampai sini, ia menikmati bagaimana Jessy menderita. Dea memutuskan keluar dari sana dan pergi selamatkan diri. Jessy yang malang, habislah kau! Iblis dalam diri Dea tertawa senang.


"Ikuti aku," perintah Dea lagi, memasang wajah congkak.


Dea bergerak maju, melangkah pasti di temani Wildan sebagai perisai. Menepikan tubuh saat melewati beberapa orang laki di sana. Semua menahan emosi, saling mengepal tangan kuat di sisi tubuh masing-masing. Bertindak gegabah itu berarti sahabat mereka mati.


Melangkah mendekati tangga. Tangan Wildan hampir turun merogoh kantong jas. Namun sayang, Dea kembali menekan ujung senapan api pada kulit kepala Wildan. Sampai pria itu bisa merasakan hawa dingin dari ujung benda itu. Semua mata menatap geram tanpa bisa berbuat lebih. Chris memutar otak mencari selah selamatkan Wildan. Bagaimana pun ini semua awal dari rencana nya. Sial.


Tepat di pinggir tangga, tubuh Dea berputar hendak turun tangga dengan posisi mundur. Wildan membungkuk kaki panjang nya menukik kaki Dea hingga terjungkal. Tubuh Dea menghantam badan tangga dan berguling bebas sampai bawah. Tangga cukup tinggi sanggup membuat tulang remuk juga sakit, bahkan seharusnya pingsan.


Dea memang berbeda, wanita itu masih bisa berdiri walau terlihat menahan sakit. Senjata api masih di kepalan. Dea memaksa tapak kecil nya berlari walau pincang. Tangan kiri Dea menekan paha, menahan rasa nyeri menjalar sampai pinggang.


Sial.


Chris mendekati Wildan membantunya berdiri. "Kau urus Jessy aku dan lain nya kejar psikopat itu." Perintah Chris, Wildan mengangguk.


Chris, Nando dan Saka berlari keluar pintu, Chris berdecak menyibak rambut kesal. Dea sudah lebih dulu membawa mobil Chris.


Shiiiiit.


"Pakai, mobil ku. Aku bersama Singgih." Taka melempar kunci mobil di tangkap baik oleh Nando.


Mereka bergegas, menekan remote kunci mobil, membuka pintu dan masuk.  Mesin menyala, Nando langsung meluncur. Menyusul Taka dan Singgih sudah lebih dulu pergi meninggalkan halaman.


Jalanan masih lega masih terlalu dini untuk beraktivitas. Dan Chris bersyukur, setidaknya jika terjadi sesuatu mereka tidak akan membawa nyawa lain untuk di jadikan tumbal.


Melihat mobil miliknya tidak jauh, Chris menyuruh Nando menambah kecepatan. Hampir dekat, tubuh Chris keluar jendela membidik ban mobil namun sial gagal. Tembakan meleset mengenai badan mobil.


"Cepat susul dia, hantam dia dari samping." Perintah Chris tidak sabar.


"Kau gila—"


"Jangan membantah, lakukan saja." Chris kelewat emosi. Mengingat Dea sebagai dalang dibalik kecelakaan maut sang kekasih.


Nando berinisiatif lain. Mengejar lebih cepat dan memblokir jalan. Nihil ternyata Dea cukup cekatan membawa mobil sport Chris. Nando panik saat Chris meraih kemudi membanting badan mobil dan menghantam mobil nya berkali-kali.


"Sialan, b*j*ngan." Umpat Dea panik. Terpojok dan terhantam berkali-kali. Masukan gigi, kaki nya kembali menekan pedal rem  dalam. Kecepatan mobil sangat di luar batas normal. Dea tersenyum licik mampu menghindar dari mobil yang terus menghimpit.


Tiba-tiba ia panik, bunyi suara tembakan dan ledakan keras memecah konsentrasi. Jalan mobil menjadi tidak stabil. Dea mengintip belakang dari spion, "B*j*ngan, kalau aku mati ku pastikan kalian semua ikut bersama ku." Dea  melakukan drif berhasil memutar arah, tapi sayang mobil Taka dan Singgih lebih dulu memblokir.


Dea terkejut pikiran nya kosong. Dia salah memutar kemudi menghantam pagar jalan dan mobil kembali terpelanting memutar tiga kali di udara, berakhir membentur aspal kencang.

__ADS_1


Serempak mereka keluar dari mobil. Posisi mobil terbalik, asap masih mengepul, ban juga masih memutar. Mereka semua menghela napas lega. Tidak ada satu pun dari mereka yang terluka. Itu sudah lebih dari keajaiban. Hanya detak jantung mereka saja yang berimbas tidak normal. Namun begitu mereka cukup bersyukur.


"Apa dia mati?" Nando tiba-tiba mengusik sunyi.


Singgih menggeleng, "Tidak tahu, coba saja periksa."


Nando mencebik, "Aku masih mau punya tanggungan. Tata pasti akan sedih bila terjadi sesuatu pada ku. Kenapa tidak kau saja." Nando menyenggol lengan Saka dengan siku.


Saka mendelik. "Aku belum menikah," sahut Saka kalem dan Nando mencibir keras.


Saka menggeleng pias. Melirik pada Chris dengan alis terangkat satu, "Itu mobil kesayangan mu, apa masuk asuransi?" menatap nanar bangkai mobil sport seharga jutaan dollar ringsek begitu saja.


Chris mengendik bahu acuh. "Aku tidak peduli, yang terpenting psikopat sinting itu mati." Melirik Saka dari ekor mata.


Nando melongo. "Itu terdengar kau memberi penghormatan terakhir. Sama saja dengan kau mengubur nya dengan mahal."


Chris menyembur tawa ringan. "Biar saja, dosa wanita sinting itu semakin bertambah. Malaikat tahu dia mencuri mobil itu dan merusaknya, jadi malaikat tidak segan-segan untuk mengurung nya di neraka paling bawah."


Semua mendengus geli, lemparan canda garing dari Chris. Nyata nya mampu menghilangkan rasa debar kencang selepas masa tegang.


Mereka terlalu asyik bicara. Mengabaikan hal yang belum pasti, dari sisi mobil naas Dea masih bisa keluar. Kepala, tangan dan kaki wanita itu di penuhi darah. Dengan sisa tenaga yang ada dia berdiri. Membidik Chris dari jauh.


Dor.


Mereka semua menunduk dan terkejut meneriaki satu nama "CHRIS."


Taka tersulut melihat darah mengalir di bahu kiri sang adik. Dengan cepat ia membidik balik Dea. Suara jerit kesakitan terdengar Taka berlari memastikan di susul Singgih.


🍁🍁🍁


Wildan bersandar di kursi tunggu depan ruang operasi di temani Rani. Manda dan Tata menunggu Ega, lalu Kania kekasih Taka sudah pergi di jemput Poldi.


Selepas menebus obat. Rani melihat Wildan duduk dan tampak kacau di depan ruang operasi. Dia menghampiri Wildan bertanya bagaimana pria itu ada di rumah sakit? Wildan menceritakan sebagian kejadian yang tertangkap lensa nya. Dia  tidak tahu tepat nya seperti apa, karena datang terlambat. Rani menutup mulut dengan kedua tangan terkejut. Dea benar-benar psikopat gila.


Rani tergulung cemas. Cerita Wildan disambut bulu kuduk meremang. Hari menjelang pagi dan belum ada kabar untuk melegakan hati. Rani berdoa semoga tidak terjadi sesuatu.


Rani kembali setelah memberi obat dan bercerita pada kedua sahabatnya. Rani juga memberi tahu pada Wildan kalau kondisi Ega sudah meningkat dan pindah kamar.


Wildan bersyukur dan berharap semua akan membaik seperti semula. Terkecuali hatinya.


"Kau—masih mencintai nya?" Rani bertanya hati-hati, menelisik wajah Wildan saat ia melempar kalimat sensitif.


Seharusnya ia tahu tanpa bertanya, tapi Rani cukup penasaran menimang ada resah cukup besar pada wajah pria di samping nya.


Wildan menarik napas lalu membuang nya pelan. Pria itu tampak berpikir sejenak sebelum bicara, "Coba kau tebak ini! Melupakan seseorang yang kau cinta dengan tulus tapi dia berkhianat, apa yang kau rasa?" meluruskan kaki ambil posisi nyaman.


Bibir Rani menipis ketat. Melirik Wildan dengan wajah terbilang kaku. "Ku rasa kecewa. Kau mencintai nya tulus memberi semua sebagai rasa percaya. Apa kau membenci nya?"


Wildan mengangguk. "Rasanya sangat sakit, tapi semua tidak mengubah fakta. Aku pernah memilihnya." Kecewa itu jelas terukir dalam garis wajah Wildan, "Terlepas dari apa yang dia lakukan pada ku. Memilih menjaga hubungan baik sebagai teman tidak terdengar buruk. Tidak semua marah dan kecewa harus berakhir benar-benar putus." Suara Wildan sangat datar, tanpa ekspresi berlebih mampu menutupi perasaan hancur dalam diri. Semua tergambar apik dalam satu garis simetris.


"Itu pasti berat bagi mu." Hanya itu balasan Rani. Menunduk dan menjalin jari diatas paha sendiri. Ia merasa campur aduk melihat keadaan Wildan. Sebagai sahabat, paling tidak mereka bisa saling menyemangati.


Rani sedikit menahan napas, Pria itu memilih berlapang dada untuk semua yang terjadi. Rani mengenal Wildan sebagai pribadi baik dan bijaksana. Tidak terlintas kalau kisah cinta pria itu berubah menyakitkan tepat setelah kecelakaan.

__ADS_1


"Saka pernah bilang pada ku, kalau aku pria baik pasti akan mendapat yang baik juga." Wildan membuka suara saat Rani asyik melamun. "Kau berpikir begitu?"


Rani tersenyum, "Aku doakan yang terbaik untuk mu, kekasih ku benar." Ucap Rani dengan menjentik jari.


Wildan terkekeh. "Aku tunggu hari itu datang." Rani mengangguk ikut mengulas senyum, menepuk pundak Wildan memberi kekuatan.


🍁🍁🍁


Chris membuka mata, melenguh menyentuh bagian bahu. "Sudah ku bilang tidur di ranjang mu sana." Saka ketus saat melihat Chris meringis menyentuh bahu  berbalut kain kassa.


"Membiarkan mu berdua dengan kekasih ku, aku tidak mau ambil risiko."


Saka mendelik, "Bodoh, memang apa yang kau pikirkan?" duduk di samping Chris dan melipat tangan.


"Rani pulang dengan siapa?" Chris bertanya pelan, menyibak rambut.


"Nando, siang ini dia juga harus lapor masalah kejadian semalam. Kau tenang saja, Nando bisa diandalkan."


Chris mengangguk.


"Kau mau makan?" tawar Saka, selepas menjalani operasi kecil untuk mengeluarkan peluru Chris belum memakan apapun.


Pintu terbuka Mika dengan wajah cemas, menaruh paper bag di sofa. Wanita paruh baya itu langsung memeluk Chris. "Ya Tuhan, rasanya mau mati. Kau membuat jantung ibu meledak," menangis di dekap sang putra manja.


Chris terkekeh. "Aku tidak apa-apa, Bu!" jawaban  Chris memaksa Mika menekan bahu sang putra sampai pria itu meringis.


"Hmm, sok kuat, dasar playboy cap capung!" Mika berseru jenaka disambut tepuk tangan ringan dan tawa geli Saka.


Tawa Saka berhenti mengangkat dua jari depan dada, saat Chris memberi lirik tajam.


Mika membuka paper bag. Kotak makan di buka wangi sup daging  dan tempe goreng tepung menggelitik hidung. Netra Chris berbinar,  liur dalam mulut sudah saling mendorong ingin segera mencicipi.


"Kalian pasti belum sarapan ini lebih dari cukup untuk berdua."


Mereka mengangguk. Chris masih harus di bantu. Mika dengan telaten menyuapi bayi tua.


"Ibu diantar siapa?"


"Genma," sahut Mika kalem.


Chris mengangguk lemah, siap kembali bersuara. Mulut nya sudah terbuka, namun suara pria itu tertahan. Kala jelaga hitam pekat Chris tertumbuk pada mata sayu perempuan di ranjang terbuka menatap ke arahnya.


"Ega..."


🌷🌹🌷🌹


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2